KESERAKAHAN DAN KELICIKAN
Oleh : Samsul Nizar
Dikisahkan, sosok pemilik restoran rakus dan khianat. Ketika restorannya maju pesat, ia ingin tampil dominan. Untuk itu, ia merencanakan menyingkirkan peracik bumbu yang sejak awal ikut membidani kesuksesan restorannya. Padahal, peracik bumbu tersebut merupakan "kunci utama" kelezatan masakan dan kekaguman setiap konsumen. Kelezatan yang membuat restorannya begitu laris dan berkembang pesat.
Otak rakus dan licik pemilik restoran terus berputar mencari alasan. Akhirnya, ditemukan cara untuk menyingkirkan si peracik bumbu. Ia meminta agar si peracik bumbu mencantumkan resep (bahan baku) di setiap masakannya. Alasannya karena tuntutan pemerintah yang mewajibkan agar semua masakan mencantumkan bahan-bahannya. Dengan kepolosannya, si peracik bumbu menuliskan semua "resep rahasia" yang diinginkan pemilik restoran.
Merasa semua rahasia resep masakan telah dimiliki, keesokan hari si peracik bumbu diberhentikan dari restorannya. Resep tersebut diserahkannya kepada koki dungu untuk memasak menu restorannya. Tapi, hasil masakan koki berbeda kualitas (rasa). Seminggu kemudian restoran tersebut sepi tanpa pengunjung. Si pemilik restoran begitu marah dan menuduh si peracik bumbu licik karena tak menuliskan bumbu secara benar. Si peracik bumbu berkata, "aku telah menuliskan semua nama bumbu yang tuan inginkan. Tak ada yang kusembunyikan. Tapi tuan tak meminta takaran setiap bumbu, suhu api memasak, urutan bumbu dalam masakan, dan cara memasak yang benar.
Semua perlu proses panjang, bukan tiba-tiba sekedar melihat nama bumbu. Sebenarnya, aku jujur men-jelaskan nama bumbu sesuai permintaan, tapi tuan yang serakah dan licik menyingkirkan ku setelah restoran ini berkembang pesat". Mendengar penjelasan si peracik bumbu, si pemilik restoran sadar dan ter-tunduk malu. Kerakusan dan kelicikannya telah menyebabkan restorannya tak lagi di-datangi konsumen dan akhirnya tutup.
Kisah di atas merupakan fenomena nyata. Fenomena hilangnya "rasa menghargai" atas jasa orang lain, seiring munculnya keserakahan yang menggunung demi memperoleh pengakuan instan. Kisah ini begitu nyata lintas generasi dan level sosial. Hanya beda judul, setting cerita, sutradara, aktor, lokasi, dan waktu, tapi sama pada nilai substansinya. Kisah yang mengungkap pelajaran moral (adab), antara lain :
Pertama, Ketika berada di masa sulit untuk membesarkan restoran, tak banyak sosok yang mau tampil, berjuang, dan bertahan. Sosok yang tampil hanya mereka yang mau berjuang dan hadir bermodalkan keharmonisan kerja. Namun, begitu keberhasilan telah diraih, muncul sosok para "pahlawan kesiangan" yang begitu serakah untuk berkuasa dan menguasai. Untuk itu, berbagai upaya licik akan dilakukan untuk menyingkirkan sosok yang telah berjasa. Sosok yang dianggap penghalang keserakahan-nya. Tujuannya, agar "pundi" tercurah dan tepukan pujian yang akan mengangkat (mengharumkan) namanya. Dalam sejarah Islam, karakter manusia yang demikian tampil pada sosok Abdullah bin Ubay bin Salul. Iatak mau berjuang (perang), tapi begitu peperangan telah berhasil, ia tampil terdepan mengharap pujian dan dihormati atas jasa yang tidak pernah dilakukannya.
Karakter ini telah diingatkan dan diancam oleh Allah melalui firman-Nya :"Janganlah sekali-kali kamu menyangka, bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih" (QS. Ali Imran : 188).
Menurut al-Qurthubi, ayat di atas menjelaskan sifat kaum Yahudi yang menyembunyikan kebenaran, bersikap gembira atas kebodohan, dan menuntut pujian atas semua yang tak dilakukan. Meski ayat begitu tegas, tapi manusia acapkali tak memperdulikan peringatan Allah dan begitu semakin nyata melakukan pelanggaran (kemungkaran).
Kedua, Pemilik restoran melambangkan pemimpin berkarakter bodoh, licik, culas, dan berupaya menutupi sejarah. Ingin tampil "berkuasa" dengan menyingkirkan sosok "aktor utama" yang telah berkontribusi memajukan restorannya. Caranya dengan menghapus sejarah. Sungguh, celaka bagi pemimpin yang berkarakter munafik dan dengki. Hal ini dijelaskan Allah dalam firman-Nya: "Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka" (QS. an-Nisa' : 145).
Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas menegaskan kehinaan bagi orang munafik yaitu di kerak neraka paling bawah dengan siksa paling pedih. Sebab, mereka menampakan iman untuk menyembunyikan kekafiran. Tipu dayanya lebih berbahaya bagi Islam ketimbang orang kafir. Bagi mereka, tak ada yang menolong, meski penduduk bumi memuji dan menghargai. Sebab, munafikun akan dikelilingi manusia yang bersifat dan berkarakter serupa (munafik dan licik).
