LABU YANG DIMAKAN OLEH BAGINDA NABI SALLALLAHU ALAIHI WASALLAM
Baginda Nabi sallallahu alaihi wasallam sangat menyukai Dubba' (Labu). Ini seperti yang disebutkan oleh al-Imam AtTirmizi rahimahullah di dalam kitabnya yang masyhur dan barakah iaitu asSyamail al-Nabiyy.
Ada yang tertanya, labu yang bagaimana Baginda sukai? Adakah labu kuning yang sering kita makan atau bagaimana bentuknya?
Saya telah membaca kitab Munyatul Salik Khulasatul Syamail karangan guru kepada guru-guru kami, al-Imam al-Hafidz al-Syariff Muhammad Abdul Hayy bin Abdul Kabir al-Kattani rahimahullah (wafat 1382 Hijriyyah bersamaan 1962). Beliau membahaskan secara terperinci tentang perkara tersebut.
Kata beliau : Para ulama berbeza pandangan padanya. Al-Imam Ahmad bin Abdul Qadir al-Qadiri (wafat 1113 Hijriyyah) mengatakan bahawa labu yang disukai Baginda Nabi sallallahu alaihi wasallam tidak ada di bumi Maghrib.
Manakala al-Imam Abu Zaid Abdul Rahman bin Abdul Qadir al-Fasi rahimahullah ( wafat 1096 Hijriyyah) telah menyebut di dalam sebahagian kitabnya bahawa yang dimaksudkan dengan labu itu ialah Qar' al-Salawi (Labu Salawi - lihat gambar-).
Beliau mengatakan sedemikian dengan beberapa sebab. Antaranya ialah :
1) Labu ini adalah merupakan labu yang terbaik. Baginda Nabi tidak akan menyukai sesuatu melainkan perkara yang terbaik.
2) Para ulama menyebutkan sifat Labu yang dimakan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam adalah panjang dan boleh ditebuk buat dijadikan bekas sesuatu.
Al-Imam Abdul Hayy al-Kattani rahimahullah mengatakan bahawa sebahagian orang Soleh di Sala (Bandar Maghrib Kuno) menceritakan kepada beliau bahawa Labu ini dinisbahkan kepada Sala kerana Sayyiduna Yunus alaihi assalam ketika dikeluarkan daripada perut ikan Nun maka ditumbuhkan pohon Yaqthin ( Labu ). Tempat tersebut dikatakan di Sala, Maghribi.
Labu atau Yaqhtin yang dimaksudkan adalah Labu Sala ini. Mereka juga mengatakan bahawa Nabi Allah Yunus alaihi assalam dimaqamkan di tempat mereka.
Saya berkata : Kemungkinan labu ini juga disebut dengan Labu Air bagi masyarakat kita di Malaysia dan Nusantara. Rasanya manis dan dibuat sup serta diletakkan di dalam gulai makanan kita. Wallahu a'lam.
Saya mencintai apa sahaja yang dicintai oleh Baginda Nabi sallallahu alaihi wasallam.
Kredit: Syeikh Nazrul Nasir
MENJAGA AGAMA
Agama merupakan bagian terpenting bagi manusia. Dogma agama pada tataran tertentu bahkan lebih kuat pengaruhnya dibanding ajaran-ajaran lainnya. Sebagian orang tentu akan menyalahkan penelitian ketika hasil dari penelitian itu dipandang bertentangan dengan agama. Orang-orang seperti ini biasanya akan menjadikan Tuhan sebagai kambing hitam untuk membenarkan pandangannya dengan membawa-bawa Tuhan—padahal belum tentu sesuai pemahamannya dengan maksud Tuhan—sebagai tameng.
