KRISTIAN SEMAKIN KUAT DI INDONESIA?
Layanan Kristian dalam suatu lingkungan bukan Kristian dipersepsikan sebagai cara terselubung dalam melakukan kegiatan misi. Luka yang ditinggalkan oleh penguasa kolonial Belanda terlalu dalam untuk diubati.
Yang memperburuk persoalan tetaplah sikap kebanyakan gereja yang beroperasi di Indonesia. Sikap-sikap tersebut, yang tumbuh semakin kuat dan disuarakan semakin keras, dan yang menekankan keharusan misi sehingga semua orang dapat 'memperoleh keselamatan', jelas terwujud dalam kenyataan makin bertambahnya jumlah gereja dan denominasi yang terorganisasikan di negeri ini.
Melalui berbagai denominasi yang begitu besar jumlahnya, kegiatan-kegiatan banyak dilakukan, yang menunjukkan kuatnya pengaruh Kristian ke dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Di sisi lain, kalangan Kristian sangat prihatin terhadap keinginan banyak kaum Muslim untuk melembagakan syariah dalam aspek-aspek tertentu kehidupan bangsa Indonesia, seperti hukum perkahwinan, hukum waris dan wakaf. Bagi kalangan Kristian, hukum-hukum itu dapat menjadi simbol meningkatnya kesedaran dan bangkitnya rasa identiti Islam di pihak majoriti Muslim.
Hal itu, menurut pihak Kristian, tidak lain merupakan suatu langkah dalam proses menuju Islamisasi bangsa ini. Mereka benar-benar mempersoalkan apakah minoriti Kristian akan menikmati keamanan, kesejahteraan ekonomi dan keadilan sosial yang sama dalam lingkungan politik dan keagamaan semacam itu.
Dalam suatu iklim tempat kedua komuniti itu saling menuduh pihak lain bertindak tidak toleran, keduanya sama-sama menghadapi tentangan dari keseluruhan konsep 'toleransi beragama'. Tanpa harus mengorbankan prinsip-prinsip dasar keagamaan, kedua komuniti itu harus mempunyai kemahuan baik untuk saling mendengarkan.
Hal lain yang sama pentingnya adalah bahawa kedua komuniti itu harus bersikap kritis terhadap diri masing-masing dan lebih sedar akan tanggungjawab mereka bersama dengan mengingat kekuatan kekufuran, sinisme, kezaliman dan kemerosotan moral, yang terjadi dalam lingkungan sosial dan budaya.
Hanya ketika kedua belah pihak dapat melampaui sejarah permusuhan mereka dan sama-sama terlibat dalam upaya mempromosikan nilai-nilai dasar yang sama-sama diperjuangkan oleh kedua agama itu, banyak permasalahan akan dapat diselesaikan.
Dari sudut pandangan teologis, para pemimpin kedua kelompok keagamaan itu hendaknya berupaya mencari landasan teologis yang sahih, yang sangat berlimpah di dalam kedua agama tersebut, guna membangun toleransi beragama. Dari sudut pandang sosial, para pemimpin kedua kelompok itu seharusnya memutuskan bagaimana masing-masing pengikut mereka menerapkan iman mereka di bawah terang sikap toleransi beragama, yang merupakan cita-cita utama yang didorong dan dikembangkan oleh negara.
Pada saat yang sama, para pendeta, imam, pastor, dan pemimpin umat haruslah terbuka kepada pandangan dunia yang lebih luas, dengan menerima watak majmuk bangsa dan mencari tradisi mereka sendiri untuk menopang pluralisme tersebut.
