MENGENAL SITT AL-MULK (DINASTI FATIMIYAH)
Perempuan dalam Khazanah Islam Abad Pertengahan (I)
Catatan peradaban Islam abad pertengahan selalu menarik untuk dikaji, masa yang diakui sebagai penaklukan dan kejayaan Islam membentang dari Afrika Utara hingga Hindukush India. Selain itu, Islam menjadi pusat intelektual, peletak dasar ilmu pengetahuan bidang sains, filsafat, dan kedokteran.
Historiografi di balik kejayaan peradaban ini tidak lepas dari kehadiran pemimpin revolusioner, memadukan kemajuan spiritualitas dan idealisme. Ilmu kalam dan sains berhasil menempatkan dirinya dalam lembaran tinta emas peradaban dunia yang tidak akan pernah pudar.
Akan tetapi, sumber-sumber sejarah tentang peran perempuan belum digali secara mendalam atau kurang mendapat perhatian. Kisah-kisah perjuangan mereka tertulis dalam bab terakhir sumber-sumber sejarah.
Padahal, kisah perjuangan dan kepemimpinan mereka penting untuk diamati dan dikaji, sebagai pembelajaran (ibrah) bagi generasi berikutnya, serta studi komparatif sejauhmana “peran perempuan” dalam khazanah kesejarahan Islam.
Salah satu kisah tentang kedudukan dan peran perempuan diabadikan dalam sejarah gemilang Daulah Fatimiyah, kekaisaran yang berkuasa selama lebih dari satu abad (909-1171). Di bawah otoritas para imam, Mesir menikmati masa kemakmuran ekonomi, stabilitas politik, serta administrasi tata kota pemerintahan yang baik.
Nasiri Kusraw mendeskripsikan tentang kondisi kehidupan abad kesebelas dalam naungan kerajaan terutama masyarakat yang tinggal dibagian utama ibukota; Fustat, Qarafa, dan Kairo.
“Di antara tempat ini, terkenal dua istana dengan arsitektur menakjubkan, Qasr al-Dzahab (istana emas) nan megah dan Qasr al-Bahr (istana sungai) yang dirancang astrolog kerajaan dengan mengikuti arah bintang-bintang. Arsitektur ini adalah maskot kerajaan yang tidak ditemukan di tempat lain.”
“Pasar lampu di dekat masjid Amr bin Ash, Fustat terbuat dengan kualitas terbaik tidak ada bandingannya di tempat manapun. Hampir dua ratus gudang menjual karya seni dari seluruh belahan dunia, termasuk artefak bertatahkan, batu kristal, tembikar halus, gading gajah dan segala macam buah dan sayuran serta madu dan gula ada di tempat ini.”
Di luar ibukota Fatimiyah, lanskap sosial mencerminkan keragaman agama penduduknya. Gereja, Sinagog dan tempat-tempat suci dilindungi secara hukum. Toleransi terjalin dengan baik, hidup berdampingan dan saling menghormati.
Di balik kesuksesan itu, terdapat seorang ratu bernama Sitt al-Mulk. Lahir di lingkungan gemerlap kekaisaran Ubaidillah, namanya masyhur di kalangan masyarakat Arab karena kecerdasannya dalam mengatur pemerintahan.
Dibesarkan dengan baik oleh sang ayah khalifah al-‘Aziz, menjadikannya sebagai pribadi unggul dan cerdas, terutama kemampuannya yang luar biasa dalam bidang hukum. Dan dicintai oleh masyarakat hingga atas nama khalifah ketiga, al-Dzahir mengangkatnya sebagai khalifah, menjalankan roda kekuasaan selama empat tahun antara 1020-1024 M.
Dalam buku Fatima Mernissi The Forgotten Queens of Islam, Sitt al-Mulk adalah salah satu putri khalifah yang paling cantik. Menggunakan wewangian langka dan perhiasan permata paling berharga ditambah tunik sutra, linen dan brokat terbaik kerajaan membuatnya terlihat makin mempesona.
Sikap toleran, dermawan dan pemberani adalah karakteristik pribadi Sitt al-Mulk. Keberhasilannya dalam menjaga stabilitas negara tidak lain karena sikap toleransi antara umat beragama karena potret Mesir pada saat itu sangat beragam.
Sikap toleransi Sitt al-Mulk tercermin dari sikap hormat terhadap Kristen dan Yahudi. Bahkan, ia berhasil menyelesaikan perseteruan pamannya Arsenius dan Aristes dan memberikan mereka jabatan tinggi dalam kerajaan. Sikap dermawan dan pemberani Sitt al-Mulk sama dengan sifat sang ayah yang membawa kekaisaran Fatimiyah makin maju.
Rasa hormat Sitt al-Mulk kepada komunitas Yahudi dan Kristen tidak lain karena dua hal. Pertama, ibu Sitt al-Mulk berasal dari Kristen Jarya asal Byzantium yang secara tidak langsung mempengaruhi praktik politik pemerintahannya.
