ADIL DAN MAKMUR: JALAN PERADABAN YANG TIDAK BISA DIPISAHKAN
Banyak orang terjebak pada pertanyaan yang tampak sederhana: haruskah kita mengejar kemakmuran dulu, baru membangun keadilan?
Pertanyaan ini keliru sejak awal. Ia memisahkan sesuatu yang dalam realitas justru saling menentukan.
Kalau dianalisis secara ilmiah—baik dari perspektif ekonomi, sosiologi, maupun sejarah—kemakmuran tanpa keadilan hampir selalu menghasilkan ketimpangan. Ketimpangan ini bukan efek samping kecil, melainkan bom waktu struktural yang pada akhirnya merusak stabilitas, menghancurkan kepercayaan, dan melemahkan daya tahan bangsa.
Sebaliknya, keadilan tanpa produktivitas juga tidak cukup. Ia bisa menciptakan kesetaraan, tetapi bukan kemajuan.
Maka, persoalan sebenarnya bukan memilih urutan, tetapi membangun sistem yang menyatukan keduanya sejak awal.
Mengapa Keadilan adalah Fondasi Ilmiah Kemakmuran
Dalam teori ekonomi modern, ada satu konsep kunci: trust (kepercayaan).
Negara atau masyarakat dengan tingkat kepercayaan tinggi:
* memiliki biaya transaksi lebih rendah
* lebih cepat berkembang
* lebih stabil secara sosial
Dan apa akar dari trust?
Keadilan.
Ketika hukum ditegakkan adil, ketika peluang terbuka merata, ketika orang mendapatkan haknya secara layak—maka:
* orang berani berusaha
* investor percaya
* kolaborasi tumbuh
Sebaliknya, ketika ketidakadilan merajalela:
* korupsi menjadi budaya
* usaha jujur kalah oleh manipulasi
* masyarakat kehilangan motivasi
Artinya jelas:
➡️ Keadilan bukan hambatan kemakmuran, tetapi prasyaratnya.
Pandangan Islam: Adil adalah Perintah, Makmur adalah Dampak
Islam tidak pernah menempatkan keadilan sebagai pilihan opsional. Ia adalah perintah langsung dari Allah.
Allah berfirman dalam QS An-Nahl: 90:
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan…”
Ayat ini bukan sekadar nasihat moral. Ia adalah prinsip sistemik.
Tanpa keadilan, struktur kehidupan akan rusak.
Lebih tegas lagi dalam QS Al-Maidah: 8:
“Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
Perhatikan:
Allah tidak mengatakan “adil jika sudah mampu” atau “adil setelah makmur.”
➡️ Adil adalah titik awal, bukan tujuan akhir.
Sejarah Membuktikan: Adil Melahirkan Makmur
Mari lihat realitas sejarah Islam.
Pada masa Umar bin Khattab:
* distribusi harta dikelola dengan adil
* pejabat diawasi ketat
* hukum berlaku tanpa pandang bulu
Hasilnya?
* kesejahteraan meningkat drastis
* kemiskinan menurun
* bahkan sulit menemukan penerima zakat di beberapa wilayah
Ini bukan retorika, ini fakta sejarah:
➡️ Ketika adil ditegakkan, kemakmuran mengikuti.
Sebaliknya, dalam banyak peradaban—ketika kezaliman mulai dominan:
* kekayaan menumpuk pada segelintir orang
* rakyat kehilangan akses
* akhirnya runtuh dari dalam
Refleksi Kritis: Di Mana Posisi Kita Hari Ini?
Banyak individu dan institusi hari ini melakukan kesalahan strategis:
* ingin sukses cepat → mengabaikan kejujuran
* ingin hasil besar → menoleransi ketidakadilan kecil
* ingin terlihat berhasil → mengorbankan integritas
Ini bukan sekadar kesalahan moral, tapi kesalahan desain hidup.
Karena pada akhirnya:
* yang dibangun tanpa keadilan akan runtuh
* yang diperoleh tanpa hak akan menjadi beban
Langkah Nyata: Dari Kesadaran ke Perubahan
Kalau ingin perubahan nyata, berhenti pada wacana tidak cukup. Harus ada langkah konkret:
1. Bangun Integritas Pribadi
* Tidak mengambil yang bukan hak
* Tidak memanipulasi proses
* Konsisten antara ucapan dan tindakan
Ini bukan hal kecil. Ini fondasi.
2. Tingkatkan Produktivitas
Adil tanpa kontribusi adalah kelemahan.
