Ensiklopedia

Keterangan ringkas & tepat mengenai pelbagai ilmu!

 

MALAM PERTAMA MANUSIA DI ALAM KUBUR

Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

DALAM pandangan Islam, kematian bukan fase terakhir perjalanan manusia, melainkan gerbang pertama menuju alam yang lebih panjang dan abadi. Seseorang yang telah berpisah dari kehidupan dunia akan menghadapi sesuatu yang tidak pernah dialami sebelumnya. Kepadanya diperlihatkan setiap perbuatan yang pernah dilakukan baik sengaja mau tidak disengaja. Ketika itu manusia terbagi kepada dua golongan; bahagia dan sengsara.

Orang-orang yang memperoleh kebahagiaan (السُّعَدَاءُ) ialah mereka yang menjalani kehidupan sesuai perintah Allah Subhanahu Waatala dan petunjuk Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wasallam. Iman dan takwa dijadikan sebagai fondasi hidup dan berbekal dengan amal shaleh yang cukup. Maka dengan demikian, golongan pertama ini akan mendapat kenikmatan yang tak pernah terbayangkan selama di dunia. Kebahagiaan yang dirasakan tidak sampai di situ, orang-orang yang telah meninggal lebih dahulu menyambut dengan sambutan meriah. Diriwayatkan dari Abdurrazzaq dan Ibnu Jarir dari Al-A‘masy melalui Abdullah Al-Asham, ia berkata:

Apabila seorang mukmin meninggal dunia, rohnya dibawa menuju roh-roh kaum mukminin. Mereka berkata: “Ini ruh saudara kita.” Karena ia baru saja keluar dari kesusahan dunia, mereka membiarkannya beristirahat sejenak. Kemudian mereka bertanya kepadanya: “Bagaimana keadaan si fulan? Bagaimana keadaan si fulanah? Bagaimana keadaan si fulan?” Lalu ia mengabarkan keadaan mereka yang masih hidup. Hingga mereka bertanya tentang seseorang, maka ia menjawab: “Bukankah dia telah meninggal? Tidakkah ia datang kepada kalian?” Mereka menjawab: “Tidak.” Maka mereka berkata: “Berarti ia dibawa menuju ibunya, yaitu al-Hâwiyah (neraka).”’(As-Sayûthi, Ad-Dûr al-Mantsûr fi tafsîr al-Ma’tsûr, hlm 565).

Berdasarkan riwayat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa orang yang baru meninggal disambut oleh yang lebih dahulu wafat, ketika itu mereka tak sabar ingin mengetahui keadaan keluarga dan handai taulan yang masih di dunia. Selain itu, sesama penghuni barzakh saling bertemu satu sama lain.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

الْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ

Roh-roh itu adalah pasukan-pasukan yang dihimpun. Roh yang saling mengenal akan saling akrab, dan ruh yang saling tidak mengenal akan saling berselisih. (HR. Bukhari dan Muslim).

Roh orang-orang beriman saling bertemu satu dengan yang lain di alam barzakh,  hal itu karena mereka hidup dalam kenikmatan dan kebahagiaan. (Ibnu Qayyim Al-Jauziah, Ar-Rûh, 23). Seseorang bertanya kepada Ibnul Qayyim, apakah roh orang-orang yang hidup dan yang telah meninggal saling bertemu, saling mengunjungi, dan saling mengingat (berbincang)?" Kemudian beliau menyebutkan banyak hadis dan atsar, lalu menyimpulkan: "Roh-roh kaum mukminin saling bertemu, saling berziarah, dan saling berbincang." (Muhammad Husein Al-Makhlûf, Al-Mathâlib Al-Qudsiyah fi Ahkâmirrûhi wa Atsâriyah Al-Kauniyah, hlm 138).

Berdasarkan keterangan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwasanya orang-orang beriman tidak merasa kesepian dan jauh dari kesuyian. Di alam barzakh akan banyak sahabat yang menemani hingga hari berbangkit tiba, bahkan kala baru sampai langsung disambut meriah oleh orang-orang yang telah wafat. Keadaan ini akan terus dirasakan hingga hari kiamat.

Dari Bara’ bin Azib berkata, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

... فَيَأْتِيهِ رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ، حَسَنُ الثِّيَابِ، طَيِّبُ الرِّيحِ، فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ، هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ. فَيَقُولُ لَهُ: مَنْ أَنْتَ؟ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالْخَيْرِ. فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ.
Kemudian datang kepadanya seorang laki-laki yang sangat tampan wajahnya, indah pakaiannya, dan harum baunya. Ia berkata, 'Bergembiralah dengan sesuatu yang menyenangkanmu. Inilah hari yang dahulu dijanjikan kepadamu.' Maka orang mukmin itu bertanya, 'Siapakah engkau? Wajahmu adalah wajah yang datang membawa kebaikan.' Ia menjawab, 'Aku adalah amal salehmu.' (HR. Ahmad)

Sementara golongan kedua ialah orang-orang yang sengsara (الأَشْقِيَاءُ), di mana selama di dunia menyelisihi tuntunan Al-Qur’an dan hadis. Keadaan mereka sangat memprihatikan, setiap hari memohon kepada Allah Subhanahu Waatala agar diberi kesempatan kembali ke dunia untuk menebus segala kesalahan dan berjanji untuk tidak mengulanginya. Namun permintaan itu tidak pernah dikabulkan, justeru dengan tegas permintaan itu sesuatu yang mustahil terjadi. Maka dengan demikian, golongan ini hidup dalam penderitaan yang dahsyat hingga hari berbangkit.

Allah Subhanahu Waatala berfirman:

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ ۝ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖ وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ۝

Hingga apabila kematian datang kepada salah seorang dari mereka, dia berkata: 'Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat amal saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan.' Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu hanyalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan. (QS. Al-Mukminu 99-100).

Al-Hasan berkata: Tidak ada seorang pun dari makhluk Allah setelah datang kematian kepadanya melainkan berbicara dengan ucapan ini. Bahkan orang yang bisu sekalipun akan memintanya. Hal itu karena telah jelas baginya bahwa ia termasuk penghuni neraka sehingga ingin dikembalikan ke dunia untuk beramal shaleh. (Muhammad bin Abdullah Abî Zamanîn, Tafsîr Al-Qur’ân Al-‘Azîz libni Abî Zamanîn, 211).

Kalimat di atas mengisyaratkan bahwa ketika kematian telah datang dan tabir akhirat pun tersingkap, manusia menyadari dengan jelas hakikat amal yang telah dilakukannya. Orang yang lalai dan menyia-nyiakan kesempatan beramal shaleh akan dipenuhi penyesalan yang mendalam hingga memohon untuk dikembalikan ke dunia. Namun penyesalan itu tidak lagi bermanfaat, karena masa beramal telah berakhir.

Saat orang-orang kafir dan pelaku dosa yang masih menikmati dosanya akan mendapat sambutan buruk. Diriwyatkan dari Bara’ bin Azim, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ هَذَا؟ فَيَقُولُونَ: لَا مَرْحَبًا بِالنَّفْسِ الْخَبِيثَةِ،كَانَتْ فِي الْجَسَدِ الْخَبِيثِ ارْجِعِي ذَمِيمَةً فَإِنَّهُ لَا تُفَتَّحُ لَكِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ

Siapa ini? "Mereka berkata: 'Tidak ada sambutan bagimu, wahai jiwa yang buruk, yang dahulu berada dalam jasad yang buruk. Kembalilah dalam keadaan tercela, karena pintu-pintu langit tidak akan dibukakan untukmu.' (HR. Ahmad dan Hakim).

