Ensiklopedia

Keterangan ringkas & tepat mengenai pelbagai ilmu!

 

BERPIKIR DAN BERDOA

Rene Descartes (1596-1650) dianggap sebagai bapak filsafat modern dan pelopor aliran rasionalisme. Ia pernah melempar semboyan “cogito ergo sum” (saya berpikir, maka saya ada). Semboyan ini mengantarkannya pada titik wujud manusia hadir bila ia berfikir (konstruktif). Ketika berpikirnya sebatas "mengisi perut", maka  tampil sisi kehewanannya.

Untuk itu, sosok manusia selalu berpikir bagi kemaslahatan, bukan kemaksiatan. Ia takut bila yang dilakukan tak mampu membawa kebenaran. Sikap ini menjadikannya terhindar dari sifat sombong dan merasa mulia. Ia menemukan bahwa pembeda manusia dan hewan hanya pada kemampuan berpikir kebajikan. Bila olah pikir terus dilakukan, maka ia akan menghasilkan peradaban yang mampu dinikmati seluruh alam. Namun, bila olah pikir cerdas tak pernah digunakan dan iman disingkirkan dalam menetapkan kebijakan, maka akan timbul petaka dan kehancuran (mafsadah).

Sungguh, pendapat Descartes bukan sesuatu yang baru secara substansial. Sebab, para pemikir Islam telah lebih dahulu merumuskan eksistensi olah akal. Bahkan, bukan sebatas berpikir tentang manusia dan alam (horizontal), tapi ruang yang menembus olah hati untuk menemukan Allah Yang Maha Pencipta (vertikal). Di antara para filosuf muslim yang berpikir dengan kekuatan olah pikir murni adalah Ibn Rusyd, al-Kindi, Ibn Sina, dan lainnya. Namun, mereka menggunakan akal untuk berpikir tentang alam tak membuat sedebu kesombongan.

Bahkan, meski mereka mampu membangun olah rasa tentang Allah, tapi tak membuatnya hilang adab sebagai hamba-Nya. Mereka mengguna-kan olah fikir dan rasa sesuai adab dan batasan yang diajarkan Rasulullah. Hal ini sesuai sabdanya: "Berpikirkanlah tentang ciptaan Allah, jangan pikirkan zat-Nya, karena sesungguhnya kamu tak akan mampu mengukur kekuasaan-Nya" (HR. Tirmidzi).

Perintah manusia untuk berpikir dinyatakan Allah melalui firman-Nya : "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya" (QS. al-'Alaq : 1-5).

Kata iqra’ dalam ayat di atas memiliki berbagai macam makna, yaitu : membaca, menyampaikan, menelaah, mendalami, memahami, dan lain sebagainya. Makna ini tak terlepas dari proses olah akal (pikir) dan olah hati (rasa atau zikir).

Proses dan dinamika olah fikir berbeda dengan olah zikir (doa). Sebab, berdoa bersifat metafisika vertikal. Meski bila ditelusuri keduanya bisa bermuara pada tujuan yang sama, tapi cara (materi dan situasi) yang berbeda, antara lain:

PertamaBerfikir membangun argumen cerdas dan memunculkan ide kreatif-inovatif tanpa menghilangkan adab ilmu.  Dinamika berfikir yang argumentatif akan membangun kecerdasan yang beradab (intelektual konstruktif). Proses berfikir cerdas hanya digandrungi dan diminati oleh kaum pemilik kecerdasan hakiki. Namun, cara ini kurang menarik untuk dikonsumsi karena tak banyak yang mau "membeli". Sebab, mengkonsumsinya memerlukan energi akal dan waktu untuk mengolahnya, serta budi untuk menyerap-nya. Olahan akal dan hati akan melahirkan ilmu yang bergizi dan lezat untuk disantap.

Sementara, bagi manusia berperadaban rendah (barbar) hanya lebih tertarik untuk membeli "olah akal destruktif" sebagai materi yang dikonsumsinya. Mungkin packaging fitnah lebih menarik, mudah diterima, gurih untuk dikonsumsi, tak perlu modal dan energi. Sungguh, materi jualan murahan tapi banyak peminatnya. Sebab, mengkonsumsi sentimen tak perlu waktu dan kecerdasan tinggi. Hanya perlu keberanian, kebencian, kemunafikan, retorika murahan, dan siasat mencari "kambing hitam".

Sentimen dan jualan fitnah merupakan suguhan instan yang cepat dimakan dan dimuntahkan. Meski sentimen wujudnya merupakan makanan beracun, tapi ianya bagai narkoba. Jelas haram, berdampak negatif, dan berbahaya, namun "lambaian iblis" membuatnya memiliki daya tarik untuk dikonsumsi dan diminati. Akibatnya, jadilah peradaban yang "mengembang-biakkan" virus olah informasi untuk memunculkan sentimen negatif guna menutupi sentimen positif.

Isu sentimen negatif dan retorika murahan menjadi ruang gemerlap materi. Ia tak memerlukan kecerdasan dan kearifan. Hanya memerlu-kan kelihaian berorasi di ruang publik untuk menegakkan "benang kusut", tidak malu (muka tebal), dan telinga yang ditulikan. Dengan modal ini, sentimen negatif dan fitnah akan begitu mudah dikumandang-kan. Produksi yang demikian diperparah tatkala publikasi dilakukan secara masif. Akibatnya, informasi yang disampaikan seakan menjadi kebenaran. Sentimen negatif mampu menghancurkan masa depan dan peradaban secara instan. Namun anehnya, informasi yang benar justeru dianggap negatif dan tak pernah jadi rujukan. Andai ide cerdas dipublikasi, ianya memerlukan biaya yang besar.

