Ensiklopedia

Keterangan ringkas & tepat mengenai pelbagai ilmu!

 

SILATURAHIM KEPALSUAN

Oleh : Samsul Nizar

Dalam tradisi umat Islam, bulan syawal "kemenangan, kembali fitrah dan waktu untuk menjalin silaturrahim dan saling bermaafan. Bahkan, tradisi ini dilembagakan dalam adat. Silaturrahim sejati bertujuan menyambung tali kasih sayang. Tak peduli status sosial yang dimiliki. Semua lebur dalam kesetaraan dan keikhlasan.

Berbeda dengan silaturrahim kepalsuan (imitasi). Jalinan yang didasari kepentingan sesaat (pamrih, materi, kedudukan, atau varian lainnya). Iringan untaian kata maaf sebatas "basa basi" semata. Bila ada "status" dan menjanjikan harapan, silaturrahim terbangun begitu mempesona. Semua begitu indah, seakan tak ada yang nista. Aroma kebusukan dinilai aroma wangi, kesalahan dianggap biasa, dan kezaliman dipandang wajar.

Sungguh, silaturrahim sebatas "ada perlu" akan sirna ketika kepentingan telah diraih atau tak ada "madu" yang diperoleh. Untaian kata pujian tak lagi terdengar. Justru terdengar "bisik-bisik" pergunjingan dan kebencian yang membahana. Jalinan silaturrahim model ini akan terputus secara alamiah.

Sungguh, Allah sedang mementaskan karakter nista manusia yang sebenarnya. Padahal, perintah membangun silaturrahim telah diingatkan melalui firman-Nya : "Maka apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan ?. Mereka itulah orang-orang yang dilaknat Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka" (QS. Muhammad : 22-23).

Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas menjelaskan bahwa Allah mencela sikap kaum munafik yang enggan berjihad, membuat kerusakan di muka bumi, memutuskan silaturahmi, dan menolak kebenaran yang di bawa oleh Rasulullah. Untuk itu, Allah jadikan pendengaran tuli dan membutakan penglihatan mereka dari petunjuk-Nya. Bahkan, Rasulullah ﷺ memperkuat melalui sabdanya : "Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturrahim" (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam tataran ideal, silaturrahim mampu membuka hadirnya rezeki. Ajaran ini merupakan perintah agama. Hanya saja segelintir manusia hanya menjadikan silaturrahim sebagai "jalan kejahatan dan kepalsuan". "Silaturrahim" sebagai media "transaksi" untuk memuluskan tujuan dan ambisi yang berkelindan rapi.

Ada beberapa fenomena perilaku silaturrahim kepalsuan yang begitu kentara di depan mata, antara lain :

Pertama, Silaturrahim "penuh kepentingan" dan bertopeng kepura-puraan. Silaturrahim terselubung maksud tertentu ketika diri memiliki status. Tapi, tanpa status atau tak lagi bisa memberi manfaat, maka tak ada lagi silaturrahim. Model ini bak madu di kelopak bunga. Ketika ada madu, banyak kumbang yang hinggap "menikmati". Tapi, begitu madu kering dan bunga layu, ia akan ditinggalkan berguguran tanpa ada yang peduli.

Perilaku silaturrahim tanpa mengedepankan keikhlasan dan mengingat kebaikan sesama menjadi fenomena akhir zaman. Tampil silaturrahim ala "Qarun". Ketika miskin memelas dan berharap agar Allah mengabulkan doanya. Ketika harap telah terpenuhi, Allah dilupakan dan merasa ke-berhasilan yang diraih merupakan prestasinya, tanpa kuasa Allah apalagi orang lain. Sikap arogan ini membuatnya lupa Allah dan jasa orang lain (kacang lupa kulitnya).

Kedua, Kata memaafkan sebatas lipstik pemanis bibir. Padahal, hatinya terpatri dendam kesumat yang tak bertepi. Allah sangat mencela sikap kepalsuan yang demikian. Hal ini diingatkan melalui firman-Nya : "Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya (kikir). Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik" (QS. at-Taubah : 67).

Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas menjelas-kan karakter orang-orang munafik (laki-laki dan perempuan) yang saling mendukung dalam keburukan. Mereka bermufakat pada kemungkaran, memutuskan silaturrahim, bahkan melupakan Allah. Karakter ini merupakan sosok manusia fasik dan menyebabkannya semakin jauh dari rahmat-Nya. Sebab, silaturrahim yang dibangun sebatas kepura-puraan. Sikap kepalsuan yang harus dihindari. Untuk itu, setiap manusia perlu berusaha membersihkan hatinya. Jika masih terasa berat, jangan menampakkannya dalam perbuatan dan berusaha memaafkan dengan tulus.

Ketiga, Meminta maaf untuk selanjutnya melakukan kesalahan kembali. Majelis silaturrahim (halal bi halal) sebatas sere-monial ajang saling memaafkan, tanpa pernah menyesali apa yang dilakukan. Momentum ini acapkali menampilkan type manusia yang ditutupi, yaitu : (1) bagi pemilik status, ajang saling memaafkan sebagai kesempatan "membersihkan" kezaliman yang telah dilakukan. Kelak, kezaliman yang sama tetap dilakukan dan kembali dibersihkan pada silaturrahim selanjutnya. (2) bagi pihak yang penuh kepentingan, kesempatan silaturrahim menjadi peluang "bermanis bibir" mencari ruang meraih "simpati" sang penentu posisi. Hal ini terus terjadi setiap kesempatan silaturrahim sepanjang sejarah karakter kepalsuan. Hanya beda waktu, tempat, dan pelaku. Ketika "kepentingan" tak lagi diperlukan, maka silaturrahim tak lagi diperlukan.

Jadi, silaturrahim hanya ada tatkala ada kepentingan (posisi) dan terputus tatkala hilang "madu" yang diharapkan. Ternyata, silaturrahim hadir penuh kepalsuan dan diisi oleh manusia bertopeng kesalehan. Akibatnya, nilai silaturrahim mudah terbangun dan mudah terputus sesuai kepentingan yang dituju. Padahal, sifat yang demikian merupakan perilaku penduduk neraka. Hal ini diingatkan oleh Rasulullah ﷺ : "Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan tali persaudaraan (silaturrahim)" (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis di atas begitu tegas menjelaskan bahwa penyebar kebencian merupakan perilaku nista yang dibenci oleh Allah. Apalagi bila kebencian yang tersembunyi melalui topeng kesalehan. Allah mengingatkan dalam firman-Nya : "...Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar..." (QS. Ali Imran : 118-119).

Dalam Islam, sifat fasik terbagi dalam 2 (dua) bentuk, antara lain : (1) fasik besar (kufur). (2) fasik kecil (munafik dan zalim). Pelakunya diancam menempati neraka jahanam. Hal ini diingatkan melalui firman-Nya : "Wahai orang-orang yang beriman !. Jika seseorang yang fasik datang kepada-mu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan) yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu" (QS. Al-Hujurat : 6).

Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas mengingatkan agar melakukan tabayyun (verifikasi) terhadap berita yang dibawa orang fasik. Tujuannya agar tak terburu-buru menerima informasi dan mengambil tindakan yang bisa berakibat kezaliman atau fitnah atas informasi yang keliru. Namun, manusia acapkali tak mau peduli dan menerima info tanpa verifikasi atas informasi yang bersumber dari kaum fasik. Bahkan, menjadikan kaum fasik sebagai rujukan utama yang diposisikan "sekitar pinggangnya". Bila sang pengendali adalah kaum fasik dan sosok "kudanya" merupakan pemilik status yang berharap "belaian dan tumpukan rumput segar". Sayangnya, kuda tak sadar. Ketika tak bisa "berpacu dan menghasilkan pundi", ia akan dicampakan dan disembelih untuk sang pengendali berpindah mencari tumpangan lain.

Keempat, Silaturrahim serba pamrih. Silaturrahim dilakukan ketika "berbalas". Bila tak ada balasan, silaturrahim tak perlu dilakukan. Di sisi lain, silaturrahim tanpa mampu "mengunci" mata dan mulut atas apa yang dilihat ketika bersilaturrahim. Sebab, silaturrahim bukan "membandingkan" kekayaan dan makanan yang dihidangkan.

