Ensiklopedia

Keterangan ringkas & tepat mengenai pelbagai ilmu!

 

KEJATUHAN TAMADUN BERMULA DENGAN KEGAGALAN MEMILIH PEMIMPIN YANG LAYAK

Oleh: Ibnu Majid

Sesebuah tamadun madani tidak dibina dalam sehari. Ia tertegak di atas asas ilmu, keadilan, amanah dan kepimpinan yang berintegriti. Namun, tamadun yang dibina dengan susah payah boleh runtuh apabila tampuk pemerintahan diserahkan kepada mereka yang tidak mempunyai kelayakan, hikmah dan amanah untuk memimpin.

Pemimpin bukan sekadar pemegang jawatan atau simbol kekuasaan. Pemimpin ialah penjaga amanah, pengemudi arah masyarakat dan penentu masa depan sesebuah negara. Apabila kepimpinan diberikan kepada individu yang tidak berilmu, tidak berakhlak, mementingkan diri sendiri atau mengutamakan kepentingan kelompok melebihi kepentingan rakyat, maka keadilan mula terhakis, institusi menjadi lemah dan kepercayaan masyarakat semakin luntur.

Sejarah membuktikan bahawa banyak kerajaan dan tamadun tidak runtuh kerana kekurangan kekayaan atau kekuatan ketenteraan, tetapi kerana kerosakan dalam kepimpinan. Apabila amanah dikhianati, orang yang layak diketepikan dan keputusan dibuat tanpa kebijaksanaan, maka lahirlah kezaliman, rasuah, perpecahan dan hilangnya arah tuju negara. Pada saat itu, keruntuhan tamadun sebenarnya telah pun bermula, walaupun bangunan masih berdiri dan kemewahan masih kelihatan.

Tamadun madani memerlukan pemimpin yang memiliki empat sifat utama: amanah dalam memegang kuasa, adil dalam membuat keputusan, berilmu dalam memahami realiti dan berakhlak dalam memimpin manusia. Pemimpin yang baik tidak melihat jawatan sebagai kemuliaan, tetapi sebagai tanggungjawab yang akan dipersoalkan di hadapan Tuhan dan diadili oleh sejarah.

Oleh itu, memilih pemimpin yang layak bukan sekadar urusan politik, tetapi tanggungjawab moral dan amanah peradaban. Kerana apabila kepimpinan berada di tangan yang benar, tamadun akan berkembang. Tetapi apabila amanah diserahkan kepada yang tidak layak, keruntuhan mungkin tidak berlaku serta-merta, namun benih kehancuran telah mula disemai dalam jiwa masyarakat dan struktur negara.

Sesungguhnya, masa depan sesebuah tamadun banyak ditentukan oleh siapa yang dipilih untuk memimpinnya. Kerana pemimpin yang amanah membina peradaban, manakala pemimpin yang tidak layak mampu meruntuhkan warisan yang dibina oleh generasi demi generasi.

Written by Admin
Category: Gaya Hidup
Hits: 235

 

RAYUAN MAUT

Penganut agama Islam sejak dulu hingga sekarang ini tidak lepas dari berbagai ujian dan tantangan hidup yang tidak ringan dalam mempertahankan hidupnya. Beragam godaan datang dari kaum yang tidak suka terhadap kebenaran ilahiyah. Mereka terus melakukan upaya untuk menghancurkan keimanan dari dalam dadanya. Mereka meniupkan kenikmatan dunia dengan segala fasilitasnya. Tujuannya agar kembali kafir. Dan saat mereka kafir, maka mereka-umat Islam yang kembali kafir-akan ditertawakan dan dibiarkan menderita. 

Jika toh tidak menderita, orang-orang seperti ini akan dijadikan agen doktrin kaum kafirin untuk memromosikan sebagai iklan tentang keindahan dunia, dan menceritakan penderitaan mereka saat menganut agama Islam.

