"TAFSIR PINOKIO"

OlehSamsul Nizar  

TEMA "tafsir Pinokio" diangkat sebagai bentuk kegelisahan penulis atas "tafsir rimba" di arena hukum dan agama yang dilakukan oleh segelintir oknum tanpa kompetensi dan malu, penuh kepentingan, dan kelicikan tersembunyi. Tema ini berseberangan dengan pendekatan tafsir bi ilmi  yangmelihat Al-Qur'an, hadis, dan fenomena alam sebagai ayat-Nya (tanda kekuasaan Allah). Bagi hamba ulil albab, semua fenomena merupakan ayat-Nya yang wajib direnungkan untuk meningkat-kan keimanan dan bukti kebesaran-Nya.

Tafsir ayat qauliyah dan kauniyah menam-pilkan semua fenomena sebagai "pesan-Nya". Bukan sekadar tulisan dan peristiwa fisik, tapi peringatan dan rahmat-Nya. Hal ini sesuai firman-Nya : "(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka" (QS. Ali Imran : 191).

Kajian tafsir bi ilmi dilakukan secara terukur sesuai nilai-nilai ilmiah. Sedangkan "tafsir Pinokio" menafsirkan produk hukum sesuai "keinginan" dan melanggar asas keadilan. Akibatnya, penafsiran tak  ber-jalan tegak lurus dengan perilaku dan ke-benaran. Anehnya, pelaku "tafsir Pinokio" justeru begitu leluasa menafsirkan produk hukum, dasar, dan rujukan yang mengikat.

Ada beberapa bentuk "tafsir Pinokio" seba-gai produk olah akal sehat dan sesat, yaitu :

Pertama, Tafsir kebenaran (akal sehat) ; dilakukan intelektual yang memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk menemukan kebenaran, baik ilmu dan moral. Seorang mufasir hakiki secara hati-hati menafsirkan ayat-Nya dengan menggunakan metodologi keilmuan mendalam untuk menginterpretasi maksud ayat-ayat-Nya.

Selain ilmu alat (bahasa arab) dan varian-nya. Seorang mufassir harus memenuhi syarat yang ketat, antara lain : (1) syarat kepribadian ; akidah yang benar, akhlak terpuji, dan niat yang ikhlas. (2) syarat keilmuan ; menguasai cabang 'ulumul Qur'an, ushul fiqh, dan hadis.

Dalam menafsirkan ayat-ayat-Nya, seorang mufassir hakiki menggunakan beberapa macam metode, antara lain : tafsir tahlili (analitik), tafsir maudhu'i (tematik), tafsir muqarran (komparatif), atau tafsir ijmali (global). Sementara mufassir kontemporer mengembangkannya dengan beberapa  pendekatan, antara lain : hermeneutika, strukturalisme, semantik,  sejarah, dan sosiologis. Sedangkan bila dilihat pada aspek sumber, mufassir membaginya pada 3 (tiga) jenis, yaitu tafsir  bi al-ma'tsur,  tafsir bi al-Ra'yi, dan tafsirisyari.

Dalam ajaran Islam, upaya menafsirkan ayat-ayat-Nya merupakan kewajiban untuk memahami pesan-pasan Ilahi. Hal ini me-rujuk QS. Shad : 29 (perintah merenungkan ayat-Nya), QS. an-Nahl : 44 (perintah menjelaskan ayat-Nya), QS. al-'Alaq : 1-5 (perintah membaca ayat-Nya), dan hadis Rasulullah yang menjelaskan keutama-an belajar dan mengajarkan al-Qur'an. Untuk itu, seorang mufassir wajib merujuk pada ilmu yang luas (benar) agar makna yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan. Bila tafsir produk hukum dan al-Quran dilakukan penuh kepentingan, maka celaka bagi diri dan peradaban. Hal ini merujuk sabda Rasulullah  : "Barang siapa yang berkata atau menafsirkan al-Qur'an tanpa ilmu (ilmu alat), maka dipersiapkan baginya tempat duduk dari api neraka" (HR. at-Tirmidzi).

Demikian jelas sabda Rasulullah. Kehati-hatian menafsirkan hukum begitu penting

Konsistensi atas kebenaran yang diyakini harus berkorelasi dengan seluruh sikap dan perilaku nyata, tanpa pandang bulu.

Kedua, Tafsir kebingungan (majnun) ;  dilakukan oleh sosok yang mengaku intelektual, tapi tak menguasai syarat sebagai mufassir. Penafsiran atas al-Quran hanya mengandalkan akal (logika) sesuai kepentingan semata. Menafsirkan cara ini merupakan perilaku haram dan tercela. Hal ini diingatkan Rasulullah  : "Barang siapa yang berkata tentang al-Qur'an dengan logikanya (semata), maka silakan ia mengambil tempat duduknya di neraka" (HR. at-Tirmidzi).

