NEGERI 1001 MALAM VS 1001 ALASAN
Oleh: Samsul Nizar
Dalam sejarah sastra epik klasik,ditemukan kisah fiksi negeri 1001 malam yang terjadi pada masa keemasan Islam (abad ke-8 M). Konon, kisah ini terjadi di Kota Baghdad. Awalnya, kisah ini merupakan cerita rakyat Persia kuno berjudul Hazar Afsanah yang kemudian berkembang, dimodifikasi, dan menyerap berbagai budaya lokal dengan varian kisah, seperti Alf Layla wa-Layla (The Arabian Nights).
Kisah ini merupakan mahakarya sastra (kumpulan cerita rakyat) peradaban Timur Tengah, Persia, India, dan sekitarnya pada zaman keemasan Islam. Karya ini tidak memiliki pengarang tunggal, melainkan hasil pengumpulan, penambahan, dan peleburan tradisi lisan dari berbagai lintas generasi dan budaya.
Ketika ada negeri 1001 malam yang begitu monumental, ada pula kisah negeri 1001 alasan yang fenomenal, memilukan, dan memalukan. Keberadaan kisah ini terjadi secara imaginer di negeri antah berantah yang tak tertulis dalam sejarah. Kisah lucu tapi menggores pilu. Ketika raja salah, tak ada yang meluruskan, tapi mendukung de-ngan pujian selangit dengan 1001 alasan.
Akibatnya, berbagai kemiskinan muncul di tengah pesta pundi kalangan istana. Bak kata pepatah "tikus mati di lumbung padi", umat tersesat dikerumunan "ustadz", atau potensi generasi tetap "terkebelakang" (moral) di tengah banyaknya sosok intelek-tual yang bergentayangan.
Ada beberapa i'tibar atas kisah fiksi negeri 1001 malam vs negeri 1001 alasan, yaitu: Pertama, Kisah fiksi negeri 1001 malam menceritakan tentang Raja Syahriar yang sangat benci kepada wanita dengan alasan pengkhianatan istri pertamanya.
Untuk itu, raja Syahriar melampiaskan kebenciannya dan bersumpah untuk menikahi seorang wanita setiap malam dan membunuhnya keesokan paginya. Untuk menghentikan kebiasaan kejam raja, seorang wanita cerdas (Syahrazad) menawarkan diri untuk dinikahi. Setiap malam, Syahrazad menceritakan kisah yang seru. Tapi, kisah yang diceritakan selalu menggantung setiap menjelang subuh.
Karena penasaran dengan kelanjutan ceritanya, Raja Syahriar terus menunda hukuman mati atas istrinya. Dengan trik ini, Syahrazad mampu menyadarkan raja atas kesalahan-nya dan berubah menjadi raja yang lebih bijaksana. Pada akhirnya, sang raja jatuh cinta, mengangkat Syahrazad sebagai permaisuri, dan hidup bahagia.
Kisah negeri 1001 malam mengajarkan betapa penting kecerdasan, kebijaksanaan, dan kemampuan retorika orang-orang sekitar raja untuk merubah kebencian menjadi kesadaran dan kasih sayang. Kecerdasan Syahrazad yang piawai dan bijaksana lewat cerita bersambung, bukan hanya menyelamatkan nyawanya, tapi berhasil menyadarkan raja atas kesalahannya. Me-lalui kisah ini terselip pesan (nilai) moral tentang kesabaran, kecerdasan, dan logika kasih sayang yang mampu merubah watak raja yang zalim menjadi sosok bijaksana.
Namun, kisah 1001 malam mempertontonkan ketidakmampuan para punggawa istana yang hanya mendiamkan semua kesalahan raja tanpa berusaha menyadarkan atas perilaku yang keliru. Sosok para punggawa tanpa kecerdasan dan hati nurani. Hanya sekedar mencari ruang selamat untuk diri, keluarga, dan kolega. Sosok pengharap posisi tanpa kompetensi yang hadir subur di sekitar raja.
Kedua, Berbeda alur kisah fiksi di negeri 1001 alasan. Semua kesalahan jadi benar dengan 1001 alasan. Ketika tertangkap melakukan kejahatan, berbagai rekayasa cerita disampaikan agar terlepas dari hukuman. Trik mencari kambing hitam, tampil dengan atribut kesalehan, memuji para raja, sampai negosiasi "bawah meja".
Semua menjadi trik agar lepas jerat hukum. Tumpukan emas dan lembar uang palsu jadi alasan untuk pesta "main monopoli" yang biasa dilakukan balita, mendukung kebijakan raja meski keliru, mengembali-kan amplop ketika ketahuan sembari me-nyimpan tumpukan amplop lainnya, menghilangkan jejak bukti, masuk dari pintu depan keluar dari pintu belakang, atau trik 1001 alasan lainnya.
Akhirnya, kesemua alasan membuat para aktor drama yang dipentaskan bisa selamat dari jeratan hukum (kesalahan). Tapi, meraka lupa terhadap pengadilan Allah yang tak bisa dimanipulasi oleh rekayasa 1001 alasan. Semua anggota tubuh akan bersaksi atas semua yang dilakukan. Hal ini dijanjikan Allah melalui firman-Nya : "Pada hari ini Kami tutup mulut mereka ; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan" (QS. Yasin : 65).
Menurut al-Qurthubi, ayat di atas menjelaskan janji Allah akan mengunci mulut orang kafir dan ingkar. Hanya tangan, kaki, dan anggota tubuh yang bersaksi atas segala perbuatan dosa yang dilakukan selama hidup di dunia. Allah menutup mulut manusia di negeri 1001 alasan agar tidak bisa mengelak. Ada 3 (tiga) alasan mulut terkunci di hadapan Allah SWT, yaitu : (1) mulut para pendusta yang "menjual" nama Allah dan Rasul-Nya untuk kepentingan duniawi. (2) kesaksian anggota tubuh akan lebih jujur dibandingkan pengakuan mulut manusia 1001 alasan. (3) pengakuan tangan dan kaki menjadi saksi ikut mem-bantu semua perbuatan dosa.