Kedua, nilai toleransi dan kedermawanan modal utama, tidak hanya bagi Yahudi dan Kristen, tapi aliran lain. Ia merangkul semua elemen masyarakat dengan cara membangun lembaga pendidikan dan melibatkan mereka dalam struktur pemerintahan.
“Pemimpin besar adalah pemimpin yang toleran dan dermawan. Sebaliknya, pemimpin yang gagal adalah yang menumpahkan darah.” Ungkapan Ibnu Kallikan, refleksi dari kepemimpinan khalifah al-‘Aziz dan Sitt al-Mulk yang tegas, toleran, dermawan dan berbudi luhur.
Peran Sitt al-Mulk paling dominan adalah menjaga stabilitas politik. Pada musim Semi 13 Februari 1021, Mesir dalam kondisi genting karena patron kekuatan istana mulai goyah ketika menyebar berita hilangnya imam al-Hakim saudara Sitt al-Mulk.
Desas-desus seputar kematian al-Hakim yang menyebar dalam masyarakat menyatakan bahwa sang “khalifah” meninggal disebabkan pembunuhan berencana kalangan istana. Sedangkan lainnya percaya imam al-Hakim mati di medan perang.
Akan tetapi, mayoritas masyarakat Mesir mulai meyakini al-Hakim dibunuh. Hal ini dikisahkan oleh Ibnu al-Athir, “hilangnya al-Hakim Ibnu Amrillah terjadi pada saat melakukan inspeksi malam seperti yang biasa dilakukan, dia berjalan ke timur Hilwan dan didampingi oleh dua pengawal, kemudian hilang tanpa jejak.”
Tiga bulan kemudian, sebuah tim investigasi yang dipimpin Mudaffar Saqlabi menemukan keledai tunggangan al-Hakim yang luka.
Dalam keadaan seperti ini, kehadiran Sitt al-Mulk di istana semakin meyakinkan. Berusaha menjaga kondisi Mesir tetap kondusif dan menghindari kekacauan.
Selama lima hari berikutnya, Sitt al-Mulk mengirim tentara menyisir perbukitan Kairo dan mencegah kemungkinan elite oposisi campur tangan dan mengganggu stabilitas politik. Selama empat tahun kekuasaannya, Sitt al-Mulk melakukan transformasi dalam kerajaan mulai dari tata kota, lembaga pendidikan, hingga memperkuat elemen militer.
Sumber: Qureta.com
AJARAN TASAWUF WALI SONGO
Raden Rahmat atau Sunan Ampel (wafat sekitar tahun 1406 M) dikisahkan dalam Babad Tanah Jawi mengajarkan kehidupan zuhud dengan melakukan riyaḍah secara ketat kepada masyarakat. Adapun gambaran amalan ruhani yang dijalankan Sunan Ampel sebagai berikut:
Ora dhahar ora guling/ anyegah ing hawa/ ora sare ing wengine/ ngibadah maring Pangeran/ fardhu sunat tan katinggal/ sarwa nyegah haram makruh/ tawajuhe muji ing Allah//
Tidak makan tidak tidur, mencegah hawa nafsu/ tidak tidur malam untuk beribadah kepada Tuhan/ fardhu dan sunnah tidak ketinggalan/ serta mencegah yang haram maupun yang makruh/ tawajuh memuji Allah//.
Bahkan di dalam satu keterangan di dalam Babad Tanah Jawi naskah Drajat, Sunan Ampel mengajarkan ilmu tasawuf dengan laku suluk menurut ajaran tarekat Naqsyabandiyah.
Sementara, Sunan Giri dalam melakukan dakwah Islam di tengah-tengah masyarakat lebih menekankan pada pendidikan. Ia merupakan salah satu wali yang mengembangkan sistem pesantren yang pada kemudian hari diikuti oleh hampir oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia.
Dalam menyampaikan dakwah Islam, Sunan Giri senantiasa menyampaikan dengan cara-cara yang lunak dengan mengikuti ajaran Islam yang diterima sebagai kewajaran. Titik tolok dakwah yang dikembangkan pada dasarnya adalah menanamkan pendidikan budi pekerti luhur kepada masyarakat.
Sunan Bonang dikenal sebagai guru tasawuf yang diyakini memiliki kekuatan keramat sebagaimana lazimnya seorang wali.
Sebuah naskah primbon asal Tuban, yang menurut Schrieke dalam Het Boek Van Bonang (1916) adalah tulisan Sunan Bonang sendiri, merupakan ikhtisar bebas dari Kitab Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn karya al-Ghazālī dan Kitab al-Tamhīd Fī Bayān al-Tawḥīd karya Abu Syakur bin Syu‘aib al-Kasi al-Hanafi al-Salimi.