Sementara, bagi manusia berperadaban rendah (barbar) hanya lebih tertarik untuk membeli "olah akal destruktif" sebagai materi yang dikonsumsinya. Mungkin packaging fitnah lebih menarik, mudah diterima, gurih untuk dikonsumsi, tak perlu modal dan energi. Sungguh, materi jualan murahan tapi banyak peminatnya. Sebab, mengkonsumsi sentimen tak perlu waktu dan kecerdasan tinggi. Hanya perlu keberanian, kebencian, kemunafikan, retorika murahan, dan siasat mencari "kambing hitam".

Sentimen dan jualan fitnah merupakan suguhan instan yang cepat dimakan dan dimuntahkan. Meski sentimen wujudnya merupakan makanan beracun, tapi ianya bagai narkoba. Jelas haram, berdampak negatif, dan berbahaya, namun "lambaian iblis" membuatnya memiliki daya tarik untuk dikonsumsi dan diminati. Akibatnya, jadilah peradaban yang "mengembang-biakkan" virus olah informasi untuk memunculkan sentimen negatif guna menutupi sentimen positif.

Isu sentimen negatif dan retorika murahan menjadi ruang gemerlap materi. Ia tak memerlukan kecerdasan dan kearifan. Hanya memerlu-kan kelihaian berorasi di ruang publik untuk menegakkan "benang kusut", tidak malu (muka tebal), dan telinga yang ditulikan. Dengan modal ini, sentimen negatif dan fitnah akan begitu mudah dikumandang-kan. Produksi yang demikian diperparah tatkala publikasi dilakukan secara masif. Akibatnya, informasi yang disampaikan seakan menjadi kebenaran. Sentimen negatif mampu menghancurkan masa depan dan peradaban secara instan. Namun anehnya, informasi yang benar justeru dianggap negatif dan tak pernah jadi rujukan. Andai ide cerdas dipublikasi, ianya memerlukan biaya yang besar.

Namun, bila "muzakarah intelektual" telah diblokir oleh kebodohan (kejahilan) dan dikerangkeng oleh pemegang "simbol ilmu (wan) tanpa ilmu", maka sisi kebenaran akan hancur berantakan. Bila hal ini terjadi, maka hanya akan menyuburkan olah ide tanpa fikir (akal) dan hasil pikir tanpa adab. Kondisi ini akan meluluhlantakan bangunan adab dan peradaban. Sikap ini hanya akan berakibat tumbuhnya tanaman liar berupa parasit sentimen antar sesama dan penjilat (munafik lidah bercabang) yang merobohkan kebenaran. Tumbuhan sentimen ini terkadang acapkali dibantu penyedia pupuk racun yang memanfaat-kan posisi, riuh rendah gemerincing pundi, membiarkan praktik intelektual tanpa moral, menyuburkan kezaliman, dan menghadirkan benih perpecahan atas perbedaan.

Bila varian parasit ini diberi "panggung", dipuja, dan dilindungi untuk mementaskan tipu muslihat, maka tumbuhan sentimen akan menjalar subur menghijau dengan serbuk bunga racun yang mematikan peradaban, persatuan, dan meluluhlantakkan martabat manusia. Untuk itu, sentimen hanya melahirkan fitnah dan peradaban "barbar". Anehnya, sifat barbar banyak dicari, menjanjikan pundi, dan janji posisi. Meski sifat ini menjijikan, tapi banyak yang menginginkan dan diminati.

Andai logika Rene Descartes digunakan, maka pertanda sosok hewan yang berwujud manusia. Sebab, akal ke-bijaksanaannya tak pernah digunakan.

Kedua, Berdoa merupakan munajat hamba pada Sang Khaliq. Doa bukan sebatas permintaan, tapi komunikasi rahasia penuh harap hamba dan Sang Pencipta. Untuk itu, Allah perintahkan hamba untuk berdoa pada-Nya. Hal ini dinyatakan Allah melalui firman-Nya : "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku perkenankan bagimu" (QS. al-Mukmin : 60).

Doa adalah senjata bagi hamba-Nya, apalagi yang sedang teraniya. Bagi hamba, doa merupakan media komunikasi dengan Sang Khaliq. Untuk itu, berdoa memerlukan kerahasiaan pengharapan. Berdoa merupakan ruang tanpa perdebatan. Ia hanya menghadirkan adab kepasrahan dan ruh penghambaan yang tulus. Untuk itu, doa memerlukan olah akal dan hati yang suci. Sebab, doa harus sejalan dengan olah akal, hati, dan prilaku agar mampu melaksanakan tugasnya sebagai 'abd  dan khalifah fi al-ardh. Perlu disadari, "panjat dan lambungkan doa setinggi langit dengan hati tertunduk ke bumi. Ringankan kaki melangkah, tanpa pernah menginjak rusak rumput bersemi". Sebab, "bila kepala tegak dan pongah, maka kaki menginjak bumi bak Fir'aun menghalalkan segala cara". Jangan pernah jadikan olah pikir sebatas stempel status dan doa (janji) sekadar upaya mempermainkan Allah. Sebab, pola pikir dan doa seperti ini akan membuatnya lupa bila memperoleh nikmat dan kuasa. Akibatnya, kata dan asesories kesalehan hanya sebatas upaya menutupi kejahilan agar leluasa melakukan berbagai kesalahan dan kezaliman. Seakan, semua keputusan dan semua yang diraih merupa-kan "keinginan Allah" yang turun dari langit. Padahal, semua prilaku merupakan rekayasa licik untuk menutupi kualitas diri bak selokan kotor, amis, dan bernajis. 

Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***

Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis

Written by Admin
Category: Peradaban
Hits: 233

 

BASRA: WARISAN ILMU SEPANJANG ZAMAN


BASRA merupakan sebuah kota di bahagian tenggara negara Iraq, pernah menjadi salah satu pusat peradaban Islam. Pada awalnya Basra dijadikan markas tentera Islam pada masa pemerintahan Khalifah Umar al-Khattab.