Allah SWT telah menjelaskan hal tersebut dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 109 sebagai berikut:

وَدَّ كَثِيْرٌ مِّنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ لَوْ يَرُدُّوْنَكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ اِيْمَانِكُمْ كُفَّارًاۚ حَسَدًا مِّنْ عِنْدِ اَنْفُسِهِمْ مِّنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّۚ فَاعْفُوْا وَاصْفَحُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَمْرِهٖۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ۝١٠٩

Artinya:

Banyak di antara Ahlulkitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu setelah kamu beriman menjadi kafir kembali karena rasa dengki dalam diri mereka setelah kebenaran jelas bagi mereka. Maka, maafkanlah (biarkanlah) dan berlapang dadalah (berpalinglah dari mereka) sehingga Allah memberikan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Penulis teringat ujian Nabi Muhammad SAW ketika menyebarkan kebenaran ilahiyah. Kaum kafirin melakukan berbagai upaya untuk menghentikan dakwahnya. Para tokoh pemuka kaum kafirin berjanji memberikan fasilitas dunia, kekayaan, jabatan dan wanita-wanita yang tercantik di Tanah Arab. Pendek kata, seluruh kenikmatan dunia bisa diperoleh dengan sekejap jika Nabi Muhammad SAW meninggalkan dakwah Ilahiyah.

Nabi Muhammad SAW menolaknya. Ia berkata:

"Demi Allah wahai pamanku! Seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan dakwah ini, aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkannya atau aku binasa karenanya.”

Ketika penulis membuka kisah keteguhan dakwah kanjeng Nabi Muhammad SAW, hati terasa damai terhadap ujian hidup yang sering silih berganti. Kita memang bukan seorang Nabi dan tidak akan menjadi Nabi. Ujian hidup tentu tidak sedahsyat Nabi. Namun keteguhan hati memasrahkan diri kepada Allah dalam melihat kehidupan di dunia ini merupakan suatu pembelajaran yang sangat agung agar kita belajar darinya.

Era modern telah menjadi babak baru ujian kehidupan yang semakin hebat. Dunia digital telah menampilkan kondisi ekonomi dan politik global semakin kacau, tentang persaingan hidup, tentang sulitnya mencari pekerjaan, tentang semakin sempit wilayah tempat tinggal kita dan tentang bayang-bayang ancaman geopolitik jika tiba-tiba terjadi perang dunia ketiga; perang dengan tenaga nuklir. Kondisi alam seperti ini terkadang menyebabkan hati kita ciut, gelisah dan takut tidak berkesudahan.

Pikiran manusia dan psikologinya benar-benar dihantam sedemikian hebat. Kondisinya seperti ikan berada dalam timba. Lalu air diputar terus menerus sehingga ikan-ikan tersebut pun akan mengalami stress dan traumatic yang berkepanjangan.

Pada saat kondisi seperti ini, negara-negara adikuasa tampil seperti pahlawan. Mereka menawarkan berita gembira berupa fasilitas dunia. Orang-orang yang sedang terjepit ekonomi dan memerlukan ketenangan dan kebahagiaan hidup akan menyambutnya tawaran-tawaran tersebut. 

Sebenarnya, semua tawaran-tawaran yang diberikan oleh nya hanya sebatas umpan dalam mata pancing. Kenikmatan yang ditawarkan hanya sebatas seekor cacing di ujung mata pancing. Bagi ikan, seekor cacing adalah kenikmatan besar, tapi bagi pemilik pancing satu ekor cacing tidak ada gunannya sama sekali.

Negara-negara adikuasa menciptakan hidup hedonisme. Semua kesenangan diukur dengan keindahan dunia: rumah mewah, kendaraan mahal, alat komunikasi bergengsi, dan pekerjaan bergengsi. Semua di desain sebagai gaya hidup ala modern. Padahal semua itu jebakan, tapi kita tidak menyadari hal tersebut.

Lalu, mereka pun membuat rekayasa baru dengan nama-nama yang mengerikan: krisis moneter, bencana covid-19, kekeringan masalah, dan krisis pangan. Pada saat itu, muncul efek domino dari semua krisis yaitu pengangguran dan ekonomi. Terjadilah kekacauan dimana-mana. Tidak lagi mengenal saudara. Semua ingin menyelamatkan diri. Dunia benar-benar didesain seolah-olah sangat menakutkan.

Hanya orang-orang yang benar-benar beriman selalu berpegang teguh terhadap prinsip-prinsip tauhid. Tidak takut dalam menelusuri ketentuan-ketentuan yang Allah berikan kepadanya. Mereka terus berusaha, belajar, bekerja dan terus memperbaiki kualitas diri. Bukan sebagai tujuan hidup, tapi strategi diri mempersembahkan karya terbaik di dunia dalam merealisasikan perintah Allah yaitu melakukan jihad dan ijtihad peradaban.

