Ensiklopedia

Keterangan ringkas & tepat mengenai pelbagai ilmu!

 

Oleh: Drs. H. Ahmad Yani

Memiliki kedudukan atau jabatan tidaklah berlangsung lama, hanya lima atau sepuluh tahun dan bisa jadi sepuluh atau dua puluh tahun. Sangat rugi seseorang yang menjadi pemimpin bila ia tidak memanfaatkan kepemimpinannya itu untuk memberikan keteladanan dan mencatatkan sejarah emas dalam kepemimpinannya.

Oleh karena itu, harus disadari bahwa menjadi pemimpin atau pejabat bukanlah untuk menikmati kemewahan atau kesenangan hidup dengan berbagai fasilitas duniawi yang menyenangkan, melainkan justru harus mau berkorban dan menunjukkan pengorbanan. Apalagi, ketika masyarakat yang dipimpinnya berada dalam kondisi sulit dan sangat sulit. Di sini, seorang pemimpin harus mampu menunjukkan keserhanaan, bukan hanya dengan kata-kata, melainkan juga dalam kenyataan sehari-hari.

Hari pertama sebagai Khalifah, Umar bin Abdul Aziz dikejutkan dan mengejutkan banyak orang. Setelah menyelesaikan prosesi penguburan Khalifah Sulaiman, kepadanya disiapkan sejumlah kendaraan yang terdiri atas kuda pengangkut barang dan beberapa ekor kuda tunggangan lengkap dengan peralatan dan kusirnya. Beliau bertanya: "Apakah ini?"

Mereka menjawab: "Ini kendaraan untuk Khalifah." Umar menegaskan: "Hewanku lebih sesuai bagiku."

Maka, Umar menjual semua hewan itu dan uangnya diserahkan kepada Baitulmal. Begitu pula semua tenda, permadani, dan tempat alas kaki yang disediakan untuk khalifah-khalifah yang baru. la pun melakukan evaluasi dan kesimpulannya ia harus menjauhkan diri dari kenikmatan duniawi. Alhasil, dikembalikanlah semua tanah perkebunan yang dulu diberikan kepadanya dan dilepaskan harta yang dulu diberikan kepadanya karena ia yakin semua itu bukan harta yang halal. Bahkan, ia pun menanggalkan pakaian yang mahal dan beralih kepada yang murah.

Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa Umar bin Abdul Aziz memang menunjukkan kesederhanaan itu. Sebelum menjadi khalifah, ia memang dikenal sudah menjadi orang kaya. Karenanya, ia bisa menghabiskan dana untuk membeli pakaian yang harganya 600 dirham. Akan tetapi, ketika ia menjadi khalifah, ia hanya membeli pakaian yang harganya 6 dirham. Hal ini ia lakukan karena kehidupan yang sederhana tidak hanya harus dihimbau, melainkan juga harus dicontohkan langsung kepada masyarakatnya.

Raja' bin Haiwah, seorang menteri pada kabinet Umar, berkata, "Aku disuruh oleh Umar bin Abdul Aziz membeli pakaian seharga 6 dirham. Maka, aku belikan seperti apa yang diharapkannya itu dan kemudian beliau berkata, "Itulah pakaian yang aku senangi karena ia demikian halus." Mendengar hal itu, aku pun menangis terharu."

Khalifah bertanya, "Apa yang engkau tangiskan?"

Raja' menjawab, "Dulu aku bawa kepada engkau pakaian seharga 600 dirham dan engkau berkata, 'Aku senang pakaian ini, sayang ia terlalu kasar. Akan tetapi, sekarang setelah engkau jadi khalifah, aku belikan engkau pakaian seharga 6 dirham saja, engkau berkata, 'Aku senang kepadanya, karena ia demikian halus."

Bahkan, Ibnu Abdil Hakam meriwayatkan bahwa Umar sebelum menjadi khalifah menganggap kasar pakaian yang berharga sampai 800 dirham. Akan tetapi, kini pakaian dengan harta 8 dirham saja dianggapnya begitu halus. Kesederhanaan ini pun mendapat dukungan dari anggota keluarga, istri dan anaknya.

Kisah lainnya adalah ketika Umar bin Abdul Aziz telat datang ke masjid untuk menunaikan ibadah Jumaat, padahal beliau waktu itu akan menyampaikan khutbah. Maka, banyaklah orang yang telah gelisah menanti beliau di masjid. Berkata Na'iem, "Aku bertanya kepada Umar bin Abdul Aziz yang sedang duduk di dekat jemuran kainnya, 'Kenapa engkau duduk di sini?."

Jawab beliau: "Aku duduk di sini menanti kainku yang dicuci kering untuk dipakai naik mimbar guna menyampaikan khutbah."

Aku bertanya: "Kain apakah itu?."

Beliau menjawab: "Baju gamis, sarung, dan selendang yang harganya 14 dirham."

Pada kesempatan lain, Umar bin Abdul Aziz, seorang khalifah yang cemerlang datang ke sebuah pasar untuk mengetahui langsung keadaan pasar. Maka, ia datang sendirian dengan penampilan biasa, bahkan sangat sederhana. Tidak heran, ada seseorang yang menduga kalau ia adalah seorang kuli panggul di pasar itu. Orang itu lalu menyuruhnya untuk membawakan barang yang tidak mampu dibawanya. Umar membawakan barang orang itu dengan maksud menolongnya, bukan untuk mendapatkan upah. Namun, ditengah jalan, ada orang memanggilnya dengan panggilan yang mulia sehingga pemilik barang yang tidak begitu memperhatikannya menjadi memperhatikan siapa orang yang telah disuruhnya membawa barangnya. Setelah ia tahu bahwa Umar, Sang Khalifah, yang disuruhnya, ia pun meminta maaf.

