Ensiklopedia

Keterangan ringkas & tepat mengenai pelbagai ilmu!

 

MERPATI, PEDATI, DAN SERIGALA

Oleh : Samsul Nizar  

Sungguh, manusia begitu buta kebenaran. Padahal, semua ciptaan-Nya yang ada di alam semesta merupakan kumpulan ayat-Nya untuk menuntun dan menyadarkan manusia. Hal ini sesuai firman-Nya : "... Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia..." (QS. Ali Imran : 191).

Menurut Ibn Katsir, ayat di atas menjelaskan kesadaran pemilik sifat ulul albab (berakal sehat). Keselarasan antara zikir (mengingat Allah) dengan fikir (merenung-kan ciptaan-Nya). Hanya saja, manusia acapkali tak pernah menyadari, bahkan mengingkarinya. Untuk itu, Allah menegur sifat manusia yang mengingkari ayat dan nikmat-Nya dalam QS. ar-Rahman (33 kali).

Di antara ayat kauniah-Nya yang menjelas-kan karakter manusia melalui merpati, pedati, dan serigala. Sekilas, ketiganya tampak biasa dan tak ada kaitannya. Padahal, ketiganya menjelaskan cerminan watak manusia. Adapun i'tibar atas karakter yang dimaksud antara lain :

Pertama, Karakter burung merpati. Burung merpati memiliki sifat setia pada pasangan-nya seumur hidup. Ia suka hidup berkelompok, dan ramah pada manusia. Meski burung merpati jinak, tapi punya harga diri. Ia terlihat ramah dan mudah mendekat ketika diberi makan, namun cepat meng-hindar saat hendak dipegang. Memiliki pembawaan yang lembut dan tidak agresif, tapi memiliki kewaspadaan yang tinggi.

Sifat yang diabadikan dalam pepatah "jinak-jinak merpati". Ungkapan ini digunakan untuk menggambarkan sikap manusia yang tampak manis dan ramah, tetapi  sebenarnya susah didekati atau sulit ditaklukkan hatinya. Sebab, ia memiliki harga diri yang hanya ditundukan oleh "hati dan akal budi", bukan tumpukan pundi.

Burung merpati merupakan hewan yang memiliki daya ingat kuat (navigasi) untuk mengenali arah pulang ke sarangnya (homing instinct). Sifat kesetiaan dan tau jalan pulang membuatnya hewan yang tak lupa pada janji. Untuk itu, leluhur menggunakannya sebagai nasehat yang tertuang dalam pepatah "merpati tak pernah ingkar janji". Frasa ini berpijak pada sifat biologis burung merpati yang setia hidup monogami. Untuk itu, burung merpati dipakai sebagai hewan penyampai pesan yang dipercaya. Sebab, ia menjaga kejujur-an (amanah) tanpa pernah mengkhianatinya.

Kedua, Karakter pedati. Umumnya, pedati merupakan gerobak atau kereta tradisional untuk mengangkut barang yang ditarik oleh hewan seperti kerbau, sapi, keledai, atau kuda. Akibat beban yang berat, lelah, atau tak memahami tugas dan fungsinya, hewan yang menarik pedati biasanya perlu diarahkan, disuruh, dan sesekali "dicambuk" agar bekerja. Hewan penarik pedati tak memiliki inisiatif untuk melaksanakan tugasnya. Dalam konteks sifat atau karakter, istilah "manusia pedati" sering digunakan untuk menjelaskan tipologi manusia "pemalas" tanpa kreativitas. Motivasi kerja bagaikan hewan penarik pedati yang menunggu arah-an. Tipikal manusia yang mau bergerak atau bekerja jika mendapat dorongan, tekanan, atau "pecutan" dari luar. Pemilik karakter ini tak memiliki inisiatif atau motivasi internal yang kuat untuk maju. Ia akan bertindak atau bekerja cepat ketika menghadapi ancaman, teguran,  tekanan, hadiah, atau pujian dari atasan (lingkungan). Karakter ini cenderung pragmatis, pasif, dan selalu memperhitungkan untung rugi dalam menjalankan tugasnya. Melaku-kan aktivitas hanya untuk menghindari rasa sakit (hukuman), aman, maka, minum, atau ingin penghargaan sesaat, bukan atas kesadaran dari dalam diri (profesional).

Ketiga, Karakter serigala yang cerdas, berani, setia hanya pada "kawanannya", dan memiliki struktur kekeluargaan yang kuat (nepotisme). Serigala memiliki sifat kerja sama yang tinggi, naluri teritorial, dan kepemimpinan untuk melindungi anggota kelompoknya. Namun, serigala termasuk hewan yang sangat licik untuk mencapai tujuannya. Untuk itu, wajar bila leluhur mengingatkan agar waspada terhadap karakter serigala melalui pepatah "bagaikan serigala berbulu domba". Ungkapan yang menggambarkan sifat seseorang yang tampangnya terlihat baik, sopan, ramah, atau penurut. Tampilan untuk menutupi sifat aslinya yang licik, kejam, munafik, dengki, dan berniat buruk untuk menipu atau mencelakakan orang lain

Penampilan yang anggun dan lembut bak bulu domba. Tapi, sifat aslinya merupakan sosok pemangsa yang sangat berbahaya. Pepatah di atas digunakan sebagai peng-ingat agar selalu waspada terhadap sosok manusia munafik. Tampil dengan bungkus (asesoris) kesalehan dan kebaikan. Sering memuji dan seakan begitu peduli atau baik hati. Padahal, nyatanya menusuk dari belakang dengan menyebar fitnah (gosip), manipulatif, atau  memanfaatkan kebaikan (kepercayaan) orang lain demi keuntungan pribadi.

Karakter "serigala berbulu domba" acapkali terlihat nyata. Sifat yang dinukil-kan Allah mrlalui firman-Nya : "Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata, kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada me-reka. Mereka itulah musuh (yang sebenar-nya), maka waspadalah terhadap mereka ; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari kebenaran) ?" (QS. al-Munafiqun : 4).

Menurut Ibn Katsir, ayat di atas menjelaskan sifat orang munafik. Tampil begitu mengagumkan, menarik, dan tutur katanya begitu baik.  Namun, hatinya penuh dengki, pengecut, keimanan yang rapuh, dan begitu khawatir kemunafikannya akan terbongkar. Potensi sifat manusia bak "serigala berbulu domba" dapat menerpa lintas strata sosial. Fenomena OTT oknum rektor bagaikan "jam dinding". Terpampang nyata "jarum jam" menunjuk pada angka-angka tertentu.

Meski kadangkala mata hanya tertuju pada angka yang ditunjuk jarum, tapi luput dari angka yang diucap oleh lisan dengan digit yang sulit dibayangkan (fa8ntastis). Sungguh pilu melihat dunia pendidikan akhir zaman. Mungkin yang tampil hanya orkestra manusia terpelajar sebatas gelar, untaian kata integritas ketika di podium, tertulis di kertas, pajangan di kantor, atau varian lainnya. Namun, semua bak "tong kosong nyaring bunyinya".

Sungguh, OTT masih fokus melihat pada hasil dan "target", belum mengarah pada hulu sampai hilir penyebab perilaku nista. Tak mungkin suatu kejahatan dilakukan tanpa alasan di hulu dan "dermaga" untuk membongkar semua yang "dikumpulkan" (disetorkan). Andai hanya sekedar "nafsu personal", mungkin angkanya terbatas. Tapi bila bertujuan memenuhi "nafsu komunal", maka angkanya akan semakin membesar tak terbatas dan tak terkendali. Anehnya, menyingkap tabir misteri yang begitu terang justeru terasa begitu sulit. Kayaknya, lebih mudah menyingkap misteri makhluk alam ghaib yang tak terlihat.

Sungguh, OTT dunia akademik yang terkuak hanya bak permukaan salju (puncak gunung es) yang "lagi apes". Andai penyisiran dilakukan objektif bak "sinar matahari", sebenarnya masih banyak gunung es lainnya yang memiliki butiran kristal busuk yang serupa, lebih "bersalju", bahkan --mungkin-- lebih dingin tapi keras melebihi batu cadas, dan "memukau". Mungkin para pendaki tunggu perintah, tak dapat perintah, atau terhenti oleh suguhan "kopi panas" yang menghangat-kan tubuh.

