BAHAYA PERBUATAN MUBAZIR
Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
SECARA bahasa, mubazir (التَّبْذِيْرُ) bermakna menggunakan nikmat Allah Subhanahu Waatala secara berlebihan, atau pada hal-hal yang tidak berfaedah. Mubazir bukan hanya pada harta, tetapi waktu, tenaga, pikiran atau perbuatan-perbuatan yang tidak mendatangkan maslahat bagi kehidupan dunia dan akhirat.
Memiliki sesuatu yang tidak dibutuhkan bagian dari mubazir. Sifat ini selalu dikaitkan dengan perbuatan kufur, karena termasuk menyia-nyiakan pemberian Allah Subhanahu Waatala. Al-Qur’an yang mulia secara tegas melarangnya.
Allah Subhanahu Waatala berfirman:
وَاٰتِ ذَا الْقُرْبٰى حَقَّهٗ وَالْمِسْكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيْرًا ٢٦
Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. (QS. Al-Isra’: 26)
Makna penggalan ayat ‘janganlah kamu menghamburkan-hamburkan (hartamu) secara boros’ ialah suatu larangan membelanjakan harta kepada hal-hal yang tidak halal dan tepat penggunaannya. (Musthafa Al-Khairi Al-Manshûrî, Al-Muqtathof fi Uyûnittafâsîr, 3/190). Menurut Lajnah Dâimah, mengeluarkan harta di luar kebutuhan termasuk perbuatan haram dan makrûh. (Penyusun Ahmad Abdurrazâk Ad-Duwais, Fatâwâ Al-Lajnah Ad-Dâimah li buhûshil ilmiyyati wal iftâi, 21/149).
Berdasarkan penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam menggunakan harta seseorang harus memperhatikan cara dan tujuan. Sebab hari ini betapa banyak ada orang yang mengeluarkan hartanya namun tidak mengerti untuk apa harta dibelanjakan sehingga kemudian membeli sesuatu yang tidak dibutuhkan seperti memiliki sepeda motor, tas, jam tangan, dan sepatu brandid serta asesoris lainnya jenis yang sama dalam jumlah yang banyak. Padahal apa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.
Allah Subhanahu Waatala berfirman:
كُلُّ نَفْسٍۭ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ
Setiap jiwa bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya. (QS. Al-Muddatsir: 38)
Imam Al-Baihaqi dalam Syu’abil Imân, dari sahabat Ali bin Abi Thalib berkata: Apa yang engkau belanjakan untuk dirimu dan keluargamu secara benar merupakan sedekah bagimu, namun bila semua itu engkau lakukan karena riya’ (dilihat) dan sum’ah (ingin didengar) sungguh engkau telah masuk perangkap setan. (As-Syakânî, Fathul Qadîr, hlm 1047).
Dalam ayat lain, Allah Subhanahu Waatala secara tegas menyatakan bahwa sifat boros ini bukan sekadar dilarang atau makruh, tetapi pelakunya adalah teman setan.
Allah Subhanahu Waatala berfirman:
اِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْٓا اِخْوَانَ الشَّيٰطِيْنِۗ وَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِرَبِّهٖ كَفُوْرًا ٢٧
Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS. Al-Isra’: 26-27)
Dalam ayat tersebut, orang yang mubazir disebut sebagai saudara setan karena mereka sama-sama menggunakan nikmat Allah pada jalan yang salah dan tidak bersyukur kepada-Nya. Setan dikenal sebagai makhluk yang ingkar kepada Allah, sedangkan orang yang boros juga menunjukkan sikap tidak menghargai nikmat dengan menghamburkan harta, waktu, atau karunia lain tanpa manfaat dan tanpa tujuan yang benar.
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
كُلُوا وَاشْرَبُوا وَالْبَسُوا وَتَصَدَّقُوا فِي غَيْرِ سَرَفٍ وَلَا مَخِيلَةٍ
Makanlah, minumlah, berpakaianlah, dan bersedekahlah tanpa berlebih-lebihan dan tanpa kesombongan. (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Majah)
Hadis ini menunjukkan bahwa sifat boros (السرف) sering berkaitan dengan kesombongan (المخيلة), karena seseorang terkadang berlebih-lebihan dalam menggunakan harta demi pamer, gengsi, atau merasa lebih tinggi dari orang lain.
Mubazir merupakan perilaku atau perbuatan tercela yang dilarang dalam Islam karena termasuk bentuk penyalahgunaan nikmat Allah Subhanahu Waatala. Sifat ini tidak hanya berkaitan dengan pemborosan harta, tetapi juga meliputi penyia-nyiaan waktu, tenaga, pikiran, dan berbagai potensi yang tidak digunakan untuk kemaslahatan. Al-Qur’an menegaskan bahwa orang yang mubazir adalah saudara setan, karena sama-sama tidak mensyukuri nikmat dan menggunakan karunia Allah Subhanahu Waatala pada jalan yang salah.***
Sumber: kiblatriau.com
SEBILAH PISAU; PILU HARDIKNAS
Oleh : Samsul Nizar (Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis)
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pisau adalah bilah besi tipis, tajam, dan bertangkai. Ia merupakan alat pengiris dan pemotong. Eksistensinya begitu diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, tak semua hamba-Nya berkesempatan untuk merenung dan mengambil pelajaran dari sebilah pisau.