Namun, Umar merasa hal itu bukanlah suatu kesalahan. Karena kepemimpinan itu tanggungjawab atau amanah yang tidak boleh disalahgunakan, maka pertanggungjawaban menjadi suatu kepastian.

Membaca kisah di atas, menjadi terasa aneh bila kini dalam anggaran belanja negara atau provinsi dan tingkatan yang dibawahnya terdapat anggaran dalam puluhan bahkan ratusan juta rupiah untuk membeli pakaian bagi para pejabat. Padahal, ia sudah mampu membeli pakaian dengan harga yang mahal sekalipun dengan uangnya sendiri sebelum ia menjadi pemimpin atau pejabat.

Dari kisah di atas, pelajaran yang dapat kita ambil adalah:

  1. Keteladanan dalam kesederhanaan seorang pemimpin mutlak diperlukan, karena hidup sederhana itu berlaku untuk yang kaya mau-pun yang miskin.
  2. Sederhana bukan berarti tidak boleh punya sesuatu, dalam konteks sekarang, yang mahal boleh dimiliki selama fungsinya memang diperlukan, bukan untuk gaya hidup. Dan yang lebih tragis adalah bila untuk gaya hidup harus menggunakan dana negara yang berarti dana rakyat.
Written by Admin
Category: Adab
Hits: 154

 

 

KARAKTER "ABU LAHAB"

Oleh : Samsul Nizar  

Abu Lahab (Abdul Uzza bin Abdul Muthalib) merupakan salah seorang paman dekat Rasulullah. Awalnya, Tsuwaibah mengkhabarkan bahwa Siti Aminah telah melahirkan seorang putra yang sempurna dan diberi nama Muhammad.

Kabar yang membuat hatinya begitu senang dan bahagia. Di sepanjang jalan yang dilalui, ia ungkapkan kata-kata pujian atas kelahiran keponakannya tersebut. Kebahagiaannya diluapkan dengan mengundang tetangga, teman, dan para kerabat untuk merayakan kelahiran keponakannya.

Di hadapan para undangan, ia berkata kepada budaknya,”wahai Tsuwaibah, sebagai tanda syukurku atas kelahiran keponakanku, anak dari saudara laki-lakiku Abdullah, maka mulai hari ini kamu adalah lelaki merdeka.” Kebahagiaan Abu Lahab di hari kelahiran Rasulullah menjadi wasilah ia memperoleh keringanan siksa-Nya setiap hari senin. Hal ini diceritakan oleh Abbas bin Abdul Muthalib (paman Nabi), bahwa beliau ber-mimpi melihat Abu Lahab seraya bertanya, "bagaimana keadaanmu ?".

Abu Lahab menjawab, aku seperti yang engkau lihat. Tersiksa di alam barzah. Tapi setiap hari senin, Allah SWT meringankan siksa-Nya kepadaku. Sebab, pada hari itu, aku begitu gembira dengan kelahiran keponakanku (Muhammad).” 

Kegembiraan Abu Lahab terhadap ponakannya tak berlangsung lama. Meski memiliki hubungan darah, tapi Abu Lahab sangat membenci dan penentang keras agama yang dibawa oleh keponakannya tersebut. Kebencian ini didukung oleh isterinya (Ummu Jamil binti Harb) dan be-berapa tokoh elit Quraisy lainnya, di antaranya Abu Jahal (Amr Ibn Hisyam). Dengan posisi, pengaruh, dan kekuatan finansialnya, Abu Jahal bersekutu dengan Abu Lahab untuk memusuhi Nabi Muhammad ﷺ dan pengikutnya.

Bila al-Qur'an dan masyarakat Arab memberi julukan Abu Lahab (berarti bapak api yang berkobar) karena pipinya yang selalu kemerahan, maka gelar Abu Jahal (bapak kebodohan) karena kesombongan dan gengsinya yang luar biasa melakukan terhadap kebenaran ajaran Rasulullah. Padahal, ia tau kebenaran, tapi mengingkarinya. Bukti pengingkaran terlihat ketika setiap kali Abu Jahal berpapasan dengan Rasulullah ﷺ, ia selalu menutup matanya dengan kain sorbannya.

Perilaku aneh ini membuat kaum kafir Quraisy heran dan bertanya : "wahai Abu Jahal, kenapa engkau menutup mata dan wajahmu setiap berpapasan dengan Muhammad ?". Abu Jahal menjawab, "demi Allah, setiap aku bertemu dan melihat Muhammad, hatiku menjadi luluh. Sebab, wajahnya bukan wajah pendusta, perkataannya bukan perkataan orang gila, dan perilakunya begitu terpuji yang tak pernah aku temukan. Aku takut bila melihatnya, hatiku lebih dahulu memuliakannya mendahului mulutku". 