Riwayat di atas mengisyaratkan bahwa roh orang-orang jahat dan kafir tidak mendapat sambutan meriah, justru penolakan dan pengusiran dirasakan. Akibatnya, pintu-pintu langit tidak dibukakan untuknya, sehingga ia tidak memperoleh kedudukan mulia di sisi Allah Subhanahu Waatala. Jadi, dengan demikian keadaan orang-orang yang sengsara ini semakin menyakitkan hingga datang hari kiamat.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud malam pertama bukan keadaan gelap gulita seperti yang kita bayangkan, tetapi sebuah keadaan saat berada dalam kehidupan baru (alam barzakh). Pada saat itu manusia terbagi menjadi dua golongan: orang-orang yang berbahagia (السعداء) dan orang-orang yang sengsara (الأشقياء). Orang-orang beriman yang hidup dalam ketaatan akan memperoleh sambutan yang penuh kemuliaan, merasakan ketenangan, serta berkumpul dengan ruh-ruh kaum mukminin yang telah mendahului mereka. Sebaliknya, orang-orang kafir dan pelaku maksiat akan menghadapi penyesalan yang mendalam, sambutan yang buruk serta berbagai bentuk penderitaan sebagai balasan atas kelalaian mereka terhadap perintah Allah Subhanahu Waatala. ***

Sumber: kiblatriau.com
 

Written by Admin
Category: Penyejuk Jiwa
Hits: 33

 

MENANAMKAN KEYAKINAN AKAN PERTOLONGAN ALLAH

Kaum Yahudi akan terus membuat drama kehidupan tidak pernah berhenti. Drama kehidupan seperti kisah dua putra Nabi Ya’kub: rivalitas Nabi Yusuf dan Yahuda akan diputar ulang tentang permusuhan,  penderitaan dan kehancuran. Seperti kisah kehancuran Libya, Irak, Yaman dan negara-negara Timur Tengah lainnya.

Tidak peduli, apakah mereka sama-sama masih satu etnis atau garis keturunan atau satu agama. Bahkan kepada para Nabi sendiri mereka terlalu percaya diri merendahkan derajat para Nabi-Nabi Allah-mulai dari Nabi-Nabi mereka hingga Nabi Muhammad SAW. Dengan tidak malu-malu, mereka mengklaim sebagai orang suci dan orang-orang yang paling pantas masuk surga. Allah swt menjelaskan dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 112 sebagai berikut:

بَلٰى مَنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهٗٓ اَجْرُهٗ عِنْدَ رَبِّهٖۖ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَࣖ ۝١١٢

Artinya:

Tidak demikian! Orang yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah serta berbuat ihsan, akan mendapat pahala di sisi Tuhannya, tidak ada rasa takut yang menimpa mereka, dan mereka pun tidak bersedih.

Ayat tersebut memberi penguat kepada Nabi Muhammad dan orang-orang yang mengikuti nya-kaum Muslimin- tentang ketidakbenaran klaim kaum yahudi. Mereka -Kaum Yahudi-adalah sumber kedustaan. Sumber kebenaran sejati sebenarnya berasal dari Allah SWT. Dia lah yang akan memasukan ke dalam surga yang kekal selamanya.

Faktanya kadang tidak berbanding lurus antara teori dan kenyataan hidup. Allah telah memberi garansi bahwa orang-orang yang beriman kepada-Nya akan mendapatkan kebahagiaan yang kekal abadi di Akherat nanti. Sudah begitu banyak ayat-ayat -Nya dan hadist-hadist Nabi Muhammad tentang janji-janji kemuliaan.

Kini kita melihat fakta dalam kehidupan, banyak orang-orang yang berilmu, terpelajar dan terpandang dalam kehidupan sosial. Sering mereka mengalami suatu kesedihan hingga kegoncangan batin yang sangat hebat akibat memikirkan keperluan hidup.

Fakta tersebut terekam dalam beragam kisah, peristiwa kehidupan yang sumrambah di media sosial dan media elektronika lainnya. Kejahatan bukan hanya dilakukan oleh orang-orang biasa. Tapi justru terkadang melibatkan kaum intelektual di berbagai institusi pemerintah, lembaga dan ormas-ormas.

Fakta tersebut sebenarnya juga bagian dari pengulangan sejarah masa lalu. Ketika saya membaca kisah kehidupan sahabat Nabi Musa bernama Qarun, maka saya menemukan betapa persoalan kehidupan terkadang mampu menggerus nilai-nilai moral, etika bahkan hingga pada persoalan keimanan.

Saya-dan mungkin anda- yang pada dirinya sebagai ahli ibadah, ilmu terasa lebih luas dibandingkan orang lain, lebih punya wawasan, masuk kelompok intelektual. Namun semua itu tidak menjadi jaminan diri agar terhindar dari persoalan degradasi keimanan dan moral ketika menghadapi suatu problema kehidupan.

Sebab manusia mempunyai pandangan berbeda-beda tentang inti suatu kebahagiaan. Kelompok pertama, ada yang konsisten bahwa kebahagiaan sejati adalah ketika dirinya dekat dengan Tuhannya dalam kondisi apapun-senang dan susah. Kelompok ini mempunyai imun yang kuat etika terjadi berbagai krisis pada persoalan kehidupan di dunia berupa kemiskinan, bencana dan berbagai ujian hidup.

Kelompok kedua, ada yang menginginkan kebahagiaan dunia dan akherat, namun ketika ditimbang-timbang lebih memberatkan pada kebahagiaan dunia. Saat terjadi ujian hidup yang beragam, muncul putus asa. Seolah-olah tidak mempunyai kekuatan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Ia pun hanyut dalam penderitaan batin yang berkepanjangan.

Allah telah mengajarkan pola hidup “وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَࣖ “-tidak takut dan sedih-akan janji-janji Allah. Kalimat tersebut terlalu sering diucapkan oleh kita, para ustadz di mimbar-mimbar suci dan para mubaligh di depan ribuan jama’ahnya.

Benarkah kita sudah menerapkan pola hidup demikian. Sebuah pertanyaan yang masih sulit untuk dijawab secara tepat.

Tentu saja, saya lagi-lagi belajar menyadari diri bahwa kadang dalam menjalani kehidupan ini penuh dengan kelucuan. Kita sudah tahu bahwa dulu kita tidak ada, lalu diadakan oleh Allah di dunia, lalu kita akan kembali kepada-Nya. Kita sudah tahu bahwa hidup di dunia itu singkat dan tempat ini sebatas untuk menanam ibadah dan amal sholeh.

Lagi-lagi pengetahuan ini tidak sampai menjadi kesadaran yang natural tentang pentingnya “melarutkan” keyakinan kehadiran Allah dalam kehidupan secara kaffah dalam seluruh kehidupan sehari-hari. Pada tataran ini, kita harus terus berlatih agar ada kesadaran total bahwa hidup benar-benar hanya dari Allah dan akan kembali kepada-Nya, dan seluruh aktivitas kita semata-mata hanya mencari ridha-Nya. Pola penanaman seperti ini bagian dari pembelajaran penting untuk memperbaiki keimanan dan amal sholeh -dalam aspek yang luas-semakin baik dan bermakna. Disisi lain, kita pun akan menemukan kebahagiaan batin dalam kondisi apapun dalam kehidupan sehari-hari.

Penulis : Vijianfaiz, PhD

Sumber: imamghozali.id

Written by Admin
Category: Penyejuk Jiwa
Hits: 179

 

ULAMA ADALAH TUKANG KEBUN TUHAN (III)

Renungan dan nasihat Bahaudin Walad cukup dekat apa yang beliau fahami makna dalam al-Quran. Beliau tidak merenungi sesuatu perkara sebagaimana manusia biasa merenung tentang "nasib" atau sesuatu perkara yang terlintas dalam fikirannya.

Misalnya, ketika merenung warna langit yang sedang mencapai puncak senja, sebahagian daripada manusia hanya melihat "keindahan warna" alam maya yang cukup harmoni berpadu, sehingga "keindahan" itu benar-benar menakjubkan sebagai satu bentuk panorama alam.

Tidak hairanlah ada yang sangat gemar kepada warna-warna itu sehingga ada yang mentafsirkannya sebagai sebuah lembayung petang yang akan menamatkan hayatnya pada hari itu, matahari hanya sekadar tenggelam dalam tata alam, dan esoknya akan muncul fajar yang juga cukup menarik.

