ALERGI NASIHAT, BENCI KRITIK, DAN SILAU PUJIAN
Oleh: Samsul Nizar
Ketika asyik berjalan, tanpa disadari ada lobang besar menganga di depan. Seorang teman yang melihat bahaya tersebut mengingatkan dan menyadarkan adanya bahaya dihadapannya. Dengan peringatan yang disampaikan, si pejalan kaki bisa selamat dari terperosok dalam lubang yang begitu membahayakannya.
Secara ideal, apa yang dilakukan teman yang telah memberi peringatan ketika bahaya akan --mininal-- menerima ucapan terimakasih. Tapi, bila peringatan teman atas bahaya tersebut dinafikan dan dibenci, maka lobang yang curam dan menganga siap menelannya. Atau bila peringatan bahaya justeru dianggap "bentuk kebencian", maka perlu ditelisik "kejiwaan dan akal" si penerima peringatan. Mungkin ada "kerusakan pada hati, tuli, atau kelainan jiwa" yang kronis dan patut diwaspadai. Mungkin ia "penderita mania" setiap dinasehati, diperingatkan, dan benci kebenaran.
Fenomena kisah sederhana di atas mungkin --awalnya-- sebatas analogi fiksi, tapi begitu nyata dalam realita kehidupan. Realita yang terjadi justeru acapkali di luar nalar sehat (QS. az-Zumar : 9). Meski tujuannya untuk menyelamatkan, tapi kadangkala direspon penuh kebencian. Bahkan responnya bak makhluk tak beradab dan berakal (QS. al-Furqan : 44).
Dalam fenomena nyata, ada beberapa nilai nasihat dan kritik yang direspon "negatif" oleh si penerimanya, antara lain :
Petama, Nasehat dianggap ketidaksenangan dan penghinaan. Setiap nasehat diang-gap akan "menurunkan harga diri dan statusnya" di mata koleganya. Sikap arogan yang demikian telah diingatkan oleh Allah dalam firman-Nya :"Dan aku telah memberi nasihat kepada kalian, tetapi kalian tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat” (QS. al-A’raf : 79).
Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas menjelaskan bentuk sikap kaum Tsamud yang menolak peringatan nabi Saleh AS. Akibatnya, Allah menurunkan azab berupa gempa dan petir yang melenyapkan kaum Tsamud. Si-kap sombong manusia yang menolah kebenaran diingatkan berulangkali dalam beberapa firman-Nya, antara lain : QS. Ali Imran : 104, QS. al-A'raf : 62 dan 68, serta QS. al-'Ashr : 1-3. Namun, semua peringatan kebenaran acapkali diingkari.
Sungguh, Islam merupakan agama yang berisi nasehat. Hal ini disampaikan oleh Rasulullah ﷺ : "Agama itu adalah nasihat” (HR. Muslim).
Hadis di atas menjelaskan bahwa inti ajaran Islam adalah nasehat agar umat istiqomah dalam menjalankan hak Allah dan Rasul-Nya. Bahkan, Allah menasihati Rasulullah melalui teguran yang mendidik dan terjaga kemuliaannya. Hal ini ditemu-kan pada QS. 'Abasa : 1-10, QS. al-Anfal : 67, QS. at-Taubah : 43, QS. al-Kahfi : 23-24.
Ketika hadis dan ayat di atas dianalisa secara filosofis, seyogyanya pemeluk agama sangat rindu dan berharap untuk memperoleh nasehat dan teguran. Ketika sikap pemeluk agama alergi nasehat, maka berarti membenci kebenaran dan tak memerlukan agama. Padahal, isi ajaran agama (Islam) berupa nasehat mulia. Hal ini dijelaskan oleh
Rasulullah ﷺ melalui sabda-Nya : "Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya" (HR. Muslim).
Untuk itu, agar bijak menerima nasehat, Sayidina Ali bin Abi Thalib RA pernah berpesan, "Lihatlah (dengarkan) apa yang dibicarakan, jangan lihat (dengarkan) siapa yang bicara". Pesan yang mengandung makna agar melihat dan mendengarkan pembicaraan (nasehat) yang berkualitas, bukan hanya melihat status si pembicara. Bisa jadi pesan kebenaran berasal dari "gembel" atau seorang yang dibenci, tapi isinya berkualitas intan berlian. Tapi, kebanyakan manusia hanya peduli dan men-dengarkan kata "orang-orang sekitar ikat pinggangnya" atau pemilik status mulia. Padahal, bisa jadi isinya hanya kumpulan "kotoran (najis)" yang bisa mengundang celaka (mudharat), baik diri atau masyarakat secara luas.
Kedua, Kritik yang berisi kebenaran dinilai bentuk kebencian, perlawanan, dan racun. Padahal, kritik merupakan upaya memberi peringatan dari pemilik kecerdasan, iman, dan kebenaran. Dalam Islam, kritik merupakan bentuk amar ma'ruf nahi munkar dan termasuk ibadah. Namun, kritik wajib disampaikan dengan adab yang baik (ikhlas, santun, dan berdasarkan bukti sahih), serta bertujuan memperbaiki, bukan menjatuhkan atau memecah belah. Kritik yang beradab pertanda ciri manusia berakhlak. Hal ini sesuai firman-Nya : "Maka berikanlah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat"(QS. al-‘Ala : 9).
