Ensiklopedia

Keterangan ringkas & tepat mengenai pelbagai ilmu!

 

WAKAF: INVESTASI ABADI YANG MENGHIDUPKAN UMAT DAN MENYELAMATKAN PEMILIKNYA

Terinspirasi dari khutbah juma’t, 10/07/2026, mesjid Khairunnas

Di tengah budaya modern yang sering mengukur keberhasilan dari banyaknya harta yang dimiliki, Islam justru mengajarkan ukuran yang berbeda. Kemuliaan seorang hamba bukan terletak pada seberapa besar kekayaan yang berhasil dikumpulkan, tetapi seberapa besar manfaat yang mampu diwariskan kepada sesama.

Khutbah Jumat ini mengingatkan bahwa perjalanan menuju Allah memerlukan bekal terbaik, yaitu takwa. Sebagaimana firman Allah:

”…Berbekallah kalian, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”

(QS. Al-Baqarah: 197)

Takwa tidak hanya diwujudkan dalam ibadah ritual seperti shalat, puasa, zikir, dan tilawah, tetapi juga dalam kepedulian sosial yang menghadirkan manfaat bagi kehidupan manusia. Salah satu bentuk nyata dari kepedulian tersebut adalah wakaf.

Wakaf: Ketika Harta Berhenti Menjadi Milik, tetapi Pahala Terus Mengalir

Khutbah ini mengangkat satu pesan yang sangat mendalam: wakaf bukan sekadar menyerahkan aset kepada masjid atau lembaga agama, melainkan mengubah harta yang fana menjadi amal yang kekal.

Dalam Islam, wakaf berarti menahan pokok harta dan mengalirkan manfaatnya untuk kepentingan umat. Pokoknya tetap ada, tetapi manfaatnya terus hidup.

Inilah yang dimaksud Rasulullah ﷺ dalam hadis:

Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”

(HR. Muslim)

Mayoritas ulama menjelaskan bahwa bentuk sedekah jariyah yang paling nyata adalah wakaf karena manfaatnya terus berlangsung selama aset tersebut digunakan.

Dengan demikian, wakaf sebenarnya adalah cara Islam mengubah kekayaan menjadi pahala yang tidak mengenal batas usia manusia.

Kebaikan Tidak Diukur dari Banyaknya Harta, tetapi dari Apa yang Dikorbankan

Khutbah mengutip firman Allah

Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai…”

(QS. Ali ’Imran: 92)

Ayat ini mengandung prinsip yang sangat penting.

Allah tidak meminta sisa harta kita.

Allah meminta sesuatu yang kita cintai.

Di sinilah letak ujian keimanan.

Memberikan barang yang tidak lagi dipakai bukanlah pengorbanan besar.

Namun menyerahkan sesuatu yang bernilai, produktif, dan dicintai merupakan bukti bahwa kecintaan kepada Allah lebih besar daripada kecintaan kepada dunia.

Tidak mengherankan apabila setelah ayat ini turun, para sahabat berlomba menyerahkan aset terbaik mereka.

Abu Talhah al-Ansari mewakafkan kebun terbaiknya, sementara Umar bin al-Khattab mewakafkan tanah produktifnya di Khaibar atas arahan Rasulullah ﷺ.

Generasi terbaik tidak memberikan sisa kekayaan.

Mereka memberikan yang terbaik.

Wakaf Membangun Peradaban, Bukan Sekadar Bangunan

Kesalahan yang sering terjadi di masyarakat adalah menganggap wakaf hanya identik dengan pembangunan masjid atau pemakaman.

Padahal sejarah Islam menunjukkan bahwa wakaf membangun hampir seluruh infrastruktur peradaban.

Universitas.

Rumah sakit.

Perpustakaan.

Sumur.

Lahan pertanian.

Lembaga riset.

Beasiswa.

Pelayanan sosial.

Seluruhnya pernah berkembang melalui sistem wakaf.

Artinya, wakaf bukan hanya ibadah individual.

Wakaf adalah instrumen pembangunan sosial, pendidikan, ekonomi, bahkan peradaban.