Sunan Kalijaga dikenal sebagai guru ruhani yang mengajarkan tarekat Syattariyah dari Sunan Bonang sekaligus tarekat Akmaliyah dari Syekh Siti Jenar. Pelajaran tarekat dalam bentuk laku ruhani yang disebut mujahadah, muqarabah, dan musyahadah secara arif disampaikan Sunan Kalijaga baik secara tertutup diberikan kepada murid-murid ruhani sebagaimana layaknya proses pembelajaran di dalam sebuah tarekat.
Sementara itu, pelajaran yang disampaikan secara terbuka, dilakukan melalui pembabaran esoteris kisah-kisah simbolik dalam pergelaran wayang, sehingga menjadi pesona tersendiri bagi masyarakat dalam menikmati pergelaran wayang yang digelar Sunan Kalijaga.
Sunan Drajat dikenal sebagai penyebar Islam yang berjiwa sosial tinggi dan sangat memperhatikan nasib kaum fakir miskin serta lebih mengutamakan pencapaian kesejahteraan sosial masyarakat.
Setelah memberikan perhatian penuh, baru Sunan Drajat memberikan pemahaman tentang ajaran Islam. Ajarannya lebih menekankan pada empati dan etos kerja keras berupa kedermawanan, pengentasan kemiskinan, usaha menciptakan kemakmuran, solidaritas sosial, dan gotong royong.
Secara umum, ajaran Sunan Drajat dalam menyebarkan dakwah Islam dikenal masyarakat sebagai pepali pitu (tujuh dasar ajaran), yang mencakup tujuh falsafah yang dijadikan pijakan dalam kehidupan sebagai berikut;
Pertama, memangun resep tyasing suasama (kita selalu membuat senang hati orang lain.)
Kedua, jroning suka kudu eling lan waspodo (dalam suasana gembira hendaknya tetap ingat Tuhan dan selalu waspada.)
Ketiga, laksitaning subrata tan nyipta marang pringga bayaning lampah (dalam upaya mencapai cita-cita luhur jangan menghiraukan halangan dan rintangan.)
Keempat, meper hardaning pancadriya (senantiasa berjuang menekan gejolak nafsu-nafsu inderawi.)
Kelima, heneng-hening-henung (dalam diam akan dicapai keheningan dan di dalam hening akan mencapai jalan kebebasan mulia.)
Keenam, mulya guna panca waktu (pencapaian kemuliaan lahir batin dicapai dengan menjalankan salat lima waktu.)
Ketujuh, menehono teken marang wong kang wuto. Menehono mangan marang wong kang luwe. Menehono busana marang wong kang wuda. Menehono pangiyup marang wong kang kaudanan (berikan tongkat kepada orang buta. Berikan makan kepada orang yang lapar. Berikan pakaian kepada orang yang tidak memiliki pakaian. Berikan tempat teduh kepada orang yang kehujanan.)
Beberapa contoh dari dakwah Wali Songo di atas terutama yang berkaitan dengan tasawuf (laku suluk) dapat memberikan deskripsi bahwa sesungguhnya dakwah yang dikembangkan Wali Songo pada hakikatnya adalah dakwah yang selaras dengan firman Allah:
Hendaklah engkau mengajak orang ke jalan Allah dengan hikmah, dengan peringatan yang ramah tamah serta bertukar pikiran dengan mereka melalui cara yang sebaik-baiknya.
Penanaman nilai-nilai ajaran Islam melalui keteladanan yang baik (uswah ḥasanah) sebelum berucap kata, bukan dengan cara propaganda dan cara yang tidak bijak lainnya, menjadikan dakwah yang diajarkan Wali Songo mendapatkan simpati di hati masyarakat.
Ajaran-ajaran semacam ini yang selalu digaungkan di dalam ajaran Islam dan bahkan dianjurkan karena sesuai dengan dalil normatif al-Qur’an dan Sunnah.
Jika demikian model dakwah yang dikembangkan oleh Wali Songo, maka kita akan menemukan kecocokan model dakwah atau ajaran tasawuf Wali Songo dengan tipologi tasawuf Akhlaki yang diserukan oleh al-Ghazālī.
Nampaknya tawaran tasawuf al-Ghazālī lebih mendapat simpati bagi Wali Songo untuk diajarkan kepada masyarakat secara luas. Ini bisa diperkuat dengan data yang sudah penulis jelaskan tentang ajaran tasawuf Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga yang menjadikan buku-buku karya al-Ghazālī sebagai rujukan utama.
Proposisi lain yang mungkin dapat diperdebatkan adalah bukankah selain ajaran Wali Songo di atas terdapat pula ajaran Syekh Siti Jenar, di mana pemikiran-pemikirannya masuk dalam tipologi tasawuf falsafi?