Ada beberapa filosofi sebilah pisau yang perlu jadi renungan bagi dunia pendidikan di momentum HARDIKNAS, antara lain :
Pertama, Pisau mengajarkan bahwa hidup perlu ditempa melalui ujian (penempaan). Mulai besi yang tak bernilai, dibakar api menyala, dipukul, dan diasah. Melalui proses yang panjang dan penuh kesabaran dan skill si pandai besi, pisau semakin tajam. Sebilah pisau di tangan manusia yang bijak dan amanah akan memberi manfaat, bukan merusak. Sebab, pisau melambangkan ketajaman mental, kekuatan, tanggungjawab, dan kemampu-an untuk "memotong" setiap hambatan hidup dengan solusi cerdas dan bijaksana.
Dalam Islam, kehidupan manusia memang dirancang-Nya sebagai proses penempaan (tarbiyah dan riyadhah). Hal ini bertujuan untuk membentuk karakter, kualitas iman, dan memurnikan tauhid. Hal ini dinyatakan Allah melalui firman-Nya : "yaitu yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya..." (QS. al-Mulk : 2).
Menurut Ibn Katsir, kehidupan penuh ujian. Buah ujian selama hidup akan dipetik setelah kematian. Untuk itu, manusia bagaikan pisau yang ditempa agar "tajam" dan bermanfaat selama di dunia. Perlu keteliti-an dan kesabaran agar tugas kekhalifahan yang diamanahkan membawa manfaat bagi seluruh alam (QS. al-Baqarah : 30). Tapi, manusia acapkali mengambil jalan pintas dan menghalalkan segala cara. Semua dilakukan tanpa proses normal.
Kedua, Tajam ke bawah, tumpul ke atas. Pamer dan ingin dikenal oleh sesama, tapi tak kenal dan dikenal oleh Allah. Sebab, manusia acapkali lupa atas ayat-Nya. Kadangkala, ketajaman pisau hanya di bawah, membuat pemiliknya lupa diri dan berbuat kezaliman. Ketajaman pisau hanya fokus untuk "mencabik-cabik objek di bawah". Tapi, manusia acapkali lupa, bila Allah membuka aibnya, pisau yang tajam di bawah bisa melukai dan memotong jarinya. Meski semua bukti begitu nyata, tapi "pisau bermata tunggal" tetap tajam untuk melukai "objek di bawah" dan tumpul pada "objek di atas". Ketika kebenaran Ilahi terbuka dan sang penjaga hukum "teriris" oleh pisau yang digunakannya, tak membuat efek jera. Hanya berganti "baju, tanpa merubah isi". Padahal, pelanggaran yang terjadi begitu nyata, tapi tak mau dilihat.
Begitu aroma busuk terkuak, hanya kata "maaf dan siap salah" meluncur ringan tanpa beban. Meski hanya dilakukan segelintir oknum, tapi ia bak sembilu yang menyayat moral institusi (kelembagaan). Wujud kegagalan sistemik pendidikan yang begitu nyata, tanpa ada yang peduli.
Fenomena penegakan aturan (hukum) begitu "tajam" dilingkungan rakyat kecil, tapi acapkali "sangat tumpul" pada komunitas "ruang hampa udara" di luar angkasa. Padahal, sosoknya sangat mengerti aturan (hukum positif maupun agama). Namun semakin nyata pelang-garan dilakukannya. Jika pepatah leluhur mengatakan "guru kencing berdiri, murid kencing berlari" seakan sudah biasa. Tapi, kekhawatiran justeru mengarah ketika "guru kencing berlari dianggap biasa dan dipuja, tapi murid kencing berdiri dianggap hina dan perlu diadili". Padahal, pepatah lain mengatakan "air cucuran atap jatuh-nya ke pelimbahan juga". Artinya, kejahat-an level bawah hadir meniru perilaku level atas. Aneh bila "guru" mengajarkan dan mempraktekan "ingkar aturan", tapi mengharapkan "murid" taat aturan. Meski semua begitu jelas dipertontonkan, tapi tak ada yang mau dan mampu meluruskan-nya. Atau mungkin Allah ingin memperlihatkan kebiasaan hamba culas yang selama ini disembunyikan. Kelak azab-Nya yang sangat pedih akan menimpa para pelaku kezaliman (QS. asy-Syura : 42).