Kisah "kejahilan" Abu Lahab dan Abu Jahal begitu banyak ditemukan. Namun, kisah yang penuh i'tibar (pelajaran) ini tak pernah dijadikan sebagai renungan memperbaiki diri, tapi justeru selalu diikuti. Padahal, karakter Abu Lahab dan Abu Jahal begitu nyata dan berpotensi tampil pada perilaku lintas generasi. Sebab, keduanya merupakan arsitek utama terjadimya penyiksaan atas para sahabat Nabi, pemboikotan terrhadap kaum muslim, dan provokator (menghasut) orang lain untuk membeci Rasulullah. Bila kebencian Abu Lahab dilakukan secara langsung (vis a vis), tapi kebencian Abu Jahal dilakukan dengan memanfaatkan posisi dan materi yang dimiliki. Untuk itu, kisah kebencian Abu Lahab dan isterinya yang begitu ekstrim diabadikan dalam al-Qur'an QS. al-Lahab : 1-5. Sedangkan, Abu Jahal terbunuh dalam kekufuran di Perang Badar.

Ada beberapa cerminan karakter Abu Lahab dan Abu Jahal yang melekat pada manusia sepanjang sejarah --terutama akhir zaman-- antara lain : 

Pertama, Abu Lahab dan Abu Jahal tau sifat jujur, kemuliaan akhlak, dan kebenaran agama yang dibawa oleh ponakannya. Tapi, mereka enggan mengakui dan menentangya. Meski hati dan akalnya menerima kebenaran, tapi mulut dan nafsunya yang mengingkari dan memerintahkan untuk berperilaku zalim terhadap semua kebenaran ajaran yang dibawa oleh Rasulullah. Manusia yang demikian sedang ditimpa azab-Nya yang pedih. Hal ini tertuang dalam firman-Nya :"Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat" (QS. al-Baqarah : 7).

Menurut Ibn Katsir, tertutupnya seluruh pintu hidayah disebabkan oleh dosa-dosa yang terus melekat akibat kebiasaan berperilaku menolak kebenaran dan mengikuti hawa nafsu. Akibatnya, mereka tidak akan pernah beriman dan mendapat hidayah-Nya.

Sejarah membuktikan bahwa hadirnya sikap kebencian dan arogan akan berakibat fatal, apalagi bila dibangun atas kerjasama "tetrasula (quadrident)" atau"kujang mata empat". 

Bangunan kerja sama kemungkaran antara kemunafikan kaum intelektual, pemilik posisi (status) tinggi, penyandang dana yang kuat, serta dukungan massa jahil (keluarga) yang tertutup akal dan hatinya dari nilai kebenaran (hukum dan agama).

Kedua, Penolakan terhadap agama yang dibawa oleh Rasulullah bukan disebabkan ke-jahil-annya (kebodohon), tapi lebih pada kekhawatiran akan hilangnya pengaruh atau jabatan (kekuasaan) yang dimilikinya. 

Sikap tercela ini telah diingatkan oleh Allah melalui firman-Nya : "Sungguh, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami jelaskan kepada manusia dalam Kitab (al-Qur'an), mereka itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh mereka yang melaknat" (QS. al-Baqarah : 146).

Menurut al-Qurthubi, ayat di atas berisi ancaman keras bagi manusia yang sengaja menyembunyikan ilmu atau kebenaran yang sudah diketahuinya karena takut kehilangan reputasi, posisi, materi, atau pengikut. Mereka akan kehilangan keberkahan, kehilangan kepercayaan (krisis moral), dan siksa yang pedih.

Ketiga, Kebencian disebabkan "kekerdilan diri" atas ketidakmampuan memiliki kebaikan atau mengimbangi kualitas (kalah pamor) atas orang yang dibenci. Untuk itu, berbagai upaya intimidasi, provokasi, dan fitnah dilakukan agar kebencian menyelimuti hati semua orang. Sifat ini selalu diiikuti oleh manusia yang selevel. Padahal, mereka merupakan kaum terpelajar yang mengetahui ajaran agamanya, tapi selalu mengingkari. Ternyata, "tak semua manusia menolak kebenaran karena ketidaktauan, tapi lebih pada ketakutan atas posisi atau kedudukannya." Sosok manusia yang demikian telah diingatkan oleh Rasulullah ﷺ melalui sabdanya : "Akan datang kepada manusia suatu saat, orang yang berpegang teguh pada agama-nya seperti orang yang berpegang teguh pada bara api” (HR. at-Tirmidzi).

Beriman sebatas pemanis bibir dan menjaga kebenaran begitu berat, tapi melakukan kemaksiatan dan kezaliman dianggap gerak zaman. Sebelumnya, setiap umat nabi dan rasul hanya melakukan satu atau dua jenis kejahatan. Umat nabi Luth yang tertarik pada sejenis, umat nabi Musa menganggap dirinya "tuhan", umat nabi Nuh yang sombong dan menyembah berhala, atau umat nabi Syuaib yang curang (korupsi) dan memonopoli ekonomi. Tapi, fenomena kemungkaran manusia (umat) akhir zaman justeru sangat mengerikan. Mereka melakukan akumulasi semua ke-jahatan umat para nabi dan rasul terdahulu. Hal ini diingatkan Rasulullah ﷺ dalam sabdanya : "Kalian pasti akan mengikuti jejak umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta..." (HR Bukhari dan Muslim).

Hadis di atas merupakan peringatan keras Rasulullah ﷺ tentang proses tasyabbuh (penyerupaan) budaya, gaya hidup, politik, ekonomi, bahkan bentuk kemaksiatan umat sebelumnya. Peringatan tersebut justeru sedang dipraktekan umat akhir zaman. Meski secara perlahan, tapi umat begitu "semangat" untuk mengadopsi dan mengakumulasi semua bentuk dosa kaum terdahulu.