Begitu besarnya pengaruh agama, maka pemahaman yang benar terhadapnya tentu akan berefek kepada besarnya kebaikan yang kita lakukan, dan pemahaman yang keliru tentu akan berefek kepada perbuatan jelek dan tercela (‘aqidah shahihah akan melahirkan ‘amal shalihah, begitupun sebaliknya). Adapun perilaku buruk yang muncul dari keyakinan ini disebabkan oleh minimal dua faktor; agama dan diri kita sendiri. Terkadang, ajaran agama telah benar, namun karena keterbatasan kita, ajaran suci itu seolah salah. Di sisi lain, justru dogma atau ajaran itulah yang salah. Ini berlaku terhadap seluruh umat beragama terhadap agama orang lain. Muslim tentu akan meyakini Islam sebagai ajaran yang benar, ajaran yang berada di sisi Allah. Kristen juga demikian, dst. Perbedaan-perbedaan ini menunjukkan bahwa satu di antaranya mesti adalah kebenaran.
Secara subjektif, penulis mungkin saja akan mengatakan bahwa “Agama sayalah yang benar, agama lain sudah batal dengan datangnya ajaran terakhir ini (Islam)”. Tapi, hal ini tentu akan mendapat bantahan-bantahan yang sejak dulu hingga sekarang, tidak akan pernah ada kesepakatan terkait agama mana yang paling benar. Semua berada di posisinya masing-masing.
Eksistensi agama-agama yang ada di dunia memang tidak bisa dinafikan, bahkan dimusnahkan. Nabi Muhammad Saw., dulu pernah meminta kepada Allah agar semua orang masuk Islam. Tapi, Allah menunjukkan keangkuhan-Nya dengan berkata, “Sekiranya Aku menghendaki, maka semua mereka akan masuk Islam”. Kenyataannya, Allah tidak melakukan hal itu, ini pertanda bahwa perbedaan itu sunnatullah.
Kenyataan di atas masih juga ditolak oleh sebagian manusia. Masih ada sebagian orang yang ingin memaksakan kehendaknya agar diterima dan dipatuhi oleh orang lain. Pemaksaan ini pada gilirannya akan menimbulkan konflik yang mengatasnamakan agama. Atas nama agama, penganut agama lain harus dibunuh. Atas nama agama, suatu aliran dicap sesat, dan yang sesat harus dimusnahkan, bahkan penganutnya juga.
Atas nama agama, jalan kekerasan adalah jihad yang menjamin syurga. Bablasnya, atas nama agama pula, larangan agama justru dilanggar. Fenomena yang memilukan hati para pecinta damai. Ini merupakan gambaran betapa ngototnya mereka, begitu nafsunya mereka, bahkan, agama yang katanya diperjuangkan, faktanya malah patuh terhadap tafsir yang mereka inginkan.
Lantas, apa sebenarnya yang dikehendaki agama? Bagaimana agama memberi garis dirinya dan agama di luarnya? Inilah pertanyaan mendasar yang ingin dijelaskan dalam tulisan ini. Setidaknya, meski menggunakan satu perspektif saja (Islam), penulis berharap agar hidup berdampingan, perdamaian abadi, dan adil tanpa diskriminasi selalu terjaga. Dalam hidup bernegara, sekurang-kurangnya penulis berharap tulisan ini mampu menstimulir hukum nasional dalam kaitannya dengan perlindungan negara terhadap agama.
Perintah, larangan, dan apapun bentuknya, tentu memiliki hikmah tersendiri. Terlepas dari adanya anggapan bahwa hikmah yang mendasari munculnya perintah/ larangan/ pembolehan dsb, atau anggapan bahwa hikmah adalah efek dari syari’at yang ada karena Allah tidak terikat oleh apapun. Ia bisa saja menentukan apa saja yang dikehendaki-Nya. Terlepas dari itu semua, penulis hanya ingin berkata bahwa pen-syari’at-an tentu memiliki tujuan tersendiri. Al-Syatibi melaporkan bahwa kesimpulan para ulama dalam mengkaji ayat-ayat al-Qur’an dan hadits Nabi adalah bahwa Allah menghendaki kemashlahatan di setiap syari’at yang Ia tetapkan.