Hanya lewat pendidikanlah para pemimpin umat dan pengikutnya akan dapat belajar tidak hanya untuk memahami umat lain, tetapi benar-benar hidup dan bekerja satu sama lain sebagai umat yang beriman. Langkah-langkah penting ke arah konsep toleransi beragama dan dialog yang konstruktif telah ditempuh. Hal itu khususnya terlihat dalam 'perubahan radikal' dalam sikap Katolik terhadap agama-agama lain, sebagaimana tercermin dalam 'Deklarasi tentang Agama-Agama Non-Kristian' (Declaration on Non-Christian Religions) yang dikeluarkan pada Konsul Vatikan Kedua tahun 1965. Sikap tidak adil gereja di masa lalu mulai berubah ke arah upaya teologi yang lebih positif terhadap agama-agama lain. Apakah tanda positif itu dapat diterapkan di Indonesia atau tidak, tempat denominasi-denominasi Protestan berjumlah dua kali ganda lebih banyak daripada Katolik, masih harus dilihat. Tiga puluh tahun sesudah Konsul Vatikan kedua mengeluarkan pernyataan yang positif mengenai Islam, upaya-upaya itu belum benar-benar membumi. Masih banyak yang harus dilakukan untuk mencapai saling pemahaman yang lebih besar. Biarlah harapan kita yang menyala-nyala mengatasi kecemasan kita dalam menghadapi fajar masa depan yang cerah, saat agama akan menjadi solusi bagi konflik, bukan sumbernya.
Sikap keterbukaan landasan dialog Islam-Kristian
Sebenarnya sejak tahun 1960-an, Gereja Katolik telah banyak mencurahkan tenaga dan memusatkan perhatian kepada sikap dan semangat keterbukaan dalam hubungan dialog Islam-Kristian.
Pada tahun 1968 pertama kali Majlis Umum Dewan Gereja Sedunia di Uppsala, membincangkan tentang hubungan gereja dengan budaya, kepercayaan dan ideologi lain. Pada tahun 1970, panitia pusat Dewan Gereja Sedunia mengumumkan bahawa dialog antara umat beragama merupakan satu 'perjalanan dan tugas suci gereja-gereja', sekali gus menerbitkan pedoman dasar dialog yang menganjurkan segenap gereja untuk menciptakan suasana dialog dengan penganut-penganut agama lain.
Di sinilah pentingnya semangat keterbukaan dan perkembangan terkini menjadi dialog amat perlu dan menjadi keharusan dalam mencari kesefahaman antara Islam-Kristian. Demikian tepat apa yang diungkapkan oleh Leonard Swidler, pakar dalam bidang teologi Katolik dan hubungan antara agama iaitu mereka yang masih menggunakan paradigma tertutup atau terasing dengan enggan hidup berdampingan dengan umat agama lain, ia tidak akan mendapat tempat dalam arena kehidupan keagamaan masa kini. Dalam bukunya yang berjudul Death or Dialogue, Swidler secara tegas berkata bahawa ''kita tidak dapat mengabaikan pihak lain dengan menutup mata, fikiran, dan hati terhadap mereka; menatap mereka dengan rasa curiga, prasangka, dan bahkan kadang-kadang dengan kebencian; pola hubungan semacam ini hanya akan membawa kepada permusuhan yang berakhir dengan konfrontasi dan kematian.''
Islam sejak dulu menganjurkan dialog dengan umat lain, teristimewa umat Kristian. Terhadap pengikut Isa a.s. dan Musa a.s., al-Quran menggunakan kata ahl-al-kitab (yang memiliki kitab suci). Penggunaan kata ahl, yang bererti keluarga, menunjukkan keakraban dan kedekatan hubungan. Lebih dari itu sejarah mencatat bahawa pengikut Nabi Muhammad s.a.w terpaksa meninggalkan Mekah dari penganiayaan bangsanya sendiri berhijrah ke negara Ethiopia (Habshah). Di sana mereka diterima dengan baik dan mendapat perlindungan dari raja Najashi yang beragama Kristian. Peristiwa ini menandakan keakraban dan hubungan harmonis antara kedua umat. Sebenarnya dialog Islam-Kristian akan memperkayakan wawasan kedua-dua pihak dalam rangka mencari persamaan-persamaan yang dapat dijadikan landasan hidup kerukunan dalam suatu masyarakat. Justeru, dalam menuju dialog ini perlu ada syarat penting yang harus dipegang oleh pelaku dialog. Antaranya perlu ada sikap toleransi dan pluralisme (kemajmukan), bukan mencipta satu agama baru. Agak sulit bagi pelaku-pelaku dialog Islam-Kristian untuk mencapai saling memahami jika salah satu pihak tidak bersikap toleran. Mungkin relevan untuk mengingati kembali bagaimana Islam memiliki pengalaman-pengalaman sejarah berkaitan dengan persoalan pluralisme dan telah menemukan cara untuk menjawabnya secara kreatif. Kita dapat membuka kembali lembaran sejarah peradaban yang mengagumkan dari dua masyarakat Muslim iaitu Moor di Sepanyol dan Mongol di India. Kemudian khalifah pertama dinasti Fatimiyah di Maghribi, Abu Ubayd al-Mahd (909-943) telah meminta nasihat dari seorang tokoh Kristian untuk mencari lokasi yang tepat untuk membuat ibu kota negara. Kini banyak sarjana Kristian kontemporari secara tulus berupaya memahami dan memperlihatkan rasa hormat ke atas Islam seperti Louis Massignon, Montgomery Watt, Wilfred, Smith, Kenneth Cragg, Yvonne Haddad, Anne Marie Schimme. Mereka menghargai ajaran-ajaran Islam dengan diikuti oleh interpretasi perspektif al-Quran yang positif terhadap membangun hubungan yang lebih bermanfaat, harmoni antara manusia.
