Ensiklopedia

Keterangan ringkas & tepat mengenai pelbagai ilmu!

 

FUNGSI AL-QUR’AN DALAM KEHIDUPAN SEORANG MUSLIM

Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

SAAT ini, animo masyarakat terhadap Al-Qur’an sangat tinggi. Hal itu terlihat menjamurnya sekolah-sekolah tahfiz dan program-program berbasis Al-Qur’an. Mulai dari tingkat paling bawah TK (Taman Kanak-kanak) hingga perguruan tinggi, bahkan jika seorang berhasil menghafal 30 juz dengan baik akan diberi beasiswa penuh. Keseriusan itu semakin mengkristal seiring maraknya perlombaan-perlombaan membaca dan menghafal Al-Qur’an dari tingkat regional hingga internasional. Apresiasi (reward red) yang diberikan beragama tergantung jenis lomba yang diikuti.

Jujur sebenarnya kesadaran kembali kepada sumber utama ajaran Islam membuat bahagia dan gembira. Ternyata umat Islam masih memiliki kepedulian yang besar dengan kitab sucinya. Melalui tangan dingin para hafiz dan hafizah, lantunan tersebut menggema hingga ke pelosok-pelosok negeri. Era 90-an penghafal Al-Qur’an sesuatu yang sangat jarang didengar, namun hari ini rumah-rumah nyaris dipenuhi para muhafiz. Jadi, dapat disimpulkan anak-anak Gen-Z lebih dekat dengan Al-Qur’an.

Namun perlu digarisbawahi, Al-Qur’an bukan sekadar bacaan yang diulang-ulang dan diperlombakan. Di balik turunnya kitab suci yang mulia ini memiliki fungsi vital dalam kehidupan seorang muslim. Adapun fungsi-fungsi Al-Qur’an dalam kehidupan manusia ialah:

1.    Al-Qur’an Sebagai Penasihat

Kehadiran Al-Qur’an di tengah-tengah umat Islam sebagai pemberi nasihat (mau’izah). Pada dasarnya manusia memiliki sifat lupa dan lalai terhadap perintah-perintah Allah SWT. Maka agar tidak terjebak di jalan kesesatan seseorang perlu penasihat.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ

Wahai manusia! Sungguh telah datang kepadamu penasihat (mau‘izhah) dari Tuhanmu. (QS. Yunus: 57)

Muhammad Al-Amin Al-Harari mengilustrasikan Al-Qur’an layaknya seorang dokter yang berprofesi mengobati orang-orang sakit. Namun sakit yang disembuhkan Al-Qur’an bukan bersifat lahiriah yang bisa dilihat dengan kacamata sains, tetapi rusaknya akhlak dan buruk perilaku juga disebut penyakit yang bisa diobati dengan nilai-nilai Al-Qur’an. (Tafsîr Hadâiqurauhi war raihâni, 12/280). Dalam pandangan Prof. Hikmat Basyir Yasin -ulama kelahiran Mosul Irak - menerangkan bahwa Al-Qur’an dapat mencegah seseorang dari perbuatan keji dan tercela. (At-Tafsîr As-Shahîh, 3/24).

Ilustrasi yang dikemukakan oleh dua ulama kondang di atas menegaskan bahwa Al-Qur’an berperan sebagai “dokter ruhani” yang menyembuhkan penyakit batin manusia. Kerusakan akhlak, penyimpangan perilaku, serta kegersangan spiritual tidak dapat diatasi hanya dengan pendekatan lahiriah, melainkan memerlukan bimbingan nilai-nilai ilahiah yang terkandung dalam Al-Qur’an. Dengan demikian, Al-Qur’an bukan sekadar kitab bacaan, tetapi juga sumber terapi moral dan spiritual yang mampu mengembalikan manusia kepada fitrah kebaikan dan kehidupan yang beradab.

2. Al-Qur’an Sebagai Rahmat

Secara bahasa rahmat bermakna kelembutan atau juga bisa dipahami sebagai kasih sayang. Konsep rahmat dalam Al-Qur’an tidak hanya bermakna kelembutan atau belas kasih, tetapi mencakup segala bentuk kebaikan yang kemudian mampu mengantarkan manusia kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji secara ilmiah bagaimana Al-Qur’an berfungsi sebagai rahmat serta implikasinya dalam kehidupan umat manusia.

Allah SWT berfirman:

وَلَقَدْ جِئْنَاهُم بِكِتَابٍ فَصَّلْنَاهُ عَلَىٰ عِلْمٍ هُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Dan sungguh, Kami telah mendatangkan kepada mereka sebuah Kitab yang Kami jelaskan dengan ilmu, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Al-A‘raf: 52)

Rahmat pada ayat di atas bukan sebatas bermakna kasih sayang, tapi juga dipahami sebagai ketenangan jiwa dan kejernihan pikiran. Setiap ayat-ayat yang dibaca dan direnungkan dengan penuh hikmat akan melahirkan kekokohan iman. Selain itu, rahmat juga dapat dipahami sebagai kemudahan menjalani kehidupan.