Mungkin benar pepatah Jepang pernah mengatakan "tempat yang paling gelap adalah di bawah cahaya lampu" (toudai moto kurashi). Bagi manusia berakal, pepatah ini sangat tajam melebihi sembilu. Pepatah ini menjelaskan betapa sulit menyadari dan melihat kesalahan yang berada ditempat yang terang dan dilaku-kan di depan mata. Padahal, begitu jelas terlihat kesalahan yang terjadi meski dilihat jauh melintasi alam semesta. Tapi tak ada yang peduli, apatahlagi berani menyebutnya sebagai sebuah kesalahan. Ternyata, kejahatan yang paling dekat atau akrab justru menjadi hal yang paling tidak diperhatikan dan diperdulikan. Apalagi di-tempat suci dan suluh bagi keadilan. Akibatnya, kejahatan justeru tampil leluasa dan anggun sebagai sebuah kebaikan.
Sungguh, karakter manusia bak pisau yang hanya tajam di bawah dan tumpul di atas menghadirkan kezaliman dan ketidakadilan. Untuk itu, Rasulullah ﷺ secara tegas mengingatkan pentingnya menegakkan keadilan (hukum) tanpa pandang bulu. Hal ini tertuang dalam sabdanya : "Sesungguhnya yang (telah) membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah ketika orang mulia di antara mereka mencuri, mereka membiarkannya. Namun jika orang lemah di antara mereka mencuri, mereka menegakkan hukum atasnya. Demi Allah, sekiranya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku sendiri yang memotong tangannya" (HR. Bukhari dan Muslim).
Demikian tegas dan jelas Rasulullah meng-ingatkan umatnya dalam menegakkan keadilan. Namun, umat Rasulullah acapkali hanya sekedar berharap syafaat tapi khianat, posisi umat tapi sebatas siasat, tampil saleh tapi hobinya berbuat salah, mulut manis tapi berbisa, perilaku beradab tapi hati biadab, dan seakan ikhlas tapi serakah tanpa batas. Tuntunan Rasulullah hanya dijadikan sebatas "permainan". Larangan dan perintah hanya untuk dipersendaguraukan. Meski kesalahan begitu nyata, tapi tak ada yang mau peduli. Semua terpaku oleh gemerincing pundi dan gemuruh puji yang membahana.
Ketiga, Runcing ke depan, rata dan tumpul di belakang. Kesalahan orang (di depan mata) terlihat nyata. Tapi, kesalahan diri tak pernah mau diakui, tak mau peduli, dan "goyang kaki" menikmati "posisi". Padahal, Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan : "Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim dan yang dizalimi." Seorang sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, saya menolong orang yang dizalimi, tapi bagaimana menolong orang yang berbuat zalim ?" Rasulullah ﷺ menjawab, "Engkau mencegahnya dari berbuat zalim, itulah cara menolongnya" (HR. Bukhari).
Menilik hadis di atas sulit dilaksanakan. Sebab, pelaku kezaliman sulit dan tak pernah mau diingatkan (diluruskan). Sebab, kebenaran telah tertutup baginya. Hal ini diingatkan oleh Allah dalam firman-Nya : "Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat pedih" (QS. al-Baqarah : 7).
Menurut Ibn Katsir, ancaman pada ayat di atas disebabkan oleh penolakan terhadap kebenaran. Akibatnya, mereka tidak dapat menerima petunjuk dan diancam dengan siksaan yang sangat pedih (QS. al-Buruj : 10).
Dalam teori hukum, dikenal adagium "fiat justitia ruat caelum" (hendaklah keadilan ditegakkan, walaupun langit akan runtuh). Adagium indah sebatas konsep, namun "menguap" bak amonia di ruang terbuka. Persoalan terang saja tak terlihat, apalagi tersembunyi di tengah gelapnya malam.
Meski semua kemungkaran begitu nyata, tapi tak ada yang peduli. Bahkan, kemung-karan terkesan dibiarkan. Bukan berarti tak ada yang mengerti (berilmu). Mungkin, ada beberapa alasan berbagai kemungkaran yang kasat mata dibiarkan dan tak lagi dipeduli, yaitu : (1) takut bila "pisau-pisau" tersebut akan melukai. (2) "pisau-pisau" sudah menutup "mulut kebenaran" dengan berbagi hasil upeti yang menjijikan. (3) ketidakpeduliannya sebagai cara untuk "menyembunyikan boroknya". Sebab, ternyata ia adalah pelaku atau ikut melakukan kemungkaran.
Berbahagialah manusia yang memiliki kemerdekaan dalam menegakan amar ma'ruf nahi munkar (mengajak kebaikan dan mencegah keburukan). Mereka telah dijanjikan-Nya sebagai manusia terbaik (khaira ummah), penolong sesama mukmin, dan orang-orang yang beruntung. Kemuliaan ini didasarkan pada QS. Ali 'Imran : 104 dan 110 ; serta QS. at-Taubah : 71.
Pilihan selalu diberikan Allah pada hamba-Nya yang beriman. Senantiasa memetik pelajaran pada setiap fenomena sebagai ayat-Nya. Tapi, pilihan yang diberikan-Nya acapkali ditolak oleh hamba yang kufur, fasik, dan mendurhakai-Nya. Bila demikian, teruskanlah berbuat kemungkaran, keserakahan, kezaliman, kemunafikan, dan kesombongan di muka bumi. Mungkin pilihan tersebut akan memuaskan nafsu iblis yang subur dalam hati. Na'uzubillah.