Kekayaan adalah Amanah, Bukan Prestasi

Khutbah juga mengingatkan bahwa semakin besar harta seseorang, semakin besar pula hisabnya.

Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa manusia tidak akan bergeser dari tempat hisab sebelum ditanya tentang hartanya:

* dari mana diperoleh,

* dan untuk apa dibelanjakan.

Karena itu, wakaf sesungguhnya bukan mengurangi harta.

Wakaf justru mengurangi beban pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Sebagian kekayaan dipindahkan dari rekening dunia menuju tabungan akhirat.

Dalam perspektif ini, wakaf adalah strategi spiritual yang sangat cerdas.

Kritik terhadap Budaya Konsumtif

Khutbah ini juga secara tidak langsung mengkritik pola hidup modern.

Banyak orang sibuk membeli aset baru.

Menambah kendaraan.

Menambah rumah.

Menambah investasi.

Namun sangat sedikit yang berpikir bagaimana aset-aset tersebut dapat terus menghasilkan pahala setelah dirinya meninggal.

Padahal Allah telah mengingatkan:

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”

(QS. At-Takatsur: 1–2)

Surah ini bukan melarang memiliki kekayaan.

Yang dilarang adalah ketika kekayaan membuat manusia lupa tujuan hidupnya.

Refleksi bagi Dunia Pendidikan

Bagi lembaga pendidikan Islam, wakaf merupakan fondasi keberlanjutan.

Sekolah yang bergantung sepenuhnya pada biaya pendidikan akan selalu menghadapi keterbatasan.

Namun sekolah yang memiliki budaya wakaf mampu membangun:

* perpustakaan,

* laboratorium,

* beasiswa,

* pusat riset,

* asrama,

* dana abadi pendidikan,

* bahkan pengembangan guru secara berkelanjutan.

Banyak universitas besar di dunia berkembang melalui dana abadi (endowment). Dalam tradisi Islam, konsep tersebut telah lama dikenal melalui wakaf.

Karena itu, membangun budaya wakaf pendidikan bukan sekadar memenuhi keperluan hari ini, tetapi menyiapkan generasi masa depan.

Penutup

Khutbah ini mengajarkan bahwa manusia tidak akan membawa satu meter tanah, satu lembar sertifikat, ataupun satu rupiah ke alam kubur.

Yang akan menemani hanyalah amal yang pernah memberikan manfaat bagi orang lain.

Wakaf mengubah kepemilikan menjadi keberkahan.

Mengubah kekayaan menjadi amal.

Mengubah dunia menjadi jalan menuju akhirat.

Harta yang disimpan akan berhenti ketika pemiliknya meninggal.

Namun harta yang diwakafkan akan terus bekerja, mengalirkan manfaat, dan menjadi saksi bahwa seseorang pernah hidup untuk memberi.

Orang kaya bukanlah yang paling banyak mengumpulkan harta, tetapi yang paling banyak meninggalkan manfaat. Sebab ketika kehidupan berakhir, bukan nilai aset yang ditanya Allah, melainkan nilai amanah yang telah kita tunaikan.”

Jasman Jaiman, M.Ed.

Written by Admin
Category: Penyejuk Jiwa
Hits: 89

 

USAHA MEMBEBASKAN DIRI DARIPADA KEMISKINAN 

Banyak hadis Nabi Muhammad s.a.w yang memberi penilaian bahawa kemiskinan adalah satu penyakit berbahaya yang dikhuatiri meninggalkan kesan buruk ke atas akidah, akhlak dan pemikiran seseorang, malah kepada kaum itu sendiri. Penyakit ini mudah menonjol terutamanya di kalangan orang yang menghadapi kemiskinan yang teruk dan tinggal berhampiran dengan orang kaya yang buruk budi pekertinya serta kedekut yang amat sangat.

Kemiskinan adalah satu bala yang sama dengan penyakit berjangkit, justeru ia boleh membawa seseorang itu menjadi kufur.

Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud:

Kepapaan itu hampir-hampir membawa kepada kekufuran.