Bila kisah 1001 malam mampu merubah kezaliman (raja) jadi kebajikan, tapi kisah negeri 1001 alasan berpotensi merubah kesejahteraan jadi kenestapaan universal. Untuk itu, negeri 1001 alasan memerlukan sosok bijaksana yang mampu menyadar-kan raja agar "keluar" dari jaringan sosok atau komunitas 1001 alasan yang selalu hadir disekitar "pinggangnya".
Bila sosok atau komunitas 1001 alasan tetap hidup dan "menguntit" sang raja, kebijakan sang raja akan tanpa kontrol dan berpotensi tanpa batas. Padahal, karakter asli raja begitu cinta pada rakyatnya. Tapi, sosok bijaksana acapkali terkucil tanpa ruang untuk menyadarkan sang raja. Andai ada, tapi sosok yang mudah "terinfeksi" virus penyakit kronis yang mewabah.
Sungguh, kehadiran sosok atau komunitas 1001 alasan bagaikan "jeratan mematikan" bagi sang raja. Tampil anggun, tapi nyata-nya "menggunduli" kekayaan negara deng-an mengatasnamakan kebijakan sang raja. Mereka tampil seakan sosok yang bijak, tapi acapkali hanya memijak. Hadir saleh (amanah), tapi agar bisa menutupi yang salah (khianat). Atau varian lain yang memperkuat alasan untuk tetap "eksis" dan tak tergantikan sepanjang zaman agar bisa terus memanfaatkan ketidaktauan atau kealpaan raja.
Sungguh, banyak pelajaran yang bisa dipetik dari kisah negeri 1001 alasan. Kisah yang mengajarkan untuk waspada terhadap sosok manusia sekitar raja yang hanya "diam", dungu, mengandalkan anggukan "orkestra setuju", dan retorika 1001 pujian palsu untuk cari muka) yang berbungkus kemunafikan. Untuk itu, pepatah mengingat agar selalu waspada terhadap "lidah tak bertulang". Sebab, katanya tidak dapat dipercaya dan penuh kemunafikan. Untuk itu, Islam sangat mewaspadai manusia ber-karakter 1001 alasan. Hal ini sesuai sabda Rasulullah ﷺ mengingatkan : "Bukankah manusia disungkurkan di atas muka mereka di dalam neraka kecuali karena hasil panen lisan mereka ?" (HR. Tirmidzi).
Meski hadis di atas begitu jelas, namun manusia acapkali mengimani secara teori, tapi menafikannya(membantah) pada tataran implementasi. Sifat yang demikian diingatkan Allah melalui firman-Nya : "Dan sesungguhnya Kami telah menjelaskan berulang-ulang kepada manusia dalam al-Quran ini dengan bermacam-macam perumpamaan. Tetapi manusia adalah memang makhluk yang paling banyak membantah" (QS. al-Kahfi : 54).
Makna kata "membantah" (jadal) pada ayat di atas merujuk pada tabiat manusia 1001 alasan yang suka menentang, berdebat, dan menolak kebenaran dengan argumen (alasan) yang batil. Meski Allah telah mem-berikan penjelasan dan perumpamaan, tapi manusia 1001 alasan seringkali mengingkari dan hanya mengikuti hawa nafsu.
Kisah fiksi negeri 1001 alasan yang sangat piawai dalam berdebat dan sepakat untuk menutupi kesalahan. Perdebatan semakin kuat tatkala kesalahan yang dilakukan terbuka dan "menjeratnya". Untuk itu, 1001 alasan dimunculkan agar kesalahannya dapat dibenarkan. Trik alibi kemunafikan disusun dalam "kamar gelap" atau remang-remang. Menyelamatkan kepentingan "penikmat" yang telah memperoleh "bagian".
Disusun strategi dan berbagi tugas untuk menutupi, serta saling menyelamatkan. Ketika pemilik amanah memberi petunjuk atau peringatan, mereka selalu mencari-cari dalih, alasan, atau argumen untuk menolak nasehat kebenaran demi mem-benarkan kesalahannya. Hal ini menunjuk-kan sifat dasar manusia yang memperoleh nikmat tanpa dibimbing iman dan akal yang sehat. Karakter komunitas 1001 alas-an telah diingatkan melalui firman-Nya : "Maka apakah orang yang dijadikan terasa indah baginya perbuatan buruknya, lalu ia melihatnya sebagai suatu kebaikan (sama dengan orang yang tidak tertipu) ?. Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki siapa yang Dia kehendaki..." (QS. Fathir: 8).
Menurut al-Qurthubi, ayat di atas menjelas-kan bahwa iblis menghiasi orang yang amalnya buruk agar terlihat baik. Demikian pula akal orang yang memujinya. Sungguh, Allah akan menyesatkan atau memberi pe-tunjuk bagi hamba yang dikehendaki-Nya.
Sungguh, kisah fiksi (imaginer) negeri 1001 malam vs kisah fiksi negeri 1001 alasan menyadarkan pentingnya sosok penunjuk jalan kebenaran yang cerdas, amanah, bijaksana, dan istiqamah. Sosok yang bisa menyadarkan kekeliruan sang raja, bukan yang menyesatkan. Tapi, bila pemilik kebijaksanaan dikebiri dan disingkirkan, maka petaka akan bermunculan. Untuk itu, "bila agama dan kebenaran telah diinjak-injak atau dipermainkan, sementara intelektual dan ulama (agamawan) begitu kelu dan membisu (segelintirnya mungkin pelaku), maka sebaiknya ganti pakaiannya dengan kain kafan". Sebab, hanya orang mati yang tak lagi peduli dan tak bisa menjaga harga dirinya (muru'ah). Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***
Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis
Editor : Edwar Yaman
Sumber: jawapos.com
Oleh: Drs. H. Ahmad Yani
Memiliki kedudukan atau jabatan tidaklah berlangsung lama, hanya lima atau sepuluh tahun dan bisa jadi sepuluh atau dua puluh tahun. Sangat rugi seseorang yang menjadi pemimpin bila ia tidak memanfaatkan kepemimpinannya itu untuk memberikan keteladanan dan mencatatkan sejarah emas dalam kepemimpinannya.