Antara tenggelam dan munculnya matahari, akan memberikan makna buat manusia untuk memandu arah hari. Apakah hari itu membawa cahaya terang hingga ke petang, atau akan ada hujan di tengah hari. Jika hujan mencurah-curah tanpa henti untuk beberapa jam, hati manusia mula bimbang kemungkinan berlakunya banjir, dan kesesakan jalan raya yang amat tinggi.

Alam itu bukan sahaja memberikan rezeki dan ketenangan, juga boleh membawa banyak "ujian" yang memaksa kita berfikir dan mencari langkah bagaimana untuk berhadapan dengannya. Tidak semua orang berjaya dengan usahanya, dan ada yang merasa gagal kerana halangan-halangan yang dilihat sebagai tidak dapat dikawal oleh akal sihat lalu menyalahkan semua orang, biarpun Allah SWT memberikan petunjuk yang cukup jelas.

Allah SWT menyatakan, semua yang ada di bumi dan di langit adalah untuk faedah setiap makhluk, kerana dari situlah muncul rezeki. Allah SWT juga memberikan amaran, dalam setiap daripada manusia "mencari rezeki", lakukanlah secara berhemah demi kelangsungan ekosistem, kerana ekosistem yang terganggu akan menyebabkan musibah: telah berlaku kerosakan di langit dan di bumi akibat tangan-tangan manusia. (Surah ar-Rum, ayat 41).

Kata Bahaudin Walad (BW Maarif, Kitab 1, Bab 53): "Dunia ini adalah sebuah langit terbuka dan juga sebuah tempat sampah. Dunia ini memberikan kehidupan dan juga kematian... Tekanlah jarimu pada dunia ini, lalu dekatkan jarimu itu ke lubang hidungmu.

"Maka, engkau akan menciumi aroma minyak wangi, atau di sebaliknya, engkau akan mencium bau busuk (kekotoran). Namun, jika cintamu kepada-Nya tetap menyala, maka hatimu akan tetap terjaga. Jika engkau sedang menggenggam emas di tangan, jangan engkau bayangkan untuk mengubahnya menjadi kotoran."

Maknanya cukup dalam, bau wangi itu muncul dalam suasana kita berjaya mengendalikan diri, tidak dipengaruhi oleh faktor luaran yang sentiasa berproses dalam sistem dan cara kita berfikir. Fikiran, dalam fahaman ahli sufi merupakan penasihat, manakala hati adalah raja, atau kemuncak kepada kehendak yang tidak terbatas dan tanpa had. Sebab itu ada pepatah mengatakan: Ikut hati binasa. Sebabnya, hati sentiasa muncul dalam entiti rasa, tanpa beralaskan rasional. Namun, rasionaliti juga bahaya, apabila fikiran terlalu bebas sehingga mencabut nilai atau proses yang tepat.

Setiap tindakan perlu mengukur pada acuannya, kerana kebebasan tanpa acuan yang tepat akan menyebabkan kehancuran yang fatal. Ia seperti dunia hiburan yang tidak dapat dikawal, ekstasi berlebihan dan ghairah yang boleh membawa kepada kematian. Kita pernah dengar, kerana "ekstasi" ada yang sanggup menjadi "gila" dan proses menuju kegilaan itu dilalui dengan cara yang "membunuh diri" sendiri. Mengambil dadah, dan dadah itu melonjakkan denyut jantung. Akhirnya, denyut jantung terhenti. Kebetulan, ada juga dadah yang dinamakan ekstasi, yang cepat menyerap rasa ghairah dan lupa diri.

Oleh itu, sebagai penasihat, fikiran wajar menentukan bahawa gerak hati tidak terjerumus ke dalam "ruang sampah", kerajaan ianya membawa kepada bau hapak yang menyengat dan kegilaan yang melampau. Kerana, apa yang dibangunkan oleh "ruang sampah" itu adalah ilusi, dan kadangkala muncul dalam proses yang cukup licik dan berbahaya. Makna "ruang sampah" ialah apa yang boleh ditafsirkan sebagai "melanggar" atau dalam bahasa agama, kemungkaran dan keburukan.

Nasihat ayah Rumi lagi: "..dalam mencari kesenangan duniawi, tiada yang lebih indah selain penyatuan antara rasa sayang dan sentuhan lembut kekasih ketika saat bercinta (bertemu atau bersentuhan). Itulah rasa yang termanis. Jika engkau menjadi ekstasi (keasyikan yang amat) di dalamnya, maka ingatlah Tuhan yang telah mengurniakan nikmat itu kepadamu.

"Atau, ketika saat engkau merasakan otakmu seperti akan terbelah di puncak kenikmatan, ingatlah kekuatan gempa bumi boleh memisahkan gunung dan tembok batu yang berliku-liku. Biarkan kuasa kehidupan itu mengalir hingga puncak dan memecahkan ekstasi ghairahmu....

"Keinginan untuk menyenangi dan memiliki benda-benda duniawi muncul dalam diri kita secara alami. Seperti seorang anak kecil menyukai gula-gula (atau aiskrim), begitu juga kita yang terobses kepada pelbagai hiasan...memiliki kecenderungan untuk berghairah dan menyenangi benda-benda, hingga akhirnya seluruh benda-benda yang kita senangi itu lebur menjadi cahaya." (BW Maarif, Kitab I, Bab 59).

Ingatlah, semuanya adalah sementara, kerana setiap kali kita mencapai kepuasan, kepuasan itu tidak kekal, kita akan mencari bentuk kepuasan yang lain. Sesuatu kepuasan yang kita capai, akan mencapai tahap "tidak lagi puas"; kita beralih untuk mencari lebih banyak kepuasan yang berbeza. Dalam proses mengumpul kepuasan itulah kita sebenarnya menuju kepada tahap kejatuhan dan kerendahan "harga diri". Oleh kerana "perburuan kepuasan" tanpa henti, kita menjadi manusia yang tamak, haloba, dan paling dahsyat ialah sanggup bertindak kejam selagi "kepuasan" yang baru muncul dan hendak kita gapai itu belum menjadi kenyataan.

Sesungguhnya, hidup ini terus bergelumang dengan dosa atas haloba. Pada akhir sufi, fenomena itulah yang menjadi "neraka dalam syurga" yang manusia sendiri mengejarnya hingga lupa bahawa, Allah SWT yang Maha Berkuasa dan Maha Menentukan. Adakalanya, kita mencabar Kekuasaan-Nya, sedangkan kita hidup atas rahmat-Nya. Tanpa rahmat-Nya sudah lama manusia "mati" dan menjadi keras seperti batu atau puing-puing yang tidak bermakna.

Dalam mengharungi hidup ini, tentunya kita berusaha meraih "jiwa tenang" kerana kita yakin, "jiwa tenang" itulah puncak kebahagiaan. Namun, "sedarlah", kata Bahaudin Walad, " ketika engkau berniaga di kedaimu, ingatlah bahawa engkau sedang hidup di alam misteri. Jangan menipu orang lain. Jangan menjadi penjilat. Jangan menggunakan hal-hal yang berbau agama untuk meningkatkan status sosialmu. Jangan menukar kedamaian di dalam jiwamu dengan beberapa perhiasan bagi tubuhmu." Semuanya, tanpa disedari ia akan menjadi 'penjara terbuka": ilusi dunia.

Kita membangun "rumah kita" dengan menggunakan keenam pancaindera kita "dengan segala perhiasannya, sehingga kita pun enggan untuk meninggalkannya. Mata jiwa (Indera keenam) memandang sebuah gambar, kemudian lahirlah keinginan untuk bertindak, maka terciptalah sebuah dunia yang tergambar di dalam fikiran kita.

"Dan, di saat timbul kata mengapa", ujar musim gugur, "maka cinta pun akan berakhir seketika." Namun, di musim gugur itulah kita sepatutnya memahami, selepasnya akan berganti musim yang lain, kalau kita masih diberikan peluang untuk bernafas dan berada dalam rahmat-Nya. Bagaimana kalau ia tidak berlaku, musim gugur itu adalah musim penamat bagi jasad yang kita gunakan untuk berghairah melayani keinginan sendiri yang kita gambarkan dalam fikiran kita?