Syekh Siti Jenar pernah mengungkapkan pemikirannya yang memiliki kesamaan dengan ajaran Ibn ‘Arabī yang monistik sebagai berikut:
...Seh Lemah Abang ngandika/ aja na kakeyan semu/ iya ingsun iki Allah/ nyata ingsun kang sajati/ jejuluk Prabu Satmata/ tana ana liyan jatine/ ingkang aran bangsa Allah/ molana Maghrib mujar/ iku jisim aranipun/ Seh Lemah Bang angandika/ kawula amedhar ngelmi/ angraosai katunggalan/ dede jisim sadangune/ mapan jisim nora nana/ dene kang kawicara/ mapan sajati ning ngelmu/ sami amiyak warana//
Syekh Lemah Abang berujar, ‘Marilah kita berbicara dengan terus terang bahwa Aku ini Allah. Akulah yang sejatinya disebut Prabu Satmata (salah satu nama Syiwa), tidak ada yang lain yang disebut ilahi’, Maulana Maghrib mencela, ‘tapi itu jisim namanya,’ Syekh Lemah Abang menyahut, ‘Saya menyampaikan ilmu yang bukan tubuh, karena tubuh pada hakikatnya tidak ada. Yang kita bincang adalah ilmu sejati. Kepada semuanya saja, kita buka tabir rahasia ilmu sejati’.
Dengan demikian, benih-benih tasawuf falsafi di Indonesia sedari awal memiliki kekuatan yang sama besar dengan tasawuf akhlaki.
Terlebih peranan ajaran Syekh Siti Jenar, sebagai wali dengan kapasitas keilmuan yang sangat mumpuni, banyak mendapat tempat di hati masyarakat. Hal ini menunjukkan kedua model tasawuf pernah ada dan tumbuh bahkan pada taraf menjadi suatu mainstream di Nusantara.
Statemen di atas bisa saja menjadi benar, jika dakwah dan ajaran Syekh Siti Jenar tidak mendapatkan resistensi dari para anggota wali lainnya.
Pada kenyataannya di dalam sejarah dibuktikan bahwa adanya usaha-usaha pemakzulan terhadap paham yang cenderung pada ajaran filosofis-panteistis yang diajarkan Syekh Siti Jenar. Bahkan diceritakan bahwa Sunan Giri (anggota Wali Songo) dikabarkan menentang ajaran Siti Jenar yang berpandangan panteisme.
Sebuah debat langsung digelar di hadapan Raden Fatah, sultan pertama kerajaan Islam di Jawa yang berakhir dengan pengadilan yang menjatuhkan hukuman mati kepada Siti Jenar dan para pendukungnya.
Siti Jenar dianggap salah karena telah mempercayai bahwa Tuhan tidak berwujud kecuali dalam bentuk nama, Dia mengalir dalam diri insān kāmil (manusia paripurna), yang terkenal dengan ajaran ‘manunggaling kawula Gusti’ (union with the One).[2]
Terlepas dari benar tidaknya cerita tersebut, makna yang hendak diambil adalah bahwa Wali Songo tidak pernah membuka ruang terhadap pemikiran filosofis Ibn ‘Arabī, al-Ḥallāj, dan sebagainya, yang memiliki tendensi ke arah panteisme.
Sebaliknya Wali Songo lebih simpati terhadap karya-karya al-Ghazālī dan al-Qusyairī yang memiliki orientasi pada pembentukan karakter dan budi pekerti yang baik dalam hal mu’amalah.
Implikasi dari adanya usaha membendung arus pemikiran panteistis di Indonesia, mengindikasikan akan dominasi pemikiran tasawuf akhlaki sebagai pemikiran tasawuf yang diridhoi dan direstui dan dijadikan sebagai basis utama pemikiran tasawuf di Indonesia.
Sumber: Qureta.com
KEANGKUHAN MANUSIA | MENGULANGI KESILAPAN UMAT TERDAHULU
Oleh: Mohd Shauki Abd Majid
Dan (ingatkanlah juga peristiwa kebinasaan) Qarun dan Firaun serta Haman. Dan demi sesungguhnya Nabi Musa telah datang kepada mereka membawa keterangan-keterangan (mukjizat) yang jelas nyata, lalu mereka berlaku sombong takbur di bumi (mendustakannya), padahal mereka tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah). - (Surah Al-Ankabut, Ayat 39)
Al-Quran berulang kali mengingatkan kita tentang kaum-kaum terdahulu yang ditimpa kehancuran. Firaun, Qarun, Kaum ‘Ad, Kaum Nabi Shu’aib, Namrud, bahkan Kaum Nabi Lut. Semua dari mereka ini memiliki satu penyakit yang sama, takabbur dan enggan bergantung kepada Allah SWT . Mereka percaya pada kuasa, kekayaan, kekuatan, dan hawa nafsu mereka sendiri. Tetapi akhirnya, kesombongan itu telah membawa mereka kepada azab Allah SWT.
