DEFISIT EMPATI, SURPLUS VALIDASI
Oleh : Samsul Nizar
Sungguh, kehidupan akhir zaman begitu mencekam. Sebab, manusia telah kehilangan empati pada sesama. Tampil anggun ingin menguasai semua yang diinginkan tanpa peduli halal atau haram. Bahkan, kabut asap yang menyesakkan pernafasan disebabkan pemilik lahan yang defisit empati, tapi surplus validasi untuk menampil-kan kemewahan "kelas atas"(high class).
Lihat siapa yang memanfaatkan lahan pasca kebakaran. Mereka bukan orang "sembarangan". Fenomena yang berulang, tapi selalu "didiamkan" dan mengiris hati. Secara sederhana, defisit empati bermakna keadaan jiwa yang tak mampu atau enggan memahami dan merasakan perasaan atau apa yang dialami orang lain.
Sedangkan surplus validasi ketika kondisi kejiwaan yang mengharap pujian, pembenaran, atau pengakuan secara masif (luas dan berlebih-an) atas perasaan, tindakan, prestasi, atau varian lainnya. Harapan yang berlebihan tanpa peduli pada kebenaran objektif (realita sebenarnya). Sifat surplus validasi tak peduli atas dampaknya yang merugikan orang lain (peradaban). Namun, sifat ini secara psikologis membuatnya rapuh ter-hadap kritik, "luluh" pada pujian, dan tak bisa menerima kenyataan jika ada orang lain lebih hebat (benar) dibanding dirinya.
Ketika kedua fenomena di atas terjadi se-cara bersamaan atau melekat pada diri —biasanya didukung media sosial atau ling-kungan yang terpolarisasi—, maka kehadir-an siklus psikologisnya begitu berbahaya. Sebab, defisit empati dan surplus validasi menggiring manusia hanya menuntut pembenaran atas dirinya (surplus validasi). Akibatnya, ia akan kehilangan kemampuan untuk memahami atau menghargai perasa-an orang lain (defisit empati).
Kondisi ini diperparah oleh kehadiran "para penjilat" dan budaya media sosial yang begitu masif mempublikasikannya. Sebab, medsos meru-pakan algoritma peradaban yang memang dirancang memuaskan ego penggunanya.
Secara spesifik, defisit empati dan surplus validasi begitu nyata dalam kehidupan. Pe-ngembangannya antara lain :
Pertama, Defisit empati. Secara teoritis, defisit empati terjadi ketika seseorang tidak mampu atau tidak mau melihat me-nyelaraskan diri dengan emosi, keperluan, dan sudut pandang orang lain. Sifat ini memunculkan ego diri berlebihan tanpa peduli pada sesamanya.
Defisit empati terindikasi tatkala "hati mati rasa" atas perasaan dan derita orang lain, sulit mendengarkan nasihat, suka menghakimi, atau menyepelekan masalah orang lain dan tak perlu dipedulikan. Akibatnya, hilang keharmonisan, semakin dangkal hubungan antar pribadi, hilang rasa kepedulian sosial, dan semakin subur sikap mementingkan diri (ego-narsistik).
Untuk itu, Islam mengajarkan agar manusia berempati pada sesamanya. Dalam hal ini, Rasulullah ﷺ menjelaskan dalam sabdanya : "Perumpamaan orang-orang beriman dalam cinta, kasih sayang, dan kelembutan mereka layaknya tubuh. Bila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuhnya turut merasakan susah tidur dan demam." (HR. Bukhari dan Muslim).
Perumpamaan hadis di atas begitu jelas, tapi acapkali dinafikan. Mungkin hati manu-sia telah mati rasa (lumpuh) atau membatu.
Kedua, Surplus validasi. Surplus validasi adalah karakter manusia yang hanya menerima atau menuntut pengakuan dan pujian (sanjungan) secara berlebihan atas apa pun yang dilakukan atau dipikirkan. Si-fat ini membuatnya begitu ketergantungan pada komentar yang berisi pujian yang dialamatkan untuk menghargainya. Untuk itu, ia hanya menginginkan komentar yang berisi dukungan atas semua perilaku dan tindakannya (echo chamber). Sifat ini membuatnya merasa selalu --paling-- benar, rapuh terhadap kritik, dan tidak bisa menerima kenyataan jika ada orang lain yang berbeda pendapat atau lebih baik dari dirinya. Untuk itu, ia hanya peduli dan menghargai pada sosok pribadi atau komunitas yang memujinya. Sebaliknya, ia sangat membenci (dendam) pada pribadi atau komunitas yang berseberangan deng-an dirinya. Ruang ini membuat hadirnya "para penjilat" yang memanfaatkan kelemahan "manusia surplus validasi" untuk memperoleh apa yang diinginkan.
Kehadiran para penjilat membuat manusia surplus validasi semakin kehilangan "akal sehat". Ia terbuai semakin tinggi melampaui awan. Namun, ketika saatnya terjatuh, ia akan kehilangan "para penjilat" yang selama ini mengagungkannya. Ketika itu, ia bagaikan "sampah" yang tak lagi disentuh, bahkan oleh lalat sekalipun.
Ketika seseorang mengalami defisit empati dan surplus validasi, mereka akan menjadi pribadi yang egosentris. Mereka merasa berhak mendapatkan perhatian dan pembenaran penuh dari lingkungan sekitarnya (surplus validasi), namun di saat yang sama, mereka menutup mata dan hati terhadap penderitaan atau hak-hak orang lain di sekitarnya (defisit empati).
Manusia yang defisit empati memiliki sifat ego yang begitu tinggi. Ketika ada tujuan penuh "pengharapan", kata dan janji manis terangkai melebihi manisnya madu. Silaturrahim begitu intens dilakukan dengan kepala "tertunduk" penuh harap. Bak pepatah Melayu "licin anak tangga" sampai tujuannya tercapai. Tapi, begitu harapan telah digapai, "berdebu anak tangga" tak pernah lagi dikunjungi dan putus silatur-rahim. Andai bersua, "kepala tegak dan membusungkan dada" melebihi kesombong-an Fir'aun. Seakan tak pernah menerima kebaikan dan pertolongan dari sesama.
Meski hati kecil "bergumam kebenaran", tapi nafsu keakuan menafikannya. Untuk itu, upaya validasi menjadi cara menampil-kan keberhasilan diri agar terlihat hebat tanpa bantuan. Kondisi psikologis manusia yang demikian dinyatakan Allah melalui firman-Nya : "Sekali-kali tidak !. Sungguh, manusia itu benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya sudah cukup" (QS. al-’Alaq : 6-7).
Menurut Wahbah Az-Zuhaili, ayat dinatas menjelaskan bahwa manusia cenderung menjadi sombong dan angkuh. Ia tertipu oleh ilusi bahwa kekayaan, kepintaran, kekuasaan, atau kedudukan merupakan hasil usaha sendiri dan membuatnya tak memerlukan orang lain, bahkan bantuan Allah SWT. Mereka bagaikan sifat Qorun yang "lupa kacang akan kulitnya".
Merasa hebat tanpa pernah menerima bantuan atau melupakan kebaikan orang lain merupakan jebakan ego (ujub) yang mengeraskan hati. Sifat ini membuat manusia menafikan dan lupa pada takdir-nya sebagai makhluk sosial yang lemah dan selalu bergantung pada pencipta-Nya.
Anehnya, sifat defisit empati dan surplus validasi hadir pada manusia cerdas secara intelektual dan memiliki status dalam kehidupan sosial. Tapi, manusia yang demikian tak merasa hilangnya rahmat dan keberkahan Allah dari dirinya. Untuk itu, Allah mengingatkan melalui firman-Nya : “Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa dan tidak berterima kasih.” (QS. Hud : 9).
Menurut Ibn Katsir, ayat di atas menjelas-kan tabiat dasar manusia yang kerap kali tidak stabil dalam menyikapi nikmat dan ujian dari Allah SWT. Ketika memperoleh nikmat, membuatnya lupa diri dan luput bersyukur (terima kasih). Tapi, begitu musibah menimpa, membuatnya goyah, putus asa, berburuk sangka, membangun opini negatif (fitnah), kehilangan iman dan lepas kendali layaknya hewan buas.