Kelima, Praktik silaturrahim dan halal bi halal akhir zaman tanpa mengedepankan adab. Praktik berkunjung sebatas "basa basi" dan kadangkala dengan melihat status sosial sebagai arah yang dituju. Ketika pelaku zalim "berstatus" digdaya dan si korban (terzalimi) berstatus jelata, maka sosok pelaku zalim akan didatangi oleh sosok yang terzalimi untuk "mengemis" minta maaf. Akibatnya, pelaku kezaliman semakin pongah dan korban kezaliman semakin tak dihargai. Seyogyanya, pelaku zalim yang bersilaturrahim ke pihak yang dizalimi. Sungguh sirna adab silaturrahim yang dicontohkan Rasulullah ﷺ. Padahal, beliau mengingatkan : "Barangsiapa yang pernah berbuat zalim terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apa pun, hendaklah dia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham..." (HR. Bukhari).

Hadis di atas seakan telah diputarbalikan. Ketika "kursi dan dirham" mampu dikuasai, maka kezaliman halal dilakukan dan kesalahan tak menuntut pintu meminta maaf. Sungguh, ternyata manusia bukan sebatas melakukan praktik silaturrahim kepalsuan, tapi menjurus silaturrahim kesombongan.

Saatnya setiap diri menilai tujuan, karakter, dan kualitas silaturrahim yang dilakukan. Sejauhmana ketulusan saling bermaafan yang diucapkan. Ketika ketulusan yang mewarnai, maka hadir pelangi indah yang melukiskan kedamaian. Namun, tatkala silaturrahim dan saling bermaafan sebatas menjaga tradisi dan validitas diri (mulia), maka hadir kepalsuan nyata yang menodai peradaban. Memang, "watak lalat tak bisa dirubah dengan wanginya parfum. Ia tetap akan berinteraksi dengan komunitasnya untuk mencari tumpukan sampah dan rindu aroma busuk yang menyengat". Demikian pelaku silaturrahim palsu akan mencari komunitasnya untuk mengokohkan kepalsuan. Sungguh, "sekolah ramadhan" telah diselesaikan, tapi tak semua mampu mendapatkan "ijazah-Nya" (muttaqien) sebagai warna karakter diri. Sebatas pernah ketemu, tapi tak saling mengenali. Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***

Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis

Written by Admin
Category: Adab
Hits: 222

 

KEBIASAAN ALA KERBAU

Oleh: Samsul Nizar  

Sebagai hamba-Nya, eksistensi ibadah merupakan keniscayaan. Sebab, rangkaian ibadah merupakan bentuk kesadaran diri sebagai hamba di hadapan Allah Yang Maha Besar. Untuk itu, ibadah hakikatnya merupakan keperluan hamba untuk menyadarkan diri lebih mengenal Rabb-nya. Hal ini tertuang pada firman-Nya : "Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku" (QS. az-Zariyat : 56).

Menurut Ibn Katsir, sesungguhnya Allah menciptakan semua makhluk untuk beribadah bukan karena Allah memerlukan makhluk, tapi makhluk yang memerlukan dan berhajat pada Allah. Pendapat ini diperkuat oleh Ibnu Juraij bahwa tujuan ibadah sebagai bentuk pengakuan kehambaan, upaya mengenal-Nya, dan menggantungkan harapan. Untuk itu, Allah mengutus para nabi dan Rasul untuk menyampaikan risalah-Nya. Bahkan, Allah menciptakan semesta sebagai ayat-Nya untuk manusia. Hal ini sesuai firman-Nya: "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal" (QS. Ali Imran: 190).

Ayat di atas merupakan dorongan agar manusia meneliti dan merenungkan alam semesta (saintifik) yang terintegrasi dengan dimensi spiritual. Bahkan, Ibn Katsir menegaskan bahwa penciptaan langit, bumi, dan pergantian siang-malam merupakan --di antara-- tanda kebesaran Allah bagi ululalbab (berakal nan beradab).