Bahkan, al-Qur'an mencontohkan kritik (peringatan) terhadap kezaliman dan kesewenang-wenangan Fir'aun. Dalam al-Qur'an, kritik ini terulang sebanyak 74 kali atas kesombongan, kezaliman, dan perilaku tirani yang dilakukannya. Untuk itu, Islam membedakan antara kritik konstruktif (nasihat) dengan kritik yang berisi ghibah, kebencian, atau fitnah yang merusak. Bagi pemilik ilmu dan iman, kritik merupakan bagian muhasabah yang amat diperlukan. Tapi, bagi pengharap pujian, setiap kritik dianggap bentuk kebencian dan dikhawatirkan akan membuka kesalah-annya. Untuk itu, setiap pengkritik perlu disingkirkan. Namun, sikap ini membuat pembenci kritik semakin sering melakukan kesalahan demi kesalahan lainnya tanpa terkendali.
Ketiga, Pujian dinilai prestise dan prestasi yang membuka pintu kebahagiaan bagi si penerima. Manusia begitu senang bila dipuji, tapi tak pernah sadar bila tak ada nilai kepantasan baginya untuk dipuji. Puji kemunafikan begitu menggunung ketika "status dan kuasa" masih dimiliki dan terselip hasrat yang ingin diraih. Tapi, begitu status dan kuasa sirna atau harapan telah/tak bisa diraih, pujian berganti cercaan, hinaan, dan fitnah berkepanjangan.
Untaian pujian semu merupakan sifat manusia munafik yang didorong hawa nafsu (kepentingan). Sedangkan harap puji merupakan indikasi manusia lupa diri. Sebab, ia lupa bila pujian yang didapatkan berpotensi tumbuhnya penyakit hati (riya', ujub, atau sum'ah) dan gangguan narsistik lainnya. Harap pujian membuat manusia rentan sombong (angkuh), memandang rendah orang lain, pamrih, dan lupa Allah. Sedangkan pemuji melakukannya karena "maksud" terselubung penuh kemunafikan. Untuk itu, Rasulullah ﷺ begitu mencela sifat dan perilaku yang demikian. Hal ini diungkapkan Sayidina Umar bin Khattab RA : "Kami diperintahkan oleh Rasulullah ﷺ untuk menyiramkan pasir ke wajah orang-orang yang memuji (berlebihan)” (HR. Muslim).
Melalui hadis di atas, Rasulullah ﷺ mengantisipasi umatnya agar terhindar dari ujub. Sebab, sifat ini akan menyebabkan manusia lupa diri. Namun, Islam memperbolehkan pujian selama sesuai ajaran agama (kebenaran). Bahkan, Allah memuji Rasulullah ﷺ atas kemuliaan akhlaknya. Hal ini tertera pada firman-Nya :"Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar memiliki budi pekerti yang agung" (QS. al-Qalam : 4).
Melalui ayat di atas, pujian dibolehkan. Bahkan, Allah memuji Rasulullah dan hamba-Nya yang berpegang teguh pada aturan-Nya. Allah memuji atas kualitas keimanan, akhlak, dan rindu hamba pada rahmat-Nya. Mereka merupakan hamba yang memperoleh keberkahan-Nya. Hal ini terungkap pada firman-Nya : "Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan merekalah orang-orang yang beruntung" (QS. al-Baqarah : 5).
Menurut Ibnu Katsir, hamba yang meraih keberuntungan pada ayat di atas ketika mampu memiliki sifat yang tertuang pada ayat 1-4 (percaya ghaib, shalat, infak, iman pada Al-Qur'an dan kitab terdahulu, serta meyakini hari pembalasan). Mereka akan memperoleh hidayah dan petunjuk-Nya.
Sungguh, manusia merupakan makhluk yang lemah dan acapkali keliru (QS. an-Nisa': 28). Tapi, anehnya justeru enggan untuk diberi nasehat, kritik, dan peringatan. Sifat munafik antara ketidaksempurnaan di satu sisi, tapi merasa begitu sempurna di sisi lain. Ketika diberi nasehat, tapi suka membantah (QS. al-Kahfi : 54). Sebelum mendapat nikmat, munajat dan janji atas nama Allah. Tapi, begitu nikmat telah diraih, acapkali lupa diri dan ingkar janji (QS. Yunus : 12). Bak sifat Qarun yang tak tau bersyukur, kelak azab-Nya sangat pedih (QS. al-Qasas : 76-82). Pujian yang diperoleh bukan puji keikhlasan, tapi puji kemunafikan selama berada "di atas". Ketika berada di bawah dan azab-Nya menimpa, pujian menggema berubah menjadi cibiran dan hinaan yang berkepanjangan. Begitu banyak i'tibar di-perlihatkan-Nya dalam kehidupan. Ketika nasehat tak dipeduli, kritik membuat alergi, pembawa kebenaran dibuli, pujian membuat lupa diri, dan berakhir "dijeruji besi". Meski semua begitu nyata, namun acap-kali membutakan mata dan hati manusia oleh gemerincing pujian yang begitu nyaring memekakkan telinga kebenaran. Sifat nista ini bisa menimpa pada semua hamba-Nya.