Oleh karena itu, harus disadari bahwa menjadi pemimpin atau pejabat bukanlah untuk menikmati kemewahan atau kesenangan hidup dengan berbagai fasilitas duniawi yang menyenangkan, melainkan justru harus mau berkorban dan menunjukkan pengorbanan. Apalagi, ketika masyarakat yang dipimpinnya berada dalam kondisi sulit dan sangat sulit. Di sini, seorang pemimpin harus mampu menunjukkan keserhanaan, bukan hanya dengan kata-kata, melainkan juga dalam kenyataan sehari-hari.
Hari pertama sebagai Khalifah, Umar bin Abdul Aziz dikejutkan dan mengejutkan banyak orang. Setelah menyelesaikan prosesi penguburan Khalifah Sulaiman, kepadanya disiapkan sejumlah kendaraan yang terdiri atas kuda pengangkut barang dan beberapa ekor kuda tunggangan lengkap dengan peralatan dan kusirnya. Beliau bertanya: "Apakah ini?"
Mereka menjawab: "Ini kendaraan untuk Khalifah." Umar menegaskan: "Hewanku lebih sesuai bagiku."
Maka, Umar menjual semua hewan itu dan uangnya diserahkan kepada Baitulmal. Begitu pula semua tenda, permadani, dan tempat alas kaki yang disediakan untuk khalifah-khalifah yang baru. la pun melakukan evaluasi dan kesimpulannya ia harus menjauhkan diri dari kenikmatan duniawi. Alhasil, dikembalikanlah semua tanah perkebunan yang dulu diberikan kepadanya dan dilepaskan harta yang dulu diberikan kepadanya karena ia yakin semua itu bukan harta yang halal. Bahkan, ia pun menanggalkan pakaian yang mahal dan beralih kepada yang murah.
Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa Umar bin Abdul Aziz memang menunjukkan kesederhanaan itu. Sebelum menjadi khalifah, ia memang dikenal sudah menjadi orang kaya. Karenanya, ia bisa menghabiskan dana untuk membeli pakaian yang harganya 600 dirham. Akan tetapi, ketika ia menjadi khalifah, ia hanya membeli pakaian yang harganya 6 dirham. Hal ini ia lakukan karena kehidupan yang sederhana tidak hanya harus dihimbau, melainkan juga harus dicontohkan langsung kepada masyarakatnya.
Raja' bin Haiwah, seorang menteri pada kabinet Umar, berkata, "Aku disuruh oleh Umar bin Abdul Aziz membeli pakaian seharga 6 dirham. Maka, aku belikan seperti apa yang diharapkannya itu dan kemudian beliau berkata, "Itulah pakaian yang aku senangi karena ia demikian halus." Mendengar hal itu, aku pun menangis terharu."
Khalifah bertanya, "Apa yang engkau tangiskan?"
Raja' menjawab, "Dulu aku bawa kepada engkau pakaian seharga 600 dirham dan engkau berkata, 'Aku senang pakaian ini, sayang ia terlalu kasar. Akan tetapi, sekarang setelah engkau jadi khalifah, aku belikan engkau pakaian seharga 6 dirham saja, engkau berkata, 'Aku senang kepadanya, karena ia demikian halus."
Bahkan, Ibnu Abdil Hakam meriwayatkan bahwa Umar sebelum menjadi khalifah menganggap kasar pakaian yang berharga sampai 800 dirham. Akan tetapi, kini pakaian dengan harta 8 dirham saja dianggapnya begitu halus. Kesederhanaan ini pun mendapat dukungan dari anggota keluarga, istri dan anaknya.
Kisah lainnya adalah ketika Umar bin Abdul Aziz telat datang ke masjid untuk menunaikan ibadah Jumaat, padahal beliau waktu itu akan menyampaikan khutbah. Maka, banyaklah orang yang telah gelisah menanti beliau di masjid. Berkata Na'iem, "Aku bertanya kepada Umar bin Abdul Aziz yang sedang duduk di dekat jemuran kainnya, 'Kenapa engkau duduk di sini?."
Jawab beliau: "Aku duduk di sini menanti kainku yang dicuci kering untuk dipakai naik mimbar guna menyampaikan khutbah."
Aku bertanya: "Kain apakah itu?."
Beliau menjawab: "Baju gamis, sarung, dan selendang yang harganya 14 dirham."
Pada kesempatan lain, Umar bin Abdul Aziz, seorang khalifah yang cemerlang datang ke sebuah pasar untuk mengetahui langsung keadaan pasar. Maka, ia datang sendirian dengan penampilan biasa, bahkan sangat sederhana. Tidak heran, ada seseorang yang menduga kalau ia adalah seorang kuli panggul di pasar itu. Orang itu lalu menyuruhnya untuk membawakan barang yang tidak mampu dibawanya. Umar membawakan barang orang itu dengan maksud menolongnya, bukan untuk mendapatkan upah. Namun, ditengah jalan, ada orang memanggilnya dengan panggilan yang mulia sehingga pemilik barang yang tidak begitu memperhatikannya menjadi memperhatikan siapa orang yang telah disuruhnya membawa barangnya. Setelah ia tahu bahwa Umar, Sang Khalifah, yang disuruhnya, ia pun meminta maaf.
Namun, Umar merasa hal itu bukanlah suatu kesalahan. Karena kepemimpinan itu tanggungjawab atau amanah yang tidak boleh disalahgunakan, maka pertanggungjawaban menjadi suatu kepastian.
Membaca kisah di atas, menjadi terasa aneh bila kini dalam anggaran belanja negara atau provinsi dan tingkatan yang dibawahnya terdapat anggaran dalam puluhan bahkan ratusan juta rupiah untuk membeli pakaian bagi para pejabat. Padahal, ia sudah mampu membeli pakaian dengan harga yang mahal sekalipun dengan uangnya sendiri sebelum ia menjadi pemimpin atau pejabat.