Sungguh, peradaban akhir zaman sedang mengalami defisit empati dan surplus validasi. Kepedulian penuh kepentingan dan medsos dipenuhi ruang untuk meraih validasi. Bahkan, hal-hal sepele dan sege-lintirnya bersifat privasi ikut dipamerkan. Anehnya, "kuasa dan status" menjadikan semua yang dipamerkan mendapat pujian. Pujian dari komunitas toxic akan merusak akal sehat dan semakin jauh dari rahmat-Nya. Namun, manusia hanya peduli pada berbagai pujian dan "murka" bila disalah-kan. Sikap masa bodoh dikedepankan bak peribahasa"anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu". Meski begitu nyata kemung-karan dan kemunafikan dipertontonkan, lidah berkelit memutar alasan dan pamer kesalehan (validasi) untuk menutupi semua kesalahan. Padahal, perilaku yang demikian telah diingatkan oleh Rasulullah ﷺ dalam sabdanya: "Barangsiapa yang memper-dengarkan amalnya (sum'ah), maka Allah akan memperdengarkan (aibnya) kepada manusia. Dan barangsiapa yang memperlihatkan amalnya (riya), maka Allah akan memperlihatkan (aibnya) kepada manusia" (HR. Bukhari dan Muslim).
Meski Islam melarang umat agar menjauhi buruk sangka atas kebaikan sesamanya, apalagi "mempertontonkannya", tapi Allah Maha Tahu isi hati hamba-Nya yang fujur atau taqwa. Untuk itu, Islam memerintah-kan agar fokus menjaga ibadah dengan pondasi keikhlasan, bukan berharap pujian apalagi terselubung ruh kemunafikan. Secara logika terbalik, semakin kokoh budaya validasi dan kepentingan, maka semakin hilang empati pada diri dan kebenaran. Manusia yang mengedepankan validasi akan menyuburkan "keakuan" dan runtuhnya kepedulian (empati). Mereka bukan kurang ilmu dan tak mengerti hukum atau agama, tapi kehilangan "ruh kemanusiaan" dan iman dari diri dan kehidupannya, na'uzubillah. Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***
Prof Samsul Nizara adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis
Sumber: riaupos.jawapos.com
PERTEMUAN MENGUBAH ARAH
Menghadap Guru Sebelum Melangkah Ke Sarjana
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah mengurniakan kepada kita nikmat iman, Islam, al-Quran, kesihatan, masa dan kesempatan untuk duduk bersama-sama dalam majlis ilmu dan zikir.
Selawat dan salam kita panjatkan kepada junjungan besar Nabi Muhammad ﷺ, ahli keluarga Baginda, para sahabat dan mereka yang mengikuti Baginda dengan ihsan sehingga hari kiamat.
Di sini saya ingin kongsikan memoir perjalanan menuntut ilmu di United Kingdom.
Sekembalinya saya ke Malaysia setelah menamatkan pengajian di peringkat ijazah, saya memulakan kerjaya sebagai pensyarah di Universiti Teknologi Malaysia (UTM). Setelah berkhidmat selama setahun, pada tahun 1985, saya menerima tawaran untuk melanjutkan pengajian ke peringkat sarjana di United Kingdom.
Peluang ini bukan sahaja membuka ruang untuk mengembangkan ilmu dan kerjaya akademik, tetapi juga membolehkan saya meneruskan perjalanan mengenal diri dan memperdalam hubungan perguruan dengan Shaykh Abdalqadir as-Sufi yang menetap di London, England.
Bagi saya, sebelum memulakan langkah penting dalam kehidupan, adalah menjadi adab untuk menghadap guru bagi menyampaikan perkembangan diri serta memohon nasihat dan doa. Saya memahami bahawa menuntut ilmu bukan sekadar usaha memperoleh kelayakan akademik, tetapi juga perjalanan membentuk diri, mendidik hati dan memanfaatkan ilmu dengan sebaik-baiknya.
Dengan hasrat tersebut, saya berusaha mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan Shaykh Abdalqadir as-Sufi sebelum memulakan pengajian sarjana. Alhamdulillah, pada suatu hari Sabtu, saya dimaklumkan bahawa beliau bersetuju menerima kunjungan saya di rumah Sidi Ibrahim Thompson, seorang murid beliau yang ketika itu menetap di London.
Pertemuan tersebut menjadi permulaan kepada satu pengalaman perguruan yang meninggalkan kesan mendalam dalam perjalanan ilmu dan kehidupan saya.
Saya memandu kereta di musim sejuk dari Loughborough ke London bersama isteri saya, Wan Aini. Walaupun perjalanan itu agak jauh, hati saya terasa ringan kerana berpeluang bertemu kembali dengan guru yang banyak mempengaruhi perjalanan hidup saya.
Setibanya di rumah Sidi Ibrahim, saya meminta isteri saya Wan Aini menunggu di dalam kereta.
“Sekejap sahaja, Aini. Abang hendak memberi salam kepada Shaykh, bertanya khabar, kemudian kita pulang.” pesanan saya ringkas.
Saya menyangka pertemuan itu sekadar kunjungan ringkas. Namun, saya tidak mengetahui bahawa beberapa jam berikutnya akan menjadi antara pengalaman perguruan yang sangat berkesan dalam hidup saya.
Sidi Ibrahim Thompson menyambut saya dan membawa saya masuk ke ruang tamu. Masya-Allah, Shaykh Abdalqadir sedang duduk di situ. Dia menunggu kedatangan saya. Kami berpelukan dan bertanya khabar. Saya memberitahu beliau bahawa saya telah kembali ke England untuk menyambung pengajian sarjana untuk tempoh setahun.
Beliau mendengar dengan tenang, tersenyum dan berseloroh bahawa saya akan baik-baik sahaja. Tidak ada sambutan yang berlebihan, tetapi terdapat suatu keakraban yang sukar digambarkan. Hati saya begitu tenang bertemu Shaykh. Saya merasakan bahawa saya bukan sekadar datang mengunjungi seorang tokoh ilmu, tetapi kembali bertemu seorang guru yang mengambil berat tentang perjalanan hidup muridnya.
Perbualan yang pada mulanya kelihatan biasa akhirnya berkembang menjadi suatu sesi tarbiah yang panjang. Daripadanya, saya semakin memahami bahawa perhatian seorang guru tidak semestinya dizahirkan melalui kata-kata pujian atau nasihat yang panjang. Kadangkala, ia hadir melalui pertanyaan, teguran, kesungguhan membetulkan kefahaman dan keprihatinan terhadap perkara yang mungkin dianggap kecil oleh seorang murid.
Zikir yang Melahirkan Amal
Dalam pertemuan itu, Shaykh bercerita tentang perkembangan komuniti dan jemaahnya di United Kingdom. Beliau menjelaskan pendiriannya terhadap amalan zikir berjemaah (zikir berkumpulan) yang pernah menjadi kebiasaan dalam kalangan sebahagian muridnya. Malah itulah yang dilakukan Shaykh ketika saya belajar di Norwich dahulu sehingga saya pulang ke Malaysia pada tahun 1983.
Menurut penjelasan beliau, terdapat kecenderungan menjadikan majlis zikir sebagai acara sosial pada hujung minggu. Para murid berkumpul, berzikir, menikmati suasana kerohanian dan kemudian makan bersama. Namun, pengalaman tersebut tidak semestinya diterjemahkan kepada amal yang berterusan dalam kehidupan seharian.
Bagi Shaykh, keadaan ini perlu diperbetulkan. Zikir tidak sepatutnya terhenti sebagai suatu pengalaman dalam majlis, tetapi perlu menghidupkan kesedaran, memperkukuh ketaatan kepada Allah dan mendorong seseorang melakukan amal yang bermanfaat.
Zikir seharusnya melahirkan kesungguhan menuntut ilmu, keberanian menyampaikan kebenaran dengan hikmah, kesediaan berkhidmat kepada masyarakat dan kemampuan membina kehidupan yang lebih baik. Hubungan dengan Allah swt tidak boleh dipisahkan daripada tanggungjawab terhadap manusia.
Saya memahami bahawa ketegasan Shaykh bukan sekadar soal pendekatan berzikir. Beliau sedang mengingatkan murid-muridnya tentang tujuan sebenar perjalanan tarekat: mendidik manusia supaya kehidupan mereka semakin dekat kepada Allah dan semakin bermanfaat kepada makhluk-Nya.
Beliau turut berkongsi bahawa pendiriannya itu tidak diterima oleh semua orang. Ada yang tidak bersetuju, malah ada yang akhirnya menjauhkan diri. Saya memilih untuk tidak menyebut nama individu yang diceritakan kerana perkara yang lebih penting ialah pengajaran daripada peristiwa tersebut.
Daripada perbualan itu, saya belajar bahawa seorang guru yang benar-benar mengambil berat tentang muridnya tidak semestinya sentiasa menyenangkan hati mereka. Ada masanya beliau perlu menegur, membetulkan kefahaman dan mengajak mereka meninggalkan kebiasaan yang tidak lagi membawa kepada tujuan asal.
