HAWARI NABI MUHAMMAD S.A.W.
Oleh: Luqman Hakim
Zubair Bin Al Awwam tergolong salah seorang pahlawan Islam yang paling perkasa dan handal sekali Rasulullah s.a.w. Keperkasaan dan keberaniannya dapat disamakan dengan Saiyidina Ali r.a. ataupun Saiyidina Hamzah bin Abdul Mutalib r.a.
Beliau juga seorang muda yang turut berjuang mempertahankan keagungan bendera Islam di seluruh medan. Didalam Perang Badar ia telah menderita luka besar dibelakangnya. Dalam Perang Uhud yang hebat itu beliau dijadikan Nabi s.a.w. panglima barisan untuk menentang Khalid bin Walid yang ketika itu belum lagi Islam. Jika kita mengetahui kecekapan dan keperkasaan Khalid bin Walid dalam peperangan, tentulah kita dapat mengukur darjah kecekapan Zubair bin Al Awwam yang dijadikan baginda Rasul sebagai pemuda yang harus berhadapan dengan Khalid itu.
Di dalam Perang Uhud ini seorang pahlawan musyrik telah keluar dari tempat bertahannya ke tengah-tengah lapang untuk berlawan pedang satu lawan satu dengan pihak tentera Islam. Ia menyeru serta mengajak pahlawan-pahlawan Islam datang kepadanya. Tiga kali ia berseru namun tentera Islam masih berdiam diri juga.
Maka untuk membela maruah tentera Islam Zubair lantas bangkit melompat keatas untanya lalu pergi menghadapi musuh yang sudah lama menanti. Sesudah dekat dengan unta musuh, segeralah Zubair melompat keatasnya. Maka terjadilah pergelutan yang dashyat. Tidak lama kemudian dapatlah Zubair menggulingkan musuhnya kebawah. Lantaran itu mudahlah baginya menyembelih leher musyrik itu.
Melihat kejadian itu Baginda Rasul s.a.w. sangat bergembira sekali seraya berkata:
"Setiap Nabi mempunyai hawari (pembantu yang setia) dan Zubair ini adalah hawariku." Kemudian Rasul s.a.w. menyambung lagi, katanya:
"Sekiranya pemuda Zubair tidak segera mendapati musyrik yang telah disembelihnya itu, tentulah aku sendiri akan terpaksa pergi menemuinya."
Zubair bin Al Awwam inilah juga panglima Islam yang kemudiannya berjaya menaklukí kota Babylon yang terkenal itu.
KISAH "KAUM MONYET"
Oleh : Samsul Nizar
Dikisahkan, Allah pernah mengutuk Bani Israil menjadi monyet. Peristiwa ini terjadi di negeri Ailah (Elath), sebuah kota pelabuhan kuno di tepi Laut Merah. Kutukan ini menimpa penduduk Israil yang melanggar "perjanjian suci" agar tidak menangkap ikan di hari Sabtu (Sabat). Kisah nyata ini dijelaskan secara rinci melalui firman-Nya dalam QS. al-Baqarah : 65-66, QS. al-A'raf : 163-166, dan QS. al-Maidah : 60).
Awalnya, penduduk negeri Ailah (Elath) se-lalu mematuhi larangan-Nya. Tapi, Allah menguji ketaqwaan bani Israil. Setiap hari sabtu, rombongan ikan berdatangan ber-bondong-bondong ke tepi pantai. Feno-mena ini hanya terjadi setiap hari Sabtu dan bukan pada hari lain. Anehnya, selain hari sabtu, ikan-ikan sangat sulit diperoleh. Padahal, kehidupan mereka sebagai nela-yan bergantung dari penangkapan ikan.
Melihat fenomena ini, nafsu serakah melahirkan akal licik. Mereka beramai-ramai membuat bendungan dari batu dan jaring yang dibentangkan di hari jumat. Harapan-nya agar ketika air pasang naik di hari sabtu, maka ikan akan datang dan begitu air surut akan terperangkap dalam ben-dungan yang dibuat. Begitu hari minggu, mereka memanen ikan yang terperangkap dengan hasil yang berlimpah ruah dan tumpukan pundi berlipat ganda.