Kaum Ad merupakan saudara jauh kaum Thamud. Kemahiran kaum Ad dalam membina bangunan yang besar dan kota diaplikasikan oleh kaum Thamud sesudahnya.
Tetapi malang sekali kerana kesombongan kaum ini kota megah ini tidak mampu bertahan lama apabila Allah swt menghantar puting beliung dan angin ribut yang kuat yang memusnahkan segala kemegahan mereka sehingga menjadi debu tanpa jejak.
Daripada kisah daripada Al-Quran mengenai kemusnahan kaum Ad, kita dapat melihat bagaimana kota Iram yang dijadikan sebagai kota perdagangan yang berfungsi sebagai pusat pertukaran barang dagangan oleh kaum Ad yang memiliki pelbagai kemudahan, pengaruh dan pertahanan, akhirnya hancur dibenam ke dalam padang pasir oleh Allah swt dalam tempoh masa 8 hari 7 malam sahaja.
Kaum Ad yang telah diberi peluang oleh Allah SWT untuk menyembahnya setelah diberikan pelbagai kenikmatan dunia tidak mampu diselamatkan dengan kesombongan dan kekafiran mereka dalam menyekutukanNya. Pengajaran yang sudah dikhabarkan tidak didengar, malahan ianya memakan diri. Keagungan kota Iram dan kemegahan kaum Ad ditamatkan oleh Allah swt dan peninggalan mereka masih tidak diketahui keberadaannya. Ianya masih kekal menjadi sebuah tanda tanya kepada umat manusia.
Kisah secara terperinci mengenai Nabi Lut a.s. bersama umatnya yang mengisahkan penyelewengan akhlak mereka, dakwah Nabi Lut kepada umatnya agar dibersihkan perlakuan mereka yang salah, penolakan dakwah oleh umatnya serta menerangkan azab dan seksa ke atas umatnya. Dan jangan kita lupakan Kaum Nabi Lut. Mereka menolak fitrah, menghalalkan hubungan sejenis, dan menjadikan maksiat sebagai budaya. Allah merakamkan dalam Surah Al-A’raf ayat 81:
“Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan syahwatmu, bukan kepada perempuan. Bahkan kamu ini kaum yang melampaui batas.”
Kesombongan mereka bukan pada kuasa atau harta, tetapi pada nafsu yang diangkat menjadi agama. Akhirnya, mereka dibinasakan dengan hujan batu dari tanah yang terbakar, sebagai pengajaran kepada umat manusia sehingga hari ini.
Di dalam kisah Nabi Musa AS, Firaun adalah simbol politik zalim. Dia bukan sahaja menindas Bani Israel, malah mengaku dirinya tuhan. Firman Allah SWT dalam Surah An-Nazi’at ayat 24 yang bermaksud:
“Maka Firaun berkata: Akulah tuhan kamu yang paling tinggi.” - (Surah An-Nazi’at, ayat 24)
Namun, kekuasaannya tenggelam bersama dirinya di Laut Merah. Sehebat mana pun kuasa politik manusia, ia tetap tidak mampu menandingi kuasa Allah SWT. Apabila Fir’aun mengaku dirinya sebagai tuhan, maka hilang kebergantungannya kepada Allah SWT secara total. Lalu dia dijadikan simbol keangkuhan, sebagai peringatan kepada seluruh umat manusia setelahnya.
Qarun pula adalah lambang kesombongan harta. Dia merasa bahawa kekayaannya datang dari ilmunya sendiri. Allah SWT merakamkan kata-katanya dalam Surah Al-Qasas ayat 78 yang bermaksud:
“Sesungguhnya aku hanya diberi harta ini kerana ilmu yang ada padaku.” - (Surah Al-Qasas, Ayat 78)
Qarun percaya bahawa harta yang dia telah kumpul itu adalah oleh kerana kelicikannya sendiri. Maka bumi diperintahkan untuk menelannya bersama seluruh hartanya. Inilah kesudahan bagi manusia yang percaya pada kekayaan, tetapi lupa pada Pemberi Rezeki.
Kaum ‘Ad pula berbangga dengan kekuatan fizikal dan kepandaian mereka dalam binaan mereka. Kaum ini dijadikan Allah SWT lebih besar dari kaum-kaum lain. Mereka berkata dengan angkuh;
“Siapakah yang lebih kuat daripada kami?” - (Surah Fussilat, Ayat 15)
Namun mereka dilanda angin kencang yang membinasakan, hingga lenyap dari muka bumi. Kekuatan fizikal, teknologi, dan ketenteraan manusia, semuanya itu rapuh apabila Allah menurunkan azab-Nya.
Kaum Nabi Syu'aib pula terkenal dengan penipuan dalam perniagaan. Mereka mengurangkan timbangan, menipu dalam urus niaga, dan menjadikan perdagangan sebagai jalan penindasan. Firman Allah dalam Surah Hud ayat 84:
“Sempurnakanlah takaran dan timbangan, dan janganlah kamu merugikan manusia akan hak-hak mereka.”