Zikir bukan pengganti amal. Zikir seharusnya menjadi kekuatan yang menggerakkan amal.
“Tariqa Is Nothing Else but Study”
Antara ungkapan Shaykh yang paling saya ingati ialah:
“Tariqa is nothing else but study.”
Tarekat itu tidak lain daripada belajar. Beliau mahu muridnya setelah memeluk Islam, belajar dan menambah ilmu. Islam adalah agama berteraskan ilmu.
Ungkapan ini membuka ruang pemahaman yang lebih luas tentang maksud perjalanan kerohanian. Bagi Shaykh, seseorang yang menempuh jalan tarekat tidak boleh berpuas hati dengan pengalaman rohani semata-mata. Dia perlu terus belajar, memperdalam ilmu, menguasai bidang yang diceburi dan menggunakan pengetahuan tersebut untuk menyumbang kepada masyarakat.
Saya masih ingat bagaimana beliau menggalakkan murid-muridnya melanjutkan pelajaran ke peringkat yang lebih tinggi. Sejak sekitar tahun 1985, beliau telah mendorong mereka supaya melanjutkan pengajian hingga ke peringkat sarjana dan kedoktoran. Beliau menyebut beberapa murid yang mengikuti laluan tersebut, antaranya Sidi Yassin Dutton di Oxford, Asadullah di Cambridge dan Aishah Bewley di Universiti Kaherah.
Daripada penekanannya terhadap pendidikan, saya melihat bahawa Shaykh tidak mahu melahirkan generasi yang hanya mahir dalam amalan kerohanian, tetapi juga berilmu, berwibawa dan mampu memahami cabaran zaman.
Dalam konteks itu, keputusan saya menyambung pengajian sarjana bukanlah sesuatu yang terpisah daripada perjalanan tarekat. Sebaliknya, ia selari dengan pendidikan yang beliau tekankan: kesungguhan menuntut ilmu sebagai sebahagian daripada tanggungjawab seorang Muslim.
Perhatian Shaykh terhadap pendidikan muridnya juga mengajar saya bahawa seorang guru tidak seharusnya membataskan murid kepada lingkungan perguruan semata-mata. Guru perlu membantu murid mengenali potensi diri, mengembangkan kebolehan dan memenuhi tanggungjawab mereka dalam bidang masing-masing.
Ilmu matematik, statistik dan sains pengurusan yang saya pelajari bukan sekadar untuk membina kerjaya akademik. Saya semakin memahami bahawa ilmu tersebut boleh menjadi alat untuk menyelesaikan masalah masyarakat, memperbaiki kehidupan manusia dan melaksanakan amanah sebagai hamba Allah.
Dengan itu, saya melihat pengajian sarjana dan kedoktoran sebagai sebahagian daripada perjalanan pembentukan diri. Ibadah bukan hanya terbatas pada amalan yang dilakukan di masjid atau dalam majlis zikir. Menuntut ilmu dengan niat yang benar, bersungguh-sungguh melaksanakan amanah dan menggunakan kepakaran untuk manfaat orang lain juga merupakan sebahagian daripada kehidupan seorang Muslim yang beribadah kepada Allah.
Guru yang Diuji oleh Kesetiaan
Di tengah-tengah perbualan itu, Shaykh turut menceritakan suatu tempoh sukar dalam hidupnya ketika beliau jatuh sakit. Dengan suara yang lebih perlahan, beliau menyebut beberapa orang yang tetap datang menziarahi dan membantu, antaranya Haji Abdul Aziz, Haji Abdul Haq, Haji Isa, Asadullah dan Ibrahim.
Saya mendengar dengan penuh perhatian. Kisah itu memperlihatkan satu sisi kehidupan seorang guru yang mungkin tidak selalu disedari oleh murid-muridnya. Seseorang yang menjadi tempat ramai bergantung, mendapatkan nasihat dan mencari bimbingan juga mempunyai saat-saat kelemahan, kesakitan dan kesunyian.
Ketika seseorang guru berada dalam keadaan yang baik, ramai mungkin ingin mendampinginya. Namun, apabila beliau diuji, kesetiaan dan keikhlasan hubungan itu dapat dilihat dengan lebih jelas.
Walaupun menceritakan pengalaman yang berat, Shaykh tidak menjadikan perkara itu sebagai alasan untuk menuntut kesetiaan secara paksa daripada sesiapa. Beliau berkata:
“It’s not my doing, whether they follow me or not. I just want the best for the fuqara.”
Maksudnya, sama ada mereka mengikutinya atau tidak, perkara itu bukan sesuatu yang dapat beliau tentukan. Apa yang beliau inginkan hanyalah yang terbaik untuk para fuqara, iaitu sahabat-sahabat yang menempuh jalan kerohanian bersamanya.
Kata-kata tersebut amat berkesan dalam hati saya. Saya melihat suatu pengajaran tentang tanggungjawab seorang guru: beliau perlu menyampaikan apa yang diyakininya benar, membetulkan apa yang perlu diperbetulkan dan memberikan arah yang sebaik-baiknya. Namun, beliau tidak boleh memaksa hati manusia.
Seorang guru mungkin menunjukkan jalan, tetapi setiap murid tetap bertanggungjawab terhadap pilihan dan amalnya sendiri. Hidayah dan kesudahan perjalanan seseorang tetap berada dalam ketentuan Allah.
Di situlah saya melihat kecaknaan seorang guru yang tidak berpusat pada kepentingan dirinya. Apa yang lebih utama baginya ialah kebaikan murid-muridnya, walaupun mereka tidak semestinya bersetuju atau terus berjalan bersamanya.
Teguran yang Mengajar Saya Menghormati Isteri
Daripada sekian banyak perkara yang dibincangkan pada hari itu, ada satu peristiwa kecil yang paling kuat melekat dalam ingatan saya.
Ketika perbualan sedang berlangsung, Shaykh tiba-tiba bertanya:
“How did you come here? Who did you come with?”
Saya menjawab bahawa saya datang bersama isteri tetapi saya memintanya menunggu di dalam kereta kerana menyangka kunjungan itu hanya sebentar.
Wajah Shaykh berubah. Dengan tegas, beliau berkata:
“Go and bring her in immediately!”
Tak sangka Shaykh agak meninggikan suara. Tanpa berlengah saya segera keluar untuk memanggil Wan Aini masuk. Apabila kami melangkah masuk, Shaykh terus meminta maaf kepadanya kerana keadaan yang berlaku.
Peristiwa itu benar-benar menyentuh hati saya. Saya datang untuk bertemu guru, dengan niat mendapatkan nasihat dan keberkatan dalam perjalanan menuntut ilmu. Namun, tanpa saya sedari, saya telah mengetepikan seseorang yang turut hadir bersama saya dalam perjalanan tersebut.
Shaykh tidak membiarkan perkara itu berlalu begitu sahaja. Beliau menegur saya dan memastikan Wan Aini turut diberikan tempat yang sewajarnya dalam pertemuan tersebut.
Pada pandangan saya, inilah antara contoh paling jelas tentang kecaknaan Shaykh terhadap muridnya. Beliau bukan sahaja mengambil berat tentang perkembangan ilmu dan kerohanian saya, tetapi juga mendidik saya supaya tidak mengabaikan tanggungjawab terhadap keluarga.
Saya belajar bahawa adab kepada guru tidak boleh dipisahkan daripada adab kepada isteri dan keluarga. Tidak memadai seseorang itu bersungguh-sungguh dalam urusan agama, menghadiri majlis ilmu atau menempuh jalan tarekat, jika pada masa yang sama dia mengabaikan hak orang yang paling dekat dengannya.
Isteri bukan sekadar teman yang menemani perjalanan fizikal. Dia juga sebahagian daripada kehidupan, perjuangan dan amanah yang perlu dipelihara. Penghormatan terhadapnya bukan perkara sampingan, tetapi sebahagian daripada akhlak yang perlu dibentuk dalam diri seorang murid.
Saya tidak mengingati peristiwa itu sebagai suatu teguran yang memalukan, sebaliknya sebagai hadiah pendidikan daripada seorang guru. Shaykh membantu saya melihat kekurangan yang tidak saya sedari sendiri.
Di situlah saya memahami bahawa tarbiah yang sebenar bukan hanya membentuk apa yang kita fikirkan, tetapi juga membetulkan cara kita bertindak dan melayani orang lain.