Ketika melihat perilaku sebagian penduduk yang demikian, nabi Daud AS bertanya, "kenapa kalian melanggar perjanjian dengan Allah ?". Dengan rasa tanpa dosa mereka berkata, "kami tak pernah berbuat pelanggaran atas perjanjian suci tersebut.
Sebab, kami tak pernah menangkap dan mengambil ikan pada hari sabtu. Kami hanya mengambilnya di hari ahad". Terjadi-lah perdebatan antara nabi Daud dengan penduduk negeri Ailah (Elath).Perdebatan berlangsung alot ala "debat kusir". Mereka secara sadar menggunakan logika licik. Alasan licik tersebut didukung mayoritas penduduk yang berwatak serupa. Mereka begitu sombong dan merasa mampu "mengelabui" Allah dengan muslihat dan alasan (retorika) licik yang dibangun.
Akibat kelicikan dan logika sesat yang di-paksakan telah merubah seluruh pelaku yang awalnya taat menjadi membangkang. Pembangkangan tersebut menyebabkan turun murka-Nya. Mereka dikutuk menjadi monyet yang hina selama 3 (tiga) hari. Pada hari keempat, pelaku kelicikan dibinasakan dengan azab yang pedih.
Tragedi di atas dinukilkan melalui firman-Nya : "Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik" (QS. al-A'raf : 163).
Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas menjelas-kan kisah Bani Israil yang diuji oleh Allah SWT terkait larangan menangkap ikan pada hari Sabtu (Sabat). Namun, keserakah menjadikannya melanggar "perjanjian suci" melalui tipu muslihat (hilah) dengan cara memasang bendungan dan jala pada hari jumat, lalu mengambilnya pada hari ahad. Kelicikan Bani Israil ini menunjukkan sikap menentang dan melampaui batas (fasiq). Mereka seolah menghindari larangan, tapi secara sadar melakukan pelanggaran. Hal ini membuktikan adanya niat untuk meng-halalkan yang haram dengan berbagai tipu daya (muslihat). Akibatnya, mereka semua dikutuk menjadi monyet. Hal ini dinyatakan dalam firman-Nya : "Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka : 'Jadilah kamu kera yang hina'. Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang dimasa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa" (QS. al-Baqarah 65-66).
Menurut Imam al-Qurthubi, ayat di atas me-rupakan bentuk murka-Nya dan i'tibar yangbegitu nyata, tapi acapkali didustakan dan diingkari. Bila kaum Yahudi mengingkari janji suci hari Sabat, tapi manusia akhir zaman mengkhianati setiap diberi amanah.
Ketika laknat Allah menimpa, kaum Yahudi terbagi menjadi tiga golongan, yaitu : (1) Pelaku pelanggaran (mereka yang sengaja membuat tipu muslihat dan logika nista). Mereka merupakan kelompok mayoritas. (2) Penjaga kebenaran (mereka yang taat dan melarang perbuatan maksiat). Namun, kelompok ini acapkali dibenci, dibuli, dan disingkirkan. (3) Kaum apatis yang hanya menyerahkan semua pada-Nya. Mereka tak berusaha memperbaiki dan tak pula mengikuti kemungkaran yang terjadi. Dalam sejarah, kutukan fisik menjadi monyet hanya menimpa terhadap pelaku maksiat (fasik). Sementara bagi hamba-Nya yang taat selamat dari murka-Nya.
Tragedi yang menimpa kaum Yahudi di atas mengandung pelajaran yang relevan dengan fenomena abad modern, yaitu :
Pertama, Tampil sosok manusia fasik. Tampil seakan taat beragama, namun semua hanya muslihat menutupi perilaku kemungkaran. Kata indah beruntai ayat-Nya, asesories berbalut busana dan tampil anggun bak "penghuni surga", serta silau "cahaya pencitraan" yang begitu menyilau-kan. Padahal, semua hanya fatamorgana yang menutupi "kebusukan" perilakunya.
Meski semua kenistaan dan kezaliman begitu nyata, namun umat mengapresiasi dengan "tepukan gemuruh" dan pujian yang membahana. Seakan tak lagi tersisa pemilik kebenaran atau mungkin kebenar-an telah mati. Semua fenomena di atas diingatkan dan berikut ancaman komuni-tas tersebut. Hal ini sesuai firman-Nya : "Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat" (QS. al-Baqarah : 7).