Penulis : Vijianfaiz,PhD

Petikan daripada kiblatriau.com

 

Written by Admin
Category: Gaya Hidup
Hits: 150

 

TIGA GOLONGAN ORANG YANG DILAKNAT DALAM AL-QUR’AN

Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

PEMBAHASAN dalam Al-Qur’an yang menarik dikaji ialah golongan orang-orang yang dilaknat. Karena laknat merupakan bentuk kemurkaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas perbuatan yang dilarang. Secara bahasa laknat (العنة) bermakna terusir dan jauh dari rahmat. (Muhammad Al-Amin Al-Harari, Tafsir Hadâiqurrouhi war raihâni, 15/61). Sementara menurut istilah laknat ialah jauh dari rahmat, taufik, hidayah dan ampunan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Di samping itu, orang yang dilaknat mendapat hukuman dunia dan akhirat. Secara tegas Al-Qur’an menjelaskan terdapat tiga golongan orang yang dilaknat yaitu:

1.    Orang Kafir

Secara bahasa kafir bermakna tertutup atau menolak, sedangkan menurut istilah ialah sebuah sikap menentang dan menantang kebenaran syariat yang diturunkan kepada manusia melalui para nabi dan rasul. Penolakan tersebut bukan sebatas lisan, tetapi diiringi dengan perbuatan. Pada periode Makkah misalnya, pentolan qurays seperti Abu Jahal, Abu Lahab, Umayyah bin Khalaf dan petinggi lainnya secara lantang menolak ajaran seruan Rasulullah saw. Penolakan itu disebabkan misi dakwah Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bertentangan dengan keyakinan penduduk Makkah secara khusus, dan Jazirah Arab secara umum. Akibat perbuatan yang telah melampaui batas tersebut, Allah swt melaknat atas apa yang mereka lakukan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَعَنَ الْكَافِرِينَ وَأَعَدَّ لَهُمْ سَعِيرًا

Sesungguhnya Allah melaknat orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala. (QS. Al-Ahzab: 6)

Secara tegas ayat di atas menunjukkan bahwa Allah swt melaknat orang-orang kafir dan menjauhkan mereka dari rahmat serta di akhirat disediakan azab yang pedih dan api yang menyala. (Muhammad Ali As-Shobûni, Shafwatuttâfâsîr, 2/538). Ini merupakan peringatan keras bagi manusia agar senantiasa menjaga keimanan, tidak berpaling dari kebenaran, dan tetap berada di jalan yang diridhai Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena hanya dengan iman dan ketakwaan seseorang dapat memperoleh rahmat, ampunan, dan keselamatan di dunia maupun akhirat.


2.Orang Zalim

Secara bahasa zalim (الظلم) bermakna meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. (As-Syanqithi, Al-Azbu Al-Munîr fi majâlisi as-Syinqithi fi tafsîr, 2/ 658). Sedangkan menurut istilah zalim adalah segala bentuk perbuatan yang melampaui batas, atau juga bisa dipahami sebagai sebuah sikap yang tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya. Orang zalim biasanya selalu menyelisihi aturan yang telah ditetapkan Islam. Perbuatan ini termasuk sesuatu yang dibenci sebab tidak mentaati perintah-perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Maka oleh karenanya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala melaknat perbuatan orang-orang zalim.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

﴿أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ﴾

Ketahuilah, laknat Allah atas orang-orang yang zalim. (QS. Hūd: 18)

Kalimat “Ketahuilah, laknat Allah atas orang-orang yang zalim” merupakan peringatan keras bahwa kezaliman adalah perbuatan yang sangat dibenci oleh Allah Swt. Orang yang zalim akan dijauhkan dari rahmat dan pertolongan-Nya karena mereka merusak hak, menindas sesama dan melampaui batas yang telah ditetapkan. Oleh sebab itu, setiap muslim diperintahkan untuk berlaku adil, menjaga amanah dan menjauhi segala bentuk kezaliman, baik terhadap Allah, terhadap orang lain maupun terhadap diri sendiri.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

﴿أُولَٰئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ﴾

Mereka itu dilaknat Allah dan dilaknat pula oleh semua makhluk yang dapat melaknat. (QS. Al-Baqarah: 159)
Perbuatan buruk yang mereka lakukan tidak hanya dilaknat Allah swt, tetapi juga mendapat laknat dari seluruh makhluk, yaitu mereka mendoakan agar orang-orang zalim jauh dari kebaikan dan rahmat Allah swt.