Kecaknaan yang Membentuk Seorang Murid
Apabila saya menoleh kembali kepada pertemuan di London itu, saya melihat bahawa kecaknaan Shaykh terhadap muridnya hadir dalam pelbagai bentuk, dalam pelbagai keadaan.
Beliau mengambil berat tentang ilmu yang dipelajari, arah yang dipilih, kesungguhan beramal dan kemampuan murid memberikan sumbangan kepada masyarakat. Beliau juga tidak teragak-agak menegur apabila melihat sesuatu yang perlu diperbetulkan, termasuk perkara yang menyentuh adab dan tanggungjawab terhadap keluarga.
Kecaknaan seperti ini tidak semestinya ditunjukkan melalui ungkapan kasih sayang yang berpanjangan. Kadangkala, ia hadir melalui tuntutan yang tinggi, pertanyaan yang mencabar, nasihat yang tegas dan teguran yang membuatkan seseorang kembali menilai dirinya.
Saya semakin memahami bahawa seorang murid tidak seharusnya mengukur kasih seorang guru berdasarkan sejauh mana guru itu memenuhi kehendaknya atau sentiasa bersetuju dengannya. Ada kalanya, perhatian yang paling bermakna ialah kesediaan seorang guru untuk menegur murid demi kebaikan yang lebih besar.
Pada masa yang sama, pengalaman ini mengingatkan saya bahawa hubungan guru dan murid bukan alasan untuk menyerahkan tanggungjawab diri kepada orang lain. Guru membimbing, tetapi murid perlu berusaha. Guru menunjukkan arah, tetapi murid perlu berjalan. Guru menyampaikan nasihat, tetapi murid perlu menterjemahkannya ke dalam kehidupan.
Bagi saya, itulah hubungan perguruan yang menghidupkan ilmu: hubungan yang mendorong murid menjadi lebih matang, bertanggungjawab dan sedar akan amanahnya kepada Allah serta sesama manusia.
Ilmu sebagai Ibadah, Khidmat sebagai Pembuktian
Saya pulang dari London dengan hati yang penuh. Perjalanan yang pada mulanya saya anggap sekadar kunjungan ringkas telah membuka ruang untuk saya menilai semula makna pengajian dan hubungan saya dengan guru.
Saya datang untuk memaklumkan bahawa saya akan memulakan pengajian sarjana. Namun, saya pulang dengan kefahaman yang lebih luas tentang tujuan menuntut ilmu.
Pengajian saya bukan sekadar usaha memperoleh kelayakan akademik. Ia perlu menjadi sebahagian daripada tarbiah diri, suatu amanah yang menuntut kesungguhan, disiplin dan keikhlasan. Ilmu yang diperoleh pula tidak seharusnya berhenti pada diri sendiri, tetapi perlu diterjemahkan kepada amal dan khidmat.
Pengalaman itu turut memperkukuh kefahaman saya bahawa perjalanan tarekat tidak terpisah daripada kehidupan sebenar. Ia bukan sekadar wirid, zikir atau pengalaman dalam majlis kerohanian. Ia perlu membentuk manusia yang lebih bertakwa, berilmu, berakhlak dan bertanggungjawab. Saya dididik untuk sedar Allah mengetahui segala yang dilakukan.
Dalam perjalanan hidup saya selepas itu, termasuk sebagai ahli akademik, saya semakin menghargai hubungan antara ilmu dengan khidmat. Kepakaran dalam matematik, statistik dan sains pengurusan memberikan ruang untuk saya menyumbang kepada masyarakat, sementara pendidikan kerohanian mengingatkan saya tentang niat, batas dan tanggungjawab di sebalik setiap usaha.
Semakin jauh saya berjalan, semakin saya memahami bahawa ilmu yang tidak membawa kepada amal belum mencapai tujuan yang sepenuhnya. Begitu juga amalan kerohanian yang tidak memperbaiki akhlak dan hubungan sesama manusia perlu dinilai kembali dengan jujur.
Penutup: Guru yang Membentuk Kehidupan
Itulah antara kenangan saya bersama Shaykh Abdalqadir as-Sufi, seorang guru yang meninggalkan kesan mendalam dalam perjalanan ilmu dan kerohanian saya.
Daripada beliau, saya belajar bahawa zikir perlu melahirkan amal; tarekat menuntut pembelajaran yang berterusan; ilmu perlu digunakan untuk manfaat manusia; dan hubungan dengan Allah perlu tercermin dalam akhlak terhadap sesama insan.
Saya juga belajar bahawa kecaknaan seorang guru tidak hanya terletak pada kemampuannya memberikan ilmu, tetapi pada kesungguhannya membantu murid mengenali kekurangan diri, mengembangkan potensi dan memenuhi tanggungjawab kehidupan.
Teguran beliau supaya saya membawa Wan Aini masuk ke rumah mungkin kelihatan sebagai suatu peristiwa kecil. Namun, bagi saya, itulah antara pelajaran yang paling dekat dengan kehidupan: jangan sampai kesungguhan mengejar sesuatu yang kita anggap mulia menyebabkan kita mengabaikan amanah yang telah berada di sisi kita. Shaykh mengingatkan melalui peristiwa yang sering dianggap kecil.
Hari ini, apabila saya mengenang kembali perjalanan tersebut, saya menyedari bahawa seorang guru boleh meninggalkan kesan yang jauh melampaui tempoh pertemuan dengannya. Kata-katanya mungkin diingati, tetapi contoh dan tindakannya boleh terus membentuk cara seorang murid melihat dunia, melayani manusia dan menjalani kehidupannya.
Saya bersyukur kerana diberi kesempatan untuk mengenali Shaykh Abdalqadir as-Sufi dan menerima pendidikan yang bukan sahaja menyentuh pemikiran, tetapi turut mengajak saya menilai hati, akhlak dan tanggungjawab diri.
Semoga Allah SWT merahmati Shaykh Abdalqadir as-Sufi Rahimullah, mengurniakan ganjaran atas segala kebaikan dan ilmu yang disampaikannya, serta menjadikan kami dalam kalangan mereka yang mampu mengambil manfaat daripada pengajaran guru-guru kami.
Kerana akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah perguruan bukan hanya pada banyaknya ilmu yang diwariskan, tetapi pada sejauh mana ilmu itu membentuk manusia yang lebih mengenal Allah, memperbaiki dirinya dan berkhidmat kepada sesama insan.
Prof. Dr. Zuhaimy Ismail
Sumber: zuhaimyismail.blogspot.com
MENUNGGU KEMATIAN BUKU
Homo sapiens (manusia) adalah makhluk yang pandai beradaptasi. Kalau tak pandai pastilah sudah punah sejak lama, seperti nasib homo erectus, homo habilis, dan homo neanderthal. Tapi, homo sapiens juga dikenal makhluk paling ngeyel dalam menyikapi setiap perubahan. Jika ada sesuatu yang berubah di sekitarnya, manusia secara spontan akan menolak atau paling tidak menunda untuk menerimanya.
Beradaptasi memang bukan perkara mudah. Tak ada orang yang dengan enteng meninggalkan zona nyaman. Seperti kata John Maynard Keynes, ekonom agung asal Inggris itu: “yang jadi masalah bukanlah mendukung ide-ide baru, tapi bagaimana meninggalkan kebiasaan lama.” Kita sering antusias berbicara tentang hal-hal futuristik, tapi begitu hal-hal itu ada di depan kita, belum tentu kita siap menerimanya.
Ini berlaku pada dunia perbukuan dan bagaimana kita menyikapi buku. Sejak semakin mudahnya akses terhadap internet, industri bacaan digital semakin bergelora. Perusahaan-perusahaan baru terus lahir, mengikuti jejak sukses Amazon, toko buku online pertama yang jenis usahanya kini merambah beyond books. Perusahaan-perusahaan lama tak mau ketinggalan, ikut terjun membuka toko online atau membuka layanan digital bagi para pelanggannya.
Masalahnya adalah agresivitas industri buku digital tidak diiringi dengan turn-out yang sepadan. Kendati hampir semua orang berbicara tentang ebook sebagai masa depan buku dan ratusan toko buku virtual didirikan setiap tahunnya, angka penjualan buku-buku digital tidak seperti yang diharapkan.
Sebagai contoh, Amazon, toko buku terbesar di planet ini, hanya mampu mengeruk 7% dari total revenue tahunannya. Sebagian besar pemasukan Amazon bukan dari penjualan buku, kendati perusahaan ini memulai bisnisnya dari buku (dan sampai sekarang dikenal lebih sebagai toko buku ketimbang yang lainnya). Hal yang sama dirasakan oleh Gramedia, penerbit terbesar di Indonesia. Revenue dari hasil penjualan buku digitalnya tak sampai 1%. Penjualan terbesar tetaplah buku cetak.