Islam mendorong kerja keras:
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.”
Artinya:
➡️ Jadilah adil dan bernilai.
3. Tegakkan Keadilan dalam Lingkup Kecil
Mulai dari:
* keluarga
* sekolah
* organisasi
Jika di level kecil saja tidak adil, jangan berharap sistem besar berubah.
4. Gabungkan Akhlak dan Kompetensi
Kesalahan pendidikan modern:
* memisahkan karakter dan kemampuan
Padahal:
* karakter tanpa skill → lemah
* skill tanpa karakter → berbahaya
Kesimpulan Tegas:
Pertanyaan “adil dulu atau makmur dulu” harus dihentikan.
Itu cara berpikir yang menyederhanakan masalah kompleks.
Kebenarannya:
* Adil adalah fondasi
* Makmur adalah hasil
* Keduanya harus dibangun bersama dalam satu sistem utuh
Tanpa keadilan, kemakmuran hanyalah ilusi sementara.
Tanpa kemakmuran, keadilan sulit bertahan.
Penutup:
Perubahan besar tidak dimulai dari sistem besar.
Ia dimulai dari keputusan kecil yang konsisten.
Keputusan untuk:
* jujur saat bisa curang
* adil saat bisa mengambil lebih
* bekerja keras saat bisa bermalas-malasan
Di situlah peradaban dibangun—atau dihancurkan.
Quote:
“Jangan tunggu dunia menjadi adil baru kita berbuat benar.
Justru karena dunia belum adil, maka kita wajib menjadi bagian dari keadilan itu.
Dan dari tangan-tangan yang adil itulah, Allah turunkan kemakmuran yang hakiki.”
— Jasman Jaiman
BERPIKIR DAN BERDOA
Rene Descartes (1596-1650) dianggap sebagai bapak filsafat modern dan pelopor aliran rasionalisme. Ia pernah melempar semboyan “cogito ergo sum” (saya berpikir, maka saya ada). Semboyan ini mengantarkannya pada titik wujud manusia hadir bila ia berfikir (konstruktif). Ketika berpikirnya sebatas "mengisi perut", maka tampil sisi kehewanannya.
Untuk itu, sosok manusia selalu berpikir bagi kemaslahatan, bukan kemaksiatan. Ia takut bila yang dilakukan tak mampu membawa kebenaran. Sikap ini menjadikannya terhindar dari sifat sombong dan merasa mulia. Ia menemukan bahwa pembeda manusia dan hewan hanya pada kemampuan berpikir kebajikan. Bila olah pikir terus dilakukan, maka ia akan menghasilkan peradaban yang mampu dinikmati seluruh alam. Namun, bila olah pikir cerdas tak pernah digunakan dan iman disingkirkan dalam menetapkan kebijakan, maka akan timbul petaka dan kehancuran (mafsadah).
Sungguh, pendapat Descartes bukan sesuatu yang baru secara substansial. Sebab, para pemikir Islam telah lebih dahulu merumuskan eksistensi olah akal. Bahkan, bukan sebatas berpikir tentang manusia dan alam (horizontal), tapi ruang yang menembus olah hati untuk menemukan Allah Yang Maha Pencipta (vertikal). Di antara para filosuf muslim yang berpikir dengan kekuatan olah pikir murni adalah Ibn Rusyd, al-Kindi, Ibn Sina, dan lainnya. Namun, mereka menggunakan akal untuk berpikir tentang alam tak membuat sedebu kesombongan.
Bahkan, meski mereka mampu membangun olah rasa tentang Allah, tapi tak membuatnya hilang adab sebagai hamba-Nya. Mereka mengguna-kan olah fikir dan rasa sesuai adab dan batasan yang diajarkan Rasulullah. Hal ini sesuai sabdanya: "Berpikirkanlah tentang ciptaan Allah, jangan pikirkan zat-Nya, karena sesungguhnya kamu tak akan mampu mengukur kekuasaan-Nya" (HR. Tirmidzi).
Perintah manusia untuk berpikir dinyatakan Allah melalui firman-Nya : "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya" (QS. al-'Alaq : 1-5).
Kata iqra’ dalam ayat di atas memiliki berbagai macam makna, yaitu : membaca, menyampaikan, menelaah, mendalami, memahami, dan lain sebagainya. Makna ini tak terlepas dari proses olah akal (pikir) dan olah hati (rasa atau zikir).