Sebab, di kaki gunung dan jalan setapak menuju puncak begitu banyak "warung" yang menyediakan beraneka menu makanan hangat dan mengundang selera. Andai para pendaki kuat menahan "aroma kopi", mungkin lebih banyak dan besar gunung es yang bisa "ditaklukan" dan saljunya bisa diciduk. Semua hanya beda tempat, waktu, subjek, objek, besaran, atau cara "serigala berbulu domba" memainkan perannya "bermain salju". Tapi, substansinya sama, yaitu mengeruk habis butiran es-es yang ada. Semua dilakukan lewat jurus aji mumpung, kooperatif, balas budi, investasi, "terikat janji", masa bodoh, dan varian lainnya.

Meski banyak "bongkahan es" yang telah terbongkar dan terpublikasi begitu nyata, tapi anehnya sebagian "serigala berbulu domba" justeru tampil anggun dan tak bisa tersentuh. Begitu "digdaya" untuk diadili. Bahkan, segelintir mantan warga "prodeo" (jelas salah) justeru diberi kepercayaan untuk menjaga dan bicara lantang tentang integritas, etika atau moral. Semua tampil mulia tanpa nista. Mungkin kejahatan begitu mulia dan terhormat. Padahal, semua perilaku dan kata yang diucapkan berjalan terbalik dengan ajaran agama dan logika hukum. Atau mungkin kebenaran (agama dan hukum) hanya objek untuk "dijual dan dipermainkan" dengan orkestra sumbang yang memekakkan telinga dan membutakan mata hati. Sebab, hukuman terhadap pelaku amoral secara hukum positif tanpa sanksi sosial, tak mampu membuat efek jera.

Sungguh dunia bagaikan panggung sandiwara. Karakter merpati yang amanah telah punah atau "dipunahkan". Karakter pedati yang pemalas tapi penurut lebih dihargai. Sedangkan karakter serigala berkembang-biak dan "dibiakan"). Hanya berharap hadir dongeng Pinokio di dunia nyata. Dongeng yang bisa menunjukan kebenaran. Setiap melakukan kebohongan, maka hidung akan memanjang dan kejahatan tak bisa ditutupi.  

Sungguh, Islam tegas menjelaskan ketika dusta dan kebohongan hadir, pertanda iman telah sirna (QS. an-Nahl : 105). Indikasinya, nama Allah dan agama dijadikan sandaran pemanis bibir. Sumpah yang diucap untuk meyakinkan seakan berada di pihak yang benar. Padahal, semua ucapan-nya bertentangan dengan realitas kebenar-an yang ditutupi (QS. al-Munafiqun : 2). Memang, manusia penipu dan bisa ditipu dengan modal kemunafikan berbungkus topeng kesalehan. Tapi, Allah Maha Tau dan tak bisa ditipu (QS. at-Taghabun : 4). Pada waktunya, Allah akan membalas semua tipu daya yang dilakukan dengan tipuan yang sangat pedih (QS. Ali Imran : 54). Sungguh, Allah tak pernah mengingkari semua janji-Nya (QS. ar-Rum : 6). Sebab, setiap tanaman akan berbuah. Ketika waktu-nya tiba, semua tanaman akan dipetik oleh si penanamnya. Setidaknya di akhirat kelak. Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***

Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis

Sumber: jawapos.com

 

Written by Admin
Category: Penyejuk Jiwa
Hits: 138

 

SYARIAT MENUNTUT KITA MERAYAKAN MAULID NABI

Nabi Muhammad SAW bukan sahaja seorang manusia amat sempurna perilaku dan tutur katanya, bahkan baginda adalah seorang yang rendah hati dan sentiasa mentaati perintah Allah SWT. Atas peribadi yang cukup rendah hati, bertoleransi (adil dan tegas), baginda berjaya memimpin dan memandu manusia untuk hidup dengan kasih sayang dan penuh kemesraan.

Bahkan dalam kehidupan berkeluarga, baginda sentiasa menjadi suri teladan sepanjang zaman dalam membahagiakan hati dan menguruskan emosi sehingga disayangi oleh setiap orang yang mengenalinya semasa hayatnya dan juga setelah kewafatannya.

Kita sebagai umat Islam sangat beruntung kerana Allah SWT telah mengutuskan seorang Nabi dan rasul yang menjadi pemimpin para Nabi dan rasul, yang menuntun kita ke jalan yang dikehendaki oleh Allah SWT dengan menunjukkan contoh teladan terbaik, yang kita sangat perlukan sebagai hamba Allah yang serba lemah ini.

Dalam menghadapi kehidupan ini, Allah SWT sentiasa mengingatkan kita agar sentiasa mengingati-Nya, mencintainya kerana pada dirinya (Muhammad) adalah suri teladan terbaik yang tidak dapat kita perolehi daripada orang lain.

Mencintai Rasulullah SAW pasti akan menjadi paksi seluruh kehidupan kita. Di mana sahaja orang membicarakan tentang kemuliaan Nabi SAW, kita juga akan bersama menghayati sejarah hidupnya dan sunahnya. Kita akan menggabungkan diri dengan orang-orang yang mencintainya. Sudah tentu kita akan berasa bahagia ketika menyaksikan orang yang memuliakan baginda, sebaliknya menjadi amat kecewa apabila ada yang cuba mencaci dan memperlekehkan baginda.

Meneladani perilaku Nabi Muhammad tidak dapat direalisasikan hanya dengan mempelajarinya. Kita harus memasukkan cinta kepada baginda terlebih dahulu ke lubuk hati dengan rasa insaf dan rendah diri. Setelah rasa cinta tertanam, maka dengan mudah ia akan membangkitkan nikmat dan rahmat dalam setiap tindakan kita dan dengan semangat itulah, ia akan membangkitkan gerakan kita untuk meneladani Rasulullah saw.

Mencintai Rasulullah SAW menjadi satu keharusan dalam iman. Ia menjadi prinsip, bukan pilihan suka atau tidak suka. Seorang muslim harus menyimpan rasa cinta kepada Nabi Muhammad. Idealnya, kita akan mencintai baginda lebih daripada segala sesuatu yang lain, bahkan diri sendiri. Justeru, hari kelahirannya dikira 'hari Allah' yang bersejarah dalam agama Allah dan diperintahkan untuk memperingatinya seperti mana firman-nya yang bermaksud: "...dan peringatkanlah mereka dengan hari-hari Allah (peristiwa agama yang bersejarah bagi suatu ummah)." (maksud Surah Ibrahim: 5)

Bagi umat Islam hari ini, tiada suatu nikmat lain yang lebih besar daripada kelahiran dan kedatangan junjungan besar Rasulullah SAW ke alam maya ini. Baginda diutuskan sebagai rahmat untuk alam semesta.

Menyedari kedudukan baginda sebagai ikutan dan teladan, menuntut kita tidak terpaku dalam kelakuan (kelaziman) lahiriah dan melupakan hakikat ajarannya yang sebenar. Lebih daripada itu harus disedari bahawa ajaran Rasulullah berorientasikan kepada usaha perpaduan kemanusiaan.

Namun perpaduan yang diajarkan itu tidak meleburkan perbezaan tetapi tetap menghormati setiap perbezaan antara kaum kerana setiap daripada mereka telah memilih jalan kehidupan sendiri, sehingga mereka harus mencapai prestasi kebajikan masing-masing.

Dalam konteks kehidupan masyarakat majmuk kita telah berjaya membawa keserasian sosial di negara ini, dan ia adalah salah satu hakikat daripada ajaran Nabi Muhammad SAW kita amat bersyukur kerana dunia tertumpu kepada kita dengan penuh penghargaan bahawa ajaran Nabi Muhammad SAW terpancar dalam kehidupan bangsa Malaysia.

Islam di Malaysia, menurut pandangan dunia luar, menampakkan wajah-wajah yang menarik dan karakternya yang memikat sebagai kerahmatan lil alamin (sebagai rahmat bagi seluruh alam, seluruh manusia) jauh daripada radikalisme dan ekstremisme yang melanda dunia masa kini.

Mereka mengagumi pendekatan keagamaan kita, mereka menunjuki Malaysia sebagai model alternatif bagi kewujudan kerukunan hidup antara umat beragama di permukaan bumi ini. Ramai di kalangan cendekiawan muslim terkenal meramalkan bahawa Islam yang indah, sejuk dan menarik yang menghidupkan kembali nilai-nilai luhur, toleransi daripada ajaran Nabi Muhammad SAW akan menyingsing dari bumi Malaysia.

