Oleh: Drs. H. Ahmad Yani
Memiliki kedudukan atau jabatan tidaklah berlangsung lama, hanya lima atau sepuluh tahun dan bisa jadi sepuluh atau dua puluh tahun. Sangat rugi seseorang yang menjadi pemimpin bila ia tidak memanfaatkan kepemimpinannya itu untuk memberikan keteladanan dan mencatatkan sejarah emas dalam kepemimpinannya.
Oleh karena itu, harus disadari bahwa menjadi pemimpin atau pejabat bukanlah untuk menikmati kemewahan atau kesenangan hidup dengan berbagai fasilitas duniawi yang menyenangkan, melainkan justru harus mau berkorban dan menunjukkan pengorbanan. Apalagi, ketika masyarakat yang dipimpinnya berada dalam kondisi sulit dan sangat sulit. Di sini, seorang pemimpin harus mampu menunjukkan keserhanaan, bukan hanya dengan kata-kata, melainkan juga dalam kenyataan sehari-hari.
Hari pertama sebagai Khalifah, Umar bin Abdul Aziz dikejutkan dan mengejutkan banyak orang. Setelah menyelesaikan prosesi penguburan Khalifah Sulaiman, kepadanya disiapkan sejumlah kendaraan yang terdiri atas kuda pengangkut barang dan beberapa ekor kuda tunggangan lengkap dengan peralatan dan kusirnya. Beliau bertanya: "Apakah ini?"
Mereka menjawab: "Ini kendaraan untuk Khalifah." Umar menegaskan: "Hewanku lebih sesuai bagiku."
Maka, Umar menjual semua hewan itu dan uangnya diserahkan kepada Baitulmal. Begitu pula semua tenda, permadani, dan tempat alas kaki yang disediakan untuk khalifah-khalifah yang baru. la pun melakukan evaluasi dan kesimpulannya ia harus menjauhkan diri dari kenikmatan duniawi. Alhasil, dikembalikanlah semua tanah perkebunan yang dulu diberikan kepadanya dan dilepaskan harta yang dulu diberikan kepadanya karena ia yakin semua itu bukan harta yang halal. Bahkan, ia pun menanggalkan pakaian yang mahal dan beralih kepada yang murah.
Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa Umar bin Abdul Aziz memang menunjukkan kesederhanaan itu. Sebelum menjadi khalifah, ia memang dikenal sudah menjadi orang kaya. Karenanya, ia bisa menghabiskan dana untuk membeli pakaian yang harganya 600 dirham. Akan tetapi, ketika ia menjadi khalifah, ia hanya membeli pakaian yang harganya 6 dirham. Hal ini ia lakukan karena kehidupan yang sederhana tidak hanya harus dihimbau, melainkan juga harus dicontohkan langsung kepada masyarakatnya.
Raja' bin Haiwah, seorang menteri pada kabinet Umar, berkata, "Aku disuruh oleh Umar bin Abdul Aziz membeli pakaian seharga 6 dirham. Maka, aku belikan seperti apa yang diharapkannya itu dan kemudian beliau berkata, "Itulah pakaian yang aku senangi karena ia demikian halus." Mendengar hal itu, aku pun menangis terharu."
Khalifah bertanya, "Apa yang engkau tangiskan?"
Raja' menjawab, "Dulu aku bawa kepada engkau pakaian seharga 600 dirham dan engkau berkata, 'Aku senang pakaian ini, sayang ia terlalu kasar. Akan tetapi, sekarang setelah engkau jadi khalifah, aku belikan engkau pakaian seharga 6 dirham saja, engkau berkata, 'Aku senang kepadanya, karena ia demikian halus."
Bahkan, Ibnu Abdil Hakam meriwayatkan bahwa Umar sebelum menjadi khalifah menganggap kasar pakaian yang berharga sampai 800 dirham. Akan tetapi, kini pakaian dengan harta 8 dirham saja dianggapnya begitu halus. Kesederhanaan ini pun mendapat dukungan dari anggota keluarga, istri dan anaknya.
Kisah lainnya adalah ketika Umar bin Abdul Aziz telat datang ke masjid untuk menunaikan ibadah Jumaat, padahal beliau waktu itu akan menyampaikan khutbah. Maka, banyaklah orang yang telah gelisah menanti beliau di masjid. Berkata Na'iem, "Aku bertanya kepada Umar bin Abdul Aziz yang sedang duduk di dekat jemuran kainnya, 'Kenapa engkau duduk di sini?."
Jawab beliau: "Aku duduk di sini menanti kainku yang dicuci kering untuk dipakai naik mimbar guna menyampaikan khutbah."
Aku bertanya: "Kain apakah itu?."
Beliau menjawab: "Baju gamis, sarung, dan selendang yang harganya 14 dirham."
Pada kesempatan lain, Umar bin Abdul Aziz, seorang khalifah yang cemerlang datang ke sebuah pasar untuk mengetahui langsung keadaan pasar. Maka, ia datang sendirian dengan penampilan biasa, bahkan sangat sederhana. Tidak heran, ada seseorang yang menduga kalau ia adalah seorang kuli panggul di pasar itu. Orang itu lalu menyuruhnya untuk membawakan barang yang tidak mampu dibawanya. Umar membawakan barang orang itu dengan maksud menolongnya, bukan untuk mendapatkan upah. Namun, ditengah jalan, ada orang memanggilnya dengan panggilan yang mulia sehingga pemilik barang yang tidak begitu memperhatikannya menjadi memperhatikan siapa orang yang telah disuruhnya membawa barangnya. Setelah ia tahu bahwa Umar, Sang Khalifah, yang disuruhnya, ia pun meminta maaf.
Namun, Umar merasa hal itu bukanlah suatu kesalahan. Karena kepemimpinan itu tanggungjawab atau amanah yang tidak boleh disalahgunakan, maka pertanggungjawaban menjadi suatu kepastian.
Membaca kisah di atas, menjadi terasa aneh bila kini dalam anggaran belanja negara atau provinsi dan tingkatan yang dibawahnya terdapat anggaran dalam puluhan bahkan ratusan juta rupiah untuk membeli pakaian bagi para pejabat. Padahal, ia sudah mampu membeli pakaian dengan harga yang mahal sekalipun dengan uangnya sendiri sebelum ia menjadi pemimpin atau pejabat.
Dari kisah di atas, pelajaran yang dapat kita ambil adalah:
