SOSOK DEMAGOG VS PEDAGOG
Oleh : Samsul Nizar
Secara bahasa, demagog dan pedagog adalah dua istilah yang berlawanan. Bila demagog adalah sosok manusia yang memanipulasi emosi sosial untuk menampilkan karakter anggun guna mem-perkuat posisi (status kekuasaan), maka pedagog adalah sosok manusia yang berkarakter mendidik, membangun nalar yang cerdas, dan berkarya nyata.
Dalam bahasa sederhana, sosok demagog hanya mengandalkan retorika "pepesan kosong" di atas podium, statement kebijakan yang "nyeleneh" dan terkesan barbar, apologetis, menciptakan kegaduhan tanpa mampu berprestasi, atau varian lainnya. Kehadirannya hanya untuk memanipulasi media informasi, seakan semua yang ada merupakan prestasi dan hasil kerja kerasnya. Padahal, semua yang dikatakan telah terbangun kokoh jauh sebelum kehadiran-nya. Sedangkan sosok pedagog memiliki kualifikasi keilmuan, cita-cita, berkarya tiada henti, mencerdaskan, dan tata kerjanya terfokus (terukur) untuk membangun peradaban yang rahmatan lil 'aalamiin.
Ketika kedua sosok di atas dipertemukan, maka eksistensinya bagaikan "minyak dan air". Ada beberapa konsekuensi ketika keduanya "menguasai" publik, antara lain :
Pertama, karakter manusia demagog akan menggunakan celah kuasa (aji mumpung) dengan membuli dan menyingkirkan sosok pedagog. Sebab, ia khawatir bila kebusukannya akan terbongkar. Berbagai cara dihalalkannya, baik langsung maupun tak langsung. Bahkan, tak sungkan mengguna-kan kekuatan, kuasa, hukum, dan pundi untuk membungkam kebenaran.
Anehnya, sosok manusia demagog selalu dipercaya, tampil kepermukaan, dan diberi panggung megah. Sebab, ia pandai "ambil muka" dengan "wajah lugu tanpa dosa". Katanya penuh pujian, membela "sang pemilik kursi", dan gencar mempublikasi sesuatu yang --sebenarnya-- tak berkuali-tas. Meski sadar akan "kekosangan akal-nya", namun ia tampil begitu percaya diri.
Bagi sosok demagog, senjata dan materi bukan ancaman. Justeru, ancaman yang ditakutinya hanya ketika sosok pedagog hakiki muncul dengan kritik kebenaran yang akan menyingkap kebusukannya. Untuk itu, sosok pedagog harus disingkirkan (aksi atau intimidasi) dan dibungkam.
Fenomena di atas secara rinci dijelaskan oleh Rasulullah ﷺ dalam sabdanya : "Sesungguhnya akan datang kepada manusia tahun-tahun penipuan, di dalam-nya orang yang berdusta dipercaya sedang orang yang jujur didustakan, orang yang berkhianat diberi amanah, sedang orang yang amanah dikhianati, dan di dalamnya juga terdapat al-ruwaibidhah.” Sahabat bertanya, “Apa itu al-ruwaibidhah ya Rasulullah ?”. Beliau bersabda : “Yaitu orang bodoh yang berbicara (memberi fatwa) dalam urusan manusia” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).
Bila diperhatikan secara seksama, hadis di atas merupakan peringatan Rasulullah ﷺ mengenai fitnah akhir zaman. Masa ketika standar kebenaran menjadi terbalik (benar dinilai salah dan salah dinilai benar) dan menempatkan orang yang tidak kompeten untuk mengatur urusan publik. Akibatnya, orang jahil mengatur orang pintar, amanah sebatas kata, fitnah merajalela dan terkesan sengaja diciptakan. Tujuannya agar umat terlena pada "pergunjingan" (fitnah) yang saling beririsan. Akibatnya, persoalan utama terpinggirkan dan terlupakan. Wajar bila kehancuran peradaban begitu masif.
Kedua, karakter manusia pedagog imitasi (formalitas). Meski mengerti hukum dan agama, tapi tak mampu mempertahankan idealisme dan menjaga kebenaran. Sosok-nya cerdas secara keilmuan, tapi penuh kepentingan (tanpa integritas). Kehadiran-nya bagai "baling-baling di atas bukit" yang berputar sesuai arah angin dan pesanan yang menguntungkan. Bicara menggelegar tapi sebatas kata, tanpa karya nyata.