Mengapa hal itu bisa terjadi? Mengapa di satu sisi terjadi penurunan daya beli masyarakat terhadap buku cetak, tapi pada saat yang sama, orang masih enggan mengeluarkan uangnya untuk membeli buku digital? Apakah telah terjadi penurunan minat baca umat manusia dalam beberapa tahun terakhir?
Banyak penjelasan mengenai hal ini. Ada yang mengatakan bahwa dengan semakin banyaknya alternatif bacaan di internet, perhatian orang terhadap buku menjadi berkurang. Jika sebelumnya orang mendapatkan informasi dari media konvensional (majalah, koran, tabloid, plus TV dan radio), kini semuanya tergantikan dengan internet. Waktu orang untuk membaca buku (cetak) semakin tergerus.
Ada yang mengatakan bahwa orang pada dasarnya belum siap membeli buku secara online. Alasannya bermacam-macam, dari soal ketidakpunyaan akses pembayaran (kartu kredit, paypal, dll), kegagapan terhadap teknologi, hingga ketidakpercayaan bertransaksi secara online. Orang-orang seperti ini mayoritas jumlahnya dan mereka lebih menikmati buku-buku (atau materi tulisan lainnya) secara gratis. Dengan kata lain, mereka mau baca jika bisa diakses secara gratis.
Saya kira, alasan-alasan itu cukup masuk akal. Kita hidup di zaman transisi. Jangan lupa, meskipun internet sudah ada sejak tahun 60an, penggunaannya secara masif baru terjadi dalam satu atau dua dekade belakangan. Di Amerika dan beberapa negara maju, internet mulai digunakan banyak orang sejak era 2000an, sementara di Indonesia, baru sejak 10 atau 15 tahun terakhir. Sebelum itu, internet adalah gurun pasir yang jarang dilewati orang.
Menurut laporan Internet Society, organisasi internet terbesar di dunia, hingga May 2015, pengguna internet di seluruh dunia berjumlah tiga miliar orang, atau sekitar 41% dari total jumlah penduduk di planet Bumi. Artinya, masih ada lebih dari separuh penduduk Bumi yang belum menggunakan internet. Dari jumlah 3 miliar pengguna itu, sebagian adalah generasi yang sebagian besar hidupnya berada dalam “paradigma cetak.”
Sebagian besar pengguna internet mengakses informasi dari gawai cerdas (smartphone). Selama lebih dari seribu tahun, bentuk buku tidak banyak berubah. Ukurannya hanya bisa diakomodasi dengan komputer PC berlayar lebar, atau dengan tablet ukuran 7 hingga 10 inci.
Upaya yang dilakukan Amazon mengeluarkan Kindle dengan ukuran yang lebih kecil dari rata-rata buku cetak dan tablet adalah sebuah revolusi. Mungkin perlu beberapa puluh tahun atau beberapa generasi agar manusia terbiasa dengan ukuran baru itu.
Ada cara lain yang mungkin lebih singkat. Yakni mengubah konsep buku. Bayangan tentang buku sebagai sebuah benda berukuran folio (12X15) atau quarto (9.5X12) sudah harus dihilangkan. Bagi sebagian besar generasi yang lahir sebelum tahun 2000, sulit menghilangkan konsepsi itu. Tapi, bagi generasi yang lahir setelah era internet, mengubah konsepsi itu mungkin lebih mudah.
Ukuran standar buku tak hanya menyangkut soal dimensi, tapi juga terkait isi. Buku didefinisikan sebagai kumpulan informasi yang tebal, mendalam, dan sistematis, berbeda dari makalah atau artikel yang bersifat tipis dan instan. Makalah baru layak disebut buku jika ia dikumpulkan, disusun, dan dicetak dalam bentuk yang tebal.
Dengan hadirnya gawai cerdas yang rata-rata berukuran 2.5 hingga 5 inci, konsep buku harus mengalami adaptasi. Sebelum manusia bisa beradaptasi dengan bacaan baru, format buku tampaknya harus mengalami adaptasi terlebih dahulu. Buku tidak lagi harus terikat pada halaman-halaman yang baku, tapi harus cair mengikuti format gawai yang beredar di pasaran.
Istilah “buku” mungkin juga harus diganti atau harus mengalami pemaknaan ulang. Ukuran buku tidak perlu lagi seberapa tebal atau seberapa banyak jumlah halamannya, tapi seberapa banyak kata atau karakter yang dikandungnya. Dengan demikian, batasan antara buku dan artikel/makalah tidak perlu lagi terlalu dirisaukan.
Kita hidup di zaman transisi, seperti era bangsa Sumeria dan Mesir Kuno ketika pertama kali menggunakan Alfabet. Penemuan alfabet telah mentransformasikan budaya oral ke budaya tulis. Alfabet memudahkan orang berkomunikasi, menyimpan pesan, dan meneruskannya ke sebanyak mungkin orang dengan cara yang lebih efektif dan efisien.
Alfabet melahirkan tradisi penulisan dalam bentuk skroll (gulungan perkamen) dan sekaligus mengakhiri tradisi penulisan piktograf dalam bentuk tablet (yang berbahan dasar batu). Ketika kertas ditemukan Tsai Lun pada 105 Masehi di China dan semakin luas penggunaannya di Arabia, perlahan-lahan skroll digantikan buku.
Lebih dari 1500 tahun buku mendominasi dunia literasi manusia. Usianya jauh lebih panjang ketimbang penggunaan skroll dan tablet. Tapi, kini perlahan-lahan dominasi buku mulai terancam, digantikan oleh sesuatu yang belum punya nama.
Sebagian kita masih menyebutnya sebagai “buku” dengan imbuhan elekteronik atau digital. Jadilah “ebook” atau “digital book.” Sebagian yang lain menamakannya “tablet” atau “iPad.” Tapi, nama-nama ini belum menjadi standar, karena medium bacaan digital bukan hanya iPad, atau tablet, atau laptop. Orang juga banyak menggunakan smartphone dan membaca dari gawai cerdas itu.
Kita hidup di masa transisi, sama seperti bangsa Sumeria yang mengalami transisi dari tablet ke skroll, atau bangsa Romawi yang mengalami transisi dari skroll ke buku. Peradaban kita adalah peradaban HTML, di mana format tulisan tidak lagi didefinisikan berdasarkan bentuk fisik medium penulisannya.
Tablet kuno, skroll, dan buku, didefinisikan berdasarkan bentuk fisiknya. Tapi tulisan-tulisan digital tidak bisa didefinisikan dengan hanya satu medium fisik saja. Apa yang kita sebut sebagai “buku” ketika kita membaca “ebook” di internet adalah penyederhanaan dari tradisi bacaan yang telah mengakar lebih dari 15 abad.
Ketika penggunaan internet semakin luas dan dunia cetak semakin ditinggalkan, buku (dalam pengertian yang kita pahami selama ini) akan semakin kehilangan maknanya. Sebagaimana tablet kuno dan skroll, peran buku akan berakhir. Istilah baru yang lain akan menggantikannya.
Kita tidak tahu kapan. Yang jelas, perlahan tapi pasti, buku sedang menuju gerbang kematiannya.
Sumber: Qureta.com
ISLAM TITIK BERAT PERPADUAN TAPI PERLU JAGA BATAS AKIDAH
Islam agama yang sangat menitikberatkan hubungan baik, keharmonian dan sikap saling menghormati dalam masyarakat berbeza agama. Bagaimanapun, semangat toleransi dan kerjasama tersebut hendaklah sentiasa dipandu oleh batas yang telah ditetapkan oleh syariat Islam, khususnya dalam perkara berkaitan dengan akidah dan syiar keagamaan.
Mengulas mengenai penyebaran sebuah video yang memperlihatkan sekumpulan individu Islam dikatakan terlibat dalam aktiviti gotong-royong membersihkan sebuah kuil Hindu, isu ini perlu dinilai mengikut kerangka hukum syarak.
Islam galak hubungan baik, tetapi bukan gadai prinsip akidah.
Allah SWT berfirman dalam Surah al-Mumtahanah, ayat 8 yang bermaksud: "Allah tidak melarang kamu daripada berbuat baik dan berlaku adil kepada orang yang tidak memerangi kamu kerana agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halaman kamu. Sesungguhnya Allah mengasihi orang yang berlaku adil."