Namun pada perkembangan selanjutnya, kota itu menjadi pusat ilmu pengetahuan, kebudayaan dan perdagangan yang menjadi tumpuan ramai. Hal itu terus berlangsung hingga ke era Dinasti Umaiyah dan Abbasiyah.


Kota itu menawarkan pelbagai bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan, baik yang bersifat umum mahupun agama, dari peringkat rendah hingga peringkat tinggi. Basra juga menjadi tempat pertemuan kebudayaan Parsi dan Arab.


Dari tahun 1534 hingga 1918 Masihi, kota itu dikuasai oleh pemerintah Turki Uthmaniah. Basra kemudian menjadi salah satu wilayah Iraq, sejak negara itu mencapai kemerdekaan pada 1932.


Pada 16 Hijrah (636 Masihi), setahun setelah Basra ditakluk oleh tentera Islam di bawah pimpinan Saad bin Abi Waqqas, kota itu dimajukan oleh Saidina Umar al-Khattab. Umar melantik Utbah bin Gazwan sebagai arkitek pembangunan kota itu.


Utbah telah memberi nama kota itu al-Basrah (sejenis batu putih), diambil daripada nama bahan yang digunakan untuk membangun kota tersebut. Lokasi pembangunan kota Basra ditentukan sendiri oleh Saidina Umar, iaitu di daerah Kharibah yang berdekatan dengan kota pelabuhan Ubullah di Teluk Parsi.

Pusat pendidikan

Penduduk Basra pada mulanya belum mengenal Islam secara sempurna. Kerana itu, ketika kota tersebut ditakluk oleh tentera Islam, Saidina Umar al-Khattab, menghantar para ulama dari Madinah ke Basra, antara lain ialah Abu Musa al-Asyaari.


Seiring dengan proses pendidikan dan pengajian yang terus berlangsung, Basra muncul sebagai pusat pendidikan yang menjadi kunjungan ramai orang yang ingin mempelajari pelbagai bidang ilmu pengetahuan.


Ketika ilmu pengetahuan dan peradaban Islam mencapai puncak kemajuan di Baghdad, Basra menjadi pusat kajian bahasa Arab, sastera dan sains yang penting. Basra dijadikan tempat berkumpulnya para pujangga Arab untuk menyelenggarakan pelbagai bentuk diskusi atau perbincangan sehingga kota itu dikenal dengan panggilan Khazanah al-Arab.


Di Basra juga ditemukan banyak perpustakaan besar, salah satunya yang terkenal adalah perpustakaan milik Adud ad-Daulah, seorang penguasa Dinasti Buwaihi.


Kota Basra, tercatat sebagai salah satu mercu tanda peradaban Islam yang penting. Dari kota ini lahir ramai ulama kenamaan seperti Amir al-Ula, Yunus bin Habib, Isa bin Amr, al-Khalil bin Ahmad bin Amr, al-Asmai, dan Sibawaihi.


Tokoh pemikir yang terkenal antara lain ialah Hasan al-Basri dan Wasil bin Ata. Selain itu, kota Basra juga melahirkan sejumlah penyair terkenal seperti Farazdaq, Bisyar bin Bard, Muslim bin Wahid dan Abu Nuwas.

LAYLA AL-BAYTANI

Written by Admin
Category: Peradaban
Hits: 348

 

OBOR PEMIKIRAN ISLAM DARI ALGERIA: MALIK BENNABI

Di Algeria, nama Malik Bennabi amat tersohor kerana diakui sebagai pemikir Islam yang tajam pandangannya. Beliau bukan sahaja dikenali di negaranya sendiri malah dikenali juga di seluruh negara-negara Islam.

Malik bin Nabi dilahirkan di kota Qasanthiah, Aljazair, Algeria pada tahun 1905. Ayahnya bernama Umar bin Khudhar bin Mushtafa bin Nabi dan tidak beberapa lama kemudian keluarganya mula berpindah ke wilayah Tibsah ketika usianya masih kecil. Beliau juga seorang yang amat gemar membaca dan berminat dengan puisi dan syair arab.

Semenjak berpindah ke Tibsah, beliau sering berkunjung ke sebuah madrasah pengajian al-Quran. Dalam waktu yang sama, beliau juga belajar di sekolah Ibtida’yah. Menurut gurunya, beliau merupakan seorang murid yang cemerlang dan sering mendapat tempat pertama dalam peperiksaan di sekolah tersebut.

Kemudiannya beliau meneruskan pengajian ke peringkat menengah di sebuah sekolah di kota Qasanthinah. Pada masa yang sama, beliau turut mengikuti kuliah agama yang disampaikan oleh Syeikh Ibnu Abid dan Syeikh Maulud bin Muhana di sebuah masjid di kota tersebut.

Selepas menamatkan pelajaran di sekolah menengah, beliau kemudiannya mencari kerja sambilan di beberapa tempat, dan pada sekitar tahun 1930, beliau belayar ke Perancis untuk melanjutkan pelajaran di Universiti Listrik dan tamat pada sekitar tahun 1935.

Dalam memperjuangkan Islam, beliau mempunyai beberapa pandangan yang kritis, rasional dan pernah menegaskan bahawa sikap dan komitmen anak muda perlu dalam perjuangan Islam dan seharusnya berteraskan iman dan akhlak malah dasar-dasar Islam juga menjadi keutamaan dalam perjuangan tersebut.

Apa yang beliau inginkan, bahawa Islam harus dipraktikkan dalam setiap kehidupan manusia yang meliputi aspek politik, pendidikan, perkembangan negara selaras dengan kemodenan era globalisasi.

