MENYIBAK LANCANG KUNING
Oleh: Samsul Nizar
Bagi masyarakat Melayu Riau, eksistensi Lancang Kuning bukan sebatas lagu, tapi identitas, lambang kebesaran, kemakmuran, kesejahteraan, dan harga diri. Ia bukan dongeng, tapi wujud nyata kepahlawanan masyarakat Melayu yang pantang terjajah, apalagi menjual marwah.
Lancang Kuning merupakan perahu besar dan megah. Perahu ini adalah kendaraan kebesaran sultan dan kapal perang utama kerajaan yang memiliki peradaban tinggi. Kemegahan armada Lancang Kuning menunjukan kekuatan dan era kejayaan sejarah maritim Melayu Riau yang mampu menjaga tanah negeri dari anasir bangsa asing (penjajah).
Dalam sejarah Melayu, dikenal sosok pahlawan penjaga wilayah maritim sepanjang Selat Melaka. Sosoknya tak bisa dipisahkan dengan armada Lancang Kuning. Mereka bergelar "Datuk Laksemana". Status penerima amanah menjaga perairan tanah Melayu. Mereka adalah : (1) Datuk Ibrahim. (2) Datuk Khamis. (3) Datuk Abdullah Shaleh. (4) Datuk Ali Akbar. Kepahlawanan keempat Datuk Laksemana dalam menjaga wilayah maritim tanah melayu begitu mengagumkan dan mem-banggakan.
Untuk itu, masyarakat Melayu Pesisir menambahkan namanya "Raja di Laut". Keempatnya secara periodik diamanah-kan untuk menjaga jalur perairan sepanjang Selat Malaka dari gangguan penjajah dan bajak laut yang merompak kapal-kapal dagang yang melalui jalur kesultanan Siak Sri Inderapura rentang abad 18 hingga 19 M.
Keempat sosok Datuk Laksemana bukan sebatas mumpuni mengusir anasir yang mengganggu perairan tanah Melayu di sepanjang Selat Melaka. Keempatnya merupakan sosok kharismatik yang taat menjalankan ajaran agama Islam dan adat Melayu. Mereka sangat dipercaya oleh Sultan dan disegani masyarakat tanah Melayu.
Dalam sejarah Melayu, Lancang Kuning adalah kapal perang besar. Ornamennya begitu megah berwarna kuning dan berkecepatan tinggi milik sang Datuk Laksemana di Bukit Batu. Eksistensi Datuk Laksemana dan Lancang Kuning bagaikan 2 (dua) sisi mata uang dan identitas kejaya-an maritim di tanah Melayu.
Andai keduanya dipisahkan atau sengaja dihilangkan, bermakna ada upaya menafikan identitas, menghapus kewibawaan Datuk Laksemana, dan menyangkal kesakralan Lancang Kuning sebagai armada zaman keemasan Melayu Riau. Sungguh, perbuatan tersebut merupa-kan bentuk "pendurhakaan dan pengkhianatan" atas sejarah Datuk Laksemana.
Namun, semua pendurhakaan yang begitu nyata, tapi tak ada yang peduli. Mungkin, para ulama telah kehilangan berkahnya, tokoh adat kehilangan kharismanya, dan sejarah-wan punah pengetahuannya. Bila demikian karakter generasi mempermainkan sejarah leluhur, pertanda telah lahir kumpulan generasi pelanjut hikayat "si Lancang anak durhaka" yang tak tau diri dan balas budi, serta berterimakasih pada "orang tuanya".
Ada beberapa makna filosofis Lancang Kuning sebagai pelajaran berharga, yaitu: Pertama, Lancang Kuning melambangkan kebesaran, kedaulatan, kemuliaan, dan kewibawaan penguasa tanah Melayu.
Dalam budaya Melayu, warna kuning mencerminkan nilai moral yang luhur, adat yang terjaga, kejayaan negeri yang kaya dan makmur, serta kesejahteraan yang adil beradab. Andai nilai esensi ini tak bisa diwujudkan, bermakna Lancang Kuning telah kehilangan "ruh dan harga diri" di negerinya yang kaya raya. Jangan sampai rakyat mengalami bak "tikus mati di lumbung padi", tapi hadirkan kesejahtera-an bak "ayam bertelur di lumbung padi". Semua akan terwujud tatkala kedaulatan negeri bisa dimiliki dan diwujudkan.