Idealisme sebatas ucapan dan tulisan di atas kertas. Realitanya sekedar "pembual" dan penyebar fitnah. Pertemanan dengan kebenaran hanya sebatas "lipstik" pemanis bibir. Tapi, bila idealisme menghambat tujuannya, ia tak ragu "berbalik arah" dan meninggalkannya. Sosoknya sebagai aktor dibalik layar yang memberi masukan (penjustifikasi) terhadap kaum demagog agar terlihat "hebat dan cerdas". Hal ini dilakukan agar "posisinya aman" dan dinilai loyal. Padahal, loyalitasnya merupakan upaya "menjilat" kaum demagog.
Eksistensi manusia berkarakter pedagog imitasi (formalitas) sangat berbahaya. Ia bisa lebih sadis ketimbang demagog. Kemampuan yang dimiliki dan status yang di-percayakan akan digunakan untuk mendapatkan keuntungan. Ia pintar "angkat telur dan cari muka" dengan manfaatkan posisi demagog jahil yang begitu senang pujian. Tak peduli bila yang dilakukan harus mengorbankan teman yang telah berjasa. Hal ini diingatkan oleh leluhur melalui kata bijak "tak ada teman yang sejati, tak ada musuh yang abadi, kecuali kepentingan dan janji pundi atau posisi".
Bagi sosok pedagog imitasi, idealisme sebatas lipstik pemanis bibir yang mudah luntur. Bahkan, ia tega menggadaikan dan menjual harga diri. Untuk itu, Rasulullah ﷺ mengingatkan dalam sabdanya : "Barang-siapa yang ditanya tentang suatu ilmu lalu dia menyembunyikannya, maka Allah akan mengekangnya dengan kekang api neraka pada hari kiamat" (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi).
Hadis di atas secara tegas peringatan agar manusia berilmu tak menyembunyikan dan tutup mulut menyuarakan kebenaran. Akibatnya, kebenaran terkubur dan kesalahan semakin subur. Untuk itu, bila pemilik ilmu tak lagi peduli lagi membela kebenaran, maka wajar bila api neraka sangat pantas sebagai balasan setimpal akibat mulutnya bungkam dari menyuarakan kebenaran atas kesalahan yang begitu nyata. Sosok demagog acapkali menggunakan pedagog formalitas (imitasi) untuk dijadikan "pion" yang dibenturkan dengan sosok pedagog penjaga idealisme. Untuk itu, arena "debat kusir" sengaja diciptakan agar tiada henti. Tujuannya agar publik terfokus pada perdebatan murahan dan lupa substansi (inti) persoalan (masalah) yang sebenarnya.
Ketiga, karakter manusia pedagog hakiki (ideal) yang istiqomah menjaga kebenaran dan moralitas. Dalam konteks ini, Allah dan Rasul-Nya sangat memuliakan kaum pedagog yang istiqomah. Hal ini sesuai firman-Nya : "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu ; maka barang-siapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir'" (QS. al-Kahfi : 29).
Imam al-Qurthubi menafsirkan ayat di atas sebagai penegasan bahwa Allah memberi manusia kebebasan memilih antara iman atau kafir. Janji surga bagi yang menjaga iman dan menjunjung tinggi kebenaran. Meski dunia membencinya, tapi Allah dan Rasul-Nya sangat mencintai. Sebaliknya, ancaman siksaan neraka bagi pelaku zalim dan munafik. Mungkin sikapnya disenangi penduduk dunia, tapi hina dihadapan Allah dan Rasul-Nya.
Manusia berkarakter pedagog hakiki selalu menjaga nilai kebenaran, profesionalitas, dedikasi, amanah, dan integritas diri untuk meraih ridho Allah dan Rasul-Nya. Sosok-nya senantiasa mengimplementasikan ajaran nabi Muhammad ﷺ. Hal ini sesuai sabdanya : "Sesungguhnya ulama (hakiki) adalah pewaris para Nabi..." (HR. Abu Daud).
Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ menjelaskan kualitas ulama : "Barang siapa yang bertambah ilmunya tetapi tidak bertambah hidayahnya (ketakwaannya), maka ia tidak akan semakin dekat kepada Allah melain-kan semakin jauh" (HR. Ath-Thabrani).