Proses dan dinamika olah fikir berbeda dengan olah zikir (doa). Sebab, berdoa bersifat metafisika vertikal. Meski bila ditelusuri keduanya bisa bermuara pada tujuan yang sama, tapi cara (materi dan situasi) yang berbeda, antara lain:
Pertama, Berfikir membangun argumen cerdas dan memunculkan ide kreatif-inovatif tanpa menghilangkan adab ilmu. Dinamika berfikir yang argumentatif akan membangun kecerdasan yang beradab (intelektual konstruktif). Proses berfikir cerdas hanya digandrungi dan diminati oleh kaum pemilik kecerdasan hakiki. Namun, cara ini kurang menarik untuk dikonsumsi karena tak banyak yang mau "membeli". Sebab, mengkonsumsinya memerlukan energi akal dan waktu untuk mengolahnya, serta budi untuk menyerap-nya. Olahan akal dan hati akan melahirkan ilmu yang bergizi dan lezat untuk disantap.
Sementara, bagi manusia berperadaban rendah (barbar) hanya lebih tertarik untuk membeli "olah akal destruktif" sebagai materi yang dikonsumsinya. Mungkin packaging fitnah lebih menarik, mudah diterima, gurih untuk dikonsumsi, tak perlu modal dan energi. Sungguh, materi jualan murahan tapi banyak peminatnya. Sebab, mengkonsumsi sentimen tak perlu waktu dan kecerdasan tinggi. Hanya perlu keberanian, kebencian, kemunafikan, retorika murahan, dan siasat mencari "kambing hitam".
Sentimen dan jualan fitnah merupakan suguhan instan yang cepat dimakan dan dimuntahkan. Meski sentimen wujudnya merupakan makanan beracun, tapi ianya bagai narkoba. Jelas haram, berdampak negatif, dan berbahaya, namun "lambaian iblis" membuatnya memiliki daya tarik untuk dikonsumsi dan diminati. Akibatnya, jadilah peradaban yang "mengembang-biakkan" virus olah informasi untuk memunculkan sentimen negatif guna menutupi sentimen positif.
Isu sentimen negatif dan retorika murahan menjadi ruang gemerlap materi. Ia tak memerlukan kecerdasan dan kearifan. Hanya memerlu-kan kelihaian berorasi di ruang publik untuk menegakkan "benang kusut", tidak malu (muka tebal), dan telinga yang ditulikan. Dengan modal ini, sentimen negatif dan fitnah akan begitu mudah dikumandang-kan. Produksi yang demikian diperparah tatkala publikasi dilakukan secara masif. Akibatnya, informasi yang disampaikan seakan menjadi kebenaran. Sentimen negatif mampu menghancurkan masa depan dan peradaban secara instan. Namun anehnya, informasi yang benar justeru dianggap negatif dan tak pernah jadi rujukan. Andai ide cerdas dipublikasi, ianya memerlukan biaya yang besar.
Sementara, bagi manusia berperadaban rendah (barbar) hanya lebih tertarik untuk membeli "olah akal destruktif" sebagai materi yang dikonsumsinya. Mungkin packaging fitnah lebih menarik, mudah diterima, gurih untuk dikonsumsi, tak perlu modal dan energi. Sungguh, materi jualan murahan tapi banyak peminatnya. Sebab, mengkonsumsi sentimen tak perlu waktu dan kecerdasan tinggi. Hanya perlu keberanian, kebencian, kemunafikan, retorika murahan, dan siasat mencari "kambing hitam".
Sentimen dan jualan fitnah merupakan suguhan instan yang cepat dimakan dan dimuntahkan. Meski sentimen wujudnya merupakan makanan beracun, tapi ianya bagai narkoba. Jelas haram, berdampak negatif, dan berbahaya, namun "lambaian iblis" membuatnya memiliki daya tarik untuk dikonsumsi dan diminati. Akibatnya, jadilah peradaban yang "mengembang-biakkan" virus olah informasi untuk memunculkan sentimen negatif guna menutupi sentimen positif.
Isu sentimen negatif dan retorika murahan menjadi ruang gemerlap materi. Ia tak memerlukan kecerdasan dan kearifan. Hanya memerlu-kan kelihaian berorasi di ruang publik untuk menegakkan "benang kusut", tidak malu (muka tebal), dan telinga yang ditulikan. Dengan modal ini, sentimen negatif dan fitnah akan begitu mudah dikumandang-kan. Produksi yang demikian diperparah tatkala publikasi dilakukan secara masif. Akibatnya, informasi yang disampaikan seakan menjadi kebenaran. Sentimen negatif mampu menghancurkan masa depan dan peradaban secara instan. Namun anehnya, informasi yang benar justeru dianggap negatif dan tak pernah jadi rujukan. Andai ide cerdas dipublikasi, ianya memerlukan biaya yang besar.