3. Al-Qur’an Sebagai Nur

    Kata nur dalam Al-Qur’an terkadang bermakna cahaya, terkadang isyarat Malaikat Jibril dan juga dipahami sebagai kitab suci Al-Qur’an. Maka tatkala membaca ayat-ayat yang berbicara tentang nur seseorang harus jeli membedakan ketiga makna tersebut. Setiap kata memiliki pengertian yang tidak sama.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ بُرْهَانٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَأَنزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُّبِينًا

Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu (Muhammad), dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang. QS. (An-Nisa’ : 174)

Menurut Ibnu Abi Hatim, cahaya yang dimaksud ialah kitab suci Al-Qur’an. (Tafsîr Al-Qur’ân Al-‘Azhîm, 1125). Perumpamaan Al-Qur’an sebagai nur menunjukkan bahwa orang yang berpegang dengannya akan selamat, sebab ‘cahaya’ Al-Qur’an akan menerangi jalan hidup serta pikiran. Hari ini kita dikejutkan dengan berita-berita yang di luar nalar. Seorang anak sanggup menghabisi nyawa ibu kandungnya akibat kecanduan judol (judi online), seorang suami menghilangkan nyawa pasangannya karena kecanduan narkoba, maraknya praktek LGBT yang menimpa notabene orang orang dan bahkan mirisnya seorang guru Al-Qur’an melecehkan santrinya.

Mengapa semua ini bisa terjadi, apakah secara kebetulan, bukankah mereka orang-orang yang membaca kitab sucinya? Benar!. Mereka bahkan dengan mudah melantunkan ayat-ayat dengan suara yang indah. Namun setiap huruf yang keluar dari kerongkongan tidak mampu menerangi akal pikiran serta qalbunya. Oleh sebab itu, Al-Qur’an bukan sebatas bacaan tetapi hendaknya dijadikan penerang kehidupan.  Sungguh, telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan Kitab yang jelas. (QS. Al-Ma’idah :15)

Kesimpulannya, Al-Qur’an bukan sekadar kitab yang dibaca atau dihafal, tetapi memiliki fungsi yang sangat fundamental dalam kehidupan seorang muslim. Ia berperan sebagai nasihat (mau‘izhah) yang membimbing manusia agar tidak terjerumus dalam kesesatan, sebagai rahmat yang menghadirkan ketenangan jiwa, kejernihan pikiran, serta kebahagiaan dunia dan akhirat, dan sebagai cahaya (nur) yang menerangi jalan hidup manusia. Oleh karena itu, interaksi dengan Al-Qur’an tidak boleh berhenti pada aspek tilawah semata, melainkan harus diiringi dengan pemahaman, penghayatan, dan pengamalan, agar nilai-nilainya benar-benar mampu membentuk akhlak, memperkuat iman dan menuntun manusia menuju kehidupan yang lebih baik. (Bersambung)--***

Sumber: kiblatriau.com

Written by Admin
Category: Penyejuk Jiwa
Hits: 209

 

IMPLIKASI SEDEKAH TERHADAP KEHIDUPAN SPIRITUAL

Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

SEDEKAH  merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam agama Islam. Amalan ini tidak hanya menjadikan seorang hamba mulia di sisi Allah 
Subhanahu Wa ta'ala, tetapi juga sebagai pencipta hubungan sosial yang harmonis antar sesama. Melalui uluran tangan orang-orang dermawan dapat memenuhi hajat banyak orang. Kondisi ini pernah dirasakan para pelajar kala menjadi pelajar di negeri para nabi, di mana mereka setiap bulan menerima bantuan dari para muhsinin (orang-orang baik).

Sedekah buah dari keimanan yang kuat dan keyakinan yang kokoh terhadap janji-janji Allah Subhanahu Wa ta'ala. Karena sekecil apapun kontribusi yang diberikan niscaya akan dibalas.

Allah Subhanahu Wa ta'ala berfirman:

Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya, dan Dia-lah sebaik-baik pemberi rezeki. (QS. Saba’: 39).

Makna kalimat yukhlifu dengan garis bawah huruf lam memiliki dua yaitu: Allah Subhanahu Wa ta'ala
tidak mengubah waktu yang telah ditetapkan dan setiap pemberian akan diganti setelah amalan infak sempurna. (Hassan ‘Ayyâd, Shifâtunnâsi wa af’âluhum fil Qur’ân al-Karîm, hlm 350).

Kalimat di atas isyarat bahwa sesuatu yang diberikan untuk Allah Subhanahu Wa ta'ala

pasti akan dibalas sesuai waktu yang telah ditentukan, sebab Allah 
Subhanahu Wa ta'ala tidak pernah ingkar janji, sebagaimana firman-Nya: “(Itulah) janji Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rûm: 6). Adapun kalimat setiap pemberian pasti diganjar merupakan bentuk kasih sayang-Nya kepada orang-orang yang gemar bersedekah, sebagaimana sabda Rasulullah saw:  “Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahwa implikasi sedekah dalam kehidupan spiritual mengerucut pada:

1.    Pembuktian Iman

Sebagaimana yang telah diulas sebelum ini bahwa sedekah memiliki dua dimensi, yaitu dimensi duniawi dan ukhrawi. Adapun dimensi pertama ini terlihat jelas melalui tindakan sosial, sedangkan dimensi kedua mengkristal dalam keimanan.

Dimensi sosial dapat dirasakan langsung oleh orang yang memberi dan diberi, sementara dimensi iman sebagai bukti kekuatan iman. Harta yang dicari susah payah, tidak kenal lelah dan bahkan kewajiban sebagai seorang muslim acap terbaikan namun harus diberikan kepada orang yang tidak dikenal. Maka tak heran sedekah disebut sebagai pembuktian iman.