Jelas sekali bahawa pengamalan agama dalam masyarakat Malaysia merupakan model yang paling dekat dengan nilai Al-Quran dan sunah Nabi Muhammad SAW banyak kalangan kita yang menganggap bahawa kerukunan hidup dalam masyarakat majmuk adalah hal yang biasa dan lumrah, kerana telah sebati dalam jiwa raga bangsa, sehingga prestasi ini tidak kita anggap suatu keunggulan dan keistimewaan yang patut diyakini.

Namun jika kita melihat dari dunia luar, kita akan tahu dan sedar betapa besar nikmat Allah yang dilimpahkan kepada bangsa kita. Nilai luhur bangsa serta ajaran toleransi Nabi Muhammad SAW telah berakar dalam jiwa, berkat kearifan dan jasa para pemimpin terdahulu yang kemudian diteruskan oleh pemimpin-pemimpin yang ada hari ini.

Pada hari ini, kita berkumpul dan berselawat sebagai tanda terima kasih dan mengingati perjalanan dakwah Rasulullah SAW kerana bimbingan dan petunjuk yang diteladani baginda telah membawa kita ke suatu fasa kehidupan yang lebih baik, kita dibebaskan daripada nilai-nilai jahiliah (kebodohan) akal, dan juga tingkah laku sehingga kita dapat membezakan makna kemanusiaan dan kebinatangan.

Namun, mungkin kerana kita mula merasakan ‘amar makruf dan nahi mungkar’ sebagai sesuatu doktrin yang lumrah, terlalu biasa maka kita seringkali mengabaikannya sehingga tercetus semula suasana gelisah, resah dan hidup dalam keadaan serba salah. Kita kadangkala ikut cemas, setiap hari ada cerita panas, ada kisah sedih dan ada tragedi kemanusiaan yang tidak dapat dielakan berlaku dalam masyarakat. Ia berlaku kerana kita mulai menyingkirkan pemahaman asas terhadap larangan yang wajib dijauhkan, iaitu nahi mungkar. Itulah sebabnya kita tidak dapat hidup tenang dan tenteram; kita hidup dalam aneka keserakahan. Kita cukup mudah terdorong untuk menyebelahi perilaku nahi mungkar kerana ia hadir dalam bentuk keseronokan dan pesona tertentu berbanding amar makruf yang kesannya tidak hadir dengan segera atau cepat .

Secara mudahnya, kita memahami bahawa nahi mungkar itu adalah apa sahaja yang dilarang atau wajib dijauhkan daripada pemikiran dan tindakan kita kerana ia berakhir dengan kerosakan atau masfadah. Amar makruf adalah perilaku atau tindakan yang amat dituntut dan digalakkan kerana ia membawa kebaikan (maslahah) secara menyeluruh dan lebih mendalam serta berkekalan.

Kebaikan itu bukan sahaja untuk diri sendiri, ia juga melimpah kepada orang lain, termasuk ahli keluarga, masyarakat dan negara.  Asas-asas amar makruf itulah telah menjadikan Islam sebagai satu cara hidup yang cukup berkesan dan faktor kenapa Islam mudah diterima oleh masyarakat jahiliah yang dianggap kasar dan gasar. Hati mereka berjaya dilembutkan kerana Nabi Muhammad SAW menunjukkan teladan yang cukup berkesan.

Menurut Imam Al-Ghazali amar makruf nahi mungkar merupakan ‘suatu keperluan hidup bermasyarakat’ dan disebut sebagai ‘paksi yang agung dalam agama’kerana masing-masing memerlukan satu sama lain. Oleh kerana ‘keperluan hidup bermasyarakat’, ahli-ahlinya wajib mematuhi tatacara dan sistem kehidupan yang ditetapkan; mengikuti segala ajaran agama dan menjauhi larangan bagi menjadi umat terbaik. Manusia hidup dalam ‘jaringan’ iaitu jaringan kehidupan dengan Allah SWT (hablum minnAllah) dan dengan sesama manusia (hablum minal nas).

Apa yang Al-Ghazali ingin tegaskan ialah amar makruf dan nahi mungkar sebagai tunjang utama yang akan menumbuhkan kebaikan dan melenyapkan kebatilan; ia mestilah berjalan seiringan kerana jika salah satunya ditinggalkan, akan menyebabkan ketimpangan.

Allah SWT berfirman dengan maksud:

“Mereka diliputi kehinaan di mana sahaja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan yang demikian itu kerana mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi tanpa alasan yang benar, yang demikian disebabkan mereka derhaka dan melampaui batas.”

Asas yang dirintis oleh Nabi Muhammad SAW juga menjadikan Islam cukup berpengaruh dan begitu cepat berkembang berbanding penyebaran agama-agama lain yang berlaku sebelumnya. Islam disebarkan bukan dengan cara kekerasan; Islam hadir dalam jiwa dan naluri penuh keinsafan bahawa ‘ia adalah cahaya’ yang sebenar-benarnya. Perilaku Nabi Muhammad SAW misalnya, menyebarkan dakwah secara berlemah lembut, bahkan baginda bertindak sebagai ‘pendidik’ dengan mengajar ‘apa yang tidak diketahui’ berdasarkan wahyu yang diterima.

Pendekatan sedemikian kemudiannya disambung oleh para sahabat, ulama dan pendidik selepas itu sehinggalah seorang orientalis dari United Kingdom, Sir Thomas W Arnold mengakui bahawa Islam cepat tersebar kerana pendekatan dakwahnya yang mudah difahami dan boleh diterima – down to earth – kerana Islam tidak bersifat elitis, yakni hanya membina kelompok elit agama.

Sumber kekuatan Islam ialah cara hidup yang dianjurkan sangat menekankan kepada prinsip ‘membina diri’ dan kemudiannya dikembangkan kepada orang lain. Membina diri bererti mendidik diri sendiri dengan keyakinan bahawa Allah SAW adalah Tuhan yang Maha Esa manakala Nabi -Nabi adalah pesuruh Allah SWT yang berperanan sebagai pembimbing dan pemimpin. Islam juga memberikan ‘kuasa kepimpinan’ kepada setiap orang, tetapi ‘kuasa’ itu hadir dengan tanggungjawab dan perlu dilaksanakan secara beramanah.

Prinsip kepimpinan membawa pengertian ada hubungan dengan orang lain. Dalam unit yang kecil, kepimpinan itu boleh dilihat dalam kehidupan keluarga, dan yang menjadi pemimpin itu diberikan tanggungjawab untuk mencorakkan bentuk dan nilai kekeluargaan tersebut. Dan, tentunya, sebuah keluarga yang bahagia berasaskan nilai-nilai iman dan taqwa.

Dalam kehidupan berumah tangga, Nabi Muhammad SAW telah memberikan kita contoh teladan terbaik, tidak melebih-lebihkan kehidupan dengan kebendaan sebaliknya meyakinkan mereka (isteri-isteri mengenai peranan dan tanggungjawab masing-masing), sangat sederhana.

Baginda tidak meninggalkan kekayaan harta benda untuk direbut, tetapi yang ditinggalkan ialah didikan dan amalan baik, agar dijadikan panduan dan pedoman, dalam usaha membina kehidupan ummah yang sejahtera, kehidupan ummah yang mendapat keredhaan, kehidupan ummah yang mendapat berkat dan rahmat illahi.

Tentunya, jika kita membaca pelbagai sirah baginda, kita akan menemui sesuatu yang cukup istimewa peribadi yang ditunjukkan olehnya. Kita menemukan semangat dan jiwa kental Nabi Muhammad SAW berhadapan dengan cabaran tatkala memula, menyebar dan memperkemaskan dakwah. Baginda ‘tidak berganjak’ dengan pelbagai ancaman, ugutan dan tawaran--tawaran yang menggiurkan; baginda terus beristiqomah dan hidup dengan cukup sederhana atau kadangkala sanggup ‘menahan lapar’ kerana sedar bahawa kehidupan yang bergelumang dengan kebendaan dan kemewahan akan memadamkan semangat untuk terus berdakwah.