Namun, bila "muzakarah intelektual" telah diblokir oleh kebodohan (kejahilan) dan dikerangkeng oleh pemegang "simbol ilmu (wan) tanpa ilmu", maka sisi kebenaran akan hancur berantakan. Bila hal ini terjadi, maka hanya akan menyuburkan olah ide tanpa fikir (akal) dan hasil pikir tanpa adab. Kondisi ini akan meluluhlantakan bangunan adab dan peradaban. Sikap ini hanya akan berakibat tumbuhnya tanaman liar berupa parasit sentimen antar sesama dan penjilat (munafik lidah bercabang) yang merobohkan kebenaran. Tumbuhan sentimen ini terkadang acapkali dibantu penyedia pupuk racun yang memanfaat-kan posisi, riuh rendah gemerincing pundi, membiarkan praktik intelektual tanpa moral, menyuburkan kezaliman, dan menghadirkan benih perpecahan atas perbedaan.
Bila varian parasit ini diberi "panggung", dipuja, dan dilindungi untuk mementaskan tipu muslihat, maka tumbuhan sentimen akan menjalar subur menghijau dengan serbuk bunga racun yang mematikan peradaban, persatuan, dan meluluhlantakkan martabat manusia. Untuk itu, sentimen hanya melahirkan fitnah dan peradaban "barbar". Anehnya, sifat barbar banyak dicari, menjanjikan pundi, dan janji posisi. Meski sifat ini menjijikan, tapi banyak yang menginginkan dan diminati.
Andai logika Rene Descartes digunakan, maka pertanda sosok hewan yang berwujud manusia. Sebab, akal ke-bijaksanaannya tak pernah digunakan.
Kedua, Berdoa merupakan munajat hamba pada Sang Khaliq. Doa bukan sebatas permintaan, tapi komunikasi rahasia penuh harap hamba dan Sang Pencipta. Untuk itu, Allah perintahkan hamba untuk berdoa pada-Nya. Hal ini dinyatakan Allah melalui firman-Nya : "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku perkenankan bagimu" (QS. al-Mukmin : 60).
Doa adalah senjata bagi hamba-Nya, apalagi yang sedang teraniya. Bagi hamba, doa merupakan media komunikasi dengan Sang Khaliq. Untuk itu, berdoa memerlukan kerahasiaan pengharapan. Berdoa merupakan ruang tanpa perdebatan. Ia hanya menghadirkan adab kepasrahan dan ruh penghambaan yang tulus. Untuk itu, doa memerlukan olah akal dan hati yang suci. Sebab, doa harus sejalan dengan olah akal, hati, dan prilaku agar mampu melaksanakan tugasnya sebagai 'abd dan khalifah fi al-ardh. Perlu disadari, "panjat dan lambungkan doa setinggi langit dengan hati tertunduk ke bumi. Ringankan kaki melangkah, tanpa pernah menginjak rusak rumput bersemi". Sebab, "bila kepala tegak dan pongah, maka kaki menginjak bumi bak Fir'aun menghalalkan segala cara". Jangan pernah jadikan olah pikir sebatas stempel status dan doa (janji) sekadar upaya mempermainkan Allah. Sebab, pola pikir dan doa seperti ini akan membuatnya lupa bila memperoleh nikmat dan kuasa. Akibatnya, kata dan asesories kesalehan hanya sebatas upaya menutupi kejahilan agar leluasa melakukan berbagai kesalahan dan kezaliman. Seakan, semua keputusan dan semua yang diraih merupa-kan "keinginan Allah" yang turun dari langit. Padahal, semua prilaku merupakan rekayasa licik untuk menutupi kualitas diri bak selokan kotor, amis, dan bernajis.
Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***
Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis
BASRA: WARISAN ILMU SEPANJANG ZAMAN
BASRA merupakan sebuah kota di bahagian tenggara negara Iraq, pernah menjadi salah satu pusat peradaban Islam. Pada awalnya Basra dijadikan markas tentera Islam pada masa pemerintahan Khalifah Umar al-Khattab.