Tetapi mereka menolak seruan Nabi Syu'aib, lalu ditimpa azab yang membinasakan. Kebergantungan mereka hanya kepada perniagaan yang membawa untung dan menjadikan mereka itu tamak, hingga lupa kepada Allah SWT.
Namrud, raja yang bongkak, berdebat dengan Nabi Ibrahim A.S. tentang Tuhan. Allah merakamkan peristiwa ini dalam Surah Al-Baqarah ayat 258:
“Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan.” Kata Namrud: “Aku juga boleh menghidupkan dan mematikan.”
Namun, Allah membungkam kesombongannya dengan hujjah mudah:“Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat.” Namrud tidak mampu menjawab, lalu menjadi simbol ego manusia yang percaya pada kemampuan diri.
Apakah dunia moden tidak sedang mengulangi kesilapan yang sama? Agenda songsang yang dahulu dilaknat Allah, kini diangkat sebagai hak asasi manusia, dipaksa ke atas negara-negara Islam oleh kuasa besar dunia.
Firaun adalah simbol politik zalim. Qarun lambang kapitalisme tamak. Kaum ‘Ad lambang kekuatan ketenteraan yang angkuh. Kaum Syu'aib lambang kapitalisme penipuan. Namrud lambang ego teknologi dan kuasa. Dan Kaum Lut lambang keruntuhan moral dan fitrah.
Hari ini, manusia moden mungkin tidak mengaku diri mereka Firaun, Qarun atau Namrud. Tetapi hakikatnya, kita mengulangi kesilapan yang sama. Kita percaya pada kuasa, pada ekonomi, pada teknologi, pada ideologi, bahkan pada nafsu kita sendiri. Kita meninggalkan tawakal dan kebergantungan pada Allah SWT.
Firman Allah dalam Surah Al-‘Ankabut ayat 40:
“Maka masing-masing Kami binasakan kerana dosanya, di antara mereka ada yang Kami timpakan hujan batu, ada yang ditimpa suara keras, ada yang Kami benamkan ke bumi, dan ada pula yang Kami tenggelamkan. Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.”
Iktibar kisah umat terdahulu di dalam al-Quran yang disebut oleh Allah S.W.T. s.w.t di dalam al-Qur’an yang merangkumi kisah para Nabi, adalah untuk :
Mereka mengingatkan kita tentang pentingnya bersyukur atas nikmat Allah dan menjalankan tanggungjawab sebagai khalifah di muka bumi dengan mentadbir alam dengan baik. Dengan mempelajari dan merenungkan kisah-kisah ini, kita dapat mengambil pelajaran dan menjadikannya pedoman dalam menjalani kehidupan agar tidak mengulangi kesalahan yang sama dan terhindar dari azab.
Apakah umat Islam akan mengambil iktibar, atau akan mengulangi kesilapan yang sama, sehingga datangnya azab Allah yang lebih dahsyat?
‘Demi sesungguhnya, kisah Nabi-nabi itu mengandungi pelajaran yang mendatangkan iktibar bagi orang-orang yang mempunyai akal fikiran. (Kisah Nabi-nabi yang terkandung dalam Al-Quran) bukanlah ia cerita-cerita yang diada-adakan, tetapi ia mengesahkan apa yang tersebut di dalam Kitab-kitab ugama yang terdahulu daripadanya, dan ia sebagai keterangan yang menjelaskan tiap-tiap sesuatu, serta menjadi hidayah petunjuk dan rahmat bagi kaum yang (mahu) beriman.’(Surah Yusuf ayat 111)
DR. SAID RAMADHAN (ABU AIMAN)
(1345H- 1416H / 1926M- 1995M)
Said Ramadhan lahir di Thantha pada tahun 1926. Beliau adalah salah seorang murid Al- Bahi Al- Khauli. Berkahwin dengan puteri sulung Imam Asy- Shahid Hasan Al- Banna. Beliau dai ‘ brilliant’. Orator ulung, politikus piawai, pandai menarik simpati masa memberi ceramah, boleh menggentarkan hati pendengar apabila member taujih ruhani di majlis mabit bersama dan memiliki pengaruh yang kuat di tengah rakyat Palestine. Seorang muslim yang mengutamakan ikatan aqidah daripada ikatan- ikatan dunia dan menjadi pasukan Islam di mana pun beliau berada.