Meski eksistensi pisau menyisakan makna negatif, namun pisau tak bisa menentang kehendak-Nya. Pada saatnya, "pisau-pisau" akan diminta pertanggungjawabannya di-hadapan Allah Yang Maha Adil. Ketika saat itu terjadi (pengadilan-Nya), "pisau-pisau" akan kehilangan arogansi atas ketajaman yang dibanggakannya selama ini. Ketika itu, "sang pisau" telah berkarat dan hanya mampu merintih pilu dalam penyesalan tanpa pernah memperoleh ampunan-Nya (QS. al-An'am : 27). Hanya saja, manusia acapkali menafikan ajaran agama dengan berperilaku secara berlawanan. Membantu bila ada pundi dan maksud tersembunyi, meski wujud kesalahan. Tapi, bila bantuan tanpa "bingkisan", maka kebenaran dinilai kesalahan. Ibn Khaldun pernah berkata, "suatu saat kejahatan menjadi profesi dan pelakunya dihargai dan dihormati. Aneh-nya, pemilik kebenaran dibenci dan diang-gap sampah yang harus disingkirkan". Sebilah pisau menjelaskan kualitas dan karakter produk pendidikan (mutu atau pilu). Bukan hanya sebatas dimensi man-faat (ilmu, gelar dan ijazah), tapi dampak kemudharatan (ketidakadilan dan kezalim-an) yang ditimbulkannya bagi semesta. Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***
Sumber: Terbit di Kolom Betuah harian Riau Pos Online tgl. 4 May 2026
PEMIMPIN YANG SEDAR
Oleh: Drs. H. Ahmad Yani
Abdullah Al Imari hidup pada masa Khalifah Harun Ar Rasyid di Baghdad, Irak. Kepribadiannya dikenal sebagai orang yang sangat tekun dalam beribadah, luas ilmunya, dan semua orang dianggapnya sama dihadapan Allah swt. Alhasil, siapapun orangnya, ia tidak takut kepada orang itu kecuali hanya kepada Allah swt. Dengan kepribadian seperti itu, Abdullah dihormati dan disegani orang, meskipun ia termasuk orang yang miskin dari sisi harta.
Ketekunannya dalam ibadah nampak dari begitu rajinnya dalam membaca dan mengkaji al-Quran, serta berziarah kubur agar ingat kehidupan akhirat. Ketika seseorang bertanya tentang hal itu, ia menjawab, "Aku tidak mendapatkan sesuatu yang lebih mampu memberi nasihat, selain kuburan. Juga tidak ada yang lebih menenteramkan hatiku, kecuali al-Quran."
Kepada setiap orang ia menganjurkan agar melaksanakan amar makruf dan nahi munkar. Bila tidak, kebesaran Allah hilang dari dirinya. Itu sebabnya, siapa pun yang bertindak tidak benar, sebagai salah seorang pemimpin, ia tidak segan-segan menegur bahkan menentangnya, meskipun orang itu adalah atasannya.
Suatu ketika, Khalifah Harun Ar Rasyid menunaikan ibadah haji. Agar pelaksanaan ibadahnya berlangsung dengan lancar, para pengawal mengosongkan tempat sa'i. Dengan demikian, ia boleh berjalan dan berlari kecil antara shafa dengan marwa dengan tenang tanpa perlu berdesak-desakan karena ia telah dikelilingi para pengawal.
Hal itu membuat banyak jamaah haji menjadi kecewa, namun tidak ada seorang pun yang berani menegur, apalagi menentangnya. Pada saat itulah, Abdullah membuka mulutnya dengan menyatakan bahwa tindakan itu sama sekali tidak benar. Para pengawal mendekatinya lalu berkata, "Wahai Abdullah, khalifah sedang sa'i dan tempatnya telah dikosongkan agar beliau melaksanakan ibadah dengan lancar."
Dengan tegas Abdullah menjawab, "Wahai para pengawal, bila Harun Ar Rasyid telah berada di masjid, dia sama dihadapan Allah, termasuk bersama budaknya. Bahkan, mungkin saja budaknya itu justru lebih utama dihadapan Allah."
Tidak heran, Abdullah langsung menerolios ke tempat sa'i, meskipun orang lain tidak ada yang berani melakukannya. Setelah keduanya selesai melaksanakan sa'i, Abdullah memanggil Khalifah dengan namanya saja sehingga orang-orang menoleh kepadanya. Harun Ar Rasyid sendiri mencari-cari orang yang memanggilnya. Setelah tahu siapa yang memanggilnya, maka ia menjawab, "Labbaik, aku sambut panggilanmu." Setelah itu, Abdullah meminta Khalifah untuk naik ke bukit Shafa. "Lihatlah ke Masjidil Haram."
