PEMIMPIN YANG MEMBUKTIKAN KEJUJURAN RAKYAT
Oleh: Drs. H. Ahmad Yani
Kejujuran merupakan perkara yang amat penting untuk dimiliki oleh masyarakat. Banyak persoalan yang dengan cepat bisa diselesaikan bila kejujuran masih dimiliki. Sebagai seorang pemimpin, Ali bin Abi Thalib membuktikan hal itu.
Pada masa Umar bin Khattab menjadi khalifah, ada satu kasus yang menyulitkan Umar untuk bisa memecahkan atau menyelesaikan persoalan. Suatu ketika, dua orang ibu berselisih tentang kepemilikan anak, masing-masing mengklaim bahwa anak itu adalah anaknya.
Karena Khalifah Umar tidak mampu menyelesaikan masalah ini, beliau meminta bantuan Ali untuk memberi jalan keluar. Oleh Ali, kedua orang ibu itu dikumpulkan dan diberikan pengertian sampai hal-hal yang menakutkan bila mengambil hak orang lain. Kendati demikian, tetap saja keduanya berselisih, padahal tidak mungkin seorang anak memiliki dua ibu yang berbeda.
Karena mereka tetap pada pendirian masing-masing, maka Ali meminta disediakan gergaji oleh pembantu Khalifah Umar.
"Untuk apa gergaji itu," tanya keduanya.
"Aku akan membelah anak ini menjadi dua. Bila kalian tetap mengklaim memiliki anak ini, maka masing-masing kalian akan mendapat separuhnya," jawab Ali, tegas.
Wanita yang satu diam saja, sedangkan yang satunya lagi malah berkata, "Ya Allah, Ya Allah, wahai Abul Hasan, jika tidak ada jalan keluar yang lain, daripada engkau akan membelahnya biarkanlah ia akan mendapatkan anak ini."
Mendengar pernyataan itu, Ali menyatakan, "Allahu Akbar, jika demikian, sebenarnya ini adalah anakmu, bukan anaknya. Sebab, jika ini anaknya, ia akan menaruh iba atau kasihan kepada sang anak saat aku memotongnya. Juga ia akan begitu gelisah bila aku akan betul-betul membelahnya."
Dengan cara itu, wanita yang satu akhirnya mengakui bahwa anak itu memang bukan anaknya. Umar akhirnya merasa lega dengan jalan keluar yang dilakukan Ali sehingga masalah yang rumit bagi Umar itu pun bisa dipecahkan dengan cepat dan mudah.
Dari kisah di atas, pelajaran yang dapat kita ambil adalah:
1. Begitu penting kejujuran, sehingga setiap orang wajib berlaku jujur.
2. Pemimpin tidak hanya berlaku jujur, tapi harus membangun budaya jujur dalam masyarakat dan menghormati orang yang jujur.
PENGUATAN KESADARAN DIRI
Oleh: Samsul Nizar
SUNGGUH, manusia acapkali begitu aneh. Kualitas permata tak terlihat dan tak pula dihargai karena letaknya di pojok gudang yang berdebu. Tapi, batu bata yang kotor justeru dinilai berharga karena letaknya di etalase mewah. Begitu standard penilaian manusia berkepribadian rendah. Melihat nilai hanya berdasarkan kondisi dan status, bukan kualitas objek.
Fenomena penilaian di atas telah diingat-kan oleh Sayidina Ali bin Abi Thalib RA : "Jangan lihat siapa yang bicara, tapi lihat-lah apa yang dibicarakan". Kata bijak yang penuh hikmah dari sang "pemegang kunci" perbendaharaan ilmu nabi Muhammad ﷺ. Sayangnya, untaian hikmah tersebur sekadar dibaca tapi begitu sulit bahkan enggan dipedomani umat akhir zaman. Sebab, manusia telah dibutakan oleh wujud ilusi dan kemunafikan. Manusia justeru lihai memutarbalikan nasehat tersebut. Hanya fokus "melihat siapa yang berbicara, tapi tak perlu melihat apa yang dibicarakan". Sungguh pengingkaran nyata yang tanpa adab. Anehnya, logika terbalik ini dianggap biasa dan menjadi tradisi "menjilat posisi". Penyakit ini berpotensi menerpa seluruh komponen, tanpa terkecuali. Hanya sosok pemilik iman yang lurus mampu selamat.