Sebab itulah, Bahaudin Walad cukup gemar menggambarkan hidup ini sebagai sebuah taman yang indah. Namun, taman yang indah akan kekal indah sekiranya "tukang kebun" terus menanam pokok dan menghasilkan benih yang baik. Pokok akan terus bercambah, membesar, berbunga dan berbuah selagi dunia ini belum berakhir. Pokok yang menghasilkan buah yang baik, atau berbunga mekar itulah "keindahan rumah kita".

Tentunya, untuk menjadikan taman yang indah sebagai "rumah kita", pokok-pokok yang kita tanam tidak dibiarkan tumbuh dan membesar tanpa dijaga sempurna. Pokok yang membesar "tanpa belaian" akan tumbuh meliar. Begitu juga dengan manusia, "terus menerus menguasai hari-hari dengan cara egois dan tidak normal."

Mereka yang tumbuh tidak normal itulah yang mengeluarkan "kata-kata dungu...engkau seperti pokok ara, yang tidak sepenuhnya tertanam di dalam tanah, tetapi tidak juga tercabut. Atau seperti pohon anggur yang terkeluar bebas dari dinding tempat tumbuhnya: tidak sepenuhnya terlihat atau tersembunyi.

"Atau setitik embun yang menguap di pagi hari: kau belum berpindah ke tempat yang lain, tetapi enggan untuk kembali. Engkau hidup di tengah kebingungan yang telah engkau ciptakan sendiri." (BW, Maarif, Kitab II, Bab 32).

Dan, "ingatlah Tuhan dalam segala perbuatanmu"; kerana setiap nafas yang tarik dan hembus itulah rahmat-Nya yang terbesar, semuanya kerana Cinta-Nya terhadap makhluk yang Dia sendiri ciptakan. Walaupun Dia tidak memerlukanmu, tetapi kerana Dialah engkau hidup dan menikmati keindahan semesta yang berada di seluruh pandangan mata dan hatimu. Jagalah hubungan engkau dengan Dia, sebelum Dia memutuskan nyawa kita, dan jagalah orang lain sebagaimana kita mahukan diri kita dijaga.

Jangan jadi seperti iblis yang dengki apabila melihat keindahan dan rahmat Tuhan pada Nabi Adam AS, "lalu menenggelamkan dirinya dalam sikap pengecut dan tak berdaya...membenci Nabi Adam serta seluruh keturunannya." Sebenarnya, iblis itu 'telah merosakkan sendiri wajahnya." Walaupun, kata Bahaudin Walad, "semuanya itu mungkin sekadar perumpamaan..suatu ketika, akan terbukti sebagai kebenaran." (BW, Kitab II, bab 64).

(bersambung)

MONOSIN SOBRI

 

Written by Admin
Category: Penyejuk Jiwa
Hits: 172

 

ULAMA ADALAH TUKANG KEBUN TUHAN (II)

Bahaudin Walad dalam satu renungannya menceritakan perihal "pelarian" seluruh ahli keluarga dari Balkh adalah perselisihan dengan Fakharuddin Razi. Ceritanya:

"Aku telah berkata kepada si kasar Fakharuddin Razi dan si bodoh Raja Kharazamsyah serta beberapa filosuf yang tidak berbahagia: "Dengan cara kalian itu, bererti kalian telah meninggalkan keindahan bunga-bunga, kalian telah mengabaikan kedamaian dan berjalan menuju kegelapan. Kalian telah melupakan keajaiban dari pelbagai hal yang nyata dan menggantinya dengan asap dan hantu.

"Ego diri kalian yang keliru itulah yang lebih banyak berperanan dalam membuat sesuatu keputusan. Kalian merasa bingung dan terkurung, tapi orang-orang yang bijak tahu bahawa benda-benda material di dunia ini adalah pintu menuju hal-hal spiritual. Kerana itu, kita memerlukan kaedah-kaedah khusus untuk memasuki spiritual secara pasti, sehingga kita boleh berbahagi kesedaran kepada para sahabat kita.

Sambung Sultan al-Ulama: "Kita hidup di sebuah tempat yang penuh duri dan racun dari pelbagai tanaman liar. Namun, jangan membuat kesedaran kita terpaut hanya kepada pelbagai hal yang seolah relatif negatif. Lihatlah pula kepada pelbagai hal yang bersifat positif: lihatlah kepada buah-buahan, sayur-sayuran, dan bunga mawar - kesemuanya memiliki manfaat bagi kehidupan kita, kerana itu perlu dirawat dengan sempurna."

Kenapa Bahaudin Walad pekerjaan sebagai "Tukang Kebun Tuhan?." Seorang tukang kebun, ia lebih mengenali perihal tanah, kerana ia penting untuk pertumbuhan tanam-tanaman. Tukang kebun pula perlu memilih benih yang baik untuk membolehkan pokok tumbuh dengan sempurna. Setelah benih itu bercambah, tukang kebun akan menjadikan anak pokok itu hidup subur: dibaja dan dirawat agar tidak ada virus atau serangga perosak menyerang, kerana ia boleh merosakkan pokok, dan mematahkan harapan untuk menikmati buah atau melihat bunganya berkembang mekar.

Merawat bererti mengajar dengan pelajaran agama bukan sekadar bentuk pengetahuan, ia wajib merangkumi amalannya sekali. Jika dipisahkan, ia tidak akan menghasilkan buah yang baik, mungkin juga buah akan menjadi busuk. Dalam pekerjaan itu, kata Bahaudin Walad:

"Aku berpendapat bahawa pekerjaan pertanian yang dilakukan penuh ketekunan dan kesabaran adalah salah satu bentuk kebajikan - tetapi Fakhrudin Razi dan Kwarazamsyah tidak setuju dengan hal itu. Mereka seperti belalang yang hinggap dan memakan hasil tuaian. (Maksud al-Qur'an, surah al-Qamar (54), ayat 7).

[(Pada saat itu) masing-masing - dengan keadaan menundukkan pandangannya kerana ketakutan - keluar dari kubur seperti belalang yang terbang bertebaran.]

"Oleh kerananya, daripada membantu mereka, maka aku pun menghiasi tubuhku dengan jubah yang sangat indah dan kelembutan budi pekerti Nabi Muhammad [surah al-Muddaththir (74) ayat 1]

"Aku menghiasi kepalaku dengan serban yang sangat indah dari Kehadiran Ilahi. Aku tumbuh mengikuti takdirku sendiri dan aku tidak tahu ke mana semuanya ini akan berakhir. Aku sedar bahawa aku harus ikhlas menjalani kehidupanku saat ini untuk mencapai spiritual berikutnya.' (BW Maarif, Kitab 1, bab 16).

Tentunya, apabila kita memahami dunia sufi, segala sesuatu bersumberkan Allah SWT, material dan spiritual. Seorang sufi tidak menganut materialisme, dan juga kebenaran fikiran semata-mata. Mereka sedar bahawa segala sesuatu yang bersifat material atau yang hanya nampak pada pandangan mata dan dirasa oleh pancaindera, adalah pintu kepada jendela spiritual.

Hubungannya sangat simbiosis, kerana spiritual juga membuka pintu kepada material, tetapi tidak dalam posisi material menguasai segala-galanya. Material hanya sekadar melengkapkan, kalau pun tidak sebagai tujuan besar, untuk memberikan kita 'kehidupan" agar jasad terus terpelihara. Jasad yang terpelihara akan menjadikan jiwa yang aman dan tenteram, jiwa yang mendekati Jalan Cinta.

Pada Bahaudin Walad, dengan cinta itulah kita hidup, tetapi cinta yang menghidupkan makhluk ialah cinta dari Maha Pencinta. Kerana itu, Bahaudin Walad berkata: Adalah benar bahawa cintaku kepada Tuhan telah meluaskan kesedaranku, sehingga tubuhku pun meluas bagai cahaya dan menyatu dengan semesta.