Tujuan itu dibagi menjadi tiga kategori; dharuriyat (primer), hajiyat (sekunder), dan tahsiniyat (tersier). Untuk kategori pertama, dikatakan bahwa ada enam tujuan dari maqashidu al-syari’ah dalam memenuhi keperluan manusia yaitu, menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga akal, menjaga keturunan, dan menjaga harta, dan terakhir menjaga kehormatan. Tentu hal ini tidak baku. Kemudian bisa saja dirumuskan bahwa menjaga lingkungan juga termasuk perlindungan dasar dalam Islam.
Tidak dipungkiri lagi bahwa dari sekian banyak perintah dan larangan agama, salah satu tujuannya adalah melindungi atau menjaga agama itu sendiri. Hifz al-din (menjaga agama) ini disebut sebagai tujuan pokok (primer/dharuriyat) dari pen-syari’at-an atau lebih dikenal dengan istilah maqashidu al-syari’ah dalam kajian fiqh dan ushul. Sehingga, segala bentuk mengada-ada (bid’ah), pengkultusan, atau bahkan ingin merong-rong ajaran agama dari luar (murtad), bisa dipidana berdasarkan ketentuan.
Jika ditinjau dari sisi mana agama itu diserang, maka harus diakui bahwa pemeluk agama itu sendiri terkadang adalah musuh paling berbahaya. Ada dua bentuk penjagaan yang dapat kita pahami dalam dalil-dalil al-Qur’an dan Sunnah, yaitu dari dalam (muslim itu sendiri) dan dari luar (non-muslim).
Penyerangan dari dalam dapat dilihat dari adanya larangan melakukan perbuatan-perbuatan syirik, tahayyul, khurafat, dan bid’ah. Pelakunya tentu dari kalangan muslim yang bisa jadi kurang mengerti, atau memang gemar menebar kebohongan. Bahkan, muslim seperti ini kerap kali mencari pemahaman yang berbeda demi mendukung perbuatannya.
Contohnya saja adalah para pelaku bid’ah, mula-mula mereka menyebut amalannya dengan sunnah, lantas jika dapat dibantah mereka menyebutnya dengan bid’ah tapi tidak sesat, melainkan bid’ah hasanah. Jika dibantah lagi, mereka menyebut amalannya sebagai adat. Bagi mereka, yang terpenting amalan demikian mesti tetap dipraktekkan, dijaga kelestariannya.
Kedua adalah penyerangan dari luar. Ini bisa berupa fitnah dari non-Muslim atau muslim yang murtad. Oleh karenanya, Allah dan rasul-Nya memerintahkan orang-orang seperti ini untuk diperangi, sekiranya mereka surut dan tidak memusuhi, maka tidak ada lagi permusuhan (QS. Al-Baqarah 2:193). Hal ini juga bisa dilihat dari hadits tentang pemberontak (bughah), sanksi bagi orang yang keluar dari Islam dan menyerang Islam, serta dalil-dalil lainnya.
Contoh-contoh di atas adalah bentuk penjagaan yang disyari’atkan oleh agama Islam terhadap Islam itu sendiri. Sebagai rahmat bagi seru sekalian alam, maka Islam tidak sekadar melindungi ajarannya, melainkan juga sebagai rahmat bagi yang lain. Sehingga, perlu dijelaskan pula bahwa agama lain juga harus dijaga eksistensinya. Sehingga, anggapan bahwa di Negara Islam (wilayah yang mayoritas penduduknya adalah Islam) tidak boleh berdiri rumah-rumah ibadat non-muslim adalah kesalahan besar. Piagam madinah adalah bukti di mana non-muslim berada di posisi aman, tenteram, meski pemimpinnya adalah Rasul sendiri.