Meski banyak manusia yang mengaku diri-nya ulama, tapi tak semua dimaksudkan oleh hadis di atas. Paling tidak, ada 2 (dua) kategori ulama, yaitu : (1) ulama rabbani (hakiki). Ia selalu menjaga kesucian ilmu dengan berbalut adab mulia. Kategori ini diwakili sosok pedagog hakiki. (2) ulama suu' (imitasi) sebatas label untuk mencari keuntungan duniawi. Tampil begitu anggun dan kata lembut tersusun, tapi menyembunyikan kesombongan, kemunafikan, dan keserakahan. Kategori karakter ini diwakili oleh sosok pedagog imitasi dan terlihat nyata ketika diberi "panggung dan kursi".
Dalam Islam, sosok pedagog yang selalu istiqomah diharapkan menjadi suluh penerang cahaya kebenaran. Hal ini mengimple-mentasikan sabda Rasulullah ﷺ : "Kata-kanlah kebenaran meskipun itu pahit" (HR. Ibnu Hibban dan Ahmad).
Hadis di atas merupakan perintah Nabi Muhammad ﷺ kepada umatnya agar berani menyuarakan kebenaran (keadilan), meskipun jalan tersebut terjal dan berat. Sebab, jalan ini acapkali dibenci, dicela, atau tak disenangi oleh pelaku kejahatan. Namun, perintah Rasulullah ﷺ acapkali tak dihiraukan. Di akhir zaman, komunitas demagog dan pedagog imitasi tampil lebih dominan dan menguasai "panggung". Tapi eksistensinya cenderung mencampakkan nilai-nilai kebenaran dengan membela kesalahan untuk meraih keuntungan (pribadi atau kolektif) duniawi. Karakter ini begitu dikhawatirkan Rasulullah ﷺ. Hal ini sesuai sabdanya : "Jika suatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah waktu kehancurannya" (HR. Bukhari).
Meski hadis di atas begitu populer, tapi tidak pernah dipedomani. Teksnya hanya dihafal, tapi sulit dilaksanakan. Nasehat agung dan suci, tapi tak pernah dipeduli. Sabda mulia, tapi sebatas selingan canda dan tawa. Peringatan yang begitu keras dan tegas, tapi dianggap "angin lalu" tanpa bekas. Begitu angkuh manusia merespon semua firman-Nya dan sabda Rasulullah. Padahal, Allah secara spesifik menegur keangkuhan manusia dengan nada yang keras. Hal ini tertuang pada QS Luqman : 18 dengan menyebutkan manusia yang angkuh melebihi makhluk paling angkuh (Iblis). Tapi semua menutup mata dan bisu.
Sungguh, Allah dan Rasul-Nya merindukan sosok pedagog hakiki. Sosok penjaga kebenaran dengan simpul adab mulia. Semoga masih tersisa sosok pedagog hakiki akhir zaman yang senantiasa istiqomah pada nilai kebenaran. Sebab, kehadirannya akan meminimalisir ruang gerak destruktif kaum demagog dan pedagog imitasi yang "bergentayangan" merusak peradaban. Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***
Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis
Sumber: jawapos.com
MENGELOLA TAMAN SURGA
Sejak pagi-sebelum subuh-hujan deras membasahi bumi. Terdengar nyanyian suara Katak tanpa henti. Penuh kebahagiaan. Tidak peduli seperti apa situasinya. Tidak peduli pagi ini rupiah telah tembus Rp. 17.500. kawanan Katak terus saja dzikrullah-dzikir kepada Allah- sebagaimana firman-Nya pada Q.S. Al-Isra ([17]::44) sebagai berikut: “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun”.
Bisakah kita sumeleh dengan segala fenomena alam semesta ini yang terkadang menyesakan dada. Bisakah kita hidup dengan menghadapi segala problematika yang sangat komplek dengan penuh kesadaran bahwa semua merupakan jalan untuk semakin dewasa. Bisakah kita menjadikan semua kejadian yang kita rasakan saat sekarang ini menjadi bagian kita semakin mengenal Allah dan hati semakin jembar-lapang dada.
Alam semesta telah mengajarkan kesiapan diri tentang pentingnya menghindari tipu daya dunia yang menyebabkan kita terpecah belah. Allah tidak menghendaki kita seperti umat yahudi yang telah bertengkar terus-menerus karena persoalan dunia dengan segala macam jenis dan namanya.