Tak peduli strata (kedudukan dan zuriyat), pemilik harta, titel berjejer, berilmu (sebatas teori), dan status sosial (alim) tinggi yang dimiliki. Bahkan, melalui berbagai status dan fasilitas yang dimiliki membuatnya terbuka peluang hanya rindu dan silau pujian, tapi alergi nasehat dan kritik. Ketika hal ini menjadi watak diri, maka sulit diperbaiki. Kelak, bila azab-Nya hadir, tak ada lagi gunanya penyesalan. Bak pepatah "nasi sudah menjadi bubur". Para penasehat tak lagi ingin menasehati dan para pemuja tak terlihat lagi keber-adaannya. Tinggal diri memetik semua tanaman kesombongan dan kezaliman. Terlihat nyata karakter asli si pemuja yang hadir sekedar "penikmat madu". Ketika madu telah kering, ia akan pindah dan menjilat --bak seekor anjing-- dan menjual diri (hamba sahaya) pada pemilik madu lainnya. Sifat manusia fasik yang sulit disadarkan berulang kali diingatkan-Nya : "maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan ?" (QS. ar-Rahman). Meski ayat demikian jelas, tapi manusia begitu jumawa (sombong) mengingkarinya. Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***
Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis
Editor: Edwar Yaman
Sumber: riaupos.jawapos.com
CERMIN (KACA) DIRI
Oleh : Samsul Nizar
(Eksistensi cermin begitu familiar. Semua manusia mengenal dan pernah bercermin. Tapi, tak semua manusia sempat, mau, atau segelintirnya tak mampu mengambil pelajaran (i'tibar) dari cermin. Padahal, dalam makna kiasan, cermin bisa digunakan untuk "melihat diri" (refleksi diri atau introspeksi untuk melihat karakter, kelebihan, dan kekurangan diri).
Idealnya, cermin untuk melihat diri merupakan cermin datar dan bersih. Dalam ilmu psikologi, konsep melihat diri melalui pandangan orang lain disebut looking-glass self (cermin diri).
Dalam kehidupan ini, manusia berhadapan dengan beberapa jenis cermin, antara lain :
Pertama, Cermin hias (datar, cekung, dan cembung). Umumnya, cermin jenis ini digunakan untuk melihat kesempurnaan sisi fisik diri. Ketika ada "bopeng", aib diri, atau tampilan yang tak sempurna, maka berbagai upaya dilakukan untuk menutupi-nya. Ketika "bopeng kesalahan meluap", maka tempelan "make up kesalehan" men-dominasi untuk menutupi semua kesalah-an yang ada. Semua upaya dilakukan agar "bopeng diri" bisa tertutupi. Namun, acap-kali manusia lupa bila make up yang ber-lebihan (full coverage) dan terlalu sering digunakan untuk menutupi kekurangan diri akan menyumbat "pori-pori kebenaran" dan merusak kulit (amaliah). Apalagi jika tidak dibersihkan dengan benar (taubat an-nasuha). Akibatnya, kebenaran sulit masuk ke relung hati dan taubat tak lagi dipeduli.
Kedua, Kaca spion. Cermin jenis ini digunakan untuk membantu pengemudi melihat perilaku orang lain tanpa pernah melihat perilaku diri dan penumpang yang ada dalam "perintah supir". Fenomena sosok manusia berkarakter "kaca spion" begitu nyata. Pada aturan dan hukum yang sama untuk melihat persoalan yang sama, tapi berbeda "keputusan" yang berlaku dan diambil. Sebab, putusan dilihat dengan "kaca spion". Akibatnya, kaca hanya digunakan untuk melihat atau mencari kesalahan orang lain. Sementara kesalahan supir dan penumpang dalam mobil tak pernah terlihat. Padahal, kesalahan "sopir dan penumpang" begitu nyata, tapi sengaja ditutupi. Akibatnya, "sopir dan penumpang" berpotensi lebih "ugal-ugalan" melanggar aturan lalu lintas.
Ketiga, Cermin sosial. Cermin jenis ini me-rupakan sosok teman sebagai cermin karakter diri. Sebab, karakter manusia terlihat pada pilihan (kualitas) sifat teman yang ada disekitar "ikat pinggangnya". Hal ini dinyatakan Rasululullah ﷺ dalam sabdanya : "Seseorang itu bergantung pada agama teman dekatnya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapa yang menjadi teman dekatnya" (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Hadis di atas memberikan pesan tentang pengaruh lingkungan sosial terhadap karakter dan spiritualitas seseorang. Bila lingkungan sosial (teman) sosok yang amanah, maka nilai amanah akan mudah dimunculkan. Namun, ketika lingkungan sosial didominasi manusia khianat dan serakah, maka "tanaman" kemungkaran akan berkembang biak dan membuahkan kezaliman (keserakahan).
Sungguh, kehadiran teman merupakan cermin diri merupakan sarana bagi seorang muslim untuk tetap berada di jalan yang benar. Bijak memilih teman jadi ukuran. Teman yang saleh menjadi tempat untuk mengingatkan bila keliru atas jalan yang dipilih, tempat rujukan untuk mencari solusi yang tepat, dan nasehat bila lupa mensyukuri nikmat-Nya. Hal ini sesuai sabda Rasulullah ﷺ : “Sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kalian. Aku lupa sebagaimana kalian lupa. Oleh karenanya, ingatkanlah aku ketika diriku lupa” (HR. Bukhari).
Teman saleh akan senantiasa menasehati bila melakukan kesalahan dan mengingat-kan bila mendapatkan rezeki agar tak lupa diri. Kehadirannya bagaikan cermin untuk melihat kebaikan. Sementara, bila teman salah yang dijadikan cermin, maka tampil puji menggema untuk "cari muka". Pujian sekedar "tipuan" untuk meraih keuntungan. Semua berbondong-bondong hadir ketika tumpahan "madu" begitu manis. Tapi, begitu madu telah kering dan masa telah berganti, maka teman salah akan hilang meninggalkan serpihan luka dan kepiluan. Sebab, teman yang dijadikan cermin ternyata sosok maddahin (penjilat) yang hanya memanfaatkan pertemanan selama ada keuntungan.
