MENJAGA SUNGAI, MENJAGA HUTAN: SEBUAH REFLEKSI DI TAHUN HUJAN
Oleh Fileski Walidha Tanjung
PERTEMUAN saya dengan seorang tokoh lingkungan beberapa waktu lalu meninggalkan sesuatu yang jauh lebih kuat daripada sekadar percakapan—ia meninggalkan gema. Bukan sekadar gema kata-katanya, tetapi gema dari kemungkinan masa depan yang sedang retak di bawah kaki kita. Sebagai guru dan penulis, kegelisahan saya terhadap kerusakan alam bukan lahir semalam; ia tumbuh dari tahun ke tahun, seperti riak kecil yang membesar menjadi gelombang. Dan kini, ketika banjir bandang membawa gelondongan kayu hutan ke kota-kota di Sumatera, riak itu berubah menjadi amukan yang tak lagi bisa disangkal. Saya tidak sekadar mencatat bencana itu sebagai berita; saya merasakannya sebagai isyarat keras: sungai-sungai sedang tersesat, tanggul-tanggul sedang lelah, dan rumah-rumah sedang terusir dari tanah yang mestinya melindungi mereka.
Ketika Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya di Hari Guru Nasional mengajak para pendidik memasukkan pendidikan lingkungan ke dalam silabus, saya merasakan sesuatu yang selama ini kita perjuangkan akhirnya menemukan ruang legitimasi. Namun ajakan itu—setulus apa pun—tidak boleh berhenti sebagai seruan seremonial. Kesadaran ekologis tidak dapat lahir dari materi yang sekadar menempel di halaman buku ajar; ia harus mengguncang, membentuk ulang cara berpikir, bahkan jika perlu, menggugat kenyamanan dan kebiasaan kita sendiri. Esai ini saya tulis untuk menata ulang kegelisahan menjadi tawaran perspektif baru—sebuah upaya kecil menyusun makna dari kehancuran yang sedang kita saksikan.
Dalam puisi-puisi saya sepanjang awal 2025, sungai, tanggul, rumah, banjir, dan lumpur menjadi narator yang bergantian berbicara. Banyak yang mengira saya menulis metafora; padahal saya hanya menerjemahkan jeritan yang sudah lama menggantung di udara. Sungai mengaku tersesat karena lorong-lorong beton telah mencuri ruangnya. Tanggul memanggul kelelahan karena manusia yang ia lindungi justru menggerogoti kekuatannya. Rumah menjadi kapal yang tercerabut dari tanah karena sungai mengambil kembali jalurnya. Bahkan lumpur menyanyikan elegi bagi akarnya yang dicabut.
Dari suara-suara itu saya memahami bahwa bencana ekologis bukan hanya fenomena alam, tetapi juga fenomena moral. Kita berhadapan dengan konsekuensi dari pilihan manusia yang pendek akal dan rakus waktu. Filsuf Jerman Martin Heidegger pernah mengatakan bahwa manusia modern cenderung memperlakukan alam sebagai sekadar stok sumber daya—sesuatu yang bisa dieksploitasi tanpa batas. “Di tangan manusia modern, alam tidak lagi dilihat sebagai penyingkap makna, tetapi hanya sebagai benda yang dapat dikuasai.” Ketika hutan ditebang tanpa empati, sungai disempitkan tanpa nurani, dan tanah ditindih beton tanpa ruang bernapas, kita sedang membangun dunia yang mempercepat kesengsaraan kita sendiri.
Kerusakan lingkungan bukan sekadar persoalan teknis yang dapat diselesaikan dengan regulasi atau proyek tanggul baru. Ia adalah persoalan cara pandang. Kita membangun sistem yang melihat pohon hanya sebagai kayu, bukan penyimpan air. Kita melihat sungai hanya sebagai saluran, bukan organisme hidup yang membutuhkan ruang. Kita melihat tanah hanya sebagai lahan, bukan ibu yang menopang kehidupan. Perspektif seperti ini bukan hanya keliru, tetapi juga berbahaya.