Justeru, sewajarnyalah dalam rangka menyambut abad ke 21 umat Islam dan Kristian hendaknya bergerak saling mengikut diri satu sama lain dalam satu usaha bersama untuk mengumandangkan nilai-nilai keagamaan yang luhur. Bersama-sama meningkatkan kesedaran akan pentingnya mengatasi persoalan keadilan sosial, kehormatan manusia dan kebebasan. Sebagai umat Muslim dan Kristian mereka mempunyai nilai-nilai etika yang sangat penting untuk menyelesaikan masalah dunia saat ini.
Bekas Presiden Indonesia, Abdurrahman Wahid (Gur Dur) dalam satu artikel yang bertajuk Dialog Agama dan Masalah Pendangkalan Agama mengulas mengenai peristiwa pembakaran gereja di Situbondo Indonesia oleh segolongan kaum Muslim. Menurutnya peristiwa Situbondo merupakan titik yang baik untuk menyedarkan berapa pentingnya dialog antara umat beragama. Menurutnya ramai yang masih menganggap tidak penting mengenal agama lain. Mereka mengekspresikan kesalafahaman mereka tentang konsep ketuhanan agama lain, bahkan menghina keyakinan agama lain pada hal menghina tuhan yang dianggap milik orang lain sesungguhnya juga menghina Tuhan milik kita sendiri. Kerana pada dasarnya Tuhan itu hanya satu. Yang berbezanya hanya dari segi konsepnya. Ajaran Islam mengutuk mereka yang sengaja menodai rumah-rumah ibadat.
Al-Quran sendiri menganjurkan agar melakukan hubungan yang baik dengan ahli al-Kitab. Sementara itu dalam surah al-Maidah ayat 5, firman Allah yang bermaksud: Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu semua sentiasa menjadi orang-orang yang menegakkan keadilan kerana Allah, lagi menerangkan kebenaran; dan jangan sekali-kali kebencian kamu terhadap sesuatu kaum itu mendorong kamu kepada tidak melakukan keadilan. Hendaklah kamu berlaku adil (kepada sesiapa jua) kerana sikap adil itu lebih hampir kepada takwa. Ayat ini bertujuan memperingatkan umat Islam menahan dari agar tidak menekan atau mencerobohi sewenang-wenangnya apalagi melakukan aniaya terhadap umat agama lain. Dan sememangnya sejarah telah menunjukkan bahawa dalam keadaan normal umat Islam di manapun selalu berusaha mengikut petunjuk agama agar beliau adil terhadap agama lain.
Kesamaan antara umat Islam-Kristian.
Selain terdapat perbezaan yang kadangkala sulit dipertemukan, terutama dari segi teologi (ajaran agama) seperti persoalan Trinitis, Nabi Isa (Yesus) meninggal kerana disalib atau tidak, apakah Kitab Injil yang sekarang masih murni sebagaimana awalnya atau sudah ada penyelewengan isi. Di antara umat Islam dan umat Kristian Indonesia sesungguhnya terdapat banyak kesamaan yang boleh dijadikan modal dasar untuk menjalin kebersamaan untuk membangun persaudaraan dalam suatu masyarakat yang majmuk. Baik kesamaan dari sudut sejarah, sosiologi, antropologi, politik, mahupun budaya. Kerana kemajmukan adalah suatu kemestian yang tidak mungkin dihindari, apalagi ditolak, maka selayaknya kita mencari titik temu dengan dasar kesamaan-kesamaan itu.