Eksistensi sosok maddahin kadangkala terungkap ketika "madu" terasa "hambar". Padahal, ketika madu begitu manis, mereka bagaikan kumpulan semut yang antrean "sembako". Fenomena ini cermin besar yang acapkali terlambat untuk disadari. Hadir ketika "nasi telah menjadi bubur". Namun, karakter teman dihadirkan-Nya sesuai kualitas karakter pemimpin. Sebab, kualitas pemimpin tergambar pada kualitas yang dipimpin. Pemimpin amanah akan dikelilingi teman yang amanah. Hal ini dinyatakan Rasulullah ﷺ melalui sabdanya : “Jika Allah SWT menghendaki kebaikan bagi diri seorang pemimpin, maka Allah akan memberinya seorang pendamping (pembantu yang jujur yang akan mengingatkan jika dirinya lalai dan akan membantu jika dirinya ingat” (Shahih. HR. Abu Dawud).
Namun, ketika pemimpin khianat dan fasik, maka Allah hadirkan teman-teman yang sesuai dengan karakternya. Hal ini diingatkan dalam kata hikmah "kalian akan dipimpin oleh orang-orang yang seperti kalian". Keduanya menjadi cermin bagi yang lain. Cermin buram atau cermin retak seribu. Demikian Allah mempertontonkan gambaran watak manusia dengan menjadi-kan "teman sekelilingnya" sebagai cermin sosial yang begitu nyata.
Sungguh, berbagai kezaliman dapat di-berantas dan perilaku keliru mampu di-koreksi ketika teman yang saleh dimiliki dan menjalankan perannya. Tapi, anehnya justeru manusia lebih memilih teman yang salah agar bisa membantu "melegalkan kesalahan" dan menggelorakan puji tanpa henti. Akibatnya, pelaku kezaliman merasa benar dan kemungkaran dianggap lumrah. Untuk itu, tak heran bila teman yang membawa jalan kesalehan (kebenaran) patut disingkirkan. Sebab, kehadiran "cermin sosial" (teman saleh) akan membuat si fasik tak leluasa melakukan berbagai kesalahan.
Keempat, cermin semesta (ayat kauniyah). Jenis cermin ini melihat semesta sebagai pantulan kebesaran Allah. Sebab, semesta menyajikan ayat-Nya kepada manusia untuk melihat keagungan (kebesaran-Nya) dan begitu daifnya hamba. Hal ini tertuang dalam firman-Nya : "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), "Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka" (QS. Ali Imran : 190-191).
Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas turun agar manusia merenungkan kuasa dan kebesaran Allah. Bahkan, ayat ini mem-buat Rasulullah ﷺ menangis ketika mem-bacanya. Ayat yang mengajak manusia menggunakan akal dan hatinya untuk memahami alam semesta guna meningkat-kan keimanan dan mendekatkan diri kepada Allah melalui zikir dan tafakur. Namun, umatnya justeru begitu mudah "mempermainkannya". Sebab hati, telinga, mata, dan akalnya telah tertutup menerima kebenaran (QS. al-Baqarah : 7).
Kelima, cermin hati (qalbun salim). Cermin jenis ini merujuk sabda Rasulullah ﷺ : "Sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, rusaklah seluruh tubuh. Daging itu adalah hati" (HR. Bukhari dan Muslim).
Merujuk hadis di atas, Imam al-Ghazali menggambarkan hati manusia layaknya cermin. Ketika hati bersih dari nafsu dan dosa, maka cahayanya akan memantulkan ma'rifatullah (mengenal Allah). Untuk itu, manusia yang rindu bersama-Nya akan senantiasa berupaya membersihkan hati (tazkiyatun nafs) dari berbagai penyakit (iri, sombong, fasik, dusta, cinta dunia, dan lainnya). Ketika hati bersih dari
kotoran, maka ia akan memantulkan cahaya kebenaran. Namun, jika hati --begitu-- kotor dan tak lagi bisa menjadi cermin diri, maka manusia semakin jauh dari cahaya Ilahi (hidayah-Nya). Hal ini diingatkan Allah dalam QS. al-Baqarah : 74 dan 283 (hati keras membatu dan kotor), QS. al-Muthaffifin : 14 (karat / noda hitam akibat maksiat), QS. Luqman : 7 (sombong), QS. Muhammad : 16 (mengikuti hawa nafsu). Anehnya, meski firman-Nya dan sabda Rasulullah begitu jelas, namun manusia semakin nyata mengingkarinya. Sungguh, sifat dan karakter manusia yang demikian melebihi sifat iblis (QS. al-A'raf : 13).
Agar manusia tak terjerumus pada sifat hewan atau iblis, maka diperlukan cermin hati yang suci. Dalam Islam, hati yang suci (qalbun salim) tumbuh pada jiwa yang ter-hindar dari penyakit hati. Hati yang suci melahitkan sifat tawadhu', ikhlas, dan senantiasa berbaik sangka terhadap ketetapan-Nya. Ketika hati terjaga, maka ketenangan dan kesehatan (mental) akan diraih. Tapi, ketika cermin hati kotor, maka kemunafikan, kesombongan, dan kezalim-an berkembang biak tanpa bisa dicegah. Bahkan, fenomena ini semakin parah bila pemilik hati kotor berbuah perilaku nista tapi "disanjung dan dipuja-puja".
