KISAH PENJUAL KEADILAN

Oleh : Samsul Nizar  

Pada suatu hari, di tengah keramaian kota Baghdad, tampil seorang laki-laki gagah, berpenampilan mewah, menepuk dada dengan pongah sembari berteriak nyaring "wahai seluruh penduduk Baghdad, datanglah kemari. Aku menjual keadilan. Siapa yang mau beli keadilan dan menang di pengadilan ?. Silahkan datang padaku dan pasti semua akan mendapatkan keadilan dan kemenangan".

Teriakan jualan aneh tersebut membuat semua orang datang berkumpul. Ada yang tak percaya, tapi tak sedikit yang percaya dan ingin membeli keadilan. Bagi yang mau membeli keadilan, si penjual kebenaran akan memberikan selembar kertas jaminan yang bertuliskan "surat keadilan dijamin menang". Berita ini begitu cepat tersebar ke seluruh penjuru negeri Baghdad, bahkan ke telinga khalifah.

Mendengar berita aneh si penjual keadilan, khalifah Harun ar-Rasyid murka. Khalifah memerintahkan pengawal untuk menangkap si penjual keadilan yang telah membuat kegaduhan di negerinya. Namun, sebelum pengawal menangkap, perdana menteri menyampaikan usul, "wahai khalifah, masalah ini bukan persoalan ringan. Sebaiknya khalifah berkenan memanggil Abu Nawas untuk menyelidiki dan menyelesaikan masalah ini".

Khalifah setuju dengan usul perdana menteri. Lalu, khalifah memanggil Abu Nawas agar datang ke istana. Khalifah menjelaskan persoalan yang terjadi seraya berkata, "Abu Nawas, apa pantas seseorang menjual keadilan seperti menjual barang di pasar?". Abu Nawas menunduk ta'zim dan berkata, "wahai tuanku, jual beli keadilan memang banyak terjadi di negeri Baghdad. Jadi, sebaiknya jangan tuanku terburu-buru menangkap dan menghukumnya. Berikan hamba waktu untuk menyelidikinya". Khalifah terkejut mendengar penjelasan Abu Nawas dan setuju dengan usulnya. 

Dengan bijaksana, Abu Nawas berangkat ke alun-alun kota Baghdad untuk menyelidiki persoalan yang terjadi dan menemui si "penjual keadilan". Setibanya di alun-alun kota Baghdad, Abu Nawas menemukan si penjual keadilan yang sedang berteriak "siapa yang ingin keadilan, beli dengan ku dijamin menang".

Mendengar demikian, Abu Nawas mendekat dan berkata, "wahai tuan penjual keadilan, berapa harga keadilan yang kau jual ?". Si penjual keadilan berkata dengan lantang, "keadilan untuk persoalan kecil harganya 10 dirham dan persoalan besar harganya 100 dirham". 

Abu Nawas mengangguk-angguk sambil tersenyum nakal mendengar penjelasan si penjual keadilan seraya berkata, "kalau begitu, aku beli persoalan besar. Tapi dengan syarat keadilannya harus terbukti sekarang juga". Si penjual tersenyum licik dan berkata, "tentu saja bisa". Lalu, Abu Nawas berkata, "aku mau beli keadilan. Aku menuduhmu menipu rakyat dengan menjual keadilan demi meraih keuntungan materi.

Jika kau benar penjual kebenaran sejati, maka kau harus memenangkan tuduhan-ku". Semua yang mendengar terdiam dan si penjual keadilan tertunduk takut dan berkata terbata-bata. Abu Nawas melanjutkan, "wahai penduduk Baghdad, lihatlah bukti bahwa keadilan tak bisa dijual. Jika keadilan bisa diperjualbelikan, maka si penjual akan lebih dulu membeli untuk dirinya sendiri". Semua orang tertegun dan tertawa. Si penipu penjual keadilan ter-tunduk malu. Ia ditangkap untuk diadili karena berani memperjualbelikan keadilan.

Melihat kebijaksanaan Abu Nawas menyelesaikan persoalan tanpa kekerasan, khalifah bertanya, "bagaimana engkau mengalahkannya tanpa menghukum ?". Abu Nawas menjawab, "tuanku, keadilan sejati tidak ditegakkan dengan pedang, jabatan, intervensi, negosiasi, dan tumpukan uang. Keadilan sejati ditegakkan dengan akal, hati, dan kebenaran (hukum dan agama). Jika menghukum tanpa akal, hati, dan kebenaran, maka sama saja dengan memperjual-belikan keadilan. Hal ini bisa terjadi disemua strata dan pribadi pemilik kuasa".