Hadis ini menjelaskan bahawa sering kali orang menjadi kufur kerana tekanan-tekanan ekonomi dan kesulitan untuk memperoleh rezeki. Orang yang asalnya baik akan berubah menjadi tidak amanah. Perempuan yang memelihara kehormatan diri menjadi tidak sanggup lagi memeliharanya kerana tekanan ekonomi.

Oleh itu Islam mewajibkan setiap umatnya agar bekerja keras dan berusaha mencari rezeki demi membela diri mereka daripada kemiskinan dan kekufuran. Islam menilai orang yang bekerja dan berusaha itu sebagai jihad.

Allah menjadikan bumi dan isi kandungannya semata-mata untuk manusia, tetapi manusia tidak akan dapat menikmati sepenuhnya melainkan dengan titik peluh usaha mereka sendiri.

Meninggalkan pekerjaan dan usaha mencari rezeki atas alasan untuk beribadah kepada Allah sahaja adalah bertentangan dengan konsep Islam yang sebenar.

Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa yang ada pada sesuatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. (Surah al-Ra'd ayat 11).

Umat Islam harus cemerlang dalam hal duniawi tanpa mengabaikan akhirat. Kualiti hidup di dunia inilah yang membawa kepada kejayaan manusia merubah daripada kemungkaran kepada yang makruf.

Manusia diperintah oleh Allah untuk mencari rezeki bagi keperluan hidupnya dan juga diperintah untuk mencari rezeki yang lebih di muka bumi ini bagi tujuan membantu orang lain yang tidak berkecukupan.

Allah berfirman dalam Surah al-Jumu'ah ayat 10 yang bermaksud:

Kemudian setelah selesai sembahyang maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah apa yang kamu hajati dan limpah kurnia Allah, serta ingatlah akan Allah banyak-banyak supaya kamu berjaya.

Di sisi lain pula al-Quran mengecam mereka yang mengharamkan hiasan duniawi yang diciptakan Allah bagi umat manusia.

Katakanlah (Wahai Muhammad) siapakah yang berani mengharamkan perhiasan Allah yang telah dikeluarkan untuk hamba-hamba-Nya dan demikian juga benda-benda yang baik lagi halal daripada rezeki yang dikurniakannya. (Surah al-Baqarah ayat 32).

Al-Quran kemudian menyebut bahawa Allah menjanjikan pengampunan dan anugerah yang berlebihan, sedangkan syaitan pula menjanjikan kefakiran.

Sesungguhnya Islam tidak pernah menganggap mulia atau mentakdirkan kemiskinan sebagai satu cara untuk mencapai ketinggian rohani. Hadis-hadis yang memuji kehidupan zuhud di dunia bukanlah bererti memuji kemiskinan. Adalah satu kesilapan yang besar bagi setengah orang yang menganggap bahawa kemiskinan bukanlah satu keburukan yang perlu diatasi dan juga bukan penyakit yang perlu diubati, ia adalah satu nikmat Allah yang dikurniakan kepada sesiapa di antara hambanya agar hatinya sentiasa berhubung dengan akhirat dan benci pada dunia.

Islam tidak datang hanya untuk mengajarkan zikir dan doa tetapi untuk membebaskan manusia daripada beban penderitaan kepada hidup yang bahagia. Hidup tidak mahu berusaha dan hanya meminta belas kasihan orang lain tidak dipersetujui oleh Islam.

Tangan yang di atas (yang memberi) lebih mulia daripada tangan yang di bawah (yang meminta-minta). (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim).

Islam jelas menolak sesetengah golongan yang menyanjung kemiskinan dan menganggap kekayaan sebagai dosa. Demikian juga yang menganggap kemiskinan sebagai qadar yang tiada jalan untuk mengelaknya. Ini semua pandangan ekstrem yang terpesong daripada jalan yang lurus sepertimana yang dituntut oleh ajaran Islam yang sebenar.

Justeru, semangat hijrah yang sebenar bukan sekadar berpindah tempat atau mengubah penampilan, tetapi berani mengubah sikap, cara berfikir dan budaya hidup. Umat Islam hendaklah meninggalkan sifat malas, bergantung kepada ihsan orang lain tanpa keperluan, serta berputus asa terhadap rahmat Allah. Sebaliknya, setiap Muslim perlu berusaha dengan penuh kesungguhan, memohon keberkatan rezeki yang halal, meningkatkan ilmu dan kemahiran, serta menjadikan kerja sebagai satu ibadah.