Dari kisah di atas, pelajaran yang dapat kita ambil adalah:
KARAKTER "ABU LAHAB"
Oleh : Samsul Nizar
Abu Lahab (Abdul Uzza bin Abdul Muthalib) merupakan salah seorang paman dekat Rasulullah. Awalnya, Tsuwaibah mengkhabarkan bahwa Siti Aminah telah melahirkan seorang putra yang sempurna dan diberi nama Muhammad.
Kabar yang membuat hatinya begitu senang dan bahagia. Di sepanjang jalan yang dilalui, ia ungkapkan kata-kata pujian atas kelahiran keponakannya tersebut. Kebahagiaannya diluapkan dengan mengundang tetangga, teman, dan para kerabat untuk merayakan kelahiran keponakannya.
Di hadapan para undangan, ia berkata kepada budaknya,”wahai Tsuwaibah, sebagai tanda syukurku atas kelahiran keponakanku, anak dari saudara laki-lakiku Abdullah, maka mulai hari ini kamu adalah lelaki merdeka.” Kebahagiaan Abu Lahab di hari kelahiran Rasulullah menjadi wasilah ia memperoleh keringanan siksa-Nya setiap hari senin. Hal ini diceritakan oleh Abbas bin Abdul Muthalib (paman Nabi), bahwa beliau ber-mimpi melihat Abu Lahab seraya bertanya, "bagaimana keadaanmu ?".
Abu Lahab menjawab, aku seperti yang engkau lihat. Tersiksa di alam barzah. Tapi setiap hari senin, Allah SWT meringankan siksa-Nya kepadaku. Sebab, pada hari itu, aku begitu gembira dengan kelahiran keponakanku (Muhammad).”
Kegembiraan Abu Lahab terhadap ponakannya tak berlangsung lama. Meski memiliki hubungan darah, tapi Abu Lahab sangat membenci dan penentang keras agama yang dibawa oleh keponakannya tersebut. Kebencian ini didukung oleh isterinya (Ummu Jamil binti Harb) dan be-berapa tokoh elit Quraisy lainnya, di antaranya Abu Jahal (Amr Ibn Hisyam). Dengan posisi, pengaruh, dan kekuatan finansialnya, Abu Jahal bersekutu dengan Abu Lahab untuk memusuhi Nabi Muhammad ﷺ dan pengikutnya.
Bila al-Qur'an dan masyarakat Arab memberi julukan Abu Lahab (berarti bapak api yang berkobar) karena pipinya yang selalu kemerahan, maka gelar Abu Jahal (bapak kebodohan) karena kesombongan dan gengsinya yang luar biasa melakukan terhadap kebenaran ajaran Rasulullah. Padahal, ia tau kebenaran, tapi mengingkarinya. Bukti pengingkaran terlihat ketika setiap kali Abu Jahal berpapasan dengan Rasulullah ﷺ, ia selalu menutup matanya dengan kain sorbannya.
Perilaku aneh ini membuat kaum kafir Quraisy heran dan bertanya : "wahai Abu Jahal, kenapa engkau menutup mata dan wajahmu setiap berpapasan dengan Muhammad ?". Abu Jahal menjawab, "demi Allah, setiap aku bertemu dan melihat Muhammad, hatiku menjadi luluh. Sebab, wajahnya bukan wajah pendusta, perkataannya bukan perkataan orang gila, dan perilakunya begitu terpuji yang tak pernah aku temukan. Aku takut bila melihatnya, hatiku lebih dahulu memuliakannya mendahului mulutku".
Kisah "kejahilan" Abu Lahab dan Abu Jahal begitu banyak ditemukan. Namun, kisah yang penuh i'tibar (pelajaran) ini tak pernah dijadikan sebagai renungan memperbaiki diri, tapi justeru selalu diikuti. Padahal, karakter Abu Lahab dan Abu Jahal begitu nyata dan berpotensi tampil pada perilaku lintas generasi. Sebab, keduanya merupakan arsitek utama terjadimya penyiksaan atas para sahabat Nabi, pemboikotan terrhadap kaum muslim, dan provokator (menghasut) orang lain untuk membeci Rasulullah. Bila kebencian Abu Lahab dilakukan secara langsung (vis a vis), tapi kebencian Abu Jahal dilakukan dengan memanfaatkan posisi dan materi yang dimiliki. Untuk itu, kisah kebencian Abu Lahab dan isterinya yang begitu ekstrim diabadikan dalam al-Qur'an QS. al-Lahab : 1-5. Sedangkan, Abu Jahal terbunuh dalam kekufuran di Perang Badar.
Ada beberapa cerminan karakter Abu Lahab dan Abu Jahal yang melekat pada manusia sepanjang sejarah --terutama akhir zaman-- antara lain :
Pertama, Abu Lahab dan Abu Jahal tau sifat jujur, kemuliaan akhlak, dan kebenaran agama yang dibawa oleh ponakannya. Tapi, mereka enggan mengakui dan menentangya. Meski hati dan akalnya menerima kebenaran, tapi mulut dan nafsunya yang mengingkari dan memerintahkan untuk berperilaku zalim terhadap semua kebenaran ajaran yang dibawa oleh Rasulullah. Manusia yang demikian sedang ditimpa azab-Nya yang pedih. Hal ini tertuang dalam firman-Nya :"Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat" (QS. al-Baqarah : 7).
Menurut Ibn Katsir, tertutupnya seluruh pintu hidayah disebabkan oleh dosa-dosa yang terus melekat akibat kebiasaan berperilaku menolak kebenaran dan mengikuti hawa nafsu. Akibatnya, mereka tidak akan pernah beriman dan mendapat hidayah-Nya.
Sejarah membuktikan bahwa hadirnya sikap kebencian dan arogan akan berakibat fatal, apalagi bila dibangun atas kerjasama "tetrasula (quadrident)" atau"kujang mata empat".
