'IDUL QURBAN DAN SEEKOR SAPI
Oleh: Samsul Nizar
Dalam Islam, setiap bulan zulhijjah, ada 2 (dua) momen suci yang terintegrasi, yaitu : undangan sebagai "tamu-Nya" melalui ibadah haji (QS. Ali Imran : 97) dan menyembelih hewan kurban. Keduanya terhimpun sejarah suci sebagai i'tibar hamba yang beriman. Perintah berkurban merujuk firman-Nya : "Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka. Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)" (QS. al-Hajj : 34).
Meski seekor hewan, eksistensi sapi dijadikan nama surah dalam al-Quran. Adalah surah al-Baqarah (sapi betina) sebagai surah terpanjang (286 ayat), komprehensif, dan ditempatkan setelah surah al-Fatihah. Penamaannya merujuk pada kisah mukjizat Nabi Musa AS yang memerintah-kan Bani Israil menyembelih sapi betina untuk mengungkap pelaku pembunuhan, menegaskan ketaatan atas perintah Allah, dan membuktikan kuasa-Nya dengan menghidupkan sapi yang mati.
Sapi merupakan jenis hewan yang memproduksi susu dalam jumlah besar. Dalam Islam, susu sapi hukumnya halal, suci, dan bahkan disunnahkan untuk dikonsumsi karena kaya manfaat. Susu sapi dianggap sebagai minuman bernutrisi tinggi yang baik untuk kesehatan. Ia sering dikaitkan dengan simbol kesucian dan keberkahan (obat). Hal sesuai sabdanya : "Sesungguh-nya Allah 'Azza Wajalla ketika menurunkan penyakit pasti juga menurunkan obatnya... Lalu hendaklah kalian meminum susu sapi, karena ia terkumpul dari berbagai macam tumbuhan" (HR. Abu Daud Ath-Thayalisi).
Untuk itu, wajar bila Rasulullah ﷺ sangat menyukai dan menganjurkan untuk minum susu sapi. Bahkan, ketika Isra' dan Mi'raj, Rasulullah ﷺ memilih susu yang disuguh-kan untuk diminum sebagai lambang fitrah, kesucian, dan kesehatan.
Sebagai hewan yang menghasilkan susu, sapi betina dijadikan nama surah dalam al-Quran. Kehadirannya mengandung pelajaran bagi kehidupan. Hal ini dijelaskan Allah melalui firman-Nya : "Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminum-nya" (QS. an-Nahl : 66).
Ibnu Katsir menafsirkan ayat di atas sebagai bukti kebesaran-Nya. Sebab, susu murni pada hewan ternak dihasilkan dari perut (perpaduan darah dan kotoran). Tapi, melalui perpaduan tersebut keluar susu bersih, lezat, dan bernutrisi. Ayat di atas mengandung pelajaran tentang kekuasaan Allah dalam memproses zat-zat tersebut hingga menjadi minuman yang bermanfaat bagi manusia yang berfikir (ulul al-bab). Semua akan tersaring melalui hukum Allah (sunnatullah) yang sempurna. Tak ada unsur yang "membangkang". Semua berproses begitu tertib sesuai ketentuan-Nya.
Adapun pelajaran yang dipetik melalui 'idul qurban dan seekor sapi sebagai kaca besar melihat "karakter diri", antara lain :
Pertama, Kotoran (kejahatan) hanya akan berkumpul dan keluar dari jalur kotoran (kejahatan) pula. Kotoran (keburukan) pada sapi tak bercampur dengan daging dan susu (kebaikan). Begitu indah aturan Allah bagi hamba-Nya yang senantiasa taat pada aturan-Nya. Namun, ketika hamba mencampuradukan keburukan (kekufuran) dan kebaikan (keimanan), maka tak ada lagi tersisa kebermanfaatan yang mampu diberikan pada sesamanya. Justeru, akibat bercampurnya kebaikan dan keburukan akan menyebabkan "racun" yang mematikan bila dikonsumsi. Hal ini diingatkan Allah melalui firman-Nya : "Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak (kebenaran) dengan yang bathil (keburukan / kebatilan) dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui" (QS. al-Baqarah : 42).
Imam al-Baidhawi dalam Kitab Anwar at-Tanzil wa Asrarut Ta’wil mengatakan, kata “talbisū” atau mencampur kebenaran dan kebatilan merupakan tindakan tercela. Sebab, ia akan membuat sesuatu menjadi mirip dengan yang lain. Untuk itu, melalui ayat di atas, Allah melarang manusia yang beriman mengikuti langkah kaum Yahudi yang mencampuradukan kebenaran yang diturunkan kepada Rasulullah dengan kebatilan yang sengaja direkayasa. Mereka sengaja menyembunyikan kebenaran dan kebatilan yang membuat keduanya sulit dibedakan. Dalam konteks ini, kebenaran (haq) dan kebatilan (bathil) harus dipisahkan secara tegas agar tidak menimbulkan kerancuan dalam akidah dan hukum. Tapi, manusia --bahkan berilmu dan status-- se-lalu melakukan berbagai pelanggaran bak sapi sambil tersenyum pongah bak keledai. Perilaku naif yang begitu nyata, tapi kebal aturan dan "ditradisikan".