Menurut Ibn Katsir, ayat di atas ditujukan pada manusia yang mengingkari dan menolak kebenaran. Allah mengunci mati hati, pendengaran, dan penglihatannya. Mereka tertutup dari hidayah-Nya. Untuk itu, wajar bila ayat-Nya dan nasehat kebenaran tak pernah mampu "meluruskan" hati yang bengkok dan memperbaiki yang busuk. Bagi mereka siksa yang sangat pedih.
Kedua, Sosok yang pintar memutarbalikan logika (agama dan hukum), menolak kebe-naran, dan membenarkan kebatilan untuk membenarkan kesalahan yang dilakukan-nya. Sebab, mereka tak pernah mengambil ikan pada hari yang dilarang (hari sabat). Tapi "mengkondisikan" terkumpulnya ikan di hari sabtu. Logika serupa terjadi pada pelanggaran hukum akibat keserakahan (korupsi) manusia. Pelaku memang tak pernah mengambil (menerima) "upeti". Padahal, ia aktor yang mengkondisikan kebijakan agar semua pundi terkumpul melalui "tangan orang kepercayaan" ala jaring kaum Yahudi. Begitu nyata transaksi terjadi , tapi didiamkan dan nilai wajar. Perilaku yang demikian dinukilkan melalui firman-Nya : "Mereka (orang-orang Yahudi dan munafik) sangat suka mendengar kebohongan dan men-dengar (berita-berita) dari kaum lain yang belum pernah datang kepadamu. Mereka mengubah perkataan (Allah) dari makna yang sebenarnya..." (QS. al-Maidah : 41).
Menurut Imam Al-Qurthubi, ayat di atas menjelaskan sifat para tokoh Yahudi yang memanipulasi Taurat sesuai keinginannya. Mereka enggan tunduk pada hukum Allah, mendengarkan kebohongan, munafik, dan mengubah isi kitab suci demi kepentingan sesuai yang mereka inginkan (kolektif).
Ketiga, I'tibar Allah merubah kaum Yahudi menjadi monyet hina karena kesamaan sifatnya dengan manusia. Sebab, monyet merupakan primata yang aktif, cerdas, dan bersosial. Monyet memiliki kemampuan kognitif dalam menggunakan alat yang sederhana, rasa ingin tahu yang tinggi, serta sifat adaptif yang kuat dalam men-jelajahi lingkungan. Namun, monyet me-rupakan hewan paling serakah --layaknya Yahudi-- dan suka melanggar aturan. Ironisnya, meski salah si monyet tak pernah mau mengakui dan merasa ber-salah. Meski mulutnya telah terisi penuh makanan, tangan dan kaki memegang makanan, serta beringas bila ada yang mau mengambil makanan yang ada di depannya. Karakter monyet terhadap makanan mengenyampingkan solidaritas. Sifat serakah yang dimiliki membuatnya ingin berkuasa dan menguasai.
Apa yang menimpa kaum Yahudi di atas menjadi pelajaran yang nyata. Murka-Nya atas tipu muslihat dan kelicikan kaum Yahudi di atas berpotensi menimpa pada manusia sepanjang sejarah hingga akhir zaman. Bila sifat monyet telah menguasai diri, maka manusia pada hakikatnya telah mengikuti watak licik "kaum Yahudi" dan dilaknat menjadi seekor monyet. Meski fisik tetap manusia, tapi perilaku dan sifat-nya berkorelasi kebiasaan seekor monyet.
Meski manusia marah dan tak mau dikata-kan monyet, tapi Allah telah menyatakan-nya dalam al-Quran. Andai sisi keenggan-an sebagai "monyet", maka ada 3 (tiga) pi-lihan, yaitu : (1) tinggalkan semua perilaku kemungkaran yang dilarang-Nya. Pilihan ini merupakan cara hamba "tau jalan pulang". (2) nafikan ayat al-Quran yang berkaitan berbagai larangan agar bisa lebih leluasa melakukan kemungkaran. Pilihan ini meru-pakan jalan kesesatan. (3) masa bodoh dan tak peduli atas semua ayat-Nya. Pilihan ini merupakan jalan kekufuran.