"Aku telah melihatnya," jawab Khalifah.
"Berapa jumlah orang-orang yang sedang tawaf itu?," tanya Abdullah.
Harun Ar Rasyid menjawab: "Siapa orang yang sanggup menghitungnya?."
Abdullah kemudian berkata, "Wahai Harun, pada hari kiamat nanti mereka akan ditanya Allah mengenai diri mereka sendiri. Akan tetapi, engkau selain ditanya tentang dirimu sendiri, juga ditanya tentang mereka di dunia. Oleh karena itu, pikirkanlah bagaimana keadaanmu nanti. Demi Allah, bila seseorang berfoya-foya dengan hartanya, ia akan ditindihkan batu. Maka, bagaimana orang yang berfoya-foya dengan harta kaum Muslimin?."
Mendengar hal itu, ia merasakan bagai ditusuk jarum sehingga air matanya mengalir begitu banyak. la menangis sejadi-jadinya karena takut akan siksa Allah swt kelak.
Kepribadian Abdullah begitu berpengaruh pada diri khalifah Harun Ar Rasyid sehingga ia semakin berhati-hati memimpin mengingat tanggungjawabnya yang sangat besar.
Dari kisah di atas, pelajaran yang dapat kita ambil adalah:
1. Pemimpin yang menyedari tanggungjawabnya yang besar di dunia dan akhirat membuatnya sangat hati-hati dalam memimpin agar tidak melakukan penyimpangan.
2. Adanya kesedaran seperti itu bila sang pemimpin mau mendengar nasihat dan kritik dari siapapun.
DEBU DI SEJADAH, DEBU DI JIWA
Oleh: Zulkarnain Zakaria
Pernahkah anda ke Masjid Imam Syafie, di Iskandariah, Mesir? Jika belum, penulis ingin ceritakan sebuah pengalaman. Tetapi awas, ia bukan pengalaman indah.
Sewaktu mengunjungi Mesir pada 2007, penulis singgah ke masjid berkenaan untuk solat Asar. Hati gembira bukan kepalang, kerana inilah masjid bersempena nama imam yang menjadi mazhab kebanyakan penduduk di rantau Asia Tenggara, termasuk Malaysia . Teringat penulis, di bumi Mesir inilah Imam Syafie melahirkan Qaul Jadidnya.
Tetapi alangkah hampa, masjid ini kelihatan terbiar usang. Tempat wuduknya hancing. Baunya menyakitkan hidung. Mengambil wuduk di situ seperti berwuduk di dalam tandas. Rasa sesak nafas dibuatnya. Kemudian, permaidaninya sudahlah agak buruk, dipenuhi pula dengan pasir dan debu. Bila bersujud, dahi ditompoki debu pasir ini. Solat pun menjadi tidak khusyuk dan tidak selesa.
Di luar, peminta sedekah beratur. Anjing berkeliaran. Kawasan sekitar masjid, juga begitu: Sampah, peminta sedekah, debu dan berkecamuk. Keadaan yang hampir sama dapat dilihat di sekitar Iskandariah dan Kaherah.
Pernahkah anda melawat Syria ? Penulis sukakan Syria . Inilah tanah para anbia, sahabat, tabiie dan tabiin. Di sinilah bermakamnya Nabi Ayub, Yahaya dan Zakaria. Di sinilah juga terletaknya makam-makam Habil, anak Nabi Adam.
Selain itu, kepala Saidina Hussin turut dimakamkan di Damsyik. Bilal Bin Rabbah, Umaiyah bin Abi Sufian, Saidina Umar bin Abdul Aziz, Khalid Al Walid, Ubaidullah bin Umar, pahlawan Salibi Salehuddin Ayubi turut dimakamkan di sini.
Tetapi sedih, bandar-bandar di Syria, termasuk Damsyik juga dicemari dengan sampah. Longgokan sampah dan tandas yang hancing boleh dilihat di mana-mana. Keadaan yang sama dapat dilihat sekitar Iran yang penulis lawati pada 2001.
Pernahkah anda berkunjung ke Eropah? Jika sudah, anda akan akui fakta yang akan penulis sebutkan nanti. Jika belum, penulis ingin maklumkan, keadaan di negara-negara Eropah tadi jauh bezanya dengan di negara-negara Islam yang penulis lawati.
Switzerland cukup bersih. Tasik Lugano dan Luzerne misalnya bukan saja cantik dihiasi gunung-ganang, malah sangat bersih. Itik dan burung bebas berkeliaran seperti tasik itulah habitat asalnya. Sampah? Tiada, kecuali di dalam tong sampah.
Ia mengingatkan juga penulis ketika bersantai di sebuah tasik berhampiran Istana Buckingham, London . Tiada sampah dilihat di atas tanah. Itik, tupai dan burung-burung berkeliaran bebas. Tiada sesiapa yang mengganggu haiwan tersebut. Pantai Devon juga begitu.