Apabila setiap individu berazam untuk bangkit daripada belenggu kemiskinan melalui usaha yang gigih dan tawakal kepada Allah, maka lahirlah masyarakat yang kuat ekonominya, tinggi maruahnya dan kukuh imannya. Itulah hijrah yang sebenar—hijrah daripada kelemahan kepada kekuatan, daripada kemiskinan kepada kecukupan, dan daripada kebergantungan kepada kemampuan memberi manfaat kepada orang lain.

Catatan: Ibnu Majid

Written by Admin
Category: Penyejuk Jiwa
Hits: 108

 

SOLAT TERLALU ISTIMEWA DI SISI ALLAH

Solat atau sembahyang adalah rukun kedua yang menjadi asas terbinanya Islam. Solat juga merupakan tiang agama dan satu ibadah wajib ke atas setiap umat Islam melakukannya dalam apa jua keadaan selagi akalnya masih waras.

Di dalam al-Quran terdapat lebih 25 tempat ayat اَقَامَ  yang merujuk kepada makna perintah mengerjakan atau mendirikan solat dan terdapat lebih 70 kali perkataan    الصلاة atau sembahyang diulang dan disebut dalam al-Quran, antaranya firman Allah s.w.t yang bermaksud:

“Kemudian apabila kamu telah selesai mengerjakan sembahyang, maka hendaklah kamu menyebut dan mengingati Allah semasa kamu berdiri atau duduk, dan semasa kamu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa tenteram (berada dalam keadaan aman) maka dirikanlah sembahyang itu (dengan sempurna sebagaimana biasa). Sesungguhnya sembahyang itu adalah satu ketetapan yang diwajibkan atas orang-orang yang beriman, yang tertentu waktunya.” (an-Nisaa’: 103)

Sebagai umat Islam, sama ada remaja, muda-mudi, dewasa, lelaki mahupun perempuan hendaklah memerhati, memahami dan menghalusi sehalus-halusnya perintah solat ini. Sebab itu, Baginda nabi SAW telah berpesan kepada umat Islam sejak 1400 tahun lalu supaya ibu bapa mengajar dan menyuruh anak-anak tentang ibadah sembahyang sejak umur mereka 7 tahun dan pukullah mereka jika enggan sembahyang ketika berumur 10 tahun.

Kita wajib berdoa mengharapkan anak-anak dan keturunan kita sentiasa mendirikan sembahyang sesuai dengan firman Allah yang bermaksud:

“Wahai Tuhan kami! kurniakanlah keampunan kepada ku dan kepada kedua ibu bapa ku serta kepada orang-orang yang beriman, pada masa berlakunya hisab dan pembalasan.” (Surah Ibrahim: 40)

Begitu juga kita hendaklah menyuruh kaum keluarga kita mengerjakan solat seperti firman Allah dalam surah Toha ayat 132 yang bermaksud:

“Dan perintahkanlah keluargamu serta umatmu mengerjakan sembahyang, dan hendaklah engkau tekun bersabar menunaikannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, (bahkan) Kamilah yang memberi rezeki kepadamu, dan (ingatlah!) kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”

Di sini dapat difahami betapa besarnya kepentingan sembahyang kepada orang-orang Islam yang beriman, di antaranya:

  1. Solat dapat meningkatkan seseorang untuk sentiasa mengingati Allah.

Firman Allah s.w.t yang bermaksud:

“Sesungguhnya Akulah Allah, tiada Tuhan melainkan aku, oleh itu, sembahlah akan daku, dan dirikanlah sembahyang untuk mengingati daku.” (Toha: 14)

Berdasarkan maksud ayat tersebut sembahyang adalah jalan bagaimana untuk kita sentiasa mengingati Allah s.w.t. Sekali gus sembahyang juga merupakan tanda pengabdian dan syukur seorang hamba kepada Allah s.w.t. Atas segala nikmat dan rahmat yang Allah kurniakan kepada kita.