Tuhan telah mengajarkan melalui firman-firman-Nya kepada Nabi Muhammad SAW dan umatnya tentang tipu daya permainan dari Kaum Yahudi. Permainan kata dan perbuatan. Terlalu banyak janji tentang hal-hal yang menggiurkan kepada-nya tentang indah nya kehidupan. Namun kanjeng Nabi sangat istiqomah berada dalam jalan-jalan Tuhan-Syariat Islam. Ia tenang menghadapi persoalan. Ketenangan pun ditularkan kepada para sahabat-sahabatnya. Saat mereka mendapatkan sanksi dari kaum kafirin dan yahudi tentang pemutusan kehidupan, tentang sulitnya ekonomi. Nabi dan sahabat-sahabat nya senantiasa ikhtiar menyelesaikan berbagai problematika kehidupan dengan senantiasa memperkuat hubungan dengan Allah SWT.
Allah telah berfiman dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 108 sebagai berikut:
اَمْ تُرِيْدُوْنَ اَنْ تَسْـَٔلُوْا رَسُوْلَكُمْ كَمَا سُىِٕلَ مُوْسٰى مِنْ قَبْلُۗ وَمَنْ يَّتَبَدَّلِ الْكُفْرَ بِالْاِيْمَانِ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاۤءَ السَّبِيْلِ ١
Artinya:
Ataukah kamu menghendaki untuk meminta Rasulmu (Nabi Muhammad) seperti halnya Musa (pernah) diminta (Bani Israil) dahulu? Siapa yang mengganti iman dengan kekufuran, sungguh, dia telah tersesat dari jalan yang lurus.
Ayat tersebut menunjukan kesalahan berulang-ulang dilakukan oleh Kaum Yahudi-Bani Israel- dari dulu hingga saat sekarang ini. Selalu saja memberi kabar gembira, tapi selalu saja yang hadir adalah penderitaan. Mereka selalu membawa berita angin surga, tapi faktanya hembusan api neraka. Mereka selalu memberikan janji-janji tentang hijau nya ladang kurma, perkebunan yang luas dan peradaban yang memuncak, tapi yang diberikan kepada kita adalah kota-kota yang gersang, panas dan perkebunan yang kering tidak ada hasil yang memuaskan.
Dalam konteks yang lebih luas, kaum yahudi telah menancapkan kuku kekuasaan di hampir seluruh belahan dunia. Mereka sangat mudah memberikan kabar gembira kepada setiap bangsa dan negara. Mereka juga sangat mudah memutarbalikan fakta kabar gembira menjadi jurang neraka yang sangat mengerikan kepada negara-negara yang ada dalam pelukan kekuasaan. Negara-negara tersebut seperti terkena candu narkoba. Saat mengkonsumsinya terasa indah isi dunia. Saat tidak mengkonsuminya, seluruh tubuh terasa sakit. Nafsu dan pikiran ingin terus merasakan narkoba. Bahkan menjual seluruh apa yang ia punya pun rela hanya sekadar untuk menuruti nafsunya, yaitu mendapatkan segenggam narkoba.
Allah mengajarkan kepada umat Islam agar tidak mudah tergiur oleh bujuk rayu mereka-kaum yahudi-sebagaimana mereka telah lakukan pada masa Nabi Musa. Mereka mencoba membuat rekayasa kehidupan untuk menukar keimanan dengan kebahagiaan dunia-yang sebenarnya hanya sebatas fatamorgana.
Hidup, dalam kondisi apapun harus tetap berpegang pada kalimat tauhid. Semua pekerjaan yang kita lakukan tidak boleh menjadikan diri semakin jauh dari-Nya. Justru sebaliknya, harus semakin dekat dengan-Nya. Kesulitan ekonomi, pendidikan, lapangan kerja, mengelola organisasi, lembaga dan sebagainya adalah bagian dari operasional kemampuan kita masing-masing. Semakin banyak belajar tentang kehidupan, semakin bisa mengurangi berbagai persoalan. Tentu saja, ruh penyelesai semua itu adalah kesadaran bersama untuk sama-sama kembali kepada ajaran yang teragung yaitu agama Islam.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Sumber: imamghozali.id
MANUSIA BERTOPENG: JAUHI DARI MEREKA YANG MEMILIKI DUA WAJAH
Oleh: Ibnu Majid
Dunia ini merupakan ujian Allah SWT bagi mereka yang bertaqwa. Semakin hari, ia semakin dipenuhi dengan topeng dan kemunafikan, bukan dengan wajah manusia yang jujur dan yang benar. Inilah realiti yang pahit, namun tetap menjadi sesuatu yang terpaksa dihadapi dengan tabah.