Lebih dari pada itu, menjaga ketenteraman ibadah non-muslim merupakan kewajiban Negara apalagi Negara Islam. Dengan konsep Islam, terlihat jelas batasan-batasan yang menguntungkan dan rahmat bagi semua pihak. Toleransi seperti inilah yang kiranya diharap mampu mempertemukan muslim dan non-muslim dalam hubungan mu’amalah. Adapun dalam persoalan ibadah, maka perlu ditegaskan bahwa “Bagimu agamamu, bagiku agamaku, dst”.
Seandainya hal ini dapat dipahami oleh semua orang, maka untuk urusan ibadah dan keyakinan, kita tidak lagi bersikap memaksa orang lain untuk mengikuti kebenaran yang kita yakini. Apalagi memunculkan sikap anarkis seperti rebutan masjid sebagaimana yang pernah terjadi di Aceh, juga pembakaran gereja dan masjid yang terjadi di beberapa daerah.
Jika ulasan di atas dapat dimengerti, harmonisnya hubungan antar aliran, kelompok atau umat beragama tentu akan terwujud. Bahkan, sikap menghalang-halangi ummat lain untuk beribadah dengan menyegel rumah-rumah ibadah mereka akan berbalik menjadi saling memberi peluang untuk kebebasan mereka dalam beribadah. Konstitusi Negara ini menjamin hal itu. Allahu a’lam
Sumber: Qureta.com
CINTA SAJA TIDAK CUKUP UNTUK SELAMATKAN ANAK KITA
Oleh: Omar Hayan
Kisah Nabi Nuh a.s. bukan sekadar kisah tentang banjir besar dan sebuah bahtera. Ia adalah kisah tentang iman, keluarga, kasih sayang, tanggungjawab ibu bapa dan hakikat bahawa cinta seorang ayah kepada anaknya tidak semestinya mampu menyelamatkan anak itu daripada kebinasaan jika anak tersebut memilih untuk berpaling daripada Allah.
Di sinilah letaknya salah satu pengajaran paling mendalam daripada kisah Nabi Nuh a.s.: kita boleh melahirkan seorang anak, membesarkannya, menyayanginya dan mendoakannya, tetapi kita tidak memiliki hatinya. Hidayah tetap milik Allah, sementara anak itu sendiri mempunyai pilihan dan tanggungjawab terhadap keimanannya.
Anak seorang nabi pun tidak terkecuali daripada hukum ini.
Al-Quran menceritakan bahawa Nabi Nuh a.s. mempunyai seorang anak yang enggan beriman. Ketika banjir besar melanda dan bahtera sedang bergerak di atas gelombang yang tinggi seperti gunung, Nabi Nuh masih memanggil anaknya:
“Wahai anakku, naiklah bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang yang kafir.”
Namun anak itu menjawab bahawa dia akan berlindung di sebuah gunung yang akan menyelamatkannya daripada air bah.
Nuh menjawab:
“Tidak ada yang dapat melindungi pada hari ini daripada ketetapan Allah selain orang yang dirahmati-Nya.”
Lalu gelombang memisahkan antara mereka dan anak itu termasuk orang yang ditenggelamkan.
1. Bahtera Hari Ini Bukan Kayu, Tapi Didikan
Nabi Nuh menyediakan bahtera kayu yang menyelamatkan jasad. Kita hari ini perlu menyediakan bahtera didikan yang menyelamatkan iman. Ramai ibu bapa sibuk menyediakan kapal persiaran dunia untuk anak - tuisyen mahal, gajet canggih, baju berjenama - tetapi lupa membina bahtera solat, Al-Quran dan akhlak di dalam rumah. Tanpa bahtera ini, anak akan karam dalam banjir fitnah akhir zaman.
2. Gunung Yang Disangka Selamat
Anak Nuh berkata, “Aku akan berlindung di gunung.” Hari ini anak-anak kita juga mempunyai gunungnya sendiri. Gunung kawan-kawan, gunung populariti di TikTok, gunung alasan “nanti besar pandailah dia”. Gunung itu nampak tinggi dan selamat, tetapi semuanya akan tenggelam apabila ombak ujian Allah datang jika tidak ada iman sebagai sauh.