Kedua, Kebermanfaatan daging kurban dirasakan semua hamba-Nya tanpa melihat status sosial dan agama. Hal ini sesuai firman-Nya : "...maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir" (QS. al-Hajj : 28).
Dalam ajaran Islam dijelaskan manfaat daging, terutama dari hewan ternak (sapi, kambing, unta) sebagai makanan yang diberkahi, bermanfaat untuk kesehatan, dan dianjurkan untuk mengkonsumsinya. Sebab, dalam daging terdapat unsur-unsur yang dapat meningkatkan stamina, penguatan penglihatan, dan keberkahan setiap mengkonsumsinya.
Ketiga, Kebaikan (susu) akan berinteraksi dengan kesucian untuk kesehatan setiap yang meminumnya. Sebab, susu sapi kaya kalsium, protein, vitamin D, dan fosfor. Kesemua unsur tersebut begitu bermanfaat untuk memperkuat tulang, gigi, meningkatkan massa otot, otak, dan sistem imun. Untuk itu, mengkonsumsi susu sapi secara rutin sangat mendukung kesehatan jantung, membantu menjaga tekanan darah normal, dan meningkatkan energi. Manfaat mengkonsumsi susu disinyalir dalam firman-Nya : "...Kami memberi kamu minum dari apa yang ada di dalam perut mereka (ternak) berupa susu yang bersih, di antara kotoran dan darah yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminum-nya" (QS. an-Nahl: 66)
Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas merupa-kan bukti kuasa dan rahmat-Nya. Melalui hewan ternak (unta, sapi, kambing), keluar susu murni yang bersih dan suci tanpa terkontaminasi. Padahal, letaknya berada di antara kotoran dan darah. Sungguh pelajaran berharga bagi hamba yang pintu hatinya terbuka untuk melihat keagungan pencipta-Nya. Untuk itu, sangat wajar bila Rasulullah ﷺ menyatakan bahwa susu merupakan satu-satunya yang dapat menggantikan makanan dan minuman sekaligus. Hal ini tertuang dalam sabda-nya : "Tidak ada sesuatu apa pun yang bisa menggantikan makan dan minum selain susu” (HR. Ahmad).
Melalui ayat dan hadis di atas, terlihat nyata eksistensi susu sapi yang terjaga kesuciannya. Padahal, posisinya berada di antara kotoran dan darah. Demikian Allah menjelaskan bahwa secara sunnatullah, semua kebaikan (kesucian) tak pernah bercampur dengan keburukan (najis). Namun, manusia justeru melanggar dan merekayasa sunnatullah sesuai nafsunya. Mencampuradukan kebatilan dengan kata lembut dan "baju" kebajikan. Tampil begitu anggun dan suci bak "dewa", tapi menyembunyikan kemunafikan dan keserakahan yang melampaui batas (iblis). Ketika sapi hanya makan rumput sesuai batas perut-nya, tapi manusia "makan segalanya" dan melampaui batas perutnya. Dalam sabda-nya, Rasulullah ﷺ mencela sifat serakah : "Seandainya manusia diberi satu lembah penuh dengan emas, ia tentu ingin lagi yang kedua. Jika ia diberi yang kedua, ia ingin lagi yang ketiga. Tidak ada yang bisa menghalangi isi perutnya selain tanah. Dan Allah Maha Menerima taubat bagi siapa saja yang mau bertaubat” (HR. Bukhari).
Hadis di atas menjelaskan keserakahan manusia --seakan-- tanpa batas. Namun, Allah tetap memberi ruang taubat. Namun, manusia acapkali tak pernah menyadari dan menyesalinya. Perilaku saleh dan kata indah sekedar dimulut semata, tapi kesera-kahan dan kezaliman begitu anggun dalam setiap gerak langkahnya.
Padahal, Allah telah menganugerahkan begitu banyak nikmat-Nya pada seluruh makhluk, terutama manusia. Hal ini ter-tuang pada fitman-Nya : "Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah). Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah)" (QS. al-Kautsar : 1-3).
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat di atas menjelaskan tentang anugerah nikmat kepada nabi Muhammad ﷺ berupa sungai istimewa (al-Kautsar) di surga. Untuk itu, Allah memerintahkan untuk mendirikan shalat dan berkurban. Sebalinya, Allah melaknat para pembenci Nabi dan kebenaran ajaran-Nya sebagai orang yang terputus dari segala kebaikan.
Bila setiap hamba yang bijak senantiasa menyukuri nikmat-Nya, mendirikan shalat sebagai jalan "penghambaan", dan ber-qurban (media mendekatkan diri), maka ia akan memperoleh perlindungan-Nya. Se-baliknya, setiap yang memusuhi kebenaran akan binasa dan terputus dari rahmat-Nya. Janji Allah adalah pasti, tanpa tersisa sedebu keraguan atas setiap firman-Nya.
Meski semua bukti kebenaran firman-Nya begitu jelas, tapi acapkali dinafikan. Padahal, Allah berulang kali mengingatkan : "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan ?" (QS. ar-Rahman). Namun, manusia acapkali mendustakan-nya. Berperilaku bak seekor hewan dan melampaui batas (QS. al-A'raf : 179). Indi-kasinya akan terlihat pada diri yang hanya mengembangbiakkan sifat hewani dalam hatinya. Potensi ini bisa menimpa setiap manusia lintas strata dan status duniawi. Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***
Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis
Sumber: jawapos.com