Dalam mempersembahkan intipati pemikiran dan pengalamannya terhadap dunia Islam, Malik bin Nabi tidak pernah lokek dan ternyata segala idealisme serta penjelasannya mengenai Islam membuatkan beliau sangat dikagumi oleh generasi muda barat mahu pun timur.

Pemikirannya dijadikan sebagai “manhaj” untuk berinteraksi dengan peradaban kontemporari, menggunakan akal untuk mengkaji warisan kemanusiaan, dan mempertimbangkan elemen-elemen yang penting berteraskan neraca syariah Islam. Beliau berkeyakinan bahawa pertimbangan yang didasari syariah Islam akan membawa manusia kepada status kemuliaan hidup malah dapat memakmurkan bumi dengan amal ibadat kepada Allah s.w.t.

Sehingga kini, beliau diibaratkan sebagai obor kepada aktiviti, pemikir dan pengkaji yang mempersembahkan lontaran idea dan pemikiran menurut Islam. Ceramah dan penulisannya sering ditumpukan kepada golongan remaja bagi memupuk semangat kesedaran dalam meyakini agama, berpegang teguh pada komitmen agama, serta menerapkan hukum-hukum agama dalam kehidupan.

Malik bin Nabi juga pernah berkata, hanya Islam sahaja yang dapat menyembuhkan luka yang parah, hati yang tercalar dan dapat menyelesaikan segala persoalan yang dihadapi oleh umat Islam keseluruhannya.

Kini banyak hasil karya-karya beliau yang tersebar ke sarata dunia dan diterjemahkan ke beberapa bahasa dunia termasuk bahasa Arab yang kebanyakannya menyentuh mengenai masalah peradaban dan jalan penyelesaiannya.

Antara karya-karya beliau yang terkenal adalah Azh Zhahirah al-Quraniah, Wijhatul Alam al-Islami, Syuruthun Nahdhah, Labbaik dan banyak lagi. Melalui karya-karya tersebut, Malik bin Nabi juga berusaha memberi kesedaran kepada pemuda Islam mengenai agenda barat yang cuba mengekang dunia Islam serta menghina umat Islam.

Buku-buku beliau turut menyentuh sekitar perbincangan dan kupasan mengenai kebangkitan Islam dan syarat-syaratnya, peradaban barat dan cara menghadapinya serta menyentuh keperibadian Muslim dan ciri-cirinya.

Beliau sering mengingatkan umat Islam mengenai sikap dan pemikiran mereka yang sedia untuk dijajah jika mereka tidak mempunyai keyakinan diri. Beliau turut menegaskan jika jiwa dan minda umat Islam berada dalam keadaan lemah, ia akan memberi ruang kepada barat untuk menyalurkan ideologinya dan secara tidak langsung corak pemikirannya akan turut dijajah.

Selain itu, banyak kesimpulan dari karya-karyanya menyentuh aspek agama yang menyatakan bahawa tidak ada yang lebih tinggi selain daripada agama Allah s.w.t dan bahawa tidak ada kemenangan selain Allah s.w.t malah darjat umat Islam lebih tinggi kerana berjuang untuk kebenaran Islam.

Beliau jua amat berkeyakinan bahawa pada masa hadapan adalah milik Islam sekiranya umat Islam mementingkan Ilmu dan perpaduan yang berteraskan al-Quran dan Sunnah.

Beliau turut menasihati umat Islam agar tidak menjadi agen penjajah tanpa disedari, usah tunduk dengan segala tipu daya Barat dan tidak meninggalkan agama, budaya termasuk pemikiran akibat tertipu dengan fantasi pemikiran Barat.

Malik bin Nabi akhirnya pulang ke tanah tumpah darahnya, iaitu pada awal 1973 dan kembali menyahut seruan Ilahi pada bulan Oktober ketika berusia 68 tahun.

Catatan: Tariq al-Jazairi

Written by Admin
Category: Peradaban
Hits: 447

 

ISLAM DAN PERTARUNGAN IDEOLOGI DUNIA

“Pensil mengenai Diri menuliskan seratus hari-hari ini, guna mencapai fajar suatu hari esok. Apinya membakar seratus Ibrahim, sehingga sebuah lampu Muhammad dapat diyalakan.”

—Muhammad Iqbal—

Islam merupakan agama yang nilai aksiomatiknya paling berpengaruh terhadap pemeluknya. Ia tidak hanya dijadikan sebagai ritual keagamaan, tidak hanya dijadikan sebagai way of life, tetapi juga sebagai ideologi atau pemikiran yang sepanjang sejarahnya, telah membuktikan dirinya sebagai suatu kekuatan yang berkali-kali terus memperbarui dirinya sendiri.

Islam membuktikan bahwa ia berhasil hidup kembali dari mati suri yang dikatakan oleh para pengamat Barat—seperti Marshall Hodgson dan Albert Hourani—sebagai “lonceng kematian pandangan dunia Islam”, Ideologi Islam menggerakkan organisasi-organisasi sempalan, partai-partai politik, serta gerakan-gerakan masyarakat dan keagamaan. Ideologi ini terbukti memiliki ketahanan kuat, menolak dengan realitas nyata atas anggapan bahwa ia tak dapat bertahan terhadap modernitas.

Teori Kebangkitan Islam

Dalam memahami fenomena bangkitnya ideologi atau pemikiran Islam, terdapat istilah revivalisme Islam atau Islamic resurgence. Dalam buku Politik Kebangkitan Islam (2001) yang dieditori oleh Shireen T. Hunter, tersirat bahwa revivalisme Islam adalah suatu gerakan yang menginginkan adanya pengidentifikasian kembali atau membangkitkan kembali jati diri yang sudah melemah atau bahkan hilang.

Revivalisme Islam kontemporer muncul karena satu faktor utama, yaitu merosotnya moral dan perilaku umat Islam yang disebabkan oleh terutama: adanya sekulerisasi dan westernisasi.

