Ensiklopedia

Keterangan ringkas & tepat mengenai pelbagai ilmu!

 

MANUSIA BERTOPENG: JAUHI DARI MEREKA YANG MEMILIKI DUA WAJAH

Oleh: Ibnu Majid

Dunia ini merupakan ujian Allah SWT bagi mereka yang bertaqwa. Semakin hari, ia semakin dipenuhi dengan topeng dan kemunafikan, bukan dengan wajah manusia yang jujur dan yang benar. Inilah realiti yang pahit, namun tetap menjadi sesuatu yang terpaksa dihadapi dengan tabah.

Mungkin pernah terlihat antara kenalan, dalam bicara terukir senyuman, berkongsi makanan, dan gelak ketawa bersama-sama. Namun, sebaik sahaja memalingkan pandangan ke belakang, kebenaran yang berbeza muncul. Gelak ketawa dan senyuman, bertukar menjadi kutukan, kritikan, tohmahan dan adu domba.

Sesetengah orang akan kekal sebagai rakan selagi mana mereka mendapat manfaat daripada hubungan dengan kita. Sebaik sahaja kita menghadapi kesukaran, sebaik sahaja kita jatuh, mereka akan hilang seperti bayang-bayang di waktu senja. Mereka senyap dan lenyap dalam kegelapan malam. Entah mati atau masih hidup.

Dunia ini bukan diisi dengan orang-orang baik sepenuhnya. Dengan zaman yang semakin materialistik, semakin ramai golongan yang hanya menganggap hubungan antara manusia adalah satu strategi untuk menguntungkan diri sendiri dan keluarga. Di sebalik topeng senyuman yang dipakai, mereka sentiasa merancang untuk mengambil kesempatan atas diri kita. Ingin mengambil keuntungan peribadi.

Ada yang tersenyum di hadapan, tetapi menghunus lidah tajam di belakang. Ada yang berkongsi makan dan ketawa, tetapi dalam diam memijak kita saat kita jatuh. Mereka tidak mempedulikan kita. Inilah jenis manusia yang bertopengkan syaitan laknatullah. Allah SWT telah memberi peringatan jelas dalam Surah Al-Baqarah ayat 9:

“Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri mereka sendiri, tetapi mereka tidak sedar.” - (Surah Al-Baqarah, ayat 9)

Di zaman media sosial, setiap mereka yang bertopeng berlumba-lumba untuk menunjukkan diri mereka sebagai manusia terhebat, namun realitinya sangat berbeza. Mereka menipu dengan penampilan, watak kekayaan, namun langsung tiada kemahiran, kecuali kemahiran untuk menipu. Kemahiran adu domba. Kemahiran mengambil kesempatan atas kejujuran atau kelemahan orang lain.

Manusia bertopeng dan licik ini bukanlah fenomena baharu zaman ini. Mereka telah wujud sejak dahulu lagi. Dalam hadith sahih riwayat al-Bukhari, Nabi SAW bersabda: “Sejahat-jahat manusia adalah mereka yang memiliki dua wajah. Dia datang kepada orang lain dengan wajah yang lain, dan dia pergi kepada orang lain dengan wajah yang lain pula.” - (Sahih al-Bukhari).

Imam al-Nawawi menafsirkan orang sebegini sebagai golongan munafik — mereka tidak pernah jujur dengan mana-mana pihak, hanya memanipulasi untuk kepentingan peribadi.Untuk mengenyangkan perut mereka sahaja.

Maka apakah yang harus kita lakukan?

Pertama sekali, jangan biarkan pengkhianatan menjatuhkan kita. Jadikan pengalaman dengan manusia bertopeng sebagai pelajaran paling berharga. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Taubah ayat 51:

“Katakanlah: Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada-Nya orang-orang beriman bertawakal.” - (Surah Al-Taubah, ayat 51)

Kedua, percayalah kepada tindakan, bukan janji dan kata-kata manis. Jangan mudah tertipu dengan senyuman manja atau para pengampu. Manusia bertopeng itu selalunya berbicara indah, lemah lembut, tapi niatnya hanya untuk menipu.

Ketiga, kecilkan lingkungan kepercayaan. Lebihkan diam, banyakkan pemerhatian. Kerana ketenangan lebih berharga daripada berkawan dengan orang yang berpura-pura.

