Ensiklopedia

Keterangan ringkas & tepat mengenai pelbagai ilmu!

 

KESERAKAHAN DAN KELICIKAN

Oleh : Samsul Nizar  

Dikisahkan, sosok pemilik restoran rakus dan khianat. Ketika restorannya maju pesat, ia ingin tampil dominan. Untuk itu, ia merencanakan menyingkirkan peracik bumbu yang sejak awal ikut membidani kesuksesan restorannya. Padahal, peracik bumbu tersebut merupakan "kunci utama" kelezatan masakan dan kekaguman setiap konsumen. Kelezatan yang membuat restorannya begitu laris dan berkembang pesat.

Otak rakus dan licik pemilik restoran terus berputar mencari alasan. Akhirnya, ditemukan cara untuk menyingkirkan si peracik bumbu. Ia meminta agar si peracik bumbu mencantumkan resep (bahan baku) di setiap masakannya. Alasannya karena tuntutan pemerintah yang mewajibkan agar semua masakan mencantumkan bahan-bahannya. Dengan kepolosannya, si peracik bumbu menuliskan semua "resep rahasia" yang diinginkan pemilik restoran.

Merasa semua rahasia resep masakan telah dimiliki, keesokan hari si peracik bumbu diberhentikan dari restorannya. Resep tersebut diserahkannya kepada koki dungu untuk memasak menu restorannya. Tapi, hasil masakan koki berbeda kualitas (rasa). Seminggu kemudian restoran tersebut sepi tanpa pengunjung. Si pemilik restoran begitu marah dan menuduh si peracik bumbu licik karena tak menuliskan bumbu secara benar. Si peracik bumbu berkata, "aku telah menuliskan semua nama bumbu yang tuan inginkan. Tak ada yang kusembunyikan. Tapi tuan tak meminta takaran setiap bumbu, suhu api memasak, urutan bumbu dalam masakan, dan cara memasak yang benar. 

Semua perlu proses panjang, bukan tiba-tiba sekedar melihat nama bumbu. Sebenarnya, aku jujur men-jelaskan nama bumbu sesuai permintaan, tapi tuan yang serakah dan licik menyingkirkan ku setelah restoran ini berkembang pesat". Mendengar penjelasan si peracik bumbu, si pemilik restoran sadar dan ter-tunduk malu. Kerakusan dan kelicikannya telah menyebabkan restorannya tak lagi di-datangi konsumen dan akhirnya tutup.

Kisah di atas merupakan fenomena nyata. Fenomena hilangnya "rasa menghargai" atas jasa orang lain, seiring munculnya keserakahan yang menggunung demi memperoleh pengakuan instan. Kisah ini begitu nyata lintas generasi dan level sosial. Hanya beda judul, setting cerita, sutradara, aktor, lokasi, dan waktu, tapi sama pada nilai substansinya. Kisah yang mengungkap pelajaran moral (adab), antara lain :

Pertama, Ketika berada di masa sulit untuk membesarkan restoran, tak banyak sosok yang mau tampil, berjuang, dan bertahan. Sosok yang tampil hanya mereka yang mau berjuang dan hadir bermodalkan keharmonisan kerja. Namun, begitu keberhasilan telah diraih, muncul sosok para "pahlawan kesiangan" yang begitu serakah untuk berkuasa dan menguasai. Untuk itu, berbagai upaya licik akan dilakukan untuk menyingkirkan sosok yang telah berjasa. Sosok yang dianggap penghalang keserakahan-nya. Tujuannya, agar "pundi" tercurah dan tepukan pujian yang akan mengangkat (mengharumkan) namanya. Dalam sejarah Islam, karakter manusia yang demikian tampil pada sosok Abdullah bin Ubay bin Salul. Iatak mau berjuang (perang), tapi begitu peperangan telah berhasil, ia tampil terdepan mengharap pujian dan dihormati atas jasa yang tidak pernah dilakukannya.

Karakter ini telah diingatkan dan diancam oleh Allah melalui firman-Nya :"Janganlah sekali-kali kamu menyangka, bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih" (QS. Ali Imran : 188).

Menurut al-Qurthubi, ayat di atas menjelaskan sifat kaum Yahudi yang menyembunyikan kebenaran, bersikap gembira atas kebodohan, dan menuntut pujian atas semua yang tak dilakukan. Meski ayat begitu tegas, tapi manusia acapkali tak memperdulikan peringatan Allah dan begitu semakin nyata melakukan pelanggaran (kemungkaran).

Kedua, Pemilik restoran melambangkan pemimpin berkarakter bodoh, licik, culas, dan berupaya menutupi sejarah. Ingin tampil "berkuasa" dengan menyingkirkan sosok "aktor utama" yang telah berkontribusi memajukan restorannya. Caranya dengan menghapus sejarah. Sungguh, celaka bagi pemimpin yang berkarakter munafik dan dengki. Hal ini dijelaskan Allah dalam firman-Nya: "Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka" (QS. an-Nisa' : 145).

Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas menegaskan kehinaan bagi orang munafik yaitu di kerak neraka paling bawah dengan siksa paling pedih. Sebab, mereka menampakan iman untuk menyembunyikan kekafiran. Tipu dayanya lebih berbahaya bagi Islam ketimbang orang kafir. Bagi mereka, tak ada yang menolong, meski penduduk bumi memuji dan menghargai. Sebab, munafikun akan dikelilingi manusia yang bersifat dan berkarakter serupa (munafik dan licik).

Ketiga, Profesionalitas dan kompetensi si peracik bumbu terbangun dari proses belajar yang panjang dan kerja keras tak kenal lelah. Sebab, si peracik bumbu tau dan melaksanakan pesan Rasulullah:"Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, mengerjakannya secara itqan (profesional)" (HR. Thabrani).