Kesemuanya terlihat begitu nyata dan beberapa indikator tak terbantahkan. Ketika para pendusta lebih dipercaya dan pembawa kebenaran tapi didustakan, orang khianat diberi amanah dan orang amanah dikhianati, kebenaran dicurigai dan kebohongan diberi posisi, pintar bicara bukan karena keilmuan tapi sebatas keberanian beretorika, dan varian lainnya. 

Ketika fenomena di atas terjadi, maka Islam hanya tinggal nama dan al-Quran sebatas tulisan semata. Masjid begitu megah dan jamaah begitu ramai, tapi umat tak mampu disatukan. Ayat al-Quran dilantunkan merdu, tapi tak mampu menggetarkan kalbu. Kajian agama begitu membahana, tapi sepi dari amalan. Majelis ilmu begitu berkembang, tapi pemilik ilmu acapkali tak beradab. Umat hanya sibuk mengunggah amaliah di media sosial agar memperoleh pujian. Shalat dilakukan, tapi tak mampu mencegah kezaliman.

Majelis zikir begitu menjamur dan membahana, tapi kemungkaran dan kebencian senantiasa membara. Malam hari beriman, paginya kembali pada kekufuran. Pelaku kesalahan selalu dipuji dan dianggap kewajaran, tapi pemilik ilmu kebaikan dianggap bentuk perlawanan yang harus disingkirkan. Pelanggar aturan didiamkan dan dimaklumi, tapi penjaga kebenaran justeru dikucilkan dan dibuli. Keserakahan (berbagai variannya) dinilai keberkahan lagi mujur, tapi sifat jujur selalu tersungkur dan terbujur.

Meski manusia secara agama dan keilmuan mengetahui nilai kebenaran, tapi secara sadar melanggarnya. Bila Abu Lahab secara terang-terangan memusuhi Rasulullah, tapi umat akhir zaman ber-sembunyi dalam wajah kesalehan ketika melakukan pelanggaran (fasik) terhadap hukum dan agama. Bila hal ini terjadi, betapa kenistaan dengan sengaja dibangun, ditradisikan, dan didukung para "cendekia berkarakter jahiliyah". Meski karakter Abu Lahab yang sombong, busuk hati, dan tercela, tapi wataknya selalu diganderungi, diikuti, dan dilanggengkan lintas generasi. Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***

Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis

Sumber: jawapos.com

 

Written by Admin
Category: Adab
Hits: 122

 

ROBOHNYA ADAB ILMU

Oleh: Samsul Nizar  

Dikisahkan, Imam Syafie dikenal memiliki kualitas keilmuan, adab mulia, dan selalu menghormati semua gurunya. Ketika ia belajar dengan Imam Malik (Madinah), Sufyan bin Uyainah (Mekah), Muhammad bin Hasan asy-Syaibani (Irak), dan guru lainnya, ia duduk dengan sopan, mencatat setiap kata yang didengar, dan memper-hatikan semua penjelasan para gurunya. Ia tak pernah memotong penjelasan sebelum diminta menjelaskan. Para sahabatnya begitu kagum terhadap adab dan keluasan ilmunya. Salah seorang sahabat bertanya, "wahai Syafie, bagaimana engkau bisa memiliki ilmu yang luas dan kebijaksanaan yang begitu tinggi ?". Dengan sopan Imam

Syafie menjawab, "aku memperoleh semua ini karena izin-Nya dengan 3 tiga cara", yaitu :

Pertama,  Belajar dengan hati yang bersih tanpa kesombongan. Ilmu menundukan hati dari keangkuhan. Bila hati mengeras dan keangkuhan menggunung, tanda ilmu telah sirna keberkahannya. Ilmu hakiki menuntun manusia mengenal pemilik-Nya. Sedangkan ilmu dan gelar imitasi (menjamur) akan "mempermainkan" Rabb-nya. Ia hanya memunculkan kesombongan dan secara sadar memalsukan kebenaran.

Untuk itu, bila belajar hanya mengejar gelar dan status sosial, maka pemiliknya akan jauh dari adab mulia. Bahkan, adakalanya --segelintirnya-- sebelum gelar diraih sesuai aturan, tapi tanpa malu mencantumkan "candidat" gelar atau varian sebutan lainnya. "Pamer" yang tak pantas dicontoh. Anehnya, bila nilai dan target tak sesuai diharapkan, muncul gelombang protes penuh kebencian. Meski proses mencari ilmu hanya di-ikuti "setengah hati dan ogah-ogahan", tapi ingin tampil "megah, mewah, dan predikat wah" untuk dibanggakan.

Target akreditasi dan jurnal bereputasi selalu jadi alasan. Visi lebih utama ketimbang menanamkan adab sebagai tujuan. Agar asa tercapai, berbagai cara dan rekayasa ditempuh. Kuantitas peserta didik jadi ukuran agar berkorelasi dengan ketepatan waktu kelulusan sebagai tujuan utama. Sedangkan kualitas ilmu dan adab (moral) sebatas "retorika" di atas podium, namun nyatanya acapkali terpinggirkan.