Rasulullah SAW pernah bersabda dalam hadith yang bermaksud: “Tidak sepatutnya seorang yang beriman, disengat sebanyak dua kali daripada satu lubang (yang sama).” - (H.R. al-Bukhari 6133 dan Muslim 63)

Maka berhentilah mengharapkan kesetiaan daripada mereka yang tidak tahu erti setia. Berhentilah merayu kasih daripada mereka yang hatinya dipenuhi tipu daya. Walaupun pahit untuk ditelan, tetapi ia adalah kebenaran yang akan membebaskan jiwa kita. Jangan biarkan manusia bertopeng untuk menipu kita lagi. Semoga Allah SWT memberi kita sakinah di atas muka bumi-Nya, dan jauhkan kita daripada mereka yang memiliki dua wajah.

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh dari Syaitan-syaitan manusia dan jin, setengahnya membisikkan kepada setengahnya yang lain kata-kata dusta yang indah-indah susunannya untuk memperdaya pendengarnya. Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah mereka tidak melakukannya. Oleh itu, biarkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan (dari perbuatan yang kufur dan dusta) itu”.(Surah al-An’am 112)

Written by Admin
Category: Gaya Hidup
Hits: 107

 

PILU PENDIDIKAN BERKEADABAN

Oleh : Samsul Nizar  

Secara teoritis, pendidikan berkeadaban merupakan proses pembelajaran yang menginternalisasi ilmu dengan nilai-nilai agama, etika, dan budaya. Tujuannya untuk membentuk manusia cerdas, berkarakter, dan akhlak mulia. Eksistensi pendidikan berkeadaban bertumpu pada pembangunan karakter, bukan sebatas transfer ilmu, janji "selembar ijazah", atau formalitas kelembagaan yang mengedepankan "rekayasa bisnis".

Melalui pendidikan berkeadaban, dimungkinkan terciptanya masyarakat maju, harmonis, dan beradab. Untuk itu, inti pendidikan berkeadaban tertumpu pada upaya memanusiakan manusia agar menjadi individu yang baik (good person), bermoral (moral person), dan cerdas (smart person). Dalam Islam, tipikal ini tampil pada sosok Rasulullah . Hal ini sesuai sabdanya : "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia" (HR. al-Baihaqi).

Namun, tataran ideal di atas secara per-lahan terus tergerus dan kering. Berbagai fenomena perilaku amoral (pribadi dan kolektif) telah melukai dan menodai kesucian (ideal) dunia pendidikan. Bahkan, fenomena ini dilakukan oknum "mulia" dan terjadi pada lembaga pendidikan yang "ternama dan terkemuka". Langkah preventif tak kuasa dilakukan. Padahal, berbagai bentuk "kejahatan" (hukum dan agama) acapkali terjadi di depan mata, namun tak pernah "terselesaikan". Begitu perilaku amoral viral, langkah "silat lidah", tutup mulut, atau mencari alibi (kambing hitam) dilakukan untuk menutupi kesalahan atas ketidakmampuan pengawasan. Perilaku amoral serupa berpotensi terjadi pada lembaga-lembaga "level gurem" lainnya. Hanya saja, radar medsos begitu terbatas. Kadangkala, slogan "no viral, no justice" ada sisi benarnya. Meski hadir terlambat, tapi masih ada ruang bagi munculnya kebenaran. Namun anehnya, meski amoral (kejahatan) begitu viral, tapi tetap tertutup "anggun" dan tak tersentuh, bahkan terus berulang. Mungkin pelakunya merupakan makhluk ghaib yang bergentayangan tak tersentuh, "raksasa" digdaya yang tak bisa dilawan, atau silau gemerlap cahaya pundi.

Fenomena perilaku amoral insan akademik yang viral belakangan ini bak "bola salju". Sungguh, butir salju amoral telah bergulir sejak lama. Begitu masalah viral, semua elemen --seakan-- terkejut dan "gagap". Bukti lemahnya pengawasan dan ketidak-pedulian mengantisipasi "percikan salju". Seyogyanya, berbagai perilaku amoral diusut tuntas dari hulu sampai ke hilir.

Ada beberapa indikasi fenomena pendidikan berkeadaban sedang mengalami krisis idealismenya, antara lain :

Pertama, Ijazah tanpa "syahadah" (pengakuan). 