Bangunan kerja sama kemungkaran antara kemunafikan kaum intelektual, pemilik posisi (status) tinggi, penyandang dana yang kuat, serta dukungan massa jahil (keluarga) yang tertutup akal dan hatinya dari nilai kebenaran (hukum dan agama).
Kedua, Penolakan terhadap agama yang dibawa oleh Rasulullah bukan disebabkan ke-jahil-annya (kebodohon), tapi lebih pada kekhawatiran akan hilangnya pengaruh atau jabatan (kekuasaan) yang dimilikinya.
Sikap tercela ini telah diingatkan oleh Allah melalui firman-Nya : "Sungguh, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami jelaskan kepada manusia dalam Kitab (al-Qur'an), mereka itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh mereka yang melaknat" (QS. al-Baqarah : 146).
Menurut al-Qurthubi, ayat di atas berisi ancaman keras bagi manusia yang sengaja menyembunyikan ilmu atau kebenaran yang sudah diketahuinya karena takut kehilangan reputasi, posisi, materi, atau pengikut. Mereka akan kehilangan keberkahan, kehilangan kepercayaan (krisis moral), dan siksa yang pedih.
Ketiga, Kebencian disebabkan "kekerdilan diri" atas ketidakmampuan memiliki kebaikan atau mengimbangi kualitas (kalah pamor) atas orang yang dibenci. Untuk itu, berbagai upaya intimidasi, provokasi, dan fitnah dilakukan agar kebencian menyelimuti hati semua orang. Sifat ini selalu diiikuti oleh manusia yang selevel. Padahal, mereka merupakan kaum terpelajar yang mengetahui ajaran agamanya, tapi selalu mengingkari. Ternyata, "tak semua manusia menolak kebenaran karena ketidaktauan, tapi lebih pada ketakutan atas posisi atau kedudukannya." Sosok manusia yang demikian telah diingatkan oleh Rasulullah ﷺ melalui sabdanya : "Akan datang kepada manusia suatu saat, orang yang berpegang teguh pada agama-nya seperti orang yang berpegang teguh pada bara api” (HR. at-Tirmidzi).
Beriman sebatas pemanis bibir dan menjaga kebenaran begitu berat, tapi melakukan kemaksiatan dan kezaliman dianggap gerak zaman. Sebelumnya, setiap umat nabi dan rasul hanya melakukan satu atau dua jenis kejahatan. Umat nabi Luth yang tertarik pada sejenis, umat nabi Musa menganggap dirinya "tuhan", umat nabi Nuh yang sombong dan menyembah berhala, atau umat nabi Syuaib yang curang (korupsi) dan memonopoli ekonomi. Tapi, fenomena kemungkaran manusia (umat) akhir zaman justeru sangat mengerikan. Mereka melakukan akumulasi semua ke-jahatan umat para nabi dan rasul terdahulu. Hal ini diingatkan Rasulullah ﷺ dalam sabdanya : "Kalian pasti akan mengikuti jejak umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta..." (HR Bukhari dan Muslim).
Hadis di atas merupakan peringatan keras Rasulullah ﷺ tentang proses tasyabbuh (penyerupaan) budaya, gaya hidup, politik, ekonomi, bahkan bentuk kemaksiatan umat sebelumnya. Peringatan tersebut justeru sedang dipraktekan umat akhir zaman. Meski secara perlahan, tapi umat begitu "semangat" untuk mengadopsi dan mengakumulasi semua bentuk dosa kaum terdahulu.
Kesemuanya terlihat begitu nyata dan beberapa indikator tak terbantahkan. Ketika para pendusta lebih dipercaya dan pembawa kebenaran tapi didustakan, orang khianat diberi amanah dan orang amanah dikhianati, kebenaran dicurigai dan kebohongan diberi posisi, pintar bicara bukan karena keilmuan tapi sebatas keberanian beretorika, dan varian lainnya.
Ketika fenomena di atas terjadi, maka Islam hanya tinggal nama dan al-Quran sebatas tulisan semata. Masjid begitu megah dan jamaah begitu ramai, tapi umat tak mampu disatukan. Ayat al-Quran dilantunkan merdu, tapi tak mampu menggetarkan kalbu. Kajian agama begitu membahana, tapi sepi dari amalan. Majelis ilmu begitu berkembang, tapi pemilik ilmu acapkali tak beradab. Umat hanya sibuk mengunggah amaliah di media sosial agar memperoleh pujian. Shalat dilakukan, tapi tak mampu mencegah kezaliman.
Majelis zikir begitu menjamur dan membahana, tapi kemungkaran dan kebencian senantiasa membara. Malam hari beriman, paginya kembali pada kekufuran. Pelaku kesalahan selalu dipuji dan dianggap kewajaran, tapi pemilik ilmu kebaikan dianggap bentuk perlawanan yang harus disingkirkan. Pelanggar aturan didiamkan dan dimaklumi, tapi penjaga kebenaran justeru dikucilkan dan dibuli. Keserakahan (berbagai variannya) dinilai keberkahan lagi mujur, tapi sifat jujur selalu tersungkur dan terbujur.