Di antara sekian banyak ciptaan-Nya yang berkaitan dengan ibadah adalah perilaku kerbau. Melalui kerbau, manusia berakal akan berkaca atas karakter dan kualitas imannya, antara lain :

Pertama, Setiap kerbau dibersihkan oleh pemiliknya, ia tetap mencari dan kembali "ke kubangan" yang kotor. Agar kerbau "jinak dan patuh pada tuannya", maka  hidungnya akan ditusuk. Ketika manusia "dicucuk hidungnya", maka hilang kemerdekaan akal dan punah kebenaran oleh pengaruh kepentingan. Ia patuh bak kerbau yang bekerja untuk melayani keinginan tuannya "membajak sawah" menghasilkan pundi. Sebab, ia juga akan memperoleh "bagian" atas kesetiaannya.

Tapi, si tuan tak peduli bila kerbau menyukai kubangan lumpur (kotor). Ketika kerbau mencari kubangan karena kelenjar keringatnya sedikit dan tidak tahan panas. Sedangkan manusia "main dilumpur kotor" karena "kelenjar kehewanannya" yang lebih dominan. Bila kerbau didorong oleh nafsu dan syahwat "kenikmatan" biologis, maka perilaku manusia pun demikian pula. Tak terpikir kotornya lumpur (dosa) dan lintah (hukum) yang akan menggigit dan menang-kapnya. Meski ketika ibadah jasmani dan rohani suci, tapi pemilik sifat kerbau akan melanjutkan kebiasaan mencari "kumbangan lumpur" yang kotor dan bernajis.

Kedua, kerbau makan semua rumput tanpa peduli siapa pemiliknya. Bahkan, tanpa dosa mengumbar nafsu syahwat di depan umum. Sebab, ia makhluk tanpa akal dan rasa malu. Ia lebih mengedepankan nafsu biologis tanpa peduli terhadap lingkungannya. Anehnya, segelintir manusia meniru tabi'at kerbau. Menghalalkan segala cara untuk "mengenyangkan" nafsunya. Tak tersisa rasa malu, justeru bangga bila berhasil melakukan kejahatan di depan umum. Fenomena ini menempatkan pelaku kesalahan dianggap "raja" dan penjaga kebenaran dipandang "rakyat jelata". Akibatnya, para "pendosa" diagungkan dan jadi rujukan, pengkhianat diberi amanah, serta pelanggar hukum berbicara tentang dalil hukum (agama). Sungguh perilaku yang begitu memilukan dan menjijikan.

Ketiga, Tegak mengedepankan kepala di depan, tapi tanpa malu ketika mengeluarkan kotoran dengan penuh "kebanggaan". Hanya beda waktu dan tempat, tapi substansinya tetap kotoran dan bernajis. Berbeda dengan manusia ala kerbau. Ia meninggikan kepala (sombong) dan menyembunyikan kotorannya. Andai ada manusia yang memperlihatkan kotoran hanya waktu bayi atau hilang ingatannya.

Bila dianalisa fenomena biologis kerbau, terlihat berkorelasi dengan sifat manusia. Semakin tinggi kepalanya (sombong) dengan berbagai variannya, maka semakin banyak "kotoran" yang ingin disembunyikan. Padahal, Allah mencela manusia yang sombong (QS. Lukman : 18).

Fenomena sifat manusia yang cenderung bak kerbau telah diingatkan oleh Allah melalui firman-Nya : "Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan banyak dari kalangan jin dan manusia untuk (masuk neraka) jahanam (karena kesesatan mereka). Mereka memiliki hati yang tidak mereka pergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan memiliki mata yang tidak mereka pergunakan untuk melihat (ayat-ayat Allah), serta memiliki telinga yang tidak mereka pergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah" (QS. al-A'raf : 179).

Dalam beribadah, manusia seyogyanya bercermin pada ulat, bukan ular. Ketika ulat berganti kulit akan lahir kupu-kupu yang indah di pandang mata. Sementara, meski ular berganti kulit, ia tetap seekor ular berbisa dan mematikan. Demikian perbedaan antara kualitas manusia beribadah sejati dan berbadah imitasi.