Itulah juga yang diperkatakan oleh Imam Al-Ghazali dalam memperbaharui ‘jiwa agama’ setelah masyarakat yang berada pada zamannya – abad pertengahan dan pada masa Daulah Abasiyyah – cukup berkecamuk dengan konflik politik dan kerakusan para elit menguasai harta serta berfoya-foya. Keadaan masyarakat ketika itu, berkecamuk dengan pelbagai aliran pemikiran telah menyebabkan umat Islam berada dalam suasana ‘berpecah-belah’ dan sekelompok yang lain berusaha mendominasi.

Al-Ghazali mengambil pendekatan melakukan reformasi moral dengan berpaksikan Al-Qur’an dan Sunnah; tanpa rasa takut kepada serangan oleh mereka yang telah menyingkirkan ‘wahyu’ sebagai sumber ‘kekuatan Islam’ dengan menggantikan kekuatan akal. Al-Ghazali cekap berhadapan dengan serangan-serangan tersebut, bahkan beliau sentiasa mencari hujah untuk mematahkan serangan-serangan sehingga beliau mampu membangunkan sebuah asas pemikiran yang kuat, dan cukup berpengaruh hingga ke hari ini.

Apa yang dilakukan oleh Al-Ghazali itu menunjukkan bahawa dengan kekuatan ilmu dan kefahaman terhadap Al-Qur’an, umat Islam tidak akan ‘tersesat’ dan mengalami ‘kesempitan hidup’ sebagaimana yang sedang kita hadapi pada masa ini meskipun daripada perspektif kemudahan dan kebendaan, ia melampaui apa yang ada dan dimiliki oleh umat Islam pada abad pertengahan.

Umat Islam pada zaman tersebut terus cekal dan hidup dalam keyakinan yang lebih baik, kerana mereka sangat mencintai agama dan ilmu pengetahuan. Mereka bukan sahaja muncul sebagai pemikir yang cemerlang bahkan sebagai pemimpin yang terbilang.

Al-Ghazali boleh dianggap sebagai ‘penyambung’ kepada kebenaran dan kehebatan ilmu pengetahuan, kerana menerusi ilmu pengetahuan itulah semangat dan jiwa yang kental dapat terbina. Atas sifat dan sumbangan itu Al-Ghazali menjadi model yang cukup besar dalam dunia intelektual Islam, bahkan asas-asas reformasi akhlak yang disampaikan itu berjaya meletakkan Islam sebagai sebuah kekuatan sekali lagi sehingga mampu mengharungi rempuhan pemikiran dan kegoncangan jiwa umat Islam di seluruh dunia, termasuk di nusantara.

Tentunya, dalam membina ‘keluarga besar muslim’, apa yang kita harapkan akan lahirnya sebuah perpaduan yang lebih kuat, sebagaimana Al-Ghazali perkatakan menerusi pembinaan peribadi dan pembangunan karakter, termasuk dalam kehidupan berkeluarga. Tetapi, apa yang disaran, dikupas dan dianjurkan oleh Al-Ghazali adalah sesuatu yang sangat dekat dengan perilaku Nabi Muhammad SAW, tetapi diterapkan menerusi pendekatan ‘penyucian jiwa’.

Malangnya, apabila kita bercakap mengenai ‘penyucian jiwa’ ramai di antara umat Islam sendiri melahirkan rasa takut dan bimbang, kerana istilahnya dalam bahasa arab adalah tasawuf. Tasawuf, dilihat sebagai suatu ‘pelarian’ dan juga kaedah yang tidak selari dengan pemikiran rasional, serta antisosial apabila proses penyucian jiwa itu menjadikan seseorang meninggalkan nikmat hidup di dunia. Pengamal tasawuf juga dianggap mereka yang aneh, bahkan ada yang menggelarnya sebagai ‘manusia tidak rasional’.

Tentunya, apabila ‘jiwa kita bersih’, kita mampu hidup dengan sejahtera. Bahkan ketika kita berhadapan dengan masalah, jiwa kita menjadi tidak tenteram. Jiwa yang tidak tenteram itulah membangkitkan pelbagai keburukan sehingga ada yang berakhir dengan tragedi. Ertinya, untuk hidup yang lebih baik, kita sepatutnya mampu membersihkan jiwa, dan pembersihan jiwa adalah pemangkin yang mampu menawarkan solusi terbaik untuk hidup bahagia dan sejahtera.

Hakikatnya, kita kadangkala dilanda kemelut diri sehingga kita sukar untuk meletakkan semula sempadan antara amar makruf dan nahi mungkar, kerana kita merasakan agama itu hanyalah sebuah kepercayaan atau asas yang dibentuk oleh budaya, sedangkan Islam yang disebarkan oleh Nabi Muhammad SAW adalah ‘cara hidup’ bukan sekadar budaya dan kepercayaan.

Ia suatu sistem kehidupan yang menyeluruh, teratur dan berkerangkakan keyakinan bahawa Allah SWT adalah penentu segala-galanya. Tanpa petunjuk dan izin-nya, apa yang kita inginkan, rancang dan cita-citakan tidak akan menjadi kenyataan. Itulah doktrin Islam yang wajib diyakini sedalam-dalamnya, selagi kita sedar bahawa kita hanya makhluk yang diciptakan oleh-Nya. 

Jika perbezaan pandangan atau pendapat itu dalam bentuk aliran pemikiran atau di peringkat ranting, ia wajar dihormati kerana ia tidak akan mematikan pokok asalnya. Itulah sebenarnya semangat yang kita inginkan ketika kita menyambut ulangtahun kelahiran junjungan besar Nabi Muhammad SAW, kerana baginda telah membuktikan setiap wasilah dan manhaj yang dilaksanakan sangat berkesan dalam membangunkan sebuah kehidupan yang harmoni, sejahtera dan cemerlang, sehingga Islam mampu menguasai lebih sepertiga wilayah di dunia sepanjang empat belas abad lama, yakni sebelum kejatuhan empayar uthmaniyyah pada dekad kedua abad ke-20 (1924).

Apa yang kita dapat pelajari daripada sejarah Rasulullah SAW ialah kepimpinan baginda tidak bersifat retorik, ia dibangun dan disuburkan dengan niat yang ikhlas, pengorbanan yang jujur dan kewajipan memperkasakan amar makruf nahi mungkar, adab pekerti yang mulia dan tindakan yang luhur. Jika ini dapat kita lakukan dalam seluruh aspek kehidupan, kita akan menemui jalan kehidupan yang penuh dengan kekuatan dan jiwa yang tenang.

Catatan: Ibnu Majid

Written by Admin
Category: Penyejuk Jiwa
Hits: 170

 

ILMUWAN JUGA PERLU ADA TANGGUNGJAWAB POLITIK

Di sebalik dunia ilmu yang luas, ada tokoh yang tidak sekadar mengkaji dan menulis, tetapi turut memikirkan nasib masyarakat dan arah masa depan umat. Hassan Hanafi ialah antara pemikir yang menghubungkan ilmu, pembaharuan dan tanggungjawab terhadap masyarakat. Perjalanan hidup serta pemikirannya memperlihatkan bagaimana seorang ilmuwan turut berdepan dengan persoalan politik, sosial dan perubahan zaman. 

Tokoh ini dilahirkan pada 13 Februari 1935 di Kaherah; tepatnya di daerah Al-Azhar. Kota ini merupakan tempat bertemunya para mahasiswa Muslim dari seluruh dunia untuk belajar, terutama di Universiti Al-Azhar. Dari sudut sejarah dan budaya, kota Mesir itu memang telah dipengaruhi peradaban-peradaban besar sejak zaman Firaun, Romawi, Byzantium, Arab, Mamluk dan Turki, bahkan hingga Eropah moden. Hal ini menunjukkan bahawa Mesir, terutama kota Kaherah, mempunyai makna besar dan penting bagi perkembangan awal tradisi keilmuan Hassan Hanafi.

Pada zaman kanak-kanak dan remaja, Hassan Hanafi berhadapan dengan kenyataan hidup di bawah penjajahan dan dominasi pengaruh bangsa asing. Kenyataan itu membangkitkan sikap patriotik dan nasionalismenya, sehingga tidak hairanlah meskipun masih berusia 13 tahun, beliau telah mendaftarkan diri untuk menjadi sukarelawan perang melawan Israel pada tahun 1948. Bagaimanapun permohonannya itu ditolak oleh Pemuda Muslimin kerana menganggap usianya masih terlalu muda. Di samping itu beliau juga dianggap bukan berasal dari kumpulan Pemuda Muslimin. Beliau kecewa, namun menyedari bahawa di Mesir ketika itu telah berlaku masalah perpecahan di kalangan beberapa pertubuhan Islam.