John L. Esposito dalam Ancaman Islam: Mitos atau Realitas? (1994), juga menjelaskan bahwasannya kebangkitan Islam itu muncul karena pandangan Barat—yang hadir di negeri-negeri muslim—terhadap umat Islam sebagai suatu masyarakat yang anti-modernitas dan dengan demikian merupakan rintangan bagi kemajuan sosial dan politik.

Oleh sebab itu, mereka “membantu” peradaban muslim dengan melakukan sekulerisasi, marginalisasi nilai-nilai Islam dan meredupkan aktivitas orang Islam sebagai suatu umat, agar dapat mewujudkan perubahan yang mereka anggap sesuai dengan modernitas.

Akan tetapi, kata Esposito, pada kenyataannya, para ulama dan aktivis gerakan revivalis Islam justru memanfaatkan teknologi modern untuk menggerakkan dukungan massa dan menyampaikan pandangan dan pesan-pesan kepada umat Islam, baik dalam skala nasional maupun transnasional.

Mereka berhasil membangun kekuatan dari dalam sehingga Islam menjadi penting kembali. Islam mendapatkan kembali prestige dan harga dirinya. Mereka menunjukkan bahwa umat Islam tidak anti modernisasi. Di lain pihak, menurut Chandra Muzaffar dalam esai “Kebangkitan Islam: Suatu Pandangan Global dengan Ilustrasi dari Asia Tenggara”, kebangkitan Islam sering dipandang sebagai ancaman bagi mereka yang memegang nilai lain. Islam sebagai alternatif, dianggap tantangan terhadap sistem sosial yang dominan pada saat ini.

Beberapa Contoh Ketahanan Ideologi Islam

Sejak invasi peradaban Barat ke negara-negara muslim di Asia-Afrika sejak abad ke-15 hingga 20, serta runtuhnya Khilafah Ustmani pada 1922 akibat kekalahan dalam Perang Dunia I, umat Islam kehilangan kepercayaan diri terhadap tatanan hidup dan sistem nilai yang bersumber dari agamanya.

Kesultanan-kesultanan dan khilafah yang berdiri selama berabad-abad, runtuh tak kuasa menangkal serbuan peradaban Barat. Rakyat di negeri-negeri Asia-Afrika didiktekan apa yang baik untuk mereka, apa yang disebut dengan modernitas, apa yang disebut dengan moral yang beradab, apa yang disebut dengan toleransi, dan apa yang disebut dengan pemerintahan yang baik. Semuanya berdasarkan pengalaman dan sudut pandang Barat.

Ketahanan ideologi Islam dapat kita temukan di berbagai negara, mulai dari Turki, wilayah-wilayah Maghribi hingga Indonesia. Pada 1970, revolusi Islam Iran berhasil menumbangkan rezim Shah. Adalah Imam Khomeini, pemimpin spiritual di Iran yang menjadi tokoh sentral yang mampu menggerakkan massa menuju revolusi.

Dua dekade kemudian, milisi-milisi jihad yang bersatu dibawah Komando Aksi Jihad Gabungan Afghanistan, berhasil menumbangkan rezim komunis dan mendirikan negara Republik Afghanistan yang berlandaskan Islam. Keberhasilan yang sama juga terjadi di Pakistan dan Checnya.

Di lain pihak, kita juga dapat menemukan gerakan revivalis atau Islamic resurgence yang berhasil membawa warna hijau di ladangnya masing-masing. Pada abad ke-18, terdapat tokoh Muhammad Abdul Wahhab yang sukses menyebarkan pahamnya—purifikasi konservatif yang biasa disebut dengan wahhabisme—di Saudi Arabia, dan Shah Waliyullah yang membawa gagasan penafsiran kembali Islam yang progresif di India.

Kemudian pada abad ke-19, empat tokoh besar dalam sejarah telah menaikkan prestige dan reidentifikasi umat Islam ke tingkat yang lebih baik dari masa sebelumnya, yakni Sayyid Muhammad bin Ali al-Sanusi di Libya, Jamaluddin al Afghani. Muhammad ‘Abduh dan Rasyid Ridha di Mesir, dan Mulla Hadi Sabziwari di Iran.

Di abad ke-20, revivalisme Islam kembali mendapatkan momentumnya melalui pemikiran dan gerakan Hasan al Banna, Sayyid Hawa, dan Sayyid Quthb di Mesir. Ketiganya merupakan think tank gerakan Ikhwan al Muslimin, sebuah organisasi Islam terbesar di dunia yang ada di 70 negara dengan nama yang berbeda.  Kemudian Badiuzzaman Said Nursi di Turki, ABIM (Angkatan Belia Islam Malaysia) dan Darul Arqam di Malaysia, serta Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyah-nya dan Gerakan Tarbiyah di Indonesia.

Ideologi Islam: Renewing Itself

Ideologi Islam berhadapan dengan loyalitas-loyalitas  baru yang muncul di setiap zaman. Ia pernah berhadapan dengan penguasa dan kelompok-kelompok yang meminggirkannya, bahkan memusuhinya dalam lingkup publik. Akan tetapi, ideologi ini selalu muncul kembali sebagai salah satu penentu loyalitas serta identitas masyarakat yang paling signifikan di dunia Islam. Atheisme, sekulerisme, liberalisme, komunisme, materialisme, nyatanya tidak berhasil menembus benteng keimanan dan kecintaan banyak muslim terhadap ideologi Islam, hingga kini.

Ideologi Islam muncul dalam berbagai tipe. Ia diperbarui kembali, menjelma menjadi sebuah gerakan kembali, menjawab tantangan zaman kembali, dan berpengaruh kembali. Ideologi ini didekap mulai dari yang menafsirkan Al-Qur'an secara dangkal, hingga yang telah mencapai ma'rifat dalam kesufian. Ideologi ini tahan dari kelapukan, menyalahi tanggapan seorang orientalis yang mengatakan "Islam seharusnya berada di museum".