Meski manusia secara agama dan keilmuan mengetahui nilai kebenaran, tapi secara sadar melanggarnya. Bila Abu Lahab secara terang-terangan memusuhi Rasulullah, tapi umat akhir zaman ber-sembunyi dalam wajah kesalehan ketika melakukan pelanggaran (fasik) terhadap hukum dan agama. Bila hal ini terjadi, betapa kenistaan dengan sengaja dibangun, ditradisikan, dan didukung para "cendekia berkarakter jahiliyah". Meski karakter Abu Lahab yang sombong, busuk hati, dan tercela, tapi wataknya selalu diganderungi, diikuti, dan dilanggengkan lintas generasi. Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***
Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis
Sumber: jawapos.com
ROBOHNYA ADAB ILMU
Oleh: Samsul Nizar
Dikisahkan, Imam Syafie dikenal memiliki kualitas keilmuan, adab mulia, dan selalu menghormati semua gurunya. Ketika ia belajar dengan Imam Malik (Madinah), Sufyan bin Uyainah (Mekah), Muhammad bin Hasan asy-Syaibani (Irak), dan guru lainnya, ia duduk dengan sopan, mencatat setiap kata yang didengar, dan memper-hatikan semua penjelasan para gurunya. Ia tak pernah memotong penjelasan sebelum diminta menjelaskan. Para sahabatnya begitu kagum terhadap adab dan keluasan ilmunya. Salah seorang sahabat bertanya, "wahai Syafie, bagaimana engkau bisa memiliki ilmu yang luas dan kebijaksanaan yang begitu tinggi ?". Dengan sopan Imam
Syafie menjawab, "aku memperoleh semua ini karena izin-Nya dengan 3 tiga cara", yaitu :
Pertama, Belajar dengan hati yang bersih tanpa kesombongan. Ilmu menundukan hati dari keangkuhan. Bila hati mengeras dan keangkuhan menggunung, tanda ilmu telah sirna keberkahannya. Ilmu hakiki menuntun manusia mengenal pemilik-Nya. Sedangkan ilmu dan gelar imitasi (menjamur) akan "mempermainkan" Rabb-nya. Ia hanya memunculkan kesombongan dan secara sadar memalsukan kebenaran.
Untuk itu, bila belajar hanya mengejar gelar dan status sosial, maka pemiliknya akan jauh dari adab mulia. Bahkan, adakalanya --segelintirnya-- sebelum gelar diraih sesuai aturan, tapi tanpa malu mencantumkan "candidat" gelar atau varian sebutan lainnya. "Pamer" yang tak pantas dicontoh. Anehnya, bila nilai dan target tak sesuai diharapkan, muncul gelombang protes penuh kebencian. Meski proses mencari ilmu hanya di-ikuti "setengah hati dan ogah-ogahan", tapi ingin tampil "megah, mewah, dan predikat wah" untuk dibanggakan.
Target akreditasi dan jurnal bereputasi selalu jadi alasan. Visi lebih utama ketimbang menanamkan adab sebagai tujuan. Agar asa tercapai, berbagai cara dan rekayasa ditempuh. Kuantitas peserta didik jadi ukuran agar berkorelasi dengan ketepatan waktu kelulusan sebagai tujuan utama. Sedangkan kualitas ilmu dan adab (moral) sebatas "retorika" di atas podium, namun nyatanya acapkali terpinggirkan.
Menurut al-Ghazali, ilmu yang benar akan melahirkan ketakwaan dan adab mulia. Kehadirannya sebagai suluh alam. Sedangkan ilmu yang diperoleh melalui niat dan cara culas akan melahirkan sosok yang biadab. Kehadirannya jadi bumerang. Bila iblis memiliki ilmu yang tinggi, tapi dilaknat karena tanpa adab (kesombongan) kepada-Nya. Sedangkan manusia ilmu terbatas, tapi sombong setara iblis.
Pencari dan pemilik ilmu yang sombong begitu dibenci oleh Allah. Hal ini sesuai firman-Nya : "Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat-(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuh-nya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya" (QS. al-A'raf : 146).
Menurut al-Qurthubi, ayat di atas menjelas-kan bahwa Allah akan berpaling terhadap orang yang sombong dari kebenaran ayat-ayat-Nya. Sifat sombong akan menutup rahmat-Nya. Akibatnya, Allah akan mengunci hati, mata, pendengaran mereka atas pengingkaran kebenaran ayat-Nya. Sungguh, azab-Nya sangat pedih (QS. al-Baqarah : 7).
Kedua, Menempatkan guru seakan kedua orang tuanya. Tidak malu bertanya bila tak mengerti dan tak pernah merasa cukup atas ilmu yang telah dimiliki. Sebab, kadar ilmu manusia sangat terbatas. Hal ini me-rujuk pada firman-Nya : "Dan kamu tidak diberi pengetahuan melainkan sedikit" (QS. al-Isra' : 85).
Ibnu Katsir menekankan bahwa manusia hendaknya menyadari posisinya yang lemah (dhaif). Kesombongan atas ilmu merupakan sikap yang tidak pantas dan menunjukan kelemahan. Sikap beradab akan mengantarkan pemilik ilmu pada derajat yang telah dijanjikan-Nya.
Hal ini sesuai firman-Nya :"Niscaya Allah akan mengang-kat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat" (QS. al-Mujadalah : 11).
Merujuk ayat di atas, Allah mengangkat derajat orang yang berilmu bila : (1) me-miliki keimanan yang kokoh kepada Allah dan mengamalkan ilmunya untuk kebaik-an. (2) Ilmu yang dimiliki berawal niat ikhlas dan dimanfaatkan secara benar.
Dalam tradisi keilmuan Islam, kedudukan dan hak seorang guru ruhani sangat tinggi. Ia memberikan ilmu, membimbing akal, dan menyelamatkan jiwa dari kebodohan. Untuk itu, Sayidina Ali bin Abi Thalib pernah berkata : "Aku adalah hamba (budak) bagi orang yang pernah meng-ajariku walau ha-nya satu huruf. Terserah kepadaku apakah ia akan menjualku, memerdekakan, atau tetap menjadikanku sebagai budak."
Ungkapan Sayidina Ali bin Abi Thalib di atas menunjukan adab, ketinggian ilmu, dan kehati-hatiannya berprilaku terhadap seorang guru. Hal ini dilakukannya agar terpelihara keberkahan ilmu yang dimiliki. Sebab, ia tau dan sadar bahwa status mulia dalam strata sosial tak berharga bila adab hilang dari kehidupan. Sementara, sikap pencari ilmu akhir zaman menempat-kan guru sebatas mencari nilai. Di pihak lain, kadangkala status guru sebatas ruang mencari rezeki, bukan panggilan nurani dan jalan menuju cinta Ilahi. Sikap ini akan menyebabkan keberkahan ilmu tak dimiliki. Tandanya terlihat ketika adab telah sirna, terkelupas, dan tak dipedulikan.