Ketika masih di bangku sekolah, pada tahun 1951, Hassan Hanafi menyaksikan sendiri bagaimana tentera Inggeris membunuh para syuhada di Terusan Suez. Bersama-sama dengan para mahasiswa, beliau mengabdikan diri untuk membantu gerakan revolusi yang telah dimulai pada akhir tahun 1940-an hingga revolusi itu meletus pada tahun 1952. Atas saranan anggota-anggota Pemuda Muslimin, pada tahun itu juga beliau tertarik untuk memasuki pertubuhan Ikhwanul Muslimin. Bagaimanapun, dalam pertubuhan Ikhwan pun berlaku pergolakan yang sama dengan apa yang terjadi dalam pertubuhan Pemuda Muslimin. Kemudian Hassan Hanafi kembali disarankan oleh para anggota Ikhwan untuk bergabung dalam pertubuhan Mesir Muda. Ternyata keadaan dalam Mesir Muda sama dengan kedua-dua organisasi sebelumnya. Hal ini mengakibatkan ketidakpuasan Hassan Hanafi akan cara berfikir golongan muda Islam yang berpecah-belah.

Kekecewaan ini menyebabkan beliau memutuskan untuk mengalihkan tumpuan bagi mendalami pemikiran-pemikiran keagamaan, revolusi, dan perubahan sosial. Ini juga yang menyebabkan beliau lebih tertarik pada pemikiran-pemikiran Sayyid Qutb, seperti tentang prinsip-prinsip Keadilan Sosial dalam Islam. Sejak tahun 1952 hingga 1956, Hassan Hanafi belajar di Universiti Kaherah untuk mendalami bidang filsafat. Pada fasa pertama pengajiannya ini, beliau merasakan situasi yang paling buruk telah terjadi di Mesir. Pada tahun 1954 misalnya, terjadi pergolakan yang hebat antara Ikhwan dengan gerakan revolusi. Hassan Hanafi berada di pihak Muhammad Najib yang berhadapan dengan Gamal Abdul Nasser, kerana baginya Najib memiliki komitmen dan visi keislaman yang jelas.

Peristiwa-peristiwa yang beliau alami pada masa itu, terutama yang beliau hadapi di kampus, membuatnya bangkit menjadi seorang pemikir, pembaharu, dan reformis. Keprihatinan yang muncul ketika itu adalah mengapa umat Islam sering dapat dikalahkan dan konflik dalaman terus-menerus terjadi. Tahun-tahun berikutnya, Hassan Hanafi berkesempatan belajar di Universiti Sorborne, Perancis, pada tahun 1956 hingga 1966. Di sini beliau memperoleh lingkungan suasana yang ´tenteram´ untuk mencari jawapan akan persoalan-persoalan mendasar yang sedang dihadapi oleh negaranya, sekali gus merumuskan jawapan-jawapannya. Di Perancis inilah beliau dilatih untuk berfikir secara metodologis melalui kuliah-kuliah mahupun bacaan daripada karya-karya para orientalis. Beliau sempat belajar daripada seorang reformis Katholik, Jean Gitton, tentang metodologi berfikir, pembaharuan, dan sejarah filsafat. Beliau belajar fenomenologi daripada Paul Ricouer, analisis kesedaran daripada Husserl, dan bimbingan penulisan tentang pembaharuan Usul Fiqh daripada Profesor Masnion.

Semangat Hassan Hanafi untuk mengembangkan tulisan-tulisannya tentang pembaharuan pemikiran Islam semakin marak sejak beliau pulang dari Perancis pada tahun 1966. Bagaimanapun, kekalahan Mesir dalam perang menentang Israel pada tahun 1967 telah mengubah niatnya itu. Beliau kemudian ikut serta dengan rakyat berjuang dan membangun kembali semangat nasionalisme di Mesir. Dari sisi lain, untuk menunjang perjuangannya itu, Hassan Hanafi juga mulai memanfaatkan pengetahuan-pengetahuan akademik yang telah diperolehnya dengan menggunakan media massa sebagai wadah perjuangannya. Beliau menulis banyak artikel untuk menanggapi masalah-masalah sebenar dan mencari punca faktor kelemahan umat Islam.

Hassan Hanafi mengajar di Universiti Kaherah dan beberapa universiti di luar negara. Beliau sempat menjadi profesor tamu di Perancis (1969) dan Belgium (1970). Kemudian, antara tahun 1971 hingga 1975, beliau mengajar di Universiti Temple, Amerika Syarikat. Pemergiannya ke Amerika, sesungguhnya berpunca daripada ´salah faham´ pemerintah terhadap aktivitinya di Mesir, sehingga beliau diberikan dua pilihan – apakah beliau akan tetap meneruskan aktivitinya itu atau pergi ke Amerika Syarikat. Kenyataannya, aktivitinya yang baru di Amerika memberinya kesempatan untuk banyak menulis tentang dialog antara agama dengan revolusi. Sesudah kembali dari Amerika, beliau mula menulis tentang pembaruan pemikiran Islam. Beliau kemudian memulakan penulisan buku Al-Turats wa Al-Tajdid. Karya ini, ketika itu, belum sempat beliau selesaikan kerana beliau dihadapkan pada gerakan anti-pemerintah Anwar Sadat yang pro-Barat dan bersekongkol dengan Israel. Beliau terpaksa terlibat untuk membantu menjernihkan suasana melalui tulisan-tulisannya yang ´mengalir´ antara tahun 1976 hingga 1981. Tulisan-tulisannya itulah yang kemudian disusun kembali menjadi buku Al-Din wa Al-Tsaurah.

Sementara itu, dari tahun 1980 hingga 1983, beliau menjadi profesor tamu di Universiti Tokyo, dan pada tahun 1985 di Emeriyah Arab Bersatu. Hassan Hanafi sering berkunjung ke Belanda, Sweden, Portugal, Sepanyol, Perancis, Jepun, India, Indonesia, Sudan, Arab Saudi dan beberapa buah negara lain antara tahun 1980 hingga 1987. Pengalaman pertemuannya dengan para pemikir besar di negara-negara tersebut telah menambah wawasannya untuk semakin memahami persoalan-persoalan yang dihadapi oleh dunia Islam. Maka, daripada pengalaman hidup yang beliau peroleh sejak masih remaja membuat beliau memiliki world view yang begitu besar terhadap persoalan umat Islam. Oleh hal yang demikian itu, meskipun tidak secara sepenuhnya mengabdikan diri dalam sesebuah pertubuhan atau pergerakan tertentu, beliau banyak terlibat secara langsung dalam kegiatan-kegiatan pertubuhan-pertubuhan yang ada di Mesir. Sedangkan pengalamannya dalam bidang akademik dan intelektual, baik secara formal mahupun tidak, dan pertemuannya dengan para pemikir besar dunia semakin mempertajam analisis dan pemikirannya sehingga mendorong hasratnya untuk terus menulis dan mengembangkan pemikiran-pemikiran baru demi membantu menyelesaikan persoalan-persoalan besar umat Islam.

Untuk memudahkan huraian pada bahagian ini, kita dapat mengklasifikasikan karya-karya Hassan Hanafi dalam tiga fasa sebagaimana yang dilakukan oleh beberapa penulis yang telah lebih dahulu mengkaji pemikiran tokoh ini. Fasa pertama berlangsung pada tahun-tahun 1960-an; fasa kedua pada tahun-tahun 1970-an, dan fasa ketiga dari tahun-tahun 1980-an hingga 1990-an.

Pada awal dekad 1960-an, pemikiran Hassan Hanafi dipengaruhi oleh fahaman-fahaman dominan yang berkembang di Mesir, iaitu nasionalistik-sosialistik kependudukan yang juga dirumuskan sebagai ideologi Pan-Arabisme, dan disebabkan oleh ´suasana kebangsaan´ yang kurang memberangsangkan sesudah kekalahan Mesir dalam perang melawan Israel pada tahun 1967. Pada awal dekad ini pula (1956-1966), sebagaimana telah dikemukakan di atas, Hassan Hanafi menjalani pengajian di Perancis. Di Perancis inilah, Hassan Hanafi lebih banyak menekuni bidang-bidang filsafat dan ilmu sosial dalam kaitannya dengan hasrat dan usahanya untuk melakukan rekonstruksi pemikiran Islam.