Menurut al-Ghazali, ilmu yang benar akan melahirkan ketakwaan dan adab mulia. Kehadirannya sebagai suluh alam. Sedangkan ilmu yang diperoleh melalui niat dan cara culas akan melahirkan sosok yang biadab. Kehadirannya jadi bumerang. Bila iblis memiliki ilmu yang tinggi, tapi dilaknat karena tanpa adab (kesombongan) kepada-Nya. Sedangkan manusia ilmu terbatas, tapi sombong setara iblis.

Pencari dan pemilik ilmu yang sombong begitu dibenci oleh Allah. Hal ini sesuai firman-Nya : "Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat-(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuh-nya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya" (QS. al-A'raf : 146).

Menurut al-Qurthubi, ayat di atas menjelas-kan bahwa Allah akan berpaling terhadap orang yang sombong dari kebenaran ayat-ayat-Nya. Sifat sombong akan menutup rahmat-Nya. Akibatnya, Allah akan mengunci hati, mata, pendengaran mereka atas pengingkaran kebenaran ayat-Nya. Sungguh, azab-Nya sangat pedih (QS. al-Baqarah : 7).

Kedua, Menempatkan guru seakan kedua orang tuanya. Tidak malu bertanya bila tak mengerti dan tak pernah merasa cukup atas ilmu yang telah dimiliki. Sebab, kadar ilmu manusia sangat terbatas. Hal ini me-rujuk pada firman-Nya : "Dan kamu tidak diberi pengetahuan melainkan sedikit" (QS. al-Isra' : 85).

Ibnu Katsir menekankan bahwa manusia hendaknya menyadari posisinya yang lemah (dhaif). Kesombongan atas ilmu merupakan sikap yang tidak pantas dan menunjukan kelemahan. Sikap beradab akan mengantarkan pemilik ilmu pada derajat yang telah dijanjikan-Nya.

Hal ini sesuai firman-Nya :"Niscaya Allah akan mengang-kat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat" (QS. al-Mujadalah : 11).

Merujuk ayat di atas, Allah mengangkat derajat orang yang berilmu bila : (1) me-miliki keimanan yang kokoh kepada Allah dan mengamalkan ilmunya untuk kebaik-an. (2) Ilmu yang dimiliki berawal niat ikhlas dan dimanfaatkan secara benar.

Dalam tradisi keilmuan Islam, kedudukan dan hak seorang guru ruhani sangat tinggi. Ia memberikan ilmu, membimbing akal, dan menyelamatkan jiwa dari kebodohan. Untuk itu, Sayidina Ali bin Abi Thalib pernah berkata : "Aku adalah hamba (budak) bagi orang yang pernah meng-ajariku walau ha-nya satu huruf. Terserah kepadaku apakah ia akan menjualku, memerdekakan, atau tetap menjadikanku sebagai budak." 

Ungkapan Sayidina Ali bin Abi Thalib di atas menunjukan adab, ketinggian ilmu, dan kehati-hatiannya berprilaku terhadap seorang guru. Hal ini dilakukannya agar terpelihara keberkahan ilmu yang dimiliki. Sebab, ia tau dan sadar bahwa status mulia dalam strata sosial tak berharga bila adab hilang dari kehidupan. Sementara, sikap pencari ilmu akhir zaman menempat-kan guru sebatas mencari nilai. Di pihak lain, kadangkala status guru sebatas ruang mencari rezeki, bukan panggilan nurani dan jalan menuju cinta Ilahi. Sikap ini akan menyebabkan keberkahan ilmu tak dimiliki. Tandanya terlihat ketika adab telah sirna, terkelupas, dan tak dipedulikan.

Ketiga, Berharap ridha Allah, tanpa harap puji manusia. Berkat adabnya tersebut, Allah buka pintu ilmu dan kebijaksanaan. Melalui karakter Imam Syafie, Allah menjelaskan i'tibar bahwa ilmu tanpa adab bagaikan tubuh tanpa dan ruh. Ia ada tapi tak memberi manfaat bagi diri dan orang lain. Belajar dengan tawadhu' dan menghiasi diri dengan adab mulia merupakan kunci ilmu hakiki. Sebab, pemilik ilmu hakiki mengedepankan adab mulia dibandingkan ilmu dan gelar. Hal ini dinyatakan Rasulullah ﷺ dalam sabdanya : "Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku untuk memiliki sifat tawadhu'. Janganlah se-seorang menyombongkan diri dan melampaui batas pada yang lain" (HR. Muslim).

Merujuk hadis di atas, para ulama salaf sepakat mengatakan bahwa ilmu tanpa adab akan mendatangkan kemudharatan dan melahirkan kesombongan.  Karakter yang menyuburkan kezaliman kelas elite tanpa bisa dinasehati. Sebab, mereka para ilmuan yang mengerti aturan, tapi sengaja melakukan berbagai pelanggaran. Untuk itu, Syekh Burhanuddin az-Zarnuji secara khusus menulis kitab"Ta'lim Muta'allim Thariq at-Ta'allum". Demikian pula KH. Hasyim Asy'ari menulis kitab "Adab Ta'lim wa Muta'allim". Kedua kitab ini menjadi rujukan utama etika menuntut ilmu. Keduanya seakan merasakan potensi kerusakan pendidikan akhir zaman yang tanpa adab. Mereka sepakat bahwa ilmu tidak akan bermanfaat tanpa disertai adab mulia. Perbedaan keduanya hanya pada konteks, fokus pembahasan, dan struktur penyajian.

Kedua kitab ini mengingatkan pentingnya penanaman adab bagi pendidik dan peserta didik. Sebab, bila adab tak lagi dimiliki, maka ilmu akan lepas kontrol tanpa mampu diluruskan. Status dan gelar akan menyuburkan kesombongan. Kata-katanya sebatas kepintaran "bersilat lidah", padahal isinya bak "tong kosong bunyinya nyaring". Retorika tanpa wujud karya nyata. Perilakunya bagaikan "vampir" yang bergentayangan tanpa memiliki ruh kebenaran.

Meski semua dasar (al-Quran, hadis, fatwa ulama) begitu jelas dan lugas, namun praktik pendidikan disibukan oleh rutinitas tumpukan tugas administratif dan formalitas. Lembaga pendidikan menjamur, lulusan bertabur, namun gelar semakin kabur dan adab semakin luntur. Semua pulas tertidur dengan mimpi mengejar status (kuantitas) "tanpa ingin terbangun" meraih kualitas. Ruang intelektual mati suri oleh gempita irama tepuk tangan atas retorika hampa yang begitu nyata dipelupuk mata. Sebab, muru'ah ilmuan telah tergadai oleh euforia tanpa "perisai" adab.

Dunia pendidikan yang lebih mengutamakan kuantitas dan "kilauan asesories" aka-demik merupakan bentuk keterbelakangan peradaban. Sebab, peradaban akan diisi dan dinakhodai oleh generasi tanpa adab. Kemunduran nilai dan keimanan yang seyogyanya diwaspadai, tapi hanya sekedar "dimaklumi". Padahal, Rasulullah ﷺ diutus untuk memperbaiki adab (akhlak al-karimah). Sebab, Allah berfirman : "Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah" (QS. al-Ahzab : 21).

Meski ayat begitu tegas dan akhlak Rasul begitu jelas, namun tak lagi jadi acuan. Bahkan, perilaku kemungkaran justeru dilakukan oknum yang berilmu dan mengerti aturan (hukum dan agama). Anehnya, mereka justeru dihormati, dipedomani, dan memiliki posisi. Bila sosok dan perilakunya menjadi acuan bagi lintas generasi, maka akan memperparah kualitas pendidikan dan peradaban masa depan (tanpa adab).

Sungguh, adab ilmu yang contohkan Imam Syafie dan para ulama pilihan tak lagi jadi pedoman. Sebab, adab mulia tak jadi tujuan utama. Akibatnya, hadir generasi sombong, zalim, kehilangan empati, menggunakan ilmu (gelar) untuk memangsa sesamanya. Semua jalur keberkahan tertutupi oleh keinginan "jalan pintas" (instan) meraih kemuliaan intelektual dan melek digital, tapi hampa moral. Literasi sekedar "melek huruf" dan mengejar gelar, tapi buta hati dan akal untuk membaca kebenaran.  Proses literasi wajar (normal) yang terjal, berenergi, dan berliku kini dikalahkan nafsu formalitas yang instan dan mulus. Semua begitu nyata, tapi tak ada yang peduli. Akan seperti apa generasi yang akan datang merawat peradaban bila generasi tua yang seyogyanya menjaga adab justeru sedang menjual harga diri (biadab) disemua lini kehidupan ? Entahlah. Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***

Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis

Sumber: jawapos.com

Written by Admin
Category: Adab
Hits: 188

 

MENDEFINISI ULANG MAKNA ULAMA

Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

DI TENGAH derasnya arus informasi dan ilmu pengetahuan, beberapa istilah penting dalam Islam kehilangan substansi. Gelar seperti ustadz, penceramah, buya, kiai, tuan guru, syekh dan ulama mengalami pengeseran makna yang tajam. Dahulu gelar-gelar tersebut melekat pada orang-orang tertentu, seperti guru ngaji, pimpinan pesantren, atau orang-orang yang memiliki kedalaman ilmu pengetahuan dalam bidang agama. Namun, seiring berjalan waktu sebutan mulia itu terasa murah dan tak bernilai, khususnya istilah ulama.

Hari ini, dengan modal retorika yang memukau, pandai melucu di depan kamera, viral di media sosial, dan memiliki jutaan pengikut dengan mudah menyandang status ulama. Padahal kepiawaian dalam berbicara, kehebatan dalam menguasai podium dan pengaruh di dunia maya bukan ukuran keulamaan. Ironisnya, asesoris yang melekat seperti jubah, sorban, tasbih, syal dan bahkan jenggot yang lebat kerap dijadikan legitimasi untuk gelar tersebut. Maka sejatinya mereka bukan ulama, melainkan diulamakan.

Jika demikian, sebenarnya siapa yang layak menyandang status ulama?. Secara bahasa, ulama berasal dari kata ‘alima-ya’lamu (mengetahui), pelakunya disebut ‘âlim (orang yang mengetahui), bentuk jamak (plural) ‘ulamâ’ (orang-orang memiliki pengetahuan). Di sini secara ringkas dapat dipahami bahwa ulama adalah orang yang memiliki pengetahuan. Istilah ini meliputi seluruh aspek, baik dalam ilmu agama maupun ilmu umum seperti ‘ulamâuttib (ahli kedokteran), yaitu pakar dalam ilmu kesehatan.