Namun pada perkembangan selanjutnya, kota itu menjadi pusat ilmu pengetahuan, kebudayaan dan perdagangan yang menjadi tumpuan ramai. Hal itu terus berlangsung hingga ke era Dinasti Umaiyah dan Abbasiyah.
Kota itu menawarkan pelbagai bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan, baik yang bersifat umum mahupun agama, dari peringkat rendah hingga peringkat tinggi. Basra juga menjadi tempat pertemuan kebudayaan Parsi dan Arab.
Dari tahun 1534 hingga 1918 Masihi, kota itu dikuasai oleh pemerintah Turki Uthmaniah. Basra kemudian menjadi salah satu wilayah Iraq, sejak negara itu mencapai kemerdekaan pada 1932.
Pada 16 Hijrah (636 Masihi), setahun setelah Basra ditakluk oleh tentera Islam di bawah pimpinan Saad bin Abi Waqqas, kota itu dimajukan oleh Saidina Umar al-Khattab. Umar melantik Utbah bin Gazwan sebagai arkitek pembangunan kota itu.
Utbah telah memberi nama kota itu al-Basrah (sejenis batu putih), diambil daripada nama bahan yang digunakan untuk membangun kota tersebut. Lokasi pembangunan kota Basra ditentukan sendiri oleh Saidina Umar, iaitu di daerah Kharibah yang berdekatan dengan kota pelabuhan Ubullah di Teluk Parsi.
Pusat pendidikan
Penduduk Basra pada mulanya belum mengenal Islam secara sempurna. Kerana itu, ketika kota tersebut ditakluk oleh tentera Islam, Saidina Umar al-Khattab, menghantar para ulama dari Madinah ke Basra, antara lain ialah Abu Musa al-Asyaari.
Seiring dengan proses pendidikan dan pengajian yang terus berlangsung, Basra muncul sebagai pusat pendidikan yang menjadi kunjungan ramai orang yang ingin mempelajari pelbagai bidang ilmu pengetahuan.
Ketika ilmu pengetahuan dan peradaban Islam mencapai puncak kemajuan di Baghdad, Basra menjadi pusat kajian bahasa Arab, sastera dan sains yang penting. Basra dijadikan tempat berkumpulnya para pujangga Arab untuk menyelenggarakan pelbagai bentuk diskusi atau perbincangan sehingga kota itu dikenal dengan panggilan Khazanah al-Arab.
Di Basra juga ditemukan banyak perpustakaan besar, salah satunya yang terkenal adalah perpustakaan milik Adud ad-Daulah, seorang penguasa Dinasti Buwaihi.
Kota Basra, tercatat sebagai salah satu mercu tanda peradaban Islam yang penting. Dari kota ini lahir ramai ulama kenamaan seperti Amir al-Ula, Yunus bin Habib, Isa bin Amr, al-Khalil bin Ahmad bin Amr, al-Asmai, dan Sibawaihi.
Tokoh pemikir yang terkenal antara lain ialah Hasan al-Basri dan Wasil bin Ata. Selain itu, kota Basra juga melahirkan sejumlah penyair terkenal seperti Farazdaq, Bisyar bin Bard, Muslim bin Wahid dan Abu Nuwas.
LAYLA AL-BAYTANI
OBOR PEMIKIRAN ISLAM DARI ALGERIA: MALIK BENNABI
Di Algeria, nama Malik Bennabi amat tersohor kerana diakui sebagai pemikir Islam yang tajam pandangannya. Beliau bukan sahaja dikenali di negaranya sendiri malah dikenali juga di seluruh negara-negara Islam.
Malik bin Nabi dilahirkan di kota Qasanthiah, Aljazair, Algeria pada tahun 1905. Ayahnya bernama Umar bin Khudhar bin Mushtafa bin Nabi dan tidak beberapa lama kemudian keluarganya mula berpindah ke wilayah Tibsah ketika usianya masih kecil. Beliau juga seorang yang amat gemar membaca dan berminat dengan puisi dan syair arab.
Semenjak berpindah ke Tibsah, beliau sering berkunjung ke sebuah madrasah pengajian al-Quran. Dalam waktu yang sama, beliau juga belajar di sekolah Ibtida’yah. Menurut gurunya, beliau merupakan seorang murid yang cemerlang dan sering mendapat tempat pertama dalam peperiksaan di sekolah tersebut.
Kemudiannya beliau meneruskan pengajian ke peringkat menengah di sebuah sekolah di kota Qasanthinah. Pada masa yang sama, beliau turut mengikuti kuliah agama yang disampaikan oleh Syeikh Ibnu Abid dan Syeikh Maulud bin Muhana di sebuah masjid di kota tersebut.