Untuk tujuan rekonstruksi itu, sepanjang berada di Perancis beliau melakukan penelitian dan penyelidikan terutama tentang metode interpretasi sebagai upaya pembaharuan bidang ushul fikh (teori hukum Islam, “Islamic legal theory”) dan tentang fenomenologi sebagai metode untuk memahami agama dalam konteks realiti kontemporari. Penelitian itu sekali gus merupakan usahanya untuk meraih gelaran doktor daripada Universiti Sorbonne (Perancis), dan beliau berhasil menyelesaikan disertasi yang berjudul Essai sur la Methode d Exegese (Esei tentang Metode Penafsiran). Karya setebal 900 halaman itu menerima penghargaan sebagai karya ilmiah terbaik di Mesir pada tahun 1961. Dalam karyanya itu, jelas Hassan Hanafi berjaya menghadapkan ilmu ushul fikh pada mazhab filsafat fenomenologi Edmund Husserl.

Pada awal pemikirannya itu, tulisan-tulisan Hassan Hanafi masih bersifat ilmiah ´murni´ atau belum teruji keampuhannya. Bagaimanapun, pada akhir dekad itu beliau mulai berbicara tentang keharusan Islam untuk mengembangkan wawasan kehidupan yang progresif dan berdimensi pembebasan (taharrur, liberation). Beliau mensyaratkan fungsi pembebasan – jika memang itu yang diinginkan Islam – agar dapat membawa masyarakat kepada kebebasan dan keadilan, khususnya keadilan sosial, sebagai ukuran utamanya. Struktur yang populistik adalah manifestasi kehidupannya dan kebulatan kerangka pemikiran sebagai resepi utamanya. Hassan Hanafi berpendapat bahawa Islam sebaik-baiknya berfungsi secara orientatif bagi ideologi populistik yang ada.

Pada akhir fasa ini, dan berlanjutan hingga awal dekad 1970-an, Hassan Hanafi juga memberikan perhatian utamanya untuk mencari penyebab terhadap kekalahan umat Islam dalam perang menentang Israel pada tahun 1967. Pada awal dekad 1970-an, beliau banyak menulis artikel dalam pelbagai media massa, seperti Al-Katib, Al-Adab, Al-Fikr Al-Muashir, dan Mimbar Al-Islam. Pada tahun 1976, tulisan-tulisan itu diterbitkan sebagai sebuah buku dengan judul Qadhaya Mu ashirat fi Fikrina Al-Muashir. Buku tersebut memberikan deskripsi tentang realiti dunia Arab ketika itu, analisis tentang tugas para pemikir dalam menanggapi persoalan umat, dan tentang peri pentingnya pembaharuan pemikiran Islam untuk menghidupkan kembali khazanah tradisional Islam. Kemudian, pada tahun 1977, beliau menerbitkan Qadhaya Mu ´ashirat fi al Fikr Al-Gharib. Buku kedua ini membincangkan pemikiran para sarjana Barat dalam melihat bagaimana mereka memahami persoalan masyarakatnya dan kemudian melaksanakan pembaharuan. Beberapa pemikir Barat yang beliau sentuh itu antara lain termasuklah Spinoza, Voltaire, Kant, Hegel, Unamuno, Karl Jaspers, Karl Marx, Marx Weber, Edmund Husserl, dan Herbert Marcuse.

Kedua-dua buku tersebut secara keseluruhan merangkumi dua dasar pendekatan analisis yang berkaitan dengan sebab-sebab kekalahan umat Islam; memahami kedudukan umat Islam sendiri yang lemah itu, dan memahami kedudukan Barat yang superior. Dalam buku yang pertama, penekanan diberikan kepada usaha meningkatkan ´keberdayaan´ umat, terutama dari segi pola pemikiran mereka, dan dalam buku yang kedua beliau berusaha untuk menunjukkan bagaimana umat Islam perlu menekan superioriti Barat dalam segala aspek kehidupan. Kedua-dua pendekatan inilah yang kemudiannya melahirkan dua dasar pemikiran baru yang tercatat dalam dua buah bukunya, iaitu Al-Turats wa Al-Tajdid (Tradisi dan Pembaharuan), dan Al-Istighrab (Oksideantalisme). Pada fasa ini, iaitu antara tahun-tahun 1971-1975, Hassan Hanafi juga menganalisis sebab-sebab ketegangan antara berbagai-bagai kelompok berkepentingan di Mesir, terutama antara kumpulan radikal Islam dengan pemerintah. Pada masa yang sama suasana politik Mesir mengalami ketidakstabilan yang ditandai dengan beberapa peristiwa penting yang berkaitan dengan sikap Anwar Sadat yang pro-Barat dan memberikan kelonggaran pada Israel, hingga beliau terbunuh pada Oktober 1981. Keadaan itu membawa Hassan Hanafi pada pemikiran bahawa seseorang ilmuwan juga harus mempunyai tanggungjawab politik terhadap nasib bangsanya.

Untuk itulah beliau kemudiannya menulis Al-Din wa Al-Tsaurah fi Mishr, 1952-1981. Karya ini terdiri daripada lapan (8) jilid yang merupakan himpunan pelbagai artikel yang ditulisnya antara tahun 1976 hingga 1981 dan diterbitkan pertama kali pada tahun 1987. Karya itu memuatkan pembicaraan dan analisis tentang kebudayaan nasional dan hubungannya dengan agama, hubungan antara agama dengan perkembangan nasionalisme, tentang gagasan mengenai gerakan Kiri Keagamaan yang membahas gerakan-gerakan keagamaan kontemporari fundamentalisme Islam, serta gerakan Kiri Islam dan Integriti Kebangsaan. Menerusi analisisnya, Hassan Hanafi menemukan bahawa salah satu penyebab utama konflik berpanjangan di Mesir adalah tarik-menarik antara ideologi Islam dengan ideologi Barat dan sosialisme. Beliau juga memberikan bukti-bukti penyebab munculnya berbagai-bagai tragedi politik, dan menganalisis penyebab munculnya radikalisme Islam.

Karya-karya lain yang beliau hasilkan pada fasa ini ialah Religious Dialogue and Revolution dan Dirasat Al-Islamiyyah. Buku pertama memuatkan pemikiran yang ditulisnya antara tahun 1972 hingga 1976 ketika beliau berada di Amerika Syarikat, dan diterbitkan pertama kali pada tahun 1977. Pada bahagian pertama buku ini, beliau menyarakan metode hermeneutik sebagai metode dialog antara Islam, Kristian, dan Yahudi. Bahagian kedua pula secara khusus membicarakan hubungan antara agama dengan revolusi, dan beliau menyarankan fenomenologi sebagai metode untuk menyingkap dan mentafsir realiti umat Islam. Sementara itu Dirasat Islamiyyah, yang ditulis sejak tahun 1978 dan terbit pada tahun 1981, memuatkan deskripsi dan analisis pembaruan terhadap ilmu-ilmu keislaman klasik, seperti usul fikh, ilmu-ilmu usuluddin, dan filsafat. Dimulai dengan pendekatan sejarah untuk melihat perkembangannya, Hassan Hanafi berbicara tentang usaha rekonstruksi terhadap ilmu-ilmu tersebut untuk disesuaikan dengan realiti kontemporari.

Fasa selanjutnya, iaitu dekad 1980-an hingga awal 1990-an, beliau dilatarbelakangi oleh keadaan politik yang lebih stabil berbanding masa-masa sebelumnya. Dalam fasa ini, Hassan Hanafi mula menulis Al-Turats wa Al-Tajdid yang kemudiannya terbit pertama kali pada tahun 1980. Buku ini merupakan landasan teoretis yang memuatkan dasar-dasar idea pembaharuan dan langkah-langkahnya. Kemudian, beliau menulis Al-Yasar Al-lslamiy (Kiri Islam), tulisan yang lebih merupakan sebuah manifesto politik yang berbau ideologi.