Sungguh, Allah SWT telah mengingatkan manusia melalui "cermin-cermin-Nya". Ter-pulang pada setiap manusia untuk men-jadikan ayat-Nya sebagai cermin-Nya atau hanya peduli dengan cermin hias (melihat kehebatan diri) dan kaca spion (melihat ke-kurangan orang lain). Andai kedua pilihan ini yang diambil, maka kesombongan dan kezaliman akan muncul kepermukaan. Ke-tika sifat nista sebagai pilihannya, berarti berharap murka-Nya. Sebab, janji Allah adalah pasti
(QS. ar-Ruum : 60). Untuk itu, diperlukan pilihan bijak untuk memilih jenis cermin (kaca). Pilihan cerdas akan meng-hantarkan sosok hamba pilihan yang tawadhu' dan hanya berharap ridho-Nya. Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***
Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis
HIDUP DALAM PANDANGAN ALLAH, BUKAN DALAM PENILAIAN MANUSIA
Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan tertinggi dalam ihsan—bukan hanya dalam ibadah, tetapi dalam setiap detik kehidupan.
Ada satu kesalahan yang diam-diam merusak kualitas hidup banyak orang:
mereka ingin terlihat baik, tapi tidak serius ingin menjadi baik.
Mereka menjaga citra, tapi tidak menjaga hati.
Mereka mengejar pengakuan manusia, tapi lalai dari pandangan Allah.
Di sinilah ihsan menjadi pembeda.
Ihsan: Kualitas Hidup Seorang Muslim
Ihsan bukan “bonus spiritual”.
Ia adalah inti dari kualitas hidup seorang mukmin.
Ketika Rasulullah ﷺ menjelaskan ihsan, beliau tidak berbicara tentang banyaknya amal, tetapi kedalaman kesadaran:
“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya…”
Artinya jelas:
hidup ini bukan sekadar melakukan, tapi menghadirkan Allah dalam setiap yang dilakukan.
Tanpa itu, amal menjadi kosong.
Gerak ada, ruhnya hilang.
Penyakit Zaman Ini: Hidup untuk Dilihat
Coba jujur:
Ini bukan ihsan.
Ini adaptasi sosial—bukan kesadaran ilahi.
Dan jika ini dibiarkan, seseorang bisa terlihat “hebat” di dunia,
tapi ringan nilainya di sisi Allah.
Ihsan Itu Sunyi, Tapi Mengubah Segalanya
Ihsan tidak selalu terlihat.
Ia hidup dalam:
Di situlah Allah menilai.
Dan di situlah nilai seorang hamba ditentukan.
Jika Ihsan Hilang, Semua Menjadi Dangkal
Tanpa ihsan:
Inilah akar krisis—bukan kurangnya aktivitas,
tetapi hilangnya kualitas batin.
Ihsan dalam Segala Hal (Bukan Hanya di Masjid)
Dalam mendidik:
Mengajar bukan sekadar menyampaikan, tapi membentuk jiwa.
Setiap kata, setiap sikap, dicatat oleh Allah.
Dalam bekerja:
Tidak menunda, tidak curang, tidak asal jadi.
Bekerja seolah Allah menilai langsung.
Dalam keluarga:
Berbuat baik bukan karena balasan,
tapi karena sadar itu dilihat Allah.
Dalam kesendirian:
Inilah ujian terbesar.
Siapa Anda saat sendiri—itulah siapa Anda sebenarnya.
Realitas yang Harus Anda Hadapi
Anda tidak akan selalu dihargai.
Anda tidak akan selalu dipuji.
Bahkan kadang kebaikan Anda tidak terlihat.
Jika motivasi Anda adalah manusia, Anda akan lelah.
Jika motivasi Anda adalah Allah, Anda akan kokoh.
Strategi Membangun Ihsan (Tanpa Ilusi)
1. Bangun kesadaran sebelum tindakan
Jangan bertindak otomatis. Hadirkan Allah dalam keputusan.
2. Naikkan standar pribadi
Bukan sekadar “cukup baik”, tapi “layak di hadapan Allah”.
3. Latih konsistensi saat tidak dilihat
Ini titik balik. Di sini ihsan dilahirkan.
4. Kurangi ketergantungan pada validasi
Pujian itu candu. Jika Anda butuh itu untuk bergerak, Anda belum kuat.
5. Muhasabah harian
Evaluasi bukan apa yang Anda lakukan—
tapi bagaimana Anda melakukannya.
Penutup: Ukuran Hidup yang Sebenarnya
Suatu hari, semua penilaian manusia akan hilang.
Yang tersisa hanya satu:
Apakah Anda hidup dengan ihsan—atau hanya dengan penampilan?
Ihsan tidak membuat hidup lebih mudah.
Tapi ia membuat hidup lebih bernilai.
“Jangan sibuk memperindah pandangan manusia terhadapmu.
Perindahlah dirimu di hadapan Allah—karena di sanalah hakikat hidupmu dinilai.”
Oleh: Jasman Jaiman
LEBIH DEKAT DARI URAT LEHER
Aku mencari tempat untuk bersembunyi,
di balik diam yang tak bersuara,
di antara pikiran yang tak terucap,
aku kira di sana… aku aman.
Aku menipu dunia dengan senyum,
menenangkan diri dengan alasan,
membungkus dosa dengan logika,
seolah tidak ada yang melihat.
Namun aku lupa—
yang paling dekat bukan tubuhku,
bukan napasku,
bukan detak yang kupuja setiap detik itu.
“Kami lebih dekat dari urat lehermu…”
Kalimat itu bukan sekadar ayat—
ia adalah cermin yang retak,
memantulkan wajahku tanpa topeng,
tanpa dusta, tanpa pembelaan.
Di sana—
niatku terbuka tanpa izin,
bisikan hatiku terdengar tanpa suara,
rahasia yang kusembunyikan…
ternyata tidak pernah benar-benar tersembunyi.
