MISI MEMBURU LAILATUL QADAR BERMULA
Ketika Ramadan memasuki 10 malam terakhir umat Islam di seluruh dunia mencari dan memburu malam Lailatul Qadar. Yakni malam yang telah disebutkan dalam al-Qur’an lebih baik daripada seribu bulan, malam yang di dalamnya para malaikat turun dengan membawa kedamaian dan kesalamatan
Lailatul Qadar adalah satu malam yang amat agung, kerana ia telah dipilih Allah SWT sebagai malam permulaan Nuzul Quran. Ia permulaan melimpahkan cahaya agama Allah SWT ke seluruh alam di samping limpahan kesejahteraan dan kedamaian yang memancar daripada hidayat Allah (al-Quran) ke atas hati dan kehidupan manusia.
Jika kita renungkan kembali sejak berabad lalu peristiwa Lailatul Qadar yang mulia itu dan kita gambarkan kembali temasya indah yang telah disaksikan oleh bumi pada malam itu, di samping kita memerhatikan pula apa yang sebenar berlaku pada malam itu dan meneliti kesan-kesannya kepada dunia dan kefahaman hati dan akal manusia tentulah kita dapati bahawa malam Lailatul Qadar sebenarnya suatu malam yang sungguh agung.
Malam itu nyata adanya walau akan terus menjadi rahasia sepanjang keberadaan dunia itu sendiri. Hanya saja tidak semua penduduk bumi yang muslim akan mendapatkan ketetapan terkait malam itu.
Tetap saja akan menjadi misteri, dimana hamba yang terpilih saja akan mendapatkannya. Walau kita tidak akan pernah tahu siapa sosok penerimanya. Atau bahkan ketika kita mendapatkannya, justru tidak mengenali keberadaanya.
Bukhari dan muslim mengemukakan riwayat Aisyah bahwa baginda nabi senantiasa mencari malam itu pada sepuluh malam terakhir dengan aktiviti iktikaf.
Sementara itu, Ibnu Umar menegaskan bahwa jangan sampai melewatkan tujuh malam terakhir. Jikalau saja dalam malam-malam sebelumnya sudah berikhtiar untuk menperolehinya, namun tetap belum diraih ada kesempatan tujuh malam terakhir .
Di antara sekian banyak pendapat, yang paling kuat ialah: malam Lailatul Qadar turun pada malam yang dirahasiakan di antara sepertiga akhir bulan Ramadan, yang juga diperkuat hadis Nabi Muhammad: “Iltamisū Lailatal Qadri fi al-‘Asyr al-Awākhir min Syahr Ramadhān” (carilah malam Lailatul Qadar itu dalam sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan).
Mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Berdialog secara personal. Tidak saja dalam doa, juga wujud dalam tadarrus, berdiam diri (iktikaf), dan qiyamulail.
Dari semua pendapat yang ada, semuanya adalah hasil ijtihad para ulama, karena al-Qur’an sendiri tidak secara nash menggariskan kapan turunnya malam Lailatul Qadar. Tentunya ada hikmah di balik kerahasiaan ini, yakni agar umat Islam mencarinya selama kurun waktu sepertiga akhir bulan Ramadan, dan tidak memilih-milih malam tertentu untuk menghadap kepada Allah.
Dalam satu hadis, Aisyah r.a. berkata Rasulllah SAW bersabda: Ya Rasullullah, bagaimana kalau saya bertemu lailatulqadr? Apa yang harus saya ucapkan pada malam itu? Jawab Nabi Muhammad SAW: Ucapkanlah, Ya Allah kami bermohon kepada-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, suka mengampuni (hamba-hamba-Mu), maka ampunilah (dosa-dosa) kami.” (Riwayat Tarmizi, Nasai, Ibu Majah dan Ahmad).
Al Ghazali menyatakan bahwa dibalik rahasia-rahasia Allah itu merupakan nikmat yang patut disyukuri. Karena dengan ketidak-tahuan kita akan kepastian hal-hal tersebut justru memberikan motivasi lebih untuk beribadah di sepanjang hidup kita.
Juga menekankan aspek “usaha” yang sungguh-sungguh dalam mencarinya, serta pengharapan penuh terhadap balasan dari malam Lailatul Qadar (Imānan wa Ihtisāban). Di antara umat-umat Nabi terdahulu, hanyalah umat Nabi Muhammad yang mendapatkan keistimewaan malam Lailatul Qadar ini, yaitu beribadah satu malam lebih baik pahalanya dibandingkan seribu bulan, atau setara dengan 83 tahun.
Hal ini kerana, rentang usia yang dimiliki oleh umat Nabi Muhammad relatif lebih pendek dibandingkan umat-umat Nabi sebelumnya yang dapat mencapai ratusan tahun. Sehingga Allah memberikan keistimewaan malam Lailatul Qadar untuk kita (umat Muhammad) agar kita dapat menyamai ibadah umat-umat sebelum kita, meskipun dengan selisih usia yang jauh berbeda.