Kisah sederhana di atas mengandung pelajaran berharga dan "menampar" sisi kemanusiaan hakiki, antara lain :

Pertama, Berbagai kegaduhan dan kezaliman disebabkan adanya "transaksi" keadilan. Ketika pelaku kesalahan bisa dibenarkan dan penjaga kebenaran bisa disalahkan. Ketika hal ini terjadi, berarti "keadilan" bisa dikondisikan sesuai permintaan dan besaran transaksi yang disepakati. Anehnya, kisah sang penjual "keadilan" ala kisah Abu Nawas telah terjadi sepanjang sejarah. Bahkan, eksistensinya menjadi pilihan "profesi", ladang pundi, dan terpampang nyata di depan mata (rahasia umum). 

Dalam Islam, perilaku si penjual keadilan (memutuskan perkara tidak adil) merupa-kan dosa besar yang diancam dengan azab neraka. Hal ini diingatkan Allah me-lalui firman-Nya : "Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan dan saksi karena Allah, walaupun kesaksian itu memberatkan dirimu sendiri, ibu bapakmu, atau kerabatmu.

Jika dia (yang diberatkan dalam kesaksian) kaya atau miskin, Allah lebih layak tahu (kemash-lahatan) keduanya. Maka, janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang (dari kebenaran). Jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau berpaling (enggan menjadi saksi), sesungguh-nya Allah Mahateliti terhadap segala apa yang kamu kerjakan" (QS. an-Nisa' : 135).

Ibn Katsir menjelaskan bahwa ayat di atas merupakan perintah-Nya secara mutlak agar menegakkan keadilan dan memberikan kesaksian yang benar. Keadilan wajib ditegakkan tanpa pandang bulu, bahkan terhadap diri, orang tua, atau kerabat.

Bila keadilan "diperjualbelikan", ia beirisan dengan transaksi "pundi atau posisi" yang disepakati. Menjual keadilan merupakan perbuatan zalim dan pengkhianatan. Hal ini merupakan perbuatan yang dilaknat dan dibeci oleh Allah dan Rasul-Nya. Hal ini ditegaskan Rasulullah ﷺ dalam sabdanya : "Penyuap dan yang disuap keduanya kekal dalam neraka (HR. Abu Daud dan Tirmidzi). 

Hadis di atas menegaskan bahwa suap (risywah) adalah dosa besar. Perbuatan ini sangat dilarang karena merusak keadilan dan karakter generasi, terbangun kezaliman, merampas hak orang lain, serta mengundang laknat (murka) Allah SWT.

Kedua, Khalifah yang bijaksana mengutus sosok penjaga keadilan yang bijak untuk menegakan kebenaran. Sebaliknya, khalifah yang zalim mengutus sosok licik yang "pijak sana" untuk "menjaga" penjual keadilan. Bahkan, si utusan dan "mucikari keadilan" diharapkan bisa mengejar target agar tumpukan pundi yang diinginkan tercapai. Padahal, Allah telah mengingatkan dalam firman-Nya :"Wahai orang-orang yang beriman !. Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan" (QS. al-Maidah : 8).

Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas menegaskan agar keadilan ditegakkan secara jujur (objektif), tanpa rasa senang atau benci. Dengan sikap ini, keadilan dapat ditegakan.

Ketiga, Manusia yang memiliki akal, hati, iman, dan berpegang teguh pada kebenaran (hukum) akan menjaga tegaknya keadilan. Untuk itu, keadilan hadir bukan oleh gemerlap pakaian, tingginya jabatan, mewahnya gedung, dan banyaknya materi. Keadilan hadir pada manusia hakiki, bukan manusia imitasi. Ketika manusia telah rusak akal, hati, dan imannya, maka ia akan memperjualbelikan keadilan dan kebenaran sesuai keinginan. 

Dalam ajaran Islam, perilaku oknum yang memperjualbelikan kebenaran dan keadilan merupakan manusia yang kejam. Bila hasil haram dari "transaksi" dinikmati seluruh keluarga, maka musibah akan menimpa. Secara zahir terlihat nikmat, tapi hakikatnya butiran api neraka. Hal ini diingatkan oleh Rasulullah ﷺ : "Setiap daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram, maka neraka lebih layak untuknya" (HR. Tirmidzi).