Ketika kerbau bergelimang lumpur karena biologisnya, tapi manusia "bergelimang kotoran" karena hatinya yang rusak. Hal ini dinyatakan oleh Rasulullah ﷺ : "Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati (qalbu)" (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis di atas memperlihat analogi posisi hati bak raja, akal bak menteri, dan tubuh bak rakyat. Bila raja bijaksana dan menteri cerdas beradab, maka rakyat negeri jasmani akan berakhlak mulia. Namun, bila raja zalim dan menteri bodoh, maka rakyat negeri jasmani akan melakukan perilaku kemungkaran yang melanggar hukum. Semua tergantung pada setiap diri yang telah diingatkan Allah dalam firman-Nya : "Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya" (QS. asy-Syams : 9-10).

Menurut Ibnu Katsir, jiwa disucikan dengan menaati Allah, membersihkannya dari akhlak tercela, dan mengisinya dengan sifat terpuji (ketaatan, ikhlas, dan jujur). Sedangkan jiwa yang kotor akan menutupi potensi kebaikan dan justru menyuburkan perilaku kemaksiatan (kezaliman).

Namun, "kejahilan" manusia akhir zaman telah melampaui batas. Bak pepatah menyebut "bagai srigala berbulu domba". Tampil anggun manusia sempurna, tapi perilaku melebihi hewan strata terbawah.  Komunitas pemilik "kesucian jiwa" justeru dibenci dan disingkirkan. Sedangkan komunitas pemilik "jiwa yang kotor" --secara terang melakukan kriminalitas-- justeru dihargai, dihormati, dipelihara, dipercaya, dan dilindungi oleh pundi-pundi. Akibatnya, jiwa yang kotor semakin terjerumus dan tenggelam dalam kemungkaran, syubhat, dan sulit meninggalkan kemak-siatan. Mungkin demikian gerak pilihan manusia akhir zaman yang ingin bebas melebihi hewan. Hanya mempertahankan tampilan wujud biologis, tapi tak peduli pada sisi "jiwanya" yang begitu tercela dan hina (QS. al-A'raf : 179).

Sungguh, ramadhan hadir untuk menyadarkan dan menunjukan manusia arah jalan pulang pada agama-Nya. Namun, ada kalanya petunjuk agama justru dipermainkan. Rangakaian ibadah sebatas "menggugurkan" kewajiban (syariat), tanpa mampu menemukan tujuan penghambaan sejati (hakikat), apatahlagi berbuah pada adab dan ketaqwaan yang hakiki (makrifat).

Jasmani bisa dipoles tampil menawan dan kata bisa merangkai kalimat seakan penuh kebaikan. Namun, kualitas dan kata hati (al-qalb) tak bisa dibohongi. Ia merupakan fitrah Ilahiah (tempat kesadaran) dan perjanjian (alam mitsaq) yang mengakui Allah sebagai Rabb-nya (ma'rifatullah). Hal ini diingatkan-Nya melalui QS. al-A'raf : 172. Namun, manusia yang jiwanya kotor justeru ingin "membohongi kebenaran hatinya" sendiri. Jika hal ini terjadi, maka semakin sulit ditemukan nilai kebenaran dari dirinya terhadap orang lain. Padahal, hati yang fitrah akan menemukan ketenangan saat mengingat Allah (QS. ar-Ra'd : 28). Sebaliknya, hati yang kotor akan resah dan keras, serta diterpa kegelisahan yang berkepanjangan (QS. al-Baqarah : 74).

Ketika berbicara hati, kerbau kadangkala lebih jujur dan tau balas budi. Setelah dipelihara dan diberi makan, ia balas dengan kerja keras membantu tuannya. Sementara manusia, melebihi kerbau yang "dicucuk hidung" untuk meraih apa yang diinginkan, bahkan rela "menghambakan diri" untuk "tuannya". Namun, setelah tercapai yang diinginkan, terlihat nyata sifat aslinya yang tersembunyi. Tegak sifat angkuh, khianat, zalim, munafik, dan lupa pada si penolongnya. Mungkin manusia ingin melampaui kerbau yang tak memiliki perasaan dan "membungkuk untuk menanduk" setiap yang coba menghalanginya. Sosok munafik yang menyebabkan "tak ada pertemanan dan kesetiaan sejati, tapi kokohnya onggokan kepentingan yang akan abadi".