3. Isteri Nuh Juga Tenggelam - Didikan Ibu Sama Penting
Al-Quran menyebut isteri Nuh juga termasuk orang yang menentang (Surah At-Tahrim:10). Ini isyarat besar. Nuh berdakwah di luar selama ratusan tahun, tetapi di dalam rumah ada isteri yang tidak sehaluan. Iktibarnya: kesolehan ayah tidak cukup jika ibu tidak bersama mendayung bahtera yang sama. Bahtera keluarga mesti didayung oleh dua tangan, ayah dan ibu.
4. Jangan Berhenti Memanggil Walaupun Ombak Sudah Tinggi
Paling menyentuh hati ialah, Nuh memanggil anaknya ketika air sudah setinggi gunung dan bahtera sudah mula belayar. Maknanya, selagi nyawa anak masih ada, jangan pernah berhenti memanggil. Walaupun dia sudah jauh, sudah degil, sudah hanyut bersama kawan-kawannya, panggil lagi dengan cinta: “Wahai anakku, naiklah bersama kami.”
Di sinilah hati seorang ayah diuji pada tahap yang paling dahsyat. Nabi Nuh bukan seorang ayah yang tidak menyayangi anaknya. Sebaliknya, kasih seorang ayah tetap ada walaupun anaknya memilih jalan yang salah. Dalam keadaan bahaya yang hampir menelan segala-galanya, baginda masih memanggil anaknya supaya naik ke bahtera. Itulah cinta seorang ayah.
Tetapi kisah ini juga mengajar bahawa cinta tidak sama dengan hidayah. Cinta boleh memanggil, tetapi tidak mampu memaksa hati. Cinta boleh menasihati, tetapi tidak mampu menggantikan iman. Cinta boleh menyediakan bahtera, tetapi anak itu sendiri mesti memilih untuk menaikinya.
5. Cinta Tidak Dapat Menggantikan Iman
Selepas anaknya tenggelam, Nabi Nuh a.s. masih memohon kepada Allah. Baginda berkata:
“Wahai Tuhanku, sesungguhnya anakku itu daripada keluargaku dan sesungguhnya janji-Mu itu benar.”
Allah kemudian menjelaskan kepada Nabi Nuh bahawa anak tersebut bukanlah daripada keluarganya dalam pengertian yang dijanjikan keselamatan kerana amalannya bukan amal yang soleh.
Allah berfirman:
"Wahai Nuh! Sesungguhnya anakmu itu bukanlah dari keluargamu (kerana ia telah terputus hubungan denganmu disebabkan kekufurannya); sesungguhnya bawaannya bukanlah amal yang soleh, maka janganlah engkau memohon kepadaKu sesuatu yang engkau tidak mempunyai pengetahuan mengenainya. Sebenarnya Aku melarangmu dari menjadi orang yang jahil". (Surah Hud: 46)
Ayat ini bukan bermaksud hubungan darah menjadi tidak bernilai. Sebaliknya, ia mengajar bahawa hubungan darah mempunyai batas, sedangkan hubungan iman mempunyai kedudukan yang lebih tinggi di sisi Allah. Seorang anak tetap anak kita dari sudut darah. Kita tetap wajib menyayanginya, menjaganya dan menunaikan tanggungjawab terhadapnya. Tetapi keselamatan akhirat bukan diwarisi melalui nama keluarga, keturunan atau kedudukan ibu bapanya. Anak nabi tidak mendapat tiket percuma ke syurga. Demikian juga anak orang soleh. Kesolehan ibu bapa tidak boleh dipindahkan kepada anak seperti harta pusaka.
6. Cinta Perlu Tegas Dengan Kebenaran
Selepas peristiwa itu, Allah menegur Nuh dengan lembut tetapi tegas: “…..sesungguhnya bawaannya bukanlah amal yang soleh, maka janganlah engkau memohon kepadaKu sesuatu yang engkau tidak mempunyai pengetahuan mengenainya..” (Hud:46)
Inilah puncak cinta yang tidak mengkhianati. Cinta sejati bukan bermaksud membela anak walaupun dia salah. Cinta sejati ialah berani mengatakan “Ini salah, wahai anakku,” walaupun hati sendiri remuk. Kita sayang anak, tetapi kita lebih sayang kebenaran Allah.