Merujuk hadis di atas, kata itqan menuntut seseorang agar tidak sekadar bekerja, tapi mengerjakannya dengan ketekunan, ikhlas, perencanaan matang, berkompeten (al-qawiy), berintegritas (al-amin), dan berdedi-kasi tinggi (muru'ah). Profesionalitas yang demikian terbangun melalui proses yang panjang, bukan instan bak "membalikan telapak tangan".

Sikap profesionalitas perlu didukung oleh pengetahuan mumpuni, keterampilan (skill), jam terbang yang tinggi (deliberate practice), sikap(attitude), kematangan emosi, etika, dan tanggungjawab melalui berbagai pengalaman yang dihadapi.

Keempat, Koki yang bodoh akan terlihat nyata atau ketidakmampuan yang selama ini disembunyikan. Tampil sebatas "asal bos senang" (ABS) dengan menyanggupi semua perintah si bos. Padahal, ia melaku-kan amanah tanpa kemampuan. Untuk itu, Rasulullah telah mengingatkan : "Apa-bila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancur-annya (kiamat)" (HR. Bukhari).

Meski hadis di atas begitu jelas, tapi acap-kali manusia justeru menafikannya. Kata kompetensi sebatas teori yang dikalahkan oleh kepentingan dan ambisi yang menggunung. Akibatnya, kehancuran bagaikan virus akut yang menghancurkan sendi peradaban. Bahaya sifat serakah telah diingatkan Rasulullah melalui sabdanya : "Seandainya anak Adam memiliki satu lembah dari emas, tentu ia ingin memiliki dua lembah emas. Dan tidak akan ada yang bisa memenuhi mulutnya (membuat-nya puas) kecuali tanah (kematian), dan Allah menerima taubat bagi siapa saja yang bertaubat" (HR. Bukhari dan Muslim).

Peringatan Rasulullah di atas seyogyanya menyadarkan agar bijaksana, bukan melanggengkan "pijak sini sana" yang ber-muara kezaliman pada sesama. Ketika nafsu mendominasi, kepuasan tak bertepi.

Kelima, Konsumen yang cerdas akan mengedepankan kualitas dan "rasa". Masakan lezat diminati meski harga mahal. Sedangkan masakan yang serampangan tak ada yang mau membeli meski harga murah (murahan).  Namun, bagi konsumen yang jahil dan zalim, produk masakan hanya dilihat pada siapa sosok yang memasak atau pemilik tanpa peduli rasa dan "kebersihan". Lebih mengedepankan tampilan, brand, dan pramusaji, bukan kualitas masakan. Meski masakan hambar, kotor dan penuh "penyakit" akan dipuji setinggi langit. Padahal, menu yang dihidangkan tak memberi manfaat. Cara pandang yang demikian menunjukan kualitas diri konsumen. Padahal, Rasulullah  telah mengingatkan : "Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal perbuatan kalian" (HR. Muslim).

Hadis di atas seyogyanya menjadi rujukan utama menilai kualitas batin (keikhlasan, kejujuran) jauh lebih berharga daripada status lahiriyah yang penuh kebohongan dan tipu daya. Manusia di bumi bisa ditipu dengan tampilan dan untaian kata dusta yang diucapkan. Tapi, Allah dan Rasul-Nya tak pernah silau oleh tampilan kemunafikan yang dipertontonkan. Pada waktunya, semua aib akan dibuka sebagai i'tibar bagi manusia yang berakal (ulul albab). Hanya saja, meski kebanyakan manusia berakal, tapi acapkali lupa berfikir. Terdinding oleh nafsu dan dosa yang dilakukan. Hal ini telah diingatkan Allah melalui firman-Nya : "Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci rapat pendengaran dan hatinya serta meletakkan penutup atas penglihat-annya ?" (QS. al-Jatsiyah : 23).

Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas menjelaskan tentang bahaya memperturutkan hawa nafsu yang menggiring perbuatan tercela. Mereka yang menjadikan nafsu sebagai 'tuhan'. Akibatnya, Allah akan menyesatkan, mengunci mati hati, dan pendengarannya sehingga tertutup dari hidayah-Nya. Mereka akan melakukan apa yang diinginkan tanpa peduli apakah hal tersebut akan dimurkai (fujur) atau diridhai (taqwa) oleh Allah dan Rasul-Nya. Sebab, semua bentuk perbuatan yang hanya berdasarkan apa yang indah dipandang dan nikmat oleh nafsu duniawi. Akibatnya, hadir anggun kesombongan, kezaliman, keserakahan, kelicikan, kemunafikan, dan varian sifat nista (tercela) lainnya. Mereka selalu dibela oleh manusia yang berwatak serupa. Mereka lupa bila waktunya, Allah akan buka semua kemunafikan, kerakusan, dan kelicikan yang disembunyikan. Sebab, Allah dan Rasul-Nya tak pernah mengingkari atas semua janji-Nya (QS. Ali Imran : 9), pasti. Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***

Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis

Sumber: jawapos.com

Written by Admin
Category: Gaya Hidup
Hits: 114

 

TANDA-TANDA KIAMAT KECIL TELAH LENGKAP SEMPURNA

Harus diingat, kita sudah pun ’embrace’ kepada tanda-tanda kiamat besar secara tidak rasmi iaitu keluarnya Dajjal dan Yakjuj & Ma’juj. Dajjal telah pun keluar dan kini berada dalam peringkat ‘sehari sama seperti sebulan’ iaitu diluar dimensi masa manusia. Manakala Yakjuj & Ma’juj telah pun dibebaskan setelah Tembok Zulkarnain (dengan izin Allah) telah runtuh di Georgia. Golongan mereka pada hari ini telah menjadi Ashkenazi Jews & Zionist! Golongan mereka yang terakhir akan keluar ialah selepas Dajjal dibunuh oleh Isa a.s. Hanya 8 tanda-tanda besar kiamat yang masih tinggal. Allahu A’lam.