 

3.Orang Munafik

Secara bahasa, munafik berasal dari kata Arab (an-nifâq) yang berarti menyembunyikan sesuatu atau menampakkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang ada di dalam hati. Kata ini diambil dari istilah nāfiqā’, yaitu lubang persembunyian hewan yang memiliki dua pintu untuk keluar masuk secara diam-diam. Dari makna tersebut, munafik dipahami sebagai sikap berpura-pura dan tidak konsisten antara lahiriah dan batiniah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

﴿وَعَدَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ هِيَ حَسْبُهُمْ ۚ وَلَعَنَهُمُ اللَّهُ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُقِيمٌ﴾
Allah menjanjikan kepada orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah melaknat mereka, dan bagi mereka azab yang kekal.  (QS. At-Taubah: 68)

Laknat Allah bagi orang munafik menunjukkan kemunafikan termasuk dosa besar, karena mudarat yang ditimbulkan lebih besar dan bahkan lebih berbahaya dari orang kafir di satu sisi berpihak dengan orang mukmin dan sisi lain menjadi pengkhianat.

Jadi, oleh karena itu, kelas di akhirat mereka akan bersama orang kafir di neraka Jahannam.
Laknat Allah Subhanahu Wa Ta’ala merupakan bentuk kemurkaan dan dijauhkannya seseorang dari rahmat, hidayah, taufik serta ampunan-Nya.

Adapun orang dilaknat ialah orang kafir, orang zalim dan orang munafik. Orang kafir dilaknat karena menolak kebenaran dan berpaling dari ajaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Orang zalim dilaknat karena melampaui batas, merusak hak dan tidak berlaku adil. Sedangkan orang munafik dilaknat karena sikap dusta dan pengkhianatan mereka, yakni menampakkan keimanan tetapi menyembunyikan kekafiran di dalam hati.***

Sumber: kiblatriau.com

Written by Admin
Category: Gaya Hidup
Hits: 168

 

DIKTATOR TEKNOKRAT: BAGAIMANA 10 INDIVIDU TERKAYA MENGUASAIDUNIA

Oleh: Mohd Shauki Abd Majid

Demokrasi Barat kini hanyalah satu ilusi. Di sebalik pentas politik dan pilihan raya yang disajikan kepada dunia, pentadbiran sebenar tidak lagi berada di tangan rakyat.

Bayangkan sebuah realiti di mana 10 orang individu terkaya di Amerika Syarikat memiliki nilai kekayaan bersih sebanyak $2.3 trilion. Malah, kaum elit seperti Elon Musk bercita-cita untuk menaikkan lagi kekayaan peribadinya sebanyak satu trilion dolar. Kekayaan yang digenggam oleh 10 individu ini adalah secara spesifik, bukannya milik 10 buah syarikat konglomerat atau keluarga.

 

Monopoli

Pemusatan kuasa dan kekayaan ekstrem ini bukanlah perkara baharu. Ribuan tahun lalu, Allah SWT telah merakamkan kisah Qarun dalam Surah Al-Qasas ayat 76, seorang manusia yang takbur kerana kekayaannya yang melimpah ruah, sehingga dia menyangka dia mampu membeli dunia. Hari ini, Qarun telah bangkit semula dalam bentuk diktator korporat.

Dengan wang berjumlah trilion dolar, 10 individu ini bukan sekadar dianggap kaya-raya, tetapi mereka mampu untuk membeli kuasa. Mereka hari ini memiliki White House, mereka yang memasang dan melantik Naib Presiden, serta mereka jugalah yang menentukan secara langsung dasar-dasar kerajaan Amerika Syarikat. Demokrasi US kini hanya tinggal pada nama; sistem yang ada hari ini telah diswastakan sepenuhnya kepada mereka.

Bukan itu sahaja, puak elit ini memonopoli kebenaran dan minda manusia. Mereka mengawal platform komunikasi utama dunia, termasuk platform YouTube ini. Media-media tradisional telah dibeli; contohnya Jeff Bezos kini memiliki The Washington Post.

