MENANAMKAN KEYAKINAN AKAN PERTOLONGAN ALLAH
Kaum Yahudi akan terus membuat drama kehidupan tidak pernah berhenti. Drama kehidupan seperti kisah dua putra Nabi Ya’kub: rivalitas Nabi Yusuf dan Yahuda akan diputar ulang tentang permusuhan, penderitaan dan kehancuran. Seperti kisah kehancuran Libya, Irak, Yaman dan negara-negara Timur Tengah lainnya.
Tidak peduli, apakah mereka sama-sama masih satu etnis atau garis keturunan atau satu agama. Bahkan kepada para Nabi sendiri mereka terlalu percaya diri merendahkan derajat para Nabi-Nabi Allah-mulai dari Nabi-Nabi mereka hingga Nabi Muhammad SAW. Dengan tidak malu-malu, mereka mengklaim sebagai orang suci dan orang-orang yang paling pantas masuk surga. Allah swt menjelaskan dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 112 sebagai berikut:
بَلٰى مَنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهٗٓ اَجْرُهٗ عِنْدَ رَبِّهٖۖ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَࣖ ١١٢
Artinya:
Tidak demikian! Orang yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah serta berbuat ihsan, akan mendapat pahala di sisi Tuhannya, tidak ada rasa takut yang menimpa mereka, dan mereka pun tidak bersedih.
Ayat tersebut memberi penguat kepada Nabi Muhammad dan orang-orang yang mengikuti nya-kaum Muslimin- tentang ketidakbenaran klaim kaum yahudi. Mereka -Kaum Yahudi-adalah sumber kedustaan. Sumber kebenaran sejati sebenarnya berasal dari Allah SWT. Dia lah yang akan memasukan ke dalam surga yang kekal selamanya.
Faktanya kadang tidak berbanding lurus antara teori dan kenyataan hidup. Allah telah memberi garansi bahwa orang-orang yang beriman kepada-Nya akan mendapatkan kebahagiaan yang kekal abadi di Akherat nanti. Sudah begitu banyak ayat-ayat -Nya dan hadist-hadist Nabi Muhammad tentang janji-janji kemuliaan.
Kini kita melihat fakta dalam kehidupan, banyak orang-orang yang berilmu, terpelajar dan terpandang dalam kehidupan sosial. Sering mereka mengalami suatu kesedihan hingga kegoncangan batin yang sangat hebat akibat memikirkan keperluan hidup.
Fakta tersebut terekam dalam beragam kisah, peristiwa kehidupan yang sumrambah di media sosial dan media elektronika lainnya. Kejahatan bukan hanya dilakukan oleh orang-orang biasa. Tapi justru terkadang melibatkan kaum intelektual di berbagai institusi pemerintah, lembaga dan ormas-ormas.
Fakta tersebut sebenarnya juga bagian dari pengulangan sejarah masa lalu. Ketika saya membaca kisah kehidupan sahabat Nabi Musa bernama Qarun, maka saya menemukan betapa persoalan kehidupan terkadang mampu menggerus nilai-nilai moral, etika bahkan hingga pada persoalan keimanan.
Saya-dan mungkin anda- yang pada dirinya sebagai ahli ibadah, ilmu terasa lebih luas dibandingkan orang lain, lebih punya wawasan, masuk kelompok intelektual. Namun semua itu tidak menjadi jaminan diri agar terhindar dari persoalan degradasi keimanan dan moral ketika menghadapi suatu problema kehidupan.
Sebab manusia mempunyai pandangan berbeda-beda tentang inti suatu kebahagiaan. Kelompok pertama, ada yang konsisten bahwa kebahagiaan sejati adalah ketika dirinya dekat dengan Tuhannya dalam kondisi apapun-senang dan susah. Kelompok ini mempunyai imun yang kuat etika terjadi berbagai krisis pada persoalan kehidupan di dunia berupa kemiskinan, bencana dan berbagai ujian hidup.
Kelompok kedua, ada yang menginginkan kebahagiaan dunia dan akherat, namun ketika ditimbang-timbang lebih memberatkan pada kebahagiaan dunia. Saat terjadi ujian hidup yang beragam, muncul putus asa. Seolah-olah tidak mempunyai kekuatan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Ia pun hanyut dalam penderitaan batin yang berkepanjangan.
Allah telah mengajarkan pola hidup “وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَࣖ “-tidak takut dan sedih-akan janji-janji Allah. Kalimat tersebut terlalu sering diucapkan oleh kita, para ustadz di mimbar-mimbar suci dan para mubaligh di depan ribuan jama’ahnya.
Benarkah kita sudah menerapkan pola hidup demikian. Sebuah pertanyaan yang masih sulit untuk dijawab secara tepat.
Tentu saja, saya lagi-lagi belajar menyadari diri bahwa kadang dalam menjalani kehidupan ini penuh dengan kelucuan. Kita sudah tahu bahwa dulu kita tidak ada, lalu diadakan oleh Allah di dunia, lalu kita akan kembali kepada-Nya. Kita sudah tahu bahwa hidup di dunia itu singkat dan tempat ini sebatas untuk menanam ibadah dan amal sholeh.
Lagi-lagi pengetahuan ini tidak sampai menjadi kesadaran yang natural tentang pentingnya “melarutkan” keyakinan kehadiran Allah dalam kehidupan secara kaffah dalam seluruh kehidupan sehari-hari. Pada tataran ini, kita harus terus berlatih agar ada kesadaran total bahwa hidup benar-benar hanya dari Allah dan akan kembali kepada-Nya, dan seluruh aktivitas kita semata-mata hanya mencari ridha-Nya. Pola penanaman seperti ini bagian dari pembelajaran penting untuk memperbaiki keimanan dan amal sholeh -dalam aspek yang luas-semakin baik dan bermakna. Disisi lain, kita pun akan menemukan kebahagiaan batin dalam kondisi apapun dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis : Vijianfaiz, PhD
Sumber: imamghozali.id