Rasulullah saw bersabda: Dan sedekah itu adalah bukti (keimanan).(HR. Muslim)

Imam An-Nawawi berkata: Makna sedekah sebagai bukti (keimanan) ialah sedekah menjadi hujjah atas iman pelakunya, orang-orang munafik terhalang mengimplementasikan sebab tidak yakin dengan balasan di akhirat kelak. (Nabîl Hâsyim Al-Ghomari, Fathul Mannân, 4/32)

Hadis Ini bermakna sedekah merupakan bukti nyata keimanan yang menunjukkan kejujuran hati seorang mukmin dalam mempercayai janji Allah. Ia menjadi hujjah atas keimanan pelakunya, karena hanya orang yang benar-benar yakin terhadap balasan akhirat yang mampu mengorbankan harta yang dicintainya. Sebaliknya, orang munafik cenderung enggan bersedekah karena lemahnya keyakinan.

2.    Pembersih Harta dan Jiwa

Tak disangkal bahwa terkadang dalam mencari harta ada hal-hal terlarang yang dilakukan seperti mengurangi timbangan (ghisy), tidak jujur saat menunaikan tugas (kazab) dan dengan mudah bersumpah palsu demi melariskan dagangan. Cara-cara semacam ini dapat mengotori harta dan jiwa sekaligus, maka satu-satu cara untuk membersihkannya ialah sedekah.

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:  Wahai para pedagang, sesungguhnya dalam jual beli itu sering terdapat perkataan sia-sia dan sumpah (yang tidak benar), maka campurilah dengan sedekah. (HR. Abu Daud)

Hadis ini menunjukkan bahwa dalam aktivitas mencari harta, khususnya perdagangan, sering terdapat unsur kelalaian seperti dusta, sumpah berlebihan, atau ucapan yang tidak baik. Oleh karena itu, Islam menganjurkan untuk membersihkannya dengan sedekah, agar harta menjadi berkah dan lebih suci dan juga termasuk membersihkan diri. Maka di sisi lain sedekah berfungsi sebagai pembersih dari harta yang diperoleh dan jiwa.

Allah Subhanahu Wa ta'ala berfirman:

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. At-Taubah: 103)

Menurut Ibnu Abi Hâtim makna tuthahhiruhum wa tuzakkîhim ialah membersihkan dan mensucikan dosa-dosa yang diperbuat. (Tafsir Al-Qur’ân al-Azhîm, 1875). Di sini dapat diambil kesimpulan bahwa mengeluarkan harta baik itu sedekah maupun zakat bertujuan membersihkan diri dan harta.

3.    Menghapus Dosa

Bagian ketiga implikasi sedekah dalam kehidupan spritual ialah menghapus dosa. Setiap harta yang dikeluarkan dapat menghapus dosa-dosa kecil seperti mengucapkan kata-kata yang sia-sia, iri dengki, hasad dan riya’. Adapun dosa-dosa besar hanya bisa gugur dengan taubat nasuha.

Rasulullah saw bersabda:  Sedekah itu dapat memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api. (HR. Tirmidzi)

Hadis di atas mengibaratkan perbuatan dosa bagai api dan sedekah seperti air. Ketika dosa kian menumpuk maka sedekah sebagai pengugurnya. Semakin banyak sedekah yang dikeluarkan maka semakin banyak dosa yang gugur.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa bersedekah merupakan amalan penting dalam Islam karena memiliki banyak manfaat, baik secara spiritual maupun sosial. Sedekah menjadi sarana membersihkan harta dan jiwa, serta menghapus dosa.

Selain itu, sedekah juga menunjukkan bukti keimanan dan bentuk kepedulian terhadap sesama. Di sisi lain, dalam kehidupan sehari-hari—terutama dalam mencari harta—tidak jarang manusia terjatuh pada kekhilafan seperti lalai, ucapan yang kurang baik, atau bahkan dusta. 

Oleh karena itu, sedekah menjadi penyempurna dan penebus kekurangan tersebut, sehingga harta yang dimiliki menjadi lebih berkah. Dengan demikian, bersedekah bukan hanya membantu orang lain, tetapi juga menyelamatkan diri sendiri, mendekatkan kepada Allah Subhanahu Wa ta'ala serta menghadirkan keberkahan dalam kehidupan.***

Sumber: kiblatriau.com

 

Written by Admin
Category: Penyejuk Jiwa
Hits: 156

 

ALERGI NASIHAT, BENCI KRITIK, DAN SILAU PUJIAN

Oleh: Samsul Nizar  

Ketika asyik berjalan, tanpa disadari ada lobang besar menganga di depan. Seorang teman yang melihat bahaya tersebut mengingatkan dan menyadarkan adanya bahaya dihadapannya. Dengan peringatan yang disampaikan, si pejalan kaki bisa selamat dari terperosok dalam lubang yang begitu membahayakannya.

Secara ideal, apa yang dilakukan teman yang telah memberi peringatan ketika bahaya akan --mininal-- menerima ucapan terimakasih. Tapi, bila peringatan teman atas bahaya tersebut dinafikan dan dibenci, maka lobang yang curam dan menganga siap menelannya. Atau bila peringatan bahaya justeru dianggap "bentuk kebencian", maka perlu ditelisik "kejiwaan dan akal" si penerima peringatan. Mungkin ada "kerusakan pada hati, tuli, atau kelainan jiwa" yang kronis dan patut diwaspadai. Mungkin ia "penderita mania" setiap dinasehati, diperingatkan, dan benci kebenaran.