Ketika perhatian hanya terfokus pada kasus ijazah palsu, tapi perhatian terlepas dari ijazah asli tapi tak pantas. Asli karena melalui proses yang sesuai aturan dan dikeluarkan oleh lembaga yang diakui negara. Namun, tak pantas bila ilmu pemiliknya tak sesuai dengan ijazah yang diperoleh. Akibatnya, ijazah sekedar bukti formalitas, tapi tanpa kualitas (syahadah) ilmu dan adab pemiliknya. Padahal, ideal-nya ijazah tanda berilmu dan pemiliknya dijanjikan Allah akan ditinggikan derajatnya. Hal ini dijanjikan melalui firman-Nya : "...niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat..." (QS. al-Mujadalah : 11).

Meski ayat begitu jelas, anehnya manusia lebih menyenangi pemilik ilmu formalitas yang "mengatur dan bisa diatur" sesuai kepentingan. Sebaliknya, sosok pemilik ilmu hakiki acapkali "dibenci" karena hanya tunduk pada nilai moral dan kebenaran.

Kedua, Kuantitas tanpa kualitas.

Hanya mengejar jumlah, tanpa mengejar mutu. Menjual janji, nama besar, gemerlap publikasi, dan popularitas sumber daya, namun realitanya sungguh mengecewakan dan tak sesuai yang diharapkan.

Bila dunia pendidikan mengedepankan "bisnis" ketimbang "mencerdaskan", maka orientasinya cenderung lebih mengejar  kuantitas untuk menutupi "motif ekonomi". Melalui jumlah input yang banyak, proses sebatas administrasi, dan out put berlabel, maka laba yang diraih akan berlipat. Feno-mena ini diperparah ketika "nakhoda jalur transaksi" yang hanya "tidur pulas tanpa mimpi". Hadir sebatas mengejar status dan menikmati fasilitas tanpa karya nyata yang terukur. Ketika orientasi model ini mendominasi dalam pengelolaan lembaga pendidikan, maka tujuan peningkatan kuali-tas (proses dan lulusan) sebatas mimpi.

Sungguh, pengelolaan pendidikan seyogya-nya mengedepankan kualitas dan adab. De-ngan demikian, kuantitas (input) akan berbondong-bondong. Bagai managemen ru-mah makan. Tampilkan kualitas masakan yang lezat dan bergizi, ruang yang bersih, sarana pendukung yang memadai, layanan yang santun, dan biaya yang terjangkau, maka konsumen akan antrean datang tanpa perlu diundang. Namun, bila sebalik-nya, maka pelanggan akan meninggalkannya. Ketika hal ini terjadi, maka langkah penyebaran brosur dan "mengemis" agar para konsumen datang tak akan banyak membantu secara signifikan.

Ketiga, Berharap status tanpa entitas (karya nyata).

Status tampil anggun, tapi acapkali tak berkorelasi dengan karakter mulia dan karya nyata yang rahmatan lil 'aalamiin. Agar status diperoleh, berbagai upaya dilakukan tanpa peduli nilai moral, akademik, dan agama. Bahkan, ada yang belum menyelesaikan studi dan memenuhi persyaratan formal, tanpa malu menulis-kan gelar meski hanya calon (candidate). Bak "permen" (candy) yang begitu manis, tapi merusak gigi dan kesehatan. Anehnya, meski terkesan "pembohongan publik", tapi seakan legal dan dinilai wajar.

Ketika status (gelar) telah diraih, acapkali tak berkorelasi dengan karya nyata sesuai gelar yang disandang sebagai bukti profe-sioalismenya. Meski "scopus" menjadi ruang yang nyata "memeras energi, moral, materi, dan transaksi" sebagai lahan pundi, tapi tak ada yang peduli. Moralitas "adab ilmu" tak lagi tersisa. Pemilik ilmu seakan --terpaksa-- "mengemis" untuk dipublikasi. Padahal, status ilmu begitu tinggi dan suci. Meski semua bisa "ditutupi", tapi nyata dihadapan-Nya. Mungkin telah sirna "rasa malu" atas status (gelar) yang dimiliki. Semua tertutup oleh formalitas yang diagungkan. Lembaga pendidikan seakan tak kuasa menjawab fenomena yang terjadi. Sebab, tujuan dan energi terkuras untuk memenuhi syarat meraih status akreditasi yang diharapkan. Akibatnya, nilai-nilai luhur menjadi luntur oleh tuntutan administrasi dan rekayasa nilai pragmatis.