Kedua, Sosok pemimpin yang arif, bijak-sana, dan bertanggungjawab selalu jadi panutan (tauladan) bagi seluruh rakyatnya. Namun, "kalau nakhoda kurang faham, alamat kapal akan tenggelam". Sindirian dan petuah yang bernas bagi setiap diri lintas generasi. Kalimat tersebut meng-isyaratkan pesan bahwa setiap sosok kepemimpinan atau perjalanan hidup memerlukan ilmu, adab, kedewasaan, kecakapan, amanah, kebijaksanaan, dan tanggungjawab agar tak gagal atau "tenggelam" di tengah jalan. Untuk itu, Rasulullah ﷺ mengingatkan dalam sabdanya: "Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya" (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis di atas menjelaskan tak ada yang lepas dari tanggung jawab atas kepemimpinannya (pemimpin umat, keluarga, dan diri). Kelak (akhirat), tak ada satu pun manusia yang luput dari pemeriksaan Allah atas apa yang dikuasai atau diurus-nya. Mungkin pengadilan dunia bisa dibeli atau direkayasa, tapi keadilan Allah tak bisa dinegosiasi (QS. al-Anbiya' : 47).
Ketiga, Makna "Lancang Kuning berlayar malam" mengingatkan bahwa setiap kepemimpinan (pemimpin sebagai nakhoda dan rakyat sebagai ABK) agar waspada terhadap berbagai tantangan. Tantangan yang besar justru bagaimana mampu menundukkan nafsu agar tak bisa menguasai diri.
Lancang Kuning mengisyaratkan diri yang sedang berlayar di lautan yang fana. Ingat tujuan "berlayar" untuk mencapai pelabuhan-Nya. Tambatkan tali iman pada tiang ajaran-Nya agar tak terlepas atau terom-bang-ambing digulung gelombang. Sosok nakhoda yang demikian akan mampu menundukan kesombongan dan selamat sampai ketujuan. Untuk itu, layarkan diri melalui tahajud sebagai media kesadaran sebagai hamba menuju dermaga cinta-Nya.
Ketika "lancang" (kapal besar) diibaratkan sebagai pemerintahan dan warna kuning merupakan lambang kebesaran dan kesejahteraan, maka menjalankan amanah bak "berlayar malam" dan kesejahteraan banyak yang iri ingin menguasai. Sungguh, perjalanan yang penuh risiko, gelap (potensi melanggar agama dan hukum), serta sulit dibaca dan dilihat. Untuk itu, perlu kompas vertikal dengan munajat kepada Allah di sepertiga malam untuk memohon petunjuk dan jalan keluarnya. Wujud ikhtiar batin melalui untaian rindu munajat kepada Allah di keheningan malam yang syahdu (QS. al-Isra' : 79).
Keempat, "Haluan menuju ke laut dalam" mengisyaratkan tujuan hidup begitu luas dan tantangan zaman yang semakin berat. Banyak rintangan menghadang dan cobaan silih berganti. Untuk itu, seorang nakhoda perlu memiliki ilmu yang luas, iman yang kuat, dan ABK (unsur penopang) yang me-miliki kompetensi agar semua amanah bisa dilaksanakan sesuai aturan. Hal ini perlu ditopang kedalaman ilmu ma'rifat untuk mengenal Allah agar meraih pertolongan-Nya (QS. at-Thalaq : 2-3).
Kelima, "Lancang Kuning menentang badai, tali kemudi berpilin tiga" simbol keteguhan kepemimpinan Melayu dalam menghadapi cobaan hidup. Kapal yang menghadapi badai menggambarkan ujian berat dalam mengelola negeri. Pemimpin yang baik senantiasa mendengar nasehat bijaksana (bernas) dari para ilmuan (ulama) yang berakhlak mulia dan tokoh adat yang "beradat". Ikatan ketiganya akan mengha-dirkan turunnya pertolongan Allah SWT.
Ketiga unsur tersebut harus memiliki karakter yang benar agar terlaksana pola kerja dan tujuan yang benar (QS. al-Maidah : 2).
Urgensi kerja sama harmonis di atas dijelaskan Rasulullah ﷺ dalam sabdanya : "Golongan yang jika baik, maka baiklah manusia. Dan, jika rusak, maka rusaklah manusia. Yaitu para penguasa (umara) dan ulama" (HR. Darimi).
Ketika hadis di atas menekankan urgensi hubungan harmonis antara umara dan ulama' yang menghantarkan ketenteram-an, maka apalagi bila diperkuat kehadiran tokoh adat yang "beradat" sebagai pilar ketiga (penyangga). Sungguh kekuatan yang mampu membawa kehidupan sosial yang tenteram, harmonis, dan sejahtera yang berkeadilan. Sebaliknya, jika pilar-pilar tersebut rusak, khianat, rakus, dan menyimpang, maka kerusakan besar akan menimpa seluruh umat manusia.