Mungkin pernah terlihat antara kenalan, dalam bicara terukir senyuman, berkongsi makanan, dan gelak ketawa bersama-sama. Namun, sebaik sahaja memalingkan pandangan ke belakang, kebenaran yang berbeza muncul. Gelak ketawa dan senyuman, bertukar menjadi kutukan, kritikan, tohmahan dan adu domba.
Sesetengah orang akan kekal sebagai rakan selagi mana mereka mendapat manfaat daripada hubungan dengan kita. Sebaik sahaja kita menghadapi kesukaran, sebaik sahaja kita jatuh, mereka akan hilang seperti bayang-bayang di waktu senja. Mereka senyap dan lenyap dalam kegelapan malam. Entah mati atau masih hidup.
Dunia ini bukan diisi dengan orang-orang baik sepenuhnya. Dengan zaman yang semakin materialistik, semakin ramai golongan yang hanya menganggap hubungan antara manusia adalah satu strategi untuk menguntungkan diri sendiri dan keluarga. Di sebalik topeng senyuman yang dipakai, mereka sentiasa merancang untuk mengambil kesempatan atas diri kita. Ingin mengambil keuntungan peribadi.
Ada yang tersenyum di hadapan, tetapi menghunus lidah tajam di belakang. Ada yang berkongsi makan dan ketawa, tetapi dalam diam memijak kita saat kita jatuh. Mereka tidak mempedulikan kita. Inilah jenis manusia yang bertopengkan syaitan laknatullah. Allah SWT telah memberi peringatan jelas dalam Surah Al-Baqarah ayat 9:
“Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri mereka sendiri, tetapi mereka tidak sedar.” - (Surah Al-Baqarah, ayat 9)
Di zaman media sosial, setiap mereka yang bertopeng berlumba-lumba untuk menunjukkan diri mereka sebagai manusia terhebat, namun realitinya sangat berbeza. Mereka menipu dengan penampilan, watak kekayaan, namun langsung tiada kemahiran, kecuali kemahiran untuk menipu. Kemahiran adu domba. Kemahiran mengambil kesempatan atas kejujuran atau kelemahan orang lain.
Manusia bertopeng dan licik ini bukanlah fenomena baharu zaman ini. Mereka telah wujud sejak dahulu lagi. Dalam hadith sahih riwayat al-Bukhari, Nabi SAW bersabda: “Sejahat-jahat manusia adalah mereka yang memiliki dua wajah. Dia datang kepada orang lain dengan wajah yang lain, dan dia pergi kepada orang lain dengan wajah yang lain pula.” - (Sahih al-Bukhari).
Imam al-Nawawi menafsirkan orang sebegini sebagai golongan munafik — mereka tidak pernah jujur dengan mana-mana pihak, hanya memanipulasi untuk kepentingan peribadi.Untuk mengenyangkan perut mereka sahaja.
Maka apakah yang harus kita lakukan?
Pertama sekali, jangan biarkan pengkhianatan menjatuhkan kita. Jadikan pengalaman dengan manusia bertopeng sebagai pelajaran paling berharga. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Taubah ayat 51:
“Katakanlah: Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada-Nya orang-orang beriman bertawakal.” - (Surah Al-Taubah, ayat 51)
Kedua, percayalah kepada tindakan, bukan janji dan kata-kata manis. Jangan mudah tertipu dengan senyuman manja atau para pengampu. Manusia bertopeng itu selalunya berbicara indah, lemah lembut, tapi niatnya hanya untuk menipu.
Ketiga, kecilkan lingkungan kepercayaan. Lebihkan diam, banyakkan pemerhatian. Kerana ketenangan lebih berharga daripada berkawan dengan orang yang berpura-pura.
Rasulullah SAW pernah bersabda dalam hadith yang bermaksud: “Tidak sepatutnya seorang yang beriman, disengat sebanyak dua kali daripada satu lubang (yang sama).” - (H.R. al-Bukhari 6133 dan Muslim 63)
Maka berhentilah mengharapkan kesetiaan daripada mereka yang tidak tahu erti setia. Berhentilah merayu kasih daripada mereka yang hatinya dipenuhi tipu daya. Walaupun pahit untuk ditelan, tetapi ia adalah kebenaran yang akan membebaskan jiwa kita. Jangan biarkan manusia bertopeng untuk menipu kita lagi. Semoga Allah SWT memberi kita sakinah di atas muka bumi-Nya, dan jauhkan kita daripada mereka yang memiliki dua wajah.