  1. Solat dapat menghapus dosa.

Kita umat Islam tidak terlepas dari melakukan dosa dan solat lima kali sehari semalam dapat menghapuskan dosa yang dilakukan. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Rasulullah s.a.w dalam sebuah hadis:

“عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اَلصَّلاَةُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تَغْشِ الْكَبَائِرَ.”

Bermaksud: “Dari Abi Hurairah RA, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Sembahyang lima waktu dan sembahyang Jumaat hingga Jumaat berikutnya adalah penebus dosa antara jarak waktu sembahyang-sembahyang itu, selama dijauhinya dosa-dosa besar.” (Riwayat Muslim)

 

  1. Solat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar.

Solat yang dikerjakan dengan khusyuk dan menepati segala rukun-rukunnya boleh mencegah orang yang melakukannya dari melakukan maksiat dan kemungkaran. Firman Allah s.w.t yang bermaksud:

“…. Sesungguhnya sembahyang itu mencegah dari perbuatan yang keji dan mungkar, dan sesungguhnya mengingati Allah adalah lebih besar (faedahnya dan kesannya), dan (ingatlah) Allah mengetahui akan apa yang kamu kerjakan.” (al-Ankabut: 45)

 

  1. Solat dapat memberi barakah hidup dan berbahagia kehidupan.

Kehidupan orang yang memelihara solat jauh berbeda dengan orang yang meninggalkannya. Ini jelas kita melihat orang yang memelihara solat kehidupannya dipenuhi dengan keberkatan dan kebahagiaan. Sebagaimana firman Allah yang bermaksud:

“Sesungguhnya berbahagia berjayalah orang-orang beriman. (Iaitu) mereka yang khusyuk dalam sembahyangnya.” (al-Mukminun: 1-2)

Perlu diingatkan, bahawa solat adalah ibadah yang diterima oleh Baginda Nabi s.a.w secara langsung daripada Allah s.w.t, ketika Nabi s.a.w menghadap Allah s.w.t di Sidratul Muntaha dalam peristiwa Israk Mikraj adalah berbeza dengan ibadah lain seperti ibadah puasa, zakat. Ini adalah satu kenyataan bahawa ibadah sembahyang itu terlalu istimewa di sisi Allah s.w.t.

Susunan : Ila Syazila Syazwan

Written by Admin
Category: Penyejuk Jiwa
Hits: 117

 

ADAB-ADAB DI MASJID YANG SERING TERABAIKAN

Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

اَلْحَمْدُ ِللّٰهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَام أَمَّا بَعْدُ: فَيَاأَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ، اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.  قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى  فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.  وَقَالَ:اِنَّمَا يَعْمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ وَلَمْ يَخْشَ اِلَّا اللّٰهَ ۗفَعَسٰٓى اُولٰۤىِٕكَ اَنْ يَّكُوْنُوْا مِنَ 
الْمُهْتَدِيْنَ ١٨

KAUM Muslimin Sidang Jama’ah Shalat Jum’at yang Dimuliakan Allah Subhanahu Waatala.

Marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan rasa syukur kehadirat Allah Subhânahu Wata’âla dengan mengucapkan alhamdulillah dan bershalawat dengan lafalallahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, assalamu’alaika ya Rasulullah, mudah-mudahan dengan banyak bershalawat kepada beliau kelak di akhirat kita akan mendapat syafaatnya.

Melalui mimbar yang mulia ini, khatib berpesan kepada diri khatib sendiri, dan seluruh jamaah, mari senantiasa kita menjaga keimanan dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu Waatala sampai ajal menjemput. Sebagaimana firman-Nya: “Janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim”. (QS. Ali Imran [3]: 102).

Kaum Muslimin Sidang Jama’ah Shalat Jum’at yang Berbahagia…
Keberadaan masjid di tengah kaum muslimin selain sebagai sarana ibadah, ia merupakan simbol wujud Allah Subhânahu Wata’âla di muka bumi. Seseorang yang merasa berat menghadapi beban hidup, jiwa yang dipenuhi kegersangan spiritual dan jauh dari petunjuk akan mendapatkan kedamaian, ketenangan dan hidayah kala melangkahkan kaki ke masjid. Memasuki masjid tidak sama dengan berkunjung ke tempat lain, ada adab yang harus dijaga, yaitu menjaga kesucian pakaian dan badan.