Beberapa tulisannya yang lain dikumpulkannya dalam buku yang berjudul Religion, Ideology and Development yang terbit pada tahun 1993. Beberapa artikel yang lain pula disusun dalam buku berjudul Islam in the Modern World (dua jilid). Selain mengandungi kajian-kajian agama dan filsafat, dalam karya-karyanya yang terakhir pada fasa ini turut mengandungi kajian-kajian ilmu sosial, seperti ekonomi dan teknologi. Fokus pemikiran Hassan Hanafi pada karya-karya terakhir ini lebih tertumpu pada usaha untuk meletakkan kedudukan agama serta fungsinya dalam pembangunan di negara-negara dunia ketiga. Pada perkembangan selanjutnya, Hassan Hanafi tidak lagi berbicara tentang ideologi tertentu, tetapi mengenai paradigma baru yang sesuai dengan ajaran Islam sendiri mahupun keperluan hakiki kaum Muslimin.

Aliran pemikiran dalam diri Hassan Hanafi ini antara lain didorong oleh maraknya wacana nasionalisme-pragmatik Anwar Sadat yang menolak fahaman sosialisme Gamal Abdul Nasser di Mesir pada dekad 1970-an. Paradigma baru ini telah beliau kembangkan sejak fasa kedua dekad 1980-an hingga sekarang. Pandangan universalistik ini dari satu sisi didukung oleh usaha pengintegrasian wawasan keislaman daripada kehidupan kaum Muslimin ke arah usaha penegakan martabat manusia melalui pencapaian autonomi individual bagi warga masyarakat; penegakan kedaulatan undang-undang dan keampuhan (empowerment) bagi kekuatan massa rakyat jelata.

Pada sisi lain, paradigma universalistik yang diimpikan Hassan Hanafi mesti dimulai daripada pengembangan epistemologi ilmu pengetahuan baru. Orang Islam, menurut Hassan Hanafi, semestinya tidak hanya menerima dan mengambil alih paradigma ilmu pengetahuan moden Barat yang tertumpu pada materialisme, tetapi harus mengikis sikap pesimis mereka terhadap peradaban ilmu pengetahuan Arab. Pemilihan dan dialog konstruktif dengan peradaban Barat itu diperlukan untuk mengenal dunia Barat dengan setepat-tepatnya. Dan usaha pengenalan itu sebagai unit kajian ilmiah, berbentuk ´pelawaan´ kepada ilmu-ilmu kebaratan (Al-Istighrab, Oksideantalisme) sebagai imbangan bagi ilmu-ilmu ketimuran (Al-Istisyraq, Orientalisme). Oksideantalisme dimaksudkan untuk mengetahui peradaban Barat secara seadanya sehingga dari pendekatan ini akan muncul kemampuan mengembangkan ´kebijaksanaan´ yang diperlukan oleh kaum Muslimin bagi jangka panjang. Dengan pandangan ini, Hassan Hanafi memberikan harapan bahawa Islam untuk menjadi ´mentor´ bagi peradaban-peradaban lain dalam penciptaan peradaban dunia baru dan universal.

Catatan: Ibnu Hayyan

Written by Admin
Category: Penyejuk Jiwa
Hits: 211

 

WAKAF: INVESTASI ABADI YANG MENGHIDUPKAN UMAT DAN MENYELAMATKAN PEMILIKNYA

Terinspirasi dari khutbah juma’t, 10/07/2026, mesjid Khairunnas

Di tengah budaya modern yang sering mengukur keberhasilan dari banyaknya harta yang dimiliki, Islam justru mengajarkan ukuran yang berbeda. Kemuliaan seorang hamba bukan terletak pada seberapa besar kekayaan yang berhasil dikumpulkan, tetapi seberapa besar manfaat yang mampu diwariskan kepada sesama.

Khutbah Jumat ini mengingatkan bahwa perjalanan menuju Allah memerlukan bekal terbaik, yaitu takwa. Sebagaimana firman Allah:

”…Berbekallah kalian, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”

(QS. Al-Baqarah: 197)

Takwa tidak hanya diwujudkan dalam ibadah ritual seperti shalat, puasa, zikir, dan tilawah, tetapi juga dalam kepedulian sosial yang menghadirkan manfaat bagi kehidupan manusia. Salah satu bentuk nyata dari kepedulian tersebut adalah wakaf.

Wakaf: Ketika Harta Berhenti Menjadi Milik, tetapi Pahala Terus Mengalir

Khutbah ini mengangkat satu pesan yang sangat mendalam: wakaf bukan sekadar menyerahkan aset kepada masjid atau lembaga agama, melainkan mengubah harta yang fana menjadi amal yang kekal.

Dalam Islam, wakaf berarti menahan pokok harta dan mengalirkan manfaatnya untuk kepentingan umat. Pokoknya tetap ada, tetapi manfaatnya terus hidup.

Inilah yang dimaksud Rasulullah ﷺ dalam hadis:

Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”

(HR. Muslim)

Mayoritas ulama menjelaskan bahwa bentuk sedekah jariyah yang paling nyata adalah wakaf karena manfaatnya terus berlangsung selama aset tersebut digunakan.

Dengan demikian, wakaf sebenarnya adalah cara Islam mengubah kekayaan menjadi pahala yang tidak mengenal batas usia manusia.

Kebaikan Tidak Diukur dari Banyaknya Harta, tetapi dari Apa yang Dikorbankan

Khutbah mengutip firman Allah

Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai…”

(QS. Ali ’Imran: 92)

Ayat ini mengandung prinsip yang sangat penting.

Allah tidak meminta sisa harta kita.

Allah meminta sesuatu yang kita cintai.

Di sinilah letak ujian keimanan.

Memberikan barang yang tidak lagi dipakai bukanlah pengorbanan besar.

Namun menyerahkan sesuatu yang bernilai, produktif, dan dicintai merupakan bukti bahwa kecintaan kepada Allah lebih besar daripada kecintaan kepada dunia.

Tidak mengherankan apabila setelah ayat ini turun, para sahabat berlomba menyerahkan aset terbaik mereka.

Abu Talhah al-Ansari mewakafkan kebun terbaiknya, sementara Umar bin al-Khattab mewakafkan tanah produktifnya di Khaibar atas arahan Rasulullah ﷺ.

Generasi terbaik tidak memberikan sisa kekayaan.

Mereka memberikan yang terbaik.

Wakaf Membangun Peradaban, Bukan Sekadar Bangunan

Kesalahan yang sering terjadi di masyarakat adalah menganggap wakaf hanya identik dengan pembangunan masjid atau pemakaman.

Padahal sejarah Islam menunjukkan bahwa wakaf membangun hampir seluruh infrastruktur peradaban.

Universitas.

Rumah sakit.

Perpustakaan.

Sumur.

Lahan pertanian.

Lembaga riset.

Beasiswa.

Pelayanan sosial.

Seluruhnya pernah berkembang melalui sistem wakaf.

Artinya, wakaf bukan hanya ibadah individual.

Wakaf adalah instrumen pembangunan sosial, pendidikan, ekonomi, bahkan peradaban.

Kekayaan adalah Amanah, Bukan Prestasi

Khutbah juga mengingatkan bahwa semakin besar harta seseorang, semakin besar pula hisabnya.

Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa manusia tidak akan bergeser dari tempat hisab sebelum ditanya tentang hartanya:

* dari mana diperoleh,

* dan untuk apa dibelanjakan.

Karena itu, wakaf sesungguhnya bukan mengurangi harta.

Wakaf justru mengurangi beban pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Sebagian kekayaan dipindahkan dari rekening dunia menuju tabungan akhirat.

Dalam perspektif ini, wakaf adalah strategi spiritual yang sangat cerdas.

Kritik terhadap Budaya Konsumtif

Khutbah ini juga secara tidak langsung mengkritik pola hidup modern.

Banyak orang sibuk membeli aset baru.

Menambah kendaraan.

Menambah rumah.

Menambah investasi.

Namun sangat sedikit yang berpikir bagaimana aset-aset tersebut dapat terus menghasilkan pahala setelah dirinya meninggal.

Padahal Allah telah mengingatkan:

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”

(QS. At-Takatsur: 1–2)

Surah ini bukan melarang memiliki kekayaan.

Yang dilarang adalah ketika kekayaan membuat manusia lupa tujuan hidupnya.

Refleksi bagi Dunia Pendidikan

Bagi lembaga pendidikan Islam, wakaf merupakan fondasi keberlanjutan.

Sekolah yang bergantung sepenuhnya pada biaya pendidikan akan selalu menghadapi keterbatasan.