Meski ilmu mengajarkan "jalan kebenaran", tapi acapkali tak mampu menghantarkan pemiliknya menemukan tujuan yang benar. Sebab, tujuan hakiki yang ingin dituju telah diselimuti awan fatamorgana nafsu sera-kah yang menampilkan "kenikmatan dan keindahan memukau". Akibatnya, kebenar-an ilmu yang dipelajari acapkali tak bisa terlihat, bahkan nyatanya bertolak bela-kang. Untuk itu, wajar bila deretan gelar atau tingginya status acapkali tak berkore-lasi dengan perilaku nyata. Perilaku biadab yang ditutupi asesoris palsu seakan sosok beradab. Penghargaan dan pujian begitu menggema hanya ketika memiliki posisi. Padahal isi kepala dan untaian kata yang sebenarnya hanya biasa-biasa saja dan terkadang sepele, murahan, sampah, dan "aneh atau kampungan". Sebaliknya, "kesunyian" begitu terasa bila keluar dari mulut strata "rakyat jelata". Padahal, isinya merupakan kebenaran yang cahayanya menembus dan mengguncang langit. Ketika hal ini terjadi, pejuang kebenaran seakan hidup dalam kesendirian di tengah "hutan jahiliyah" dan hiruk pikuk teriakan peradaban yang semu penuh kemunafikan.
Sungguh, bagi manusia tanpa dasar ilmu dan iman, fase hidup "di atas" membuat tumbuh subur kesombongan. Sedangkan bagi fase hidup "di bawah" merupakan ruang begitu sempit dan tak ada yang hadir membantu. Tak ada yang memberi semangat, memperhatikan, atau peduli. Pada fase ini, banyak manusia runtuh, bukan karena beban yang berat tapi merasa sendiri tanpa ada yang peduli. Padahal, fase ini Allah sedang membentuk karakter dan mental hamba pilihan-Nya. Untuk itu, sandarkan pada pemilik kehidup-an yang tak pernah melupakan hamba pencari kebenaran dan perlindungan-Nya.
Ada beberapa langkah yang perlu dilaku-kan bagi menyadarkan diri pemilik harga diri (kebenaran), antara lain :
Pertama, Sadari tak semua perjuangan yang penuh resiko dan dinamika mendapat perhatian dan tepuk tangan, dihargai, dan diapresiasi. Sebab, perjuangan, pemikiran cerdas, dan karya nyata tak memerlukan validasi makhluk. Baginya, kepuasan hadir bila berhasil menghadirkan kebermanfaat-an, membawa kebajikan, dan rahmat bagi semesta (QS. al-Anbiya' : 107). Biar Allah yang mengetahui dan penduduk langit yang menyaksikan semuanya. Sementara, sosok manusia "culas dan khianat" selalu berupaya dan berharap validasi. Ia bangga berdampingan dan bersama sumber kesalahan. Mereka "tertidur" ketika proses memperjuangkan kebenaran. Tapi, begitu keberhasilan tercapai, tampil euforia dan paling depan bak "pahlawan kesiangan". Agar masyarakat memberikannya validasi, maka upaya "menutupi sejarah" dan menghilangkan jejak pelaku sejarah. Akibatnya, sejarah terkubur seiring tumbuh subur pohon benalu yang begitu jumawa di media sosial (flexing) menampilkan sejutaprestise tanpa secuil prestasi.
Kedua, Jadikan "kesunyian dan kesendiri-an" dengan selimut karya yang digoreskan sebagai ruang mengenal diri untuk dekat dengan Allah. Sebab, kesunyian dalam berprestasi mengajarkan keikhlasan (QS. al-Baqarah : 271). Sementara keriuhan te-puk tangan atau pujian yang menggema acapkali membuat lupa diri. Padahal, ia sedang menapaki "medan terjal" yang akan menggelincirkannya dari kebajikan. Rasulullah ﷺ mengingatkan dalam sabda-nya : "Taburkanlah debu ke wajah orang-orang yang gemar memuji (menyanjung)." (HR. Muslim).