Fenomena kisah sederhana di atas mungkin --awalnya-- sebatas analogi fiksi, tapi begitu nyata dalam realita kehidupan. Realita yang terjadi justeru acapkali di luar nalar sehat (QS. az-Zumar : 9). Meski tujuannya untuk menyelamatkan, tapi kadangkala direspon penuh kebencian. Bahkan responnya bak makhluk tak beradab dan berakal (QS. al-Furqan : 44).

Dalam fenomena nyata, ada beberapa nilai nasihat dan kritik yang direspon "negatif" oleh si penerimanya, antara lain :

Petama, Nasehat dianggap ketidaksenangan dan penghinaan. Setiap nasehat diang-gap akan "menurunkan harga diri dan statusnya" di mata koleganya. Sikap arogan yang demikian telah diingatkan oleh Allah dalam firman-Nya :"Dan aku telah memberi nasihat kepada kalian, tetapi kalian tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat” (QS. al-A’raf : 79).

Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas menjelaskan bentuk sikap  kaum Tsamud yang menolak peringatan nabi Saleh AS. Akibatnya, Allah menurunkan azab berupa gempa dan petir yang melenyapkan kaum Tsamud. Si-kap sombong manusia yang menolah kebenaran diingatkan berulangkali dalam beberapa firman-Nya, antara lain : QS. Ali Imran : 104, QS. al-A'raf : 62 dan 68, serta QS. al-'Ashr : 1-3. Namun, semua peringatan kebenaran acapkali diingkari.

Sungguh, Islam merupakan agama yang berisi nasehat. Hal ini disampaikan oleh Rasulullah : "Agama itu adalah nasihat” (HR. Muslim).

Hadis di atas menjelaskan bahwa inti ajaran Islam adalah nasehat agar umat istiqomah dalam menjalankan hak Allah dan Rasul-Nya. Bahkan, Allah menasihati Rasulullah melalui teguran yang mendidik dan terjaga kemuliaannya. Hal ini ditemu-kan pada QS. 'Abasa : 1-10, QS. al-Anfal : 67, QS. at-Taubah : 43, QS. al-Kahfi : 23-24.

Ketika hadis dan ayat di atas dianalisa secara filosofis, seyogyanya pemeluk agama sangat rindu dan berharap untuk memperoleh nasehat dan teguran. Ketika sikap pemeluk agama alergi nasehat, maka berarti membenci kebenaran dan tak memerlukan agama. Padahal, isi ajaran agama (Islam) berupa nasehat mulia. Hal ini dijelaskan oleh

Rasulullah melalui sabda-Nya : "Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya" (HR. Muslim).

Untuk itu, agar bijak menerima nasehat, Sayidina Ali bin Abi Thalib RA pernah berpesan, "Lihatlah (dengarkan) apa yang dibicarakan, jangan lihat (dengarkan) siapa yang bicara". Pesan yang mengandung makna agar melihat dan mendengarkan pembicaraan (nasehat) yang berkualitas, bukan hanya melihat status si pembicara. Bisa jadi pesan kebenaran berasal dari "gembel" atau seorang yang dibenci, tapi isinya berkualitas intan berlian. Tapi, kebanyakan manusia hanya peduli dan men-dengarkan kata "orang-orang sekitar ikat pinggangnya" atau pemilik status mulia. Padahal, bisa jadi isinya hanya kumpulan "kotoran (najis)" yang bisa mengundang celaka (mudharat), baik diri atau masyarakat secara luas.

Kedua, Kritik yang berisi kebenaran dinilai bentuk kebencian, perlawanan, dan racun. Padahal, kritik merupakan upaya memberi peringatan dari pemilik kecerdasan, iman, dan kebenaran. Dalam Islam, kritik merupakan bentuk amar ma'ruf nahi munkar dan termasuk ibadah. Namun, kritik wajib disampaikan dengan adab yang baik (ikhlas, santun, dan berdasarkan bukti sahih), serta bertujuan memperbaiki, bukan menjatuhkan atau memecah belah. Kritik yang beradab pertanda ciri manusia berakhlak. Hal ini sesuai firman-Nya : "Maka berikanlah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat"(QS. al-‘Ala : 9).

Bahkan, al-Qur'an mencontohkan kritik (peringatan) terhadap kezaliman dan kesewenang-wenangan Fir'aun. Dalam al-Qur'an, kritik ini terulang sebanyak 74 kali atas kesombongan, kezaliman, dan perilaku tirani yang dilakukannya. Untuk itu, Islam membedakan antara kritik konstruktif (nasihat) dengan kritik yang berisi ghibah, kebencian, atau fitnah yang merusak. Bagi pemilik ilmu dan iman, kritik merupakan bagian muhasabah yang amat diperlukan. Tapi, bagi pengharap pujian, setiap kritik dianggap bentuk kebencian dan dikhawatirkan akan membuka kesalah-annya. Untuk itu, setiap pengkritik perlu disingkirkan. Namun, sikap ini membuat pembenci kritik semakin sering melakukan kesalahan demi kesalahan lainnya tanpa terkendali.

Ketiga, Pujian dinilai prestise dan prestasi yang membuka pintu kebahagiaan bagi si penerima. Manusia begitu senang bila dipuji, tapi tak pernah sadar bila tak ada nilai kepantasan baginya untuk dipuji. Puji kemunafikan begitu menggunung ketika "status dan kuasa" masih dimiliki dan terselip hasrat yang ingin diraih. Tapi, begitu status dan kuasa sirna atau harapan telah/tak bisa diraih, pujian berganti cercaan, hinaan, dan fitnah berkepanjangan.