Namun sekolah yang memiliki budaya wakaf mampu membangun:

* perpustakaan,

* laboratorium,

* beasiswa,

* pusat riset,

* asrama,

* dana abadi pendidikan,

* bahkan pengembangan guru secara berkelanjutan.

Banyak universitas besar di dunia berkembang melalui dana abadi (endowment). Dalam tradisi Islam, konsep tersebut telah lama dikenal melalui wakaf.

Karena itu, membangun budaya wakaf pendidikan bukan sekadar memenuhi keperluan hari ini, tetapi menyiapkan generasi masa depan.

Penutup

Khutbah ini mengajarkan bahwa manusia tidak akan membawa satu meter tanah, satu lembar sertifikat, ataupun satu rupiah ke alam kubur.

Yang akan menemani hanyalah amal yang pernah memberikan manfaat bagi orang lain.

Wakaf mengubah kepemilikan menjadi keberkahan.

Mengubah kekayaan menjadi amal.

Mengubah dunia menjadi jalan menuju akhirat.

Harta yang disimpan akan berhenti ketika pemiliknya meninggal.

Namun harta yang diwakafkan akan terus bekerja, mengalirkan manfaat, dan menjadi saksi bahwa seseorang pernah hidup untuk memberi.

Orang kaya bukanlah yang paling banyak mengumpulkan harta, tetapi yang paling banyak meninggalkan manfaat. Sebab ketika kehidupan berakhir, bukan nilai aset yang ditanya Allah, melainkan nilai amanah yang telah kita tunaikan.”

Jasman Jaiman, M.Ed.

Written by Admin
Category: Penyejuk Jiwa
Hits: 184

 

USAHA MEMBEBASKAN DIRI DARIPADA KEMISKINAN 

Banyak hadis Nabi Muhammad s.a.w yang memberi penilaian bahawa kemiskinan adalah satu penyakit berbahaya yang dikhuatiri meninggalkan kesan buruk ke atas akidah, akhlak dan pemikiran seseorang, malah kepada kaum itu sendiri. Penyakit ini mudah menonjol terutamanya di kalangan orang yang menghadapi kemiskinan yang teruk dan tinggal berhampiran dengan orang kaya yang buruk budi pekertinya serta kedekut yang amat sangat.

Kemiskinan adalah satu bala yang sama dengan penyakit berjangkit, justeru ia boleh membawa seseorang itu menjadi kufur.

Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud:

Kepapaan itu hampir-hampir membawa kepada kekufuran.

Hadis ini menjelaskan bahawa sering kali orang menjadi kufur kerana tekanan-tekanan ekonomi dan kesulitan untuk memperoleh rezeki. Orang yang asalnya baik akan berubah menjadi tidak amanah. Perempuan yang memelihara kehormatan diri menjadi tidak sanggup lagi memeliharanya kerana tekanan ekonomi.

Oleh itu Islam mewajibkan setiap umatnya agar bekerja keras dan berusaha mencari rezeki demi membela diri mereka daripada kemiskinan dan kekufuran. Islam menilai orang yang bekerja dan berusaha itu sebagai jihad.

Allah menjadikan bumi dan isi kandungannya semata-mata untuk manusia, tetapi manusia tidak akan dapat menikmati sepenuhnya melainkan dengan titik peluh usaha mereka sendiri.

Meninggalkan pekerjaan dan usaha mencari rezeki atas alasan untuk beribadah kepada Allah sahaja adalah bertentangan dengan konsep Islam yang sebenar.

Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa yang ada pada sesuatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. (Surah al-Ra'd ayat 11).

Umat Islam harus cemerlang dalam hal duniawi tanpa mengabaikan akhirat. Kualiti hidup di dunia inilah yang membawa kepada kejayaan manusia merubah daripada kemungkaran kepada yang makruf.

Manusia diperintah oleh Allah untuk mencari rezeki bagi keperluan hidupnya dan juga diperintah untuk mencari rezeki yang lebih di muka bumi ini bagi tujuan membantu orang lain yang tidak berkecukupan.

Allah berfirman dalam Surah al-Jumu'ah ayat 10 yang bermaksud:

Kemudian setelah selesai sembahyang maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah apa yang kamu hajati dan limpah kurnia Allah, serta ingatlah akan Allah banyak-banyak supaya kamu berjaya.

Di sisi lain pula al-Quran mengecam mereka yang mengharamkan hiasan duniawi yang diciptakan Allah bagi umat manusia.

Katakanlah (Wahai Muhammad) siapakah yang berani mengharamkan perhiasan Allah yang telah dikeluarkan untuk hamba-hamba-Nya dan demikian juga benda-benda yang baik lagi halal daripada rezeki yang dikurniakannya. (Surah al-Baqarah ayat 32).

Al-Quran kemudian menyebut bahawa Allah menjanjikan pengampunan dan anugerah yang berlebihan, sedangkan syaitan pula menjanjikan kefakiran.

Sesungguhnya Islam tidak pernah menganggap mulia atau mentakdirkan kemiskinan sebagai satu cara untuk mencapai ketinggian rohani. Hadis-hadis yang memuji kehidupan zuhud di dunia bukanlah bererti memuji kemiskinan. Adalah satu kesilapan yang besar bagi setengah orang yang menganggap bahawa kemiskinan bukanlah satu keburukan yang perlu diatasi dan juga bukan penyakit yang perlu diubati, ia adalah satu nikmat Allah yang dikurniakan kepada sesiapa di antara hambanya agar hatinya sentiasa berhubung dengan akhirat dan benci pada dunia.

Islam tidak datang hanya untuk mengajarkan zikir dan doa tetapi untuk membebaskan manusia daripada beban penderitaan kepada hidup yang bahagia. Hidup tidak mahu berusaha dan hanya meminta belas kasihan orang lain tidak dipersetujui oleh Islam.

Tangan yang di atas (yang memberi) lebih mulia daripada tangan yang di bawah (yang meminta-minta). (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim).

Islam jelas menolak sesetengah golongan yang menyanjung kemiskinan dan menganggap kekayaan sebagai dosa. Demikian juga yang menganggap kemiskinan sebagai qadar yang tiada jalan untuk mengelaknya. Ini semua pandangan ekstrem yang terpesong daripada jalan yang lurus sepertimana yang dituntut oleh ajaran Islam yang sebenar.

Justeru, semangat hijrah yang sebenar bukan sekadar berpindah tempat atau mengubah penampilan, tetapi berani mengubah sikap, cara berfikir dan budaya hidup. Umat Islam hendaklah meninggalkan sifat malas, bergantung kepada ihsan orang lain tanpa keperluan, serta berputus asa terhadap rahmat Allah. Sebaliknya, setiap Muslim perlu berusaha dengan penuh kesungguhan, memohon keberkatan rezeki yang halal, meningkatkan ilmu dan kemahiran, serta menjadikan kerja sebagai satu ibadah.

Apabila setiap individu berazam untuk bangkit daripada belenggu kemiskinan melalui usaha yang gigih dan tawakal kepada Allah, maka lahirlah masyarakat yang kuat ekonominya, tinggi maruahnya dan kukuh imannya. Itulah hijrah yang sebenar—hijrah daripada kelemahan kepada kekuatan, daripada kemiskinan kepada kecukupan, dan daripada kebergantungan kepada kemampuan memberi manfaat kepada orang lain.

Catatan: Ibnu Majid

Written by Admin
Category: Penyejuk Jiwa
Hits: 163

Bacaan Popular


Baca topik

Terkini


TEMPAT NYAMAN TAMAN BACAAN MASA DEPAN ANDA-JOM KITA MENULIS!!! dhomir.com ingin mengajak dan memberi ruang kepada para penulis khususnya penulisan yang berkaitan dgn agama Islam secara mendalam dan sistematik.Jika anda ingin mencurahkan isi hati mahupun pandangan secara peribadi dhomir.com adalah tempat yang paling sesuai utk melontarkan idea. Dengan platform yang sederhana, siapa sahaja boleh menulis, memberi respon berkaitan isu-isu semasa dan berinteraksi secara mudah.Anda boleh terus menghantar sebarang artikel kepada alamat email:dhomir2021@gmail.com.Sebarang pertanyaan berkaitan perkara diatas boleh di hubungi no tel-019-3222177-Editor dhomir. com