PEMIMPIN YANG SUKA KRITIK (2)
Oleh: Drs. H. Ahmad Yani
Seorang pemimpin, meskipun sudah berusaha memimpin dengan sebaik-baiknya, bisa jadi, tanpa disadari, masih tetap bisa melakukan kekeliruan. Khalifah Umar tidak segan-segan untuk mendengar kritik dari rakyat yang dipimpinnya dan ia pun tidak ragu untuk mengubah kebijakan yang salah. Karenanya, beliau mendorong rakyatnya untuk bersikap kritis.
Suatu ketika, Khalifah Umar datang ke kedai minuman milik Bani Haritsah. Di sana, beliau berjumpa dengan Muhammad bin Maslamah. Kepadanya ia bertanya, "Bagaimana pendapatmu tentang diriku?."
Maslamah berkomentar, "Demi Allah, aku melihat engkau seperti yang memang kuharapkan dan pendapat ini sama dengan teman-teman yang melihatmu. Engkau pandai menghitung kekayaan dan engkau sendiri tidak menyentuhnya serta menyalurkannya secara adil. Namun, jika engkau berlaku tidak adil, kami akan meluruskannya seperti kami meluruskan pedang dalam sifat-sifat buruk."
Mendengar ucapan masalah itu, khalifah Umar menanggapi, "Alhamdulillah, aku bersyukur pada Allah yang telah menempatkan aku di antara orang-orang yang akan meluruskan aku ketika aku sedang menyimpang."
Pada kesempatan lain, Khalifah Umar berkata, "Semoga Allah membalas kebaikan orang yang menyampaikan kekurangan-kekurangan diriku."
Dari kisah di atas, pelajaran yang dapat kita ambil adalah:
1. Pemimpin, sebaik apapun mungkin saja melakukan kekeliruan dengan sebab-sebab tertentu. Karena itu, pemimpin harus menyadari keperluannya terhadap kritik dan saran.
2. Meskipun demikian, pemimpin tidak hanya menunggu orang melakukan kritik dan saran, tapi yang terpenting adalah meminta nasihat dan kritik dari siapa saja.