Namun, makna ulama dalam Islam tidak hanya bertumpu pada definisi penguasaan ilmu semata, melainkan ada unsur-unsur lain yang lebih urgen. Al-Qur’an memberi pengertian sangat sederhana yaitu, seorang ulama memiliki rasa takut.

Allah Subhânahu Wata’âla berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَٰٓؤُا۟

Sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.  (QS. Fâthir [35]: 28).

Pada ayat di atas, Allah Subhânahu Wata’âla menegaskan bahwa ulama bukan orang pandai bicara, banyak pengikut dan populer, melainkan memiliki satu sifat khasyah (takut) dalam dirinya. Rasa takut itu kemudian melahirkan sifat muroqobah (merasa diawasi) di setiap gerak-geriknya. Menurut Ibnu Abbâs, ulama ialah orang yang memiliki rasa takut terhadap kemuliaan dan kekuasan Allah Subhânahu Wata’âla. (Al-Khâzin, Lubâbutta’wîl fi ma’ânît tanzîl, 3/456).

Dari rasa takut itu membentuk pribadi yang akhlak mulia, tidak menyakiti orang lain, berfatwa sesuai apa yang dikehendaki Allah Subhânahu Wata’âla dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, menghalalkan yang halal, dan mengharamkan yang diharamkan agama, serta tidak memperjualbelikan agama demi kepentingan dunia. Dalam pengertian ini, ilmu yang dimiliki benar-benar melahirkan rasa takut yang besar kepada Allah Subhânahu Wata’âla, tawadhu’ dan jauh dari sifat sombong. (Al-Munâwi, Ad-Duroru al-Jauhariyah fi syarhil Hikamil Al-‘Ahtôiyah, 219).

Abul Hayyân At-Taimi berkata: Ulama adalah orang yang takut kepada-Nya. Orang yang mengetahui perintah Allah adalah orang yang memahami batasan-batasan (hudûd) dan kewajiban-kewajiban-Nya. (Ibnu Taimiyah, Al-Îmân Al-Ausath, 85). Ungkapan ini menegaskan bahwa hubungan antara ilmu dan khasyiah (rasa takut kepada Allah) bersifat satu arah. Khasyiah tidak mungkin lahir tanpa ilmu, tetapi ilmu belum tentu menghasilkan khasyiah.

Namun bila sebaliknya, ilmu yang luas tidak mampu menghantarkan seseorang menjadi insan yang memiliki rasa takut kepada Allah Subhânahu Wata’âla tidak layak disebut ulama, walau dalam kehidupan nyata diagungkan dan dimuliakan. Karena yang dinilai dari seseorang bukan sekedar lahiriyah, melainkan hal-hal yang bersifat transenden.

Selain itu, seseorang yang memiliki ilmu luas, hafal Al-Qur’an dengan baik, menguasai hadis dan ilmunya, memahami hukum-hukum serta usulnya, dari tangannya lahir murid-murid kaliber dunia serta mendapat penghormatan dan kemuliaan belum tentu disebut ulama selama ucapan dan tindakannya merugikan saudaranya seiman, dan bahkan menciptakan politik adu domba dan menciptakan permusuhan demi mengamankan kepentingannya. Sejatinya orang semacam ini walau dikenal luas dan berjasa di tengah masyarakat bukan ulama.

Allah Ta'âla Subhânahu Wata’âla berfirman:

أَوَلَمْ يَكُن لَّهُمْ آيَةً أَن يَعْلَمَهُ عُلَمَاءُ بَنِي إِسْرَائِيلَ

Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya?" (QS. Asy-Syu'arâ' 197).

Ayat ini menjadi dasar bahwa ulama bani Israil menyembunyikan kebenaran sifat-sifat dan kemunculan rasul akhir zaman demi kepentingan kaum Yahudi. Walaupun mereka memiliki pengetahuan yang pasti dari kitab Taurat, namun tidak disampaikan.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa ulama bukan gelar yang ditentukan oleh popularitas, kemampuan berbicara, banyaknya pengikut atau simbol-simbol keagamaan, melainkan seseorang yang ilmunya melahirkan khasyiah (rasa takut kepada Allah Subhanahu Waatala), sehingga tercermin dalam ketakwaan, kejujuran, amanah, akhlak mulia, serta keberanian menyampaikan kebenaran tanpa dipengaruhi kepentingan dunia.

Karena itu, keluasan ilmu yang tidak melahirkan rasa takut kepada Allah Subhanahu Waatala tidak tercermin dalam perilaku yang benar belum cukup untuk menjadikan seseorang layak disebut ulama. Hakikat keulamaan bukan sekadar banyak mengetahui, tetapi menjadikan ilmu sebagai jalan menuju ketakwaan dan kemaslahatan umat.***

Written by Admin
Category: Adab
Hits: 144

 

FIKIH BERJABAT TANGAN, ADAB YANG MULIA

Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

BERJABAT tangan (al-mushâfahah) merupakan salah satu adab mulia yang diajarkan dalam Islam. Amalan sederhana ini bukan sekadar berjabat tangan, melainkan bentuk kehormatan terhadap orang lain. Tanpa disadari, chemistry atau kedekatan emosional secara otomatis terbangun sehingga tercipta hubungan yang baik antara sesama. Selain itu, jabat tangan yang disertai senyum ringan dapat menumbuhkan ukhwah Islamiyah dan suasana batin terasa lebih akrab.