Ini penting, kerana untuk menghadapi masa depan yang berat akibat globalisasi, mahu tidak mahu orang harus menempuh hidup dalam suatu kemajmukan. Bagi suatu bangsa yang ingin maju, dalam kemajmukan harus menjalani dengan pandangan optimistik. Sejarah membuktikan, kemampuan membangun kehidupan dalam masyarakat majmuk akan membawa suatu bangsa berjaya.
Dalam Islam pun disebutkan adanya kesamaan-kesamaan itu dan perlunya semua mencari titik temu. Kesamaan-kesamaan itu antara lain dalam masalah penciptaan, asal-usul agama, termasuk pesan-pesan yang menyangkut aksi kemanusiaan. Dari asal usul kejadian (penciptaan), baik umat Islam mahupun umat Kristian sama-sama menyatakan berasal dari orang (keluarga) yang sama iaitu Adam dan Hawa.
Dalam al-Quran banyak ayat yang menyebut bahawa umat manusia, awalnya merupakan umat yang tunggal satu, sekeluarga, (umatan wahidah). Baru setelah mengalami perkembangan dalam jumlah yang banyak sesudah masing-masing orang berkeluarga dan berketurunan, mereka berselisih faham. Perselisihan muncul akibat perbezaan pandangan dan sikap sebagai hasil dari proses kehidupan. Dan itu wajar serta alamiah.
Pada surah al-Baqarah ayat 213 misalnya disebutkan: Manusia itu adalah umat yang tunggal, (setelah timbul perselisihan) maka Allah mengutus para Nabi sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar untuk memberi keputusan di antara manusia tentang kitab, itu, kecuali mereka yang telah didatangkan kepada kitab, iaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, kerana dengki antara mereka sendiri.
Dalam surah an-Nisa;ayat 1, Allah berfirman: Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan seorang dari (Adam), dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Erti 'tunggal'(satu) bermakna luas, selain erti yang sudah dikenal secara nyata dalam nas-nas al-Quran, iaitu manusia diciptakan dari orang tua yang sama. Adam dan Hawa. Baik dalam Islam mahupun Kristian, hal ini boleh dikatakan tidak ada perbezaan yang mendasar.
Prof. Hamka menafsirkan kalimat ''manusia itu adalah umat yang tunggal'' kerana sama-sama memiliki akal. Biar mereka berbeza kulit, bahasa, tempat tinggal, semua manusia menggunakan akal dalam menyeberangi hidup, dan memiliki satu kehendak. Iaitu, kehendak mencari sesuatu yang bermanfaat dan menjauhkan yang mudarat (menyengsarakan). Berkeinginan mencari laba dan ketakutan akan rugi. Dengan itu, maka nyatalah semua manusia berperasaan satu dan berkeadaan satu. Dan dalam mencari hakikat hidup, seluruh umat manusia sama-sama menggunakan akal budi. Dari bangsa-bangsa zaman purba pun, hal ini boleh dilihat dengan jelas, jika kita menggali peninggalan-peninggalan sejarah mereka, dari bangsa Mongolia sampai Yunani. Yang lebih menakjubkan adalah adanya kesamaan kepercayaan manusia purba, yakni sama-sama meyakini adanya Zat Yang Maha Kuasa.
Kesimpulan
Pluralisme agama bukan semata-mata pengakuan akan tradisi agama yang berbeza serta hak-hak yang sah, atau sekadar toleransi, tetapi merupakan perjanjian positif dan usaha aktif untuk memahami perbezaan dan persamaan melalui dialog yang konstruktif.
Maknanya dialog untuk masa-masa akan datang ialah suatu pemahaman bersama dan bersedia untuk mengubah gambaran yang salah bagi pihak masing-masing dan berkeinginan kuat untuk menghargai nilai-nilai orang lain. Jadi dialog antara agama menjadi prioriti agenda umat Muslim mahupun Kristian di alaf baru abad ke-21
Catatan : Ibnu Majid