Ketiga, Berharap ridha Allah, tanpa harap puji manusia. Berkat adabnya tersebut, Allah buka pintu ilmu dan kebijaksanaan. Melalui karakter Imam Syafie, Allah menjelaskan i'tibar bahwa ilmu tanpa adab bagaikan tubuh tanpa dan ruh. Ia ada tapi tak memberi manfaat bagi diri dan orang lain. Belajar dengan tawadhu' dan menghiasi diri dengan adab mulia merupakan kunci ilmu hakiki. Sebab, pemilik ilmu hakiki mengedepankan adab mulia dibandingkan ilmu dan gelar. Hal ini dinyatakan Rasulullah ﷺ dalam sabdanya : "Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku untuk memiliki sifat tawadhu'. Janganlah se-seorang menyombongkan diri dan melampaui batas pada yang lain" (HR. Muslim).
Merujuk hadis di atas, para ulama salaf sepakat mengatakan bahwa ilmu tanpa adab akan mendatangkan kemudharatan dan melahirkan kesombongan. Karakter yang menyuburkan kezaliman kelas elite tanpa bisa dinasehati. Sebab, mereka para ilmuan yang mengerti aturan, tapi sengaja melakukan berbagai pelanggaran. Untuk itu, Syekh Burhanuddin az-Zarnuji secara khusus menulis kitab"Ta'lim Muta'allim Thariq at-Ta'allum". Demikian pula KH. Hasyim Asy'ari menulis kitab "Adab Ta'lim wa Muta'allim". Kedua kitab ini menjadi rujukan utama etika menuntut ilmu. Keduanya seakan merasakan potensi kerusakan pendidikan akhir zaman yang tanpa adab. Mereka sepakat bahwa ilmu tidak akan bermanfaat tanpa disertai adab mulia. Perbedaan keduanya hanya pada konteks, fokus pembahasan, dan struktur penyajian.
Kedua kitab ini mengingatkan pentingnya penanaman adab bagi pendidik dan peserta didik. Sebab, bila adab tak lagi dimiliki, maka ilmu akan lepas kontrol tanpa mampu diluruskan. Status dan gelar akan menyuburkan kesombongan. Kata-katanya sebatas kepintaran "bersilat lidah", padahal isinya bak "tong kosong bunyinya nyaring". Retorika tanpa wujud karya nyata. Perilakunya bagaikan "vampir" yang bergentayangan tanpa memiliki ruh kebenaran.
Meski semua dasar (al-Quran, hadis, fatwa ulama) begitu jelas dan lugas, namun praktik pendidikan disibukan oleh rutinitas tumpukan tugas administratif dan formalitas. Lembaga pendidikan menjamur, lulusan bertabur, namun gelar semakin kabur dan adab semakin luntur. Semua pulas tertidur dengan mimpi mengejar status (kuantitas) "tanpa ingin terbangun" meraih kualitas. Ruang intelektual mati suri oleh gempita irama tepuk tangan atas retorika hampa yang begitu nyata dipelupuk mata. Sebab, muru'ah ilmuan telah tergadai oleh euforia tanpa "perisai" adab.
Dunia pendidikan yang lebih mengutamakan kuantitas dan "kilauan asesories" aka-demik merupakan bentuk keterbelakangan peradaban. Sebab, peradaban akan diisi dan dinakhodai oleh generasi tanpa adab. Kemunduran nilai dan keimanan yang seyogyanya diwaspadai, tapi hanya sekedar "dimaklumi". Padahal, Rasulullah ﷺ diutus untuk memperbaiki adab (akhlak al-karimah). Sebab, Allah berfirman : "Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah" (QS. al-Ahzab : 21).
Meski ayat begitu tegas dan akhlak Rasul begitu jelas, namun tak lagi jadi acuan. Bahkan, perilaku kemungkaran justeru dilakukan oknum yang berilmu dan mengerti aturan (hukum dan agama). Anehnya, mereka justeru dihormati, dipedomani, dan memiliki posisi. Bila sosok dan perilakunya menjadi acuan bagi lintas generasi, maka akan memperparah kualitas pendidikan dan peradaban masa depan (tanpa adab).
Sungguh, adab ilmu yang contohkan Imam Syafie dan para ulama pilihan tak lagi jadi pedoman. Sebab, adab mulia tak jadi tujuan utama. Akibatnya, hadir generasi sombong, zalim, kehilangan empati, menggunakan ilmu (gelar) untuk memangsa sesamanya. Semua jalur keberkahan tertutupi oleh keinginan "jalan pintas" (instan) meraih kemuliaan intelektual dan melek digital, tapi hampa moral. Literasi sekedar "melek huruf" dan mengejar gelar, tapi buta hati dan akal untuk membaca kebenaran. Proses literasi wajar (normal) yang terjal, berenergi, dan berliku kini dikalahkan nafsu formalitas yang instan dan mulus. Semua begitu nyata, tapi tak ada yang peduli. Akan seperti apa generasi yang akan datang merawat peradaban bila generasi tua yang seyogyanya menjaga adab justeru sedang menjual harga diri (biadab) disemua lini kehidupan ? Entahlah. Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***
Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis
Sumber: jawapos.com
MENDEFINISI ULANG MAKNA ULAMA
Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
DI TENGAH derasnya arus informasi dan ilmu pengetahuan, beberapa istilah penting dalam Islam kehilangan substansi. Gelar seperti ustadz, penceramah, buya, kiai, tuan guru, syekh dan ulama mengalami pengeseran makna yang tajam. Dahulu gelar-gelar tersebut melekat pada orang-orang tertentu, seperti guru ngaji, pimpinan pesantren, atau orang-orang yang memiliki kedalaman ilmu pengetahuan dalam bidang agama. Namun, seiring berjalan waktu sebutan mulia itu terasa murah dan tak bernilai, khususnya istilah ulama.