Di Australia, burung undan, camar, bangau dan sebagainya hidup aman dalami di tasik, sungai serta laut yang bersih dan jernih airnya. Ops, jangan buang sampah di sini. Anda akan ditahan. Membuang bungkusan gula-gula yang sekecil jari kelingking pun menjadi satu kesalahan besar kerana ia akan mencemarkan laut. Ia boleh menyebabkan kematian ikan paus. Demikian juga di New Zealand.
Tandas-tandas di negara yang disebutkan tadi pula cukup bersih hingga kita rasakan boleh tidur di dalamnya! Pantainya bebas daripada sampah.
Pernahkah anda lawati tempat ibadat mereka? Jika belum, penulis ingin ceritakan, setiap rumah ibadat itu bersih dan teratur. Bebas dari sampah dan kotoran.
Sekarang bandingkan pula dengan Malaysia . Apakah yang akan anda lihat jika berkunjung ke Teluk Kemang misalnya? Sampah sarap. Apa yang akan anda lihat di dalam tasik? Sampah. Apa yang anda lihat di kaki-kaki lima jalan? Sampah juga. Di tepi bangunan, sampah. Di atas jalan, sampah. Di dalam parit dan sungai, sampah.
Pemandu dan penumpang dari membuang sampah dari kereta adalah pemandangan biasa. Malah tandas masjid yang hancing, tercabut kunci, diconteng dengan perkataan lucah, najis tidak dipam, juga adalah pemandangan biasa.
Udara yang bersih? Maaf, itu pemandangan yang hanya wujud dalam ilusi. Lori dan kereta membuang asap hitam. Kilang-kilang membuang asap hitam.
Berapa ekorkah itik dan tupaikah yang pernah anda lihat hidup bebas di Tasik Titiwangsa dan Tasik Perdana? Kosong.
Jangan harap itik, angsa, burung dan tupai dapat hidup aman di tasik- tasik atau sungai di negara ini. Ini kerana, apabila mereka berenang-renang di permukaan air, pasti ia akan dibaling dengan kayu dan batu.
Tahukah anda berapa banyak sampah dikutip di Sungai Kelang setiap hari? Jawapannya, 50 hingga 60 tan metrik. Agaknya ribu tankah jumlahnya kalau dikutip di setiap batang sungai di negara ini?
Sekarang cuba anda perhatikan pula senarai negara paling bersih di dunia. Untuk pengetahuan anda, senarainya didahului oleh negara-negara Barat. Environment Performance Index (EPI) pada 2009 misalnya memberikan 95.5 markah kepada negara teratas, Switzerland , daripada markah penuh, 100.
Ini diikuti oleh Sweden dan Norway (93.1), Finland (91.4), seterusnya Costa Rica, Austria, New Zealand, Latvia, Columbia dan Perancis. Turut sering disenaraikan dalam kelompok negara terbersih di dunia ialah Iceland , Jerman dan United Kingdom . Begitulah setiap tahun, negara-negara Barat menguggulinya.
Bandar raya terbersih di dunia juga begitu. Ia didahului oleh Calgary (Canada), diikuti oleh Honolulu (Amerika Syarikat), Helsinki (Finland), Ottawa (Kanada), Minneapolis (AS), Oslo (Norway), Stockholm (Sweden), Zurich (Switzerland), Katsuyama (Jepun), dan Berne (Switzerland).
Mengapa? Mengapa Malaysia , Kuala Lumpur dan negara-negara Islam lain tidak tersenarai?
Sebenarnya, akuilah hakikat bahawa, daripada aspek kebersihan dan penjagaan alam, orang bukan Islam ternyata lebih Islam daripada orang Islam sendiri. Ia bermaksud, jika kita ingin tahu erti apakah kebersihan seperti yang dianjurkan oleh Islam, pelajarilah dari orang bukan Islam.
Aneh, kerana orang-orang bukan Islam ini tidak tahu pun tentang wujudnya firman Allah dalam surah Baqarah ayat 222, yang maksudnya: "Sesungguhnya Allah mengasihi orang yang banyak bertaubat, dan mengasihi orang yang sentiasa mensucikan diri."
Mereka juga tentu sekali tidak tahu akan wujudnya hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Muslim daripada Ibn Mas'ud, mafhumnya: "Sesungguhnya Allah itu cantik (indah) dan bersih. Dia amat mencintai kepada perkara yang cantik (indah) dan bersih."
Tetapi, mengapa kita tidak berasa malu? Mengapa kita masih suka kepada kekotoran?
SILATURAHIM KEPALSUAN
Oleh : Samsul Nizar
Dalam tradisi umat Islam, bulan syawal "kemenangan, kembali fitrah dan waktu untuk menjalin silaturrahim dan saling bermaafan. Bahkan, tradisi ini dilembagakan dalam adat. Silaturrahim sejati bertujuan menyambung tali kasih sayang. Tak peduli status sosial yang dimiliki. Semua lebur dalam kesetaraan dan keikhlasan.