Namun di balik itu semua, dalam Islam berjabat tangan memiliki keistimewaan tersendiri. Baginda Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam menekankan bahwa amalan ini dapat menghapus kesalahan.

Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

عَنْ الْبَرَاءِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلَّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا

Dari Bara` ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wasallam bersabda: Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu berjabat tangan kecuali Allah akan memberi ampunan kepada keduanya sebelum mereka berpisah. (HR. Abu Daud).

Hadis di atas menjadi dasar bahwa orang yang berjabat tangan akan mendapat ampunan dosa dari Allah Subhânahu Wata’âla selama keduanya belum berpisah. Adapun dosa yang diampuni ialah dosa-dosa kecil (shahgâir), bukan dosa besar (kabâir). Adapun waktu dan tempat tidak disebut secara terperinci, di mana dan kapan pun amalan ini dilakukan hukumnya mubah.

Suatu hari, Thalhah bin Ubaidillah salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga berdiri menghampiri Ka’ab bin Malik setelah Allah Subhânahu Wata’âla menerima taubatnya, lalu menjabat tangannya dan mengucapkan selamat. (Khâlid Al-Jarîsi, Fatâwâl Baladil Harâm, 175). Artinya apa yang dilakukan Thalhah tidak harus setelah shalat, ketika sahabat ini mendengar Allah Allah Subhânahu Wata’âla mengampuni dosa Ka’ab lantaran tidak ikut dalam perang Tabuk, sekoyong-koyong menyalami lalu mengucapkan tahniah (selamat).

Riwayat menjadi dasar bahwa saat seseorang mendapat kabar gembira dianjurkan menjabat tangannya dan mengucapkan kata-kata yang menggembirakan sebagai ungkapan rasa syukur dan turut merasakan kebahagiaan.

Tindakan ini juga bukti kuatnya hubungan ukhwah Islamiyah. Maka sungguh ironis bila mengatakan jabat tangan di antara bentuk perbuatan yang tidak diajarkan Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam, terlebih lagi menganggap hal itu perbuatan bid’ah dan pelakunya diancam dengan neraka.

Penilaian semacam ini bertentangan dengan prinsip dasar Islam. Sebelum memberi vonis hukum terhadap sesuatu, hendaknya seseorang mengkaji, meneliti dan mendiskusikan dengan baik. Langkah-langkah yang dilakukan dengan mengkompromikan nash (ayat dan hadis) lalu divalidasi berdasarkan pemahaman ulama salaf dan khalaf. Sikap terlalu dini menjatuhkan vonis sesat atau kafir akan melahirkan rupture (keratakan) dalam tubuh Islam.

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:

اعْلَمْ أَنَّ مَذْهَبَ أَهْلِ الْحَقِّ أَنَّهُ لَا يُكَفَّرُ أَحَدٌ مِنْ أَهْلِ الْقِبْلَةِ بِذَنْبٍ، وَلَا بِبِدْعَةٍ

Ketahuilah, mazhab Ahlus Sunnah yang benar adalah bahwa tidak boleh mengafirkan seorang pun dari ahli kiblat (kaum Muslimin) hanya karena suatu dosa atau karena suatu bid'ah. (Nawawî, Al-Minhâj, 1/150).

Ucapan Imam An-Nawawi tersebut menegaskan salah satu prinsip penting dalam akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, yaitu kehati-hatian dalam memberikan vonis kepada sesama muslim. Beliau menjelaskan bahwa seorang muslim yang masih termasuk ahlul kiblat—yakni orang yang mengakui syahadat dan menghadap kiblat dalam salat—tidak boleh divonis kafir hanya karena melakukan sesuatu yang dianggap tidak memiliki dasar (bid'ah).

Berjabat tangan merupakan sunnah yang dianjurkan dalam Islam sebagai wujud penghormatan, kasih sayang, dan penguat ukhuwah Islamiyah. Selain memiliki nilai sosial, amalan ini juga bernilai ibadah karena menjadi sebab diampuninya dosa-dosa kecil. Oleh karena itu, berjabat tangan tidak patut dipandang sebagai amalan yang tercela atau divonis sebagai bid'ah tanpa dasar ilmiah yang kuat.

Perbedaan pandangan hendaknya disikapi dengan ilmu, adab, dan sikap saling menghormati, bukan dengan mudah menyesatkan atau mengafirkan sesama muslim. Dengan demikian, semangat yang harus dikedepankan adalah menghidupkan sunnah Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam sekaligus menjaga persatuan dan keharmonisan umat Islam.***

Sumber: kiblatriau.com

Written by Admin
Category: Adab
Hits: 188

Bacaan Popular


Baca topik

Terkini


TEMPAT NYAMAN TAMAN BACAAN MASA DEPAN ANDA-JOM KITA MENULIS!!! dhomir.com ingin mengajak dan memberi ruang kepada para penulis khususnya penulisan yang berkaitan dgn agama Islam secara mendalam dan sistematik.Jika anda ingin mencurahkan isi hati mahupun pandangan secara peribadi dhomir.com adalah tempat yang paling sesuai utk melontarkan idea. Dengan platform yang sederhana, siapa sahaja boleh menulis, memberi respon berkaitan isu-isu semasa dan berinteraksi secara mudah.Anda boleh terus menghantar sebarang artikel kepada alamat email:dhomir2021@gmail.com.Sebarang pertanyaan berkaitan perkara diatas boleh di hubungi no tel-019-3222177-Editor dhomir. com