Melalui hadis di atas, Rasulullah  meng-ingatkan ancaman neraka bagi manusia yang lancang, terburu-buru, atau memaksakan pendapat pribadi atau golongan atas hukum yang jelas, apalagi terhadap ayat-ayat Allah. Namun, manusia acapkali tak memperdulikan dan mempermainkannya.

Ketiga, Tafsir kepentingan (jahiliyah) ; dilakukan kaum intelektual yang menerima "pesanan" untuk menafsirkan produk hukum (positif atau agama) sesuai tujuan (kepentingan) tertentu. Pelakunya tentu manusia yang sangat mengerti hukum dan agama. Baginya, benar dan salah bisa  direkayasa bila ada kepentingan dan "janji posisi". Meski kesalahan begitu nyata, tapi ditafsirkan sebagai perilaku yang dibenarkan. Sebaliknya, meski begitu terang kebenaran, tapi disulap dengan tafsir jahiliyah agar menjadi atau dijadikan dan patut untuk disalahkan.

Dalam Islam, menafsirkan ayat al-Qur'an (hukum) secara sembarangan, terutama untuk kepentingan pribadi, golongan, atau hawa nafsu merupakan perbuatan yang nista dan tercela. Hal ini diingatkan dalam firman-Nya :"Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (yang diambil dari) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat..." (QS. Ali Imran : 77).

Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas menjelaskan ancaman Allah yang begitu keras terhadap orang yang menukar janji (iman) dengan sumpah palsu demi keuntungan duniawi yang sedikit. Manusia yang demi-kian tidak akan mendapat bagian pahala, tidak disapa, tidak dilihat, dan tidak pernah dimuliakan-Nya. Mereka akan mendapat azab yang sangat pedih.

Meski ayat-Nya begitu jelas dan dipahami, tapi fenomena menafsirkan hukum sesuai kepentingan acapkali terjadi di depan mata konstitusi dan ayat suci. Namun, produk konstitusi memiliki ruang "longgar" yang seakan sengaja diciptakan agar terjadi "transaksi tafsir Pinokio". Sementara produk ayat suci ditafsirkan sekehendak hati tanpa takut murka Ilahi. Seakan hidup abadi tanpa takut janji-Nya setelah mati. Padahal, begitu banyak kisah dalam al-Quran. Mulai kisah Qabil dan Habil, bani Sadun (kaum Sodom), Namrudz dan Fir'aun (penguasa zalim), Haman (intelek-tual penjilat), Qorun (penimbun harta), sampai Abu Lahab dan Abu Jahal. Semua lihai memutarbalikkan kebenaran dan kesalahan sesuai yang diinginkan. Mereka menggunakan "tafsir majnun dan jahiliyah" untuk memuaskan keinginan dengan membenarkan semua kesalahannya.

Dari fakta sejarah, fenomena "penafsiran majnun dan jahiliyah" selalu hadir setiap generasi. Bedanya hanya terletak pada subjek, cara, waktu, dan objek penafsiran. Tapi secara substansi, semua sama pada tujuan dan dampak yang ditimbulkan. Padahal, Allah SWT menjelaskan sejarah umat terdahulu yang dimuat dalam al-Qur'an bukan sekedar cerita, melainkan pelajaran (ibrah) bagi setiap manusia. Hal ini dijelaskan melalui firman-Nya : “Sesung-guhnya pada kisah-kisah mereka itu ter-dapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi mem-benarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, serta sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (QS. Yusuf : 111).

Seyogyanya, manusia yang berakal bisa memetik pelajaran, bukan sekedar label berilmu tapi berperilaku layaknya kaum jahiliyah. Membangun, menafsirkan, dan menetapkan hukum (aturan) sesuai keinginan. Hukum bak "pisau bermata tunggal". Begitu tajam ke bawah, tapi tumpul ke atas. Aturan dipersendaguraukan pemilik kuasa, tapi jadi rujukan yang wajib dipedomani bagi "si jelata".

"Tafsir Pinokio" di atas telah diingatkan melalui pepatah leluhur,  "tiba di mata dipicingkan, tiba di perut dikempeskan, tiba di dada dibusungkan". Pepatah yang mengingatkan sosok manusia yang menjadikan hukum dan aturan sesuai tafsir kepentingan. Bila pelaku kesalahan memiliki status, mata kebenaran ditutup agar tak terlihat. Bila pelaku pelanggaran "seputar perut", hukum "dikempeskan" agar tak tersentuh. Bila hukum bisa menaikan validasi diri, dada dibusungkan merasa paling mumpuni. Saatnya untuk menyatu-kan langkah di bawah cita-cita kemerdekaan, bukan melanggengkan kezaliman deng-an menginjak kebenaran dan keadilan. Tak ada kezaliman yang sempurna. Pada saat-nya, Allah akan buka semua aibnya.