Allah Subhânahu Wata’âla berfirman:

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ

"Wahai anak Adam! Pakailah pakaianmu yang indah setiap (memasuki) masjid." (QS. Al-A’raf: 7:31).

Secara zhahir ayat di atas merupakan perintah memilih pakaian terindah saat ke masjid, sebab Allah Subhanahu Waatala indah dan menyukai keindahan. Selain pakaian, seseorang harus memastikan anggota badannya bersih.

Rasulullah Shallahu ‘Alahi Wasallam bersabda:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي غَزْوَةِ خَيْبَرَ: «مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ - يَعْنِي الثُّومَ - فَلاَ يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا»

Dari Ibnu Umar ra, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika di perang Khaibar, beliau bersabda: Barang siapa yang memakan dari pohon ini yaitu bawang putih, maka janganlah mendekati masjid kami. (HR. Muttafaq Alaihi).

Sebenarnya larangan itu bukan tertuju kepada suatu kasus seperti bawang putih, akan tetapi sesuatu yang dapat mendatangkan aroma tidak sedap harus dijauhkan baik selama berada di masjid maupun seperti pakaian yang sudah berkeringat, bernajis, berdebu, tercemar asap motor, dan aroma-aroma tak sedap lainnya. Makna di balik itu, kala seseorang ke masjid hendaknya berpakaian rapi dan wangi.

Kaum Muslimin Sidang Jama’ah Shalat Jum’at yang Berbahagia…
Selain itu, adab di masjid ialah mendahulukan kaki kanan saat masuk dan kaki kiri ketika keluar sembari membaca doa.

Rasulullah Shallahu ‘Alahi Wasallam bersabda:

عَنْ فَاطِمَةَ بِنْتِ رَسُولِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ يَقُولُ: «بِسْمِ اللّٰهِ، وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللّٰهِ ، اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ» ، وَإِذَا خَرَجَ قَالَ: «بِسْمِ اللّٰهِ، وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللّٰهِ، اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي، وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ فَضْلِكَ»

Dari Fatimah bin Rasulillah  berkata, apabila Rasulullah Shallahu ‘Alahi Wasallam masuk masjid membaca doa, dengan menyebut nama Allah dan keselamatan kepada Rasulullah, Ya Allah ampunilah dosaku dan bukakan untukku pintu rahmatmu. Dan apabila keluar beliau membaca, dengan menyebut nama Allah serta keselamatan bagi Rasulullah, Ya Allah ampuni dosa-dosaku dan bukakan untukku pintu-pintu karuniamu. (HR. Ibnu Majah).

Berangkat dari riwayat di atas dapat disimpulkan bahwa memuliakan rumah Allah Subhânahu Wata’âla ialah dengan menjaga adab saat masuk dan keluar. Terkadang betapa sering kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, seseorang yang masuk dan keluar masjid tidak mengikuti sunah Rasulullah Shallahu ‘Alahi Wasallam, tidak membaca doa dan memperhatikan kaki mana yang harus didahulukan.

Kaum Muslimin Sidang Jama’ah Shalat Jum’at yang Berbahagia…

Ketika seseorang datang ke sebuah istana raja yang megah, tentu ia akan memberi berbagai macam penghormatan sebelum masuk. Mungkin saja penghormatan itu meletakkan tangan di dada, memberi hormat, melambaikan tangan, membungkukkan badan dan bahkan mungkin bersimpuh sujud. Hal itu dilakukan untuk memuliakan pemilik istana.

Memuliakan baitullah juga sama halnya. Sebelum duduk, hendaklah seseorang mengerjakan shalat sunah dua rakaat sebagai tanda penghormatan. Shalat itu disebut dengan shalat tahiyatul masjid. Saat Rasulullah Shallahu ‘Alahi Wasallam khutbah, beliau menegur seseorang yang langsung duduk sesaat berada di masjid.