"Dengan cara yang sama - seperti juga hasrat seksual membuat anggota tubuhku lebih hidup dan bergelora- maka begitu juga kesedaran dalam diriku meluas, dan pada saat yang sama mampu berada di mana-mana" (BW Maarif, Kitab I, Bab 17).

Apa yang menjadi tumpuan seorang ahli sufi ialah meningkatkan kesedaran atau jiwa dalam setiap denyut nadi agar Jati Diri tidak terpenuhi dengan lumpur dan gejala. Harus dibuang segala ilusi dan berusaha untuk bersatu dengan semesta. Segala-galanya bermula dengan kesedaran, bukan bermula dengan tubuh.

Tubuh hanyalah alat atau bentuk (umpama kenderaan) sementara, sedangkan kesedaran tidak akan menjadi alat, ia akan bertindak sebagai pemandu. Bila kesedaran bersatu dengan tubuh, maka tubuh akan bangkit dalam posisi yang lebih bertenaga, Jati Diri mengental dengan keamanan, ketenangan dan keindahan. Dan, dari situlah hadirnya cinta yang murni, cinta yang kekal sampai bila-bila. Cinta itu tidak berakhir setelah tubuh menjadi jasad, dan jasad mereput sebagaimana sifatnya sebagai material. Cinta tanpa syarat.

Pada kisah Laila dan Majnun kita temukan cinta sejati, cinta yang hadir dalam keluhuran jiwa pada yang satu, biarpun banyak rintangannya, ia kental menyatu dalam makna cinta. Cinta Majnun bukan pada keindahan pandangan mata, kerana ada yang lebih cantik daripada Laila. Cinta Laila juga bukan kerana kedudukan, kerana suaminya juga adalah seorang yang berharta. Hatinya tetap untuk Majnun, walaupun Majnun dikatakan "gila". Ia tetap teguh dan kental, tidak tergoda kepada orang lain.

Cinta Majnun dan Laila adalah cinta yang tidak mampu dihalang oleh sesiapa atau apa pun. Bahkan, Majnun sanggup tidak menerima rawatan yang dicadangkan ke atasnya, kerana dia melihat (berfirasat), pisau bedah itu nanti akan menyakitkan Laila, walhal ketika itu, Laila sudah pun meninggal dunia. Ini menunjukkan cinta sejati kekal dipertahankan, walaupun jasad sudah berpisah dan tembok pemisah dibina. Cinta itulah sepatutnya ada dalam diri setiap manusia, kerana dengan cintalah makhluk hidup dan merasa aman.

Cinta Laila dan Majnun merupakan lambang atau simbol dalam dunia sufi, kerana cinta bukan dijalin dengan syarat dan prasangka. Cinta hadir dalam ketelusan jiwa dan kemurnian naluri, untuk mencapai tahap "menyatu dengan Tuhan". "Menyatu" bukan bermakna hidup bersama seperti kita faham sebagai makna cinta lelaki dan perempuan. Ia menyatu dalam semangat, fikiran, jiwa dan emosi, lalu diterjemahkan sebagai tindakan dan setiap denyut nadi bergerak dalam aliran air yang tidak pernah menyoal asalnya.

Air tidak pernah bertanya, ke mana dirinya akan pergi untuk apa-apa pemergiannya. Namun, ia tetap memenuhi ruang-ruang bumi sehingga memberikan nyawa kepada pokok, haiwan dan manusia. Kerana itu, apabila kita mendengar saja kata "air", maka dengan spontannya ia menimbulkan rasa nyaman, sejuk dan kerendahan diri. Jika tiada air, kita akan merasa panas, rimas dan sebagainya sehingga mewujudkan kekacauan serius.

Begitulah politik. Kalau air boleh menyejukkan dan membuat setiap daripada kita merasa nyaman, maka sang politikus hendaklah berperanan seperti air, bukan seperti api. Namun, dalam politik terlalu banyak politikus yang berperanan sebagai "batu api" dan kadangkala, atau seringkali "mencurah minyak ke unggun api".

Siapakah mereka? Kenalilah mereka kerana mereka inilah yang mencari kekayaan melalui politik, seperti titah Sultan Selangor, kalau nak mencari kekayaan, jangan berada dalam politik. Sejarah Islam mengajarkan kita, pemimpin yang adil adalah yang benar-benar berkorban demi rakyat: membahagikan kekayaan diri untuk membantu rakyat, tidak menggunakan apa sahaja milik atau hak rakyat untuk menabung kekayaan peribadi, dan lebih penting, tidak membodohkan rakyat dengan pelbagai retorik dan "janji syurga."

Abu Bakar, Umar al-Khattab, Uthman Affan, Umar Abdul Aziz, Salahuddin al-Ayyubi dan ramai lagi menjadi contoh yang cukup segar dalam sejarah kepimpinan umat Islam. Mereka hidup dalam kebaikan dan pengorbanan yang cukup besar untuk rakyat. Mereka sanggup berkorban harta dan kekayaan dengan harapan: Semoga Allah SWT membalasnya dengan syurga, dan seluruh kehidupannya sebagai pemimpin dijalani penuh cinta, sehingga kemunculan mereka menjadi rahmat bagi alam semesta, kerana mereka benar-benar memahami Islam dan meneladani Nabi Muhammad SAW.

(bersambung)

MONOSIN SOBRI

Written by Admin
Category: Penyejuk Jiwa
Hits: 172

 

ULAMA ADALAH TUKANG KEBUN TUHAN

Muhammad Ibnu Hussain al-Khatibi (1152-1231M) adalah seorang ulama yang cukup berpengaruh di Konya dan sebelumnya di Balkh (sekarang Afghanistan), dikenali dengan panggilan Bahaudin Walad. Beliau adalah ayahanda kepada Jalaludin Rumi (1207-1273). Walaupun tidak banyak penulisan mengenai Bahaudin Walad dibuat, beliau seorang sufi besar yang telah mempengaruhi pemikiran Jalaludin Rumi di peringkat awal perkembangan intelektualnya.

Rumi kemudiannya muncul sebagai seorang sufi teragung di mana sehingga sekarang karyanya terus menjadi santapan ruhani baik di dunia Islam mahupun di dunia barat. Bahkan, karya-karya Rumi dikatakan mampu mengubati "jiwa luka" dan "memenuhi lubuk spiritual" manusia yang semakin hilang deria keenam dalam diri akibat kemelut kehidupan moden yang materialistik, individualistik dan hedonistik.

Di Barat, khususnya di Amerika Utara, karya Rumi diterjemahkan secara meluas sehingga pernah muncul fenomena Rumimania sekitar tahun 1990-an. Keghairahan masyarakat Amerika mempelajari pengetahuan sufi banyak dikaitkan dengan kekesalan mengetepikan keperluan batin, dan mula berkembang pada Abad ke-19. Ia dikatakan bangkit semula selepas Islam muncul sebagai "kekuatan baharu" yang berpengaruh, yang bertitik tolak daripada revivalisme yang muncul setelah Revolusi Iran (1979).

Pada Abad ke-21, idealisme dan karya sufi Rumi menjadi semakin banyak diperkatakan, bahkan turut diadaptasi ke pelbagai bentuk seni dan ekonomi, termasuk pelancongan mistik. (Sophia Rose Arjana, Buying Buddha, Selling Rumi, 2020). Buku-buku Rumi dikategorikan sebagai "self help" atau "motivation" untuk menarik minat pembeli. Jika diletakkan di rak dalam kategori sastera dan budaya, ia mungkin tidak meraih sambutan pembeli, kerana sebahagian "pembaca" cukup mengharapkan idea bagaimana mengatasi tekanan hidup dan kemelut psikososial.