Disaat kita berada dalam lena yang panjang, ketika itulah kiamat akan datang, dan kalian kelihatan seperti keldai yang terpinga-pinga. Maka, ambillah peringatan, kerana peringatan itu amat berguna kepada mereka-mereka yang berfikir.

1) Penaklukan Baitulmuqaddis

Dari Auf b. Malik katanya, Rasulullah s.a.w telah bersabda: “saya menghitung 6 perkara menjelang – hari kiamat.” Baginda menyebutkan salah 1 di antaranya, iaitu penaklukan Baitulmuqaddis.” – Sahih Bukhari

2) Zina bermaharajalela

“Dan tinggallah manusia-manusia yang buruk, yang seenaknya melakukan persetubuhan seperti himar (keldai). Maka pada zaman mereka inilah kiamat akan datang.” – Sahih Muslim

3) Bermaharajalela alat muzik

“Pada akhir zaman akan terjadi tanah runtuh, rusuhan dan perubahan muka.
” Ada yang bertanya kepada Rasulullah; “Wahai Rasulullah bila hal ini terjadi?” Baginda menjawab; “Apabila telah bermaharajalela bunyian (muzik) dan penyanyi-penyanyi wanita” – Ibnu Majah

4) Menghias masjid & membanggakannya

“Di antara tanda-tanda telah dekatnya kiamat ialah manusia bermegahan dalam mendirikan masjid” – Riwayat -Nasai.

5) Munculnya kekejian, memutuskan kerabat & hubungan dengan tetangga tidak baik

“Tidak akan datang kiamat sehingga banyak perbuatan dan perkataan keji, memutuskan hubungan silaturahim dan sikap yang buruk dalam tetangga.” – Riwayat Ahmad dan Hakim.

6) Ramai orang soleh meninggal dunia

“Tidak akan datang hari kiamat sehingga Allah mengambil orang-orang yang baik & ahli agama di muka bumi, maka tiada yang tinggal padanya kecuali orang2 yang hina dan buruk yang tidak mengetahui yang makruf dan tidak mengingkari kemungkaran” – Riwayat Ahmad

7) Orang yang hina mendapat kedudukan terhormat

“Di antara tanda semakin dekatnya kiamat ialah dunia akan dikuasai oleh Luka’ bin Luka’ (orang yang bodoh dan hina). Maka orang yang paling baik ketika itu ialah orang yang beriman yang diapit oleh 2 orang mulia”– Riwayat Thabrani

8) Mengucapkan salam kepada orang yang dikenalnya sahaja

“Sesungguhnya di antara tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat ialah manusia tidak mahu mengucapkan salam kepada orang lain kecuali yang dikenalnya saja.” – Riwayat Ahmad

9) Banyak wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya telanjang

Diriwayatkan dari Abu Hurairah “Di antara tanda-tanda telah hari kiamat ialah akan muncul pakaian2 wanita & apabila mereka memakainya keadaannya seperti telanjang”.

10) Bulan sabit kelihatan besar

“Di antara tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat ialah menggelembung (membesarnya) bulan sabit.”– Riwayat Thabrani

11) Banyak dusta dan tidak tepat dalam menyampaikan berita

“Pada akhir zaman akan muncul pembohong2 besar yang datang kepadamu dengan membawa berita-berita yang belum pernah kamu dengar & belum pernah didengar oleh bapa-bapa kamu sebelumnya, kerana itu jauhkanlah dirimu dari mereka agar mereka tidak menyesatkanmu & memfitnahmu” – Sahih Muslim

12) Banyak saksi palsu & menyimpan kesaksian yang benar

“Sesungguhnya sebelum datang nya hari kiamat akan banyak kesaksian palsu dan disembunyikan kesaksian yang benar.” – Riwayat Ahmad

13) Negara Arab menjadi padang rumput & sungai

“Tidak akan datang hari kiamat sehingga negeri Arab kembali menjadi padang rumput dan sungai-sungai” – Sahih Muslim

14) Manusia mewarnai rambut di kepalanya dengan warna hitam supaya kelihatan muda

“Pada akhir zaman akan muncul suatu kaum yang mencelupi rambut mereka dengan warna hitam seperti ‘bulu merpati’ yang mereka itu tidak akan mencium bau syurga.” – Sahih Abu Daud & Nasai

15) Munculnya gaya hidup mewah dan manja di kalangan umat Islam
“Apabila umatku berjalan dengan sombong dan yang melayan mereka adalah putera-puteri raja, putera-puteri Parsi dan Rom, maka orang yang paling buruk akan berkuasa terhadap orang yang paling baik (pilihannya).” – Riwayat Tarmizi, Sahih Abdullah ibnu Umar r.a.

Kini, Kita hanya menuggu saat tibanya..