Namun, adakalanya hadir manusia tak tau sejarah dan berusaha menghapus sejarah yang tak diketahui atau tak diinginkannya. Padahal, kehidupan manusia adalah mata rantai sejarah yang berkesinambungan. Manusia yang menafikan sejarah pertanda sosok biadab yang merusak peradaban. Sebab, menafikan sejarah sama halnya mengingkari 33 % ayat al-Quran yang bercerita tentang sejarah. Sungguh bentuk pengingkaran yang nyata, tapi selalu dibiar-kan terjadi di depan mata. Pembiaran oleh manusia yang telah tergadai harga dirinya.
Manusia yang menutupi, apalagi menafikan sejarah tanda sosok lupa diri pada budaya dan perjuangan generasi sebelumnya. Mengorbankan kebenaran objektif demi kepuasan opini politik dan tujuan sesaat. Padahal, betapa banyak umat terdahulu yang lebih kuat, namun akhirnya dibinasa-kan karena lupa sejarah (QS. Qaf : 36).
Sebab, generasi yang melupakan sejarah tanda sosok yang tak tau diri dan tak mau menghargai generasi sebelumnya. Sedangkan semua yang dinikmati merupa-kan hasil kerja keras dan karya nyata generasi sebelumnya. Sungguh, melupakan sejarah membuat manusia kehilangan arah, pijakan moral, serta rentan pongah bila berhasil atau mengulangi kesalahan (kegagalan) yang sama.
Sungguh, Lancang Kuning seakan hanya sebatas kenangan, simbol, dan catatan sejarah era keemasan peradaban Melayu Riau. Derap langkahnya --sebagian-- telah "diamputasi" oleh manusia yang tak tahu balas budi. Lancang Kuning sebatas untai-an syair dan senandung, namun ruhnya hilang dari kehidupan. Sebab, hubung kait dan filosofi Lancang Kuning tak lagi di-hargai dan jadi rujukan dalam berperilaku.
Keterkaitan Lancang Kuning dan Datuk Laksemana bagaikan dua sisi mata uang. Menghilangkan salah satu di antara kedua-nya merupakan kejahatan sejarah yang tak bisa dimaafkan. Sayangnya, tak ada delik hukum yang melindungi sejarah. Akibatnya, kejahatan sejarah tampil anggun tanpa rasa bersalah. Andai Sultan Syarif Qasim dan Datuk Laksemana masih hidup, mereka akan menyaksikan semua yang terjadi. Pilu dan kecewa atas perilaku generasi yang tak beradab dan menghilangkan jejak se-jarah yang ditinggalkannya.
Sungguh, cita-cita luhur "Lancang Kuning" sebagai ruh negeri Melayu yang digagas para pendahulu telah "diamputasi" sesuka hati. Menghilangkan jejak (hubung kait) sejarah merupakan perilaku amoral, bentuk kejahatan, dan penyangkalan masa lalu. Namun, tak ada yang peduli atas semua "kejahatan sejarah" yang terjadi di depan mata. Semua diam dan masa bodoh tanpa peduli.
Sosok yang tampil hanya kumpulan generasi vampir dan validator yang hanya menikmati manisnya hasil (buah) perjuang-an yang tak pernah dilakukannya. Mereka yang hanya duduk manis ketika pendahulu berjuang, tapi tampil terdepan begitu keber-hasilan telah diraih. Tak tersisa rasa malu, tapi hanya rasa "mau" atas manisnya "madu". Mereka alpa getirnya perjuangan, kucuran keringat, dan tetesan air mata pendahulu.
Sayangnya, segelintir "pelupa sejarah" justeru para intelektual yang tau tapi tak mau tau dan agamawan yang mengerti agama tapi miskin ruh beragama (QS. al-Baqarah : 42). Sungguh nista mereka yang membiarkan penyangkalan sejarah. Sikap yang demikian menunjukan "kekerdilan generasi" yang tak menghargai para leluhur. Andai jejak sejarah begitu mudah dinafikan, berarti berpotensi mengingkari 33 % ayat al-Quran yang memuat sejarah masa lalu yang seyogyanya diimani.
Wahai para leluhur. Meski penduduk bumi tak lagi menghargaimu, tapi yakinlah bila penduduk langit selalu mengingatmu. Se-moga, masih tersisa sosok generasi yang memiliki hati nurani, akal sehat, muru'ah, rasa malu, dan adab untuk menjaga ruh dan nilai Lancang Kuning di negeri betuah. Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***
Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis
Sumber: jawapos.com