Aku baru sadar,
yang aku takuti selama ini adalah manusia,
padahal yang paling dekat adalah Allah.
Dan jika Dia sedekat itu—
mengapa aku masih berani lalai?
mengapa aku masih menunda pulang?
Hari ini aku berhenti bersembunyi,
karena tidak ada tempat yang benar-benar jauh.
Hari ini aku belajar jujur,
karena tidak ada yang bisa aku tipu.
Sebab yang paling dekat itu bukan uratku—
tetapi pengetahuan-Nya,
pengawasan-Nya,
dan kasih sayang-Nya yang tak pernah pergi.
————
“Kita tidak pernah benar-benar jauh dari Allah—
yang ada, kita terlalu sibuk menjauh dari kesadaran bahwa Dia selalu dekat.”
— Jasman Jaiman
JJ, Pbr, 19/03/2026
MAAF BUKANLAH "DENDAM YANG TERINDAH"
Sebagai manusia, segenius mana pun kita, kita masih belum cerdik dan bagus seratus peratus. Sehebat mana pun kita, kita masih ada titik kelemahan yang kadangkala kita sedar dan kadangkala orang lain dapat melihatnya dengan tepat dan jujur. Tetapi, kejujuran dalam menegur atau memperbetulkan kesilapan kadangkala tidak dapat kita terima sebaik-baiknya, kerana kita sebenarnya hidup dalam ego dan sentiasa berusaha mempertahankan citra diri.
Dalam hidup ini, tidak semua perkara kita tahu, dan tidak semua hal dapat kita kuasai dengan baik. Tidak menguasai atau tidak mengetahui itu adalah kelemahan kita yang dapat kita fahami apabila ada yang menegur, memberitahu dan menaratifkannya. Dan, tentunya naratif itu ada bentuk dan polanya.
Ada naratif disampaikan seperti sebuah lelucon, dan ada naratif dikaitkan dengan anekdot mahupun cerita-cerita fabel. Ada naratif dijelmakan sebagai bayangan madah, satira mahupun perang bersemuka (face to face conversation atau face to face confrontation), yang boleh menjadikan hubungan seperti tidak lagi terkendali.
Sebagai manusia kita dididik untuk mengatasi setiap kelemahan, bukan mempertahankan kelemahan sebagai set pegangan yang tunggal benar dan sahih dalam prinsip. Kita diminta untuk sentiasa bermuhasabah, merenung dan melihat ia sebagai satu kaedah dalam membangun kesedaran, kesedaran untuk memperbaiki atau kesedaran untuk kembali kepada fitrah.
Aidilfitri, juga dipanggil "hari kemenangan". Kita diarahkan untuk melihat dan kembali kepada fitrah, maka itulah sebabnya, sebulan lamanya kita dididik secara deduktif dan induktif dalam madrasah Ramadhan. Hari ini, kita telah berjaya melalui jalan itu dan sebulan lamanya kita berproses untuk menjadi insan yang terbaik, kalaupun bukan insan yang suci dan paling sempurna. Walaupun, kita sedar kita belum mampu, sekurang-kurangnya tidak telah lalui dan cuba untuk kembali kepada fitrah tersebut.
Fitrah
Secara mudahnya, fitrah itu membawa maksud "kembali ke asal". Kita berasal dari mana? Asal itu apa? Apakah asal itu memberikan kita sebuah manifestasi primodial atau nilai-nilai parokial? Apakah nilai-nilai itu cukup mudah untuk kita berbangga dalam dikotomi "diri dan orang lain" atau, dalam hubungan "kekitaan" dan "keakuan?"
Kenapa fitrah?
Ibnu Athaillah (Imam Ibnu 'Atha'illah as-Sakandari, pengarang kitab al-Hikam, yang hidup antara tahun 1260 hingga 1309 di Mesir) berkata: Sebodoh-bodoh manusia ialah orang yang meninggalkan keyakinannya kerana mengikut sangkaan manusia lainnya. Riwayat ringkas, sumbangan dan perjalanan kehidupannya dapat dibaca dalam tulisan Iqbal Zain al-Jauhari dalam: https://www.facebook.com/share/1BHSLQ9BoN/.
Ertinya, walaupun manusia adalah makhluk sosial, manusia dibiasakan dengan sosialisasi, setiap orang wajib membina kepercayaan dan keyakinan sendiri, kerana kitalah yang bertanggungjawab ke atas diri sendiri. Tidak ada orang lain yang bertanggungjawab ke atas diri kita, maknanya, kita tidak wajar mencari kambing hitam untuk menutupi setiap kelemahan dan kekurangan diri.
Namun, kita perlu memahami bahawa "orang lain" tetap ada pengaruhnya, tetapi, kerana setiap manusia diberikan "akal fikiran", maka garis penentunya ialah hasil pemikiran kita sendiri. Hasil pemikiran dibentuk oleh banyak faktor, dan antaranya ialah hakikat kejadian kitalah yang menjadi tiang tempat kita bersandar dan juga asas yang menentukan pilihan yang kita putuskan.
Hakikat Kejadian
Hakikat kejadian, dalam pandangan seorang muslim itu berasal dari Dia, Tuhan yang menciptakan dan Tuhan yang menentukan. Hidup dan mati kita adakah dari Dia dan kita akan dipanggil kembali kepada Dia, bukan kita yang menentukan. Dia menjadikan kita sebaik-baik kejadian, memberikan kita keupayaan berfikir dan membuat pilihan, maka setiap jalan yang kita pilih hendaklah berpandukan "Jalan Dia", bukan "jalan kita".