Manakala operasi aplikasi TikTok di Amerika Syarikat telah dibeli dan dikuasai oleh Larry Ellison, yang membelinya bagi pihak Benjamin Netanyahu, demi melenyapkan naratif kebenaran tentang rakyat Palestin. Terdahulu, beliau juga telah menyerahkan Paramount Studios, Paramount Media, dan CBS News kepada kuasa Netanyahu dan Zionis.

Mereka sedang menguasai naratif global. Sesiapa sahaja yang bercakap perkara yang tidak disenangi oleh kerajaan Amerika Syarikat, suaranya boleh dipadamkan pada bila-bila masa.

 

Dewa Digital

Penguasaan mereka lebih menakutkan apabila ia menembus masuk ke dalam ruang peribadi setiap umat manusia. Mereka menguasai privasi kita. Mereka memiliki alamat e-mel kita, malah tanpa ragu-ragu mempunyai pengetahuan lengkap mengenai setiap ketukan papan kekunci (keystroke) yang kita lakukan dalam tempoh 10 tahun yang lalu. Tidak lama lagi, mata wang kripto yang diramalkan menjadi mata wang utama dunia juga akan berada di bawah telunjuk dan kawalan mereka ini.

Mereka memantau kita 24 jam sehari. Secara halus, oligarki teknologi ini sedang meletakkan diri mereka seolah-olah memiliki sifat ketuhanan, mengetahui segala gerak-geri setiap manusia di muka bumi.

Namun, sebagai seorang Mukmin, kita dituntut untuk meyakini Surah Al-An'am ayat 59; "Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib... dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya." Pengawasan sistem digital ini hanyalah fitnah ciptaan manusia yang mahu memperhambakan manusia lain. Ia adalah ciri-ciri sistem Dajjal yang menuntut kepatuhan dan kebergantungan total umat manusia terhadap ekosistem yang mereka cipta.

 

Amerika vs China

Kita sedang berada dalam fasa percaturan tadbir urus global yang amat pelik dan belum pernah disaksikan di dalam sejarah ketamadunan.

Jika kita lihat di China, sebuah negara tidak demokratik tetapi sebaliknya sebuah teknokrasi, sektor perniagaan secara jelas tunduk dan diletakkan di bawah penguasaan kerajaan. Namun, realiti di Amerika Syarikat adalah terbalik sama sekali. Kerajaan mereka yang kononnya dipilih oleh rakyat, hari ini menjadi hamba dan tunduk kepada kelas korporat dari sektor teknologi gergasi ini.

Pemusatan kuasa sebegini adalah perkara yang diperangi di dalam Islam. Allah SWT telah menetapkan satu prinsip ekonomi dan tadbir urus yang agung di dalam Surah Al-Hasyr ayat 7: "Supaya harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya sahaja di antara kamu."

 

Apabila hukum ini dilanggar, keseimbangan dunia akan runtuh. Inilah Sunnatullah yang semakin dilanggar oleh golongan oligarki teknologi digital hari ini.

 

AI, Kehancuran (Dystopia), & Pemiskinan Massa

Kini, manusia diheret pula ke dalam kancah perlumbaan Kecerdasan Buatan atau AI. Namun adakah AI akan membawa kita ke arah utopia (kesejahteraan) atau dystopia (kehancuran)?

Halatuju kesejahteraan awam pada masa hadapan sangat bergantung kepada bagaimana kita membahagikan lebihan ekonomi dari teknologi AI ini. Jika segala lebihan keuntungan dan keupayaan AI ini terus dikaut dan disalurkan hanya kepada golongan atasan yang 10 orang ini, maka dunia secara total akan berhadapan dengan era pemiskinan besar-besaran.

Rasulullah SAW telah memberikan amaran keras mengenai hal ini lebih 1,400 tahun lalu dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim: "Sesiapa yang memonopoli (menahan barangan/sumber), maka dia adalah seorang yang berdosa." Hari ini, mereka bukan memonopoli makanan, tetapi memonopoli data, ruang kewangan, dan masa depan tamadun manusia.