"Ideologi tak hanya sekadar abstrakis yang dicari di belahan otak mana pun, di lipatan kulit mana pun, dan di sel darah mana pun, tidak akan ditemukan. Ideologi itulah nyata yang lebih nyata daripada tinta. Nyata dalam darah yang tumpah di setiap peperangan. Nyata dalam kejatuhan-kejatuhan. Nyata dalam teriakan revolusi dari timur hingga barat. Nyata dalam pertemanan dan permusuhan."

Sumber: alfalahmadani.my

Written by Admin
Category: Peradaban
Hits: 374

SEJARAH KOTA IRAM MELALUI BEBERAPA PENELITIAN DAN SUMBER MUSLIM DAN BARAT.

Pandangan pertama, lokasi keberadaan kota Iram masih dikenalpasti berada di kawasan antara sempadan Yaman dan Oman atau berada di kawasan lingkungan Quarter Empty atau Rub al-Khali yang meliputi kawasan Arab Saudi, Oman dan Yaman.

1. Di dalam buku ‘Muqaddimah’ karya Ibnu Khaldun, bapa sejarawan Islam, beliau menyatakan tentang sejarah kota Iram.

Ad adalah seorang pemimpin Kerajaan Ad dan dia mempunyai dua orang anak bernama Shadid dan Shaddad. Setelah kewafatan Ad, Shadid menaiki takhta tetapi tidak bertahan lama lalu beliau pun meninggal dunia. Kerusi pemerintahan Kerajaan Ad diserahkan kepada putera kedua, Shaddad. Raja Shaddad pernah mendengar tentang kewujudan dan keindahan syurga lalu baginda berhasrat untuk membina syurga di sebuah tempat, maka Iram menjadi lokasi yang sesuai kerana ianya adalah pusat perdagangan antarabangsa.

Raja Shaddad pun memulakan projek membina dan menghiasi kota Iram dengan pelbagai struktur bangunan, kediaman dan kebun-kebun bunga serta buah-buahan selama 300 tahun lamanya (umur Raja Shaddad melangkaui 900 tahun). Raja Shaddad berkeinginan untuk menjadikan kota Iram sebagai pusat pentadbirannya setelah ia siap sepenuhnya.

Kota ini dibuat daripada emas, perak dan permata dan dibentengi dengan benteng pertahanan yang sangat kuat daripada serangan musuh. Pada fasa-fasa pembinaan inilah, ramai pengunjung dan pedagang datang dari luar untuk berjualan di sini. Para penduduk di kota ini menjadi semakin kaya-raya.

Tetapi, dalam mereka mengejar harta dunia, mereka juga semakin lupa dengan Allah swt. Zaman pun berlalu. Kota Iram pun siap sepenuhnya. Raja Shaddad bersama rombongan kerajaannya bertolak dari istana menuju ke kota Iram. Ketikamana lagi satu hari satu malam jarak perjalanan, baginda mendapat khabar bahawasanya kota Iram telah dimusnahkan oleh Allah swt. Catatan ini direkodkan oleh at-Thabari, at-Tha’alibi dan az-Zamakhshari.

2. Di dalam buku bertajuk ‘The A to Z of Prophets in Islam and Judaism’ oleh Scott B. Noegel dan Brannon M. Wheeler:

Kota Iram merupakan kota yang disebutkan di dalam Quran dalam kisah Nabi Hud a.s. Beberapa sumber menyatakan Iram membawa maksud sebagai sebuah nama kaum, bukannya nama sebuah kota. Nama kota kaum Ad pada masa itu adalah Dhat al-Imad.

Pendapat seterusnya mendakwa Iram merupakan nama gelaran sebuah kawasan, Tanah Iram. Kota ini dikatakan berdiri teguh selama 500 tahun lamanya sebelum ianya dimusnahkan Tuhan. Hasil binaan bangunan-bangunan kota ini terdiri daripada emas, perak dan batu permata yang ditambang oleh mereka. Kekayaan kota ini menjadikan mereka sebagai peradaban yang ditakuti oleh musuh di sekitarnya. Kerana itulah, kajian di Barat mengelarkannya sebagai Atlantis of the Sands atau Iram of the Pillars.

3. Di dalam buku ‘Religious Tourism in Asia: Tradition and Change Through Case Studies and Narratives’ disunting oleh Shin Yasuda, Razaq Raj dan Kevin Griffin:

Kota Iram terkenal sebagai kota penting komersial dalam perdagangan antara wilayah-wilayah lain. Raja atau pemerintah Iram, mempunyai akses yang sangat luas dalam mendapatkan bekalan emas, perak dan batu-batu pertama dari seluruh kawasan dalam projek pembinaan dan pengindahan kota tersebut. 

4. Melalui buku ‘Sejarah Arab Sebelum Islam: Geografi, Iklim, Karakteristik dan Silsilah’ oleh Dr. Jawwad Ali:

Yaqut al-Hamawi, ahli geografi Muslim terkenal, menyatakan tanah Wabar merupakan bekas runtuhan kota Iram berdasarkan keadaan geografinya di sana iaitu sebuah gunung berpasir bernama Gunung Aj’a yang mudah didaki oleh unta dan di puncak gunung pasir ini tempat tinggalnya kaum Ad dan terletaknya kota Iram. Yaqut al-Hamawi pula mendakwa kaum Ad dan kaum Iram adalah dua jenis kaum yang berbeza. Di sini terdapat banyak batu yang dipahat dengan lukisan-lukisan.

Tetapi, para peneliti lain menolak dakwaan Yaqut berkaitan perbezaan kaum Ad dan kaum Iram adalah berbeza walhal Ad adalah nama kaum dan Iram nama sebuah kota atau kawasan yang didiami oleh mereka.