Meski hadis di atas menjelaskan ancaman akibat perilaku haram, tapi dorongan nafsu duniawi lebih dominan mempengaruhi diri. Akibatnya, manusia justeru "digembala" oleh iblis agar bersama-sama di neraka. Anehnya, manusia justeru "bangga dan bahagia" bila berhasil mengumpulkan dan membesarkan zuriyatnya dengan "butiran api neraka". Sungguh keanehan yang nyata.

Terjaganya kebersihan diri akan bermanfaat bagi sekujur tubuh dan zuriyat yang terjaga dari unsur haram akan mampu membawa kebahagiaan hakiki. Sebaliknya, setiap unsur kotoran akan membawa penyakit bagi diri, zuriyat, dan tertutupnya doa. Tapi, manusia acapkali lebih memilih kotoran ketimbang kebersihan (suci). Pilihan yang bertentangan dengan fitrah-Nya (QS. ar-Ruum: 30). Sungguh begitu nyata pembangkangan terhadap ayat-Nya. Memang, manusia makhluk yang suka membangkang (QS. al-Kahfi : 54). Mungkin, di neraka kelak akan ada "biro jasa pembela" atau para penjilat ala di dunia. Atau keimanan atas hari pembalasan yang akan dipertanggungjawabkan di sisi Allah (QS. al-Zalzalah : 7-8) telah sirna. Jika demikian, teruskan perilaku ketidakadilan, kezaliman, dan kemunafikan di muka bumi sepuas-puasnya. Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***

Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis

Sumber: jawapos.com

  1. Comments (0)

  2. Add yours
There are no comments posted here yet

Leave your comments

  1. Posting comment as a guest. Sign up or login to your account.
Attachments (0 / 3)
Share Your Location

title 01

  • 2 Silaturrahim
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 1.0
  • 2.0
  • 3.0
  • 4.0
  • 5.0
  • 6.0

Subscribe

Dhomir TV


vid

Facebook

Dhomir


Baca topik

Terkini


Aktiviti

Dhomir


IMG-20220429-WA0022
IMG-20220429-WA0013
IMG-20220429-WA0014
IMG-20220429-WA0015
IMG-20220429-WA0016
IMG-20220429-WA0017
IMG-20220429-WA0018
IMG-20220429-WA0019
IMG-20220429-WA0020
IMG-20220429-WA0021
IMG-20220429-WA0010
IMG-20220429-WA0023
IMG-20220429-WA0024
IMG-20220429-WA0012
IMG-20220429-WA0011
IMG 20210602 085142
IMG 20210605 174636
IMG 20210605 181937
IMG 20210606 104939
IMG 20210606 105238
IMG 20210606 105529
IMG 20210606 111355
IMG 20210606 112729
IMG 20210607 084409
IMG 20210607 084823
IMG 20210608 101105
IMG 20210608 102528
IMG 20210608 110816
IMG 20210608 111235
IMG 20210612 185158
IMG 20210612 190017
IMG 20210626 123909
IMG 20210720 094416
IMG 20210720 095549
IMG-20200609-WA0026
IMG-20210211-WA0019
IMG-20210504-WA0042
IMG-20210605-WA0028
IMG-20210605-WA0030
IMG-20210605-WA0032
IMG-20210605-WA0033
IMG-20210610-WA0040
IMG-20210719-WA0028
IMG-20210719-WA0031
TEMPAT NYAMAN TAMAN BACAAN MASA DEPAN ANDA-JOM KITA MENULIS!!! dhomir.com ingin mengajak dan memberi ruang kepada para penulis khususnya penulisan yang berkaitan dgn agama Islam secara mendalam dan sistematik.Jika anda ingin mencurahkan isi hati mahupun pandangan secara peribadi dhomir.com adalah tempat yang paling sesuai utk melontarkan idea. Dengan platform yang sederhana, siapa sahaja boleh menulis, memberi respon berkaitan isu-isu semasa dan berinteraksi secara mudah.Anda boleh terus menghantar sebarang artikel kepada alamat email:dhomir2021@gmail.com.Sebarang pertanyaan berkaitan perkara diatas boleh di hubungi no tel-019-3222177-Editor dhomir. com