Hadis di atas ditujukan kepada orang yang memuji secara berlebihan. Pujian yang tak sepantasnya dan acapkali merupakan bentuk kemunafikan atau "ambil muka". Padahal, semua pujian hanya milik Allah (QS. al-Fatihah : 2). Untuk itu, Allah sangat mencela manusia yang "gila pujian". Hal ini
tertuang dalam firman-Nya : "Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka dipuji atas perbuatan yang tidak mereka kerjakan, jangan sekali-kali kamu mengira bahwa mereka terlepas dari siksa. Mereka akan mendapat siksa yang pedih" (QS. Ali 'Imran : 188).
Ibnu Katsir mengutip riwayat dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri dan Marwan bin Hakam. Ayat di atas turun terkait orang-orang munafik di masa Rasulullah ﷺ yang sering mangkir dari jihad, namun mereka merasa senang dan gembira dengan ketidakhadirannya. Anehnya, saat Nabi ﷺ dann sahabat kembali dari medan perang, mereka mengarang berbagai alasan dusta dan bersandiwara agar dipuji seolah-olah ikut. Bahkan, sebagian lagi menyatakan (merekayasa) alasan sebagai orang-orang yang berhalangan dan ingin ikut berjuang.
Ketiga, Bangun komunikasi pada Allah tempat muara harapan yang hakiki. Ketika itu, Allah akan menjawab semua rintihan dengan cara-Nya. Kepedihan merupakan nikmat bagi hamba yang mengerti. Sebab, Allah sedang merindukannya. Hal ini ter-tuang dalam hadis qudsi, Allah berfirman : "Pergilah kepada hamba-Ku, lalu timpakan-lah ujian kepada mereka, karena aku rindu mendengar rintihannya” (HR. Thabrani dan Abu Umamah).
Hadis di atas menjelaskan qudsi bahwa nikmat adalah ujian dan musibah adalah cobaan. Keduanya merupakan bentuk kasih sayang-Nya. Melalui ujian (nikmat), Allah rindu mendengar hamba-Nya yang bersyukur atas semua nikmat-Nya. Sedang-kan cobaan merupakan media munajat dan rintihan hamba untuk mengadu, bercerita, dan memohon pertolongan-Nya. Namun, manusia sering kali lalai (lupa diri) ketika senang (sombong) dan putus asa ketika sulit (QS. al-Isra' : 83 dan QS. al-Fushilat : 51).
Keempat, Fokus pada langkah kecil tanpa pernah berhenti. Sebab, Allah akan melihat kualitas istiqomah hamba, bukan "langkah besar" tapi tak pernah dilakukan. Padahal, Allah membenci manusia yang lisannya tak sesuai amal perbuatannya (karya). Hal ini tertuang pada firman-Nya :"Wahai orang-orang yang beriman !. Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan ?. (Itu) sangat dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan" (QS. ash-Shaff : 2-3).
Ibnu Katsir menafsirkan ayat di atas seba-gai teguran keras dari Allah SWT mengenai pentingnya keselarasan antara ucapan dan perbuatan (integritas), serta mencela sifat kaum munafik. Kaum yang hanya menjanji-kan sesuatu kebaikan, namun tak pernah dilakukan dan terwujud.
Kelima, Berhenti menjelaskan diri. Sebab, tak semua orang mau memahami, apatah-lagi menghargai. Sebab, manusia akhir zaman tak lagi mau mendengarkan apa (isi) kebenaran, tapi hanya mendengarkan siapa yang bicara. Semakin tinggi status yang dimiliki, manusia mendengarkan kata-nya bagai "berlian". Padahal, di mata Allah hanya "tumpukan kotoran" yang bernajis.
Keenam, Rawat energi cerdas dengan me-mikirkan sesuatu yang bermanfaat, bukan terpengaruh pada "tumpukan sampah" yang keluar dari mulut berbelatung dan menghiasi media sosial. Sebab, tumpukan sampah hanya akan menutupi kemuliaan kecerdasan yang dimiliki. Bagi pemilik akal cerdas, tiada hari tanpa karya. Sedangkan bagi pemilik akal culas, tiada hari tanpa publikasi untuk dipuji (flexing), jualan idepepesan kosong, mencari kesalahan orang lain, dan mengejar prestise tanpa prestasi.