Rasulullah Shallahu ‘Alahi Wasallam bersabda:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللّٰهِ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ وَالنَّبِىُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ النَّاسَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ « أَصَلَّيْتَ يَا فُلاَنُ » . قَالَ لاَ . قَالَ « قُمْ فَارْكَعْ »

Dari Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata, ada seseorang yang datang dan saat itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah pada hari Jum’at. Nabi bertanya padanya (di tengah-tengah khutbah), “Apakah engkau sudah shalat wahai fulan?” “Belum”, jawabnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memerintahkan, “Berdirilah, shalatlah.” (HR. Bukhari).

Imam as-Syafi’i dan Ahmad berpijak dengan dalil ini bahwa sunah shalat dua rakaat merupakan penghormatan untuk masjid. (Muhammad al-Kaurani, al-Katsarul Jari ila Riyâdhi Ahâdtsi al-Bukhâri, 3/48).

Dari uraian tersebut dapat dipahami bahwa memuliakan masjid merupakan bagian dari memuliakan syiar Allah Subhanahu Waatala. Hal itu diwujudkan dengan menjaga adab ketika memasukinya, seperti datang dalam keadaan suci, berpakaian rapi dan bersih, menjaga kebersihan tubuh dan aroma, mendahulukan kaki kanan, membaca doa masuk dan keluar masjid, melaksanakan shalat tahiyatul masjid, serta menghindari segala sesuatu yang dapat mengganggu kekhusyukan jamaah lainnya. ***


بَارَكَ اللّٰهُ لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللّٰهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللّٰهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Sumber: kiblatriau.com

Written by Admin
Category: Penyejuk Jiwa
Hits: 168

 

NASIHAT AL-FUDHAIL BIN 'IYÂDH TENTANG SISA UMUR

Oleh: Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

SUATU hari Fudhail bin ‘Iyadh bertemu seorang laki-laki paruh baya lalu menanyakan perihal umurnya, "Berapa usiamu pak?," Orang itu menjawab: "Enam puluh tahun."

Al-Fudail berkata: "Berarti sejak enam puluh tahun engkau sedang berjalan menuju Rabbmu, dan sebentar lagi engkau akan sampai kepada-Nya."

Mendengar itu, orang tersebut membaca kalimat istirjâ’: "Innâ lillâhi wa innā ilaihi râji'ûn (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali)."

Al-Fuḍail berkata: "Tahukah engkau makna ucapan itu? Engkau mengatakan: 'Aku adalah hamba Allah dan kepada-Nya aku akan kembali.' Barang siapa mengetahui bahwa dirinya adalah hamba Allah dan pasti akan kembali kepada-Nya, hendaklah ia menyadari bahwa ia akan dihadapkan (di hadapan Allah Subhanahu Waatala). Barang siapa mengetahui bahwa ia akan dihadapkan, hendaklah ia mengetahui bahwa ia akan dimintai pertanggungjawaban. Dan barang siapa mengetahui bahwa ia akan dimintai pertanggungjawaban, hendaklah ia mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu."

Lalu orang itu bertanya: "Lalu apa jalan keluarnya?, tanyanya penuh penasaran.”
Al-Fuḍail menjawab: "Mudah saja, jawabnya singkat."

Orang itu bertanya lagi: "Apa itu?"

Beliau menjawab: "Berbuat baiklah pada sisa umurmu, niscaya Allah Subhânahu Wata’âlah akan mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu. Namun, jika engkau berbuat buruk pada sisa umurmu, maka engkau akan dimintai pertanggungjawaban atas dosa-dosa yang telah lalu dan juga dosa-dosa yang akan datang." (Ibnu Rajab Al-Hanbali, Jâmi’ul Ulûm wal Hikam, 1132).