Ayat ini membuktikan Islam tidak pernah melarang umatnya berbuat baik kepada masyarakat bukan Islam. Bahkan, membantu jiran, menjaga kebersihan kawasan awam, menghulurkan bantuan ketika bencana serta bekerjasama dalam perkara kebajikan amalan yang selaras dengan tuntutan Islam.
Namun demikian, hubungan baik antara agama tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan batas penglibatan seorang Muslim dalam perkara yang mempunyai hubungan langsung dengan amalan atau syiar agama lain.
Hukum membersihkan rumah ibadat bukan Islam
Dalam menentukan hukum penglibatan orang Islam membersihkan kuil, gereja atau rumah ibadat agama lain, perlu dibezakan antara dua keadaan.
Pertama, kerja yang mempunyai hubungan langsung dengan penyediaan, pemeliharaan atau pengendalian tempat dan peralatan khusus bagi pelaksanaan ritual agama lain seperti membersihkan patung sembahan, altar pemujaan atau menyediakan ruang khusus untuk upacara penyembahan.
Penglibatan orang Islam dalam pekerjaan sedemikian hendaklah dielakkan dan termasuk dalam perkara dilarang oleh syarak apabila ia secara langsung membantu pelaksanaan ritual keagamaan yang bertentangan dengan akidah Islam.
Allah SWT berfirman dalam Surah al-Maidah ayat 2 yang bermaksud: "Dan janganlah kamu saling membantu dalam melakukan dosa dan pencerobohan."
Justeru, umat Islam dilarang terlibat dalam aktiviti gotong-royong membersihkan kuil atau rumah ibadat agama lain apabila pekerjaan itu bantuan langsung kepada penyelenggaraan tempat peribadatan mereka. Bagaimanapun, larangan ini sama sekali tidak menafikan tuntutan Islam untuk membantu masyarakat bukan Islam dalam urusan kemanusiaan, kebajikan dan keselamatan.
Kedua, kerja kebersihan umum yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan ritual agama seperti membersihkan longkang awam, mengutip sampah di kawasan kejiranan, membantu mangsa banjir atau membersihkan laluan digunakan masyarakat umum.
Aktiviti sedemikian pada asasnya termasuk dalam ruang kerjasama kemasyarakatan yang diharuskan selagi tidak melibatkan penyertaan dalam upacara keagamaan atau bantuan langsung kepada pelaksanaan ritual agama lain.
Memelihara akidah tidak bererti memusuhi penganut agama lain
Perlu ditegaskan bahawa Islam tidak mengajar umatnya menghina, memusuhi atau berlaku zalim terhadap penganut agama lain.
Namun, menghormati agama lain tidak bermaksud seseorang Muslim perlu mengambil bahagian dalam urusan keagamaan mereka.
Firman Allah SWT dalam Surah al-Kafirun ayat 6 yang bermaksud: "Bagi kamu agama kamu, dan bagiku agamaku."
Ayat ini menegaskan prinsip pemisahan akidah dan ibadah di samping mengiktiraf kewujudan masyarakat yang berbeza pegangan agama.
Sehubungan itu, dinasihatkan agar mana-mana pertubuhan, institusi pendidikan, agensi kerajaan atau badan sukarela yang merancang program gotong-royong antara agama supaya memberikan perhatian kepada sensitiviti akidah umat Islam.
Program perpaduan boleh dilaksanakan melalui pelbagai aktiviti lain seperti membersihkan kawasan perumahan, taman awam, sekolah, rumah penduduk, kawasan rekreasi serta menghulurkan bantuan kepada golongan yang memerlukan tanpa mengira agama dan bangsa.
Kesimpulan
Suka ditegaskan bahawa perpaduan masyarakat majmuk suatu tuntutan yang penting. Namun, perpaduan yang sebenar hendaklah dibina atas asas saling menghormati pegangan agama masing-masing bukannya dengan mencampuradukkan urusan ibadah dan akidah.
Islam mengajar kita menghormati penganut agama lain, tetapi penghormatan tersebut tidak boleh sampai mengaburkan batas akidah dan syariat.
Semoga seluruh umat Islam sentiasa diberikan kefahaman untuk memelihara kesucian akidah, kebijaksanaan dalam bermasyarakat serta keteguhan dalam menghayati tuntutan agama.
Penulis Mufti Pulau Pinang
Disiarkan pada: October 16, 2026 @ 6:00am
Sumber: hmetro.com.my
SAYA MENEMUI GURU
Oleh: Prof B. Dr. Zuhaimy Ismail
Mohon Menjadi Murid Shaykh
الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على سيدنا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah mengurniakan kepada kita nikmat iman, Islam, al-Quran, kesihatan, masa dan kesempatan untuk duduk bersama-sama dalam majlis ilmu dan zikir.
Selawat dan salam kita panjatkan kepada junjungan besar Nabi Muhammad ﷺ, ahli keluarga Baginda, para sahabat dan mereka yang mengikuti Baginda dengan ihsan sehingga hari kiamat.
Di sini saya ingin kongsikan pengalaman saya “mencari” seorang Shaykh khasnya Shaykh Mursyid. Perkataan “mencari” dalam kes ini lebih sesuai dikatakan saya menemui seorang guru.
Ketika saya sampai di Norwich, England pada tahun 1978, tujuan utama saya hanyalah untuk belajar dan berjaya mendapat segulung ijazah. Saya datang sebagai seorang anak muda yang ingin melanjutkan pelajaran, mengikuti A-Level dan seterusnya menyambung pengajian ke universiti mengambil ijazah matematik. Saya tidak pernah membayangkan bahawa perjalanan ke England itu akhirnya akan mempertemukan saya dengan seorang Shaykh dan membuka satu perjalanan lain dalam hidup saya — perjalanan mencari ilmu, mengenal diri dan mendekatkan diri kepada Allah swt.
Pada awalnya saya tidak begitu memahami dunia Islam, tasawuf dan tarekat. Boleh dikatakan Islam saya hanyalah agama keturunan, alhamdulillah dilahirkan dalam keluarga agama.
Saya hanya mengetahui bahawa terdapat sekumpulan orang Islam di Norwich yang dipimpin oleh seorang Shaykh. Saya juga pernah diberi peringatan oleh senior supaya berhati-hati dan jangan terlalu dekat dengan kumpulan tersebut kerana mereka solat dengan tangan di sisi, bukan bersedekap seperti yang biasa saya lihat.
Setelah bertanya-tanya, barulah saya mengetahui bahawa mereka mengikuti mazhab Imam Maliki. Apa yang pada mulanya kelihatan asing kepada saya sebenarnya mempunyai asas dalam tradisi ilmu Islam yang muktabar.
Namun, pada waktu itu saya belum mempunyai keinginan untuk menjadi murid sesiapa. Saya tidak ada langsung idea untuk berguru. Saya masih melihat kehidupan saya sebagai seorang pelajar. Saya datang untuk belajar dan mendapatkan kelayakan akademik. Tetapi Allah mempunyai perancangan yang lebih luas daripada apa yang saya bayangkan.
Pertemuan yang membangkitkan rasa ingin tahu
Pada suatu petang selepas solat Asar, saya menghadiri satu majlis ilmu yang disampaikan oleh Shaykh Abdal Qadir AsSufi.
Setelah selesai Shaykh memberi kuliah, beliau memandang ke arah seorang anak muda bukan Islam hadir dalam majlis tersebut. Shaykh memandangnya lalu bertanya:
“Are you Muslim?”
Pemuda itu menjawab bahawa dia bukan Islam… “No!” Dengan pantas.
Shaykh kemudian berkata kepadanya:
“But you have a Muslim look!”
Kata-kata itu kelihatan sederhana, tetapi suasana selepas itu sangat menarik. Pemuda tersebut terus berbicara dengan Shaykh dan akhirnya beliau menerima pelawaan memeluk Islam dan beliau mengucapkan syahadah. Setelah selesai, suasana di masjid begitu meriah dengan ucapan tahniah kepada pemuda tersebut, ada yang bagi tasbih, ada yang sarungkan serban dan suasana itu tidak dapat saya lupakan. Saya cuma jadi pemerhati, saya segan untuk ke depan.
Peristiwa itu memberi kesan yang mendalam kepada saya.
Saya mula tertanya-tanya: Siapakah sebenarnya orang ini? Apakah ilmu yang ada padanya sehingga cara beliau berbicara dan membawa agama mampu menyentuh hati seseorang?
Daripada rasa ingin tahu itu timbul bunga keinginan untuk belajar dengannya.
