PEMIMPIN YANG MEMINTA NASIHAT ULAMA
Setiap orang memiliki potensi untuk lupa dan berbuat salah. Itu sebabnya, untuk mencegah hal tersebut terjadi, mendapatkan nasihat dan peringatan dari orang lain merupakan sesuatu yang sangat penting dan berharga. Bila seorang Rasulullah saw saja amat menyadari dan memerlukan nasihat, apalagi bagi pemimpin-pemimpin sesudahnya. Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik merupakan salah seorang pemimpin pada masa Abbasiyah yang amat memerlukan nasihat.
Ketika Khalifah Sulaiman menunaikan ibadah haji, beliau berziarah juga ke Madinah dan menjumpai Salamah bin Dinar, atau lebih dikenal dengan sebutan Aba Hazim, salah seorang sahabat Nabi yang masih hidup dan dirasakan keulamaannya oleh generasi yang hidup pada masanya. Pasalnya, ia bukan seorang ulama yang berdiam diri, melainkan pejuang yang kuat dalam menegakkan nilai-nilai kebenaran dan mencegah kemungkaran.
Keberanian Salamah bin Dinar ditunjukkan ketika ia menghadapi Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik, sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Katsir. Khalifah Sulaiman bertanya, "Mengapa kita membenci kematian?."
"Karena kalian memakmurkan keduniawian dan menghancurkan keakhiratan. Adapun jalan keluarnya adalah keluar dari perbuatan itu."
Khalifah kembali bertanya, "Bagaimana dengan amalan kita kelak di sisi Allah swt?."
"Cocokkan amal itu dengan apa yang ada pada kitab Allah swt, lalu menunjukkan ayatnya di dalam al-Qur'an," jawab Aba Hazim.
Ayat yang dimaksud adalah sesungguhnya, orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan. Dan sesungguhnya, orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka. (QS al-Infithar (82): 13-14)
"Di manakah letak kenikmatan itu?." Tanya Khalifah lagi.
"Berada di dekat orang yang berbakti," jawan Aba Hazim.
Khalifah Sulaiman melanjutkan, "Bagaimana kira-kira keadaan kita ketika bersama-sama menghadap Allah swt nanti?."
Aba Hazim menjawab, "Bagi orang berbakti, ibarat musafir yang kembali kepada keluarganya. Sementara, bagi yang durhaka seperti pekerja yang melakukan kesalahan besar menghadap majikannya."
Khalifah Sulaiman menangis sesenggukan mendengar jawaban Aba Hazim. "Lalu bagaimana memperbaikinya?"
Dengan tegas dia menjawab, “Tinggalkan kesombongan, kembalilah berpegang pada kebijaksanaan dan keadilan.”
"Bagaimanakah bentuk keadilan yang sesungguhnya," tanya Khalifah lagi.
"Berkata jujur dalam setiap saat, baik ketika engkau kehendaki maupun saat yang tidak engkau kehendaki."
Dengan jawaban yang jelas dan menyentuh hati, Khalifah Sulaiman merasa beruntung telah meminta nasihat kepada seorang ulama. Alhasil, ia lalu mengajak Abu Hazim untuk bergabung dalam pemerintahannya. Namun, ternyata ia tidak mau sambil mengatakan: "Aku khawatir, lama kelamaan aku akan cenderung menyetujui semua yang kau katakan. Jika demikian, Allah swt pasti akan menyiksa aku dan tidak ada seorang pun yang akan membantuku."
Karena pemimpin memerlukan nasihat ulama yang baik, maka Abu Hazim suatu ketika mendatangi gubernur Madinah. la berkata, Wahai Gubernur, perhatikanlah orang-orang yang baik, maka orang jahat akan pergi darimu. Namun, jika kamu sambut orang-orang jahat, maka orang-orang baik akan pergi darimu."
Dengan mendapatkan nasihat dari para ulama yang baik, seorang pemimpin insya Allah akan memiliki banyak pijakan untuk bersikap, berkata, dan bertindak benar.
Dari kisah di atas, pelajaran yang dapat kita ambil adalah:
1. Setiap orang boleh lupa, apatah lagi seorang pemimpin yang berhadapan dengan pelbagai tarikan dan godaan.
2. Pemimpin seharusnya suka meminta nasihat para ulama yang baik agar ia menjadi ingat atas kesalahan dan semakin paham mana yang haq dan bathil.
Oleh: Drs. H. Ahmad Yani