Ketujuh, Temukan makna dan rahasia-Nya dalam setiap langkah perjuangan. Sebab, setiap fenomena dan gerak langkah terkan-dung pelajaran dan pesan-Nya (QS. Ali Imran : 191). Pada waktunya, Allah akan buka pintu hikmah-Nya (QS. al-Baqarah : 282) bagi hamba pilihan. Ketika ma'rifat tersingkap, semua rahasia akan terbuka. Tak ada yang bisa ditutupi. Ketika hal ter-sebut dianugerahkan-Nya, maka dukungan, pujian, dan apresiasi manusia tak lagi berarti. Sebab, pujian manusia bersifat temporer, terselubung kemunafikan, dan penuh kepentingan. Ketika kepentingan tak lagi ada, maka akal dan hati manusia tak lagi mau menghargai, tapi membenci kebenaran. Sebab, semua media untuk menemukan kebenaran telah tertutup oleh kejahilannya (QS. al-Baqarah : 7).
Menurut para mufasir, kenikmatan yang dijelaskan oleh ayat di atas merupakan hukuman (istidraj) dari Allah. Meski ia beriman dan tau isi ajaran-Nya, tapi nafsu duniawi membuatnya begitu sadar meng-ingkari dan menolak kebenaran, mendusta-kan agama, dan terus-menerus dalam kefasikan. Ketika kondisi ini terjadi, maka tak ada harapan ruang kebajikan dan per-baikan yang akan dimunculkannya. Meski seluruh penduduk bumi memuliakan, tapi yakinlah bahwa Allah dan penduduk langit akan memandang hina setiap pembawa (pemilik) kemunafikan dan penyebab hadir-nya kezaliman (kesombongan). Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***
Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis
Sumber: jawapos.com
PEMIMPIN YANG SUKA KRITIK (2)
Oleh: Drs. H. Ahmad Yani
Seorang pemimpin, meskipun sudah berusaha memimpin dengan sebaik-baiknya, bisa jadi, tanpa disadari, masih tetap bisa melakukan kekeliruan. Khalifah Umar tidak segan-segan untuk mendengar kritik dari rakyat yang dipimpinnya dan ia pun tidak ragu untuk mengubah kebijakan yang salah. Karenanya, beliau mendorong rakyatnya untuk bersikap kritis.
Suatu ketika, Khalifah Umar datang ke kedai minuman milik Bani Haritsah. Di sana, beliau berjumpa dengan Muhammad bin Maslamah. Kepadanya ia bertanya, "Bagaimana pendapatmu tentang diriku?."
Maslamah berkomentar, "Demi Allah, aku melihat engkau seperti yang memang kuharapkan dan pendapat ini sama dengan teman-teman yang melihatmu. Engkau pandai menghitung kekayaan dan engkau sendiri tidak menyentuhnya serta menyalurkannya secara adil. Namun, jika engkau berlaku tidak adil, kami akan meluruskannya seperti kami meluruskan pedang dalam sifat-sifat buruk."
Mendengar ucapan masalah itu, khalifah Umar menanggapi, "Alhamdulillah, aku bersyukur pada Allah yang telah menempatkan aku di antara orang-orang yang akan meluruskan aku ketika aku sedang menyimpang."
Pada kesempatan lain, Khalifah Umar berkata, "Semoga Allah membalas kebaikan orang yang menyampaikan kekurangan-kekurangan diriku."
Dari kisah di atas, pelajaran yang dapat kita ambil adalah:
1. Pemimpin, sebaik apapun mungkin saja melakukan kekeliruan dengan sebab-sebab tertentu. Karena itu, pemimpin harus menyadari keperluannya terhadap kritik dan saran.
2. Meskipun demikian, pemimpin tidak hanya menunggu orang melakukan kritik dan saran, tapi yang terpenting adalah meminta nasihat dan kritik dari siapa saja.
PEMIMPIN YANG SUKA KRITIK (1)
Oleh: Drs. H. Ahmad Yani
Bagi seorang pemimpin, memiliki rakyat yang kritis merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Dengan demikian, bila ia melakukan kekeliruan, akan ada orang yang mengingatkannya.
Suatu ketika, Muawiyah bin Abu Sofyan mengatakan dalam sebuah khutbah Jumaat: "Harta ini adalah harta kita. Pajak ini adalah pajak kita. Siapa pun di antara kita yang menghendaki dapat mengeluarkannya, dan siapa pun di antara kita yang menghendaki dapat menahannya."
Setelah mengucapkan hal itu, tidak ada satu pun orang yang memprotesnya, padahal sebenarnya ucapan itu harus dikritisi. Maka, pada Jumaat berikutnya sampai yang ketiga, Muawiyah mengatakan hal itu lagi.