Tetapi saya masih muda. Walau bagaimanapun saya tahu penting berguru dalam beragama. Ayah saya pun berguru di Kelantan. Saya tidak tahu bagaimana memilih seorang guru. Saya juga bimbang tersalah memilih guru. Dalam perkara agama, saya merasakan bahawa keputusan seperti itu bukan sesuatu yang boleh dibuat secara terburu-buru.
Lalu saya teringat kepada ayah.
Pesanan Ayah
Pada hujung tahun, ketika saya pulang bercuti, saya mengambil kesempatan untuk bertanya kepada ayah tentang keinginan saya belajar dengan Shaykh.
Saya ceritakan kepada ayah tentang Shaykh, tentang majlis ilmu yang saya hadiri dan tentang ilmu yang beliau ajarkan. Saya terangkan bahawa Shaykh banyak berbicara tentang Islam, tasawuf, tarekat, pembentukan diri dan dakwah.
Ayah mendengar dengan teliti. Kemudian beliau bertanya:
“Ilmu apa yang Shaykh ajar?”
Saya menjelaskan sekali lagi tentang tasawuf dan tarekat serta bagaimana Shaykh mengajak orang kafir kembali kepada Allah bukan hanya melalui pengetahuan, tetapi melalui perubahan diri dan kehidupan.
Setelah mendengar penjelasan saya, ayah berkata:
“Anak, pergilah belajar dengan dia kerana ilmu yang dia ajar itu tinggi dan ayah tidak mampu mengajarnya.”
Kata-kata itu sangat saya ingat sehingga hari ini.
Saya melihat jawapan ayah bukan sekadar memberikan izin kerana saya meminta. Ayah sendiri mempunyai latar belakang ilmu agama dan pernah berguru dengan Tok Kenali. Oleh itu, ayah memahami bahawa ilmu tasawuf dan pembentukan rohani bukan perkara yang boleh dipandang ringan. Beliau mungkin tidak mengenali Shaykh secara peribadi, tetapi beliau dapat memahami jenis ilmu yang saya ceritakan dan melihat bahawa ilmu itu mempunyai tempat yang tinggi dalam tradisi Islam.
Pada masa yang sama, ayah tetap mengingatkan saya supaya tidak mengabaikan tanggungjawab saya sebagai seorang pelajar:
“Jangan abaikan pengajian ilmu hisab yang kerajaan suruh belajar itu.”
Nasihat itu sangat menggambarkan cara ayah melihat kehidupan. Belajar agama tidak bermakna meninggalkan tanggungjawab terhadap ilmu dunia. Saya perlu bersungguh-sungguh dalam pengajian akademik, tetapi pada masa yang sama tidak menutup hati daripada ilmu yang membentuk manusia.
Saya pulang ke England dengan hati yang lebih tenang. Saya sudah mendapat restu ayah.
Tetapi satu persoalan masih belum terjawab:
Bagaimana saya hendak memberitahu Shaykh bahawa saya mahu menjadi muridnya?
Kembali ke Norwich
Selepas pulang daripada cuti, saya berpindah daripada Hill House Road, kira-kira lima kilometer dari kolej, ke Grove Road yang lebih dekat dengan tempat pengajian dan masjid.
Rumah itu sederhana tetapi selesa. Ada bilik mandi, dapur dan sebuah ruang tamu yang menjadi tempat saya belajar, makan dan kadang-kadang tidur. Kehidupan saya kembali kepada rutin sebagai seorang pelajar.
Saya mula memberi perhatian yang lebih serius kepada pengajian A-Level 1979. Saya telah berjanji kepada ibu bapa bahawa saya akan belajar bersungguh-sungguh dan mendapatkan keputusan yang baik.
Dalam masa yang sama, saya terus ke masjid dan mengikuti majlis-majlis ilmu apabila ada kesempatan.
Keinginan untuk belajar dengan Shaykh semakin kuat, tetapi saya masih tidak tahu bagaimana untuk memulakannya.
“Ya Shaykh, I want to be your murid”
Pada suatu hari selepas solat Zuhur, Shaykh mengajak saya makan tengah hari di rumahnya.
Kami berjalan bersama menuju ke rumah Shaykh di Christ Church Road.
Saya masih ingat cara beliau berjalan. Shaykh tinggi dan langkahnya agak laju. Saya yang ketika itu baru berusia sekitar 19 tahun berjalan di sebelahnya sambil berfikir bagaimana hendak menyampaikan hasrat yang selama ini saya simpan.
Saya mahu meminta menjadi muridnya.
Tetapi bagaimana hendak mengatakannya?
Saya tidak menyediakan ucapan. Saya tidak tahu apakah adab yang tepat. Saya hanya berjalan dan berfikir.
Apabila sampai di hadapan rumah, Shaykh menekan loceng menunggu pintu dibuka. Saya duduk dibawa juga menunggu jawapan Shaykh. Terasa terlalu lama untuk pintu di buka. Shaykh tidak menjawab. Apabila pintu dibuka beliau berpaling ke arah saya dan berkata:
“Welcome.”
Saya menjawab:
“Thank you.”
Entah bagaimana, pada saat itu saya terus berkata:
“Ya Shaykh, I want to be your murid.”
Shaykh memandang saya dan diam seketika kemudian menjawab:
“Zuhaimy, keep company.”
Sebuah arahan daripada Shaykh tanpa menjawab soalan saya mohon menjadi muridnya dan kami masuk ke dalam rumah.
Hanya itu.
Tidak ada upacara khusus. Tidak ada penjelasan panjang. Tidak ada lafaz yang saya fahami sebagai satu bentuk penerimaan formal menjadi murid.
Saya sendiri tidak tahu apa sebenarnya yang berlaku.
Adakah saya sudah menjadi murid? Adakah permohonan itu terlalu remeh? Fikiran penuh dengan pertanyaan.. terasa malu dengan Shaykh.
Atau adakah Shaykh hanya meminta saya terus bersama dan belajar dahulu?
Saya tidak mempunyai jawapannya.
Di rumah Shaykh
Di rumah Shaykh sudah ada beberapa orang fuqara. Saya melihat bahawa orang yang datang ke rumah beliau akan dilayan sebagai tetamu. Makanan disediakan dan mereka makan bersama. Mereka makan setalam tetapi menggunakan sudu bukan dengan jari. Itu budaya baru bagi saya.
Selepas itu kami membaca qasidah. Shaykh memberikan nasihat dan berbicara tentang agama, kehidupan dan perjalanan manusia menuju Allah.
Saya pulang ke rumah dengan hati yang penuh persoalan.
Saya telah menyatakan keinginan saya dengan jelas.
Tetapi jawapan Shaykh hanya:
“Keep company.”
Saya belum memahami maksudnya.
Namun saya terus hadir setiap majlis ilmu apabila ada kesempatan.
Pada waktu itu kehidupan saya tetap tertumpu kepada pelajaran. Saya juga terlibat dalam beberapa kegiatan mahasiswa dan masyarakat Islam, termasuk usrah Jemaah Islah Malaysia, Winter Gathering, Jemaah Tabligh dan Suara Islam. Tetapi semakin lama, saya mula menyedari bahawa ada sesuatu yang berbeza pada majlis Shaykh. Majlis-majlis ini tidak menyentuh hati saya, tidak seperti ketika berada dalam majlis Shaykh Abdal Qadir. Tidak ada kurangnya majlis ilmu lain yang kurang adalah diri saya sendiri.
Memahami kata-kata Shaykh
Kemudian saya mula menghadiri majlis zikir dan pengajian yang diadakan di Masjid Ehsan serta di rumah-rumah beberapa orang fuqara.
Dalam salah satu majlis, Shaykh menerangkan tentang tarekat Darqawiyyah dan pentingnya keep company — hidup bersama dan mendampingi orang-orang yang sedang berjalan menuju Allah.
Shaykh memberikan beberapa perumpamaan yang mudah difahami.
Jika seseorang sakit, dia mencari doktor.
Jika mahu membaiki kereta, dia mencari mekanik yang baik.
Orang yang berkawan dengan pencuri akan belajar daripada pencuri. Orang yang sentiasa bersama peminum akan mudah terikut dengan kehidupan mereka.
Begitu juga seseorang yang mahu berubah menuju Allah perlu mendampingi orang-orang yang sedang berusaha untuk berubah. Berubah untuk kembali kepada Allah kerana semua kita akan bertemu Allah dan menjawab setiap perlakuan kita di dunia ini.
Saya mula memahami bahawa perubahan manusia bukan hanya berlaku melalui membaca buku atau mendengar kuliah. Persekitaran, sahabat dan orang yang kita dampingi mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap hati dan kehidupan kita.
Di sinilah saya mula memahami jawapan Shaykh kepada saya:
“Keep company.”