Kisah di atas mengajarkan kita bahwasanya hakikat kehidupan manusia bukan berapa lama hidup, melainkan sudah berapa banyak amal shaleh yang dilakukan untuk  persiapan bertemu Allah Subhânahu Wata’âla. Umur enam puluh tahun bukan usia yang singkat, fase itu merupakan babak akhir perjalanan dunia, ibarat matahari yang memancarkan rona merah saga di ufuk Barat pertanda waktu senja sudah tiba, kesempatan untuk berbuat baik tinggal sedikit. Oleh sebab itu, sesungguhnya Allah Subhânahu Wata’âla memberi kesempatan lebih kepada orang-orang yang mencapai usia tersebut.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: أَعْذَرَ اللَّهُ إِلَى امْرِئٍ أَخَّرَ أَجَلَهُ حَتَّى بَلَّغَهُ سِتِّينَ سَنَةً

Dari Abu Hurairah ra berkata, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Allah telah memberi udzur kepada seseorang dengan menangguhkan ajalnya hingga umur enam puluh tahun. (HR. Bukhari)

Imam Al-Qurthubi berkata: Tidaklah di mana matahari akan terbit dan terbenam kecuali malaikat maut berseru: ‘Wahai orang-orang yang berusia empat puluh tahun, inilah saatnya mengambil bekal, kalian telah memasuki masa panen. Wahai orang-orang yang memasuki usia lima puluh tahuan, sungguh telah datang kepada kalian peringatan.

Wahai orang-orang yang berusia enam puluh tahun, telah ditetapkan atas kalian hukuman (karena kesempatan beramal telah lama diberikan), lalu tidak tersisa bagi kalian alasan untuk mengelak. Maka apa yang tunggu selain datangnya pertolongan Allah Subhânahu Wata’âla atau azab-Nya?’. (Al-Qurthubi, Kitâbut Tadzkirat bi Ahwâlil Mautâ wa Umûril Âkhirah, 199).

Usia empat puluh tahun merupakan masa kematangan akal, iman, dan pengalaman, sehingga seseorang seharusnya mulai serius mempersiapkan bekal akhirat. Adapun usia lima puluh tahun menjadi peringatan bahwa perjalanan hidup telah memasuki senja. Kesempatan beramal masih ada, tetapi waktu semakin sempit dan kematian semakin dekat. Karena itu, seseorang dituntut untuk memperbanyak taubat, memperbaiki amal, dan mengurangi kelalaian. Sementara usia enam puluh tahun adalah usia ketika Allah Subhânahu Wata’âla telah banyak memberi peringatan kepada seorang hamba.

Allah Subhânahu Wata’âla berfirman:

﴿أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ﴾

Bukankah kami telah memanjangkan umur kalian dalam masa yang cukup bagi orang yang mau mengambil pelajaran? Dan telah datang kepada kalian pemberi peringatan. (QS. Fâthir: 37).

Menurut Ibnu Abbâs radhiyallahu ‘Anhu, umur panjang yang dimaksud pada ayat di atas ialah usia enam puluh tahun. (Ibnu Katsîr, Tafsîr Al-Qur’ân Al-‘Azhîm, 11/332).

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan nilai kehidupan tidak diukur dari panjangnya umur, tetapi dari sejauh mana umur itu diisi dengan amal shaleh sebagai bekal menuju akhirat. Semakin bertambah usia, terutama setelah mencapai empat puluh, lima puluh, dan terlebih enam puluh tahun, semakin besar tanggung jawab seorang hamba untuk memperbanyak taubat, memperbaiki amal, dan mempersiapkan diri untuk bertemu Allah Subhânahu Wata’âla.***

Sumber: kiblatriau.com

Written by Admin
Category: Penyejuk Jiwa
Hits: 142

Bacaan Popular


Baca topik

Terkini


TEMPAT NYAMAN TAMAN BACAAN MASA DEPAN ANDA-JOM KITA MENULIS!!! dhomir.com ingin mengajak dan memberi ruang kepada para penulis khususnya penulisan yang berkaitan dgn agama Islam secara mendalam dan sistematik.Jika anda ingin mencurahkan isi hati mahupun pandangan secara peribadi dhomir.com adalah tempat yang paling sesuai utk melontarkan idea. Dengan platform yang sederhana, siapa sahaja boleh menulis, memberi respon berkaitan isu-isu semasa dan berinteraksi secara mudah.Anda boleh terus menghantar sebarang artikel kepada alamat email:dhomir2021@gmail.com.Sebarang pertanyaan berkaitan perkara diatas boleh di hubungi no tel-019-3222177-Editor dhomir. com