Daripada Huzaifah bin Asid Al-Ghifari ra. berkata: “Datang kepada kami Rasulullah saw. dan kami pada waktu itu sedang berbincang-bincang. Lalu beliau bersabda: “Apa yang kamu perbincangkan?”. Kami menjawab: “Kami sedang berbincang tentang hari qiamat”. Lalu Nabi saw. bersabda: “Tidak akan terjadi hari qiamat sehingga kamu melihat sebelumnya sepuluh macam tanda-tandanya”. Kemudian beliau menyebutkannya: “Asap, Dajjal, binatang, terbit matahari dari tempat tenggelamnya, turunnya Isa bin Maryam alaihissalam, Ya’juj dan Ma’juj, tiga kali gempa bumi, sekali di timur, sekali di barat dan yang ketiga di Semenanjung Arab yang akhir sekali adalah api yang keluar dari arah negeri Yaman yang akan menghalau manusia kepada Padang Mahsyar mereka”.
(H.R Muslim)

Keterangan:

Sepuluh tanda-tanda qiamat yang disebutkan Rasulullah saw. dalam hadis ini adalah tanda-tanda qiamat yang besar-besar, akan terjadi di saat hampir tibanya hari qiamat. Sepuluh tanda itu ialah:

  1. Dukhan (asap) yang akan keluar dan mengakibatkan penyakit yang seperti selesema di kalangan orang-orang yang beriman dan akan mematikan semua orang kafir.
  2. Dajjal yang akan membawa fitnah besar yang akan meragut keimanan, hinggakan ramai orang yang akan terpedaya dengan seruannya.
  3. Binatang besar yang keluar berhampiran Bukit Shafa di Mekah yang akan bercakap bahawa manusia tidak beriman lagi kepada Allah swt.
  4. Matahari akan terbit dari tempat tenggelamnya. Maka pada saat itu Allah swt. tidak lagi menerima iman orang kafir dan tidak menerima taubat daripada orang yang berdosa.
  5. Turunnya Nabi Isa alaihissalam ke permukaan bumi ini. Beliau akan mendukung pemerintahan Imam Mahadi yang berdaulat pada masa itu dan beliau akan mematahkan segala salib yang dibuat oleh orang-orang Kristian dan beliau juga yang akan membunuh Dajjal.
  6. Keluarnya bangsa Ya’juj dan Ma’juj yang akan membuat kerosakan dipermukaan bumi ini, iaitu apabila mereka berjaya menghancurkan dinding yang dibuat dari besi bercampur tembaga yang telah didirikan oleh Zul Qarnain bersama dengan pembantu-pembantunya pada zaman dahulu.
  7. Gempa bumi di Timur.
  8. Gempa bumi di Barat.
  9. Gempa bumi di Semenanjung Arab.
  10. Api besar yang akan menghalau manusia menuju ke Padang Mahsyar. Api itu akan bermula dari arah negeri Yaman.

Mengikut pendapat Imam Ibnu Hajar al-Asqalani di dalam kitab Fathul Bari beliau mengatakan: “Apa yang dapat dirajihkan (pendapat yang terpilih) dari himpunan hadis-hadis Rasulullah Saw. bahawa keluarnya Dajal adalah yang mendahului segala petanda-petanda besar yang mengakibatkan perubahan besar yang berlaku dipermukaan bumi ini. Keadaan itu akan disudahi dengan kematian Nabi Isa alaihissalam (setelah beliau turun dari langit). Kemudian terbitnya matahari dari tempat tenggelamnya adalah permulaan tanda-tanda qiamat yang besar yang akan merosakkan sistem alam cakerawala yang mana kejadian ini akan disudahi dengan terjadinya peristiwa qiamat yang dahsyat itu. Barangkali keluarnya binatang yang disebutkan itu adalah terjadi di hari yang matahari pada waktu itu terbit dari tempat tenggelamnya”.

Sumber: Islamic Eschatology

Petikan daripada alfalahmadani.my

Written by Admin
Category: Gaya Hidup
Hits: 166

 

HARTA YANG BERKAH LAHIRKAN KETENANGAN JIWA

Oleh: Ustadz Wandi Bustami. Lc MAg

SERING muncul pertanyaan terkait harta berkah. Apakah keberkahan harta dilihat dari kuantitas atau kualitas? Ataukah sebuah keberkahan dinilai dari nominal atau manfaatnya? Ataukah keberkahan diukur dari bentuk fisik atau nilai-nilai yang terkandung di dalamnya? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini menimbulkan respon yang berbeda-beda. Kaum materilistik memandang keberkahan harta dilihat dari nominal, semakin besar nominal yang dimiliki maka semakin tinggi tingkat keberkahannya. Di balik itu, tak sedikit yang berkeyakinan bahwa keberkahan tidak diukur banyaknya jumlah atau nominal yang dimiliki, melainkan sebesar besar manfaat yang dihasilkan dari harta tersebut.

Bila tinjau dari sisi bahasa, kata berkah (البركة) berasal dari kata baraka (برك) yang memiliki beberapa makna, di antaranya ziyâdatul khair (زيادة الخير) bertambah baik, as-sakînah (السكنية) tenang, dan as-sa’âdah (السعادة) bahagia. Dari tiga makna ini dapat ditarik satu kesimpulan yaitu harta berkah adalah harta yang mendatangkan kebaikan, ketenangan dan kebahagiaan. Lalu bila hal ini dikaitkan dengan kehidupan nyata maka harta berkah ialah harta yang melahirkan ketenangan jiwa dan pikiran; dan mendatangkan kebahagiaan dalam rumah tangga dan keluarga; serta memberikan dampak yang baik bagi kehidupan dunia dan akhirat.

Dari definisi di atas dapat dipahami bahwa harta berkah erat kaitannya dengan nilai keimanan. Sebab harta yang dimiliki memberi manfaat bagi diri, keluarga dan orang lain untuk mendapatkan kebahagiaan dunia akhirat. Orientasi mencari harta bukan tujuan duniawi semata seperti kaum kapitalis, melainkan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhânahu Wata’âla. Dalam Islam, keberkahan erat kaitannya dengan nilai keimanan dan ketakwaan.

Allah Subhânahu Wata’âla berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. (QS. Al-A'raf [7]: 96).