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh dari Syaitan-syaitan manusia dan jin, setengahnya membisikkan kepada setengahnya yang lain kata-kata dusta yang indah-indah susunannya untuk memperdaya pendengarnya. Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah mereka tidak melakukannya. Oleh itu, biarkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan (dari perbuatan yang kufur dan dusta) itu”.(Surah al-An’am 112)
PILU PENDIDIKAN BERKEADABAN
Oleh : Samsul Nizar
Secara teoritis, pendidikan berkeadaban merupakan proses pembelajaran yang menginternalisasi ilmu dengan nilai-nilai agama, etika, dan budaya. Tujuannya untuk membentuk manusia cerdas, berkarakter, dan akhlak mulia. Eksistensi pendidikan berkeadaban bertumpu pada pembangunan karakter, bukan sebatas transfer ilmu, janji "selembar ijazah", atau formalitas kelembagaan yang mengedepankan "rekayasa bisnis".
Melalui pendidikan berkeadaban, dimungkinkan terciptanya masyarakat maju, harmonis, dan beradab. Untuk itu, inti pendidikan berkeadaban tertumpu pada upaya memanusiakan manusia agar menjadi individu yang baik (good person), bermoral (moral person), dan cerdas (smart person). Dalam Islam, tipikal ini tampil pada sosok Rasulullah ﷺ. Hal ini sesuai sabdanya : "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia" (HR. al-Baihaqi).
Namun, tataran ideal di atas secara per-lahan terus tergerus dan kering. Berbagai fenomena perilaku amoral (pribadi dan kolektif) telah melukai dan menodai kesucian (ideal) dunia pendidikan. Bahkan, fenomena ini dilakukan oknum "mulia" dan terjadi pada lembaga pendidikan yang "ternama dan terkemuka". Langkah preventif tak kuasa dilakukan. Padahal, berbagai bentuk "kejahatan" (hukum dan agama) acapkali terjadi di depan mata, namun tak pernah "terselesaikan". Begitu perilaku amoral viral, langkah "silat lidah", tutup mulut, atau mencari alibi (kambing hitam) dilakukan untuk menutupi kesalahan atas ketidakmampuan pengawasan. Perilaku amoral serupa berpotensi terjadi pada lembaga-lembaga "level gurem" lainnya. Hanya saja, radar medsos begitu terbatas. Kadangkala, slogan "no viral, no justice" ada sisi benarnya. Meski hadir terlambat, tapi masih ada ruang bagi munculnya kebenaran. Namun anehnya, meski amoral (kejahatan) begitu viral, tapi tetap tertutup "anggun" dan tak tersentuh, bahkan terus berulang. Mungkin pelakunya merupakan makhluk ghaib yang bergentayangan tak tersentuh, "raksasa" digdaya yang tak bisa dilawan, atau silau gemerlap cahaya pundi.
Fenomena perilaku amoral insan akademik yang viral belakangan ini bak "bola salju". Sungguh, butir salju amoral telah bergulir sejak lama. Begitu masalah viral, semua elemen --seakan-- terkejut dan "gagap". Bukti lemahnya pengawasan dan ketidak-pedulian mengantisipasi "percikan salju". Seyogyanya, berbagai perilaku amoral diusut tuntas dari hulu sampai ke hilir.
Ada beberapa indikasi fenomena pendidikan berkeadaban sedang mengalami krisis idealismenya, antara lain :
Pertama, Ijazah tanpa "syahadah" (pengakuan).
Ketika perhatian hanya terfokus pada kasus ijazah palsu, tapi perhatian terlepas dari ijazah asli tapi tak pantas. Asli karena melalui proses yang sesuai aturan dan dikeluarkan oleh lembaga yang diakui negara. Namun, tak pantas bila ilmu pemiliknya tak sesuai dengan ijazah yang diperoleh. Akibatnya, ijazah sekedar bukti formalitas, tapi tanpa kualitas (syahadah) ilmu dan adab pemiliknya. Padahal, ideal-nya ijazah tanda berilmu dan pemiliknya dijanjikan Allah akan ditinggikan derajatnya. Hal ini dijanjikan melalui firman-Nya : "...niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat..." (QS. al-Mujadalah : 11).