Selepas menamatkan pelajaran di sekolah menengah, beliau kemudiannya mencari kerja sambilan di beberapa tempat, dan pada sekitar tahun 1930, beliau belayar ke Perancis untuk melanjutkan pelajaran di Universiti Listrik dan tamat pada sekitar tahun 1935.
Dalam memperjuangkan Islam, beliau mempunyai beberapa pandangan yang kritis, rasional dan pernah menegaskan bahawa sikap dan komitmen anak muda perlu dalam perjuangan Islam dan seharusnya berteraskan iman dan akhlak malah dasar-dasar Islam juga menjadi keutamaan dalam perjuangan tersebut.
Apa yang beliau inginkan, bahawa Islam harus dipraktikkan dalam setiap kehidupan manusia yang meliputi aspek politik, pendidikan, perkembangan negara selaras dengan kemodenan era globalisasi.
Dalam mempersembahkan intipati pemikiran dan pengalamannya terhadap dunia Islam, Malik bin Nabi tidak pernah lokek dan ternyata segala idealisme serta penjelasannya mengenai Islam membuatkan beliau sangat dikagumi oleh generasi muda barat mahu pun timur.
Pemikirannya dijadikan sebagai “manhaj” untuk berinteraksi dengan peradaban kontemporari, menggunakan akal untuk mengkaji warisan kemanusiaan, dan mempertimbangkan elemen-elemen yang penting berteraskan neraca syariah Islam. Beliau berkeyakinan bahawa pertimbangan yang didasari syariah Islam akan membawa manusia kepada status kemuliaan hidup malah dapat memakmurkan bumi dengan amal ibadat kepada Allah s.w.t.
Sehingga kini, beliau diibaratkan sebagai obor kepada aktiviti, pemikir dan pengkaji yang mempersembahkan lontaran idea dan pemikiran menurut Islam. Ceramah dan penulisannya sering ditumpukan kepada golongan remaja bagi memupuk semangat kesedaran dalam meyakini agama, berpegang teguh pada komitmen agama, serta menerapkan hukum-hukum agama dalam kehidupan.
Malik bin Nabi juga pernah berkata, hanya Islam sahaja yang dapat menyembuhkan luka yang parah, hati yang tercalar dan dapat menyelesaikan segala persoalan yang dihadapi oleh umat Islam keseluruhannya.
Kini banyak hasil karya-karya beliau yang tersebar ke sarata dunia dan diterjemahkan ke beberapa bahasa dunia termasuk bahasa Arab yang kebanyakannya menyentuh mengenai masalah peradaban dan jalan penyelesaiannya.
Antara karya-karya beliau yang terkenal adalah Azh Zhahirah al-Quraniah, Wijhatul Alam al-Islami, Syuruthun Nahdhah, Labbaik dan banyak lagi. Melalui karya-karya tersebut, Malik bin Nabi juga berusaha memberi kesedaran kepada pemuda Islam mengenai agenda barat yang cuba mengekang dunia Islam serta menghina umat Islam.
Buku-buku beliau turut menyentuh sekitar perbincangan dan kupasan mengenai kebangkitan Islam dan syarat-syaratnya, peradaban barat dan cara menghadapinya serta menyentuh keperibadian Muslim dan ciri-cirinya.
Beliau sering mengingatkan umat Islam mengenai sikap dan pemikiran mereka yang sedia untuk dijajah jika mereka tidak mempunyai keyakinan diri. Beliau turut menegaskan jika jiwa dan minda umat Islam berada dalam keadaan lemah, ia akan memberi ruang kepada barat untuk menyalurkan ideologinya dan secara tidak langsung corak pemikirannya akan turut dijajah.
Selain itu, banyak kesimpulan dari karya-karyanya menyentuh aspek agama yang menyatakan bahawa tidak ada yang lebih tinggi selain daripada agama Allah s.w.t dan bahawa tidak ada kemenangan selain Allah s.w.t malah darjat umat Islam lebih tinggi kerana berjuang untuk kebenaran Islam.
Beliau jua amat berkeyakinan bahawa pada masa hadapan adalah milik Islam sekiranya umat Islam mementingkan Ilmu dan perpaduan yang berteraskan al-Quran dan Sunnah.