Padahal, ilmuwan sejati dimuliakan karena keluasan ilmu, adab, dan manfaatnya, bukan karena pencitraan. Untuk itu, Rasulullah  bersabda : “Barangsiapa meminta-minta untuk memperkaya diri, maka ia seakan-akan memakan bara api neraka” (HR. Ahmad).

Ketika hadis di atas menggunakan kata "meminta-minta" (tangan di bawah), tapi fenomena akhir zaman justeru "menawar-kan" (tangan di atas). Hanya beda bentuk dari "memelas" berubah jadi "memeras".

Keempat, Hilangnya adab dan agama.

Adab tergilas oleh nilai pragmatis dan agama sirna oleh kebanggaan pemikiran sekuler. Seakan, agama sebatas ritual, tanpa menyentuh ilmu. Padahal, agama bukan sebatas hubungan vertikal, tapi men-jelaskan aspek alam semesta.

Dalam Islam, agama dan adab bukan sekadar pelengkap, melainkan ruh (inti) pendidikan. Tanpa agama dan adab, ilmu akan kehilangan keberkahan dan tak mampu membawa kemaslahatan bagi individu maupun masyarakat. Rasulullah  mengingatkan : "Muliakanlah anak-anakmu, perbaikilah adab mereka" (HR. Ibnu Majah).

Hadis di atas begitu tegas terhadap adab. Penanaman adab dalam proses pendidikan berarti memuliakan peserta didik dan pendidik. Namun, ketika adab telah sirna, maka berarti menghinakan keduanya.

Kelima, Profesi tanpa profesionalisme.

Mengajar sebatas melaksanakan tugas, bukan sentuhan mengisi kalbu (mendidik). Kadangkala, tugas tak lagi sesuai bidang keahlian. Tak tersisa rasa malu terhadap ilmu. Semua "dilahap" demi status, pundi, dan keinginan meraih "kredit point" yang utama. Meski kasus ini begitu kasat mata, namun tak ada yang peduli. Peserta didik hanya berharap nilai (lulus), penangung-jawab hanya tertumpu pada terselenggara-nya proses, dan pengawal pendidikan sebatas menunggu "laporan tertulis" tanpa tau berbagai rekayasa yang terjadi. Meski semua bisa dipertanggungjawabkan se-cara administratif, namun tak pernah bisa menipu Allah dan Rasul-Nya. Hal ini sesuai sabda Rasulullah  : "Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpin-nya" (HR. Bukhari dan Muslim).

Melalui hadis di atas, tak ada yang lepas dari pertanggungjawaban di hadapan-Nya. Meski di dunia bisa "lepas menikmati", tapi di akhirat semua perilaku terbuka lebar.

Bila dianalisa secara jujur, berbagai persoalan mewujudkan mimpi pendidikan berkeadaban hadir sejak rekruitmen input, proses, dan output, baik terhadap sosok pendidik, peserta didik, tenaga kependidik-an, dan "pengawal" pendidikan. Bila hadir sosok profesional dan amanah, maka mimpi pendidikan berkeadaban akan terwujud. Namun, ketika ketidaktepatan dan "pat gulipat" yang dilakukan, maka akan hadir "kekecewaan" dan peradaban tampil tanpa keadaban. Padahal, keadab-an merupakan cerminan peradaban tinggi, perilaku yang beradab bukti karakter ilmu-an mumpuni, dan sosok yang menjunjung nilai-nilai kebenaran (amanah).

Sungguh, jangan biarkan pendidikan yang berkeadaban hanya sebatas harapan, kata, dan mimpi. Sebab, bila sekedar mimpi begitu terjaga dari tidur yang panjang, semua sebatas "pepesan kosong". Bila hal ini terjadi, tak ada lagi guna penyesalan dan pembelaan (apologi). Peradaban kehilangan nilai dan marwah generasi tercerabut tanpa sisa. Ketika waktunya, semua akan diminta pertanggungjawaban. Meski aturan (hukum) bisa direkayasa sesuai "kesepakatan", tapi pengawasan-Nya (vertikal) tak pernah mampu ditutupi oleh tampilan munafik dan taubat imitasi. Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***

Editor : Edwar Yaman

Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis

Sumber: jawapos.com

 

 

Written by Admin
Category: Gaya Hidup
Hits: 112

 

KETUK PINTU LANGIT

Perhatikanlah bagaimana nyiur melambai di pinggir pantai, air mengalir di sungai yang bening, gunung menghijau jadi pasak bumi. Semuanya tunduk dan bertasbih kepada Allah.