Akibat propaganda melampau, Islam mula diberikan perhatian untuk mereka melihatnya dari dalam, dan mula memahami bahawa nilai-nilai murni kemanusiaan Islam cukup besar. Mereka juga sedang bergelut dengan pelbagai masalah sosial dan psikologi akibat materialisme dan individualisme melampau. Faham kebebasan juga turut mengakibatkan masyarakat semakin dilanda kebejatan dan psikososial yang rencam.

Penyebaran kaedah spiritual yang berasaskan sufi dikatakan sampai ke kemuncaknya di Amerika Utara menerusi kemasukan tokoh-tokoh mistik dari Asia Tengah (terutama Iran, Irak dan Turki) selain dari belahan timur (India, Pakistan dan Sri Lanka). Antaranya, para murid Syeikh Muzafar Ozak (1916-1985) dan Fedhulah Gulen (Turki, 1941-2024), Fedhulah Haeri (Irak), dan Bawa Muhayaddeen (Sri Lanka, meninggal 1986 di Philadelphia, USA). Ia turut diikuti oleh rakyat Amerika sendiri yang mula mempelajari sastera klasik Parsi, yang kemudiannya menjadi tenaga pengajar sama ada dalam bidang sastera Parsi mahupun teologi (falsafah agama).

Kaum imigran yang menjadi sebahagian penduduk Amerika turut memberikan sumbangan besar memperkenal dan mengembangkan kaedah sufi sebagai jalan penyelesaian kemelut kehidupan. Mereka ikut menterjemah, menulis dan meneroka ruang kreatif berunsurkan pengetahuan sufi seperti dilakukan oleh Elik Safak dalam karyanya, termasuk novel terlaris Forty Rules of Love (2009).

Tentunya, mereka mula melihat kepada hasil-hasil seni dan sastera Islam, kerana dalam seni dan sastera itulah terlahirnya keindahan kemanusiaan yang mereka perlukan. Antaranya, mereka mula melihat sastera dan hasil seni Parsi kerana dalam dunia peradaban Islam, seni dan sastera Parsi cukup kuat berbanding sastera dan seni Arab.

Ini kerana selepas wafatnya Nabi Muhammad SAW dan berakhirnya kepimpinan khalifah ar-Rasyidin, Parsi berkembang sebagai pusat kebudayaan, intelektual dan sastera Islam, sama ada menggunakan bahasa Arab atau bahasa Parsi. Jazirah Arab seolah-olah dilanda "kebekuan intelek dan seni" kerana tradisi pendidikan yang berlangsung tidak bersifat terbuka, hanya sekadar bertalaki dan menghafal, sedangkan di luar Arab mula mengadaptasikan kaedah pendidikan moden dan berstruktur (kurikulum dan teknik pembelajaran, bukan sekadar menghafal dan menerima, turut melibatkan wacana, perbincangan dan kajian pemikiran).

Kemuncak perkembangan intelektual Islam mencapai mercu tanda yang cukup besar dalam masa Empayar Abasiyah, yang berpusat di Baghdad. Sebahagian penulisan dilakukan dalam bahasa Parsi. Misalnya, karya-karya Rumi, walaupun Rumi tidak bermastautin di Iran atau Irak. Rumi cukup mahir berbahasa Parsi. Dalam masa yang sama, konsep kebangunan pendidikan Islam mencapai kemuncaknya di Andalusia (Sepanyol) di bawah Empayar Muawiyah II. Di situ lahir tokoh-tokoh pemikir Islam yang sampai kini disebut sebagai "penyambung warisan Greek' dalam bingkai Islam. Antaranya,.Ibnu Rusyd, al-Kindi, al-Farabi dan Ibn Khaldun.

Rumi yang hafiz sejak remaja, tidak banyak menulis dalam bahasa Arab, kecuali enam bab (ceramah) daripada 71 Ceramah yang dikumpulkan dalam Fihi Ma Fihi. Itupun, menurut penterjemah kitab itu ke bahasa Arab, Isa Ali al-Akkub, nalar bahasa Arabnya "memiliki struktur yang lemah" dan kerana itulah beliau melakukan penyuntingan agar idea dan penjelasan tersebut tidak disalahfahami.

Rumi tidak menulis sendiri karya-karyanya, termasuk Mastnawi, ia dilakukan oleh muridnya, Hishamudin Chelebi, yang kemudian menjadi pengetua madrasah selepas kematiannya, sebelum diteruskan oleh Sultan Valad, putera sulong Rumi. Sultan Valad juga turut memperkemaskan beberapa karya Rumi termasuk Fihi Ma Fihi, Ruba'iyat, Diwan-i- Kabir, koleksi Surat-Surat Rumi dan Majalis Sab'ah. (Lihat "Pengantar" penterjemah bahasa Arab, Fihi Ma Fihi, yang kemudiannya diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Abu Ali dan Taufik Damas, Fihi Ma Fihi: 71 Ceramah Rumi Untuk Pendidikan Ruhani, Jakarta: Pustaka Zaman, 2016, hal. 23 -24).

Karya Rumi diterjemahkan dalam pelbagai ragam sehingga versi tasawuf cuba dibebaskan daripada hakikatnya yang asli, yakni dibebaskan dari bingkai ketuhanan. Ia sesuai dengan resam masyarakat barat yang menjadikan agama sebagai "hal peribadi". Semua orang tahu, Rumi dalam beberapa perkara, pemikirannya dilihat bebas dan bersifat universal, tetapi secara keseluruhannya, untaian kata-katanya cukup kuat dengan apa yang difahaminya daripada al-Qur'an, hadis dan sisi makrifat. Beliau banyak menggunakan watak dan tokoh yang ada dalam al-Quran dan hidup dalam masyarakat Islam.

Bingkai tasawuf yang berakar dalam Islam telah digantikan dengan istilah sufi oleh masyarakat Barat dengan niat untuk membandingkannya dengan tradisi "kerahiban" dan maksud "isolasi" yang dilakukan oleh pemuka agama Kristian, Yahudi, Hindu, Buddha mahupun paganisme.

Sedangkan bagi Rumi, bahagian kehidupan dunia tidak wajar ditinggalkan, kerana bagi Islam, dunia adalah "kebun" yang akan menghasilkan buah dan buahnya akan dituai di akhirat. Itulah juga yang menjadi pegangan Bahaudin Walad, sehingga beliau menganggap, seorang ilmuan adalah ‘tukang kebun Tuhan’.

Sebagai ‘tukang kebun Tuhan’, ia perlu menanam benih terbaik untuk menghasilkan "buah terbaik" yang bermaksud, murid-murid yang dihasilkan (keluar daripada madrasah itu) sentiasa mendekatkan diri dengan Tuhan, dan mengamalkan Jalan Cinta Abadi. Hidup dalam Cinta dan tidak menggadaikan cinta untuk mendapat material dan jawatan di mana Cinta wajib ditafsirkan dalam erti kata ketuhanan, bukan cinta oleh tarikan seksual.

"Kini aku telah memutuskan apa sebenarnya pekerjaanku,

Aku adalah tukang kebun Tuhan.

Aku ingin Tuhan puas hati dengan apa yang aku telah kerjakan, dalam memelihara kedamaian di hati setiap insan."

[Bahauddin Walad, Al Ma'arif seperti dikutip oleh Ahmad Yulden Erwin dalam pengantar "Kitab Kearifan Dari Tukang Kebun Tuhan" yang diadaptasi dan apresiasi, Maarif: Kitab Kearifan, Jakarta: PT One Earth Media, 2006, hal.1. Berikutnya, akan diringkaskan sebagai BW Maarif].

Sufi dikaitkan dengan pengetahuan mistik, luar biasa, berada di luar nalar logik dan tanggapan inderawi. Sedangkan tasawuf membawa maksud "mendekatkan diri dengan Allah SWT" dan dijadikan amalan tanpa meninggalkan kehidupan dunia sebagaimana para pertapa dalam agama selain Islam yang cuba menolak keseluruhannya sehingga kehidupan disara oleh masyarakat, termasuk makanan dan sebagainya.