Ketiga, Profesionalitas dan kompetensi si peracik bumbu terbangun dari proses belajar yang panjang dan kerja keras tak kenal lelah. Sebab, si peracik bumbu tau dan melaksanakan pesan Rasulullahﷺ:"Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, mengerjakannya secara itqan (profesional)" (HR. Thabrani).
Merujuk hadis di atas, kata itqan menuntut seseorang agar tidak sekadar bekerja, tapi mengerjakannya dengan ketekunan, ikhlas, perencanaan matang, berkompeten (al-qawiy), berintegritas (al-amin), dan berdedi-kasi tinggi (muru'ah). Profesionalitas yang demikian terbangun melalui proses yang panjang, bukan instan bak "membalikan telapak tangan".
Sikap profesionalitas perlu didukung oleh pengetahuan mumpuni, keterampilan (skill), jam terbang yang tinggi (deliberate practice), sikap(attitude), kematangan emosi, etika, dan tanggungjawab melalui berbagai pengalaman yang dihadapi.
Keempat, Koki yang bodoh akan terlihat nyata atau ketidakmampuan yang selama ini disembunyikan. Tampil sebatas "asal bos senang" (ABS) dengan menyanggupi semua perintah si bos. Padahal, ia melaku-kan amanah tanpa kemampuan. Untuk itu, Rasulullah ﷺ telah mengingatkan : "Apa-bila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancur-annya (kiamat)" (HR. Bukhari).
Meski hadis di atas begitu jelas, tapi acap-kali manusia justeru menafikannya. Kata kompetensi sebatas teori yang dikalahkan oleh kepentingan dan ambisi yang menggunung. Akibatnya, kehancuran bagaikan virus akut yang menghancurkan sendi peradaban. Bahaya sifat serakah telah diingatkan Rasulullah ﷺ melalui sabdanya : "Seandainya anak Adam memiliki satu lembah dari emas, tentu ia ingin memiliki dua lembah emas. Dan tidak akan ada yang bisa memenuhi mulutnya (membuat-nya puas) kecuali tanah (kematian), dan Allah menerima taubat bagi siapa saja yang bertaubat" (HR. Bukhari dan Muslim).
Peringatan Rasulullah di atas seyogyanya menyadarkan agar bijaksana, bukan melanggengkan "pijak sini sana" yang ber-muara kezaliman pada sesama. Ketika nafsu mendominasi, kepuasan tak bertepi.
Kelima, Konsumen yang cerdas akan mengedepankan kualitas dan "rasa". Masakan lezat diminati meski harga mahal. Sedangkan masakan yang serampangan tak ada yang mau membeli meski harga murah (murahan). Namun, bagi konsumen yang jahil dan zalim, produk masakan hanya dilihat pada siapa sosok yang memasak atau pemilik tanpa peduli rasa dan "kebersihan". Lebih mengedepankan tampilan, brand, dan pramusaji, bukan kualitas masakan. Meski masakan hambar, kotor dan penuh "penyakit" akan dipuji setinggi langit. Padahal, menu yang dihidangkan tak memberi manfaat. Cara pandang yang demikian menunjukan kualitas diri konsumen. Padahal, Rasulullah ﷺ telah mengingatkan : "Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal perbuatan kalian" (HR. Muslim).
Hadis di atas seyogyanya menjadi rujukan utama menilai kualitas batin (keikhlasan, kejujuran) jauh lebih berharga daripada status lahiriyah yang penuh kebohongan dan tipu daya. Manusia di bumi bisa ditipu dengan tampilan dan untaian kata dusta yang diucapkan. Tapi, Allah dan Rasul-Nya tak pernah silau oleh tampilan kemunafikan yang dipertontonkan. Pada waktunya, semua aib akan dibuka sebagai i'tibar bagi manusia yang berakal (ulul albab). Hanya saja, meski kebanyakan manusia berakal, tapi acapkali lupa berfikir. Terdinding oleh nafsu dan dosa yang dilakukan. Hal ini telah diingatkan Allah melalui firman-Nya : "Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci rapat pendengaran dan hatinya serta meletakkan penutup atas penglihat-annya ?" (QS. al-Jatsiyah : 23).
Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas menjelaskan tentang bahaya memperturutkan hawa nafsu yang menggiring perbuatan tercela. Mereka yang menjadikan nafsu sebagai 'tuhan'. Akibatnya, Allah akan menyesatkan, mengunci mati hati, dan pendengarannya sehingga tertutup dari hidayah-Nya. Mereka akan melakukan apa yang diinginkan tanpa peduli apakah hal tersebut akan dimurkai (fujur) atau diridhai (taqwa) oleh Allah dan Rasul-Nya. Sebab, semua bentuk perbuatan yang hanya berdasarkan apa yang indah dipandang dan nikmat oleh nafsu duniawi. Akibatnya, hadir anggun kesombongan, kezaliman, keserakahan, kelicikan, kemunafikan, dan varian sifat nista (tercela) lainnya. Mereka selalu dibela oleh manusia yang berwatak serupa. Mereka lupa bila waktunya, Allah akan buka semua kemunafikan, kerakusan, dan kelicikan yang disembunyikan. Sebab, Allah dan Rasul-Nya tak pernah mengingkari atas semua janji-Nya (QS. Ali Imran : 9), pasti. Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***
Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis
Sumber: jawapos.com