Beliau turut menasihati umat Islam agar tidak menjadi agen penjajah tanpa disedari, usah tunduk dengan segala tipu daya Barat dan tidak meninggalkan agama, budaya termasuk pemikiran akibat tertipu dengan fantasi pemikiran Barat.
Malik bin Nabi akhirnya pulang ke tanah tumpah darahnya, iaitu pada awal 1973 dan kembali menyahut seruan Ilahi pada bulan Oktober ketika berusia 68 tahun.
Catatan: Tariq al-Jazairi
ISLAM DAN PERTARUNGAN IDEOLOGI DUNIA
“Pensil mengenai Diri menuliskan seratus hari-hari ini, guna mencapai fajar suatu hari esok. Apinya membakar seratus Ibrahim, sehingga sebuah lampu Muhammad dapat diyalakan.”
—Muhammad Iqbal—
Islam merupakan agama yang nilai aksiomatiknya paling berpengaruh terhadap pemeluknya. Ia tidak hanya dijadikan sebagai ritual keagamaan, tidak hanya dijadikan sebagai way of life, tetapi juga sebagai ideologi atau pemikiran yang sepanjang sejarahnya, telah membuktikan dirinya sebagai suatu kekuatan yang berkali-kali terus memperbarui dirinya sendiri.
Islam membuktikan bahwa ia berhasil hidup kembali dari mati suri yang dikatakan oleh para pengamat Barat—seperti Marshall Hodgson dan Albert Hourani—sebagai “lonceng kematian pandangan dunia Islam”, Ideologi Islam menggerakkan organisasi-organisasi sempalan, partai-partai politik, serta gerakan-gerakan masyarakat dan keagamaan. Ideologi ini terbukti memiliki ketahanan kuat, menolak dengan realitas nyata atas anggapan bahwa ia tak dapat bertahan terhadap modernitas.
Teori Kebangkitan Islam
Dalam memahami fenomena bangkitnya ideologi atau pemikiran Islam, terdapat istilah revivalisme Islam atau Islamic resurgence. Dalam buku Politik Kebangkitan Islam (2001) yang dieditori oleh Shireen T. Hunter, tersirat bahwa revivalisme Islam adalah suatu gerakan yang menginginkan adanya pengidentifikasian kembali atau membangkitkan kembali jati diri yang sudah melemah atau bahkan hilang.
Revivalisme Islam kontemporer muncul karena satu faktor utama, yaitu merosotnya moral dan perilaku umat Islam yang disebabkan oleh terutama: adanya sekulerisasi dan westernisasi.
John L. Esposito dalam Ancaman Islam: Mitos atau Realitas? (1994), juga menjelaskan bahwasannya kebangkitan Islam itu muncul karena pandangan Barat—yang hadir di negeri-negeri muslim—terhadap umat Islam sebagai suatu masyarakat yang anti-modernitas dan dengan demikian merupakan rintangan bagi kemajuan sosial dan politik.
Oleh sebab itu, mereka “membantu” peradaban muslim dengan melakukan sekulerisasi, marginalisasi nilai-nilai Islam dan meredupkan aktivitas orang Islam sebagai suatu umat, agar dapat mewujudkan perubahan yang mereka anggap sesuai dengan modernitas.
Akan tetapi, kata Esposito, pada kenyataannya, para ulama dan aktivis gerakan revivalis Islam justru memanfaatkan teknologi modern untuk menggerakkan dukungan massa dan menyampaikan pandangan dan pesan-pesan kepada umat Islam, baik dalam skala nasional maupun transnasional.
Mereka berhasil membangun kekuatan dari dalam sehingga Islam menjadi penting kembali. Islam mendapatkan kembali prestige dan harga dirinya. Mereka menunjukkan bahwa umat Islam tidak anti modernisasi. Di lain pihak, menurut Chandra Muzaffar dalam esai “Kebangkitan Islam: Suatu Pandangan Global dengan Ilustrasi dari Asia Tenggara”, kebangkitan Islam sering dipandang sebagai ancaman bagi mereka yang memegang nilai lain. Islam sebagai alternatif, dianggap tantangan terhadap sistem sosial yang dominan pada saat ini.
Beberapa Contoh Ketahanan Ideologi Islam
Sejak invasi peradaban Barat ke negara-negara muslim di Asia-Afrika sejak abad ke-15 hingga 20, serta runtuhnya Khilafah Ustmani pada 1922 akibat kekalahan dalam Perang Dunia I, umat Islam kehilangan kepercayaan diri terhadap tatanan hidup dan sistem nilai yang bersumber dari agamanya.