Menurut Imam Al-Ghazali (1058-1111) dalam Ihya Ulumuddin [dalam bab Kitab al-Tafakkur, bahagian Rubu' al-Munjiyat, bab ketiga, Jilid 4) ada tiga sifat makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT. Bab ini diterjemahkan bersama dengan bab Kitab al-Niyat wa al-Ikhlas (Bab 2, Rubu' al-Munjiyat, Jilid 4) oleh Nor Alisa Abdullah dan diterbitkan dengan judul Wahai Diriku, Apa Sebenarnya Yang Kau Mahu? (Batu Caves, Selangor: PTS Publishing House, 2025)], iaitu:
(1) Tidak diketahui asal-usulnya.
Jenis makhluk yang tidak kita ketahui asal-usulnya, ia bersandarkan kepada firman-Nya: "Dan, Dia menjadikan apa yang kamu tidak mengetahuinya."
(Surah an-Nahl, ayat 8);
"Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan makhluk-makhluk semuanya berpasangan; sama ada dari yang ditumbuhkan oleh bumi, atau dari diri mereka, ataupun dari apa yang mereka tidak mengetahuinya (Surah Yaa Sin, ayat 36)"; dan
"Dan berkuasa menciptakan kamu dalam bentuk kejadian yang kamu tidak mengetahuinya." (Surah al-Waaqi'ah, ayat 61).
(2) Diketahui asal usul dan jumlahnya tetapi tidak secara terperinci.
Ia terbahagi kepada "apa yang kita rasa" dan "apa yang tidak kita rasa" dengan deria penglihatan. Ertinya, intuitif memberikan kita jawapan, walaupun kadangkala jawapan itu belum memuaskan atau tidak menepati kebenaran secara mutlak.
Dalam perspektif ini, kita mungkin dapat memahami sesuatu berdasarkan pengetahuan yang kita miliki, misalnya psikologi. Dengan memahami psikologi, sedikit sebanyak kita dapat memahami sifat manusia dan kehidupannya, termasuk bagaimana manusia membuat pilihan.
Namun, psikologi bukan faktor yang tunggal, ada pelbagai bidang atau faktor lain yang bersangkutan. Antaranya, sejarah dan pandangan alam (falsafah, sosiologi, dan sebagainya).
Sebab itulah dalam menangani kehidupan, kita tidak hanya perlu kepada hanya satu bidang, kerana kehidupan itu sendiri adalah susunan pelbagai bidang, dan memerlukan kepelbagaian kemahiran (multi-skilling atau multi-talent). Namun tidak mudah untuk mencapainya, tetapi ia bukan sesuatu yang mustahil untuk menggapainya.
Dalam sejarah intelektual Islam, ada ramai cendekiawan yang mempunyai pelbagai kemahiran dan pengetahuan, yang dalam istilah dipanggil polymath. Misalnya, Ibnu Sina.
Selain terkenal sebagai ahli falsafah, Ibnu Sina cukup memahami ilmu psikologi, matematik, perubatan, sosiologi, astronomi, perundangan (fiqh) dan yang menarik daripada kepelbagaian ilmunya ialah kebolehannya yang luar biasa tentang anatomi, fisiologi manusia dan kaedah mendiagnosis punca penyakit serta merawatnya.
Al-Ghazali juga terkenal dalam bidang psikologi, falsafah, logik, pendidikan, tasawuf, ekonomi, selain teologi. Beliau menulis berdasarkan adunan pengetahuan dan pengalaman, dengan sentuhan psikologi sehingga karyanya menjadi rujukan penting walaupun sudah melebihi 900 tahun kematiannya.
(3) Dapat atau tidak dapat dirasai oleh deria penglihatan.
Oleh kerana ruang lingkup pemikiran manusia sempit dan samar-samar, kita tidak dapat rasa dengan deria penglihatan tentang malaikat, jin dan syaitan, Arasy, Kursi dan lain-lain, tetapi tidak bermakna kita tidak boleh bersikap rasional, yakni mendekati sebuah pemahaman, apa yang dirasai oleh deria penglihatan.
Ajakan Berfikir.
Al-Qur'an mengajak dan menggalakkan kita berfikir:
"Sesungguhnya pada kejadian langit dan bumi, dan pada pertukaran malam dan siang, ada tanda-tanda (kekuasaan, kebijaksanaan dan keluasan rahmat Allah) bagi orang-orang yang berakal." (Surah ar-Ruum, ayat 20).
Kerana itu, Imam al-Ghazali mengajak kita untuk berfikir tentang (1) Keajaiban Penciptaan Manusia; (2) Keajaiban Bumi; (a) Hamparan Kehidupan dan Bukti Kebesaran Ilahi, (b) Permata, Mineral dan Hikmah Penciptaan; (3) Keajaiban Penciptaan Haiwan; (4) Samudera Luas; (5) Air Mani Kepada Mereka yang Tidak Mendengar dan Memerhati; (6) Keajaiban Udara dan Rahsia Alam di antara Langit dan Bumi; dan (7) Keagungan Langit dan Kebesaran Allah SWT.
Kata al-Ghazali: "Perumpamaan kamu dan fikiran kamu tidak lain hanyalah perumpamaan seekor semut yang keluar dari lubangnya yang digalinya sehingga ia menjadi sebuah istana yang kukuh seperti istana raja, dengan struktur yang tinggi, tiang-tiang yang kukuh, dan dihiasi dengan pelayan perempuan dan pelayan lelaki, dan segala jenis perhiasan dan barang berharga.