Pilihan ke-1 wujud iman dan kebijaksana-an. Tapi, bila pilihan ke-2 dan ke-3, maka Allah mengingatkan melalui firman-Nya : "Sesungguhnya orang-orang yang mendusta-kan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, tidak akan dibukakan pintu-pintu langit bagi mereka dan mereka tidak akan masuk surga, sampai unta bisa masuk ke lubang jarum..." (QS. al-A'raf : 40).
Menurut Ibn Katsir, ayat di atas menjelas-kan tentang azab yang pedih bagi orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan menyombongkan diri. Sebuah perumpama-an kemustahilan untuk memperoleh keber-kahan-Nya (surga).
Semua pilihan tergantung pada kualitas keimanan setiap diri. Pilihan penghamba-an pada-Nya atau memperbudak diri pada nafsu serakah untuk menguasai duniawi. Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***
Prof Samsul Nizaradalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis
Sumber: jawapos.com
ABDUL QADIR AL-JAILANI: PEMBINA TAMADUN KEROHANIAN
Oleh: Ibnu Majid
Abdul Qadir al-Jailani bukanlah seorang raja yang memerintah kerajaan besar, dan bukan juga panglima yang menakluk wilayah-wilayah luas. Namun beliau membina sesuatu yang lebih kekal daripada istana dan lebih kukuh daripada empayar, iaitu jiwa manusia.
Pada zamannya, ketika ramai manusia sibuk mengejar kedudukan dan kemewahan dunia, beliau menghidupkan kembali kesedaran bahawa kekuatan sebenar bermula daripada hati yang dekat dengan Tuhan. Melalui ilmu, tarbiah dan teladan hidupnya, beliau mendidik manusia agar membersihkan jiwa daripada kesombongan, ketamakan dan cinta dunia yang berlebihan.
Beliau mengajarkan bahawa tamadun yang agung tidak lahir daripada kekayaan semata-mata, tetapi daripada manusia yang memiliki iman, kejujuran, amanah dan akhlak yang mulia. Inilah ruh futuwwah yang beliau semai—keberanian melawan hawa nafsu, berkata benar walaupun sukar, merendah diri ketika memiliki kelebihan, dan mengutamakan keredaan Tuhan dalam setiap tindakan.
Daripada tarbiah rohani yang beliau bangunkan lahirlah insan berkarakter, daripada karakter lahirlah masyarakat yang berakhlak, dan daripada masyarakat yang berakhlak terbinanya tamadun yang seimbang antara dunia dan akhirat.
Warisan Abdul Qadir al-Jailani terus hidup merentas zaman kerana beliau membuktikan bahawa kebangkitan umat tidak bermula dengan menguasai dunia, tetapi dengan menguasai diri sendiri. Selagi manusia mencari ketenangan jiwa, makna kehidupan dan jalan menuju Tuhan, selagi itulah warisan kerohanian beliau akan terus menjadi pelita yang menerangi perjalanan ummah.
NURUDDIN ZANGI: PEMBINA TAMADUN MELALUI KEADILAN, ILMU DAN KEBANGKITAN UMMAH
Oleh: Ibnu Majid
Nuruddin Zangi merupakan antara tokoh penting dalam sejarah kebangkitan dunia Islam sebelum era Salahuddin Al-Ayyubi. Walaupun namanya tidak selalu disebut sebaris dengan panglima besar yang membebaskan Baitulmaqdis, peranannya sangat asas dalam membina struktur tamadun yang menjadi landasan kepada kebangkitan tersebut.
Beliau bukan sekadar seorang pemerintah yang mengurus wilayah, tetapi seorang pembina sistem yang memahami bahawa tamadun tidak akan berdiri hanya dengan kekuatan tentera, tetapi dengan kekuatan iman, ilmu, keadilan dan institusi masyarakat yang kukuh.
1. Membina Tamadun Melalui Keadilan
Dalam pemerintahan Nuruddin Zangi, keadilan menjadi asas utama. Beliau dikenali sebagai pemerintah yang sangat menitikberatkan hak rakyat tanpa mengira kedudukan. Pemerintahannya menunjukkan bahawa kezaliman adalah musuh utama tamadun, manakala keadilan adalah tulang belakangnya.