Ayat ini menegaskan bahwa keberkahan merupakan anugerah Allah Subhânahu Wata’âla yang lahir dari keimanan dan ketakwaan. Keberkahan tidak hanya bermakna melimpahnya rezeki secara materi, tetapi juga mencakup ketenteraman hidup, kemudahan dalam urusan, kebermanfaatan harta, serta keselamatan di dunia dan akhirat.  Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menegaskan bahwa harta yang berkah terletak pada orang yang shaleh.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

عَنْ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رضي الله عنه، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلرَّجُلِ الصَّالِحِ.

Dari Amru bin ‘Ash ra, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: "Sebaik-baik harta adalah harta yang baik yang dimiliki oleh orang yang shaleh." (HR. Ahmad).

Makna baik pada riwayat di atas menunjukkan manfaat. Artinya harta yang baik adalah yang banyak manfaatnya, demikian pula dengan manusia, orang yang baik adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Apabila harta baik di tangan orang baik niscaya akan mendatangkan banyak kebaikan. Sebab dengan harta tersebut ringan membantu orang lain yang sedang kesusahan, tidak tega mendengar saudaranya mati kelaparan. Tidak dengan sebaliknya, harta di tangan orang yang tidak baik jauh dari rasa belas kasihan walau hartanya melimpah ruah.

Hari ini kita tidak kekurangan orang kaya, bahkan harta kekayaan yang dimiliki tidak akan habis tujuh turunan, namun jumlah harta yang fantastis tersebut tidak dampak yang baik dalam hidup. Justru yang tumbuh rasa kikir yang akut, tercabut rasa kasihan dan iba kepada orang miskin, dan bahkan semakin merasa kurang (tamak). Orang-orang semacam ini, walau memiliki harta segunung emas tidak akan mendatangkan keberkahan.

Harta yang berkah bukan diukur dari banyaknya nominal atau melimpahnya kekayaan, melainkan dari sejauh mana harta tersebut menghadirkan kebaikan, ketenangan, kebahagiaan, dan manfaat bagi pemiliknya serta orang lain. Dalam perspektif Islam, keberkahan merupakan karunia Allah Subhânahu wa Taʿâlâ yang diberikan kepada orang-orang yang beriman dan bertakwa. Karena itu, harta yang diperoleh dengan cara yang halal, dikelola oleh orang yang shaleh, dan digunakan untuk kemaslahatan akan menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah Subhânahu wa Taʿâlâ serta membawa kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat. Sebaliknya, harta yang melimpah tetapi melahirkan sifat kikir, tamak, dan tidak bermanfaat bagi sesama tidak dapat disebut sebagai harta yang berkah. Dengan demikian, ukuran keberkahan harta terletak pada kualitas manfaat dan nilai ketakwaan yang menyertainya, bukan semata-mata pada jumlah kekayaan yang dimiliki.***

Sumber: kiblatriau.com

Written by Admin
Category: Gaya Hidup
Hits: 133

 

"TAFSIR PINOKIO"

OlehSamsul Nizar  

TEMA "tafsir Pinokio" diangkat sebagai bentuk kegelisahan penulis atas "tafsir rimba" di arena hukum dan agama yang dilakukan oleh segelintir oknum tanpa kompetensi dan malu, penuh kepentingan, dan kelicikan tersembunyi. Tema ini berseberangan dengan pendekatan tafsir bi ilmi  yangmelihat Al-Qur'an, hadis, dan fenomena alam sebagai ayat-Nya (tanda kekuasaan Allah). Bagi hamba ulil albab, semua fenomena merupakan ayat-Nya yang wajib direnungkan untuk meningkat-kan keimanan dan bukti kebesaran-Nya.

Tafsir ayat qauliyah dan kauniyah menam-pilkan semua fenomena sebagai "pesan-Nya". Bukan sekadar tulisan dan peristiwa fisik, tapi peringatan dan rahmat-Nya. Hal ini sesuai firman-Nya : "(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka" (QS. Ali Imran : 191).

Kajian tafsir bi ilmi dilakukan secara terukur sesuai nilai-nilai ilmiah. Sedangkan "tafsir Pinokio" menafsirkan produk hukum sesuai "keinginan" dan melanggar asas keadilan. Akibatnya, penafsiran tak  ber-jalan tegak lurus dengan perilaku dan ke-benaran. Anehnya, pelaku "tafsir Pinokio" justeru begitu leluasa menafsirkan produk hukum, dasar, dan rujukan yang mengikat.

Ada beberapa bentuk "tafsir Pinokio" seba-gai produk olah akal sehat dan sesat, yaitu :

Pertama, Tafsir kebenaran (akal sehat) ; dilakukan intelektual yang memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk menemukan kebenaran, baik ilmu dan moral. Seorang mufasir hakiki secara hati-hati menafsirkan ayat-Nya dengan menggunakan metodologi keilmuan mendalam untuk menginterpretasi maksud ayat-ayat-Nya.

Selain ilmu alat (bahasa arab) dan varian-nya. Seorang mufassir harus memenuhi syarat yang ketat, antara lain : (1) syarat kepribadian ; akidah yang benar, akhlak terpuji, dan niat yang ikhlas. (2) syarat keilmuan ; menguasai cabang 'ulumul Qur'an, ushul fiqh, dan hadis.

Dalam menafsirkan ayat-ayat-Nya, seorang mufassir hakiki menggunakan beberapa macam metode, antara lain : tafsir tahlili (analitik), tafsir maudhu'i (tematik), tafsir muqarran (komparatif), atau tafsir ijmali (global). Sementara mufassir kontemporer mengembangkannya dengan beberapa  pendekatan, antara lain : hermeneutika, strukturalisme, semantik,  sejarah, dan sosiologis. Sedangkan bila dilihat pada aspek sumber, mufassir membaginya pada 3 (tiga) jenis, yaitu tafsir  bi al-ma'tsur,  tafsir bi al-Ra'yi, dan tafsirisyari.

