LEBIH DEKAT DARI URAT LEHER
Aku mencari tempat untuk bersembunyi,
di balik diam yang tak bersuara,
di antara pikiran yang tak terucap,
aku kira di sana… aku aman.
Aku menipu dunia dengan senyum,
menenangkan diri dengan alasan,
membungkus dosa dengan logika,
seolah tidak ada yang melihat.
Namun aku lupa—
yang paling dekat bukan tubuhku,
bukan napasku,
bukan detak yang kupuja setiap detik itu.
“Kami lebih dekat dari urat lehermu…”
Kalimat itu bukan sekadar ayat—
ia adalah cermin yang retak,
memantulkan wajahku tanpa topeng,
tanpa dusta, tanpa pembelaan.
Di sana—
niatku terbuka tanpa izin,
bisikan hatiku terdengar tanpa suara,
rahasia yang kusembunyikan…
ternyata tidak pernah benar-benar tersembunyi.
Aku baru sadar,
yang aku takuti selama ini adalah manusia,
padahal yang paling dekat adalah Allah.
Dan jika Dia sedekat itu—
mengapa aku masih berani lalai?
mengapa aku masih menunda pulang?
Hari ini aku berhenti bersembunyi,
karena tidak ada tempat yang benar-benar jauh.
Hari ini aku belajar jujur,
karena tidak ada yang bisa aku tipu.
Sebab yang paling dekat itu bukan uratku—
tetapi pengetahuan-Nya,
pengawasan-Nya,
dan kasih sayang-Nya yang tak pernah pergi.
————
“Kita tidak pernah benar-benar jauh dari Allah—
yang ada, kita terlalu sibuk menjauh dari kesadaran bahwa Dia selalu dekat.”
— Jasman Jaiman
JJ, Pbr, 19/03/2026