5. Di dalam buku ‘Journey to the End of Islam’ oleh Michael Knight, dinyatakan:

Kota Iram atau Ubar merupakan ibukota kaum Ad pada 3,000 SM. Arab Saudi menyatakan kawasan Rub al-Khali (Empty Quarter) merupakan bekas hentaman meteor zaman purba. Kawah meteor ini dikenali sebagai kawah Wabar. Dan kawasan hentaman inilah didakwa sebagai tapak kota Iram. Peradaban mereka dihancurkan oleh sebuah meteor dari langit yang berkelajuan 40,000-70,000 km/jam yang seberat 3,500 ton.

Meteor ini terpecah kepada empat bahagian setelah memasuki ruangan atmosfera sebelum menghempas kota Iram. Impak hentaman ini disamakan seperti impak bom atom yang dijatuhkan di kota Hiroshima, Jepun pada Perang Dunia Kedua.

Tetapi dakwaan mengenai hempasan meteor dan kemusnahan kaum Ad tidak sama sekali sama kerana meteor ini dikatakan terhempas pada 250 tahun yang lalu, terlalu jauh dari zaman kaum Ad. Padahal, Ranulph Fiennes, penulis buku ‘Atlantis of the Sand’ mengatakan kaum Ad hancur disebabkan azab dari bencana alam.

Daripada bab ini, kota Iram digambarkan berada di sekitar kawasan Rub al-Khali, Arab Saudi-Oman-Yaman. Gambaran jelas menyatakan keluasan kota ini menyamai keluasan oasis tersebut. Sebuah benteng pertahanan yang dilengkapi oleh menara pengawal dibina mengelilingi kota dan dijelaskan menara-menara ini terlalu banyak sehinggakan ianya digelar ‘Iram of the Pillars’ atau dalam Quran ‘Iramazatil i’mad’, kota tiang.

Kekayaan kota ini didasari daripada kebijakan pemimpin Ad yang menjadikan ia sebagai sebuah kota eksport-import di selatan Arab. Pada masa ini, kota Iram merupakan satu-satunya kota yang berdiri di sini sebelum kemunculan kota Hegra di utara Arab.

Kaum Ad merupakan saudara jauh kaum Thamud. Kemahiran kaum Ad dalam membina bangunan yang besar dan kota diaplikasikan oleh kaum Thamud sesudahnya. Hasil bekalan emas, perak dan permata yang diterima sebagai barang rampasan atau jualan di kota tersebut dijadikan sebagai perhiasan memperindahkan kota syurga impian Raja Shaddad.

Tetapi malang sekali, kota megah ini tidak mampu bertahan lama apabila Allah swt menghantar puting beliung dan angin ribut yang kuat yang memusnahkan segala kemegahan mereka sehingga menjadi debu tanpa jejak. Selain Rub al-Khali, para peneliti juga menemui lokasi kedua yang disyaki mempunyai hubungan dengan kota Iram, iaitu kota Shisr di negara Oman.

KOTA IRAM: WUJUDKAH ‘ATLANTIS OF THE SANDS’ ATAU HANYA SEKADAR DONGENG QURAN?

Pada pandangan kedua, sebuah tapak kota kuno yang ditemui di daerah Shisr, Oman disyaki sebagai tapak kota Iram melalui beberapa penemuan yang mempunyai hubungan dekat dengan peristiwa dan kesan kejadian yang berlaku pada zaman Nabi Hud a.s.

1. Di dalam buku ‘The Rough Guide to Oman’ oleh Gavin Thomas:

Legenda kewujudan kota Ubar (Wubar), dikaitkan dengan kota Iram kaum Ad. Catatan fakta mengenai penemuan bekas runtuhan kota Iram pertama kali dicatatkan oleh seorang pengembara dari Eropah, Bertram Thomas di dalam catatannya, Arabia Felix, yang mendakwa telah menemui runtuhan tapak kota tersebut di sekitar kawasan berdekatan Rub al-Khali pada tahun 1930. Ketika dalam perjalanan ke utara Shisr, beliau melihat sebuah jalur jalan yang sangat baik terkambus di bawah debuan pasir.

Setelah dakwaan ini dikemukakan pada umum, ramai para arkeologi dan pemburu harta karun cuba menjejak kota Iram tersebut dari tahun 1930 sehingga 1940 tetapi usaha mereka membuahkan hasil yang nihil. Teka-teki jalanraya kota Iram menjadi misteri sehinggalah pada tahun 1980, seorang pengarah dari Amerika Syarikat juga seorang sejarawan profesional, Nicholas Clapp menggunakan teknologi imbasan radar HD yang terdapat di US Space Shuttle untuk mencari jalanraya yang didakwa oleh Bertram.

Dari tahun 1980 sehinggalah ke tahun 1990, akhirnya Nicholas Clapp, pengembara Britain Ranulph Fiennes dan ahli arkeologi Juris Zarins berjaya menyatukan kesemua klu-klu yang ditemui dari imbasan satelit tersebut. Setelah lapan belas bulan mereka berkhemah di kawasan ini, akhirnya mereka menemui tapak kota perdagangan berdekatan dengan daerah Shisr.

Penemuan ini menjadi tergempar di serata dunia dan menjadi tajuk utama pada tahun 1992 oleh media dan akhbar. Walaupun penemuan ini adalah penemuan yang berharga, tetapi mereka tidak mendakwa ianya tapak kota Iram atau Ubar kerana kekurangan data dan rekod. Nicholas Clap menuliskan tentang pengembaraan dan catatan sepanjang dalam ekpedisi mencari kota Iram di dalam buku bertajuk ‘The Road to Ubar: Finding the Atlantis of the Sands’.