Penutup: Nabi Tidak Mampu Memaksa Hidayah
Kisah Nabi Nuh juga mengajar satu hakikat yang sangat besar kepada ibu bapa: tugas kita ialah mendidik, menyeru dan menunjukkan jalan; hidayah adalah milik Allah.
Nabi Nuh berdakwah selama beratus-ratus tahun. Baginda menyeru kaumnya siang dan malam, secara terang-terangan dan secara sembunyi-sembunyi. Namun tidak semua menerima dakwahnya.
Jika seorang nabi yang begitu lama berdakwah pun tidak mampu menjadikan semua orang beriman, apatah lagi kita sebagai ibu bapa.
Sebab itu kita jangan terlalu cepat menyalahkan diri sendiri apabila anak melakukan kesilapan. Tetapi pada masa yang sama, jangan pula menjadikan alasan “hidayah milik Allah” sebagai alasan untuk kita tidak mendidik mereka.
Hidayah milik Allah, tetapi pendidikan adalah tanggungjawab kita. Kita tidak boleh berpeluk tubuh. Kita mesti bina bahteranya hari ini, sebelum banjirnya tiba esok.
PERSATUAN ITU RAHMAT, PERPECAHAN ITU AZAB
Amanat berikut yang pernah disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, persatuan itu rahmat. Perpecahan itu azab.
عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى الْمِنْبَرِ « مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ وَمَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللَّهَ وَالتَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللَّهِ شُكْرٌ وَتَرْكُهَا كُفْرٌ وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ ».
Dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyampaikan petua di mimbar,
“Siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, ia akan sulit mensyukuri yang banyak. Siapa yang tidak mahu berterima kasih pada manusia, berarti ia tidak bersyukur pada Allah. Membicarakan nikmat Allah adalah bentuk syukur. Enggan menyebutnya adalah bentuk kufur. Bersatu dalam satu jama’ah adalah rahmat. Sedangkan perpecahan adalah azab.” (HR. Ahmad, 4: 278. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa sanad hadits ini hasan, perawinya tsiqah sebagaimana disebutkan dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 667)
Beberapa catatan kaki dari hadits di atas dari Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dalam tahqiq Musnad Al-Imam Ahmad:
Siapa yang sulit mensyukuri yang sedikit, maka ia sulit mempraktikkan syukur yang hakiki secara keseluruhan.
Boleh menyebut-nyebut nikmat yang telah Allah beri asal bukan dalam rangka menyombongkan diri.
Bersepakat dan bersatu ketika terlihat seperti satu jama’ah itu lebih baik, daripada berpecah belah.
Perkataan yang masyhur di tengah-tengah kita “ikhtilaf (perbedaan) umatku adalah rahmat”, tidak diketahui ada hadits yang lafaznya semacam itu.
Sumber: rumaysho.com
HIDAYAH HANYA MILIK ALLAH
Oleh: Omar Hayan
Dalam menjalani kehidupan, manusia memerlukan hidayah supaya tidak berada di jalan yang dimurkai Allah S.W.T. atau jalan yang sesat (Q.1:7). Hidayah secara harfiah bererti petunjuk. Dalam pengertian syariat, hidayah bererti petunjuk daripada Allah S.W.T. kepada manusia agar manusia berada di jalan dikehendaki Allah S.W.T. Oleh sebab itu, doa yang terdapat dalam firman Allah S.W.T. yang berbunyi: Tunjukilah kami jalan yang lurus (Q.1:6), sering disebut sebagai doa memohon hidayah.
