PEMIMPIN YANG SEDAR
Oleh: Drs. H. Ahmad Yani
Abdullah Al Imari hidup pada masa Khalifah Harun Ar Rasyid di Baghdad, Irak. Kepribadiannya dikenal sebagai orang yang sangat tekun dalam beribadah, luas ilmunya, dan semua orang dianggapnya sama dihadapan Allah swt. Alhasil, siapapun orangnya, ia tidak takut kepada orang itu kecuali hanya kepada Allah swt. Dengan kepribadian seperti itu, Abdullah dihormati dan disegani orang, meskipun ia termasuk orang yang miskin dari sisi harta.
Ketekunannya dalam ibadah nampak dari begitu rajinnya dalam membaca dan mengkaji al-Quran, serta berziarah kubur agar ingat kehidupan akhirat. Ketika seseorang bertanya tentang hal itu, ia menjawab, "Aku tidak mendapatkan sesuatu yang lebih mampu memberi nasihat, selain kuburan. Juga tidak ada yang lebih menenteramkan hatiku, kecuali al-Quran."
Kepada setiap orang ia menganjurkan agar melaksanakan amar makruf dan nahi munkar. Bila tidak, kebesaran Allah hilang dari dirinya. Itu sebabnya, siapa pun yang bertindak tidak benar, sebagai salah seorang pemimpin, ia tidak segan-segan menegur bahkan menentangnya, meskipun orang itu adalah atasannya.
Suatu ketika, Khalifah Harun Ar Rasyid menunaikan ibadah haji. Agar pelaksanaan ibadahnya berlangsung dengan lancar, para pengawal mengosongkan tempat sa'i. Dengan demikian, ia boleh berjalan dan berlari kecil antara shafa dengan marwa dengan tenang tanpa perlu berdesak-desakan karena ia telah dikelilingi para pengawal.
Hal itu membuat banyak jamaah haji menjadi kecewa, namun tidak ada seorang pun yang berani menegur, apalagi menentangnya. Pada saat itulah, Abdullah membuka mulutnya dengan menyatakan bahwa tindakan itu sama sekali tidak benar. Para pengawal mendekatinya lalu berkata, "Wahai Abdullah, khalifah sedang sa'i dan tempatnya telah dikosongkan agar beliau melaksanakan ibadah dengan lancar."
Dengan tegas Abdullah menjawab, "Wahai para pengawal, bila Harun Ar Rasyid telah berada di masjid, dia sama dihadapan Allah, termasuk bersama budaknya. Bahkan, mungkin saja budaknya itu justru lebih utama dihadapan Allah."
Tidak heran, Abdullah langsung menerolios ke tempat sa'i, meskipun orang lain tidak ada yang berani melakukannya. Setelah keduanya selesai melaksanakan sa'i, Abdullah memanggil Khalifah dengan namanya saja sehingga orang-orang menoleh kepadanya. Harun Ar Rasyid sendiri mencari-cari orang yang memanggilnya. Setelah tahu siapa yang memanggilnya, maka ia menjawab, "Labbaik, aku sambut panggilanmu." Setelah itu, Abdullah meminta Khalifah untuk naik ke bukit Shafa. "Lihatlah ke Masjidil Haram."
"Aku telah melihatnya," jawab Khalifah.
"Berapa jumlah orang-orang yang sedang tawaf itu?," tanya Abdullah.
Harun Ar Rasyid menjawab: "Siapa orang yang sanggup menghitungnya?."
Abdullah kemudian berkata, "Wahai Harun, pada hari kiamat nanti mereka akan ditanya Allah mengenai diri mereka sendiri. Akan tetapi, engkau selain ditanya tentang dirimu sendiri, juga ditanya tentang mereka di dunia. Oleh karena itu, pikirkanlah bagaimana keadaanmu nanti. Demi Allah, bila seseorang berfoya-foya dengan hartanya, ia akan ditindihkan batu. Maka, bagaimana orang yang berfoya-foya dengan harta kaum Muslimin?."
Mendengar hal itu, ia merasakan bagai ditusuk jarum sehingga air matanya mengalir begitu banyak. la menangis sejadi-jadinya karena takut akan siksa Allah swt kelak.
Kepribadian Abdullah begitu berpengaruh pada diri khalifah Harun Ar Rasyid sehingga ia semakin berhati-hati memimpin mengingat tanggungjawabnya yang sangat besar.
Dari kisah di atas, pelajaran yang dapat kita ambil adalah:
1. Pemimpin yang menyedari tanggungjawabnya yang besar di dunia dan akhirat membuatnya sangat hati-hati dalam memimpin agar tidak melakukan penyimpangan.
2. Adanya kesedaran seperti itu bila sang pemimpin mau mendengar nasihat dan kritik dari siapapun.