Kesultanan-kesultanan dan khilafah yang berdiri selama berabad-abad, runtuh tak kuasa menangkal serbuan peradaban Barat. Rakyat di negeri-negeri Asia-Afrika didiktekan apa yang baik untuk mereka, apa yang disebut dengan modernitas, apa yang disebut dengan moral yang beradab, apa yang disebut dengan toleransi, dan apa yang disebut dengan pemerintahan yang baik. Semuanya berdasarkan pengalaman dan sudut pandang Barat.
Ketahanan ideologi Islam dapat kita temukan di berbagai negara, mulai dari Turki, wilayah-wilayah Maghribi hingga Indonesia. Pada 1970, revolusi Islam Iran berhasil menumbangkan rezim Shah. Adalah Imam Khomeini, pemimpin spiritual di Iran yang menjadi tokoh sentral yang mampu menggerakkan massa menuju revolusi.
Dua dekade kemudian, milisi-milisi jihad yang bersatu dibawah Komando Aksi Jihad Gabungan Afghanistan, berhasil menumbangkan rezim komunis dan mendirikan negara Republik Afghanistan yang berlandaskan Islam. Keberhasilan yang sama juga terjadi di Pakistan dan Checnya.
Di lain pihak, kita juga dapat menemukan gerakan revivalis atau Islamic resurgence yang berhasil membawa warna hijau di ladangnya masing-masing. Pada abad ke-18, terdapat tokoh Muhammad Abdul Wahhab yang sukses menyebarkan pahamnya—purifikasi konservatif yang biasa disebut dengan wahhabisme—di Saudi Arabia, dan Shah Waliyullah yang membawa gagasan penafsiran kembali Islam yang progresif di India.
Kemudian pada abad ke-19, empat tokoh besar dalam sejarah telah menaikkan prestige dan reidentifikasi umat Islam ke tingkat yang lebih baik dari masa sebelumnya, yakni Sayyid Muhammad bin Ali al-Sanusi di Libya, Jamaluddin al Afghani. Muhammad ‘Abduh dan Rasyid Ridha di Mesir, dan Mulla Hadi Sabziwari di Iran.
Di abad ke-20, revivalisme Islam kembali mendapatkan momentumnya melalui pemikiran dan gerakan Hasan al Banna, Sayyid Hawa, dan Sayyid Quthb di Mesir. Ketiganya merupakan think tank gerakan Ikhwan al Muslimin, sebuah organisasi Islam terbesar di dunia yang ada di 70 negara dengan nama yang berbeda. Kemudian Badiuzzaman Said Nursi di Turki, ABIM (Angkatan Belia Islam Malaysia) dan Darul Arqam di Malaysia, serta Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyah-nya dan Gerakan Tarbiyah di Indonesia.
Ideologi Islam: Renewing Itself
Ideologi Islam berhadapan dengan loyalitas-loyalitas baru yang muncul di setiap zaman. Ia pernah berhadapan dengan penguasa dan kelompok-kelompok yang meminggirkannya, bahkan memusuhinya dalam lingkup publik. Akan tetapi, ideologi ini selalu muncul kembali sebagai salah satu penentu loyalitas serta identitas masyarakat yang paling signifikan di dunia Islam. Atheisme, sekulerisme, liberalisme, komunisme, materialisme, nyatanya tidak berhasil menembus benteng keimanan dan kecintaan banyak muslim terhadap ideologi Islam, hingga kini.
Ideologi Islam muncul dalam berbagai tipe. Ia diperbarui kembali, menjelma menjadi sebuah gerakan kembali, menjawab tantangan zaman kembali, dan berpengaruh kembali. Ideologi ini didekap mulai dari yang menafsirkan Al-Qur'an secara dangkal, hingga yang telah mencapai ma'rifat dalam kesufian. Ideologi ini tahan dari kelapukan, menyalahi tanggapan seorang orientalis yang mengatakan "Islam seharusnya berada di museum".
"Ideologi tak hanya sekadar abstrakis yang dicari di belahan otak mana pun, di lipatan kulit mana pun, dan di sel darah mana pun, tidak akan ditemukan. Ideologi itulah nyata yang lebih nyata daripada tinta. Nyata dalam darah yang tumpah di setiap peperangan. Nyata dalam kejatuhan-kejatuhan. Nyata dalam teriakan revolusi dari timur hingga barat. Nyata dalam pertemanan dan permusuhan."
Sumber: alfalahmadani.my