Untaian pujian semu merupakan sifat manusia munafik yang didorong hawa nafsu (kepentingan). Sedangkan harap puji merupakan indikasi manusia lupa diri. Sebab, ia lupa bila pujian yang didapatkan berpotensi tumbuhnya penyakit hati (riya', ujub, atau sum'ah) dan gangguan narsistik lainnya. Harap pujian membuat manusia rentan sombong (angkuh), memandang rendah orang lain, pamrih, dan lupa Allah. Sedangkan pemuji melakukannya karena "maksud" terselubung penuh kemunafikan. Untuk itu, Rasulullah begitu mencela sifat dan perilaku yang demikian. Hal ini diungkapkan Sayidina Umar bin Khattab RA : "Kami diperintahkan oleh Rasulullah untuk menyiramkan pasir ke wajah orang-orang yang memuji (berlebihan)” (HR. Muslim).

Melalui hadis di atas, Rasulullah mengantisipasi umatnya agar terhindar dari ujub. Sebab, sifat ini akan menyebabkan manusia lupa diri. Namun, Islam memperbolehkan pujian selama sesuai ajaran agama (kebenaran). Bahkan, Allah memuji Rasulullah atas kemuliaan akhlaknya. Hal ini tertera pada firman-Nya :"Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar memiliki budi pekerti yang agung" (QS. al-Qalam : 4).

Melalui ayat di atas, pujian dibolehkan. Bahkan, Allah memuji Rasulullah dan hamba-Nya yang berpegang teguh pada aturan-Nya. Allah memuji atas kualitas keimanan, akhlak, dan rindu hamba pada rahmat-Nya. Mereka merupakan hamba yang memperoleh keberkahan-Nya. Hal ini terungkap pada firman-Nya : "Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan merekalah orang-orang yang beruntung" (QS. al-Baqarah : 5).

Menurut Ibnu Katsir, hamba yang meraih keberuntungan pada ayat di atas ketika  mampu memiliki sifat yang tertuang pada ayat 1-4 (percaya ghaib, shalat, infak, iman pada Al-Qur'an dan kitab terdahulu, serta meyakini hari pembalasan). Mereka akan memperoleh hidayah dan petunjuk-Nya.

Sungguh, manusia merupakan makhluk yang lemah dan acapkali keliru (QS. an-Nisa': 28). Tapi, anehnya justeru enggan untuk diberi nasehat, kritik, dan peringatan. Sifat munafik antara ketidaksempurnaan di satu sisi, tapi merasa begitu sempurna di sisi lain. Ketika diberi nasehat, tapi suka membantah (QS. al-Kahfi : 54). Sebelum mendapat nikmat, munajat dan janji atas nama Allah. Tapi, begitu nikmat telah diraih, acapkali lupa diri dan ingkar janji (QS. Yunus : 12). Bak sifat Qarun yang tak tau bersyukur, kelak azab-Nya sangat pedih (QS. al-Qasas : 76-82). Pujian yang diperoleh bukan puji keikhlasan, tapi puji kemunafikan selama berada "di atas". Ketika berada di bawah dan azab-Nya menimpa, pujian menggema berubah menjadi cibiran dan hinaan yang berkepanjangan. Begitu banyak i'tibar di-perlihatkan-Nya dalam kehidupan. Ketika nasehat tak dipeduli, kritik membuat alergi, pembawa kebenaran dibuli, pujian membuat lupa diri, dan berakhir "dijeruji besi". Meski semua begitu nyata, namun acap-kali membutakan mata dan hati manusia oleh gemerincing pujian yang begitu nyaring memekakkan telinga kebenaran. Sifat nista ini bisa menimpa pada semua hamba-Nya.

Tak peduli strata (kedudukan dan zuriyat), pemilik harta, titel berjejer, berilmu (sebatas teori), dan status sosial (alim) tinggi yang dimiliki. Bahkan, melalui berbagai status dan fasilitas yang dimiliki membuatnya terbuka peluang hanya rindu dan silau pujian, tapi alergi nasehat dan kritik. Ketika hal ini menjadi watak diri, maka sulit diperbaiki. Kelak, bila azab-Nya hadir, tak ada lagi gunanya penyesalan. Bak pepatah "nasi sudah menjadi bubur". Para penasehat tak lagi ingin menasehati dan para pemuja tak terlihat lagi keber-adaannya. Tinggal diri memetik semua tanaman kesombongan dan kezaliman. Terlihat nyata karakter asli si pemuja yang hadir sekedar "penikmat madu". Ketika madu telah kering, ia akan pindah dan menjilat --bak seekor anjing-- dan menjual diri (hamba sahaya) pada pemilik madu lainnya. Sifat manusia fasik yang sulit disadarkan berulang kali diingatkan-Nya : "maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan ?" (QS. ar-Rahman). Meski ayat demikian jelas, tapi manusia     begitu jumawa (sombong) mengingkarinya. Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***

Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis

Editor: Edwar Yaman

Sumber: riaupos.jawapos.com

 

Written by Admin
Category: Penyejuk Jiwa
Hits: 383

 

CERMIN (KACA) DIRI

Oleh : Samsul Nizar  

(Eksistensi cermin begitu familiar. Semua manusia mengenal dan pernah bercermin. Tapi, tak semua manusia sempat, mau, atau segelintirnya tak mampu mengambil pelajaran (i'tibar) dari cermin. Padahal, dalam makna kiasan, cermin bisa digunakan untuk "melihat diri" (refleksi diri atau introspeksi untuk melihat karakter, kelebihan, dan kekurangan diri). 