Ibadah segogyanya menghantarkan setiap manusia lebih mengenal dan taat pada Allah dan Rasul-Nya. Namun, ketaatan yang hadir acapkali sebatas pelaksanaan dan tampilan. Begitu rangkaian aktivitas ibadah telah selesai dilaksanakan, maka manusia kembali mencari dan berendam dalam kubangan untuk menyejukan nafsu hewani bak kerbau. Sungguh, "ajakan beragama" terhadap diri perlu dilakukan secara berkelanjutan. Namun, manusia acapkali lupa dan hanya sibuk mengajak sesamanya, tapi membiarkan dirinya berperilaku melebihi kerbau. Jati diri ala manusia pilihan atau ala kerbau akan terlihat selama Ramadan, bahkan semakin nyata pasca ramadhan berlalu. Setiap pilihan sangat tergantung kualitas karakter diri. Semua akan terlihat meski ditutup rapat oleh barisan pendusta yang membela dengan topeng kemunafikan. Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***

Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis

Written by Admin
Category: Adab
Hits: 217

 

Oleh: Drs. H. Ahmad Yani

Manusia seringkali berkelik dari jeratan hukum atas kesalahan yang dilakukannya. Itu sebabnya, para penegak hukum harus memiliki kesungguhan dalam menegakkan hukum sehingga mereka tidak mau percaya begitu saja atas ucapan-ucapan orang yang bersalah. Bagi seorang pemimpin, kadangkala hal ini memang menyulitkan.

Ketika Abu Bakar Ash Shiddik menjadi khalifah, seorang laki-laki dihadapkan kepada beliau untuk diadili dan dihukum karena telah meminum-minuman keras hingga mabuk. Ketika perkaranya disidang dan Khalifah Abu Bakar ingin menjatuhkan hukuman atas kesalahan yang dilakukannya, ternyata orang itu membela diri dengan berdalih, "Aku meminumnya karena tidak tahu kalau hal itu dilarang. Aku tumbuh besar dan dewasa ditengah orang-orang yang menganggapnya halal. Baru sekarang inilah aku tahu kalau ternyata apa yang aku minum itu adalah sesuatu yang diharamkan."

Mendengar alasan itu, Khalifah Abu Bakar mengalami kesulitan untuk memutuskan bersalah bila alasannya memang yang bersangkutan tidak tahu hukum. Banyak orang yang memberi saran kepada Khalifah Abu Bakar agar meminta pendapat salah seorang pemimpin umat Islam, yakni Ali bin Abi Thalib.

Khalifah Abu Bakar setuju bila Ali diminta sebagai saksi ahli. Di hadapan Khalifah, terdakwa, dan kaum Muslimin, Ali kemudian menyatakan, "Perintahkan dua orang Muslim terpercaya untuk menemui orang-orang Muhajirin dan Anshar untuk menanyakan apakah di antara mereka ada yang pernah membacakan kepadanya ayat-ayat al-Quran yang mengharamkan minuman keras atau pernah menyampaikan sabda Rasulullah saw. Jika kedua orang yang diutus itu menyatakan pernah ada, laki-laki itu harus dijatuhkan hukuman. Akan tetapi, jika tidak seorang pun menyatakan pernah ada, harus diberitahukan kepadanya tentang haramnya minuman keras dan selanjutnya ia harus bertaubat serta dibebaskan."

Khalifah Abu Bakar Ash Shiddik mendapat masukan yang berarti dari pendapat Ali bin Abi Thalib.

Dari kisah di atas, pelajaran yang dapat kita ambil adalah:

1. Seorang pemimpin harus tegas dalam menegakkan hukum agar tidak ada orang yang boleh mempermainkannya, apalagi mencari pembenaran dari kesalahan yang dilakukannya.

2. Pemimpin harus memprogramkan dakwah ke seluruh penduduk agar mengetahui mana yang haq dan bathil sehingga tidak ada alasan baginya dengan menyatakan tidak tahu hukum.