 

Bangkitlah Dari Ilusi

 

 

Kita tidak boleh terus leka menjadi bidak catur dalam permainan Trillionaire Elitists ini. Orang Islam sepatutnya bebas mindanya daripada mengikut apa sahaja trend teknologi tanpa berfikir, dan seharusnya lebih kritis sebelum mengadaptasi apa yang dicanang atau digembar-gemburkan sebagai masa depan manusia sejagat. Berhenti mengagungkan sistem teknokrat tajaan Barat yang kini jelas dikawal ketat oleh elit korporat yang bernafsu besar. Dihidangkan kepada kita makanan sedap, namun diselindung pula jerat yang akan memerangkap dan mengabdikan kita. Kita mungkin terpaksa menggunakan platform mereka kerana tiada alternatif yang mampu menandingi setakat ini, tetapi jangan sesekali biarkan minda, akidah dan agama kita dijajah oleh naratif golongan ini.

 

Kebergantungan mutlak kita hanya kepada Allah SWT, Tuhan yang tidak memerlukan algoritma mahupun AI untuk mengetahui kebenaran hakiki.

 

 

Written by Admin
Category: Gaya Hidup
Hits: 135

 

MANUSIA TOXIC DAN NPD

Oleh : Samsul Nizar  

Istilah "toxic" menunjuk sifat manusia yang secara konsisten berperilaku negatif, merugikan atau merusak emosional, dan kehadirannya membuat rasa tidak nyaman. Perilakunya cenderung "aneh".

Tujuannya untuk memperoleh simpatik, apresiasi, dan pujian dari lingkungannya. Dalam psiko-logi, manusia bersifat toxic cenderung narsis (narsisme). Sifat ini menghantarkannya hanya peduli dan kagum terhadap diri sendiri. Sikapnya terindikasi dengan ego yang tinggi, arogan, dan merasa paling benar.

Bila dalam batas wajar, sikap ini bisa membangun rasa percaya atau citra diri. Namun, bila muncul berlebihan dan masif, maka perilaku ini menjadi "Narcissistic Personality Disorder" (NPD). Varian bentuk gangguan mental akut yang berbahaya. 

Ketika manusia toxic berwujud NPD, maka menjadikannya sosok yang sombong, lupa diri, licik, picik, ingin dikagumi atau dipuji, hilang empati pada sesama, dan munafik. Sifat ini menghantarkannya berkarakter ala "mesias" (sosok agung atau hebat), padahal sebatas "pahlawan kesiangan". 

Manusia bersifat toxic berbalut NPD begitu mudah diidentifikasi dan terlihat dalam kehidupan nyata, antara lain : 

Pertama, Manipulatif ; sering memutarbalikkan fakta (fitnah) atau membuat lawan pada posisi atau merasa selalu bersalah (gaslighting). Semua dilakukan agar terlihat dirinya hebat, suci, mulia, dan mumpuni. Melalui kepiawaian manipulatif yang dimainkan, terbangun penilaian posi-tif atas dirinya padahal penuh kemunafikan.

Kedua, Egois dan kurang empati ; sosoknya hanya peduli pada diri dan penjilat dengan mengabaikan perasaan orang lain. Kata dan perilakunya tak terkontrol. Hanya peduli pada rasa dan keinginannya. Semua aturan tegak dan tajam untuk orang lain, tapi "roboh dan tumpul" untuk diri dan pengikutnya. Padahal, Allah begitu tegas mengingatkan melalui QS. an-Nisa' : 135.

Ketiga, Berharap validasi ; berbagai bentuk "keanehan sikap atau kata" merupakan bentuk gejolak emosional yang menunjukan keinginan untuk "diakui" (didengarkan, dipuji, dan diapresiasi). Kata sanjungan sekedar "cari muka" tanpa secuil kerja nyata.

Pengharap validasi terlihat ketika dalam wujud interaksinya. Ketika berkomunikasi lisan acapkali suka memotong pembicaraan. Sedangkan ketika berkomunikasi di media sosial terlihat kebiasaannya tak mau menghargai pembicara sebelumnya. Memotong komunikasi dengan mengunggah konten "recehan" yang tak berhubungan dengan isu yang sedang dimuat. Tujuannya hanya untuk mempublikasikan diri, meraih simpatik "komunitas sejenis", dan merusak interaksi yang tak disenangi. Sosok yang demikian patut diwaspadai mentalnya. 