Kata BW: "Orang-orang Muslim tidak bimbang tentang mata pencarian (rezeki kehidupan), mereka lebih mengutamakan kedalaman kepasrahan kepada Tuhan. Sahabat-sahabat Nabi Muhammad tidak pernah berbincang mengenai bagaimana mereka akan mendapatkan makanan atau tempat tinggal ketika mereka sedang berziarah menuju Tuhan. Al-Quran bukanlah sebuah buku pegangan untuk membuat hidup menjadi lebih tenteram." (BW Maarif, Kitab Satu, bab 86).

Beliau cukup memahami al-Quran, sebab itu dikatakan "bukanlah sebuah buku pegangan" tetapi mempraktikkan apa yang diperintah, menjauhi apa yang dilarang dan menyusun kehidupan berdasarkan kehendak-Nya, bukan kehendak nafsu sebagaimana yang dialami oleh masyarakat moden masa kini.

Sambung BW: "Cubalah melakukan muhasabah (introspeksi), selama ini: agamamu, imanmu, dan kepasrahanmu dengan cara-cara yang engkau gunakan untuk meraih rasa tenteram, agar hidupmu lebih baik. Seseorang berkata: "Aku telah beriman," mungkin orang itu telah berdusta.

"Sebabnya, ketergantungannya kepada Tuhan mungkin dimotivasikan untuk mengejar kenikmatan, atau menghindari kesusahan. (BW Maarif, Kitab Satu, Bab 57). Fenomena sedemikian sedang bermaharajalela dalam pemikiran umat Islam, sebab itulah ada kecenderungan "boleh lakukan' walaupun dilarang oleh syariat, atas nama "kerjaya" ataupun "survival". Mereka seolah-olah tidak yakin bahawa Tuhan telah menetapkan rezeki seseorang, kerana itu sanggup "menipu' atau "berbohong' atas kepentingan politik dan sebagainya. Frasa yang cukup membingungkan ialah "dalam politik bohong dibolehkan".

Oleh kerana Barat yang bermazhabkan kapitalisme, mereka mengambil bahagian-bahagian yang boleh dieksploitasikan sesuai dengan kehendak yang muncul ketika itu (karya Rumi). Ia dilakukan secara bebas, tafsiran sufi Rumi sebagai kaedah motivasi sebagaimana yang dibentuk dalam kerangka psikologi ciptaan mereka.

Ini dapat dilihat daripada terjemahan bebas yang dilakukan oleh Coleman Barks (1937-2926), Deepak Chopra dan kutipan-kutipan komentar Oprah Winfrey. Tidak sekadar itu, nama Rumi dieksploitasikan dalam bentuk "kem spiritual", cetakan t-shirt, pusat-pusat latihan kerohanian dan juga dalam media popular seperti filem, novel sufi dan filem animasi.

Coleman Barks, yang berjaya memperkenalkan Rumi dalam masyarakat Amerika Syarikat dan berbahasa Inggeris pernah mengakui keperluan tersebut. Beliau mula diperkenalkan dengan puisi Rumi oleh Robert Bly (1926-2021) pada tahun 1976. Mereka kemudiannya bekerjasama untuk menterjemahkan karya Rumi dalam bahasa yang mudah, dan juga melepaskan tautan dengan tasawuf sehingga puisi-puisi tersebut menjadi fenomena di Amerika Syarikat, terutama Rumi: The Books of Love (2006).

Coleman Barks ikui mendapat kerjasama John Moyne, Nevit Ergin, AJ Arberry, RA Nicolson dan MG Gupta. Ia diperlukan kerana Coleman Barks tidak mampu membaca puisi-puisi Rumi dalam bahasa asal, iaitu bahasa Parsi. Coleman Barks dan John Moyne turut menterjemahkan sebahagian daripada prosa puitis BW Maarif dan dicetak dengan tajuk The Drowned Book: Ecstatic and Earthy Reflections of Bahauddin Walad, the Father of Rumi (2004). Coleman Barks meraih pengetahuan sufi setelah berguru dengan Bawa Muhayaddeen yang menetap dan membuka kelas ajaran sufi di beberapa tempat, termasuk California dan Philadelphia. Ketika ini, terdapat zamalah (fellowship) yang diberikan dibawah Yayasan Bawa Muhayaddin.

Ayah Rumi, Bahaudin Walad turut dikenali sebagai Sultan al-Ulama, yang turut menyumbangkan pengaruh besar dalam pembentukan dunia intelektual anaknya, yang sejak kecil lagi sudah dilihat sebagai "samudera luas" (pandangan Faridudin Atar, 1152-1221) tidak mempunyai banyak karya, kecuali sebuah catatan pemikiran yang ditulis seumpama "diari pemikiran". Koleksi catatan itu dibukukan dan diberikan tajuk al-Maarif. Kitab ini mempunyai dua bahagian (atau dua kitab).

Bahagian pertama mengandungi 102 catatan manakala bahagian kedua sejumlah 67 perenungan diri yang muncul dalam pelbagai situasi dan perkara. Kesemua renungan sufistik yang dikumpulkan itu ditulis dalam bentuk prosa dalam bahasa yang sangat puitis. Ia berbeza dengan Rumi, renungan sufistiknya dilontarkan dalam bentuk puisi sama ada bercirikan ruba'iyat, ghazal, masnawi mahupun jenis puisi Arab yang lain.

Annamarie Schimmel (1922-2003), orientalis perempuan yang berbangsa Jerman, yang banyak menulis mengenai mistisisme Islam menilai bahawa Bahaudin sebagai teolog besar yang dapat "melihat masa depan" sedangkan Rumi tidak mempunyai kekuatan tersebut.

Misalnya, Annamarie Schimmel, Akulah Angin, Engkaulah Api; (Bandung: PT Mizan, edisi keempat, 2016, hal.25 berkata:

"Dia dapat memutuskan perkara dan memiliki kekuatan melihat hal-hal yang belum terjadi di balik sesuatu, walaupun tidak pernah menjadi seorang sufi dalam erti lazim (hal.25).”

Ada juga yang mengatakan bahawa perpindahan Bahaudin, keluarga dan murid-muridnya dari Balkh yang berlaku antara tahun 1215-1220, adalah disebabkan "kenampakan" nya akan diserang oleh Monggol. Monggol ketika itu sudah pun berjaya menguasai Baghdad, yang merupakan pusat pemerintahan Empayar Abasiyah, juga menjadi pusat utama kebudayaan dan pendidikan Islam. Jadi, Balks akan menjadi sasaran seterusnya.

Walau bagaimanapun, Annamarie Schimmel meragui faktor itu secara tunggal, kerana sama ada Bahaudin Walad "pernah meramalkan terjadinya bahaya itu atau tidak, masih merupakan suatu pertanyaan yang belum terjawab selama belum adanya kepastian pada tahun berapa dia meninggalkan tanah airnya." (hal.27).

Apa yang jelas berkenaan Bahaudin Walad pada pandangan Annamarie Schimmel ialah: "...seorang sufi, tetapi sulit untuk memastikan apakah dia mengikuti rantai inisiatif (pentasbihan) yang turun temurun atau tidak.

"Fritz Meler telah memperkenalkan kepada kita Ma'arif, karya Baha'i Walad, sebuah koleksi catatan, komentar-komentar mirip buku harian dan khutbah-khutbah yang telah mengejutkan sebahagian besar orang yang cuba membacanya, kerana pengalaman mistik yang ditunjukkan alim dari Transoknia ini, dalam tulisan-tulisannya sangat tidak biasa [menakjubkan]. Kebebasannya dalam mengungkapkan pengalaman cinta spiritualnya sangat menakjubkan.

"Sesungguhnya dia telah mengalami tahapan mistik tertinggi, sesuatu yang sensual, suatu cinta yang sempurna kepada Tuhan, sampaikan dia berada dalam pelukan-Nya, dan dia menyedari aktiviti mencintai Tuhan ini, "kebersamaan-Nya" dengan segala sesuatu (ma'iyyah) dalam kehidupan segala yang tercipta.