Beliau memastikan pegawai-pegawai negara tidak menindas rakyat, dan beliau sendiri sering turun melihat keadaan masyarakat. Sikap ini menjadikan rakyat merasakan bahawa pemerintah bukan jauh di istana, tetapi dekat dengan kehidupan mereka.
2. Membina Institusi Ilmu dan Pendidikan
Salah satu sumbangan terbesar beliau dalam membina tamadun ialah penubuhan madrasah, pusat ilmu dan institusi pendidikan. Beliau memahami bahawa kekuatan sesebuah umat bukan terletak pada jumlah tentera semata-mata, tetapi pada tahap ilmu dan kesedaran rakyatnya.
Melalui sistem pendidikan ini, lahirlah generasi ulama, pemikir dan pemimpin yang memiliki kefahaman agama yang mendalam serta kesedaran sosial yang tinggi. Ini menjadi asas kepada pembentukan masyarakat yang berilmu dan berakhlak.
3. Menghidupkan Ruh Futuwwah dalam Kepimpinan
Nuruddin Zangi menghidupkan konsep futuwwah dalam pemerintahannya—iaitu keberanian yang berpaksikan akhlak dan ketundukan kepada Tuhan. Futuwwah baginya bukan sekadar keberanian di medan perang, tetapi keberanian untuk berlaku adil, menolak kezaliman, dan mengutamakan kepentingan umat berbanding kepentingan diri.
Beliau menunjukkan bahawa seorang pemimpin sejati bukan hanya kuat dari segi kuasa, tetapi kuat dalam menahan nafsu, mengawal kemarahan, dan menjaga amanah.
4. Membina Kesatuan Umat
Pada zamannya, dunia Islam berpecah kepada banyak wilayah kecil yang sering bertelingkah. Nuruddin Zangi berusaha menyatukan kekuatan umat Islam di bawah satu matlamat yang lebih besar, iaitu mempertahankan agama dan maruah umat.
Beliau menyedarkan bahawa perpecahan hanya melemahkan tamadun, manakala perpaduan menjadi asas kepada kebangkitan. Usahanya dalam menyatukan wilayah-wilayah Islam membuka jalan kepada kemunculan kekuatan besar yang kemudiannya diteruskan oleh Salahuddin Al-Ayyubi.
5. Membina Jiwa Kepimpinan yang Zuhud dan Tawaduk
Walaupun memiliki kuasa dan pengaruh, Nuruddin Zangi dikenali sebagai seorang pemimpin yang zuhud dan tidak terikat dengan kemewahan dunia. Beliau hidup sederhana dan menunjukkan contoh bahawa kepimpinan bukan ruang untuk kemegahan, tetapi medan amanah dan pengorbanan.
Sikap ini menjadikan beliau dihormati oleh rakyat dan ulama, kerana beliau memimpin dengan hati yang tunduk kepada Allah, bukan dengan kesombongan kuasa.
6. Asas kepada Kebangkitan Tamadun Besar
Warisan terbesar Nuruddin Zangi bukan hanya pada wilayah yang beliau perintah, tetapi pada sistem yang beliau bina—sistem keadilan, pendidikan, perpaduan dan akhlak kepimpinan. Semua ini menjadi asas kepada kebangkitan besar dunia Islam pada era selepasnya.
Beliau membuktikan bahawa tamadun tidak dibina dalam sehari, tetapi melalui proses panjang membentuk manusia, institusi dan nilai.
Kesimpulan: Tamadun Bermula dari Sistem Jiwa dan Sistem Masyarakat
Kisah Nuruddin Zangi mengajar bahawa tamadun yang kukuh tidak lahir daripada kekuatan sementara, tetapi daripada struktur yang dibina atas iman, ilmu dan keadilan.
Daripada keadilan lahir kepercayaan rakyat, daripada ilmu lahir kesedaran umat, daripada kesedaran lahir perpaduan, dan daripada perpaduan tertegaknya
IMAM AL-GHAZALI: PEMBINA JIWA, PENGUKUH TAMADUN
Oleh: Mohd Shauki Abd Majid
Beliau bukan seorang membina istana-istana megah. Beliau bukan juga yang memimpin bala tentera menakluk negera-negara jauh. Namun beliau telah membina sesuatu yang lebih besar daripada kota batu, dan lebih kekal daripada empayar raja-raja. Beliau membina manusia.