Keempat, Suka menjatuhkan (meremehkan) lawan dengan kritik destruktif dan sinis ; senang mengkritik secara berlebihan, meremehkan pencapaian lawan meski "menggunung" dan memuliakan capaian diri atau kawan yang sedebu dengan berbagai "bumbu" gosip murahan. Manusia toxic memilih objek isu yang digosipkan pada manusia berkualitas rendah. Ia sadar bila gosip dan fitnah yang disebarkan hanya bisa diterima komunitas yang sederjat dengannya. Untuk memperkuat kualitas gosipnya, berbagai bantuan, janji, pujian, dan "oleh-oleh" disuguhkan. Semua dilakukan untuk menunjukan kebaikannya. Padahal, semua yang dilakukan bersifat sementara (semu) sekedar untuk menarik simpatik. Ketika tujuannya tercapai, ia bisa berbalik arah sesuai kondisi dan situasi seakan sosok yang suci. 

Kelima, Pintar bermain drama (manipulasi) dan "bermuka seribu". Upaya menciptakan konflik baru atau membesar-besarkan masalah sepele sehingga lingkungan sekitar menjadi tidak nyaman dan tak harmonis. Untuk itu, Allah telah mengingatkan melalui firman-Nya : "Wahai orang-orang yang beriman !. Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan) yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu" (QS. al-Hujurat : 6). 

Imam al-Qurthubi menjelaskan ayat di atas menekankan agar tabayyun (memeriksa kebenaran) saat menerima informasi dari orang fasik. Tujuannya agar mampu men-cegah penyesalan dan kezaliman akibat mempercayai berita bohong yang disebarkan manusia berkarakter toxic dan NPD. Namun, manusia berkualitas rendah lebih percaya tanpa usul periksa.

Keenam, Tidak konsisten (munafik) ; ucapan dan perbuatannya sering berubah-ubah sehingga sulit dipercaya. Meski nyata kerusakan dan kezaliman yang dilakukan, tapi acapkali berkilah sebagai bentuk kebaikan. Manusia yang demikian telah dinyatakan Allah melalui firman-Nya : "Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Janganlah berbuat kerusakan di bumi!' Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami hanyalah orang-orang yang melakukan perbaikan" (QS. al-Baqarah : 11).

Alasan yang sering dilakukan, padahal begitu jelas telah disindir oleh Allah. Mungkin manusia tak lagi mempertahankan kemanusiaannya. Sebab, manusia toxic (perusak komunikasi) dan NPD (gangguan jiwa klinis) sulit diperbaiki atau disembuhkan. Secara teori, munculnya gangguan kejiwaan toxic dan NPD terindikasi persoalan yang kompleks antara faktor biologis, psikologis, dan sosio-kultural. 

Ada beberapa faktor penyebab muncul sifat toxic dan NPD, antara lain : (1) pola asuh dilingkungan keluarga yang tidak harmonis. (2) trauma masa kecil atau kurang kasih sayang. (3) gangguan genetik dan neurobiologi. (4) stres, konflik batin, dan keluarga yang tidak harmonis. (5) penyalahgunaan dan kecanduan narkoba. 

Kesemuanya acapkali berkelindan dan sulit untuk dipisahkan. Manusia bersifat toxic dan NPD selalu mencari "sensasi". Semakin dipuji atau dikritik semakin menggebu kesombongan dan perilaku menyimpang dilakukannya. Untuk itu, hindari berinteraksi dengan manusia yang demikian. Jalan bijak harus ditempuh agar memutus "perkembang biakannya" adalah jangan pernah mau merespon atau acuh (abaikan) semua kata dan perilakunya. Anggap saja eksistensinya tak pernah ada dan tak perlu ada. Sikap ini akan mampu meminimalkan akses negatif yang ditimbulkannya. Langkah ini disebutkan Allah melalui firman-Nya : "Dan bersabarlah (Muhammad) terhadap apa yang mereka katakan dan tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik. Dan biarkanlah Aku (yang bertindak) terhadap orang-orang yang mendustakan itu, yang memiliki segala kenikmatan hidup, dan berilah mereka penangguhan waktu sebentar" (QS. Muzammil : 10-11).

Menurut Ibn Katsir, ayat di atas berisi pedoman bagi manusia beriman ketika menghadapi kaum kafir dan fasik. Caranya agar menghindari perdebatan dan menyerahkan semua yang dituduhkan kepada Allah SWT. Sebab, hanya Allah sebaik-baik pemberi hukuman (QS. at-Tin : 8).