Sesudah khutbahnya selesai, ada seorang jamaah yang berdiri dan menyatakan, "Sama sekali tidak demikian, harta ini adalah harta kita. Pajak ini adalah pajak kita. Barangsiapa yang menghalang-halangi antara kami dan harta itu, maka kami akan menghukuminya kepada Allah dengan pedang kami."
Sesudah turun dari mimbar, ia meminta orang itu untuk menghadapnya di istana. Banyak orang yang berbisik, "Binasalah orang itu."
Orang itu pun masuk ke istana. Ketika orang-orang kemudian melihatnya, ternyata ia sedang asyik berbicara dan bercengkrama dengan Khalifah Muawiyah. la berkata, "Orang ini telah membuatku malu, sebagaimana Allah telah membuatnya malu. Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, 'Akan muncul para pemimpin sesudahku yang berkata dan tidak seorang pun yang berani menentangnya.
Mereka berlompatan ke dalam neraka, sebagaimana kera yang berlompatan. Pada Jumaat yang pertama aku telah berpidato, namun tak seorang pun yang menentangku. Aku takut termasuk di antara mereka. Aku berpidato lagi pada Jumaat yang kedua dan tak seorang pun yang menentangku. Aku berkata dalam hati, 'Tentu aku termasuk orang yang seperti itu. Pada Jumaaat ketiga, aku berpidato lagi dan orang ini berdiri untuk menentangku sehingga ia telah membuatku malu, sebagaimana Allah telah membuatnya malu."
Itulah salah satu contoh bagaimana seorang pemimpin yang menyenangi kritik atas dirinya.
Dari kisah di atas, pelajaran yang dapat kita ambil adalah:
1. Kekeliruan seorang pemimpin akan terus berulang ketika tidak ada orang yang mengkritisinya.
2. Kritik kepada siapapun apalagi kepada pemimpin harus disampaikan dengan bahasa yang jelas dan argumentasi yang kuat agar mudah diterima.
NILAI SEBUAH KEJUJURAN BAGI SEORANG MUSLIM
Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
JUJUR merupakan sikap mulia yang sangat berharga. Ia ibarat mutiara yang sulit didapatkan dan tidak bisa ditukar dengan kemewahan dunia. Orang yang jujur dalam perkataan maupun tindakan akan disenangi dan disukai oleh siapapun. Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam telah mencontohkan sedari kecil. Sebelum beliau diangkat menjadi nabi, kejujurannya telah diakui semua pihak, bahkan orang-orang kafir Quraisy sekali pun.
Gelar al-amin adalah buah dari kejujurannya dalam menjalankan amanah. Sifat jujurnya menjadi representasi dalam bermu’amalah dengan masyarakat kota Makkah, Madinah dan penduduk Jazirah Arab. Orang-orang yang telah sampai ke derajat as-shadīqūna (orang-orang yang benar/jujur) dalam beramal tidak akan mengharap pahala selain kepada Allah Subhanahu Waatala. Apabila beriman, imannya hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta‘ala dan apabila diminta berjihad dengan harta dan jiwa, maka mereka melakukannya karena Allah Subhanahu Waatala.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوْا وَجَاهَدُوْا بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الصّٰدِقُوْنَ ١٥
Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. (QS: al-Hujarāt: 15).
Syeikh Thantawi rahimahullah berkata: Ayat ini menerangkan bahwa sebagian orang-orang yang hidup pada masa Rasulullah tidak semuanya beriman. Di antara mereka ada orang munafik dan Yahudi. Para sahabat yang benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tidak enggan mendermakan harta benda mereka di jalan Allah, yang diharapkan dari semua itu ialah balasan dari-Nya semata. Adapun orang-orang munafik dan Yahudi yang ikut berperang bersama Rasulullah mengharapkan harta rampasan atau mencari keuntungan dunia semata. (Thantawi, Tafsîr al-Wasîth, hlm 3/1054).
Pribadi jujur juga dikenal pribadi yang amanah. Seseorang yang jujur paham konsekuensi bila tidak menjalankan amanah dengan baik; mereka takut dicap sebagai pendusta, pembual, khianat sebab sifat-sifat tercela itu merupakan sifat orang-orang munafik yang tempat kembalinya neraka.
