Ensiklopedia

Keterangan ringkas & tepat mengenai pelbagai ilmu!

 

PILU PENDIDIKAN BERKEADABAN

Oleh : Samsul Nizar  

Secara teoritis, pendidikan berkeadaban merupakan proses pembelajaran yang menginternalisasi ilmu dengan nilai-nilai agama, etika, dan budaya. Tujuannya untuk membentuk manusia cerdas, berkarakter, dan akhlak mulia. Eksistensi pendidikan berkeadaban bertumpu pada pembangunan karakter, bukan sebatas transfer ilmu, janji "selembar ijazah", atau formalitas kelembagaan yang mengedepankan "rekayasa bisnis".

Melalui pendidikan berkeadaban, dimungkinkan terciptanya masyarakat maju, harmonis, dan beradab. Untuk itu, inti pendidikan berkeadaban tertumpu pada upaya memanusiakan manusia agar menjadi individu yang baik (good person), bermoral (moral person), dan cerdas (smart person). Dalam Islam, tipikal ini tampil pada sosok Rasulullah . Hal ini sesuai sabdanya : "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia" (HR. al-Baihaqi).

Namun, tataran ideal di atas secara per-lahan terus tergerus dan kering. Berbagai fenomena perilaku amoral (pribadi dan kolektif) telah melukai dan menodai kesucian (ideal) dunia pendidikan. Bahkan, fenomena ini dilakukan oknum "mulia" dan terjadi pada lembaga pendidikan yang "ternama dan terkemuka". Langkah preventif tak kuasa dilakukan. Padahal, berbagai bentuk "kejahatan" (hukum dan agama) acapkali terjadi di depan mata, namun tak pernah "terselesaikan". Begitu perilaku amoral viral, langkah "silat lidah", tutup mulut, atau mencari alibi (kambing hitam) dilakukan untuk menutupi kesalahan atas ketidakmampuan pengawasan. Perilaku amoral serupa berpotensi terjadi pada lembaga-lembaga "level gurem" lainnya. Hanya saja, radar medsos begitu terbatas. Kadangkala, slogan "no viral, no justice" ada sisi benarnya. Meski hadir terlambat, tapi masih ada ruang bagi munculnya kebenaran. Namun anehnya, meski amoral (kejahatan) begitu viral, tapi tetap tertutup "anggun" dan tak tersentuh, bahkan terus berulang. Mungkin pelakunya merupakan makhluk ghaib yang bergentayangan tak tersentuh, "raksasa" digdaya yang tak bisa dilawan, atau silau gemerlap cahaya pundi.

Fenomena perilaku amoral insan akademik yang viral belakangan ini bak "bola salju". Sungguh, butir salju amoral telah bergulir sejak lama. Begitu masalah viral, semua elemen --seakan-- terkejut dan "gagap". Bukti lemahnya pengawasan dan ketidak-pedulian mengantisipasi "percikan salju". Seyogyanya, berbagai perilaku amoral diusut tuntas dari hulu sampai ke hilir.

Ada beberapa indikasi fenomena pendidikan berkeadaban sedang mengalami krisis idealismenya, antara lain :

Pertama, Ijazah tanpa "syahadah" (pengakuan). 

Ketika perhatian hanya terfokus pada kasus ijazah palsu, tapi perhatian terlepas dari ijazah asli tapi tak pantas. Asli karena melalui proses yang sesuai aturan dan dikeluarkan oleh lembaga yang diakui negara. Namun, tak pantas bila ilmu pemiliknya tak sesuai dengan ijazah yang diperoleh. Akibatnya, ijazah sekedar bukti formalitas, tapi tanpa kualitas (syahadah) ilmu dan adab pemiliknya. Padahal, ideal-nya ijazah tanda berilmu dan pemiliknya dijanjikan Allah akan ditinggikan derajatnya. Hal ini dijanjikan melalui firman-Nya : "...niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat..." (QS. al-Mujadalah : 11).

Meski ayat begitu jelas, anehnya manusia lebih menyenangi pemilik ilmu formalitas yang "mengatur dan bisa diatur" sesuai kepentingan. Sebaliknya, sosok pemilik ilmu hakiki acapkali "dibenci" karena hanya tunduk pada nilai moral dan kebenaran.

Kedua, Kuantitas tanpa kualitas.

Hanya mengejar jumlah, tanpa mengejar mutu. Menjual janji, nama besar, gemerlap publikasi, dan popularitas sumber daya, namun realitanya sungguh mengecewakan dan tak sesuai yang diharapkan.

Bila dunia pendidikan mengedepankan "bisnis" ketimbang "mencerdaskan", maka orientasinya cenderung lebih mengejar  kuantitas untuk menutupi "motif ekonomi". Melalui jumlah input yang banyak, proses sebatas administrasi, dan out put berlabel, maka laba yang diraih akan berlipat. Feno-mena ini diperparah ketika "nakhoda jalur transaksi" yang hanya "tidur pulas tanpa mimpi". Hadir sebatas mengejar status dan menikmati fasilitas tanpa karya nyata yang terukur. Ketika orientasi model ini mendominasi dalam pengelolaan lembaga pendidikan, maka tujuan peningkatan kuali-tas (proses dan lulusan) sebatas mimpi.

Sungguh, pengelolaan pendidikan seyogya-nya mengedepankan kualitas dan adab. De-ngan demikian, kuantitas (input) akan berbondong-bondong. Bagai managemen ru-mah makan. Tampilkan kualitas masakan yang lezat dan bergizi, ruang yang bersih, sarana pendukung yang memadai, layanan yang santun, dan biaya yang terjangkau, maka konsumen akan antrean datang tanpa perlu diundang. Namun, bila sebalik-nya, maka pelanggan akan meninggalkannya. Ketika hal ini terjadi, maka langkah penyebaran brosur dan "mengemis" agar para konsumen datang tak akan banyak membantu secara signifikan.

Ketiga, Berharap status tanpa entitas (karya nyata).

Status tampil anggun, tapi acapkali tak berkorelasi dengan karakter mulia dan karya nyata yang rahmatan lil 'aalamiin. Agar status diperoleh, berbagai upaya dilakukan tanpa peduli nilai moral, akademik, dan agama. Bahkan, ada yang belum menyelesaikan studi dan memenuhi persyaratan formal, tanpa malu menulis-kan gelar meski hanya calon (candidate). Bak "permen" (candy) yang begitu manis, tapi merusak gigi dan kesehatan. Anehnya, meski terkesan "pembohongan publik", tapi seakan legal dan dinilai wajar.

Ketika status (gelar) telah diraih, acapkali tak berkorelasi dengan karya nyata sesuai gelar yang disandang sebagai bukti profe-sioalismenya. Meski "scopus" menjadi ruang yang nyata "memeras energi, moral, materi, dan transaksi" sebagai lahan pundi, tapi tak ada yang peduli. Moralitas "adab ilmu" tak lagi tersisa. Pemilik ilmu seakan --terpaksa-- "mengemis" untuk dipublikasi. Padahal, status ilmu begitu tinggi dan suci. Meski semua bisa "ditutupi", tapi nyata dihadapan-Nya. Mungkin telah sirna "rasa malu" atas status (gelar) yang dimiliki. Semua tertutup oleh formalitas yang diagungkan. Lembaga pendidikan seakan tak kuasa menjawab fenomena yang terjadi. Sebab, tujuan dan energi terkuras untuk memenuhi syarat meraih status akreditasi yang diharapkan. Akibatnya, nilai-nilai luhur menjadi luntur oleh tuntutan administrasi dan rekayasa nilai pragmatis.

Padahal, ilmuwan sejati dimuliakan karena keluasan ilmu, adab, dan manfaatnya, bukan karena pencitraan. Untuk itu, Rasulullah  bersabda : “Barangsiapa meminta-minta untuk memperkaya diri, maka ia seakan-akan memakan bara api neraka” (HR. Ahmad).

Ketika hadis di atas menggunakan kata "meminta-minta" (tangan di bawah), tapi fenomena akhir zaman justeru "menawar-kan" (tangan di atas). Hanya beda bentuk dari "memelas" berubah jadi "memeras".

Keempat, Hilangnya adab dan agama.

Adab tergilas oleh nilai pragmatis dan agama sirna oleh kebanggaan pemikiran sekuler. Seakan, agama sebatas ritual, tanpa menyentuh ilmu. Padahal, agama bukan sebatas hubungan vertikal, tapi men-jelaskan aspek alam semesta.

Dalam Islam, agama dan adab bukan sekadar pelengkap, melainkan ruh (inti) pendidikan. Tanpa agama dan adab, ilmu akan kehilangan keberkahan dan tak mampu membawa kemaslahatan bagi individu maupun masyarakat. Rasulullah  mengingatkan : "Muliakanlah anak-anakmu, perbaikilah adab mereka" (HR. Ibnu Majah).

Hadis di atas begitu tegas terhadap adab. Penanaman adab dalam proses pendidikan berarti memuliakan peserta didik dan pendidik. Namun, ketika adab telah sirna, maka berarti menghinakan keduanya.

Kelima, Profesi tanpa profesionalisme.

Mengajar sebatas melaksanakan tugas, bukan sentuhan mengisi kalbu (mendidik). Kadangkala, tugas tak lagi sesuai bidang keahlian. Tak tersisa rasa malu terhadap ilmu. Semua "dilahap" demi status, pundi, dan keinginan meraih "kredit point" yang utama. Meski kasus ini begitu kasat mata, namun tak ada yang peduli. Peserta didik hanya berharap nilai (lulus), penangung-jawab hanya tertumpu pada terselenggara-nya proses, dan pengawal pendidikan sebatas menunggu "laporan tertulis" tanpa tau berbagai rekayasa yang terjadi. Meski semua bisa dipertanggungjawabkan se-cara administratif, namun tak pernah bisa menipu Allah dan Rasul-Nya. Hal ini sesuai sabda Rasulullah  : "Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpin-nya" (HR. Bukhari dan Muslim).

Melalui hadis di atas, tak ada yang lepas dari pertanggungjawaban di hadapan-Nya. Meski di dunia bisa "lepas menikmati", tapi di akhirat semua perilaku terbuka lebar.

Bila dianalisa secara jujur, berbagai persoalan mewujudkan mimpi pendidikan berkeadaban hadir sejak rekruitmen input, proses, dan output, baik terhadap sosok pendidik, peserta didik, tenaga kependidik-an, dan "pengawal" pendidikan. Bila hadir sosok profesional dan amanah, maka mimpi pendidikan berkeadaban akan terwujud. Namun, ketika ketidaktepatan dan "pat gulipat" yang dilakukan, maka akan hadir "kekecewaan" dan peradaban tampil tanpa keadaban. Padahal, keadab-an merupakan cerminan peradaban tinggi, perilaku yang beradab bukti karakter ilmu-an mumpuni, dan sosok yang menjunjung nilai-nilai kebenaran (amanah).

Sungguh, jangan biarkan pendidikan yang berkeadaban hanya sebatas harapan, kata, dan mimpi. Sebab, bila sekedar mimpi begitu terjaga dari tidur yang panjang, semua sebatas "pepesan kosong". Bila hal ini terjadi, tak ada lagi guna penyesalan dan pembelaan (apologi). Peradaban kehilangan nilai dan marwah generasi tercerabut tanpa sisa. Ketika waktunya, semua akan diminta pertanggungjawaban. Meski aturan (hukum) bisa direkayasa sesuai "kesepakatan", tapi pengawasan-Nya (vertikal) tak pernah mampu ditutupi oleh tampilan munafik dan taubat imitasi. Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***

Editor : Edwar Yaman

Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis

Sumber: jawapos.com

 

 

Written by Admin
Category: Gaya Hidup
Hits: 62

 

KETUK PINTU LANGIT

Perhatikanlah bagaimana nyiur melambai di pinggir pantai, air mengalir di sungai yang bening, gunung menghijau jadi pasak bumi. Semuanya tunduk dan bertasbih kepada Allah.

Jelajahilah bumi dan perhatikan bagaimana kerusakan yang terjadi akibat ulah tangan_perilaku manusia yang hilang kendali, zalim yang sudah kehilangan pelita hidup. Mereka tenggelam dalam asyik maksyuk istana setan.

Bila hati sekeras batu, bila akal tak waras lagi, bila ego nafsu jadi ajudan setan, bila penglihatan pendengaran sudah tersumbat. Maka diberi peringatan atau tidak sama saja bagi mereka.

Hidupkanlah cahaya Illahi di hati, jadi musafir yang gigih mengetuk pintu langit, lukis di kain kanvas dunia amal ibadah yang indah, jadi hamba Allah yang diredaiNya

15 Maret 2026

 Pardi Syamsuddin

Written by Admin
Category: Gaya Hidup
Hits: 180

 

DI SEBALIK KEMISKINAN, ADA IMAN YANG TERCABAR

Banyak hadis Nabi s.a.w. yang menjelaskan bahawa kemiskinan merupakan satu penyakit berbahaya yang dikhuatiri memberi kesan buruk terhadap akidah, akhlak dan pemikiran seseorang, malah kepada masyarakat keseluruhannya. Penyakit ini lebih ketara dalam kalangan mereka yang hidup dalam kemiskinan yang teruk, apatah lagi apabila berada berhampiran dengan golongan kaya yang buruk akhlaknya serta bersifat kedekut.

Kemiskinan juga boleh diumpamakan sebagai satu bala yang menyerupai penyakit berjangkit, kerana ia berpotensi mendorong seseorang kepada kekufuran. Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud: “Kepapaan itu hampir-hampir membawa kepada kekufuran.”

Hadis ini menjelaskan bahawa tekanan ekonomi dan kesukaran mencari rezeki boleh menyebabkan seseorang tergelincir daripada landasan iman. Individu yang asalnya baik boleh berubah menjadi tidak amanah. Wanita yang menjaga kehormatan diri pula mungkin terpaksa menggadaikannya akibat desakan hidup.

Oleh itu, Islam mewajibkan umatnya untuk bekerja keras dan berusaha mencari rezeki sebagai benteng daripada kemiskinan dan kekufuran. Dalam Islam, usaha mencari rezeki turut dinilai sebagai satu bentuk jihad.

Allah menciptakan bumi serta segala isinya untuk manusia, namun manusia tidak akan dapat menikmatinya sepenuhnya tanpa usaha dan titik peluh mereka sendiri.

Meninggalkan pekerjaan dengan alasan ingin menumpukan ibadah semata-mata adalah bertentangan dengan konsep Islam yang sebenar.

Firman Allah dalam Surah al-Ra’d ayat 11:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib sesuatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”

Umat Islam dituntut untuk cemerlang dalam urusan dunia tanpa mengabaikan akhirat. Kualiti kehidupan di dunia inilah yang membantu manusia berubah daripada kemungkaran kepada kebaikan.

Manusia diperintahkan untuk mencari rezeki bukan sahaja bagi memenuhi keperluan diri, tetapi juga untuk membantu mereka yang memerlukan.

Firman Allah dalam Surah al-Jumu‘ah ayat 10 yang bermaksud:
“Kemudian setelah selesai sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah kurnia Allah, serta ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu berjaya.”

Di samping itu, al-Quran turut mengecam golongan yang mengharamkan perhiasan dunia yang telah dihalalkan oleh Allah.

Firman-Nya:
Katakanlah (Wahai Muhammad) siapakah yang berani mengharamkan perhiasan Allah yang telah dikeluarkan untuk hamba-hamba-Nya dan demikian juga benda-benda yang baik lagi halal daripada rezeki yang dikurniakannya. (Surah al-Baqarah ayat 32).

Al-Quran juga menjelaskan bahawa Allah menjanjikan keampunan serta kurniaan yang luas, manakala syaitan pula menakut-nakutkan manusia dengan kemiskinan.

Sesungguhnya Islam tidak pernah mengangkat kemiskinan sebagai sesuatu yang mulia atau jalan untuk mencapai ketinggian rohani. Hadis-hadis yang memuji kehidupan zuhud tidak bermaksud memuji kemiskinan. Adalah satu kesilapan besar apabila ada yang menganggap kemiskinan sebagai nikmat yang perlu diterima tanpa usaha untuk mengatasinya, kononnya agar hati lebih dekat dengan akhirat dan menjauhi dunia.

Islam bukan sekadar mengajarkan zikir dan doa, tetapi juga membebaskan manusia daripada penderitaan menuju kehidupan yang sejahtera. Sikap tidak mahu berusaha dan hanya bergantung kepada belas kasihan orang lain jelas tidak disokong oleh Islam.

Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Tangan yang di atas (memberi) lebih mulia daripada tangan yang di bawah (meminta).”
(Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

Islam dengan tegas menolak pandangan golongan yang memuliakan kemiskinan dan menganggap kekayaan sebagai satu dosa. Begitu juga pandangan yang menganggap kemiskinan sebagai takdir yang tidak boleh diubah. Semua ini merupakan fahaman ekstrem yang menyimpang daripada ajaran Islam yang sebenar.

Catatan: Ibnu Majid

Written by Admin
Category: Gaya Hidup
Hits: 239

 

FAHAMI ASAL USUL MAZHAB, IKUT CARA ORANG ALIM FAHAMI SYARIAT, BUKAN LOGIK NAFSU YANG BOLEH BAWA BINASA

Pernahkah terdetik di dalam sujudmu, betapa indahnya aturan solat yang kita lakukan hari ini?

Daripada bersuci (wuduk) hingga salam, setiap pergerakan kita dijaga rapi oleh susunan hukum yang diwarisi zaman-berzaman.

Namun, ada suara-suara yang mula mempersoalkan, “Zaman Nabi mana ada mazhab?” atau “Kenapa perlu ikut Imam Syafi’i kalau ada Quran dan Hadis?”.

Hakikatnya, memahami asal usul mazhab bukan sekadar belajar sejarah, tetapi ia adalah tentang menjaga kesucian agama daripada tafsiran akal yang cetek.

Tanpa neraca ilmu daripada para imam mujtahid, kita ibarat musafir yang cuba membedah jantung sendiri tanpa alat pembedahan yang betul, akhirnya akan membawa binasa.

Benih Ijtihad: Bila Wahyu Berhenti Dan Sahabat Bertebaran

Asal usul mazhab sebenarnya bermula sebaik sahaja Rasulullah SAW wafat.

Dr. Rozaimi Ramle menjelaskan bahawa pada zaman Nabi SAW, setiap kekeliruan diselesaikan terus melalui wahyu.

Namun, apabila Baginda pergi meninggalkan kita, para sahabat mula berhijrah ke serata pelusuk dunia seperti Kufah, Mesir, Madinah, dan Mekah.

Di sinilah benih perbezaan pendapat muncul.

Bukan kerana mereka ingin bercanggah, tetapi kerana setiap sahabat membawa simpanan hadis yang berbeza.

Ada yang mendengar hukum A, manakala yang lain tidak mendengarnya.

Rasulullah SAW sendiri pernah memberi isyarat bahawa perbezaan kefahaman dalam perkara cabang adalah sesuatu yang dibenarkan, sebagaimana sabda Baginda:

إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ

“Apabila seorang hakim memutuskan hukum lalu dia berijtihad dan benar, maka dia mendapat dua pahala. Jika dia memutuskan hukum lalu berijtihad dan salah, maka dia mendapat satu pahala.” (Riwayat Al-Bukhari)

Ijtihad itu bermaksud usaha yang bersungguh-sungguh oleh sarjana Islam (mujtahid) yang berkelayakan untuk mengeluarkan hukum syarak berkaitan perkara baru atau isu semasa yang tidak dinyatakan secara jelas dalam al-Quran dan Sunnah, berasaskan kajian, intelek, dan kaedah usul fiqh bagi menyesuaikan Islam dengan perkembangan zaman.

Asal Usul Mazhab: Bukan Agama Baru, Tapi Metodologi Ilmu

Ramai yang terkeliru menyangka mazhab itu seperti pecahan agama.

Tegas Ustaz Azhar Idrus, pengisian asal usul mazhab sudah ada sejak zaman Nabi lagi, cuma jenamanya sahaja yang belum wujud.

Imam-imam besar seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bukanlah pencipta syariat.

Mereka adalah “jurutera” yang menyusun kaedah (manhaj) untuk kita memahami dalil.

Mengapa kita perlukan mereka?

Kerana kita orang awam tidak mempunyai alat untuk membezakan hadis yang nasikh (menghapuskan) atau mansukh (dihapuskan).

Memahami asal usul mazhab menyedarkan kita bahawa tanpa bimbingan Imam Syafi’i atau Imam Malik, kita mungkin tersalah ambil hukum daripada hadis yang sebenarnya sudah tidak terpakai lagi.

Keluasan Ilmu Dalam Perbezaan Geografi

Sejarah asal usul mazhab juga dipengaruhi oleh realiti tempatan.

Imam Malik di Madinah lebih menekankan Amal Ahl al-Madinah kerana baginda melihat amalan penduduk di sana adalah warisan hidup daripada Nabi.

Manakala Imam Abu Hanifah di Iraq banyak menggunakan rasional (Ra’yi) kerana keadaan sosial di sana yang lebih kompleks.

Indahnya asal usul mazhab ini adalah sifatnya yang dinamik.

Ia memastikan Islam dapat diamalkan mengikut kesesuaian zaman dan tempat tanpa lari daripada landasan asal.

Perbezaan dalam perkara furu’ (cabang) adalah rahmat yang menunjukkan betapa luasnya syariat Allah SWT buat umat manusia.

Kepentingan Bermazhab Bagi Orang Awam

Bagi kita yang bukan ahli hadis, mempelajari asal usul mazhab adalah jalan keselamatan.

Ustaz Azhar Idrus memberi perumpamaan mudah iaitu, jika kita tidak tahu jalan, carilah penunjuk jalan yang mahir.

Ikut mazhab bukan bermaksud kita taasub kepada manusia, tetapi kita mengikut cara orang alim memahami kehendak Allah dan Rasul.

Kepada mereka yang cuba meninggalkan mazhab atas alasan “ingin kembali kepada Quran dan Sunnah”, sedarlah bahawa para Imam Mazhab itulah orang yang paling pakar tentang Quran dan Sunnah.

Tanpa sandaran pada asal usul mazhab, kita sebenarnya bukan mengikut Nabi, tetapi sedang mengikut nafsu dan logik akal sendiri yang penuh dengan kekurangan.

Hormat Warisan Ilmu

Dr. Rozaimi Ramle menasihatkan agar kita sentiasa menghormati perbezaan pendapat.

Memahami asal usul mazhab sepatutnya menjadikan kita lebih tawaduk, bukan lebih sombong untuk menyesatkan orang lain.

Mazhab adalah jambatan yang menghubungkan kita dengan ajaran Rasulullah SAW yang asal.

  • Hormati perbezaan: Jangan jadikan khilaf punca perpecahan.
  • Terus belajar: Fahami dalil agar amalan tidak sekadar ikut-ikutan.
  • Jauhi taasub: Kebenaran mutlak hanya pada Allah dan Rasul.

Semoga dengan memahami asal usul mazhab, ibadah kita menjadi lebih bermakna dan hati kita lebih tenang dalam mendakap keluasan rahmat Islam.

Akhir kata, jadilah hamba yang berilmu, bukan sekadar hamba yang tahu.

Wallahu a’lam.

Sumber: Dr. Rozaimi Ramle, Ustaz Azhar Idrus

www.waktusolat.digital

Written by Admin
Category: Gaya Hidup
Hits: 199

 

INDAHNYA AIDILFITRI

AIDILFITRI tiba lagi. Kali ini terlalu besar dugaan atau ujian yang kita lalui dan hari-hari yang berikutnya dijangka berlaku ketidaktentuan dan kendala yang memaksa kita mengendali kehidupan agar tidak rusak binasa.

Secara lafaz, Aidilfitri bermakna sebuah kemenangan. Madrasah Ramadhan selama 30 hari berjaya kita laksanakan, tanpa rasa gelabah dan sukar. Di dalamnya, kita mengasuh diri sendiri untuk memahami hakikat fitrah kehidupan tanpa ada rasa curiga dan benci.

Kalau ada benci pun bukan benci apabila melihat orang lain lebih mewah dan kaya daripada kita. Kita sejak kecil diajar untuk sabar, bersyukur dan memahami bahawa takdirlah yang menentukan segala-galanya, tetapi tidak bermakna takdir adalah jerat yang mematikan.

Takdir membawa kita kepada sebuah keinsafan paling dalam. Kita insaf bahawa kita sebenarnya bukan tuan kepada kehidupan ini, kita adalah penumpang pada dunia yang penuh cabaran dan simpang siur. Simpang siur yang setiap saat kita perlu hadapi ialah bagaimana berada dalam kompas ayat-ayat suci al-Qur'an dengan melihat apa yang telah diteladankan oleh para nabi dan rasul.

Allah SWT berfirman, dengan maksud: tidak Aku jadikan kalian (manusia) dengan sia-sia (Al-Imran: 191); Allah jadikan kita sebagai makhluk yang paling istimewa (At-Tin: 4) dan ini bermakna manusia yang paling bahagia ialah manusia yang memahami hasrat jiwa dan ketentuan-Nya (Imam Al-Ghazali, Seni Memiliki Jiwa Yang Dicintai Tuhan, terjemahan dari Kitab Riyadah al-Nafs wa Tahdzib al-Khuluq wa al-Mu'alajat Amrad al-Qalb, kitab ke-22 ( dalam Ihya Ulumuddin (Jilid 3: Rubu' al-Muhlikat) oleh Siti Nurul Iman Naim, Batu Caves, Selangor: PTS Publishing House, 2025).

Manusia dijadikan sebaik-baik kejadian. Manusia diberikan akal fikiran dan kerana itu Allah SWT sentiasa memberikan suguhan, sesungguhnya orang yang paling beruntung ialah mereka yang berfikir, berfikir untuk menjaga hubungan dengan Allah dan juga setiap makhluk. Kerana itu, kita diajar untuk belajar, mencerap dan melihat pada alam, kerana akan itulah guru yang sangat berharga dan pedoman tentang kebesaran-Nya.

Ada pepatah: alam terbentang luas adalah guru yang sangat dedikasi membimbing, tetapi kadangkala kita melihat ia hanya sebuah estetika yang indah, bukan sebuah makna yang boleh membawa kita kepada keyakinan, Dialah yang mengajar kita untuk berperilaku dan bertanya pada diri, untuk apakah kita hidup. (Hamka 1908-1981).

Jika pohon tumbuh dari sebiji benih, pohon itu kalaupun tidak berbuah ia tetap memberikan harapan kepada makhluk yang memerlukan. Sekalipun seharian kita melihat pokok itu membesar, tumbuh subur, merindang tetapi tidak mengeluarkan sebarang buah dan berputik, ia tetap membawa faedah yang besar kepada makhluk. Ia menjadi tempat berlindung para unggas dari kepanasan matahari.

Sekali pun pokok itu kadangkala ternampak bayang-bayang hitam, ia tidak bermakna ada hantu dan jembalang yang sedang menunggu. Tetapi setiap saat pokok yang hidup itu memberikan makhluk untuk bernafas, sebab pokok mengeluarkan oksigen yang sangat kita perlukan. Tanpa oksigen kita boleh mati.

Tanpa oksigen kita sesak. Itulah maknanya. Kita akan terasa ia cukup berharga, apabila sesak nafas dan diberikan bantuan pernafasan oleh para doktor. Selepas semuanya selesai, kita sedar bahawa harga oksigen yang kita diberikan bantuan pernafasan itu cukup mahal, dan kadangkala kita tidak mampu untuk membayarnya.

Kenapa oksigen menjadi mahal? Kerana oksigen itulah yang memberikan kita rasa nyaman dan menggerakkan urat nadi kehidupan. Jika oksigen terhenti, atau alirannya tersendat, kita kemas dan boleh jadi mati. Begitu juga latihan diri berpuasa selama sebulan. Ia memberikan nafas baharu kepada kesihatan diri, kerana dengan berpuasa kita dapat nyahkan beberapa partikel yang telah lama berkumpul di dalam organ diri.

Secara saintifik, dengan berpuasa selama 12 jam, kita dapat mengukur dengan lebih baik tekanan darah, tahap kolestrol dan sebagainya. Dengan berpuasa, kita dapat memahami bahawa "kelaparan" itu bukan sekadar "tidak makan dan tidak minum"; kita turut berpuasa daripada pelbagai gelodak rasa dan emosi, yang boleh membawa kita kepada hal-hal yang negatif.

Dengan berpuasa, kita menahan atau dapat mengawal nafsu. Bila nafsu tidak dapat dikawal kehidupan menjadi tidak keruan dan kadangkala membawa kepada konflik yang lebih besar.

Tentunya, Aidilfitri itu kita raikan sebagai titik kemenangan melawan hawa nafsu, tetapi, dalam menyambutnya kadangkala kita terlupa perjuangan selama sebulan itu nampaknya cukup sia-sia. Kita kembali kepada tabiat lama, sebab kita merasakan "kita telah menang". Tidak kurang pula ada ego yang membaluti nurani kita, sehingga kita lupa, puasa mengajar kita untuk bersederhana, dan menginsafi kesusahan orang lain.

Sepanjang Ramadhan kita cuba mengasuh jiwa agar bersyukur dan bersedekah, sama ada secara terus kepada keluarga yang kurang bernasib baik, atau mengambil bahagian dalam program iftar yang dianjurkan oleh pelbagai pihak, termasuk masjid, surau atau persatuan khairat, pusat didikan anak-anak yatim dan sebagainya.

Sayangnya, ketika menyambut Aidilfitri, kita terusir dan berjarak dengan semangat itu. Kita bermegah dengan pakaian berjenama, menghias diri dengan aksesori luar negeri yang cukup mahal, yang kadangkala harga sebuah beg tangan boleh menampung keperluan lebih lima keluarga untuk sebulan.

Tidak cukup dengan itu, ada di antara kita mempamerkan busana indah tetapi seperti tidak cukup ukuran untuk memaknakan aurat. Ada yang ketat sehingga alur tubuh cukup sendat, sebab ada bahagian yang dikatakan menarik perlu dibentuk sedemikian rupa agar nampak anggun, ceria dan sophisticated. Walhal setiap daripada kita diajar, bersederhanalah segala-galanya, termasuk berbusana. Untuk apa itu semua?

Untuk menjaga peribadi dan memancarkan semua dan keindahan diri yang sebenarnya. Bukan lakonan, atau drama yang membinasakan.

Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar Walillahilham.

Ingatlah bahawa Allah Itu Maha besar. Maha besar kerana Dialah yang memberikan kita kehidupan dan Dialah yang turut mengatur rezeki sekian mengatur bagaimana sesungguhnya hidup itu patut kita jalani. Ingatlah, sebaik sahaja hari terakhir Ramadhan, sebaik sahaja selepas berbuka puasa kita disunatkan untuk melafazkan takbir hari raya, sebagai tanda kemenangan perjuangan selama sebulan lamanya.

Namun, kita tidak melakukannya, kita sibuk untuk melakukan apa sahaja demi sebuah "pengorbanan" yang tidak pun menjadi kewajipan untuk mengambil hari raya. Kita bersungguh-sungguh memasak, menghiasi rumah dan sampai awal pagi bersengkang mata menyiapkan juadah.

Setiap ruang dapur terasa tidak cukup untuk meletakkan pelbagai juadah, termasuk kuih-kuih kering yang dibuat sendiri mahupun yang dibeli. Di atas meja tersusun indah balang kuih, yang menjadi ruang semakin sendat dan sesak.

Kita sebenarnya kembali terjerat oleh hawa nafsu, kerana kita mengaitkan "kemenangan" itu dengan aneka kuih, juadah dan hiasan yang gah. Kita menyelubungi makna "kemenangan" itu dengan benda-benda yang indah dan gah dilihat oleh mata kasar, tetapi tertinggal dalam semangat dan jiwa "kemenangan sebenar". Seringkalinya juga, saat tibanya "hari kemenangan" itu selimut jiwa dipenuhi kecewa dan hikmat berkuasa sebulan lamanya.

Ada isteri bertegang leher dengan persiapan penuh riuh dan memenatkan. Ada suami yang terjerut rasa pedih kerana diganggu oleh persiapan raya yang berlebihan sejak muka berpuasa lagi. Isterilah yang seringkali memutuskan pakaian raya kalau boleh mahu sedondon semuanya. Perlu ada tema, dan hari raya benar-benar sudah diserang komersialisasi. Hari kemenangan menjadi lubuk perniagaan yang menguntungkan, bagi yang mampu eksploitasi kehendak-kehendak yang tidak terbatas.

Nilai-nilai kapitalisme menguasai dan menjadi anjuran yang cukup mengujakan, maka di situlah lahirnya ungkapan, berniaga sebulan (Ramadhan) cukup menguntungkan. Khabarnya berbilion ringgit nilai jualan Bazar Ramadhan, namun ada juga sisi negatif yang ikut hadir bersamanya. Kalau makanan ada pembeziran. Buka sahaja juadah tidak terjual, harga mahal bahkan sebahagiannya berakhir ke tong sampah.

Ya! Ketika dalam keadaan lapar dan dahaga, kegiuran meningkat mendadak. Tetapi, setelah setelah minum segelas air, sebahagian kegiuran itu turun mendadak. Ertinya, ujian kepada hawa nafsu tidak sepenuhnya berjaya, kita hanya berjaya seketika sahaja, belum pun sampai ke hujung hari.

Ertinya, kita telah gagal. Kegagalan yang cukup disengajakan. Kita terpengaruh dengan keadaan, mudah tergiur pada bau-bauan dan keindahan yang kekuatan pada zahir. Kita kehilangan keindahan pada jiwa dan roh Ramadhan, dan terbawa-bawa pula ke "hari kemenangan".

Pada hari kemenangan, kita sepatutnya memulakan sambutannya dengan mandi sunat, takbir hari raya dan seterusnya hadirkan diri bersembahyang sunat hari raya dua rakaat. Selepas bersembahyang, bersalan-salaman, memohon maaf di atas segala kesilapan yang berlaku sama ada secara sengaja atau tidak sengaja.

Tetapi, dalam keluarga kadangkala ada yang "menjauhinya" kerana ketika bersiap sedia untuk menyambut Aidilfitri ada "ketegangan" yang berlaku. Isteri tidak menegur suami kerana suami tidak bersetuju dengan apa yang isteri inginkan. Suami tidak menegur isteri kerana terasa kecil hati, terlalu sibuk untuk menghias rumah dan kadangkala terkeluar pelbagai kata-kata yang cukup melukakan.

Keindahan Aidilfitri bukan pada perhiasan yang berjejai di badan, langsir yang baharu, rumah yang penuh aksesori dan dapur yang sendat dengan juadah. Keindahan Aidilfitri yang kita raikan sebagai "kemenangan" ialah kerana kita berjaya mengawal dan mengelola hawa nafsu. Itulah hakikat "kemenangan" dan ianya bukan sekadar bulan Ramadhan, ia adalah sepanjang hayat sebagai manusia yang beriman.

Hakikat meraikan "Aidilfitri" ialah memahami fitrah kehidupan. Kita beramal dengan sebaik-baiknya, kerana kita mensyukuri apa yang Allah SWT berikan, termasuk kasih sayang-Nya yang tidak pernah putus. Dari nafas setiap saat kita hela hinggalah rezeki yang kita raih untuk menyara kehidupan keluarga, dan bersedekah kepada mereka yang kurang bernasib baik.

Dalam meraikan "kemenangan" kita diajar agar sentiasa bermuhasabah dan membaiki urusan dunia, dari sekecil-kecil perbuatan hinggalah setiap kata-kata yang muncul dari lidah yang tidak berulang. Setiap saat kita wajib mengingati-Nya kerana Dialah yang menentukan apa yang ada pada diri dan apa yang akan terjadi selepas "hari kemenangan" itu.

Dalam keindahan Aidilfitri, kita perbanyakkan kerendahan hari, memohon maaf dengan sesiapa sahaja, bukan terhad dalam ahli keluarga dan sahabat handai. Salah dan silap kita sedia memaafkan dan jangan jadikan "maaf adalah dendam yang terindah".

Jadikan maaf itu sebagai budaya "kehambaan" yang tulus dan penuh keikhlasan, kerana Allah SWT tetap memaafkan kepada setiap mereka yang bertaubat. Itulah sebuah pengkalan yang sentiasa kita jadikan pedoman dan jadikan Aidilfitri ini sebagai "turn-around" pengurusan pahala dengan menguburkan segala dosa. (Dr KH Ahsin Sakho Muhammad, Oase al-Qur'an: Petunjuk dan Penyejuk Kehidupan, Jakarta: PT Qaf Media Kreativa, 2022; dan Nevzat Tarhan, Psikologi Iman: Keyakinan Yang Masuk Akal dan Menumbuhkan Kesihatan Mental, terjemahan dari Faith in the Laboratory: Humanity at the Intersection of Body, Mind and Soul (dalam bahasa Turkiye, Inanc Psikolojisi Ingilizce, 2020) oleh FX Dono Sunardi, MA, Jakarta: PT Qaf Media Kreativa, 2022).

Saya petik sebuah nukilan Jalaludin Rumi yang diterjemahkan oleh Prof Abdul Hadi WM, Jalaludin Rumi: Masnawi, Senandung Cinta Abadi (2017);yang diambil daripada manuskrip terjemahan dan catatan Reynold A Nicholson, The Mathnawi of Jalaludin Rumi, Volume I (1977), "Bahaya Sanjungan Orang di Tengah Khalayak dan Kegemaran Pamer diri":

"Tubuh jasmani bagaikan sangkar; tubuh yang terumbang-ambing oleh rayuan datang dan pergi, menjadi duri bagi jiwa.

"Yang ini berkata kepadanya:" Aku akan menjadi orang kepercayaannya!". Dan yang itu berkata: "Tidak ada seperti kau di dunia ini dalam hal. kemolekan, keunggulan, keramahan, dan keluasan pandangan!". Ketika dia tahu bahawa orang-orang mabuk dan mengagumi dirinya, lantas dia pun menjadi sombong dan kehilangan kendali diri.

"Dia tidak tahu bahawa Iblis menceburkan ribuan orang seperti dirinya dalam sungai yang dalam dan deras.

"Bujukan dunia dan kemunafikannya adalah manisan yang lazat: makan sedikit saja, kerana di dalamnya tersembunyi bara api.

"Apinya tersembunyi dan rasanya jelas: pada akhirnya asap akan menampakkan api dan rasa api.

"Jika tutur katamu membuatmu dicemoh orang di khalayak, hatimu akan membara selama beberapa hari sampai makian orang itu hangus.

......

"Jika pengaruh rasa gula bertahan lama, tak lama kemudian muncul buih yang membuat lidah terasa tidak enak

"Fir'aun menjadi seperti itu kerana limpahan sanjungan; jangan merasa sok berkuasa.

"Jika boleh, jadilah seperti hamba (Tuhan); jangan jadi raja (Fir'aun). Siksaan menghembuskan nafasnya; jadilah seperti bola, jangan jadi kelelawar.

"Sebaliknya, jika sikap anggun dan baik ini kekal dalam dirimu, kau akan disegani dalam persahabatan.

"Sejumlah orang yang berniat memperdayakanmu, jika melihatmu akan menganggapmu setan.

"Seperti anak muda tak berjanggut yang mereka anggap malaikat, dengan kemunafikan inilah mereka membuat namanya tercoreng.

"Segera sesudah orang itu memiliki janggut, kerana namanya telah tercoreng, iblis pun malu mendekatinya lagi.

"Iblis menghampiri orang dengan maksud jahat: ia tidak akan menghampirimu disebabkan engkau lebih buruk dari setan.

"Selama engkau masih manusia, Iblis akan berputar pada rodamu dan merayumu agar mahu menenggek anggurnya.

"Begitu engkau terjerumus dalam perbuatan jahat, Iblis akan segera meninggalkan dirimu, O engkau yang konyol.

"Dulu mereka memegang jubahnya sekuat tenaga: kerana engkau telah gemar maka mereka semua lari meninggalkanmu. (Abdul Hadi WM, 2017, hal. 306-309).

.......

Akhirnya, saya ungkapkan dalam pantun, apa yang terilham dari Aidilfitri, tahun ini (1447):

Aidilfitri Kita Raikan Bersama

Tidak Dilupa Sahabat dan Keluarga

Ampun dan Maaf Dimohon Sesama

Dalam Semangat dan Berkat-Nya

Jauh Perjalanan Hadapi Jua

Untuk Pulang Berhari Raya

Bukan Pakaian adalah Pengukurnya

Hati Yang Ikhlas Penuh Bahagia

Sebulan Ramadhan Kita Berpuasa

Tanda Syukur fitrah diri

Sebulan Mencari Kemenangan juga

Usah Dinodai ego tinggi

Allahuakbar, Allahuakbar Walillahilham.

Salam Aidilfitri. Maaf zahir dan batin.

KAMARUN KH

Written by Admin
Category: Gaya Hidup
Hits: 180

Bacaan Popular


Baca topik

Terkini


TEMPAT NYAMAN TAMAN BACAAN MASA DEPAN ANDA-JOM KITA MENULIS!!! dhomir.com ingin mengajak dan memberi ruang kepada para penulis khususnya penulisan yang berkaitan dgn agama Islam secara mendalam dan sistematik.Jika anda ingin mencurahkan isi hati mahupun pandangan secara peribadi dhomir.com adalah tempat yang paling sesuai utk melontarkan idea. Dengan platform yang sederhana, siapa sahaja boleh menulis, memberi respon berkaitan isu-isu semasa dan berinteraksi secara mudah.Anda boleh terus menghantar sebarang artikel kepada alamat email:dhomir2021@gmail.com.Sebarang pertanyaan berkaitan perkara diatas boleh di hubungi no tel-019-3222177-Editor dhomir. com