Written by Admin
Category: Adab
Hits: 273

 

HIKMAT MENINGGALKAN CAKAP BOHONG

Oleh: Luqman Hakim

Pada suatu hari telah datang seorang lelaki kepada Baginda Rasul kerana hendak memeluk Islam. Sesudah mengucapkan dua kalimah syahadah, lelaki itu lalu berkata, "Ya Rasul Allah! Sebenarnya aku ini selalu benar berbuat dosa dan payah dapat aku meninggalkannya." Maka jawab Rasulullah s.a.w. "Mahukah engkau berjanji bahawa engkau sanggup meninggalkan cakap bohong?" "Ya, saya berjanji", jawabnya singkat. Kemudian ia pun pulang ke rumahnya.

Sebenarnya sebelum Islam lelaki itu terkenal sebagai seorang yang jahat. Kegemarannya mencuri, berjudi dan meminum minuman keras. Maka setelah ia memeluk Islam itu ia cuba sedaya upayanya untuk meninggalkan segala keburukan itu. Dengan harapan serta maksud yang baik itulah maka ia meminta nasihat dari Rasulullah s.a.w.

Tatkala berjalan pulang dari menemui Rasulullah s.a.w. lelaki itu berkata dalam hatinya, "Berat juga aku hendak tunaikan apa yang dikehendaki Rasulullah itu." Maka itulah apakala hatinya terdorong sahaja untuk berbuat jahat, hati kecilnya terus mengejeknya, "Beranikah engkau berlaku jahat? Apa akan kamu katakan nanti bila ditanyai Rasul? Sanggupkah engkau berbohong kepadanya?" Demikian hati kecilnya mengejek. Ia menjadi tersedar lalu terus berfikir dalam hatinya. Kalau aku berbohong kepada Rasul maka aku telah mengkhianati janjiku kepadanya. Sebaliknya jika aku berkata yang benar bahawa aku telah berjudi, minum arak atau lainnya bererti aku akan menerima hukuman sebagai orang Islam! Wahai sungguh dalam hikmat yang terkandung dalam pesanan Rasul itu.

Setelah berjuang dengan hawa nafsunya itu lelaki itu akhirnya tidak jadi hendak berbuat jahat. Menurut cerita-nya semenjak hari itu mulalah babak baru dalam hidupnya. Ia telah berhijrah dari kejahatan kepada kemuliaan hidup, kepada jalan benar yang indah seperti yang digariskan Rasulullah s.a.w. Hingga di akhir hayatnya ia telah berubah menjadi mukmin yang salih dan mulia.

Written by Admin
Category: Adab
Hits: 222

 

ANTARA ZAHIR DAN HAKIKAT

Oleh: Naemah Muhammad

Ketika berdakwah di hadapan kaumnya, Nabi Musa menyatakan bahawa dirinya yang paling pandai dan luar biasa pengetahuannya. Oleh itu, Allah s.w.t. menegur Musa dan memerintahkannya untuk pergi menemui salah seorang hamba-Nya yang soleh.

Hamba Allah s.w.t itu ialah Nabi Khidir a.s. Kisah Nabi Khidir dan pertemuannya dengan Musa diceritakan dalam surah al-Kahfi ayat 60-82. Namanya memang tidak terdapat dalam ayat itu.

Baginda hanya disebut Abd, yang bererti hamba (Q.18:65). Meskipun demikian, para ahli tafsir berpendapat bahawa hamba yang dimaksudkan dalam ayat itu ialah Nabi Khidir yang menerima wahyu kenabian daripada Allah s.w.t dan mempunyai ilmu ghaib.

MUSA BERTEMU KHIDIR

Selepas mendapat perintah daripada Allah s.w.t, Nabi Musa pergi bersama-sama muridnya, Yusya bin Nun. Di tempat yang telah dinyatakan Allah s.w.t, Nabi Musa bertemu dengan Nabi Khidir. Baginda ingin belajar daripada Nabi Khidir dan meminta izin untuk mengikutnya mengembara.

Nabi Khidir bersetuju, namun dengan syarat bahawa Nabi Musa perlu bersabar dan tidak bertanya tentang perbuatannya semasa dalam perjalanan, hingga dijelaskan sendiri oleh Nabi Khidir kemudiannya. Syarat itu diterima Nabi Musa.