Tatkala umat Islam mula terpesona dengan kemewahan dunia, dan ilmu menjadi kebanggaan yang kosong daripada jiwa, Imam Al-Ghazali RH bangkit, menghidupkan kembali cahaya yang hampir padam. Beliau mengajarkan bahawa kekuatan sebenar bukan bermula pada tangan, tetapi pada hati yang bertaqwa. Bukan pada banyaknya himpunan harta, tetapi pada bersihnya jiwa.
Hari ini kita menyelami falsafah agung cendekiawan abad ke-11 dari Zaman Kegemilangan Islam, yang membuktikan bahawa kebangkitan ummah bermula dengan menawan hati.
Doktrin Futuwwah
Imam Al-Ghazali menegaskan bahawa kekuatan sesebuah tamadun bukanlah pada tingginya menara, tetapi pada tingginya akhlak manusia yang membinanya. Daripada pemikirannya, lahirlah suatu falsafah peradaban yang berbunyi: "Perbaikilah manusia, nescaya manusia akan memperbaiki dunia".
Inilah roh futuwwah yang beliau hidupkan. Futuwwah bukan sekadar keberanian mengangkat pedang. Sebaliknya, ia adalah keberanian menundukkan nafsu, keberanian berkata benar ketika ramai memilih diam, keberanian memberi ketika diri sendiri memerlukan, keberanian merendah diri ketika memiliki kuasa, dan keberanian mencintai Tuhan lebih daripada mencintai dunia.
Daripada futuwwah inilah, lahirlah karakter. Daripada karakter, lahirlah jatidiri. Daripada jatidiri, lahirlah masyarakat. Dan daripada masyarakat yang berjiwa besar itulah, terbangunnya sebuah tamadun.
Bahaya 'Wang Mati'
Namun, Al-Ghazali bukan sekadar seorang tokoh kerohanian. 900 tahun sebelum wujudnya teori ekonomi moden, beliau telah menggariskan bahawa wang dan moraliti adalah dua entiti yang saling berkait rapat dan tidak boleh dipisahkan.
Al-Ghazali tidak melihat wang sebagai simbol status atau sesuatu untuk ditimbun, tetapi sekadar alat pemudah cara pertukaran. Beliau mengumpamakan wang sebagai sebuah "cermin", kerana ia tidak mempunyai nilai intrinsik, sebaliknya nilainya terhasil sepenuhnya daripada apa yang dipantulkannya, iaitu perdagangan, pembinaan, dan kerjasama yang digerakkannya.
Beliau memberikan amaran keras tentang betapa bahayanya "wang mati". Penimbunan kekayaan atau hoarded wealth disifatkan sebagai "wang mati" yang akan membekukan aliran darah sesebuah masyarakat. Apabila kekayaan tidak beredar dalam ekonomi untuk mendanai perdagangan atau menyara keluarga, ia akhirnya akan memanipulasi harga barang dan melumpuhkan pasaran.
Lihat sahaja pendedahan demi pendedahan moden seperti Panama Papers dan Pandora Papers. Golongan elit kapitalis, diktator korup, dan oligarki teknologi secara rahsia menyembunyikan trilion dolar kekayaan mereka di syarikat-syarikat cengkerang di kawasan perlindungan cukai atau tax havens. Wang yang terlampau banyak ini tidak dilaburkan kembali ke dalam rantaian ekonomi sebenar untuk membina tamadun, tidak membasmi kemiskinan, dan tidak digunakan untuk membayar gaji pekerja kelas bawahan. Ia sekadar nombor yang dibekukan di dalam peti besi digital. Inilah manifestasi paling nyata bagi amaran Al-Ghazali tentang "wang mati" yang meruntuhkan ketamadunan manusia.
Kemuliaan Bekerja
Dalam soal pasaran, Al-Ghazali mengecam keras perbuatan spekulasi, seperti memanipulasi harga atau mencipta kekurangan bekalan secara palsu. Perbuatan ini dilabel sebagai "keuntungan tanpa sumbangan", yang dianggap sebagai satu korupsi moral seperti wabak penyakit, dan akhirnya menghancurkan keseluruhan masyarakat.