Jelajahilah bumi dan perhatikan bagaimana kerusakan yang terjadi akibat ulah tangan_perilaku manusia yang hilang kendali, zalim yang sudah kehilangan pelita hidup. Mereka tenggelam dalam asyik maksyuk istana setan.

Bila hati sekeras batu, bila akal tak waras lagi, bila ego nafsu jadi ajudan setan, bila penglihatan pendengaran sudah tersumbat. Maka diberi peringatan atau tidak sama saja bagi mereka.

Hidupkanlah cahaya Illahi di hati, jadi musafir yang gigih mengetuk pintu langit, lukis di kain kanvas dunia amal ibadah yang indah, jadi hamba Allah yang diredaiNya

15 Maret 2026

 Pardi Syamsuddin

Written by Admin
Category: Gaya Hidup
Hits: 199

 

DI SEBALIK KEMISKINAN, ADA IMAN YANG TERCABAR

Banyak hadis Nabi s.a.w. yang menjelaskan bahawa kemiskinan merupakan satu penyakit berbahaya yang dikhuatiri memberi kesan buruk terhadap akidah, akhlak dan pemikiran seseorang, malah kepada masyarakat keseluruhannya. Penyakit ini lebih ketara dalam kalangan mereka yang hidup dalam kemiskinan yang teruk, apatah lagi apabila berada berhampiran dengan golongan kaya yang buruk akhlaknya serta bersifat kedekut.

Kemiskinan juga boleh diumpamakan sebagai satu bala yang menyerupai penyakit berjangkit, kerana ia berpotensi mendorong seseorang kepada kekufuran. Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud: “Kepapaan itu hampir-hampir membawa kepada kekufuran.”

Hadis ini menjelaskan bahawa tekanan ekonomi dan kesukaran mencari rezeki boleh menyebabkan seseorang tergelincir daripada landasan iman. Individu yang asalnya baik boleh berubah menjadi tidak amanah. Wanita yang menjaga kehormatan diri pula mungkin terpaksa menggadaikannya akibat desakan hidup.

Oleh itu, Islam mewajibkan umatnya untuk bekerja keras dan berusaha mencari rezeki sebagai benteng daripada kemiskinan dan kekufuran. Dalam Islam, usaha mencari rezeki turut dinilai sebagai satu bentuk jihad.

Allah menciptakan bumi serta segala isinya untuk manusia, namun manusia tidak akan dapat menikmatinya sepenuhnya tanpa usaha dan titik peluh mereka sendiri.

Meninggalkan pekerjaan dengan alasan ingin menumpukan ibadah semata-mata adalah bertentangan dengan konsep Islam yang sebenar.

Firman Allah dalam Surah al-Ra’d ayat 11:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib sesuatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”

Umat Islam dituntut untuk cemerlang dalam urusan dunia tanpa mengabaikan akhirat. Kualiti kehidupan di dunia inilah yang membantu manusia berubah daripada kemungkaran kepada kebaikan.

Manusia diperintahkan untuk mencari rezeki bukan sahaja bagi memenuhi keperluan diri, tetapi juga untuk membantu mereka yang memerlukan.

Firman Allah dalam Surah al-Jumu‘ah ayat 10 yang bermaksud:
“Kemudian setelah selesai sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah kurnia Allah, serta ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu berjaya.”

Di samping itu, al-Quran turut mengecam golongan yang mengharamkan perhiasan dunia yang telah dihalalkan oleh Allah.

Firman-Nya:
Katakanlah (Wahai Muhammad) siapakah yang berani mengharamkan perhiasan Allah yang telah dikeluarkan untuk hamba-hamba-Nya dan demikian juga benda-benda yang baik lagi halal daripada rezeki yang dikurniakannya. (Surah al-Baqarah ayat 32).

Al-Quran juga menjelaskan bahawa Allah menjanjikan keampunan serta kurniaan yang luas, manakala syaitan pula menakut-nakutkan manusia dengan kemiskinan.