MELUBANGKAN PERAHU

Nabi Khidir mengembara bersama-sama Nabi Musa. Ketika mereka menaiki perahu, tiba-tiba Khidir melubangkan perahu tersebut. Nabi Musa hairan dan terus bertanya. Nabi Khidir lalu mengingatkan kesalahan Nabi Musa yang telah melanggar janjinya. Nabi Musa pun meminta maaf dan berjanji tidak akan bertanya lagi.

MEMBAIKI RUMAH

Dalam perjalanan Nabi Khidir dan Nabi Musa, mereka tiba di sebuah desa. Nabi Khidir berasa penat dan lapar. Namun, sewaktu baginda meminta tolong agar diberikan makanan dan tempat berteduh, tidak ada penduduk desa yang mahu menolong. Maka kedua-duanya terus berjalan.

Nabi Khidir kemudian ternampak sebuah rumah yang hampir roboh. Baginda kemudian membetulkan dan menegakkan kembali dinding rumah itu. Nabi Musa hairan menyaksikan Nabi Khidir menolong penduduk yang tidak mahu memberikan bantuan kepadanya. Baginda bertanya, tetapi Nabi Khidir kembali menegur Nabi Musa dan mengingatkan janjinya.

MEMBUNUH ANAK

Ketika Nabi Khidir dan Nabi Musa dalam perjalanan, mereka berjumpa dengan seorang anak kecil. Nabi Khidir lalu memanggil anak itu, lalu membunuhnya. Nabi Musa tercengang melihat perbuatan itu. Disebabkan lupa akan janjinya, Nabi Musa menanyakan maksud pembunuhan itu. Nabi Khidir menegur Nabi Musa yang tidak sabar dan lupa akan janjinya.

HIKMAH DARI SEGI MORAL

Oleh sebab Nabi Musa sudah tiga kali melanggar janji, Nabi Khidir meminta agar mereka berpisah. Namun, sebelum berpisah, Nabi Khidir menjelaskan maksud setiap perbuatannya. Perahu yang baginda lubangkan adalah milik nelayan miskin.

Perahu itu dilubangkan agar tidak dirampas oleh raja jahat yang mahukan perahu itu. Anak kecil dibunuh kerana anak itu cenderung berbuat jahat dan apabila dewasa kelak mendorong ibu bapanya yang mukmin kepada kesesatan.

Dan rumah yang baginda perbaiki merupakan milik dua orang anak yatim, dan di bawahnya terdapat harta peninggalan ibu bapanya. Dinding rumah itu diperbaiki agar harta anak yatim itu selamat dan menjadi bekalan apabila dewasa kelak.

Iktibar daripada kisah Nabi Khidir a.s. ialah manusia tidak seharusnya terburu-buru menghukum sesuatu perkara kerana setiap ketentuan Allah s.w.t. mempunyai hikmah yang tersembunyi. Kisah ini juga mengajar pentingnya adab dalam menuntut ilmu, iaitu bersikap rendah hati, sabar dan menepati janji walaupun memiliki ilmu dan kedudukan yang tinggi seperti Nabi Musa a.s.

Selain itu, ia mengingatkan bahawa ujian dan peristiwa yang kelihatan buruk pada zahirnya sebenarnya boleh membawa kebaikan dan perlindungan kepada hamba-hamba Allah yang beriman, serta membuktikan bahawa ilmu dan kebijaksanaan Allah melangkaui batas pemikiran manusia.

Written by Admin
Category: Adab
Hits: 208

Bacaan Popular


Baca topik

Terkini


TEMPAT NYAMAN TAMAN BACAAN MASA DEPAN ANDA-JOM KITA MENULIS!!! dhomir.com ingin mengajak dan memberi ruang kepada para penulis khususnya penulisan yang berkaitan dgn agama Islam secara mendalam dan sistematik.Jika anda ingin mencurahkan isi hati mahupun pandangan secara peribadi dhomir.com adalah tempat yang paling sesuai utk melontarkan idea. Dengan platform yang sederhana, siapa sahaja boleh menulis, memberi respon berkaitan isu-isu semasa dan berinteraksi secara mudah.Anda boleh terus menghantar sebarang artikel kepada alamat email:dhomir2021@gmail.com.Sebarang pertanyaan berkaitan perkara diatas boleh di hubungi no tel-019-3222177-Editor dhomir. com