Berbeda dengan silaturrahim kepalsuan (imitasi). Jalinan yang didasari kepentingan sesaat (pamrih, materi, kedudukan, atau varian lainnya). Iringan untaian kata maaf sebatas "basa basi" semata. Bila ada "status" dan menjanjikan harapan, silaturrahim terbangun begitu mempesona. Semua begitu indah, seakan tak ada yang nista. Aroma kebusukan dinilai aroma wangi, kesalahan dianggap biasa, dan kezaliman dipandang wajar.
Sungguh, silaturrahim sebatas "ada perlu" akan sirna ketika kepentingan telah diraih atau tak ada "madu" yang diperoleh. Untaian kata pujian tak lagi terdengar. Justru terdengar "bisik-bisik" pergunjingan dan kebencian yang membahana. Jalinan silaturrahim model ini akan terputus secara alamiah.
Sungguh, Allah sedang mementaskan karakter nista manusia yang sebenarnya. Padahal, perintah membangun silaturrahim telah diingatkan melalui firman-Nya : "Maka apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan ?. Mereka itulah orang-orang yang dilaknat Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka" (QS. Muhammad : 22-23).
Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas menjelaskan bahwa Allah mencela sikap kaum munafik yang enggan berjihad, membuat kerusakan di muka bumi, memutuskan silaturahmi, dan menolak kebenaran yang di bawa oleh Rasulullah. Untuk itu, Allah jadikan pendengaran tuli dan membutakan penglihatan mereka dari petunjuk-Nya. Bahkan, Rasulullah ﷺ memperkuat melalui sabdanya : "Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturrahim" (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam tataran ideal, silaturrahim mampu membuka hadirnya rezeki. Ajaran ini merupakan perintah agama. Hanya saja segelintir manusia hanya menjadikan silaturrahim sebagai "jalan kejahatan dan kepalsuan". "Silaturrahim" sebagai media "transaksi" untuk memuluskan tujuan dan ambisi yang berkelindan rapi.
Ada beberapa fenomena perilaku silaturrahim kepalsuan yang begitu kentara di depan mata, antara lain :
Pertama, Silaturrahim "penuh kepentingan" dan bertopeng kepura-puraan. Silaturrahim terselubung maksud tertentu ketika diri memiliki status. Tapi, tanpa status atau tak lagi bisa memberi manfaat, maka tak ada lagi silaturrahim. Model ini bak madu di kelopak bunga. Ketika ada madu, banyak kumbang yang hinggap "menikmati". Tapi, begitu madu kering dan bunga layu, ia akan ditinggalkan berguguran tanpa ada yang peduli.
Perilaku silaturrahim tanpa mengedepankan keikhlasan dan mengingat kebaikan sesama menjadi fenomena akhir zaman. Tampil silaturrahim ala "Qarun". Ketika miskin memelas dan berharap agar Allah mengabulkan doanya. Ketika harap telah terpenuhi, Allah dilupakan dan merasa ke-berhasilan yang diraih merupakan prestasinya, tanpa kuasa Allah apalagi orang lain. Sikap arogan ini membuatnya lupa Allah dan jasa orang lain (kacang lupa kulitnya).
Kedua, Kata memaafkan sebatas lipstik pemanis bibir. Padahal, hatinya terpatri dendam kesumat yang tak bertepi. Allah sangat mencela sikap kepalsuan yang demikian. Hal ini diingatkan melalui firman-Nya : "Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya (kikir). Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik" (QS. at-Taubah : 67).
Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas menjelas-kan karakter orang-orang munafik (laki-laki dan perempuan) yang saling mendukung dalam keburukan. Mereka bermufakat pada kemungkaran, memutuskan silaturrahim, bahkan melupakan Allah. Karakter ini merupakan sosok manusia fasik dan menyebabkannya semakin jauh dari rahmat-Nya. Sebab, silaturrahim yang dibangun sebatas kepura-puraan. Sikap kepalsuan yang harus dihindari. Untuk itu, setiap manusia perlu berusaha membersihkan hatinya. Jika masih terasa berat, jangan menampakkannya dalam perbuatan dan berusaha memaafkan dengan tulus.
Ketiga, Meminta maaf untuk selanjutnya melakukan kesalahan kembali. Majelis silaturrahim (halal bi halal) sebatas sere-monial ajang saling memaafkan, tanpa pernah menyesali apa yang dilakukan. Momentum ini acapkali menampilkan type manusia yang ditutupi, yaitu : (1) bagi pemilik status, ajang saling memaafkan sebagai kesempatan "membersihkan" kezaliman yang telah dilakukan. Kelak, kezaliman yang sama tetap dilakukan dan kembali dibersihkan pada silaturrahim selanjutnya. (2) bagi pihak yang penuh kepentingan, kesempatan silaturrahim menjadi peluang "bermanis bibir" mencari ruang meraih "simpati" sang penentu posisi. Hal ini terus terjadi setiap kesempatan silaturrahim sepanjang sejarah karakter kepalsuan. Hanya beda waktu, tempat, dan pelaku. Ketika "kepentingan" tak lagi diperlukan, maka silaturrahim tak lagi diperlukan.