"Jika ia keluar dari lubangnya dan bertemu dengan rakannya, ia tidak akan bercakap - kalaulah ia diberikan keupayaan untuk bercakap- kecuali tentang rumahnya, makanannya, dan bagaimana makanan tersebut disimpan.
"Ada pun keadaan istana dan raja di dalam istana, ia terasing jauh dan tidak memikirkannya. Malah, dia tidak mempunyai keupayaan yang lebih untuk melihat selain dirinya, makanan dan rumahnya.
"Sebagaimana semut yang lalai terhadap istana, lantainya, atapnya, dindingnya, dan seluruh strukturnya, dan juga lalai terhadap penghuninya, begitu juga kamu yang kalau terhadap rumah Allah SWT dan malaikat-malaikat-Nya yang menjadi penghuni langit-Nya.
"Kamu tidak mengetahui tentang langit melainkan apa yang diketahui oleh semut tentang atap rumahnya, dan kamu tidak mengetahui tentang malaikat-malaikat langit kecuali apa yang diketahui oleh semut tentang kamu dan penghuni rumahnya!.
"Ya, semut tidak mempunyai cara untuk mengenali kamu, dan keajaiban binaan pencipta di dalamnya. Sebaliknya bagi kamu, kamu memiliki kuasa untuk menerokai kerajaan dan mengetahui keajaiban-Nya yang makhluk kalau tentangnya."
Oleh kerana itu, kata Imam al-Ghazali selanjutnya: Segala yang kita ketahui adalah sangat sedikit dan rendah berbanding apa yang diketahui oleh para ulama dan wali." Manusia mempunyai pengalaman dan pengetahuan yang lebih sedikit berbanding apa yang diketahui Nabi dan apa yang diketahui oleh Nabi adalah sedikit berbanding apa yang diketahui oleh para malaikat yang dekat dengan Allah.
"Kemudian, segala ilmu malaikat, Jin dan manusia jika dibandingkan dengan ilmu Allah Yang Maha Kuasa, ia tidak layak disebut sebagai ilmu melainkan sesuai dipanggil kehairanan, kebingungan, kekurangan, dan ketidakmampuan."
Sesungguhnya, kita serba kekurangan dan kelemahan, tetapi kita diberikan "...ilmu pengetahuan...sedikit sahaja." (Surah al-Isra', ayat 85).
Dengan sedikit pengetahuan itulah kita sebenarnya membuat pelbagai tafsiran, ada yang mengena dan ada yang tidak memberikan sebarang manfaat. Walau bagaimanapun, pengetahuan itu tetap menjadi sebahagian daripada bentuk maklumat atau data, yang membentuk kita kepada satu kesimpulan, sama ada hanya berdasarkan logik (logic) mahupun dalam skala intuitif (intuitive), dan prosesnya sentiasa berubah kerana manusia ikut berubah berdasarkan apa yang difikirkan, yang dipengaruhi oleh kehendak zaman, persekitaran, tanggapan (persepsi) dan pengamatan seharian.
Kamus Kemaafan
Sebagai manusia, dalam kesibukan kita berproses dan menjalani kehidupan, kita seringkali kalau tidak sepenuhnya terjebak dengan pelbagai desakan, kemahuan dan tafsiran tentang orang lain, maka di situlah kita perlu melihat semula apa yang sudah terjadi, dengan harapan tidak mengulanginya.
Dalam harapan itu, sebagai manusia yang kerdil dan kurang berpengetahuan, sesamalah kita memohon kemaafan atas segala ungkapan, perilaku atau gerak bibir yang pernah kalian dengar, saksi atau tontoni yang boleh mengakibatkan runtunan emosi sehingga ada yang kekal dalam lipatan Nurani membentuk "dendam".
Tetapi, kita amatlah mengharapkan "dendam" itu bukanlah "yang terindah" untuk disimpan kekal, biarlah "dendam" itu terlerai sebagai suatu proses pembaikian diri, dengan maaf setulus hati dan seikhlas jiwa. Kerana "dendam" itu adalah yang tersimpan di dalam hati, maka dengan hati yang menginsafi sesamalah kita memaafi.
Kalau Ramadhan mendidik jiwa dan Nurani, maka Aidilfitri itu adalah kemenangan yang menjadi momen sebuah keberanian kendiri. Kita berani mengakui kesilapan dan kita berani untuk memohon kemaafan, dalam semangat kemenangan Madrasah Ramadhan.
Pada detik itu, kita berani untuk menyatakan kesilapan diri, dan juga memperbaikinya dengan harapan segala "dendam" yang lama disimpan mengalir cair dalam limpahan kesedaran yang jernih, mengalir ke muara semua kekotoran dan jelaga agar tidak lagi terbeban dalam kitaran emosi.
Dan, maaf itulah sebenarnya satu kemenangan pada diri kerana perjuangan mengakui kesilapan bukanlah mudah, dan penuh ranjau. Ia bukanlah kemenangan dalam perdebatan, tetapi kemenangan di atas kejujuran dan keikhlasan. Kemenangan meruntuhkan ego dan kembali kepada fitrah, hidup dibaluti cinta dan kasih sayang. Kemenangan menebar dan membudayakan kasih sayang.
Dan, dari situlah kita memulai, sebuah perubahan yang benar-benar bererti: buang yang keruh, ambil yang jernih..Jika 'dendam' itu dilepaskan, ia menjadi titik balik terindah dalam kehidupan seterusnya.
SALAM AIDILFITRI
Masjid al-Imam al-Ghazali (MAIAG),
Bandar Manjalara, Kuala Lumpur
1 Syawal 1447/ 22 Mac 2026.
MONOSIN SOBRI