Idealnya, cermin untuk melihat diri merupakan cermin datar dan bersih. Dalam ilmu psikologi, konsep melihat diri melalui pandangan orang lain disebut looking-glass self (cermin diri).

Dalam kehidupan ini, manusia berhadapan dengan beberapa jenis cermin, antara lain :

Pertama, Cermin hias (datar, cekung, dan cembung). Umumnya, cermin jenis ini digunakan untuk melihat kesempurnaan sisi fisik diri. Ketika ada "bopeng", aib diri, atau tampilan yang tak sempurna, maka berbagai upaya dilakukan untuk menutupi-nya. Ketika "bopeng kesalahan meluap", maka tempelan "make up kesalehan" men-dominasi untuk menutupi semua kesalah-an yang ada. Semua upaya dilakukan agar "bopeng diri" bisa tertutupi. Namun, acap-kali manusia lupa bila make up yang ber-lebihan (full coverage) dan terlalu sering digunakan untuk menutupi kekurangan diri akan menyumbat "pori-pori kebenaran" dan merusak kulit (amaliah). Apalagi jika tidak dibersihkan dengan benar (taubat an-nasuha). Akibatnya, kebenaran sulit masuk ke relung hati dan taubat tak lagi dipeduli.

Kedua, Kaca spion. Cermin jenis ini digunakan untuk membantu pengemudi melihat perilaku orang lain tanpa pernah melihat perilaku diri dan penumpang yang ada dalam "perintah supir". Fenomena sosok manusia berkarakter "kaca spion" begitu nyata. Pada aturan dan hukum yang sama untuk melihat persoalan yang sama, tapi berbeda "keputusan" yang berlaku dan diambil. Sebab, putusan dilihat dengan "kaca spion". Akibatnya, kaca hanya digunakan untuk melihat atau mencari kesalahan orang lain. Sementara kesalahan supir dan penumpang dalam mobil tak pernah terlihat. Padahal, kesalahan "sopir dan penumpang" begitu nyata, tapi sengaja ditutupi. Akibatnya, "sopir dan penumpang" berpotensi lebih "ugal-ugalan" melanggar aturan lalu lintas.

Ketiga, Cermin sosial. Cermin jenis ini me-rupakan sosok teman sebagai cermin karakter diri. Sebab, karakter manusia terlihat pada pilihan (kualitas) sifat teman yang ada disekitar "ikat pinggangnya". Hal ini dinyatakan Rasululullah dalam sabdanya  : "Seseorang itu bergantung pada agama teman dekatnya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapa yang menjadi teman dekatnya" (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Hadis di atas memberikan pesan tentang pengaruh lingkungan sosial terhadap karakter dan spiritualitas seseorang. Bila lingkungan sosial (teman) sosok yang amanah, maka nilai amanah akan mudah dimunculkan. Namun, ketika lingkungan sosial didominasi manusia khianat dan serakah, maka "tanaman" kemungkaran akan berkembang biak dan membuahkan kezaliman (keserakahan).

Sungguh, kehadiran teman merupakan cermin diri merupakan sarana bagi seorang muslim untuk tetap berada di jalan yang benar. Bijak memilih teman jadi ukuran. Teman yang saleh menjadi tempat untuk mengingatkan bila keliru atas jalan yang dipilih, tempat rujukan untuk mencari solusi yang tepat, dan nasehat bila lupa mensyukuri nikmat-Nya. Hal ini sesuai sabda Rasulullah  : “Sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kalian. Aku lupa sebagaimana kalian lupa. Oleh karenanya, ingatkanlah aku ketika diriku lupa” (HR. Bukhari).

Teman saleh akan senantiasa menasehati bila melakukan kesalahan dan mengingat-kan bila mendapatkan rezeki agar tak lupa diri. Kehadirannya bagaikan cermin untuk melihat kebaikan. Sementara, bila teman salah yang dijadikan cermin, maka tampil puji menggema untuk "cari muka". Pujian sekedar "tipuan" untuk meraih keuntungan. Semua berbondong-bondong hadir ketika tumpahan "madu" begitu manis. Tapi, begitu madu telah kering dan masa telah berganti, maka teman salah akan hilang meninggalkan serpihan luka dan kepiluan. Sebab, teman yang dijadikan cermin ternyata sosok maddahin (penjilat) yang hanya  memanfaatkan pertemanan selama ada keuntungan.  

Eksistensi sosok maddahin kadangkala terungkap ketika "madu" terasa "hambar". Padahal, ketika madu begitu manis, mereka bagaikan kumpulan semut yang antrean "sembako". Fenomena ini cermin besar yang acapkali terlambat untuk disadari. Hadir ketika "nasi telah menjadi bubur". Namun, karakter teman dihadirkan-Nya sesuai kualitas karakter pemimpin. Sebab, kualitas pemimpin tergambar pada kualitas yang dipimpin. Pemimpin amanah akan dikelilingi teman yang amanah. Hal ini dinyatakan Rasulullah melalui sabdanya : “Jika Allah SWT menghendaki kebaikan bagi diri seorang pemimpin, maka Allah akan memberinya seorang pendamping (pembantu yang jujur yang akan mengingatkan jika dirinya lalai dan akan membantu jika dirinya ingat” (Shahih. HR. Abu Dawud).