Bukan sekadar datang untuk mendapatkan ilmu daripada seorang guru, tetapi hidup bersama satu lingkungan manusia yang sedang berusaha menghidupkan agama dalam diri mereka.
Belajar tanpa kelas yang formal
Shaykh tidak mengajar saya seperti seorang pensyarah di dalam kelas dengan silibus yang tersusun.
Ilmu datang dalam pelbagai keadaan.
Kadang-kadang selepas zikir.
Kadang-kadang ketika berjalan.
Kadang-kadang di rumahnya.
Kadang-kadang melalui perbualan ringkas.
Kadang-kadang melalui satu ayat al-Quran atau hadis.
Kadang-kadang melalui kisah para awliya.
Saya mula belajar bahawa ilmu agama bukan hanya untuk diketahui, tetapi untuk diamalkan.
Shaykh berbicara tentang al-Quran, hadis, akidah, penciptaan, akal, nafsu dan kehidupan manusia. Banyak perkara yang pada ketika itu saya belum mampu fahami sepenuhnya.
Namun sesuatu telah mula berubah dalam diri saya.
Saya mula melihat agama bukan hanya sebagai pengetahuan yang perlu dipelajari untuk menjawab soalan peperiksaan, tetapi sebagai jalan untuk membentuk manusia.
Pada satu ketika Shaykh pernah menyebut:
“Only thirsty man drink.”
Kata-kata itu ringkas tetapi semakin lama semakin saya faham.
Orang yang haus akan mencari air.
Orang yang benar-benar mempunyai keperluan kepada Allah akan mencari jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya.
Begitu juga dengan zikir. Majlis zikir bukan sekadar satu pertemuan biasa. Ia menjadi tempat para fuqara berkumpul, mengingati Allah, menguatkan antara satu sama lain dan menyuburkan kembali hati yang mungkin menjadi lemah kerana kehidupan dunia.
Saya juga teringat kata-kata Abu Madyan dalam kitab “100 steps” karangan shaykh tentang kehidupan bersama para fuqara — bahawa di situlah seseorang dapat merasakan satu bentuk kegembiraan dan kemanisan hidup yang sukar ditemui dalam kesibukan dunia.
Ilmu yang mengubah cara melihat kehidupan
Semakin lama saya mengikuti pengajian Shaykh, semakin saya memahami bahawa tasawuf bukan ilmu yang terpisah daripada kehidupan.
Ia bukan sekadar membicarakan pengalaman kerohanian.
Ia berkaitan dengan bagaimana seseorang mengenal dirinya, membersihkan hatinya, memperbaiki akhlaknya dan menjalani kehidupan sebagai hamba Allah.
Dalam salah satu pengajian tentang tasawuf yang kemudiannya saya catat dalam karya 100 Langkah, saya mula memahami beberapa asas pemikiran para ahli tasawuf.
Saya teringat kata-kata Imam Junayd:
“Seandainya aku tahu ada ilmu lain yang lebih tinggi daripada tasawuf, tentu aku akan pergi mencarinya, sekalipun terpaksa merangkak.”
Kata-kata seperti ini membuatkan saya melihat tasawuf bukan sebagai ilmu sampingan, tetapi sebagai satu usaha untuk membawa ilmu agama masuk ke dalam kehidupan manusia.
Hasan al-Basri dan para ahli tasawuf juga mengingatkan bahawa manusia perlu kembali kepada hakikat dirinya sebagai hamba Allah.
Ilmu yang tidak mengubah hati belum sempurna kesannya.
Zikir yang tidak melahirkan kesedaran belum mencapai tujuannya.
Dan pengetahuan yang tidak menghasilkan adab masih belum benar-benar menjadi ilmu.
Setelah sekian lama
Apabila saya melihat kembali peristiwa di Norwich itu selepas bertahun-tahun, saya mula melihatnya dengan cara yang berbeza.
Pada waktu itu saya menyangka bahawa saya yang mencari Shaykh.
Saya yang ingin menjadi murid.
Saya yang bertanya kepada ayah.
Saya yang berjalan ke rumah Shaykh.
Saya yang akhirnya berkata:
“Ya Shaykh, I want to be your murid.”
Tetapi apabila saya renungkan kembali, saya merasakan mungkin perjalanan itu tidak bermula daripada saya.
Sebelum saya meminta untuk menjadi murid, Shaykh sudah mengajak saya berjalan bersamanya.
Sebelum saya memahami apa itu keep company, saya sudah berada di sisinya.
Dan sebelum saya benar-benar memahami apa yang saya cari, Allah telah mempertemukan saya dengan orang yang menjadi sebab saya mengenali satu dimensi ilmu yang selama ini tidak saya ketahui.
Mungkin itulah salah satu hakikat perjalanan mencari guru.
Kita menyangka kita sedang mencari guru.
Tetapi kadang-kadang, setelah bertahun-tahun, kita sedar bahawa sebenarnya gurulah yang menemukan kita.
“Keep company” sebagai satu perjalanan
Hari ini, apabila saya melihat kembali jawapan Shaykh — “Keep company” — saya tidak lagi melihatnya sebagai jawapan yang tidak lengkap.
Sebaliknya, saya melihatnya sebagai satu jawapan yang sangat mendalam.
Shaykh tidak menjanjikan sesuatu yang segera.
Beliau tidak memberikan saya satu gelaran.
Beliau tidak mengatakan bahawa dengan satu lafaz saya telah selesai menjadi murid.
Sebaliknya, beliau menunjukkan satu jalan:
Dampingilah. Perhatikan. Belajarlah. Amalkan. Berubah.
Murid bukan sekadar seseorang yang mempunyai hubungan rasmi dengan seorang Shaykh.
Murid ialah seseorang yang bersedia untuk berubah.
Ilmu perlu masuk ke dalam amal.
Amal perlu membentuk adab.
Adab perlu melembutkan hati.
Dan hati yang hidup perlu membawa seseorang semakin dekat kepada Allah.
Melihat kembali perjalanan itu
Kini saya melihat peristiwa di Norwich bukan sekadar satu kisah seorang pelajar berusia 19 tahun yang meminta untuk menjadi murid seorang Shaykh.
Ia merupakan salah satu titik penting dalam perjalanan hidup saya.
Saya datang ke England untuk mendapatkan ilmu akademik. Allah memberikan saya ilmu tambahan yang istimewa.
Allah memperkenalkan saya kepada satu bentuk ilmu yang tidak pernah saya tahu dan jangkakan.
Ayah memberi saya keberanian untuk pergi belajar dengan Shaykh, sambil mengingatkan saya supaya tidak meninggalkan amanah akademik.
Shaykh pula tidak memberikan saya jawapan yang panjang. Hanya dua perkataan:
“Keep company.”
Bertahun-tahun kemudian barulah saya semakin memahami maknanya.
Dalam kehidupan ini, kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang Allah aturkan untuk kita.
Kita merancang untuk menjadi sesuatu, tetapi Allah mungkin membawa kita kepada sesuatu yang lebih besar daripada rancangan kita.
Saya datang ke Norwich sebagai seorang pelajar.
Saya pulang membawa bukan sahaja ilmu matematik dan statistik, tetapi juga satu pandangan baharu tentang agama, ilmu, manusia dan kehidupan.
Saya belajar bahawa agama bukan hanya untuk diketahui.
Tasawuf bukan hanya untuk dibicarakan.
Zikir bukan hanya untuk dilafazkan.
Dan menjadi murid bukan hanya tentang mendapatkan seorang guru.
Menjadi murid ialah kesediaan untuk berubah.
Apabila saya mengenang kembali langkah pertama itu, saya hanya mampu mengucapkan syukur kepada Allah.
Syukur kerana Allah mempertemukan saya dengan ayah yang memberikan nasihat pada saat saya memerlukannya.
Syukur kerana Allah mempertemukan saya dengan Shaykh.
Syukur kerana Allah memperkenalkan saya kepada para fuqara yang menjadi teman dalam perjalanan.
Dan syukur kerana daripada satu pertemuan yang kelihatan begitu sederhana — berjalan menuju rumah Shaykh selepas Zuhur — Allah membuka satu perjalanan yang kesannya terus saya rasakan hingga hari ini.
Barangkali benar, kita menyangka kita sedang mencari jalan.
Tetapi hakikatnya, Allah yang membuka jalan, Allah yang menemukan manusia di sepanjang jalan itu, dan Allah jualah yang menentukan ke mana akhirnya kita sampai.
Perjalanan saya baru bermula.
Sumber: zuhaimyismail.blogspot.com