Dalam Islam, perilaku sifat toxic dan NPD berkaitan erat dengan penyakit hati, yaitu :

(1) 'Ujub (bangga diri). Hal ini diingatkan dalam firman-Nya : “Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia (Allah) paling mengetahui tentang siapa yang bertakwa” (QS. an-Najm : 32).

Dalam tafsirnya, Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa ayat di atas turun sebagai pedoman agar manusia selalu menjaga kerendahan hati dalam beramal. Sebab, amal yang berkualitas memadam api riya' dan menghidupkan dimensi penghambaan yang menghantarkan pada derajat ihsan.

(2) al-Kibr (sombong). Allah begitu benci terhadap manusia yang sombong. Allah berfirman : “Dan janganlah kamu memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri” (QS. Luqman : 18).

Menurut Ibn Katsir, ayat di atas begitu tegas melarang sifat sombong dan memandang remeh orang lain. Hal ini sesuai nasehat Luqman agar anak-anaknya selalu bersikap ramah, tawadhu' (rendah hati), dan memandang sama setiap hamba-Nya. Sebab, kemuliaan hamba hanya diukur pada taqwanya (QS. al-Hujurat : 13).

(3) Sum'ah (ingin didengar, dilihat, atau dipuji orang lain). Rasulullah ﷺ mengingatkan melalui sabdanya : "Barangsiapa yang beramal karena ingin didengar oleh orang lain (sum'ah), maka Allah akan memperdengarkan (aibnya) di hari kiamat. Dan barangsiapa yang beramal karena ingin dilihat oleh orang lain (riya'), maka Allah akan memperlihatkan (aibnya) di hari kiamat" (HR. Bukhari dan Muslim).

Sungguh, rangkaian interaksi manusia bersifat toxic dan NPD hanya mengedepan-kan ego ingin dihargai, dipuji, dan tak mau disalahkan. Anehnya, sosok ini acapkali mendapat ruang, respon, dan diterima oleh komunitas serupa. Demikian sunnatullah yang dijelaskan-Nya (QS. an-Nur : 26). Respon ini akan semakin menyuburkan tanaman racun bagi mental dirinya dan sulit untuk diperbaiki. Namun, ada pula respon atas ketidaktauan atas watak aslinya. Respon jenis ini memungkinkan ruang bagi kesadaran begitu mengetahui watak sebenarnya sosok yang "dipuja".

Manusia berkarakter toxic dan NPD tak pernah mau mengakui kesalahan diri, tapi berupaya mencari kesalahan orang lain. Sosoknya tampil sebagai "pengacara" bagi dirinya, tapi "hakim" terhadap orang lain. Ia berupaya menonjolkan kehebatan dan lupa diri atas kebaikan orang lain. Hanya berselindung dibelakang layar dan takut bila berhadapan. Sebab, ia sadar tak memiliki kemampuan dan keberanian yang bisa dibanggakan, kecuali mental toxic yang hanya berharap validasi. Sosok ini begitu berbahaya (masif) bila melekat pada pemilik pengaruh (intelektual dan sosial). Bila semangat hijrah tak mampu merubahnya, maka virus manusia toxic dan NPD akan menghancurkan bangunan peradaban. Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***

Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis

Sumber: jawapos.com

Written by Admin
Category: Gaya Hidup
Hits: 128

Bacaan Popular


Baca topik

Terkini


TEMPAT NYAMAN TAMAN BACAAN MASA DEPAN ANDA-JOM KITA MENULIS!!! dhomir.com ingin mengajak dan memberi ruang kepada para penulis khususnya penulisan yang berkaitan dgn agama Islam secara mendalam dan sistematik.Jika anda ingin mencurahkan isi hati mahupun pandangan secara peribadi dhomir.com adalah tempat yang paling sesuai utk melontarkan idea. Dengan platform yang sederhana, siapa sahaja boleh menulis, memberi respon berkaitan isu-isu semasa dan berinteraksi secara mudah.Anda boleh terus menghantar sebarang artikel kepada alamat email:dhomir2021@gmail.com.Sebarang pertanyaan berkaitan perkara diatas boleh di hubungi no tel-019-3222177-Editor dhomir. com