Sesungguhnya Islam tidak pernah mengangkat kemiskinan sebagai sesuatu yang mulia atau jalan untuk mencapai ketinggian rohani. Hadis-hadis yang memuji kehidupan zuhud tidak bermaksud memuji kemiskinan. Adalah satu kesilapan besar apabila ada yang menganggap kemiskinan sebagai nikmat yang perlu diterima tanpa usaha untuk mengatasinya, kononnya agar hati lebih dekat dengan akhirat dan menjauhi dunia.

Islam bukan sekadar mengajarkan zikir dan doa, tetapi juga membebaskan manusia daripada penderitaan menuju kehidupan yang sejahtera. Sikap tidak mahu berusaha dan hanya bergantung kepada belas kasihan orang lain jelas tidak disokong oleh Islam.

Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Tangan yang di atas (memberi) lebih mulia daripada tangan yang di bawah (meminta).”
(Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

Islam dengan tegas menolak pandangan golongan yang memuliakan kemiskinan dan menganggap kekayaan sebagai satu dosa. Begitu juga pandangan yang menganggap kemiskinan sebagai takdir yang tidak boleh diubah. Semua ini merupakan fahaman ekstrem yang menyimpang daripada ajaran Islam yang sebenar.

Catatan: Ibnu Majid

Written by Admin
Category: Gaya Hidup
Hits: 266

 

FAHAMI ASAL USUL MAZHAB, IKUT CARA ORANG ALIM FAHAMI SYARIAT, BUKAN LOGIK NAFSU YANG BOLEH BAWA BINASA

Pernahkah terdetik di dalam sujudmu, betapa indahnya aturan solat yang kita lakukan hari ini?

Daripada bersuci (wuduk) hingga salam, setiap pergerakan kita dijaga rapi oleh susunan hukum yang diwarisi zaman-berzaman.

Namun, ada suara-suara yang mula mempersoalkan, “Zaman Nabi mana ada mazhab?” atau “Kenapa perlu ikut Imam Syafi’i kalau ada Quran dan Hadis?”.

Hakikatnya, memahami asal usul mazhab bukan sekadar belajar sejarah, tetapi ia adalah tentang menjaga kesucian agama daripada tafsiran akal yang cetek.

Tanpa neraca ilmu daripada para imam mujtahid, kita ibarat musafir yang cuba membedah jantung sendiri tanpa alat pembedahan yang betul, akhirnya akan membawa binasa.

Benih Ijtihad: Bila Wahyu Berhenti Dan Sahabat Bertebaran

Asal usul mazhab sebenarnya bermula sebaik sahaja Rasulullah SAW wafat.

Dr. Rozaimi Ramle menjelaskan bahawa pada zaman Nabi SAW, setiap kekeliruan diselesaikan terus melalui wahyu.

Namun, apabila Baginda pergi meninggalkan kita, para sahabat mula berhijrah ke serata pelusuk dunia seperti Kufah, Mesir, Madinah, dan Mekah.

Di sinilah benih perbezaan pendapat muncul.

Bukan kerana mereka ingin bercanggah, tetapi kerana setiap sahabat membawa simpanan hadis yang berbeza.

Ada yang mendengar hukum A, manakala yang lain tidak mendengarnya.

Rasulullah SAW sendiri pernah memberi isyarat bahawa perbezaan kefahaman dalam perkara cabang adalah sesuatu yang dibenarkan, sebagaimana sabda Baginda:

إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ

“Apabila seorang hakim memutuskan hukum lalu dia berijtihad dan benar, maka dia mendapat dua pahala. Jika dia memutuskan hukum lalu berijtihad dan salah, maka dia mendapat satu pahala.” (Riwayat Al-Bukhari)

Ijtihad itu bermaksud usaha yang bersungguh-sungguh oleh sarjana Islam (mujtahid) yang berkelayakan untuk mengeluarkan hukum syarak berkaitan perkara baru atau isu semasa yang tidak dinyatakan secara jelas dalam al-Quran dan Sunnah, berasaskan kajian, intelek, dan kaedah usul fiqh bagi menyesuaikan Islam dengan perkembangan zaman.

Asal Usul Mazhab: Bukan Agama Baru, Tapi Metodologi Ilmu

Ramai yang terkeliru menyangka mazhab itu seperti pecahan agama.

Tegas Ustaz Azhar Idrus, pengisian asal usul mazhab sudah ada sejak zaman Nabi lagi, cuma jenamanya sahaja yang belum wujud.