Penemuan arkeologi di daerah Shisr, Oman membuktikan kebenaran Quran. Kota Iram merupakan kota yang dikelilingi oleh benteng pertahanan dan tiang yang dimaksudkan tersebut merupakan menara-menara pengawal yang mengelilingi kota.

Kota Iram didakwa dibina mengelilingi sebuah oasis di Rub al-Khali dan dikatakan jumlah penduduk tetap di kota tersebut adalah seramai 150 orang dan dikelilingi oleh 3,000 khemah yang disediakan untuk para pedagang dan pengunjung dari luar. Menara-menara ini dibina sepanjang perjalanan di jalur darat dari kota Iram melintasi kerajaan Ad. Kemungkinan tapak kota Shisr adalah sebahagian daripada kota Iram ataupun kota Shisr merupakan kota pembuka menuju ke kota Iram.

Mengikut rekod arkeologi pada tahun 1992 tersebut di kawasan Shisr, mereka telah menemui benteng pertahanan setebal 90 cm yang dilengkapi lapan buah menara pengawal, sebuah perigi air kuno dan pembakar kemenyan yang diperkirakan bertarikh 1000 SM dan 900 M sehingga 1400 M yang lalu dan penemuan barangan tembikar yang berunsurkan seni halus buatan dari Rom, Syria dan Yunani.

Dikatakan, maksud ‘Iram of the Pillars’ boleh merujuk kepada dua makna, iaitu ‘tiang’ ataupun ‘menara’.

2. Pada tahun 2007, ahli arkeologi, Juris Zarins yang meneliti tentang Iram menyatakan teori ‘sinkhole’ dalam ‘Southern Arabian Desert Trade Routes, Frankincense, Myrrh and the Ubar Legend’:

Kajian di tapak kota Shisr mendapati berkemungkinan kota tersebut terbenam di bawah padang pasir disebabkan terlalu banyak saluran air dan perigi yang dibina disekeliling kota. Tanah yang tidak dapat menampung struktur bangunan yang terlalu banyak menyebabkan sebahagian kota ini runtuh menyembah bumi. Teori ini berkemungkinan diterima kerana di dalam surah al-Ahqaf ayat 24 di atas:

“…yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa”.

Tetapi kalau diikutkan, lokasi kota Shisr dan Rub al-Khali terlalu jauh. Sekiranya kejadian ‘sinkhole’ berlaku di daerah Shisr sahaja, adakah ianya berimpak sehingga ke kota Iram di Rub al-Khali? Atapun adakah daripada kesan ‘sinkhole’ di Rub al-Khali memberikan impak terhadap kawasan di sekeliling termasuk kota Shisr?

Walaupun kajian ke atas kota Iram dan lokasi sebenarnya yang masih diteroka, tetapi kebanyakan para ilmuwan bersetuju tentang keberadaan lokasi kota ini yang masih tersembunyi dibawah padang pasir diantara negara Oman dan Yaman pada hari ini. Kewujudan kota Iram tidak mampu disangkal oleh mana-mana pihak termasuk bagi orientalis Barat.

3. Majalah National Geographic (edisi 154) yang dicetak pada Disember tahun 1978, menyatakan kota Iram sememangnya wujud berdasarkan dari kitab Quran sepertimana kewujudan kota Sodom dan Gamorrah.

Maka, kota Iram yang terkenal dengan gelaran Atlantis of the Sands pada suatu ketika dahulu, bukanlah sebuah kisah dongeng Quran mahupun karya Nabi Muhammad saw, bahkan ianya sebuah kota yang pernah dibina oleh sebuah peradaban manusia. Penemuan tapak kota purba Shisr di Oman, menyakinkan lagi untuk ahli arkeologi mengkaji dan menjejak peradaban kaum Ad secara lebih mendalam. Selagimana belum ditemui, mereka pasti akan mencarinya.

Akhir kalam, daripada kisah daripada Al-Quran mengenai kemusnahan kaum Ad, kita dapat melihat bagaimana kota Iram yang dijadikan sebagai kota perdagangan yang berfungsi sebagai pusat pertukaran barang dagangan oleh kaum Ad yang memiliki pelbagai kemudahan, pengaruh dan pertahanan, akhirnya hancur dibenam ke dalam padang pasir oleh Allah swt dalam tempoh masa 8 hari 7 malam sahaja.

Kaum Ad yang telah diberi peluang oleh Allah swt untuk menyembahnya setelah diberikan pelbagai kenikmatan dunia tidak mampu diselamatkan dengan kesombongan dan kekafiran mereka dalam menyekutukanNya. Pengajaran yang sudah dikhabarkan tidak didengar, malahan ianya memakan diri. Keagungan kota Iram dan kemegahan kaum Ad ditamatkan oleh Allah swt dan peninggalan mereka masih tidak diketahui keberadaannya. Ianya masih kekal menjadi sebuah tanda tanya kepada umat manusia.

JIJI AZIZAN

Sumber: thepatriots.asia

Written by Admin
Category: Peradaban
Hits: 640

Bacaan Popular


Baca topik

Terkini


TEMPAT NYAMAN TAMAN BACAAN MASA DEPAN ANDA-JOM KITA MENULIS!!! dhomir.com ingin mengajak dan memberi ruang kepada para penulis khususnya penulisan yang berkaitan dgn agama Islam secara mendalam dan sistematik.Jika anda ingin mencurahkan isi hati mahupun pandangan secara peribadi dhomir.com adalah tempat yang paling sesuai utk melontarkan idea. Dengan platform yang sederhana, siapa sahaja boleh menulis, memberi respon berkaitan isu-isu semasa dan berinteraksi secara mudah.Anda boleh terus menghantar sebarang artikel kepada alamat email:dhomir2021@gmail.com.Sebarang pertanyaan berkaitan perkara diatas boleh di hubungi no tel-019-3222177-Editor dhomir. com