Menubuhkan Rabitah Alam Islami
Dr. Said Ramadhan mempunyai idea besar dalam pendirian Rabithah Alam Islami di Makkah, menjadi Seketeriat Jenderal muktamar Islam untuk Al- Quds, mendirikan pusat kegiatan Islam di Geneva, Switzerland, menerbitkan majalah Al- Muslimun yang menjadi pengganti dan meneruskan majalah Asy- Syihab,aktif melibatkan diri dalam perjuangan Islam di berbagai negara. Merekrut ulama dan pemikir dari penjuru dunia seperti Mohammad Natsir, Sayyid Abu Hasan Ali An- Nadwi, Sayiyd ASbul A’la Al- Maududi, Dr. Muhammad Hamidullah, Dr. Mushthafa As- Siba’I, Mushthafa Az- Zarqaa, Muhammad Al- Mubarok, Ma’ruf Ad- DFawalibi. Mukammad Asad, Haidar Bamat, Alimullah Ash- Shiddiqi, Dr. Zaki Ali, Mahmud Buzuzu, Allal Al- Fasi, Kmil Syarif, Abdullah Kanun, Muhammad Abu Zahrah, Muhammad Yusuf Musa dan lain- lain. Majalah Al- Muslimun menjadi majalah Islam bulanan terdepan tahun 1950-an dan 1960-an. Majalah tersebut dibaca kaum muslimin sedunia, memuat tulisan pakar ilmu, tokoh pemikir, aktivis dakwah, tokoh reformasi dan hasil tulisannya selalu ditunggu oleh pembacanya di seluruh negara.
Ustadz Said Ramadhan dai yang halus perasaan, bertabiat mulia, memiliki semangat bergelora, mudah mengalir air mata, lebih dominan aspek spiritualnya, terpengaruh dengan mutiara hikmah, hanyut dalam ikatan batin dengan saudara seaqidahnya, menangis dan boleh membuat orang menangis bila berpidato, berceramah atau berdialog, mudah mengakui kesalahan, mudah memaafkan dan tidak menyimpan dendam pada orang muslim.
Pulang ke Rahmatullah
Ustadz Said Ramadhan meninggal dunia pada 5hb Ogos 1995. Beliau tidak dimakamkan di kubur Baqi’ Madinah Al- Munawwarah, seperti yang beliau inginkan. Beliau dimakamkan di Mesir. Negara yang tidak pernah beliau masuki semenjak keluar darinya pada tahun 1954, karena darahnya dihalalkan oleh pemerintah. “Mereka tidak diseksa, kecuali kerana beriman kepada Allah yang Berkuasa dan Maha Terpuji.”Said Ramadhan dikurniakan empat orang putera bernama Aiman, Hani, Thariq, Bilal dan Yasir dan seorang puteri bernama Arwa.
Semoga Allah S.W.T. merahmati ustadz Abu Aiman, memberkahi keturunannya dan saudara- saudara aeperjuangannya. Semoga Allah S.W.T mempertemukan dengannya bersama para nabi, shidiqqin, syuhada dan shalihin di surga-Nya.
Catatan: Ibnu Khaldun
TAHANAN RUMAH BAGI PEMBESAR YANG BERSALAH?
Oleh: Ibnu Majid
Artikel ini membincangkan evolusi konsep tahanan rumah (house arrest) sebagai hukuman alternatif kepada penjara bagi golongan pembesar dan pemimpin. Kajian ini menggunakan kaedah sejarah dan perbandingan perundangan. Dapatan menunjukkan tahanan rumah asalnya adalah instrumen politik untuk mengawal bekas pemimpin tanpa mencetuskan pemberontakan, sebelum diadaptasi menjadi instrumen keadilan moden berasaskan kemanusiaan dan pemulihan.
1.0 Pendahuluan
Dalam perbahasan keadilan moden, persoalan sama ada pembesar yang bersalah wajar diberikan keistimewaan tahanan rumah sering timbul. Adakah ia tanda keadilan yang berihsan atau pilih kasih yang melemahkan kedaulatan undang-undang? Untuk menjawabnya, kita perlu menelusuri sejarahnya yang panjang.
2.0 Sejarah Konsep Tahanan Rumah
2.1 Era Klasik: Alat Menjaga Maruah Kuasa
Konsep tahanan rumah bermula seawal abad ke-17. Ia bukan untuk penjenayah biasa, tetapi khusus untuk golongan elit yang digulingkan.
- Kes Galileo Galilei (1633): Ahli astronomi Itali dihukum oleh Inkuisisi Gereja Rom kerana menyokong teori heliosentrik. Bagi mengelak Galileo menjadi martir sains, beliau tidak dipenjara di penjara bawah tanah, tetapi ditahan di vilanya di Arcetri hingga meninggal dunia.
- Prinsipnya: Tahanan rumah ketika itu berfungsi sebagai jalan tengah - menghukum tanpa memuliakan atau membunuh.
2.2 Era Monarki: Mengelak Pertumpahan Darah
Dalam era perebutan takhta, membunuh bekas raja akan menyebabkan perang saudara.
- Mary, Queen of Scots (1568-1587): Ditahan selama 19 tahun dalam tahanan rumah yang berpindah-randah di England atas arahan Ratu Elizabeth I.