Imam-imam besar seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bukanlah pencipta syariat.

Mereka adalah “jurutera” yang menyusun kaedah (manhaj) untuk kita memahami dalil.

Mengapa kita perlukan mereka?

Kerana kita orang awam tidak mempunyai alat untuk membezakan hadis yang nasikh (menghapuskan) atau mansukh (dihapuskan).

Memahami asal usul mazhab menyedarkan kita bahawa tanpa bimbingan Imam Syafi’i atau Imam Malik, kita mungkin tersalah ambil hukum daripada hadis yang sebenarnya sudah tidak terpakai lagi.

Keluasan Ilmu Dalam Perbezaan Geografi

Sejarah asal usul mazhab juga dipengaruhi oleh realiti tempatan.

Imam Malik di Madinah lebih menekankan Amal Ahl al-Madinah kerana baginda melihat amalan penduduk di sana adalah warisan hidup daripada Nabi.

Manakala Imam Abu Hanifah di Iraq banyak menggunakan rasional (Ra’yi) kerana keadaan sosial di sana yang lebih kompleks.

Indahnya asal usul mazhab ini adalah sifatnya yang dinamik.

Ia memastikan Islam dapat diamalkan mengikut kesesuaian zaman dan tempat tanpa lari daripada landasan asal.

Perbezaan dalam perkara furu’ (cabang) adalah rahmat yang menunjukkan betapa luasnya syariat Allah SWT buat umat manusia.

Kepentingan Bermazhab Bagi Orang Awam

Bagi kita yang bukan ahli hadis, mempelajari asal usul mazhab adalah jalan keselamatan.

Ustaz Azhar Idrus memberi perumpamaan mudah iaitu, jika kita tidak tahu jalan, carilah penunjuk jalan yang mahir.

Ikut mazhab bukan bermaksud kita taasub kepada manusia, tetapi kita mengikut cara orang alim memahami kehendak Allah dan Rasul.

Kepada mereka yang cuba meninggalkan mazhab atas alasan “ingin kembali kepada Quran dan Sunnah”, sedarlah bahawa para Imam Mazhab itulah orang yang paling pakar tentang Quran dan Sunnah.

Tanpa sandaran pada asal usul mazhab, kita sebenarnya bukan mengikut Nabi, tetapi sedang mengikut nafsu dan logik akal sendiri yang penuh dengan kekurangan.

Hormat Warisan Ilmu

Dr. Rozaimi Ramle menasihatkan agar kita sentiasa menghormati perbezaan pendapat.

Memahami asal usul mazhab sepatutnya menjadikan kita lebih tawaduk, bukan lebih sombong untuk menyesatkan orang lain.

Mazhab adalah jambatan yang menghubungkan kita dengan ajaran Rasulullah SAW yang asal.

  • Hormati perbezaan: Jangan jadikan khilaf punca perpecahan.
  • Terus belajar: Fahami dalil agar amalan tidak sekadar ikut-ikutan.
  • Jauhi taasub: Kebenaran mutlak hanya pada Allah dan Rasul.

Semoga dengan memahami asal usul mazhab, ibadah kita menjadi lebih bermakna dan hati kita lebih tenang dalam mendakap keluasan rahmat Islam.

Akhir kata, jadilah hamba yang berilmu, bukan sekadar hamba yang tahu.

Wallahu a’lam.

Sumber: Dr. Rozaimi Ramle, Ustaz Azhar Idrus

www.waktusolat.digital

Written by Admin
Category: Gaya Hidup
Hits: 224

Bacaan Popular


Baca topik

Terkini


TEMPAT NYAMAN TAMAN BACAAN MASA DEPAN ANDA-JOM KITA MENULIS!!! dhomir.com ingin mengajak dan memberi ruang kepada para penulis khususnya penulisan yang berkaitan dgn agama Islam secara mendalam dan sistematik.Jika anda ingin mencurahkan isi hati mahupun pandangan secara peribadi dhomir.com adalah tempat yang paling sesuai utk melontarkan idea. Dengan platform yang sederhana, siapa sahaja boleh menulis, memberi respon berkaitan isu-isu semasa dan berinteraksi secara mudah.Anda boleh terus menghantar sebarang artikel kepada alamat email:dhomir2021@gmail.com.Sebarang pertanyaan berkaitan perkara diatas boleh di hubungi no tel-019-3222177-Editor dhomir. com