Hari ini, dengan modal retorika yang memukau, pandai melucu di depan kamera, viral di media sosial, dan memiliki jutaan pengikut dengan mudah menyandang status ulama. Padahal kepiawaian dalam berbicara, kehebatan dalam menguasai podium dan pengaruh di dunia maya bukan ukuran keulamaan. Ironisnya, asesoris yang melekat seperti jubah, sorban, tasbih, syal dan bahkan jenggot yang lebat kerap dijadikan legitimasi untuk gelar tersebut. Maka sejatinya mereka bukan ulama, melainkan diulamakan.
Jika demikian, sebenarnya siapa yang layak menyandang status ulama?. Secara bahasa, ulama berasal dari kata ‘alima-ya’lamu (mengetahui), pelakunya disebut ‘âlim (orang yang mengetahui), bentuk jamak (plural) ‘ulamâ’ (orang-orang memiliki pengetahuan). Di sini secara ringkas dapat dipahami bahwa ulama adalah orang yang memiliki pengetahuan. Istilah ini meliputi seluruh aspek, baik dalam ilmu agama maupun ilmu umum seperti ‘ulamâuttib (ahli kedokteran), yaitu pakar dalam ilmu kesehatan.
Namun, makna ulama dalam Islam tidak hanya bertumpu pada definisi penguasaan ilmu semata, melainkan ada unsur-unsur lain yang lebih urgen. Al-Qur’an memberi pengertian sangat sederhana yaitu, seorang ulama memiliki rasa takut.
Allah Subhânahu Wata’âla berfirman:
إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَٰٓؤُا۟
Sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama. (QS. Fâthir [35]: 28).
Pada ayat di atas, Allah Subhânahu Wata’âla menegaskan bahwa ulama bukan orang pandai bicara, banyak pengikut dan populer, melainkan memiliki satu sifat khasyah (takut) dalam dirinya. Rasa takut itu kemudian melahirkan sifat muroqobah (merasa diawasi) di setiap gerak-geriknya. Menurut Ibnu Abbâs, ulama ialah orang yang memiliki rasa takut terhadap kemuliaan dan kekuasan Allah Subhânahu Wata’âla. (Al-Khâzin, Lubâbutta’wîl fi ma’ânît tanzîl, 3/456).
Dari rasa takut itu membentuk pribadi yang akhlak mulia, tidak menyakiti orang lain, berfatwa sesuai apa yang dikehendaki Allah Subhânahu Wata’âla dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, menghalalkan yang halal, dan mengharamkan yang diharamkan agama, serta tidak memperjualbelikan agama demi kepentingan dunia. Dalam pengertian ini, ilmu yang dimiliki benar-benar melahirkan rasa takut yang besar kepada Allah Subhânahu Wata’âla, tawadhu’ dan jauh dari sifat sombong. (Al-Munâwi, Ad-Duroru al-Jauhariyah fi syarhil Hikamil Al-‘Ahtôiyah, 219).
Abul Hayyân At-Taimi berkata: Ulama adalah orang yang takut kepada-Nya. Orang yang mengetahui perintah Allah adalah orang yang memahami batasan-batasan (hudûd) dan kewajiban-kewajiban-Nya. (Ibnu Taimiyah, Al-Îmân Al-Ausath, 85). Ungkapan ini menegaskan bahwa hubungan antara ilmu dan khasyiah (rasa takut kepada Allah) bersifat satu arah. Khasyiah tidak mungkin lahir tanpa ilmu, tetapi ilmu belum tentu menghasilkan khasyiah.
Namun bila sebaliknya, ilmu yang luas tidak mampu menghantarkan seseorang menjadi insan yang memiliki rasa takut kepada Allah Subhânahu Wata’âla tidak layak disebut ulama, walau dalam kehidupan nyata diagungkan dan dimuliakan. Karena yang dinilai dari seseorang bukan sekedar lahiriyah, melainkan hal-hal yang bersifat transenden.
Selain itu, seseorang yang memiliki ilmu luas, hafal Al-Qur’an dengan baik, menguasai hadis dan ilmunya, memahami hukum-hukum serta usulnya, dari tangannya lahir murid-murid kaliber dunia serta mendapat penghormatan dan kemuliaan belum tentu disebut ulama selama ucapan dan tindakannya merugikan saudaranya seiman, dan bahkan menciptakan politik adu domba dan menciptakan permusuhan demi mengamankan kepentingannya. Sejatinya orang semacam ini walau dikenal luas dan berjasa di tengah masyarakat bukan ulama.
Allah Ta'âla Subhânahu Wata’âla berfirman:
أَوَلَمْ يَكُن لَّهُمْ آيَةً أَن يَعْلَمَهُ عُلَمَاءُ بَنِي إِسْرَائِيلَ
Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya?" (QS. Asy-Syu'arâ' 197).
Ayat ini menjadi dasar bahwa ulama bani Israil menyembunyikan kebenaran sifat-sifat dan kemunculan rasul akhir zaman demi kepentingan kaum Yahudi. Walaupun mereka memiliki pengetahuan yang pasti dari kitab Taurat, namun tidak disampaikan.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa ulama bukan gelar yang ditentukan oleh popularitas, kemampuan berbicara, banyaknya pengikut atau simbol-simbol keagamaan, melainkan seseorang yang ilmunya melahirkan khasyiah (rasa takut kepada Allah Subhanahu Waatala), sehingga tercermin dalam ketakwaan, kejujuran, amanah, akhlak mulia, serta keberanian menyampaikan kebenaran tanpa dipengaruhi kepentingan dunia.
Karena itu, keluasan ilmu yang tidak melahirkan rasa takut kepada Allah Subhanahu Waatala tidak tercermin dalam perilaku yang benar belum cukup untuk menjadikan seseorang layak disebut ulama. Hakikat keulamaan bukan sekadar banyak mengetahui, tetapi menjadikan ilmu sebagai jalan menuju ketakwaan dan kemaslahatan umat.***