Namun, ketika pemimpin khianat dan fasik, maka Allah hadirkan teman-teman yang sesuai dengan karakternya. Hal ini diingatkan dalam kata hikmah "kalian akan dipimpin oleh orang-orang yang seperti kalian". Keduanya menjadi cermin bagi yang lain. Cermin buram atau cermin retak seribu. Demikian Allah mempertontonkan gambaran watak manusia dengan menjadi-kan "teman sekelilingnya" sebagai cermin sosial yang begitu nyata.

Sungguh, berbagai kezaliman dapat di-berantas dan perilaku keliru mampu di-koreksi ketika teman yang saleh dimiliki dan menjalankan perannya. Tapi, anehnya justeru manusia lebih memilih teman yang salah agar bisa membantu "melegalkan kesalahan" dan menggelorakan puji tanpa henti. Akibatnya, pelaku kezaliman merasa benar dan kemungkaran dianggap lumrah. Untuk itu, tak heran bila teman yang membawa jalan kesalehan (kebenaran) patut disingkirkan. Sebab, kehadiran "cermin sosial" (teman saleh) akan membuat si fasik tak leluasa melakukan berbagai kesalahan.

Keempat, cermin semesta (ayat kauniyah). Jenis cermin ini melihat semesta sebagai pantulan kebesaran Allah. Sebab, semesta menyajikan ayat-Nya kepada manusia untuk melihat keagungan (kebesaran-Nya) dan begitu daifnya hamba. Hal ini tertuang dalam firman-Nya : "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), "Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka" (QS. Ali Imran : 190-191).

Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas turun agar manusia merenungkan kuasa dan kebesaran Allah. Bahkan, ayat ini mem-buat Rasulullah  menangis ketika mem-bacanya. Ayat yang mengajak manusia menggunakan akal dan hatinya untuk memahami alam semesta guna meningkat-kan keimanan dan mendekatkan diri kepada Allah melalui zikir dan tafakur.  Namun, umatnya justeru begitu mudah "mempermainkannya". Sebab hati, telinga, mata, dan akalnya telah tertutup menerima kebenaran (QS. al-Baqarah : 7).

Kelima, cermin hati (qalbun salim). Cermin jenis ini merujuk sabda Rasulullah : "Sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, rusaklah seluruh tubuh. Daging itu adalah hati" (HR. Bukhari dan Muslim).

Merujuk hadis di atas, Imam al-Ghazali menggambarkan hati manusia layaknya cermin. Ketika hati bersih dari nafsu dan dosa, maka cahayanya akan memantulkan ma'rifatullah (mengenal Allah). Untuk itu, manusia yang rindu bersama-Nya akan senantiasa berupaya membersihkan hati (tazkiyatun nafs) dari berbagai penyakit (iri, sombong, fasik, dusta, cinta dunia, dan lainnya). Ketika hati bersih dari

kotoran, maka ia akan memantulkan cahaya kebenaran. Namun, jika hati --begitu-- kotor dan tak lagi bisa menjadi cermin diri, maka manusia semakin jauh dari cahaya Ilahi (hidayah-Nya). Hal ini diingatkan Allah dalam QS. al-Baqarah : 74 dan 283 (hati keras membatu dan kotor), QS. al-Muthaffifin : 14 (karat / noda hitam akibat maksiat), QS. Luqman : 7 (sombong), QS. Muhammad : 16 (mengikuti hawa nafsu). Anehnya, meski firman-Nya dan sabda Rasulullah begitu jelas, namun manusia semakin nyata mengingkarinya. Sungguh, sifat dan karakter manusia yang demikian melebihi sifat iblis (QS. al-A'raf : 13).

Agar manusia tak terjerumus pada sifat hewan atau iblis, maka diperlukan cermin hati yang suci. Dalam Islam, hati yang suci (qalbun salim) tumbuh pada jiwa yang ter-hindar dari penyakit hati. Hati yang suci melahitkan sifat tawadhu', ikhlas, dan senantiasa berbaik sangka terhadap ketetapan-Nya. Ketika hati terjaga, maka ketenangan dan kesehatan (mental) akan diraih. Tapi, ketika cermin hati kotor, maka kemunafikan, kesombongan, dan kezalim-an berkembang biak tanpa bisa dicegah. Bahkan, fenomena ini semakin parah bila pemilik hati kotor berbuah perilaku nista tapi "disanjung dan dipuja-puja".

Sungguh, Allah SWT telah mengingatkan manusia melalui "cermin-cermin-Nya". Ter-pulang pada setiap manusia untuk men-jadikan ayat-Nya sebagai cermin-Nya atau hanya peduli dengan cermin hias (melihat kehebatan diri) dan kaca spion (melihat ke-kurangan orang lain). Andai kedua pilihan ini yang diambil, maka kesombongan dan kezaliman akan muncul kepermukaan. Ke-tika sifat nista sebagai pilihannya, berarti berharap murka-Nya.  Sebab, janji Allah adalah pasti

(QS. ar-Ruum : 60). Untuk itu, diperlukan pilihan bijak untuk memilih jenis cermin (kaca). Pilihan cerdas akan meng-hantarkan sosok hamba pilihan yang tawadhu' dan hanya berharap ridho-Nya. Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***

Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis

Written by Admin
Category: Penyejuk Jiwa
Hits: 218

 

HIDUP DALAM PANDANGAN ALLAH, BUKAN DALAM PENILAIAN MANUSIA

Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan tertinggi dalam ihsan—bukan hanya dalam ibadah, tetapi dalam setiap detik kehidupan.

 

Ada satu kesalahan yang diam-diam merusak kualitas hidup banyak orang:

mereka ingin terlihat baik, tapi tidak serius ingin menjadi baik.