Dalam ajaran Islam, upaya menafsirkan ayat-ayat-Nya merupakan kewajiban untuk memahami pesan-pasan Ilahi. Hal ini me-rujuk QS. Shad : 29 (perintah merenungkan ayat-Nya), QS. an-Nahl : 44 (perintah menjelaskan ayat-Nya), QS. al-'Alaq : 1-5 (perintah membaca ayat-Nya), dan hadis Rasulullah yang menjelaskan keutama-an belajar dan mengajarkan al-Qur'an. Untuk itu, seorang mufassir wajib merujuk pada ilmu yang luas (benar) agar makna yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan. Bila tafsir produk hukum dan al-Quran dilakukan penuh kepentingan, maka celaka bagi diri dan peradaban. Hal ini merujuk sabda Rasulullah  : "Barang siapa yang berkata atau menafsirkan al-Qur'an tanpa ilmu (ilmu alat), maka dipersiapkan baginya tempat duduk dari api neraka" (HR. at-Tirmidzi).

Demikian jelas sabda Rasulullah. Kehati-hatian menafsirkan hukum begitu penting

Konsistensi atas kebenaran yang diyakini harus berkorelasi dengan seluruh sikap dan perilaku nyata, tanpa pandang bulu.

Kedua, Tafsir kebingungan (majnun) ;  dilakukan oleh sosok yang mengaku intelektual, tapi tak menguasai syarat sebagai mufassir. Penafsiran atas al-Quran hanya mengandalkan akal (logika) sesuai kepentingan semata. Menafsirkan cara ini merupakan perilaku haram dan tercela. Hal ini diingatkan Rasulullah  : "Barang siapa yang berkata tentang al-Qur'an dengan logikanya (semata), maka silakan ia mengambil tempat duduknya di neraka" (HR. at-Tirmidzi).

Melalui hadis di atas, Rasulullah  meng-ingatkan ancaman neraka bagi manusia yang lancang, terburu-buru, atau memaksakan pendapat pribadi atau golongan atas hukum yang jelas, apalagi terhadap ayat-ayat Allah. Namun, manusia acapkali tak memperdulikan dan mempermainkannya.

Ketiga, Tafsir kepentingan (jahiliyah) ; dilakukan kaum intelektual yang menerima "pesanan" untuk menafsirkan produk hukum (positif atau agama) sesuai tujuan (kepentingan) tertentu. Pelakunya tentu manusia yang sangat mengerti hukum dan agama. Baginya, benar dan salah bisa  direkayasa bila ada kepentingan dan "janji posisi". Meski kesalahan begitu nyata, tapi ditafsirkan sebagai perilaku yang dibenarkan. Sebaliknya, meski begitu terang kebenaran, tapi disulap dengan tafsir jahiliyah agar menjadi atau dijadikan dan patut untuk disalahkan.

Dalam Islam, menafsirkan ayat al-Qur'an (hukum) secara sembarangan, terutama untuk kepentingan pribadi, golongan, atau hawa nafsu merupakan perbuatan yang nista dan tercela. Hal ini diingatkan dalam firman-Nya :"Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (yang diambil dari) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat..." (QS. Ali Imran : 77).

Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas menjelaskan ancaman Allah yang begitu keras terhadap orang yang menukar janji (iman) dengan sumpah palsu demi keuntungan duniawi yang sedikit. Manusia yang demi-kian tidak akan mendapat bagian pahala, tidak disapa, tidak dilihat, dan tidak pernah dimuliakan-Nya. Mereka akan mendapat azab yang sangat pedih.

Meski ayat-Nya begitu jelas dan dipahami, tapi fenomena menafsirkan hukum sesuai kepentingan acapkali terjadi di depan mata konstitusi dan ayat suci. Namun, produk konstitusi memiliki ruang "longgar" yang seakan sengaja diciptakan agar terjadi "transaksi tafsir Pinokio". Sementara produk ayat suci ditafsirkan sekehendak hati tanpa takut murka Ilahi. Seakan hidup abadi tanpa takut janji-Nya setelah mati. Padahal, begitu banyak kisah dalam al-Quran. Mulai kisah Qabil dan Habil, bani Sadun (kaum Sodom), Namrudz dan Fir'aun (penguasa zalim), Haman (intelek-tual penjilat), Qorun (penimbun harta), sampai Abu Lahab dan Abu Jahal. Semua lihai memutarbalikkan kebenaran dan kesalahan sesuai yang diinginkan. Mereka menggunakan "tafsir majnun dan jahiliyah" untuk memuaskan keinginan dengan membenarkan semua kesalahannya.

Dari fakta sejarah, fenomena "penafsiran majnun dan jahiliyah" selalu hadir setiap generasi. Bedanya hanya terletak pada subjek, cara, waktu, dan objek penafsiran. Tapi secara substansi, semua sama pada tujuan dan dampak yang ditimbulkan. Padahal, Allah SWT menjelaskan sejarah umat terdahulu yang dimuat dalam al-Qur'an bukan sekedar cerita, melainkan pelajaran (ibrah) bagi setiap manusia. Hal ini dijelaskan melalui firman-Nya : “Sesung-guhnya pada kisah-kisah mereka itu ter-dapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi mem-benarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, serta sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (QS. Yusuf : 111).

Seyogyanya, manusia yang berakal bisa memetik pelajaran, bukan sekedar label berilmu tapi berperilaku layaknya kaum jahiliyah. Membangun, menafsirkan, dan menetapkan hukum (aturan) sesuai keinginan. Hukum bak "pisau bermata tunggal". Begitu tajam ke bawah, tapi tumpul ke atas. Aturan dipersendaguraukan pemilik kuasa, tapi jadi rujukan yang wajib dipedomani bagi "si jelata".

"Tafsir Pinokio" di atas telah diingatkan melalui pepatah leluhur,  "tiba di mata dipicingkan, tiba di perut dikempeskan, tiba di dada dibusungkan". Pepatah yang mengingatkan sosok manusia yang menjadikan hukum dan aturan sesuai tafsir kepentingan. Bila pelaku kesalahan memiliki status, mata kebenaran ditutup agar tak terlihat. Bila pelaku pelanggaran "seputar perut", hukum "dikempeskan" agar tak tersentuh. Bila hukum bisa menaikan validasi diri, dada dibusungkan merasa paling mumpuni. Saatnya untuk menyatu-kan langkah di bawah cita-cita kemerdekaan, bukan melanggengkan kezaliman deng-an menginjak kebenaran dan keadilan. Tak ada kezaliman yang sempurna. Pada saat-nya, Allah akan buka semua aibnya.

Sebab, keculasan penegakan hukum (positif dan agama) adalah pengkhianatan dan musuh bersama. Meski "tafsir pinokio" bisa membungkam mulut yang takut, tapi tak bisa mengubur kebenaran. Ketika waktunya tiba, penista akan tertunduk atas kezaliman yang dilakukan. Hal ini sesuai firman-Nya : "Semua wajah tertunduk dihadapan (Allah) Yang Maha Hidup lagi Maha Mengurus. Sungguh rugi orang yang membawa kezaliman" (QS Thaha :111).

Bila hamba yang terzalimi mengapungkan munajatnya, maka langit akan bergetar mendengar rintihan hamba-Nya. Hal ini diingatkan oleh Rasulullah  melalui sabdanya : "Takutlah kamu terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah" (HR. Bukhari dan Muslim).

Bila munajat hamba terzalimi menembus langit dan dikabulkan-Nya, maka tak guna penyesalan dan kemaafan. Kadang,dam-paknya justeru menimpa mereka yang tak berbuat, tapi menikmati hasil "kesepakat-an nista". Mereka adalah keluarga inti dan kolega si pelaku yang menikmati hasil ke-jahatan yang "dibudidayakan" (dibiarkan).

Sungguh, "tafsir Pinokio" penuh muslihat. Andai setiap pelaku "tafsir Pinokio" berdampak hidungnya panjang, maka akan terlihat hidung memanjang penuh sesak di semua lini. Pilihan bijak akan menjaga keadilan. Sedangkan pilihan "memijak" akan melanggengkan kezaliman. Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***

Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis

Sumber: jawapos.com

Written by Admin
Category: Gaya Hidup
Hits: 168

 

TIGA SEBAB SULIT UCAPKAN KALIMAT LÂ ILÂHA ILLALLÂH SAAT SAKARATUL MAUT

Laporan: Ustadz Wandi Bustami Lc MAg


DENGAN mengucapkan kalimat lâ ilâha illallâh di akhir hayat merupakan harapan setiap muslim. Kalimat tersebut tidak hanya sekedar lambang keimanan, melainkan inti ajaran Islam. Di samping itu, siapa yang berhasil mengucapkannya saat naza’ niscaya surga sebagai balasannya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: Tidaklah seorang hamba mengucapkan lâ ilâha illallâh kemudian ia meninggal dunia di atas ucapan itu kecuali akan masuk surga. (HR. Bukhari dan Muslim).

Sepintas kalimat tauhid tersebut ringan di lisan dan mudah dihafal, cukup dengan satu tarikan nafas dapat diucapkan secara sempurna. Namun, kenyataannya tidak demikian, betapa banyak orang-orang yang berharap lafal tersebut menjadi penutup ucapannya tidak mampu ia lakukan. Apakah karena mereka mendadak cadel sehingga lidahnya berat berucap atau terdapat faktor lain?.  Kalau bukan demikian, lantas apa yang menghalangi seseorang begitu sulit mengucapkannya? Setidaknya terdapat beberapa alasan kalimat tersebut berat dilafalkan menjelang kematian.

1.    Pecandu Minuman Keras
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali bercerita, orang yang candu dengan minuman-minuman keras akan sulit mengucapkan kalimat lā ilāha illallāh di akhir hayatnya.

Ibnu Rajab al-Hanbali berkata: Abdul Aziz bin Abi Rawād berkata:

حَضَرْتُ رَجُلًا عِنْدَ المَوْتِ يُلَقِّنُ الشَهَادَةَ: لَا إِلَهَ إِلاَّ اللّٰهُ فَقَالَ فِي آخِرِ مَا قَالَ: هُوَ كَاِفرٌ بِمَا تَقُوْلُ، وَمَاتَ عَلَى ذَلِكَ. قَالَ فَسَأَلْتُ عَنْهُ فَإِذَا هُوَ مُدْمِنُ خَمْرٍ. وَكَانَ عَبْدُ العِزِيْزِ يَقُوْلُ: اتْقُوا الذُّنُوْبَ فَإِنَّهَا هِىَ الَّتِي أَوْقَعَتْهُ.

Saya menghadiri seseorang yang akan dijemput ajalnya sembari membisikkan kalimat tauhid lâ ilâha illallâh, setelah mendengar kalimat tersebut ia pun mengingkarinya kemudian meninggal. Lalu aku pun bertanya kepada orang-orang tentangnya. Ternyata ia adalah seorang pecandu minuman keras (mudminu khomrin), kemudian Abdul Aziz berkata: Jagalah diri kalian dari dosa karena ia akan menimpamu. (Hâni al-Hâj, 100 Qishotu min Nihâyati az-Zhâlimîn, 223),

Kisah di atas mengingatkan kita bahwasanya akhir hayat seseorang merupakan akumulasi kebiasaan selama hidup. Siapa saja yang melazimkannya niscaya akan diberi kemudahan melafalkan saat ajal menjemput. Sebaliknya, orang yang terus-menerus melakukan dosa akan terhijab mengucapkannya ketika sakaratul maut.


2.    Caci Maki Para Sahabat

Imam as-Sayuthi dalam Syarhu as-Shudur dan Murtahdo az-Zabidi dalam Ithāf menukil riwayat dari Ibnu Asakir tentang orang yang mencaci maki para sahabat akan sulit mengucapkan lā ilāha illallāh di akhir hayatnya.

وَرَوَى ابْنُ عَسَاكِرَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ المُحَارِبِي قَالَ: حَضُرْتْ رَجُلًا الوَفَاةُ فَقِيْلَ لَهُ قُلْ: "لَا إَلَهَ إَلَّا اللّٰهُ" ، قَالَ: "لاَ أَقْدِرُ كُنْتُ أَصْحَبُ قَوْمًا يَأْمُرُوْنِي بِشَتَمِ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ"

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Abdurrahman al-Muharibi berkata: Ada seseorang yang akan meninggal, lalu dikatakan kepadanya, ucapkan lā ilāha illallāh. Orang itu menjawab, saya tidak mampu. Karena dahulu saya termasuk orang yang diperintah untuk mencaci maki Abu Bakar dan Umar ra. (As-Sayuthi, Syarhu as-Shudur bi Syarfi Hālil Mautā wal Qubūr, hlm 38. Lihat As-Safârini, al-Buhûru az-Zâkhirah fi Ulûmil Âkhirah, 78).

Imam Ahmad as-Syaibani berkata:

إِذَا رَأَيْتَ رَجُلًا يَذْكُرُ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِهِ رَسُوْلِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسُوْءٍ فَاتَّهِمْهُ عَلَى الإِسْلَامِ

Apabila kamu melihat orang yang menyebut keburukan para sahabat maka tuduhlah ia sebagai pendusta terhadap islam. (Abdullah al-Adawi, as-Shahîh al-Musnad min Fadhâili as-Shahabah, 23).

Penjelasan di atas menegaskan bahwa menjaga kehormatan para sahabat Rasulullah ﷺ merupakan bagian penting dari menjaga kemurnian ajaran Islam. Mencela, merendahkan, atau menyebarkan keburukan mereka tidak hanya menunjukkan penyimpangan dalam adab, tetapi menjadi sebab sulit mengucapkan kalimat tauhid di akhir hayat.


3.    Curang dalam Timbangan

Ibnu Zhufar menceritakan dalam kitabnya, “An-Nashâih”, Yunus bin Ubaid rahimahullah adalah seorang penjual kain. Dia tidak mau berjualan di pagi hari, atau sore, atau di waktu mendung. Pada suatu hari dia mengambil timbangannya lalu menghantamkannya di antara dua batu sampai pecah. Maka seseorang menegurnya, “Kenapa tidak kamu serahkan saja kepada pembuatnya, supaya diperbaiki kerusakannya?”.

“Oh, tidak,” katanya. Baru saja saya menghadiri orang yang meninggal. Saya katakan kepadanya, “Ucapkan lā illāha illallāh.” Ternyata dia tidak bisa mengucapkannya.

Maka saya ulangi lagi, tapi dia malah berkata, “Berdoalah kepada Allah untukku.” Lalu dikatakan pula, “Ini ada lidah timbangan pada lidahku, ia membuatku tidak bisa mengucapkannya.”

Saya bertanya,”Apakah lidah timbangan itu hanya menghalangi kamu dari mengucapkan kalimat syahadat?”

Dia jawab, “Ya”.

“Apa yang telah kamu lakukan dengan timbangan itu?” tanyaku pula. “Setahuku, saya tidak pernah mengambil atau memberi sesuatu dengan timbangan itu, kecuali dengan benar. Hanya selama ini saya memang tidak pernah memeriksa dan mengujinya,” jawabnya.

Sejak peristiwa itu, Yunus mengiysaratkan kepada siapapun yang berjual-beli dengannya, supaya membawa timbangan sendiri, dan menimbang sendiri. Kalau tidak, dia tidak mau melayaninya. (Imam Al-Qurthubi, Tazkirah (Bekal Menghadapi Kematian Abadi), Penerjemah Anshori Umar Sitanggal, 1/86).

Dari pemaparan di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa mengucapkan lâ ilâha illallâh saat sakaratul maut merupakan dominasi oleh amal dan kebiasaan selama hidup. Setidaknya terdapat tiga sebab seseorang akan sulit mengucapkannya di akhir hayat yaitu pecandu minuman keras, gemar mencaci para sahabat Nabi ﷺ dan ketidakjujuran dalam timbangan.***

Sumber: kiblatriau.com

Written by Admin
Category: Gaya Hidup
Hits: 177

Bacaan Popular


Baca topik

Terkini


TEMPAT NYAMAN TAMAN BACAAN MASA DEPAN ANDA-JOM KITA MENULIS!!! dhomir.com ingin mengajak dan memberi ruang kepada para penulis khususnya penulisan yang berkaitan dgn agama Islam secara mendalam dan sistematik.Jika anda ingin mencurahkan isi hati mahupun pandangan secara peribadi dhomir.com adalah tempat yang paling sesuai utk melontarkan idea. Dengan platform yang sederhana, siapa sahaja boleh menulis, memberi respon berkaitan isu-isu semasa dan berinteraksi secara mudah.Anda boleh terus menghantar sebarang artikel kepada alamat email:dhomir2021@gmail.com.Sebarang pertanyaan berkaitan perkara diatas boleh di hubungi no tel-019-3222177-Editor dhomir. com