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ فِى الدَّرْكِ الْاَسْفَلِ مِنَ النَّارِۚ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيْرًاۙ ١٤٥
Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. (QS: An- Nisā’: 145).
Kejujuran seorang akan mendatangkan kebaikan dan banyak manfaat dalam hidupnya. Mereka disenangi, dihargai, dihormati oleh semua orang. Sifat jujur yang telah melekat pada diri seseorang tidak saja dinikmati ketika hidup di dunia, namun juga dirasakan hingga ke akhirat kelak. Kenapa bisa demikian?. Karena sifat jujur membawa kepada kebaikan dan kebaikan membawa kepada surga.
Rasulullah Shallalahu ‘alahi wa sallama bersabda:
عَنْ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقَ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا، وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا.
Dari Abdullah ibnu Mas’ud berkata bahwa Nabi bersabda: Sesungguhnya benar (jujur) itu menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan itu menuntun ke surga, dan seseorang itu berlaku benar sehingga tercatat di sisi Allah sebagai seorang yang shiddīq (yang sangat jujur dan benar). Dan dusta menuntun kepada curang dan curang itu menuntun ke dalam neraka. Dan seorang yang berdusta sehingga tercatat di sisi Allah sebagai pendusta. (HR. Bukhāri).
Orang-orang yang menjadikan kejujuran sebagai pakaian jiwanya akan tenang, damai dan sentosa, sedangkan orang yang pendusta batinnya akan dihantui rasa takut, galau dan ragu.
Rasulullah Shallalahu ‘alahi wa sallama pernah bersabda:
عَنْ أَبِي الْحَوْرَاءِ السَّعْدِيِّ قَالَ قُلْتُ لِلْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ مَا حَفِظْتَ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: حَفِظْتُ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ
Dari Abu Haura’ As-Sa’di berkata: Saya pernah bertanya kepada Hasan bin Ali: ‘Apa yang anda jaga dari Rasul?’ Hasan menjawab, ‘Dari beliau saya menghafal (semua hadits), tinggalkan apa yang membuatmu ragu menuju apa yang tidak meragukanmu (meyakinkanmu). Sungguh, kejujuran itu menenangkan dan sebaliknya kebohongan itu (melahirkan) keraguan. HR. Tirmizi.
Orang-orang telah menyatakan keimanan kepada Allah Subhanahu Waatala dengan jujur akan berani mengambil resiko yang besar. Para sahabat telah beriman dengan risalah Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam rela meninggalkan kedudukan, harta benda, sanak famili dan bahkan sampai nyawa demi mempertahankan keimanan.
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
لِلْفُقَرَاۤءِ الْمُهٰجِرِيْنَ الَّذِيْنَ اُخْرِجُوْا مِنْ دِيَارِهِمْ وَاَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانًا وَّيَنْصُرُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الصّٰدِقُوْنَۚ ٨
(Juga) bagi para fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridaan (Nya) dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. (QS: al-Hasyar: 8).
Imam al-Baghawi rahimahullah berkata: Orang-orang yang rela meninggalkan rumah, kampung halaman, harta, anak, istri, sahabat dan kerabat demi mencari ridha Allah Subhanahu Waatala adalah orang-orang yang jujur dalam menolong agama Islam. Mereka tidak rela agama Islam dihina dan dicaci di hadapan mereka. Maka orang-orang yang demikian itu adalah orang-orang yang mencari kebenaran. Dan tidak mungkin seseorang dapat melaluinya tanpa kejujuran beriman kepada Allah Subhanahu Waatala. (Al-Baghawi, Tafsîr Al-Baghawî, 5/57).
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kejujuran merupakan sifat mulia yang menjadi tanda kesempurnaan iman dan fondasi utama dalam kehidupan seorang muslim. Orang yang jujur akan mendapatkan ketenangan hati, kepercayaan manusia, serta kemuliaan di sisi Allah Subhanahu Waatala. Kejujuran juga melahirkan sikap amanah, ikhlas dalam beribadah, dan keberanian dalam mempertahankan kebenaran.
Sebaliknya, kebohongan membawa kepada kemunafikan, kegelisahan, dan kebinasaan. Oleh sebab itu, setiap muslim hendaknya meneladani kejujuran Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam agar memperoleh kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat.***
Sumber: kiblatriau.com