Menurut Islam hanya Allah S.W.T. yang dapat memberi hidayah kepada manusia atau menunjukkan manusia ke jalan yang benar. Manusia tidak akan mampu, sekalipun beliau seorang nabi. Tugas para nabi dan rasul hanya menyampaikan ajaran kebenaran berupa agama. Sama ada manusia akan menerima hidayah itu atau menolaknya, itu menjadi urusannya dengan Allah S.W.T., pemberi hidayah.
Nabi Muhammad S.A.W. berusaha keras untuk mengislamkan bapa saudaranya, Abu Talib kerana baginda bimbang bapa saudaranya akan meninggal dunia dalam kufur. Nabi tidak putus-putus berdoa kepada Allah S.W.T. agar beliau diberikan petunjuk tetapi permohonan baginda dijawab oleh Allah S.W.T.,
Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) tidak berkuasa memberi hidayah petunjuk kepada sesiapa yang engkau kasihi (supaya dia menerima Islam), tetapi Allah jualah yang berkuasa memberi hidayah petunjuk kepada sesiapa yang dikehendakiNya (menurut undang-undang peraturanNya) (Q.28:56). Ayat ini menjelaskan hanya Allah S.W.T. yang berkuasa menghidayahkan seseorang.
Ada 4 hidayah Allah S.W.T. kepada manusia. Pertama, naluri, iaitu suatu petunjuk yang telah ada dalam diri manusia sejak lahir ke dunia. Kedua, pancaindera yang berguna untuk melakukan hubungan dengan dunia luar yang tidak dapat dilakukan oleh naluri. Ketiga, akal, iaitu alat untuk berfikir yang hanya ada pada manusia. Namun kemampuan akal terbatas, tidak mampu menjangkau hal yang bersifat ghaib.
Oleh sebab itu, manusia memerlukan hidayah yang lebih tinggi lagi, yakni agama. Agama berfungsi untuk memberikan jawapan kepada segala persoalan yang tidak dapat dijawab oleh akal, sekali gus membimbing akal kepada tahap yang lebih tinggi.
Nabi dan rasul yang diutus oleh Allah S.W.T. bertugas menyampaikan hidayah kepada manusia dalam bentuk ajaran Allah S.W.T. atau agama. Semua manusia, tanpa dikecualikan akan mendapat hidayah yang dibawa oleh para nabi dan rasul tersebut. Itulah yang disebut sebagai hidayah umum.
Namun para nabi dan rasul tidak mempunyai kemampuan untuk memberikan petunjuk agar manusia dapat melaksanakan ajaran agama tersebut. Manusia memerlukan hidayah khusus untuk itu dan hanya Allah S.W.T. yang dapat memberikannya.
Hidayah sangat sinonim dan berkait rapat dengan taufiq. Kedua-dua pendekatan ini sangat penting dalam kehidupan seseorang mukmin. Secara ringkasnya, hidayah adalah keinginan yang diilhamkan oleh Allah S.W.T. manakala taufiq pula adalah kekuatan yang dikurniakan oleh Allah S.W.T. untuk melakukan amal soleh.
Dalam erti kata lain, seseorang yang sakit terbaring di atas katil dan hatinya benar-benar ingin mengerjakan solat berjemaah di masjid, akan tetapi tidak ada orang yang dapat menolong untuk membawanya ke masjid. Oleh itu, beliau dikatakan mendapat hidayah, tetapi tidak mendapat taufiq.
Jangan sesekali berputus asa, merayu dan merintih kepada Allah supaya mengurniakan taufiq dan Hidayah serta mengekalkannya sepanjang kehidupan kita dan seluruh keturunan seluruh umat Islam.
Orang Islam berdoa kepada Allah S.W.T. untuk memohon taufiq dan hidayah-Nya agar sentiasa berada di jalan yang diredai Allah S.W.T. Nabi Muhammad S.A.W. merupakan rasul terakhir diutus oleh Allah S.W.T. untuk menyampaikan hidayah kepada umat manusia dalam bentuk ajaran agama Islam.