Meski ayat begitu jelas, anehnya manusia lebih menyenangi pemilik ilmu formalitas yang "mengatur dan bisa diatur" sesuai kepentingan. Sebaliknya, sosok pemilik ilmu hakiki acapkali "dibenci" karena hanya tunduk pada nilai moral dan kebenaran.
Kedua, Kuantitas tanpa kualitas.
Hanya mengejar jumlah, tanpa mengejar mutu. Menjual janji, nama besar, gemerlap publikasi, dan popularitas sumber daya, namun realitanya sungguh mengecewakan dan tak sesuai yang diharapkan.
Bila dunia pendidikan mengedepankan "bisnis" ketimbang "mencerdaskan", maka orientasinya cenderung lebih mengejar kuantitas untuk menutupi "motif ekonomi". Melalui jumlah input yang banyak, proses sebatas administrasi, dan out put berlabel, maka laba yang diraih akan berlipat. Feno-mena ini diperparah ketika "nakhoda jalur transaksi" yang hanya "tidur pulas tanpa mimpi". Hadir sebatas mengejar status dan menikmati fasilitas tanpa karya nyata yang terukur. Ketika orientasi model ini mendominasi dalam pengelolaan lembaga pendidikan, maka tujuan peningkatan kuali-tas (proses dan lulusan) sebatas mimpi.
Sungguh, pengelolaan pendidikan seyogya-nya mengedepankan kualitas dan adab. De-ngan demikian, kuantitas (input) akan berbondong-bondong. Bagai managemen ru-mah makan. Tampilkan kualitas masakan yang lezat dan bergizi, ruang yang bersih, sarana pendukung yang memadai, layanan yang santun, dan biaya yang terjangkau, maka konsumen akan antrean datang tanpa perlu diundang. Namun, bila sebalik-nya, maka pelanggan akan meninggalkannya. Ketika hal ini terjadi, maka langkah penyebaran brosur dan "mengemis" agar para konsumen datang tak akan banyak membantu secara signifikan.
Ketiga, Berharap status tanpa entitas (karya nyata).
Status tampil anggun, tapi acapkali tak berkorelasi dengan karakter mulia dan karya nyata yang rahmatan lil 'aalamiin. Agar status diperoleh, berbagai upaya dilakukan tanpa peduli nilai moral, akademik, dan agama. Bahkan, ada yang belum menyelesaikan studi dan memenuhi persyaratan formal, tanpa malu menulis-kan gelar meski hanya calon (candidate). Bak "permen" (candy) yang begitu manis, tapi merusak gigi dan kesehatan. Anehnya, meski terkesan "pembohongan publik", tapi seakan legal dan dinilai wajar.
Ketika status (gelar) telah diraih, acapkali tak berkorelasi dengan karya nyata sesuai gelar yang disandang sebagai bukti profe-sioalismenya. Meski "scopus" menjadi ruang yang nyata "memeras energi, moral, materi, dan transaksi" sebagai lahan pundi, tapi tak ada yang peduli. Moralitas "adab ilmu" tak lagi tersisa. Pemilik ilmu seakan --terpaksa-- "mengemis" untuk dipublikasi. Padahal, status ilmu begitu tinggi dan suci. Meski semua bisa "ditutupi", tapi nyata dihadapan-Nya. Mungkin telah sirna "rasa malu" atas status (gelar) yang dimiliki. Semua tertutup oleh formalitas yang diagungkan. Lembaga pendidikan seakan tak kuasa menjawab fenomena yang terjadi. Sebab, tujuan dan energi terkuras untuk memenuhi syarat meraih status akreditasi yang diharapkan. Akibatnya, nilai-nilai luhur menjadi luntur oleh tuntutan administrasi dan rekayasa nilai pragmatis.
Padahal, ilmuwan sejati dimuliakan karena keluasan ilmu, adab, dan manfaatnya, bukan karena pencitraan. Untuk itu, Rasulullah ﷺ bersabda : “Barangsiapa meminta-minta untuk memperkaya diri, maka ia seakan-akan memakan bara api neraka” (HR. Ahmad).
Ketika hadis di atas menggunakan kata "meminta-minta" (tangan di bawah), tapi fenomena akhir zaman justeru "menawar-kan" (tangan di atas). Hanya beda bentuk dari "memelas" berubah jadi "memeras".
Keempat, Hilangnya adab dan agama.
Adab tergilas oleh nilai pragmatis dan agama sirna oleh kebanggaan pemikiran sekuler. Seakan, agama sebatas ritual, tanpa menyentuh ilmu. Padahal, agama bukan sebatas hubungan vertikal, tapi men-jelaskan aspek alam semesta.