 

Mereka menjaga citra, tapi tidak menjaga hati.

Mereka mengejar pengakuan manusia, tapi lalai dari pandangan Allah.

 

Di sinilah ihsan menjadi pembeda.

 

Ihsan: Kualitas Hidup Seorang Muslim

 

Ihsan bukan “bonus spiritual”.

Ia adalah inti dari kualitas hidup seorang mukmin.

 

Ketika Rasulullah ﷺ menjelaskan ihsan, beliau tidak berbicara tentang banyaknya amal, tetapi kedalaman kesadaran:

“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya…”

 

Artinya jelas:

hidup ini bukan sekadar melakukan, tapi menghadirkan Allah dalam setiap yang dilakukan.

 

Tanpa itu, amal menjadi kosong.

Gerak ada, ruhnya hilang.

 

Penyakit Zaman Ini: Hidup untuk Dilihat

Coba jujur:

  • Kita semangat ketika dilihat, tapi lemah saat sendiri
  • Kita disiplin saat diawasi, tapi longgar saat bebas
  • Kita baik pada yang menguntungkan, tapi keras pada yang tidak memberi nilai

Ini bukan ihsan.

Ini adaptasi sosial—bukan kesadaran ilahi.

 

Dan jika ini dibiarkan, seseorang bisa terlihat “hebat” di dunia,

tapi ringan nilainya di sisi Allah.

 

Ihsan Itu Sunyi, Tapi Mengubah Segalanya

 

Ihsan tidak selalu terlihat.

 

Ia hidup dalam:

  • kejujuran saat tidak ada yang tahu
  • kesabaran saat tidak ada yang memuji
  • kerja keras saat tidak ada yang menghargai
  • doa yang tidak diposting
  • air mata yang tidak diceritakan

Di situlah Allah menilai.

Dan di situlah nilai seorang hamba ditentukan.

 

Jika Ihsan Hilang, Semua Menjadi Dangkal

 

Tanpa ihsan:

  • Ibadah jadi rutinitas
  • Ilmu jadi alat pamer
  • Jabatan jadi alat kepentingan
  • Pendidikan jadi sekadar transfer materi
  • Dakwah jadi panggung, bukan amanah

Inilah akar krisis—bukan kurangnya aktivitas,

tetapi hilangnya kualitas batin.

 

Ihsan dalam Segala Hal (Bukan Hanya di Masjid)

Dalam mendidik:

Mengajar bukan sekadar menyampaikan, tapi membentuk jiwa.

Setiap kata, setiap sikap, dicatat oleh Allah.

 

Dalam bekerja:

Tidak menunda, tidak curang, tidak asal jadi.

Bekerja seolah Allah menilai langsung.

 

Dalam keluarga:

Berbuat baik bukan karena balasan,

tapi karena sadar itu dilihat Allah.

 

Dalam kesendirian:

Inilah ujian terbesar.

Siapa Anda saat sendiri—itulah siapa Anda sebenarnya.

 

Realitas yang Harus Anda Hadapi

Anda tidak akan selalu dihargai.

Anda tidak akan selalu dipuji.

Bahkan kadang kebaikan Anda tidak terlihat.

 

Jika motivasi Anda adalah manusia, Anda akan lelah.

Jika motivasi Anda adalah Allah, Anda akan kokoh.

 

Strategi Membangun Ihsan (Tanpa Ilusi)

                1.            Bangun kesadaran sebelum tindakan

Jangan bertindak otomatis. Hadirkan Allah dalam keputusan.

                2.            Naikkan standar pribadi

Bukan sekadar “cukup baik”, tapi “layak di hadapan Allah”.

                3.            Latih konsistensi saat tidak dilihat

Ini titik balik. Di sini ihsan dilahirkan.

                4.            Kurangi ketergantungan pada validasi

Pujian itu candu. Jika Anda butuh itu untuk bergerak, Anda belum kuat.

                5.            Muhasabah harian

Evaluasi bukan apa yang Anda lakukan—

tapi bagaimana Anda melakukannya.

 

Penutup: Ukuran Hidup yang Sebenarnya

 

Suatu hari, semua penilaian manusia akan hilang.

Yang tersisa hanya satu:

 

Apakah Anda hidup dengan ihsan—atau hanya dengan penampilan?

 

Ihsan tidak membuat hidup lebih mudah.

 

Tapi ia membuat hidup lebih bernilai.

 

“Jangan sibuk memperindah pandangan manusia terhadapmu.

Perindahlah dirimu di hadapan Allah—karena di sanalah hakikat hidupmu dinilai.”

 

Oleh: Jasman Jaiman

Written by Admin
Category: Penyejuk Jiwa
Hits: 259

Bacaan Popular


Baca topik

Terkini


TEMPAT NYAMAN TAMAN BACAAN MASA DEPAN ANDA-JOM KITA MENULIS!!! dhomir.com ingin mengajak dan memberi ruang kepada para penulis khususnya penulisan yang berkaitan dgn agama Islam secara mendalam dan sistematik.Jika anda ingin mencurahkan isi hati mahupun pandangan secara peribadi dhomir.com adalah tempat yang paling sesuai utk melontarkan idea. Dengan platform yang sederhana, siapa sahaja boleh menulis, memberi respon berkaitan isu-isu semasa dan berinteraksi secara mudah.Anda boleh terus menghantar sebarang artikel kepada alamat email:dhomir2021@gmail.com.Sebarang pertanyaan berkaitan perkara diatas boleh di hubungi no tel-019-3222177-Editor dhomir. com