Malam laylatul qadar ditandai dengan cuaca yang tidak terlalu dingin, tidak pula terlalu panas, pagi harinya matahari berwarna keputihan tanpa banyak sinar. Jika tanda-tanda ini kita temui dan kebetulan tidak menemui malamnya dalam ibadah i’tikaf, dzikir atau bacaan alquran, maka kesempatan untuk beribadah di hari itupun masih mendapatkan keistimewaan dibanding hari lainnya, seperti keterangan dari Al Khatib as Syirbini.(Tuhfat al Habib al Gharib, 1996:3/162)
Kebanyakannya kita tidak menyedari bahawa sesungguhnya kita tidak layak mendapatkan anugerah Lailatulqadar. Ini kerana dalam diri kita sendiri ada berbagai-bagai 'penyakit' spiritual yang akan menjadi tabir dan penghalang kepada kita daripada menerima keberkatan dan kemuliaan Lailatulqadar. Sebagai satu peristiwa abstrak yang tidak dapat digambarkan secara definitif, Lailatulqadar menjadi sempadan kepada umat Islam dalam mengukur tingkat kesolehan dan ketaatan manusia terhadap Tuhannya.
Bila seseorang itu memperoleh kesedaran spiritual, seluruh sikap dan perspektif yang menentukan prinsip hidupnya akan bertukar. Jiwa amarahnya bertukar kepada ketenangan dan setiap musibah diterimanya dengan lapang dada, hikmah dan petunjuk bahawa masih belum sampai tahap kesempurnaan dalam hidup sebagaimana dikehendaki oleh Allah SWT.
Bagi pencinta tuhan yang mencintaiNya dengan penuh keikhlasan tidak penting bila Lailatul Qadar itu turun. Yang penting baginya adalah menunjukkan kerinduannya kepada kekasihnya secara sungguh-sungguh.
Jika kita ingin mendapatkan lailatulqadar, kita seharusnya dapat melakukan kiam Ramadan. Sepanjang bulan tersebut kita hidupkan suasana ingin belajar (taklim) sepanjang masa, siang dan malam dengan beribadah, zikir, solat sunat, dan qiraah (tadarus dan telaah) al-Quran. Seluruh indera kita dipusatkan kepada pintu keampunan bagi melenyapakan diri kita daripada dosa dan dinyahkan syak wasangka.
Fikiran akan bebas sepenuhnya daripada hal-hal yang negatif, dan hati kekal bersih. Dan, sepanjang bulan Ramadan sebenarnya bulan kita bermuhasabah dan membersihkan diri dari segala kekotoran. Pada kemuncaknya, kita mengharapkan akan bertemu dengan lailatulqadr. Lailatulqadr memberikan kita pengajaran rahsia kenapa tersembunyinya beberapa urusan agama dan hakikat kepentinganya, termasuk usia sebenar yang boleh digapai oleh setiap orang, saat doa dimakbulkan, amalan maksiat yang terkutuk, waktu kedatangan kiamat dan ajal diri kita kita sendiri.
Lailatulqadr yang kita impikan itu adalah sebuah titik yang perlu kita cari, kerana pencarian itu membawa kita kepada kemuncak kehidupan, agar amal dan ibadah kita akan diterima oleh Allah SWT, kita akan dimasukkan sebagai senarai orang-orang yang beriman dan beramal soleh.
Antara ciri-ciri orang yang mendapat lailatulqadar mengikut al-Quran:
* Iaitu mereka yang beriman kepada ghaib, mendirikan solat dan menginfakkan sebahagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka; dan mereka yang beriman kepada apa-apa yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) dan apa-apa yang Kami turunkan sebelum kamu, serta mereka yakin kepada (adanya) kehidupan akhirat. (al-Baqarah [2]: 2-4)
* Iaitu orang-orang yang beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberi harta yang diicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, anak jalanan (termasuk musafir yang memerlukan pertolongan), orang-orang yang meminta-minta, (menghilangkan) perbudakkan, mendirikan solat, menunaikan zakat, menepati janjinya apabila berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan saat ditimpa musibah… (al-Baqarah [2]: 177)
* Iaitu orang-orang yang menginfakkan (hartanya di jalan Allah), baik di waktu lapang maupun sempit; orang-orang yang dapat menahan amarahnya; dan memaafkan (kesalahan) manusia... ( Ali 'Imran [3]: 134)
* Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang (ciri-cirinya) dia mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya; bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin; berwibawa terhadap orang-orang kafir, berjihad di jalan Allah; dan tidak takut terhadap celaan orang-orang yang mencela... (al-Maaidah [5]: 54).
* Iaitu mereka yang apabila disebut nama Allah gementar hatinya; apabila dibacakan kepada mereka ayat- ayat- Nya bertambah imannya dan (hanya) kepada Tuhannya mereka menyerahkan diri. Juga mereka yang mendirikan solat, dan menginfakkan sebahagian dari rezeki yang Kami berikan kepadanya. (al- Anfaal [8]: 2-3).
* Iaitu orang-orang yang khusyuk dalam solatnya; dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang sia-sia; dan orang-orang yang menunaikan zakat; dan orang-orang menjaga kemaluannya; dan orang-orang yang memelihara amanah dan janjinya; dan orang-orang yang memelihara solatnya… (al-Ma’aarij [70]: 22-34)
Oleh : Mohd Shauki Abd Majid