Sebab, keculasan penegakan hukum (positif dan agama) adalah pengkhianatan dan musuh bersama. Meski "tafsir pinokio" bisa membungkam mulut yang takut, tapi tak bisa mengubur kebenaran. Ketika waktunya tiba, penista akan tertunduk atas kezaliman yang dilakukan. Hal ini sesuai firman-Nya : "Semua wajah tertunduk dihadapan (Allah) Yang Maha Hidup lagi Maha Mengurus. Sungguh rugi orang yang membawa kezaliman" (QS Thaha :111).

Bila hamba yang terzalimi mengapungkan munajatnya, maka langit akan bergetar mendengar rintihan hamba-Nya. Hal ini diingatkan oleh Rasulullah  melalui sabdanya : "Takutlah kamu terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah" (HR. Bukhari dan Muslim).

Bila munajat hamba terzalimi menembus langit dan dikabulkan-Nya, maka tak guna penyesalan dan kemaafan. Kadang,dam-paknya justeru menimpa mereka yang tak berbuat, tapi menikmati hasil "kesepakat-an nista". Mereka adalah keluarga inti dan kolega si pelaku yang menikmati hasil ke-jahatan yang "dibudidayakan" (dibiarkan).

Sungguh, "tafsir Pinokio" penuh muslihat. Andai setiap pelaku "tafsir Pinokio" berdampak hidungnya panjang, maka akan terlihat hidung memanjang penuh sesak di semua lini. Pilihan bijak akan menjaga keadilan. Sedangkan pilihan "memijak" akan melanggengkan kezaliman. Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***

Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis

Sumber: jawapos.com

  1. Comments (0)

  2. Add yours
There are no comments posted here yet

Leave your comments

  1. Posting comment as a guest. Sign up or login to your account.
Attachments (0 / 3)
Share Your Location

title 01

  • 2 Silaturrahim
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 1.0
  • 2.0
  • 3.0
  • 4.0
  • 5.0
  • 6.0

Subscribe

Dhomir TV


vid

Facebook

Dhomir


Baca topik

Terkini


Aktiviti

Dhomir


IMG-20220429-WA0022
IMG-20220429-WA0013
IMG-20220429-WA0014
IMG-20220429-WA0015
IMG-20220429-WA0016
IMG-20220429-WA0017
IMG-20220429-WA0018
IMG-20220429-WA0019
IMG-20220429-WA0020
IMG-20220429-WA0021
IMG-20220429-WA0010
IMG-20220429-WA0023
IMG-20220429-WA0024
IMG-20220429-WA0012
IMG-20220429-WA0011
IMG 20210602 085142
IMG 20210605 174636
IMG 20210605 181937
IMG 20210606 104939
IMG 20210606 105238
IMG 20210606 105529
IMG 20210606 111355
IMG 20210606 112729
IMG 20210607 084409
IMG 20210607 084823
IMG 20210608 101105
IMG 20210608 102528
IMG 20210608 110816
IMG 20210608 111235
IMG 20210612 185158
IMG 20210612 190017
IMG 20210626 123909
IMG 20210720 094416
IMG 20210720 095549
IMG-20200609-WA0026
IMG-20210211-WA0019
IMG-20210504-WA0042
IMG-20210605-WA0028
IMG-20210605-WA0030
IMG-20210605-WA0032
IMG-20210605-WA0033
IMG-20210610-WA0040
IMG-20210719-WA0028
IMG-20210719-WA0031
TEMPAT NYAMAN TAMAN BACAAN MASA DEPAN ANDA-JOM KITA MENULIS!!! dhomir.com ingin mengajak dan memberi ruang kepada para penulis khususnya penulisan yang berkaitan dgn agama Islam secara mendalam dan sistematik.Jika anda ingin mencurahkan isi hati mahupun pandangan secara peribadi dhomir.com adalah tempat yang paling sesuai utk melontarkan idea. Dengan platform yang sederhana, siapa sahaja boleh menulis, memberi respon berkaitan isu-isu semasa dan berinteraksi secara mudah.Anda boleh terus menghantar sebarang artikel kepada alamat email:dhomir2021@gmail.com.Sebarang pertanyaan berkaitan perkara diatas boleh di hubungi no tel-019-3222177-Editor dhomir. com