PEMIMPIN YANG MEWUJUDKAN KESEJAHTERAAN
Terwujudnya keadilan dan kesejahteraan merupakan ukuran kejayaan pembangunan yang bukan mudah untuk dicapai. Oleh itu, Umar bin Abdul Aziz tidak mahu mengakui dirinya sebagai pemimpin yang berjaya dalam melaksanakan amanah kepimpinan. Sebaliknya, beliau lebih suka mendengar secara langsung pandangan atau penilaian orang lain tentang hasil-hasil pembangunan.
Suatu ketika, bersama stafnya yang bernama Muzahim, Umar bin Abdul Aziz berkunjung ke wilayah Syam. Sudah menjadi kebiasaan bila hantar penunggang kuda saling bertanya tentang keadaan daerah yang dilewatinya sebagai bentuk mendapatkan informasi yang sesungguhnya tentang suatu daerah. Di antara penunggang kuda yang ditemui oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz di tengah perjalanan pun ada yang ditanyainya. la bertanya kepadanya bagaimana keadaan penduduk dari satu daerah ke daerah lain di wilayah Syam.
Orang itu menjawab: “Aku boleh menceritakan keadaan daerah yang aku lalui secara keseluruhan, atau sebahagian-sebahagian. Yang mana satu kalian inginkan?”
Umar dan Muzahim berkata, "Kalau begitu, gabungkanlah semua cerita yang telah engkau ketahui"
la pun menjelaskan, "Aku meninggalkan daerah itu dalam kondisi orang yang berbuat zalim merasa bersedih hati, sedangkan orang yang dizalimi memperoleh pertolongan. Hal lainnya lagi, orang yang melakukan kesalahan menjadi tersingkir, sedangkan orang yang menafkahi keluarganya merasa telah memperoleh penyambung hidup."
Mendengar hal itu, sebagai Khalifah, Umar merasa amat bahagia karena cita-cita menegakkan keadilan dan kesejahteraan sudah berwujud.
Orang itu kemudian menambahkan pandangannya dengan mengatakan, "Demi Allah, seandainya semua negeri keadaannya seperti itu, aku lebih menyukai hal itu dibandingkan terbitnya matahari."
Dari kisah di atas, pelajaran yang boleh kita ambil adalah:
1. Salah satu ukuran keberhasilan dalam memimpin adalah apabila dapat diwujudkan keadilan dan kesejahteraan.
2. Namun menilai keberhasilan seharusnya bukan dari dirinya, tapi dari penilaian orang lain secara objektif.
Drs. H. Ahmad Yani