"Pergilah ke pangkuan Tuhan, dan Tuhan akan memelukmu dan menciummu, dan menunjukkan bahawa Dia tidak akan membiarkanmu lari dari-Nya.

Dia akan menyimpan hatimu dalam hati-Nya, siang dan malam. (Ma'arif, hal.28)." (Annamarie Schimmel, 2016, hal.28-29).

Sebab yang lain perpindahan Bahaudin Walad dan rombongannya dikatakan berlaku apabila berlaku perselisihan faham dengan seorang ulama moden Balkh, iaitu Fakharuddin ar-Razi (1150-1210). Fakharuddin merupakan seorang ahli falsafah yang cukup cemburu dengan kejayaan Bahaudin Walad, baik dari segi keilmuan agama yang dimiliki mahupun percanggahan pendapat berhubung dengan wawasan pemikiran. Fakharuddin al-Razi mempunyai pengaruh yang besar dalam kalangan pembesar, yakni kerajaan Khawarizmi yang berkuasa. Beliau berjaya mempengaruhi sultan ketika itu, Muhammad Khawarizmisyah.

Fakharuddin cukup bermusuh dengan Bahaudin yang merupakan pengamal tarekat Kubrawiyah, sedangkan dirinya sangat terpengaruh dengan kebijaksanaan falsafah yang meletakkan akal sebagai kuasa pemutus. Tarekat Kubrawiyah diasaskan oleh Ahmad al-Ghazali (1061-1123/1126), iaitu saudara Imam al-Ghazali (1058-1111M). Al-Ghazali juga dikatakan banyak mendapat pengalaman tasawuf daripada saudaranya, termasuklah ketika Ahmad tidak bersedia berjemaah bersamanya. Ketika itu, Ahmad yang berada di belakang "melihat darah" di jubah abangnya.

Setelah selesai, al-Ghazali bertanya kepada Ahmad. Ahmad kemudiannya menjawab, bagaimana boleh berimankan seseorang yang jubahnya penuh darah. Al-Ghazali ketika itu sedang berada di kemuncak intelektual, tetapi mula merasakan ada sesuatu yang kurang dari dalam dirinya. Setelah mendengar jawapan Ahmad, al-Ghazali bersedia untuk belajar dan meminta Ahmad mencari guru untuk tujuan tersebut. Ia kemudiannya membawa al-Ghazali kepada seorang "penjual daging" yang hidupnya cukup sederhana di sebuah kampung.

Ada yang mengatakan, guru spiritual al-Ghazali itu seorang "tukang kasut". Tetapi yang lebih penting bagi al-Ghazali ialah untuk merasai kehidupan "zuhud" yang cukup sederhana itu. Sebagai seorang pelajar, al-Ghazali meletakkan adab di atas segala-galanya, maka dalam pengajaran pengalaman itu, al-Ghazali hanya diminta untuk membersihkan rumah gurunya. Setelah berhari-hari, al-Ghazali mula merasakan dirinya belum diajar dengan pengalaman sebagaimana yang diharapkan.

Beberapa hari kemudian, al-Ghazali bertanya kepada gurunya. Lalu dijawab bahawa pelajarannya sudah selesai. Dari situlah al-Ghazali berfikir, merasai sesuatu pengalaman itu adalah lebih penting daripada hanya sekadar mengetahui. Mungkinkah itu yang membawa al-Ghazali membuat keputusan untuk meninggalkan jawatannya sebagai mahaguru di Universiti Nizamiyyah, lalu menyepikan diri selama sepuluh tahun?

Kita tahu, setelah meninggalkan jawatan dan berkelana dengan alasan "menunaikan haji", tugas mengajar digantikan oleh adiknya, Ahmad, al-Ghazali banyak menghabiskan masa berkhalwat, beruzlah dan merenung diri. Ia dapat menjawab sedikit sebanyak teka-teki itu setelah selesai membaca al-Munqiz min wal-Dhalal. Edisi terjemahannya cukup banyak, terutama dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Melayu, terjemahan terbaharu ialah Penyelamat Daripada Kesesatan yang diterbitkan oleh IBDE (terjemahan Anwar Yusuf dan Farhan Affandi, 2022)

Dari proses perenungan yang panjang itulah lahirnya beberapa penulisan al-Ghazali yang cukup monumental, dan menjadikannya sebagai seorang ulama terbesar pernah hadir dalam peradaban Islam. Karyanya, Ihya' Ulumuddin disifatkan sebagai huraian terhadap praktis agama Islam dan sehingga kini menjadi rujukan penting.

Hampir sama pengalaman yang ditempuhi oleh Jalaludin Rumi. Perbezaannya, setelah kematian ayahnya (1231), Bahaudin Walad, Rumi mula didedahkan dengan pengetahuan dan praktik tasawuf apabila anak murid ayahnya, Bahauddin Muhaqqiq at-Tarmizi. Beliau datang ke Konya pada tahun 1232.

Bahauddin akhirnya menunjukkan kitab karangan Bahaudin Walad, guru yang sangat disayanginya untuk ditelaah oleh Rumi. Ini bermakna semasa hayat ayahnya, Rumi tidak mengetahui bahawa guru pertamanya itu mengarang sebuah kitab. Kesannya, Rumi tekun mempelajari apa yang ada dalam tulisan ayahnya, yang tidak semua murid-murid Bahaudin Walad memilikinya. Hanya muridnya yang dipercayai diberikan salinan kitab tersebut.

Dari situlah kita ketahui bahawa Bahaudin Walad adalah seorang sufi besar, bahkan pemikirannya cukup menakjubkan. Bahauddin at-Tarmidzi kemudiannya mendidik Rumi mempraktikkan pengalaman tasawuf dengan mengarahkan agar berpuasa selama 40 hari, dan merasa pengalaman spiritual sebagai asas pemenuhan diri. Dari situ juga Rumi mula merasakan pengetahuan yang dimiliki belum cukup, maka bermulalah pengembaraan Rumi untuk mendapatkan pengalaman dan pengetahuan spiritual selama empat tahun.

Dalam kembara ilmu Rumi dikatakan pernah bertemu dengan Syamsudin Tabriz dan juga Ibnu Arabi, seorang teolog dan sufi dari Andalusia yang berkelana ke Damascus. Pengalaman itu juga membawa Rumi bersedia menerima konsep "wahdatul wujud" yang dikaitkan dengan Ibnu Arabi, dan asas-asasnya juga terdapat dalam karya ayahnya, al-Ma'arif, yang menjadi kitab utama telaahnya selepas kematian Bahaudin Walad.

[Franklin D Lewis, Rumi, Past and Present, East and West: The Life, Teachings and Poetry of Jalal al-Din Rumi (2000); Sefik Can, Fundamentals of Rumi Thought: A Mevlevi Sufi Perspective (2009); John Renard, All the King's Falcons: Rumi on Prophets and Revelation (1994); Afzal Iqbal, The Life and Work of Jalal-Ud-Din Rumi (2014); dan Annamarie Schimmel, Akulah Angin, Engkaulah Api: Hidup dan Karya Jalaludin Rumi (2016)].

(bersambung)

MONOSIN SOBRI

Written by Admin
Category: Penyejuk Jiwa
Hits: 224

Bacaan Popular


Baca topik

Terkini


TEMPAT NYAMAN TAMAN BACAAN MASA DEPAN ANDA-JOM KITA MENULIS!!! dhomir.com ingin mengajak dan memberi ruang kepada para penulis khususnya penulisan yang berkaitan dgn agama Islam secara mendalam dan sistematik.Jika anda ingin mencurahkan isi hati mahupun pandangan secara peribadi dhomir.com adalah tempat yang paling sesuai utk melontarkan idea. Dengan platform yang sederhana, siapa sahaja boleh menulis, memberi respon berkaitan isu-isu semasa dan berinteraksi secara mudah.Anda boleh terus menghantar sebarang artikel kepada alamat email:dhomir2021@gmail.com.Sebarang pertanyaan berkaitan perkara diatas boleh di hubungi no tel-019-3222177-Editor dhomir. com