- Napoleon Bonaparte (1814-1821): Selepas kejatuhannya, beliau dibuang ke Pulau Elba dan kemudian Saint Helena. Walaupun secara geografi sebuah pulau, statusnya adalah tahanan rumah diraja dengan pengiring, kakitangan dan protokol, bukan banduan biasa.
2.3 Era Moden: Dari Politik ke Perundangan
Pada abad ke-20, fungsi tahanan rumah berpecah dua:
a) Sebagai Alat Politik Represif: Digunakan oleh rejim autoritarian untuk menyenyapkan pembangkang tanpa proses mahkamah terbuka. Contoh paling terkenal ialah Aung San Suu Kyi di Myanmar (hampir 15 tahun), dan pemimpin pembangkang Iran Mir Hossein Mousavi dan Mehdi Karroubi (ditahan sejak 2011 tanpa perbicaraan).
b) Sebagai Alternatif Penjara Moden: Bermula di Amerika Syarikat pada tahun 1983 (kes pertama dengan gelang elektronik di Boston) dan diperluaskan secara rasmi pada 1984. Dengan teknologi pemantauan elektronik, ia menjadi alternatif untuk mengurangkan kesesakan penjara. Semasa pandemik COVID-19, penggunaannya meningkat mendadak di seluruh dunia untuk pesalah bukan ganas.
3.0 Amalan Semasa Global: Model Singapura Sebagai Rujukan Terdekat
Singapura mempunyai kerangka paling jelas melalui Skim Tahanan Rumah (Home Detention Scheme).
Seorang banduan layak dipertimbangkan jika:
1. Telah menjalani sekurang-kurangnya 14 hari penjara.
2. Bukan pesalah jenayah berat, keganasan atau dadah berat.
3. Mempunyai rekod tatatertib baik.
4. Mempunyai tempat tinggal tetap dan penjamin keluarga.
5. Memakai peranti pemantauan elektronik.
Kes bekas Menteri Pengangkutan S. Iswaran (Februari 2025) yang dipindahkan ke tahanan rumah selepas 4 bulan penjara adalah contoh aplikasi kriteria kemanusiaan, usia dan kelakuan baik, bukan kerana jawatannya.
4.0 Perspektif Islam: Antara Keadilan dan Ihsan
Islam tidak mempunyai istilah "tahanan rumah" secara tekstual, tetapi mempunyai prinsip yang sangat jelas:
4.1 Prinsip Asal: Kesamarataan Hukum
Hadis Bani Makhzum menjadi asas: "Jika Fatimah binti Muhammad mencuri, nescaya aku potong tangannya." Pangkat tidak boleh menjadi perisai. Sejarah Khalifah Umar yang menyebat anak gabenor Mesir di khalayak ramai membuktikan jawatan tinggi memberatkan, bukan meringankan.
4.2 Pengecualian: Atas Dasar Kezaliman dan Ikrah
Islam MEMBENARKAN bahkan MEWAJIBKAN pembatalan atau pengurangan hukuman jika sabit berlaku kezaliman dalam proses keadilan.
Kaedah Fiqh menyebut:
> "Hak manusia tidak gugur dengan amal peribadi, tetapi gugur jika ada kezaliman dalam pelaksanaannya."
Jika seorang pembesar itu benar-benar dizalimi - contohnya pendakwaan terpilih (selective prosecution), bukti direka, atau dipaksa (ikrah) - maka wajib bagi hakim membebaskannya. Ini berdasarkan hadis: "Takutlah doa orang yang dizalimi."
Namun beban pembuktian kezaliman itu mesti jelas, bukan sekadar dakwaan.
4.3 Jasa Tidak Menghapus Hukuman Berkait Hak Rakyat
Jika kesalahan melibatkan harta rakyat, rasuah atau khianat amanah, jasa yang banyak tidak boleh dijadikan tebusan. Jasa kekal sebagai pahala di sisi Allah, tetapi hukuman dunia tetap berjalan kerana ia melibatkan hak al-adami (hak manusia).
Sejarah membuktikan tahanan rumah bagi pembesar pada asalnya lahir dari pertimbangan politik dan keselamatan, bukan keadilan ihsan. Dalam konteks moden, ia hanya boleh diterima jika memenuhi tiga syarat ketat:
1. Ia adalah sebahagian dari sistem perundangan yang terpakai untuk semua, bukan keistimewaan ad-hoc untuk golongan tertentu.
2. Ia berasaskan faktor kemanusiaan yang objektif (usia, kesihatan, kelakuan baik) yang disahkan secara telus.
3. Ia tidak melibatkan pengampunan terhadap hak rakyat yang masih belum dipulangkan.
Tanpa tiga syarat ini, tahanan rumah akan dilihat sebagai kesinambungan budaya feudal yang pernah dibantah keras oleh Islam dan akhirnya meruntuhkan kepercayaan rakyat kepada keadilan.