Sebaliknya, beliau mempertahankan kemuliaan bekerja, dan menganggap kekayaan yang diperoleh melalui manipulasi tanpa usaha sebagai sesuatu yang sangat berbahaya kepada roh dan sosial masyarakat. Sesebuah masyarakat hanya akan menjadi kuat apabila individu di dalamnya menyumbang lebih banyak daripada apa yang mereka ambil.
Lebih menakjubkan, ketika pakar ekonomi moden menggunakan istilah seperti "transaction costs" atau "information asymmetry", Al-Ghazali telah lama berhujah bahawa pasaran hanya boleh berfungsi apabila wujudnya rasa saling percaya. Sebaik sahaja kepercayaan ini runtuh, ekonomi juga akan serta-merta ranap.
Sinyalir tajam ini tepat merobek jantung sistem kapitalisme kewangan hari ini. Ingat kembali malapetaka Krisis Kewangan Global 2008 di Wall Street. Institusi kewangan gergasi dan pengurus dana lindung nilai (hedge funds) memanipulasi pasaran kertas dan bertaruh secara spekulatif ke atas hutang perumahan rakyat. Mereka mencedok keuntungan berbilion dolar tanpa menyumbang walau satu titik nilai fizikal kepada ketamadunan manusia. Apabila gelembung spekulasi rakus ini pecah, jutaan nyawa kelas pertengahan dan bawahan di seluruh dunia hancur, hilang pekerjaan dan kehilangan tempat tinggal secara sekelip mata.
Ekosistem Moral
Al-Ghazali juga adalah antara tokoh terawal yang mengkritik keras manipulasi mata wang oleh pihak pemerintah. Beliau menyifatkan tindakan mencairkan kualiti syiling emas atau perak sebagai satu "kecurian". Apabila penguasa memanipulasi mata wang demi menyelesaikan masalah bajet jangka pendek, mereka sedang menghakis kepercayaan awam, di samping meruntuhkan nilai intrinsik mata wang tersebut.
Akibatnya, rakyat akan meninggalkan mata wang tempatan dan beralih kepada mata wang asing yang lebih kukuh. Ini adalah dinamik tepat yang sedang kita saksikan dalam pelbagai krisis kewangan moden hari ini.
Secara tuntasnya, wang bukanlah satu objek mekanikal, tetapi ia adalah sebuah "ekosistem moral". Keruntuhan ekonomi sangat jarang berpunca daripada kekurangan sumber, tetapi ia berpunca daripada kehancuran kepercayaan dan kegagalan institusi untuk menegakkan keadilan. Amaran utama Imam Al-Ghazali itu jelas - jika wang dipisahkan daripada moraliti, sistem itu akhirnya akan hancur.
Apa yang ditegur oleh Al-Ghazali sebagai "kecurian" 900 tahun lalu itu, sedang melanda dunia secara global pada saat ini. Apabila bank-bank pusat dunia dengan rakus mencetak wang tanpa sandaran nilai fizikal, satu dasar yang dikenali sebagai Quantitative Easing, semata-mata untuk menutup bebanan hutang kerajaan, kuasa beli rakyat sebenarnya sedang dirompak secara halus melalui letusan inflasi. Kita melihat kesan ekstrem penipuan ekonomi ini di negara-negara seperti Venezuela, Zimbabwe, atau Lubnan. Akibat pengkhianatan dasar ini, mata wang kertas mereka bertukar menjadi sampah, memaksa mangsa keadaan membuang mata wang tempatan dan bermati-matian menyelamatkan sisa kekayaan mereka ke dalam aset seperti emas atau dolar.
Warisan Merentas Zaman
Sejarah sentiasa membuktikan bahawa bangunan boleh runtuh, kerajaan boleh tumbang, dan kekayaan boleh lenyap. Namun asas yang dibina daripada iman, ilmu, akhlak, dan futuwwah, akan terus hidup merentas zaman.
Kerana itulah warisan Al-Ghazali tidak pernah terkubur dalam lipatan sejarah. Selama manusia masih mencari makna kehidupan, umat masih mendambakan kebangkitan, dan dunia masih memerlukan cahaya petunjuk, warisan beliau akan terus berdiri sebagai asas agung kebangkitan ummah, tidak dapat disingkirkan dari sejarah, dan akan terus menjadi pelita bagi masa hadapan.