CINTA DAN TRAGEDI (V)
"Love is our true destiny. We do not find the meaning of life by ourselves alone- we find it with another." (Thomas Merton, Love and Living, New York: Harcourt Brace Jovanovich, reprinted, edited by Naomi Burton Stone and Patrick Hart, 2002).
Ketika saya menulis sambungan Cinta dan Tragedi, saya cuba keluar daripada rasa pilu tragedi banjir bandang dan gelondongan kayu yang melanda SUMUT (Sumatera Utara), SUMBAR (Sumatera Barat) dan Aceh. SUMUT dan SUMBAR tetap terisikan di hati kecil saya kerana dua wilayah itu pernah saya kunjungi beberapa kali. Ada banyak kenangan yang tersimpan dan membentuk lapisan memori.
Walaupun saya belum sampai ke Aceh, Aceh tetap menjadi muara pengetahuan sejarah yang cukup mendalam dalam kamus pengetahuan saya: melalui pembacaan, cerita orang dan juga inskripsi tentang Perjuangan Pembebasan Aceh (Aceh Merdeka), pusat pengembangan Islam sehingga dikenali sebagai Serambi Mekah, duka tsunami (2004) dan juga kisah Tjoet Nyat Dienh, seorang pahlawan wanita Aceh yang berani menentang kolonial Belanda dalam Perang Aceh (1873-1904).
Bahkan, kisah Tjoet Nyat Dienh pernah difilemkan (1988), dan watak itu diperanankan oleh seorang aktres hebat Indonesia yang cukup saya minati, Christine Hakim. Filem ini diarahkan oleh Eros Djarot, yang mula membuat debut melalui filem arahannya, Badai Pasti Berlalu (1977) yang bersumberkan novel nukilan Marga T (Marga Tjoa, 1943-2023).
Menurut Imam al-Ghazali (1058-1111), ada tiga sebab kenapa cinta itu ada dalam diri manusia: (1) diri sendiri, (2) kebaikan atau nilai positif sesuatu, dan (3) wujud sesuatu yang dicintai. Tiga sebab itulah, kata al-Ghazali, ia menimbulkan "sebuah kenikmatan. Sesuatu yang nikmat pastilah akan dicintai semua orang. Demikian pula, mengenali dan mengetahui nilai kebaikan dan keindahan adalah sebuah kenikmatan.
"Hal ini tidak dapat dibantah oleh siapa pun, kerana sudah menjadi watak dan naluri manusia. Oleh kerananya, jika benar Allah itu Maha indah, Dia pasti dicintai oleh orang yang sudah menyaksikan keindahan dan keagungan-Nya, seperti disabdakan Rasulullah SAW: Sesungguhnya Allah itu Maha indah. Dia pun mencintai keindahan."
(Imam al-Ghazali, Rindu Tanpa Akhir: Metode Mendidik Jiwa Agar Cinta, Rida dan Damai Bersama Allah, terjemahan kitab al-Mahabbah wa al-Syawq wa al-Uns wa al-Ridha', kitab ke-36, Ihya Ulumuddin oleh Asy'ari Khatib, Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, cetakan III, 2007, hal. 30-31).
KAMARUN KH