Dalam Islam, agama dan adab bukan sekadar pelengkap, melainkan ruh (inti) pendidikan. Tanpa agama dan adab, ilmu akan kehilangan keberkahan dan tak mampu membawa kemaslahatan bagi individu maupun masyarakat. Rasulullah ﷺ mengingatkan : "Muliakanlah anak-anakmu, perbaikilah adab mereka" (HR. Ibnu Majah).
Hadis di atas begitu tegas terhadap adab. Penanaman adab dalam proses pendidikan berarti memuliakan peserta didik dan pendidik. Namun, ketika adab telah sirna, maka berarti menghinakan keduanya.
Kelima, Profesi tanpa profesionalisme.
Mengajar sebatas melaksanakan tugas, bukan sentuhan mengisi kalbu (mendidik). Kadangkala, tugas tak lagi sesuai bidang keahlian. Tak tersisa rasa malu terhadap ilmu. Semua "dilahap" demi status, pundi, dan keinginan meraih "kredit point" yang utama. Meski kasus ini begitu kasat mata, namun tak ada yang peduli. Peserta didik hanya berharap nilai (lulus), penangung-jawab hanya tertumpu pada terselenggara-nya proses, dan pengawal pendidikan sebatas menunggu "laporan tertulis" tanpa tau berbagai rekayasa yang terjadi. Meski semua bisa dipertanggungjawabkan se-cara administratif, namun tak pernah bisa menipu Allah dan Rasul-Nya. Hal ini sesuai sabda Rasulullah ﷺ : "Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpin-nya" (HR. Bukhari dan Muslim).
Melalui hadis di atas, tak ada yang lepas dari pertanggungjawaban di hadapan-Nya. Meski di dunia bisa "lepas menikmati", tapi di akhirat semua perilaku terbuka lebar.
Bila dianalisa secara jujur, berbagai persoalan mewujudkan mimpi pendidikan berkeadaban hadir sejak rekruitmen input, proses, dan output, baik terhadap sosok pendidik, peserta didik, tenaga kependidik-an, dan "pengawal" pendidikan. Bila hadir sosok profesional dan amanah, maka mimpi pendidikan berkeadaban akan terwujud. Namun, ketika ketidaktepatan dan "pat gulipat" yang dilakukan, maka akan hadir "kekecewaan" dan peradaban tampil tanpa keadaban. Padahal, keadab-an merupakan cerminan peradaban tinggi, perilaku yang beradab bukti karakter ilmu-an mumpuni, dan sosok yang menjunjung nilai-nilai kebenaran (amanah).
Sungguh, jangan biarkan pendidikan yang berkeadaban hanya sebatas harapan, kata, dan mimpi. Sebab, bila sekedar mimpi begitu terjaga dari tidur yang panjang, semua sebatas "pepesan kosong". Bila hal ini terjadi, tak ada lagi guna penyesalan dan pembelaan (apologi). Peradaban kehilangan nilai dan marwah generasi tercerabut tanpa sisa. Ketika waktunya, semua akan diminta pertanggungjawaban. Meski aturan (hukum) bisa direkayasa sesuai "kesepakatan", tapi pengawasan-Nya (vertikal) tak pernah mampu ditutupi oleh tampilan munafik dan taubat imitasi. Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***
Editor : Edwar Yaman
Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis
Sumber: jawapos.com
KETUK PINTU LANGIT
Perhatikanlah bagaimana nyiur melambai di pinggir pantai, air mengalir di sungai yang bening, gunung menghijau jadi pasak bumi. Semuanya tunduk dan bertasbih kepada Allah.
Jelajahilah bumi dan perhatikan bagaimana kerusakan yang terjadi akibat ulah tangan_perilaku manusia yang hilang kendali, zalim yang sudah kehilangan pelita hidup. Mereka tenggelam dalam asyik maksyuk istana setan.
Bila hati sekeras batu, bila akal tak waras lagi, bila ego nafsu jadi ajudan setan, bila penglihatan pendengaran sudah tersumbat. Maka diberi peringatan atau tidak sama saja bagi mereka.
Hidupkanlah cahaya Illahi di hati, jadi musafir yang gigih mengetuk pintu langit, lukis di kain kanvas dunia amal ibadah yang indah, jadi hamba Allah yang diredaiNya
15 Maret 2026
Pardi Syamsuddin