Jadi, silaturrahim hanya ada tatkala ada kepentingan (posisi) dan terputus tatkala hilang "madu" yang diharapkan. Ternyata, silaturrahim hadir penuh kepalsuan dan diisi oleh manusia bertopeng kesalehan. Akibatnya, nilai silaturrahim mudah terbangun dan mudah terputus sesuai kepentingan yang dituju. Padahal, sifat yang demikian merupakan perilaku penduduk neraka. Hal ini diingatkan oleh Rasulullah ﷺ : "Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan tali persaudaraan (silaturrahim)" (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis di atas begitu tegas menjelaskan bahwa penyebar kebencian merupakan perilaku nista yang dibenci oleh Allah. Apalagi bila kebencian yang tersembunyi melalui topeng kesalehan. Allah mengingatkan dalam firman-Nya : "...Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar..." (QS. Ali Imran : 118-119).
Dalam Islam, sifat fasik terbagi dalam 2 (dua) bentuk, antara lain : (1) fasik besar (kufur). (2) fasik kecil (munafik dan zalim). Pelakunya diancam menempati neraka jahanam. Hal ini diingatkan melalui firman-Nya : "Wahai orang-orang yang beriman !. Jika seseorang yang fasik datang kepada-mu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan) yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu" (QS. Al-Hujurat : 6).
Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas mengingatkan agar melakukan tabayyun (verifikasi) terhadap berita yang dibawa orang fasik. Tujuannya agar tak terburu-buru menerima informasi dan mengambil tindakan yang bisa berakibat kezaliman atau fitnah atas informasi yang keliru. Namun, manusia acapkali tak mau peduli dan menerima info tanpa verifikasi atas informasi yang bersumber dari kaum fasik. Bahkan, menjadikan kaum fasik sebagai rujukan utama yang diposisikan "sekitar pinggangnya". Bila sang pengendali adalah kaum fasik dan sosok "kudanya" merupakan pemilik status yang berharap "belaian dan tumpukan rumput segar". Sayangnya, kuda tak sadar. Ketika tak bisa "berpacu dan menghasilkan pundi", ia akan dicampakan dan disembelih untuk sang pengendali berpindah mencari tumpangan lain.
Keempat, Silaturrahim serba pamrih. Silaturrahim dilakukan ketika "berbalas". Bila tak ada balasan, silaturrahim tak perlu dilakukan. Di sisi lain, silaturrahim tanpa mampu "mengunci" mata dan mulut atas apa yang dilihat ketika bersilaturrahim. Sebab, silaturrahim bukan "membandingkan" kekayaan dan makanan yang dihidangkan.
Kelima, Praktik silaturrahim dan halal bi halal akhir zaman tanpa mengedepankan adab. Praktik berkunjung sebatas "basa basi" dan kadangkala dengan melihat status sosial sebagai arah yang dituju. Ketika pelaku zalim "berstatus" digdaya dan si korban (terzalimi) berstatus jelata, maka sosok pelaku zalim akan didatangi oleh sosok yang terzalimi untuk "mengemis" minta maaf. Akibatnya, pelaku kezaliman semakin pongah dan korban kezaliman semakin tak dihargai. Seyogyanya, pelaku zalim yang bersilaturrahim ke pihak yang dizalimi. Sungguh sirna adab silaturrahim yang dicontohkan Rasulullah ﷺ. Padahal, beliau mengingatkan : "Barangsiapa yang pernah berbuat zalim terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apa pun, hendaklah dia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham..." (HR. Bukhari).
Hadis di atas seakan telah diputarbalikan. Ketika "kursi dan dirham" mampu dikuasai, maka kezaliman halal dilakukan dan kesalahan tak menuntut pintu meminta maaf. Sungguh, ternyata manusia bukan sebatas melakukan praktik silaturrahim kepalsuan, tapi menjurus silaturrahim kesombongan.
Saatnya setiap diri menilai tujuan, karakter, dan kualitas silaturrahim yang dilakukan. Sejauhmana ketulusan saling bermaafan yang diucapkan. Ketika ketulusan yang mewarnai, maka hadir pelangi indah yang melukiskan kedamaian. Namun, tatkala silaturrahim dan saling bermaafan sebatas menjaga tradisi dan validitas diri (mulia), maka hadir kepalsuan nyata yang menodai peradaban. Memang, "watak lalat tak bisa dirubah dengan wanginya parfum. Ia tetap akan berinteraksi dengan komunitasnya untuk mencari tumpukan sampah dan rindu aroma busuk yang menyengat". Demikian pelaku silaturrahim palsu akan mencari komunitasnya untuk mengokohkan kepalsuan. Sungguh, "sekolah ramadhan" telah diselesaikan, tapi tak semua mampu mendapatkan "ijazah-Nya" (muttaqien) sebagai warna karakter diri. Sebatas pernah ketemu, tapi tak saling mengenali. Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***
Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis