PEMIMPIN YANG AMANAH
Oleh: Drs. H. Ahmad Yani
Kecerdasan berfikir, cepat tanggap terhadap suatu persoalan, ucapan yang memikat, dan cita-citanya yang tinggi merupakan di antara hal yang menonjol dari diri Muadz bin Jabal. Apalagi, ia sudah menjadi Muslim sejak usianya masih muda.
Di antara hal menarik dari dirinya setelah menjadi Muslim adalah membentuk suatu kelompok bersama teman-teman sebayanya untuk menghancurkan berhala, bahkan di antara mereka ada juga yang mengambil dari rumah-rumah kaum musyrikin di Madinah untuk dihancurkannya. Amr bin Jamuh merupakan di antara yang tertarik kepada Islam berkat kelompok Muadz dalam berdakwah.
Ketika Rasul dan para sahabat berhijrah ke Madinah, Muadz merupakan salah seorang di antara yang berhijrah itu. la seorang sahabat yang selalu mendekati Rasul dan belajar kepada beliau hingga mampu membaca al-Qur'an dengan baik dan memahami ajaran Islam. Dengan kesungguhan belajar kepada Rasul itulah Muadz menjadi sahabat yang disenangi banyak orang dalam menjelaskan ajaran Islam.
Yazid bin Qutaib berkisah, "Aku memasuki Masjid Hamsa ketika tampak seorang pemuda sedang berbicara menjelaskan ajaran Islam, dan ini dilakukan Muadz pada banyak tempat. Rasulullah saw sendiri pernah mengatakan, "Di antara umatku yang paling tahu tentang halal dan haram adalah Muadz." Itu pula yang menjadi sebab, mengapa Muadz ditugaskan oleh Rasulullah saw untuk berdakwah ke Yaman.
Prestasinya yang lain adalah salah seorang pengumpul al-Qur'an, dan ini pula yang menyebabkan para sahabat menghormatinya.
Ada lagi kisah menarik dari Muadz, iaitu ketika Khalifah Umar bin Khattab menugaskannya membagi-bagikan wang kepada fakir miskin. Tugas itu berhasil dilaksanakannya dengan baik sehingga wang yang diamanahkan kepadanya itu habis dibagikan ke penerima yang benar-benar berhak. Ketika pulang ke rumah, hanya lilitan kain yang ada di lehernya yang ia bawa, sebagaimana hal itu digunakannya saat pergi. Isterinya bertanya, "Mengapa tidak ada sesuatu yang engkau bawa, sebagaimana layaknya utusan yang biasanya ada hadiah untuk keluarganya?"
Kepada isterinya itu, ia berkata, "Aku selalu diikuti pengawas yang selalu memperhatikanku."
Sang isteri balik berkata, "Sejak dulu engkau sudah dipercaya oleh Khalifah Abu Bakar dan Umar, mengapa sekarang dengan mata-mata segala?."
Istri Muadz yang belum tahu maksud ucapan Muadz itu langsung menemui Khalifah Umar dan melaporkan hal itu. Maka, Umar segera memanggil Muadz dan bertanya, "Apakah aku mengirim penyelidik untuk mengawasimu?."
"Tidak," jawab Muadz. "Aku hanya tidak punya alasan untuk memberikan keterangan kepada isteriku," tambahnya.
Umar menjadi tertawa mendengar hal itu. la lalu memberikan sesuatu kepadanya dan katanya, "Berikan ini kepada isterimu agar ia menjadi lega."
Suatu ketika, Yazid bin Abu Sufyan, seorang gubernur di Syam meminta kepada Umar agar mengirim tenaga guru untuk mengajarkan al-Quran dan agama. Maka, diutuslah Muadz ke Palestin, sementara Ubadah ke Himsha dan Abu Darda ke Dimasyqa.
Ternyata, di Palestin Muadz mengalami serangan penyakit menular yang memang sedang berjangkit di sana. Saat itu, datang kematian dan di penghujung kematiannya itu, Muadz mengucapkan selamat datang kepada kematian hingga akhirnya nafas yang terakhir berhembus dan tertutuplah matanya dalam keadaan tenang, meskipun sedang jauh dari anak dan isterinya. Dunia memerlukan manusia seperti Muadz, seorang pegawai yang amanah, yang setiap tugas yang dipertanggungjawabkan kepadanya sentiasa dilaksanakan dengan sebaik-baiknya
Berbahagialah sudah Muadz dalam kehidupannya di dunia yang mulia, sedang di negeri akhirat yang menjadi tujuan, insya Allah akan diraihnya pula kebahagiaannya yang hakiki.
Dari kisah di atas, pelajaran yang dapat kita ambil adalah:
1. Seorang pemimpin tentu tidak boleh bekerja sendirian, ia memerlukan orang-orang yang membantunya.
2. Pembantu yang amanah menjadi kunci sukses kepemimpinan dan kemajuan masyarakat dan bangsa.