Dalam perspektif alternatif yang saya tawarkan, kita perlu melihat bencana bukan sebagai musuh, tetapi sebagai pesan. Banjir bukan sekadar air yang meluap; ia adalah narasi yang memanggil kita untuk mengingat kembali hubungan yang telah lama kita putuskan. Sungai tidak menyerang kota; kota yang menyerobot jalur sungai. Ini bahasa alam yang mungkin terasa brutal, tetapi sesungguhnya jujur. Seperti yang pernah ditulis filsuf Brasil Leonardo Boff, “Bumi tidak membutuhkan kita. Kitalah yang membutuhkan bumi, dan kita adalah spesies yang paling rentan jika hubungan itu rusak.” Kutipan itu dapat dimaknai ulang: manusia bukan penguasa bumi, tetapi bagian dari jaringan kehidupan yang saling bergantung—dan pemahaman ini harus menjadi fondasi cara pikir baru.
Presiden Prabowo meminta guru memasukkan pendidikan lingkungan ke dalam silabus. Tetapi sebagai guru, saya merasa tugas kita lebih besar dari itu. Kita tidak hanya mengajarkan fakta tentang pemanasan global; kita harus mendidik rasa gentar, rasa hormat, dan rasa tanggung jawab. Pendidikan lingkungan tidak seharusnya hanya mengisi kepala, tetapi juga membentuk sikap batin. Ia harus melatih siswa untuk melihat pohon bukan sekadar objek, tetapi makhluk yang memiliki fungsi ekologis dan spiritual. Ia harus menyadarkan bahwa sungai yang kotor bukan hanya persoalan sampah, tetapi persoalan keadilan. Ia harus menyalakan pemahaman bahwa menjaga lingkungan bukan tren global, tetapi etika hidup.
Apa yang saya saksikan dalam bencana di Sumatera membuat saya memahami bahwa kita sedang menghadapi krisis imajinasi. Kita tidak lagi mampu membayangkan masa depan yang lebih baik karena pola pikir kita terjebak dalam struktur lama. Namun di sinilah peran sastra, pendidikan, dan refleksi kritis menjadi sangat relevan. Puisi dapat berbicara dengan suara sungai yang lelah. Esai dapat membuka ruang pemikiran baru. Pendidikan dapat membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berani bertanggung jawab.
Pidato presiden adalah pengingat. Banjir adalah alarm. Tetapi perubahan sejati hanya terjadi ketika kita mau mengakui bahwa penyebab utama bencana ada pada cara pikir kita sendiri. Kita harus berani bertanya: jalan pulang seperti apa yang ingin kita pilih?
Ketika sungai meminta jalan pulang, apakah kita bersedia memindahkan pagar rumah kita? Ketika hutan meminta ruang bernapas, apakah kita rela membatasi ambisi ekonomi yang berlebihan? Ketika tanah meratap kehilangan akarnya, apakah kita mau memperbaiki kebijakan yang menghancurkannya? Ataukah kita akan menunggu hingga suara-suara itu kembali bukan sebagai peringatan, tetapi sebagai vonis?
Pada akhirnya, esai ini saya tutup dengan pertanyaan yang tidak hanya saya ajukan kepada pembaca, tetapi juga kepada diri saya sebagai penulis, pendidik, dan warga bumi: jika alam adalah cermin diri kita, apa yang sedang ia coba ceritakan sekarang? Dan bersediakah kita mendengarnya sepenuh hati? (*)
*Fileski Walidha Tanjung adalah penulis, pendidik, dan penyair kelahiran Madiun, Indonesia, 1988. Aktif menulis esai, puisi, dan cerpen di berbagai media nasional.
(Artikel ini merupakan pendapat peribadi penulis semata-mata dan tidak mewakili BebasNews.)
Sumber: bebasnews.my
